“Eh, lihat, tuh! Namanya Jelita, tapi wajah nggak jelita.” Terdengar gelak tawa bapak-bapak.
“Pa, Masuk! Awas saja kalau kamu sampai tebar pesona ke janda jelek itu!”
“Kalau nggak masuk sekarang juga, pergi sana dari rumah!”
Para istri saling teriak, memarahi suami mereka masing-masing yang sedang asyik melihat seorang janda muda bernama Jelita.
Jelita Laurenza adalah seorang janda muda buruk rupa yang berumur 26 tahun. Dia baru saja bercerai dengan suaminya setelah satu tahun pernikahan, karena perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya. Namun, dari pernikahannya itu ia belum memiliki seorang anak. Ketika sudah resmi bercerai, dia hidup sendiri di salah satu perumahan yang dulunya menjadi tempat tinggalnya bersama suaminya. Rumah itu merupakan peninggalan milik kedua orang tuanya yang telah meninggal. Meskipun sudah bercerai, dia memiliki hak penuh untuk tetap tinggal di situ.
Jelita merasa dikucilkan di lingkungan rumahnya. Ia selalu menjadi bahan gunjingan para tetangganya, karena statusnya yang sebagai seorang janda dan juga wajah jeleknya. Kenapa tetangganya itu sering mengoloknya sebagai janda buruk rupa? Padahal menurutnya, fisik seseorang bukanlah segalanya. Ada juga ibu-ibu yang mengatai-ngatai dirinya sebagai janda penggoda.
Stigma negatif status janda di mata masyarakat tentunya melukai harga diri seorang perempuan. Dia memilih untuk diam tanpa membalas berbagai olokan para tetangganya itu. Kali ini dia harus menjadi wanita mandiri dan fokus dengan kariernya, kemudian ia masuk ke dalam mobilnya untuk berangkat menuju kantor.
***
“Jelitaa!” teriak Livia, sahabat Jelita satu-satunya di tempat kerja. Bisa dibilang hanya wanita itu yang mau berteman dengan Jelita.
Jelita yang baru saja menutup pintu mobilnya, langsung menoleh saat mendengar ada yang memanggil namanya. “Hai, Liv.” Dia kemudian melangkahkan kakinya mendekati sahabatnya yang sedang berdiri di depan lobi perusahaan.
Mereka berdua pun segera masuk ke gedung yang menjulang tinggi dengan desain modern yang semakin memperlihatkan kekokohan perusahaan bernama One Link Group itu. Jelita dan Livia berada di divisi yang sama, yaitu divisi pemasaran. Jelita sudah dua tahun bekerja di perusahaan itu.
“Eh, si jelek sudah dateng, nih. Ngomong-ngomong, sudah akhir bulan, loh. Kamu nggak ingin traktir kita?” Teman-teman Jelita yang satu divisi pada meminta traktiran, karena Jelita berhasil menjadi pegawai dengan pemasaran terbaik di bulan ini.
“Jangan gitu. Bonusnya biar buat perawatan dia saja. Kasian wajahnya sudah kusam dan jelek gitu,” terdengar gelak tawa sekaligus tatapan mengejek ke arah Jelita.
“Dasar kalian ini! Bukannya menghibur Jelita, malah mengoloknya, minta traktiran lagi. Nggak tahu malu!” Livia terlihat kesal. Teman-teman yang lain semakin tertawa keras. Mereka sama sekali tidak menyesal karena sudah berbicara seperti itu. Mereka seolah-olah masa bodoh melihat temannya itu yang baru saja menghadapi hal sulit.
“Sudah-sudah. Jangan pada ribut. Nanti setelah gajian. Aku akan traktir kalian makan.” Sebenarnya Jelita merasa sakit hati, karena selalu mendapat ejekan teman-temannya. Namun, ia tidak mau berdebat dan memilih untuk diam.
