Max adalah koki yang berwajah tampan, ia memiliki postur yang ideal, bahkan dirinya sangat cocok jika menjadi model karena penampilannya yang good looking ditambah harga baju yang lumayan fantastis.Ia terlahir sempurna dengan latar belakang keluarga yang bukan orang biasa seperti koki lain. Ia mentautkan penampilannya pada cermin bagaimana dirinya terlihat sangat sempurna.
"Wow," ucapnya ketika baju limited edition itu telah terpakai pada tubuhnya dan terlihat sangat memukau.
Ia mengangkat dering ponselnya yang sedari tadi menyala dan menghasilkan bunyi panjang.
"Max, jangan lupa ya, hari ini ada konferensi pers di televisi," ucap asistennya ketika mengabarkannya lewat sambungan telepon.
Ya, Hari ini, adalah hari di mana dirinya telah resmi menjadi koki termuda dan pertama di kerajaan Vatikan dengan usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun.
Tak berlangsung lama, suara seseorang terdengar dari luar, suara itu dia sangat kenali karena memang orang itu telah menjadi asistennya cukup lama.
"Max, kamu sudah siap?" tanya asisten Max yang biasa menemaninya di setiap acara seperti hari ini, konferensi pers dengan wartawan.
"Hhmmm, menyebalkan sekali," gerutunya ketika suara itu kembali terdengar tak sabaran.
Ia kemudian keluar dan diantar menuju lokasi syuting, di sana sudah ada pembawa acara perempuan yang bertugas sebagai MC.
" Siap? Satu dua tiga, action!" videografer memberi aba-aba untuk presenter agar memulai acara dengan Max menunggu di luar belum dipersilahkan.
"Halo sahabat semua, jumpa kembali dengan saya Rossi, kali ini kita kedatangan tamu yang spesial, Namanya Max sang koki termuda di kerajaan Vatikan, tentunya nama itu pasti familiar di telinga kalian, marilah kita sambut, ini dia Max" Semuanya yang ada di sana seakan menyambut kedatangannya, suara tepuk tangan meriah menyambut kedatangan Max yang baru masuk dan dipersilahkan duduk.
Max masuk sembari melambai dan membungkuk memberi hormat kepada para penonton yang hadir di sana. Presenterpun basa-basi dengan latar belakang Max, mencairkan suasana.
"Kenapa kamu memilih profesi koki dibandingkan model?" tanya sang presenter sembari menatap ke arah kamera.
"Menjadi koki bukan hanya sekedar profesi, melainkan sebuah hobi yang sedang ku gemari dan ternyata menghasilkan."
Beberapa tepuk tangan kembali riuh dengan jawaban Max yang cukup brialian, bahkan presenter cantik di depannya pun mengacungi jempol.
"Jadi apa pendapatmu tentang makanan?" tanya presenter ketika suara tepuk tangan sudah tak lagi terdengar. Semua orang menunggu jawaban Max, mereka berharap jawabannya sebrilian barusan.
"Menurutku makanan bisa jadi senjata mematikan namun, bisa menjadi pembuka bagi hubungan yang sudah mulai renggang, makanan juga bisa menjadi senjata politik," ucap Max yang membuatnya penonton kecewa bahkan tercengang tak percaya.
"Bagaimana caramu bisa sampai menjadi koki muda?" tanya presenter kembali antusias.
"Bukan termuda, tapi yang pertama," ralatnya dengan sombong dan percaya diri.
Ia kemudian menceritakan bagaimana awal karirnya bermula hingga sampai di posisi yang seperti sekarang.
"Wah, luar biasa ya, ku pikir lewat jalur dalam mengingat keluarga kamu bukan orang biasa," sambung presenter yang membuat para penonton riuh bertepuk tangan.
"Terimakasih motivasinya, semoga anak-anak muda bisa terinspirasi dengan cerita Max, sang koki," ucap presenter mengakhiri sambutanya.
***
Setelah malam itu, nama Max semakin bersinar, ia semakin terkenal, banyak tamu kenegaraan yang juga ingin mencicipi hasil masakannya.
"Max, siapkan hidangan spesial untuk ini.."
