Plak plak plak plak!!!
Alona melayangkan pipi kiri serta kanan suaminya dengan pandangan yang sudah berkabut, walaupun ia sudah mencurigai tindak-tanduk suaminya akhir-akhir ini kalau pria itu telah melakukan kecurangan di belakangnya, namun tetap saja rasa sakit itu mendera dalam hatinya, kala menemukan dan melihat sendiri pria yang sangat dicintainya itu tengah bergumul panas dengan seorang wanita di atas kasur dalam kamar hotel, pengaruh yang dimilikinya serta nama besar yang disandangnya memudahkan Alona untuk memiliki akses memasuki hotel tempat di mana kedua pasangan tak beradab itu sedang mereguk nikmatnya surga dunia di atas penderitaannya sebagai seorang istri sah.
"Alona sayang!! Aku bisa jelaskan semuanya, Aku mohon jangan marah, kita bisa membicarakan ini di rumah secara baik-baik!." Seru pria yang sudah menghalalkannya itu berusaha meraih tangannya, namun dengan cepat ia memalingkan wajah setelah menampar suaminya berkali-kali, namun ketika mendengar suara pria laknat yang telah berkhianat itu, membangkitkan kesadaran serta keberaniannya kembali, ia menatap nyalang wajah suaminya yang tampan, kemudian terlihat menggelengkan kepalanya karena masih tidak menyangka akan penghianatan yang dilakukan oleh pria yang bahkan setiap hari mengucapkan kata cinta untuknya dan seringkali membuat kejutan romantis di saat pulang bekerja.
"Penjelasan apa? Hah!! Alasan apa yang ingin kamu berikan? Apa kamu mencoba untuk membela diri? Atau bahkan mencoba untuk menipuku? Tidak Adrian!! Jangan pernah bermimpi tentang hal itu, kamu harus ingat satu hal! Aku Alona Kusumaningrum! Dan aku tidak akan pernah memaafkan penghianatan ini, aku akan selalu mengingat dan menanamkannya di dalam kepala, akan luka yang telah kau torehkan kepadaku bersama dengan wanita pelacur itu." Ucap Alona dengan nada tegas seraya menatap geram ke arah wanita yang tengah membungkus tubuhnya yang polos dengan selimut berwarna putih di atas ranjang, wanita itu tampak menundukkan kepalanya tak berani menatap ke arah pasangan suami istri yang bertikai disebabkan oleh kehadirannya tersebut.
Dia adalah mantan pacar Adrian, dan dia baru beberapa bulan ini kembali dari luar negeri, karena pendidikannya di sana sudah selesai hingga ia ingin kembali untuk meraih cinta mantan kekasihnya yang telah menikah itu, walaupun ia tahu itu salah, terlebih ia banyak mendengar berita tentang istri Adrian yang merupakan wanita karir yang sangat sukses, bahkan sangat disegani di kalangan pengusaha menengah ke atas, namun begitu ia merasa tidak takut bahkan tertantang untuk menaklukkan kembali Adrian dalam pesonanya, dan ternyata usahanya berhasil, keduanya kembali menjalin rajut asmara yang pernah kandas dulu secara diam-diam di belakang Alona, walaupun ia sangat tahu kalau Adrian begitu takut akan ketahuan oleh sang istri, sehingga jika di luar sana, ia dan Maya demikian namanya, seakan hanyalah dua orang asing yang tak saling mengenal, namun jika sudah bertemu, keduanya akan lupa segalanya, bahkan Maya mampu membuat Adrian merasakan sensasi sebagai seorang pria seutuhnya, dan melupakan istri cantiknya yang selalu setia menunggunya pulang, dengan dalih pekerjaan dan kesibukan, ia mulai melakukan kebohongan demi kebohongan kepada Alona, namun pada dasarnya istrinya itu bukanlah wanita bodoh, hanya dalam selang waktu yang tidak lama, Alona mampu menangkap basah dirinya dengan Maya yang sedang melakukan hubungan intim layaknya suami istri di hotel itu.