Teman-teman yang lain langsung senang mendengar jawaban Jelita, sedangkan Jelita hanya tersenyum kecut melihat reaksi teman-temannya. Ia kemudian duduk di kursi kerjanya dan mulai menyalakan komputer, mengawali aktivitas kerjanya di pagi hari ini. Baru saja monitor komputer menyala, tiba-tiba suasana di ruangan divisi pemasaran itu kembali bising, membuat semua orang yang ada di situ mengikuti arah pandang di mana sumber suara itu berasal.
“Eh, ini kantor, bukan pasar. Kenapa kamu teriak-teriak segala gitu, sih? Mengganggu orang kerja saja,” hardik Livia kesal dengan sikap temannya yang tiba-tiba teriak sambil melotot ke arah layar ponsel yang wanita itu pegang.
“Manajer kita mengupload foto di media sosial pribadinya dan mengumumkan kalau dirinya akan segera tunangan,” ujar Hana dengan ekspresi yang masih terkejut.
“Bagus, dong. Gitu pakai teriak segala,” lanjut Livia. Sedangkan yang lain hanya diam tanpa berkomentar. Mereka semua seolah-olah tidak peduli dengan kehidupan manajer mereka yang tidak begitu disukai di kantor, karena sikap sombong sang manajer dan terkesan mengatur para anak buahnya.
“Tapi masalahnya, calon tunangannya itu ....” Hana menelan ludahnya ragu-ragu sambil melirik ke arah Jelita. “Mantan suaminya Jelita.”
Semua mata langsung menoleh ke arah Hana. “Apa maksudmu?” Kini Jelita membuka suara.
Hana menghampiri Jelita dan memberikan ponsel miliknya ke temannya itu. Semua orang yang ada di sana, ikut mendekat. Mereka tidak percaya akan secepat itu mantan suami temannya memiliki tambatan baru.
Mata Jelita memerah, air mata mulai membendung di pelupuk. Dia tersenyum kecut melihat foto mesra mantan suaminya dengan wanita yang menjadi manajernya sekarang. Dia masih tidak menyangka, pria itu dengan mudahnya berpindah hati. Dia lupa. Bahkan pria itu sudah berani bermain hati saat mereka masih berstatus suami istri.
“Jangan bilang kalau alasan kamu cerai, karena suamimu ada hubungan gelap dengan nenek lampir itu?” tanya Livia. Dia sampai sekarang masih belum tahu tentang sebab perceraian sahabatnya itu. Masalahnya, Jelita tidak pernah bercerita kepadanya tentang kehidupan rumah tangga wanita itu.
“Astaga! Jadi kamu diselingkuhi?”
“Jadi, si nenek sihir itu yang jadi pelakor?”
Teman-teman Jelita ikut merasa kesal. Meskipun mereka juga tidak terlalu menyukai Jelita, tapi saat melihat sang manajer yang sangat mereka tidak sukai itu merebut suami Jelita, membuat mereka naik pitam. Sedangkan Jelita hanya diam membisu dan memilih untuk kembali menghadap komputer.
“Makanya kamu itu jadi wanita harus bisa mengurus dirimu sendiri. Lihatlah wajah jelekmu itu! Aku saja enggan melihatmu.”
“Jaga omonganmu, ya!” teriak Livia yang tidak terima mendengar teman-temannya masih mengejek sahabatnya.
“Sudah! Cukup!” teriak Jelita membuat suasana menjadi hening. “Kalian kembalilah kerja!”
Siang harinya, Jelita memilih untuk makan siang di luar kantor. Dia ingin menenangkan dirinya dari keramaian dan berbagai tatapan sinis para rekan kerjanya. Berita mengenai pertunangan manajer pemasaran dengan mantan suaminya sudah menyebar di perusahaan. Dia hanya mengaduk-aduk makanan yang ia pesan. Nafsu makannya tiba-tiba hilang ketika dirinya mengingat momen saat memergoki mantan suaminya selingkuh dengan manajernya sendiri waktu itu. Tak terasa, air matanya mengalir membasahi pipinya.