Setelahnya ia memasak dengan sangat cepat, dan menyiapkan hidangannya dengan sangat cantik.
"Max, siapkan hidangan spesial ini ..."
Seperti sebelumnya setelah ia memasak, selalu ada pramusaji mengambil makanannya.
"Max! Ayo cepat!"
Geram beberapa pramusaji yang mulai tak sabar karena sudah banyak yang mengantri hasil masakannya.
"Max, lagi!" ucap beberapa pramusaji yang ternyata beberapa tamu semakin banyak yang menginginkan hasil masakan Max.
Setiap harinya, Max semakin terkenal, namanya selalu dipanggil-panggil untuk menyiapkan hidangan, banyak review positif bahkan selalu bintang maksimal untuk setiap masakan yang telah dibuatnya dengan piawai. Semua orang bahkan memujinya, banyak tamu kedutaan yang penasaran dengan hasil masakannya yang sangat terkenal bahkan di manca negara.
"Max, besok malam ada perdana menteri, tolong siapkan menu terbaik," ucap petugas kerajaan memberi tahu.
Semalaman media sosial Max tidak berhenti memberikan notifikasi, bahkan beberapa notif masuk karena sering kali ditag dengan tema memasak atau bisnis.
***
Malam itu, malam yang dia tunggu, malam di mana perdana Mentri ikut serta mencoba masakannya, ia tampil dengan perfoma sempurna, ia bahkan menyiapkan menu makanan yang menurutnya spesial. Dengan kemampuan bahasa yang dimilikinya ia tak perlu translator untuk menerjemahkan.
"Kamu bisa, Max?" tanya ajudan yang biasa menemani tamu kehormatan di kerajaan tempatnya bertugas.
" Di catatannya tidak ada alergi apapun, kan?"
Seperti katanya, bahwa makanan bisa jadi senjata mematikan buat lawan, ia memastikan ke temannya untuk memastikan bahwa tidak ada alergi sebelum memasak.
Entah lupa atau disengaja, sang translator tidak membawa catatan, itu artinya ia bebas membuat menu makanan.
Merasa tidak ada yang perlu dijadikan catatan, Max memasak dengan riang, ia menyulap makanan bermenu seafood dengan beragam hidangan. Dengan kepiawaiannya dan cekatannya dalam memasak, sehingga waktu yang ditentukan memasak itu hanya sebentar.
"Semuanya sudah siap."
Ia tersenyum senang ketika semua masakan yang ia masak dengan sepenuh cinta, disusun sedemikian cantik di atas piring telah dibawa pramusaji untuk disajikan.
"Yea akhirnya selesai," ucapnya sembari bersiul-siul karena hari istimewanya akan tiba, karena biasanya setelah ini ia akan semakin terkenal karena telah menyajikan menu istimewa dan disukai oleh perdana Mentri.
"Sudah selesai semua kan? Apa masih ada lagi yang aku masak?" tanya Max sebelum memutuskan untuk pulang.
"Hari ini, akhirnya selesai juga," ucap beberapa asisten koki yang membantu Max menyiapkan masakan yang hari ia buat sangat banyak.
Max dan beberapa asistennya gegas merapikan perkakas dan bersiap untuk pulang.
"Terimakasih untuk hari ini, Max," ucap beberapa teman-temannya yang sudah siap untuk pulang.
Maxpun mengikuti yang lain, ia menghubungi pacarnya untuk bertemu, hari ini ia sangat senang karena waktu bertemu dengan pacarnya bisa lebih lama.
Ia menghubungi pacarnya menggunakan telepon seluler terbarunya.
"Kita bertemu di tempat biasa ya, sayang," ucapnya ketika panggilan itu tersambung dengan hanya sekali menunggu.
Ia mengobrol cukup lama, menyampaikan rasa rindu yang mendera karena hampir satu bulan tak bertemu dengan pacarnya, karena terkadang bukan hanya dirinya yang sibuk, pacarnya yang berprofesi modelpun sama sibuknya dengan dirinya.
" Waktunya menikmati surga dunia," gumamnya sembari bersiap mengganti baju kokinya menjadi baju yang biasa ia pakai ke acara formal.