"Sayang aku mohon! Tolong dengar dulu penjelasanku, jangan asal bertindak karena nanti kamu bisa menyesal." Seru Adrian lagi masih berusaha untuk meyakinkan istrinya, namun Alona hanya menarik sudut bibirnya tanpa mengindahkan perkataannya, bahkan wanita itu bergerak mendekati Maya yang masih berada di tempat tidur dengan selimut yang membungkus tubuh polosnya, dan tanpa banyak kata Alona segera meraih kepala Maya dan menyeretnya turun dari ranjang, membuat wanita itu memekik kencang seraya berusaha melepaskan pegangan tangan Alona di rambutnya.
"Wanita jalang, murahan!!! Apa di luar negeri sana kamu tidak laku sehingga kembali ke negara ini untuk merayu suamiku? Orang tuamu menyekolahkan kamu tinggi-tinggi sampai ke luar negeri, tapi ternyata kamu hanya berbakat menjadi seorang pelakor dan duri dalam rumah tangga orang lain." Pekik Alona tanpa melepaskan pegangan kuatnya di rambut Maya yang saat ini merintih kesakitan, karena kulit kepalanya yang seakan terkelupas dan rambutnya yang rontok karena kekuatan Alona yang teramat sangat menariknya.
"Adrian tolong! Lepaskan istri gilamu ini dari rambutku, ini sangat sakit." Teriak Maya berusaha meminta pertolongan dari kekasih gelapnya, namun Adrian sepertinya tak mampu untuk menghalau sang istri yang tampak menolehkan tatapannya dengan cepat ke arahnya membuatnya gelagapan.
"Minta tolonglah pada kekasihmu itu! Dia tidak akan mampu berbuat apa-apa untuk menolongmu, dasar wanita pelakor, plak plak!!." Sambil berkata dengan ucapan yang terasa sangat menusuk, Alona juga mengarahkan dua tamparan telak di pipi Maya, dan ia sungguh puas melihat sudut bibir wanita itu telah mengalirkan cairan merah, Alona pun segera selimut yang membungkus tubuh Maya kemudian mendorongnya ke arah lantai depan Adrian dengan tubuh yang tanpa menggunakan sehelai benang pun.
Brruukk!!!
Aarrgghh!!
Lagi-lagi terdengar pekikan kencang keluar dari mulut Maya kala tubuh polosnya bertabrakan dengan lantai marmer di dalam kamar hotel, Alona pun berusaha menguasai nafasnya yang masih naik turun seraya memegang dadanya.
"Sayang! kamu tidak apa-apa kan?." Seru Adrian saat melihat istrinya yang terlihat kepayahan, dia bergerak mendekatinya, namun dengan cepat wanita itu memekik.
"Satu langkah saja kamu mendekatiku, aku akan melupakan kalau kamu pernah menjadi suamiku." Seru Alona dengan suara yang terdengar tegas, membuat Andrian menghentikan langkahnya, sedang Maya menatap nanar kekasihnya itu yang tampak tak perduli kepadanya yang masih merintih kesakitan tapi lebih mementingkan istrinya.
"Kamu tunggu saja surat cerai kita! Aku tidak sudi lagi menjadi istrimu!." Setelah berkata demikian Alona pun berjalan keluar dan Andrian segera memekik seraya berusaha untuk mengejarnya namun kondisinya yang hanya memakai boxer, tak bisa membantunya untuk keluar kamar karena pastinya ia akan menjadi bahan tontonan dan perhatian para tamu di hotel itu.
"Adrian tolong aku!!."Pekik Maya setelah melihat Adrian berbalik memasuki kamar dan hendak mencari pakaiannya yang teronggok di lantai, namun karena mendengar pekikan Maya, ia pun segera tersadar kalau wanita itu dalam kondisi mengenaskan.
Adrian pun segera membantu selingkuhannya tersebut untuk berdiri dan memakai pakaiannya kembali begitu pula dengan dirinya.
"Untuk beberapa saat ini jangan pernah mendekatiku! Istriku sedang marah dan aku tidak ingin kehilangannya, kuharap kamu mengerti!." Ucapan Adrian tersebut membuat Maya segera menoleh kepada pria yang dicintainya itu, lalu menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Lalu bagaimana jika aku merindukanmu? Apa kita tidak bisa bertemu?." Tanyanya segera seakan hendak mempertegas posisi dirinya di dalam hati Adrian.
"Kita ini hanyalah pasangan selingkuh, walau bagaimanapun Alona tetap adalah istri yang sangat kucintai." Sahutan Adrian itu membuat Maya mematung seketika, karena perkataan pria itu menyiratkan kalau dirinya bukanlah apa-apa di sisi pria tersebut, bahkan tidak lebih dari sekedar selingkuhan yang tak jauh lebih tinggi posisinya dibanding istri tercintanya.