Namun, belum juga kenangan menyakitkan itu hilang dari pikirannya, kini ia diperlihatkan lagi secara langsung kemesraan kedua orang itu. Saat ini, mantan suami Jelita dan manajernya baru memasuki restoran dengan tangan yang saling menggenggam mesra. Jelita langsung menghapus air matanya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan mantan suaminya.
“Oh, Jelita?” sapa Helena, manajer Jelita.
Jelita hanya membalas sapaan itu dengan senyuman kikuk. Dia dapat melihat ekspresi Romi (mantan suaminya) yang tersenyum mengejek ke arahnya, sedangkan Helena seperti sengaja memamerkan kemesraan di depannya.
“Kamu sendirian saja? Kami boleh duduk di sini, nggak?” ujar Helena sengaja. Dia memang ingin menunjukkan kepada bawahannya itu, kalau Jelita tidak sebanding dengannya yang memiliki wajah cantik dan karier sukses. Buktinya, suami wanita itu saja bisa tertarik padanya.
“Kamu sudah menunggu lama?” tanya seorang pria dengan memakai masker dan topi berwarna hitam yang tiba-tiba duduk di kursi tepat berhadapan dengan Jelita.
"Siapa dia?" batin Jelita dibuat bingung dengan kedatangan seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal. Bahkan penampilan pria itu terlihat sangat aneh. Ia bahkan tidak dapat melihat wajah pria itu. Namun, saat dia melihat ekspresi terkejut Helena dan Romi, membuat dirinya mau tidak mau harus memanfaatkan kesempatan ini. “Ah, akhirnya kamu datang juga. Kamu tau? Aku sampai bosan menunggumu,” balas Jelita dengan manja kepada pria yang saat ini sedang duduk di hadapannya.
Helena terlihat kesal saat melihat ada juga pria yang mau bersama Jelita, si wanita jelek. Begitu juga dengan Romi, ia tidak habis pikir. “Lihatlah sayang! Mereka berdua sepertinya cocok. Sama-sama aneh. Mungkin dia pakai masker karena malu memiliki wajah yang jelek,” ujar Romi dengan senyum mengejek melihat Jelita dan pria misterius yang berada di hadapan mantan istrinya itu.
Namun, Jelita sama sekali tidak menggubris perkataan Romi dan Helena. Ia justru menyibukkan diri merapikan jaket yang dipakai pria yang tidak ia kenal itu. Merasa dicueki oleh Jelita, Helena langsung pergi yang diikuti Romi di belakangnya.
Saat melihat Helena dan Romi yang telah pergi, Jelita langsung bernapas lega. Dia kemudian melirik tajam ke arah pria yang tidak ia kenal itu. “Siapa kamu?”
Pria misterius yang bernama Affandra Adelard itu, hanya mengulas senyum dibalik masker yang ia kenakan. “Sepertinya kamu juga memanfaatkan keberadaanku di sini,” jawab Affandra sambil memakan steak milik wanita yang dari tadi sudah mencuri perhatiannya.
Awalnya, Affandra bersikap acuh dengan keberadaan wanita itu yang tak jauh dari tempat duduknya. Apalagi dengan wajah wanita itu yang jauh sekali dari standar dirinya. Namun, perhatiannya pada dokumen yang ia pegang, teralihkan begitu saja saat mendengar isakan tangis yang sedikit mengganggunya. Ia kemudian melihat ada sepasang kekasih yang sedang mendekat ke arah wanita itu. Dari situ, dia mengerti situasinya seperti apa. Entah mengapa, dirinya tiba-tiba menghampiri wanita itu dan memilih bersandiwara untuk membantu.
“Kenapa kamu nggak sopan sekali makan makanannya orang lain?” hardik Jelita merebut kembali makanannya.