Ia bersiul-siul dan bernyayi ketika menyusuri jalan untuk keluar. Tanpa tau ada informasi terburuk yang ia yang menjadi tersangkanya.
Setelah hasil memasaknya selesai dengan disajikan dengan sangat cantik, masakannya itu terbuat dengan bahan utamanya adalah makanan laut atau seafood sesuai dengan permintaan dari perdana mentri melalui translator yang menemuinya tiga jam yang lalu. Masakan itu sangat banyak dengan beberapa piring cantik yang dibawa beberapa pramusaji yang tersenyum riang.
"Wah, hari ini Max akan trending topik kembali," ucap beberapa pramusaji yang sudah sangat percaya diri dengan hasil olahan Max sekarang.
"Iya, pasti setelah ini hidangan yang dia masak hari ini, akan masuk menjadi makanan favorit dan tranding topik," sambung yang lain menanggapi ucapan beberapa pramusaji yang lain.
Semua pramusaji membawa hidangan tersebut dengan tersenyum kemenangan, karena biasanya setelah ini ia juga akan mendapat efeknya setelah Max mendapatkan pujian.
Mereka dengan terlatih dan sesuai manner menyajikan makanan tersebut di atas meja makan tanpa ada yang tau di antara mereka bahwa sang perdana Mentri mempunyai alergi udang.
"Enjoy the food!" sambung kepala koki mempersilahkan tamu kehormatan untuk memulai makan hasil masakan yang disajikan.
Sudah banyak sekali piring yang tersaji di depan perdana mentri, dari mulai makanan pokok hingga sajian tertutup.
"Wow, that's a lot! it looks so delicious!"
Makanan itu memang terlihat sangat menggoda dengan plating yang sangat cantik membuatnya makin menggiurkan.
"Very delicious," ucap perdana Mentri yang mulai tak kuat untuk tidak langsung mencicipi masakan Max, konon semua orang mengaguminya, beliau mengunyah dengan lembut makanan yang disajikan dengan sangat mewah.
Beliau bahkan mengacungkan kedua jempolnya ketika hampir seluruh masakan yang dibuat Max sangat nikmat. Ia mencoba dengan masakan yang terakhir sebagai hidangan penutup yang beliau tidak tau bahwa ternyata mengandung udang.
" Semuanya sesuai dengan ekspektasi saya, rasanya sangat lezat, penampilannya cantik dan uhuk-uhuk," ucapnya sembari terbatuk-batuk karena beliau memakan udang yang membuatnya alergi.
Perdana Mentri masih memberikan ulasan positif terkait masakan yang dibuat oleh Max ke wartawan yang sedari tadi mengabadikan, beliau memuji keterampilan Max yang mampu menggoyang lidahnya menjadi berselera untuk makan.
" Uhuk-uhuk." Perdana mentri mulai terbatuk kembali dan lebih sering dari sebelumnya.
"Haduh, gatal," ucap perdana mentri sembari menggaruk mulutnya karena alergi udang. Beliau menggaruk lagi, batuk lebih sering hingga pingsan tak sadarkan diri.
" Bruk!"
Perdana Mentri jatuh karena mengalami reaksi anafilaktik, beliau mengalami penurunan tekanan darah secara drastis dan penyempitan saluran pernapasan.
" Cepat panggil ambulance!" titah kepala ajudan yang selalu membersamai perdana mentri sembari membopong perdana Mentri yang sudah terkapar tak sadarkan diri.
"Cepat cek makanan yang barusan dimakan perdana Mentri!" titah ajudan lagi, ia yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang perdana menteri makan hingga beliau pingsan.
" Tuan, makanan ini mengandung udang, sepertinya Max sengaja karena perdana mentri alergi udang," ucap beberapa ajudan yang langsung sigap mencari penyebab kenapa perdana menteri tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri.
Ada guratan amarah bahkan mukanya bermuram durja, kepala ajudan itu tanpa berpikir panjang untuk memerintah bawahannya untuk memeriksa lebih teliti.