"Aku hanyalah sekedar selingkuhan bagimu? Baiklah kita lihat saja apa kamu mampu menjadikan aku selingkuhan terus-menerus, atau akan menjadi istri sahmu menggantikan wanita keparat itu." Gumam Maya dengan senyum liciknya, ia sudah berniat untuk menjadikan Adrian adalah suami selamanya bukan hanya selingkuhan untuk bersenang-senang di belakang istrinya
*
"Sayang! Tolong maafkan aku!."
"Baiklah! Tapi ciumlah kakiku, jika kamu memang benar-benar serius ingin meminta maaf, dan ijinkan aku juga melakukan hal sama seperti yang kau lakukan!."
Deg!!!
...
*"*"*
Adrian berjalan tergesa-gesa memasuki rumahnya yang megah dan mewah, namun tampak sunyi tanpa ada seorangpun yang terlihat di sana, hingga Adrian pun melangkahkan kakinya dengan lebar menuju arah kamarnya di mana selama ini ia dan istrinya kerap kali memadu cinta serta melewatkan kebersamaan ketika sedang berada di rumah setelah melakukan rutinitas di luar sana.
Krekk!!!
Adrian pun membuka pintu secara perlahan, dan suara isakan kecil menyambut kedatangannya di dalam kamar, namun ia memberanikan diri untuk melangkahkan kaki memasuki kamar tersebut dan tampaklah di sana di atas peraduan, seorang wanita yang tengah membelakang ia sangat tahu siapa wanita itu, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya, wanita itu sedang menangis dengan pilu sendirian, seketika hati Adrian teriris melihatnya, wanita cantik yang beberapa tahun lalu mati-matian Ia kejar dan ia perjuang kan, kini tampak mengenaskan dengan kondisi rambut yang acak-acakan, apalagi dengan air mata yang tak hentinya meleleh di pipinya, Adrian pun melangkah gontai mendekat dan seketika menjatuhkan tubuhnya di depan Alona, seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah sembab itu yang terlihat menatap kosong ke arah depan bahkan mungkin tak menyadari kehadirannya di sana.
"Alonaku!! Maafkan aku telah menorehkan luka ini, tapi percayalah cintaku hanya masih untukmu." Ucap Adrian dengan mata yang menatap dekat ke arah wajah sembab istrinya yang walaupun terlihat berantakan namun tak memudarkan kecantikannya ia meraih kedua tangan wanita itu yang terletak di atas pahanya, namun dengan cepat Alona menepisnya hingga Adrian pun terkesiap.
"Kenapa kamu harus pulang? Setelah membuat luka menganga disini!." Pertanyaan itu meluncur keluar dari bibir mungil Alona seraya menepuk dadanya yang terasa sesak kala melihat Adrian di depannya, walaupun hanya dengan bayangannya saja yang mampu Ia tangkap karena keduanya netranya masih menatap ke arah depan
Walaupun mati-matian ia berusaha menegarkan diri, dengan perselingkuhannya yang dilakukan oleh suaminya di depan matanya, namun Alona tetaplah seorang wanita rapuh yang gampang menangis, ketika berkendara sendiri saat pulang dari hotel tadi, ia memang sudah menangis terus-menerus di dalam mobilnya, sampai akhirnya ia tiba dengan susah payah di rumahnya, rasa sesak serta sakit di dadanya tak mampu ia tahan, hingga Ia pun merangkak dari tangga menuju lantai atas, menanggung rasa sakit ini tiada tara baginya, Adrian adalah pria yang menikahinya setahun lalu, setelah berpacaran dengannya sekitar tujuh bulan mereka memutuskan untuk menikah setelah mendapatkan restu dari kedua belah pihak,
terlebih kedua orang tua masing-masing adalah orang-orang yang berasal dari kalangan atas dan memiliki pengaruh, namun sayang kedua keluarga memiliki dendam lama sehingga tidak mudah untuk mendapatkan restu penyatuan cinta mereka, hingga akhirnya dengan susah payah dan melewati jalan terjal keduanya dapat bersatu sebagai suami istri walaupun kini keluarga mereka bagaikan orang asing, namun Alona dan Adrian memutuskan untuk tak ambil pusing, keduanya memiliki bisnis sendiri-sendiri hingga tak perlu menggantungkan asa pada keluarga, namun apa yang terjadi kini, penghianatan yang dilakukan Adrian akibat kedatangan mantan pacar lamanya membuat Alona hancur, bahkan kini punya salah demi penyesalan telah datang pada dirinya ketika mengingat betapa giginya keluarganya menolak lamaran pria itu, ia juga begitu gigih mempertahankan cintanya kepada Adrian, bahkan ia rela ditendang dari keluarga, dan tak lagi menyandang nama besar keluarga itu, tapi ia dapatkan saat ini, hanya sakit kita hati dan penghianatan.