Namun, Affandra bukannya tersinggung, dia malah tertawa begitu renyah sambil melipat kedua tangannya di atas perut. Ia terus menatap wajah kusam dan penuh jerawat di hadapannya saat ini. Baru kali ini dirinya ditatap sengit oleh seorang wanita. “Kalau dilihat dari ekspresimu, sepertinya kamu baru saja dikhianati. Apa pria barusan itu pacarmu?”
“Dia bukan pacarku, tapi mantan suamiku,” jawab Jelita cepat dengan muka yang masam.
Affandra langsung tertegun saat mendengar pernyataan Jelita. Dia merasa ada rasa iba di dalam hatinya. “Buat apa kamu menangisi pria seperti itu?”
“Itu bukan urusanmu!” balas Jelita dengan lugas. Ia langsung beranjak berdiri dan meninggalkan tempat itu. Affandra hanya tersenyum melihat kepergian wanita itu.
“Papamu ingin bertemu denganmu siang ini juga,” ujar Temi, manajer Affandra.
“Baiklah. Kita ke sana sekarang juga.”
***
Saat ini, Affandra sedang berada di sebuah rumah yang sangat luas dengan desain rumah yang elegan dan mewah. Semua pelayan di rumah itu membungkuk hormat ke arahnya. Dia terus melangkahkan kakinya menuju ke ruangan pribadi milik papanya. Dia memang tidak tinggal di rumah besar itu, karena memilih untuk hidup mandiri.
Saat sudah tiba di sebuah ruangan kerja milik papanya, ia langsung melenggang masuk. “Ada apa, Pa?” tanya Affandra saat sudah berada di hadapan papanya.
Tuan Dito langsung menengadahkan kepalanya, menatap putra kesayangannya itu. “Duduklah! Sudah lama kita nggak pernah berbincang santai seperti ini.” Senyuman mengembang di wajah yang sudah mulai terlihat keriput itu.
Affandra kemudian mendudukkan diri di kursi. “Gimana kondisi papa?”
“Aku sudah baikan. Oh iya, aku memanggilmu ke sini karena ada satu hal yang ingin aku bicarakan padamu.”
“Apa itu, Pa?”
Tuan Dito melepas kacamata yang bertengger di wajahnya dan menatap kepada putra satu-satunya itu. “Tinggalkan dunia keartisanmu!”
“Apa maksud papa?” tanya Affandra memastikan.
Tuan Dito menatap lekat wajah putranya. Dia sudah memprediksikan jika putranya itu akan menentang perkataannya. Namun, ia melakukan ini demi kebaikan putranya. “Aku ingin kamu meninggalkan dunia hiburan yang nggak ada manfaatnya itu. Sampai kapan kamu hidup bersenang-senang tanpa tujuan? Dunia artismu itu nggak akan bisa menjaminmu sampai tua.”
Wajah Affandra langsung mengeras. Sepertinya papanya itu sama sekali tidak berubah. Dia sangat tidak suka hidupnya selalu diatur. “Aku nggak mau, Pa. Menjadi seorang artis terkenal merupakan impianku selama ini. Lagi pula aku juga punya rumah sakit, Pa. Aku rasa alasan papa sangat nggak mendasar sama sekali.”
“Aku tetap nggak setuju. Aku ingin kamu menjadi pengusaha. Kamu punya rumah sakit, tapi nggak ikut mengelola di dalamnya. Bisa-bisa rumah sakitmu itu aku ambil alih kalau kamu masih aktif di dunia hiburan,” jawab Tuan Dito mengancam.
“Jangan sentuh duniaku, Pa! Aku nggak akan membiarkan papa mengambil alih rumah sakit milikku. Rumah sakit itu segalanya bagiku!” Affandra mulai geram menghadapi papanya.
Tuan Dito menyunggingkan senyuman tipisnya. Ia kemudian berdiri menatap jendela. “Jika kamu ingin menghilangkan rasa bersalahmu pada mendiang kakakmu, keluar dari dunia hiburan dan fokus mengurus rumah sakit spesialis bedah plastikmu itu.”