Adrian masih bersujud di depan istrinya, perasaan bersalah dan juga penyesalan terlihat di wajahnya, namun seketika ia terkejut kala Alona tiba-tiba bangkit berdiri di depannya seraya menatap sinis ke arahnya.
"Baiklah! Jika kamu ingin mendapatkan maaf dariku, cium kakiku, dan izinkan Aku melakukan hal sama seperti yang kau lakukan, yaitu berselingkuh." Ucapan Alona tersebut membuat Adrian segera menatap tak percaya kepada istrinya, seraya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Apa yang kau katakan sayang? Jangan berbicara konyol seperti itu, aku tidak masalah mencium kakimu, tapi untuk berselingkuh! Aku tidak akan membiarkannya." Ucap Adrian dengan tatapan nanar yang mengarah ke wajah Alona, membuat istrinya itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha hahahaha!!
"Sungguh lucu kamu Adrian! Kamu melakukan perselingkuhan tapi tak membiarkan aku untuk berselingkuh, kamu memang benar-benar seorang pria iblis dan tidak tahu diri, dengan mudahnya kamu memberikan tubuhmu kepada wanita lain, tapi kamu melarang aku untuk memberikan tubuhku kepada pria lain, apakah kamu sudah gila? Karena jalangmu itu." Ucap Alona dengan nada kencang, ia menatap jengah ke arah wajah Adrian yang menurutnya sangat mengesalkan kini.
"Kamu boleh menghukumku dengan cara apapun, asal jangan dengan cara berselingkuh, kamu hanya milikku Alona, aku biarkan seorang pun memilikimu, ingat itu!!." Pekikan Adrian tersebut lagi-lagi membuat Alona terbahak-bahak namun dari sudut matanya mengalir deras air mata Ia tidak menyangka kalau suaminya itu ternyata benar-benar egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Sekarang hidupku sudah hancur, tidak memiliki perasaan lagi, rasa yang aku miliki sudah mati, akibat dari perbuatanmu itu, Aku benar-benar membencimu!." Setelah berkata demikian Alona pun bergerak cepat menuju arah kamar mandi, sementara Adrian masih tetap pada posisi tubuhnya semula yang bersujud di samping ranjang, yang memilah semua perkataan Alona yang seakan menyiratkan kalau rasa cinta yang selama ini dimilikinya telah hilang dan tak tersisa hal itu membuatnya gusar dan gamang, pasalnya ia masih sangat mencintai istrinya, ia tidak dapat memungkiri, kalau kehadiran Maya merupakan warna lain dalam hidupnya kini, bahkan secara lambat laun ia merasa ketergantungan dengan wanita itu, dengan segala pelayanannya di atas ranjang yang memang berbeda dari istrinya, namun Adrian lupa, kalau dalam perselingkuhan, otak pasti akan seiring sejalan dengan nafsu, pasti akan cenderung membenarkan setiap tindakan walaupun itu salah.
*
Setelah membersihkan diri, Alona pun keluar dari kamar mandi, wanita itu tampak segar dengan rambut basahnya namun kantung hitam pada matanya tak bisa berbohong kalau tangisannya tadi tidaklah main-main.
Sedang Adrian menatap tajam istrinya yang hanya menggunakan piyama kesayangannya yang berwarna merah, setelah melihat istrinya duduk di depan meja rias, Adrian pun melangkahkan kakinya ke sana, Dia segera mencium pucuk kepala seraya menatap wajah wanita itu di cermin yang saat ini sedang mengoleskan krim perawatannya.
Alona sama sekali tak bergeming dengan perlakuan suaminya ia sibuk mengaplikasikan beberapa krim di wajahnya, tak memperdulikan Adrian yang saat ini tengah memeluknya dari belakang dengan erat, bahkan tangan jahil pria itu menggerayangi tubuhnya.
Adrian menghela nafas kala mendapati sikap tak dingin dari istrinya, tak seperti biasanya jika ia ingin, wanita itu pasti akan menyambut dengan sukacita.
"Sayang!!."
"Mulai hari ini kita pisah ranjang!!."
...
*"*"*
"Alona!! Jangan berbicara yang tidak-tidak! Aku dan kamu akan tetap berada di kamar ini, dan akan tidur bersama tak terpisahkan, kamu harus tahu itu!." Teriak Adrian saat mendengar perkataan istrinya, yang ingin pisah ranjang, matanya menatap tajam ke arah wanita itu yang tampak menatap sinis ke arahnya.
"Keputusanku sudah bulat! Kita tidak akan lagi tidur di kamar dan ranjang yang sama, kita akan tinggal di rumah ini, namun tidak akan lagi sama seperti dulu, permainan ini Kamu sendiri yang mulai jadi terimalah konsekuensinya." Ucapan tegas Alona itu membuat Adrian terlihat frustasi dan menjambak rambutnya, sebab bukan hal seperti ini yang ia inginkan, ia memulai perselingkuhan dengan Maya berharap tak ketahuan, dan walaupun ketahuan oleh Alona nanti, ia berharap wanita itu akan mengerti, namun apa yang terjadi di depannya kini malah berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan dan diharapkannya selama ini.
"Sayang aku sudah meminta maaf! Aku berjanji tidak akan pernah menemuinya lagi, lalu kenapa sekarang kamu masih harus mempermasalahkannya sampai pisah ranjang segala? Aku mohon jangan begini, aku masih tetap Adrian suamimu yang dulu yang mencintaimu dengan setulus hati."
"Tapi telah membagi cinta dan tubuhnya untuk mantan kekasihnya, begitu kan maksudmu?." Dengan cepat Alona menyela perkataan Adrian dengan ucapan yang bernada mencibir, hingga Adrian tidak mampu lagi untuk berkata-kata.
"Keputusanku sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, jika kamu tidak keluar dari kamar ini, Aku Yang akan pergi." Setelah berkata demikian, Alona pun bergerak keluar dari kamar, dan berjalan menuju arah kamar lainnya, rumah mereka yang besar dan megah memang memiliki banyak kamar, untuk memilih kamar manapun yang ia ingin tempati.
Lagi-lagi Adrian meraup rambutnya secara kasar, seraya memukul-mukul kan kepalan tangannya ke tembok, apa yang dilakukan oleh istrinya ini membuatnya frustasi, nama seketika perasaan yang menghibur di dalam hatinya muncul, Kalau mungkin Alona hanya membutuhkan waktu untuk menerima semuanya, dan lambat laun akan mengerti, sehingga ia kembali sendiri ke dalam pelukannya dengan sukarela.
Singkat cerita....
Pada pagi harinya, Alona sudah rapi dengan setelan kerjanya, seperti biasa ia tampak cantik dan menawan, baju yang dipakainya pun baru karena baru saja dipesan dari butik ternama langganannya, dia sudah enggan kembali ke kamar di mana suaminya berada, namun karena tak memiliki baju apapun di kamar yang dihuninya saat ini, ia pun harus memesan baju kantor serta baju-baju lainnya segera dan mengisi kamar barunya, wanita itu tidak lagi memperdulikan kehadiran Adrian, ia bahkan tak menyiapkan apapun kebutuhannya di pagi ini, tak seperti kemarin, sebelum ia menangkap basah pria itu bersama dengan Maya, ia masih menyiapkan keperluan Adrian sampai stelah kerja dan dalamannya pun ia siapkan ketika pria itu mandi.
Alona sarapan dalam diam, sampai akhirnya Adrian terlihat melangkah gontai memasuki ruang makan tersebut, dengan membawa tas kerjanya yang berwarna hitam, Alona sempat memicing melihat suaminya itu yang tak seperti biasanya, Adrian terlihat berantakan, dan rambut klimisnya setiap pagi tak nampak, dua orang pelayan yang selama ini melayani mereka tampak mengerutkan kening melihat majikannya yang berbeda dari biasanya, kedua orang itu tak saling menyapa di meja makan hingga Alona pun kembali berdiri karena hendak berangkat bertepatan dengan Adrian yang baru mendudukkan tubuhnya di kursi miliknya.