Pukulan hebat menghantam hatinya yang terdalam saat papanya kembali mengungkit mendiang kakaknya. Trauma itu kembali menyerangnya. Kepalanya mulai terasa berat dan sakit. “Cukup, Paa!” teriak Affandra cukup kencang. Ia langsung pergi dari ruangan itu dan menutup pintu dengan cukup keras.
***
Sore harinya, di rumah Jelita ada beberapa orang yang datang. “Apa maksudnya ini?” tanya Jelita pada keempat orang yang saat ini sedang berada di rumahnya. Dia sangat syok saat mendengar perkataan dari salah satu orang itu yang ingin menyita rumahnya. Baru saja dirinya pulang dari kerja. Namun, berita buruk terus datang bertubi-tubi.
“Maaf, Bu. Kami dari pihak bank mau menyita rumah ibu, karena nasabah kami yang bernama Pak Romi Ardiansyah tidak membayar hutang sesuai dengan waktu yang kami tentukan. Dia memberikan sertifikat rumah ini sebagai jaminannya,” ujar salah satu pegawai bank.
Jelita meremas kedua tangannya, menahan emosi yang berkecamuk di dalam hati. Ia tentu tidak akan merelakan satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya disita oleh bank. “Berapa hutangnya?”
Pegawai bank itu menyerahkan bukti data tentang peminjaman yang dilakukan oleh Romi, mantan suami Jelita. “Berdasarkan data kami, total hutangnya ada 500 juta.”
Jelita tidak menyangka, Romi akan berbuat tega seperti itu terhadapnya. Buat apa uang sebanyak itu? Ia terus menanyakannya di dalam hati. Selama ini, kebutuhan mereka berdua saat masih berumah tangga tidak ada kekurangan apa pun. Bahkan dari penghasilannya pun juga dikatakan sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Belum juga dari penghasilan pria itu, meski ia jarang menerima nafkah dari mantan suaminya itu.
“Apa tidak ada waktu lagi? Saya janji akan melunasi hutang itu. Tapi, tolong jangan sita rumah ini. Saya mohon.” Jelita berusaha mengajukan negosiasi. Meski dia tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu di mana, karena tabungannya saja masih kurang.
“Kami hanya bisa memberi waktu selama tiga hari lagi, Bu. Jika masih belum bisa melunasi, kami akan tetap menyita rumah ini.”
Tubuh Jelita langsung lemas mendengar penuturan dari pihak bank. "Dari mana aku bisa menemukan uang lima ratus juta dalam waktu tiga hari?" batin Jelita.
Hari mulai malam. Hujan deras mengguyur kota. Kini, Jelita sudah berada di depan gedung apartemen milik mantan suaminya. Dia bahkan tidak memedulikan rambut dan bajunya yang sedikit basah. Dia benar-benar tidak habis pikir Romi seenaknya memberikan sertifikat rumahnya pada pihak bank sebagai jaminan, sedangkan pria itu masih hidup nyaman di apartemen yang terlihat cukup mewah.
Saat sudah berada di depan pintu, Jelita langsung memencet bel apartemen itu. Tak lama kemudian, pintunya pun terbuka. Menampilkan sosok pria yang dulunya pernah mengisi hatinya. Namun, ia segera menyadarkan dirinya kalau pria itu bukan siapa-siapanya lagi.
“Oh, kamu? Ada perlu apa kamu ke sini? Apa jangan-jangan kamu merindukanku?” ujar Romi dengan senyum mengejek.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Wajah Jelita terlihat nyalang, matanya memerah. “Apa yang kamu lakukan padaku?!” teriak Jelita.
“Beraninya kamu menamparku!” Romi yang takut terdengar oleh penghuni apartemen lain, dia langsung menyeret Jelita untuk masuk ke dalam apartemennya. Jelita berusaha melepaskan genggaman tangan Romi dengan penuh kekuatan
“Lepaskan!” hardik Jelita meronta.
“Oke. Tolong jangan membuat kegaduhan di sini. Bicarakan baik-baik. Ada apa sebenarnya kamu datang ke sini?” tanya Romi menatap mantan istrinya yang mulai menetaskan air mata.
“Rumahku mau disita sama pihak bank, karena hutang-hutangmu!” jawab Jelita penuh penekanan sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
Namun bukannya panik, Romi malah terlihat santai dan masih bisa tersenyum. Pria itu kemudian mendekat dan mengusap pelan wajah jelek mantan istrinya. “Ya sudah. Biarkan rumah itu disita. Kamu bisa tinggal di tempat lain.”
Jelita kembali menampar keras wajah pria itu.
“Rumah itu satu-satunya peninggalan kedua orang tuaku. Bisa-bisanya kamu mau menyerahkan rumah itu pada pihak bank? Di mana akal sehatmu Romii?!” teriak Jelita histeris.
Romi menampar Jelita, hingga membuat tubuh wanita itu tersungkur di lantai. “Beraninya kamu menamparku!” hardik Romi. “Biarkan rumah itu disita. Lagian rumah itu sudah kuno.”
Jelita semakin menangis. Ia begitu menyesal sudah pernah mencintai pria itu. Ia berusaha bangkit. Bukan saat yang tepat baginya untuk lemah di hadapan mantan suaminya itu. Ia tidak akan membiarkan jika pria itu terus merendahkannya. Lalu, ia menatap wajah Romi dengan berani. “Kamu memang pria bajingan. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku pasti bisa membawa kembali sertifikat rumahku. Ingat itu!”
Jelita langsung pergi meninggalkan apartemen. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh pria itu. Dia berjanji pada dirinya, dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di apartemen ini lagi dan mengemis pada pria itu. Baginya pria yang berani bermain dengan ikatan pernikahan, di kemudian hari pasti akan terulang lagi. Apa pun alasannya, dia tidak akan pernah percaya.
Jelita berusaha menguatkan diri untuk berjalan menyusuri jalanan malam yang mulai sepi dengan langkah gontai. Ia memang sengaja tidak membawa mobilnya. Ia tidak mau mobilnya lecet, karena sudah ia pasang di iklan untuk dijual. Namun, tiba-tiba ia melihat sebuah bar. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memasuki bar itu dengan mantap.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Affandra hanya diam, menatap gelas yang berisi wine. Memori tentang kecelakaan lima tahun lalu yang menimpa dirinya dan kakak wanitanya, kembali terputar di otaknya. Air mata membasahi pipi. Sampai saat ini, kenangan buruk itu terus menghantuinya. Kenangan di mana ia melihat jelas dengan matanya sendiri saat kakaknya menjatuhkan diri dari rooftop gedung rumah rumah sakit.
Kini pandangan Affandra mulai kabur. Namun, ia masih dapat tertawa karena rasa sakit di kepalanya mulai hilang. “Kenapa hidupku selalu diatur? Padahal aku sudah menjadi pria sukses. Kakak, maafkan aku ....” Ia mulai meracau tidak jelas dengan air mata yang terus menetes. Untung saja ia masih mengenakan topi dan berada di ruang VIP, sehingga tidak ada yang menyadari keberadaannya di sana.
Mata Jelita menatap ke sana-kemari. Suasana di dalam bar itu cukup ramai. Suasana hatinya sangat buruk kali ini dan dia ingin melepaskan semua penatnya. Ia tidak tahu lagi tempat mana yang harus ia datangi. Ia frustrasi dan seperti menyalahkan kehidupan yang sangat tidak adil kepadanya. Ia terus berjalan memasuki bar lebih dalam lagi. Namun tanpa sengaja, ia menyenggol seorang pria bertubuh kekar yang sedang asyik bermesraan dengan seorang wanita.
“Ahh, maaf. Aku nggak sengaja,” ujar Jelita meminta maaf dengan posisi kedua telapak tangan saling bertemu.