"Bi aku berangkat ya! Jaga rumah Jangan sampai ada penyusup yang masuk, karena sekarang rawan pencurian, bahkan suami pun bisa dicuri orang, apalagi hanya barang." Ucapan Alona tersebut terdengar sangat menyindir di telinga Adrian, hingga ia menatap nanar ke arah istrinya yang kini telah berbalik pergi tanpa menyapanya, pria itu hanya mampu menarik nafas panjangnya sejenak kemudian ikut bangkit, selera makannya telah hilang, hingga ia merasa tak perlu sarapan.
"Ada apa dengan nyonya dan tuan?Tumben mereka tidak memperlihatkan kemesraan di depan kita?." Bisik seorang pelayan yang melihat kedua majikannya telah pergi, tanpa saling menyapa, tak seperti kemarin-kemarin.
Mendengar bisikan rekannya, pelayan lainnya hanya mengedikkan bahunya, mereka memang tidak tahu permasalahan apa yang tengah menimpa sang majikan.
*
Sementara Alona kini sudah sampai di kantornya, ia merupakan seorang CEO pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang entertainer, sudah banyak artis yang ia populer kan, hingga membuat namanya pun ikut tenar sebagai seorang wanita karir yang sukses ditambah dengan kecantikan yang mumpuni, ia banyak menaungi artis-artis yang sedang naik daun maupun arti senior yang memiliki sepak terjang yang patut diperhitungkan di dunia entertainment, nama perusahaannya adalah AK Entertainment.
"Miss! Selamat pagi, ini adalah agenda kerja anda hari ini!." Seru seorang wanita yang berjalan masuk ke dalam ruangan Alona, wanita itu adalah sekretarisnya di kantor, ia langsung memasang senyum ke arah wanita itu dan melihat agenda kerja yang akan dilakukannya hari ini.
"Pukul sembilan nanti anda akan bertemu dengan seorang kolega, mereka sudah membuat janji di restoran." Ucap sekretaris Alona itu, dan sang bos pun terlihat segera mengangguk mendengar perkataannya.
"Siapkan saja semuanya! Nanti kita akan menemui mereka jika sudah waktunya." Sahut Alona dengan senyum tipis di wajahnya. Dan sekretaris yang bernama Desi itu pun segera pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah sekretarisnya keluar dari ruangan Alona kembali terlihat berpikir, masalah pelik rumah tangganya sedikit banyak menimbulkan pikiran baginya, namun ia tidak mau sampai berimbas kepada perusahaan yang dipimpinnya, ia harus tetap melanjutkan hidup dengan kuat, karena jika sampai perselingkuhan Adrian itu membuatnya hancur, maka bisa dipastikan Maya akan menari di atas penderitaannya, namun yang ada di pikiran Alona sekarang ini adalah, bagaimana tanggapan keluarganya jika mengetahui kalau Adrian telah mengkhianatinya, pria yang selama ini mati-matian ia perjuangkan bahkan rela meninggalkan keluarganya hanya untuk hidup bersama dengan pria itu.
"Papa Mama maafkan Alona!." Gumamnya lirih, dan dari sudut mana tanya meluncur air bening, tanpa ia sadari.
Sementara di perusahaan Adrian! Tampak pria itu sedang duduk di atas kursi kerja, sama halnya seperti Alona, namun pikiran pria itu tengah menerawang memikirkan istrinya yang telah berubah karena penghianatan yang dilakukannya, Sejujurnya selama ini ia tidak pernah berpikir untuk menduakan sang istri, namun ternyata hal itu dilakukannya juga karena godaan yang terus-menerus yang begitu gencar dilakukan oleh Maya yang selalu menemui, serta menunggunya ketika ia pulang kantor.
"Maaf pak! ada seseorang yang ingin menemui anda!." Tiba-tiba terdengar seruan dari seorang wanita yang berjalan memasuki ruangan kerja Adrian membuat pria itu gelagapan seketika.
"Persilahkan dia masuk!." Sahutnya tanpa menatap ke arah sekretarisnya itu, hingga ia baru mendongakkan wajahnya ketika mendengar suara.
"Sayang! Aku merindukanmu."
...