Pria bertubuh kekar itu langsung berdiri. “Yaahh. Kurang ajar kamu!” hardiknya menatap tajam ke arah Jelita. Ia sangat marah ketika kesenangannya diganggu oleh wanita jelek yang ada di depannya itu. Ia pun berjalan mendekat ingin memberi pelajaran. Teman-teman satu gengnya juga ikut mendekat.
Jelita merasa takut ketika ditatap oleh pria di hadapannya itu. Dia tidak siap jika tubuhnya akan dicabik-cabik oleh tubuh berotot dan mengerikan yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. “Ohh, polisi!” ujarnya dengan mata terbelalak. Saat pria itu menoleh ke belakang, Jelita mengambil kesempatan untuk kabur.
Jelita terus lari melewati kerumunan orang-orang yang sedang asyik berjoget. “Ahh, sial! Kenapa mereka terus mengejarku?” ujarnya frustrasi dengan napas yang terengah-engah. Ia pun dengan langkah cepat membuka pintu ruangan VIP yang kebetulan tidak terkunci, lalu langsung menutup dan menguncinya. “Akhirnya, aku bisa lolos dari para pria menyeramkan itu.” Ia bersandar di dinding sambil mengatur napasnya yang tidak beraturan itu.
“Siapa kamu?” tanya Affandra sambil tangannya menunjuk ke arah Jelita.
Jelita yang baru sadar kalau di dalam ruangan itu ada orang, langsung terkejut. Ia pun hanya menelan ludahnya. Sepertinya dia salah memilih tempat persembunyian. Affandra berejalan mendekat ke arah Jelita dengan langkah gontai sambil menajamkan penglihatannya yang mulai kabur.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Jelita saat pria yang tidak ia kenal itu, berada di depannya yang sedang membelai wajahnya.
“Kenapa wajahmu jelek sekali?” ujar Affandra dengan mata yang menyipit.
‘Plak’ Tamparan keras melayang di pipi Affandra, hingga membuat tubuh pria itu tersungkur di lantai dan tidak sadar.
“Astaga! Apa aku menamparnya terlalu keras?” Jelita membekap mulutnya, takut jika pria itu mati karena tamparannya. Ia langsung jongkok dan memastikan lagi. “Hei, bangun. Apa kamu mati? Ya ampun, kenapa hidupku gini banget, sih? Gimana ini? Aku mohon. Kamu jangan mati dong. Jangan menyusahkan hidupku yang sudah berantakan ini.” Ia terus menepuk pipi pria itu pelan.
“Dasar wanita jelek ...,” racau Affandra dengan senyuman simpul yang terukir di wajahnya.
“Hei. Beraninya kamu?!” Tangan Jelita kembali melayang hendak menampar pria yang tergeletak di lantai itu. Namun, ia urungkan.
Mata Jelita terus menelisik ke wajah tampan pria yang tidak ia kenal itu. Hidung mancung, alis tebal, rambut hitam, kulit putih, dan bibir yang sangat memesona. Bahkan dirinya tidak mengetahui siapa pria itu, karena memang dirinya bukan tipe orang yang selalu update tentang dunia artis.
Tiba-tiba Jelita langsung tersadar dari rasa kagum pada pria itu. “Kamu nggak boleh terpesona dengan wajahnya. Dia sudah berani mengejekmu jelek tadi. Semua pria sama saja. Kamu nggak boleh dibodohi lagi dengan fisik mereka, Jelita.” Cukup satu pria saja yang menyakiti hatinya. Ia tidak ingin terluka lagi. Air matanya kembali jatuh saat mengingat rumah tangganya yang hancur.
Jelita menyeret tubuh pria itu ke sofa. Ia kemudian beranjak menuju pintu. Kepalanya nongol sedikit untuk melihat keadaan di luar. Ia langsung menutup pintunya kembali saat melihat para pria menyeramkan itu masih berkeliaran di luar sana. “Ahh, terpaksa aku harus ada di sini dulu.”