"Cepat bawa ke sini Maxnya, tangkap bila perlu," ucap kepala ajudan setengah berteriak.
Para ajudan langsung berpencar mencari keberadaan Max sedangkan yang lainnya membantu kompresi dada sembari menunggu ambulance datang.
"Dia di sana!" jawab beberapa bawahan ajudan yang bersiap mengejar dengan bantuan beberapa polisi.
"Cepat tangkap!"
Ajudan dan para polisi langsung gegas menghampiri Max yang sedang bersiul-siul riang dan bersiap untuk kencan. Mereka lalu menangkap Max tanpa ba bi Bu penjelasan yang cukup lebar.
"Ada apa? Pasti perdana Mentri sudah menikmati surganya masakan, betul?" tanya Max yang belum tau menau kenapa dirinya dicegah untuk pulang. Ia masih mengulas senyuman karena yakin bahwa masakannya akan mendapatkan pujian dan dia akan diwawancarai.
" Ikuti kami!"
Ajudan itu bahkan memegang lengan Max dengan sangat kasar, ia bahkan hampir diborgol karena ia masih dengan percaya diri bahwa ia dibawa karena review masakan yang telah dia masak.
" Santai, tak perlu dipaksa, aku akan jalan sendiri ke sana," ucapnya yang belum tau kenapa dirinya dipanggil.
Dengan langkah penuh percaya diri, ia melangkah menuju tempat keributan, di sana sudah banyak wartawan yang menunggu kehadirannya. Ia yang memang sudah biasa setiap kali ada tamu kehormatan datang selalu mendapat apresiasi tidak terkejut dan tidak menduga bahwa musibah sedang menimpanya.
"Apa anda sengaja membuat hidangan untuk perdana Mentri?"
Para wartawan langsung membuka dengan pertanyaan to the point dan sialnya dengan sangat senang Max mengakui sembari tersenyum.
"Tentu, saya membuatnya dengan sepenuh hati." Jawabnya penuh percaya diri.
" Katamu makanan merupakan senjata mematikan, apa anda sengaja membuat masakan itu sebagai senjata untuk perdana Mentri?"
Pertanyaan kedua dari wartawan tak lagi membuatnya tersenyum, mendadak senyumnya luntur saat teringat dengan jargonnya namun, ia masih belum menduga ada kejadian na'as karena masakannya.
" Benar, dan menjadi penyambung bagi hubungan mereka yang sedang renggang," sambungnya dengan sedikit agak gugup, karena mendadak perasaannya tidak enak dan beberapa polisi menghampirinya.
"Namun ada apa?" tanyanya ketika rasa penasarannya belum terjawab.
"Saudara Max, Anda kami tangkap atas dugaan pembunuhan berencana perdana mentri," ucap polisi yang langsung memborgol Max tanpa memberi waktu untuk Max menjelaskan. Kini wajahnya menjadi tranding topik sebagai pembunuh.
"Bukan saya, saya hanya memasak sesuai dengan permintaan," sangkalnya karena ia merasa tidak bersalah, seingatnya tidak ada catatan bahwa perdana mentri ada alergi udang.
"Anda berhak diam, sebelum pengacara anda datang," balas polisi yang merasa jengah dengan ucapan Max yang menyangkal dari tadi.
Max yang sudah siap untuk kencan berpenampilan cukup menarik, ia diborgol dengan paksa dan mau tidak mau harus mengikuti mereka. Ia tak lagi tersenyum penuh percaya diri, saat ini ia menunduk memikirkan bagaimana ia kabur dan lolos.
"Seperti katamu, besok wajah Max menjadi tranding topik," ucap beberapa koki yang sangat tidak menyukai Max sejak awal.
"Betul dan sesuai katamu makanannya akan masuk tranding topik besok," sambung pramusaji yang juga tidak menyukai dengan cara Max yang suka memerintah semena-mena.
"Itulah buah kesombongannya saat ini, makanya kalian jangan sombong jika tak berakhir seperti Max," sambung yang lain.
Max yang diborgol dan dipaksa untuk mengikuti polisi tidak bisa mengelak. saat ini, menjadi buah bibir semua orang, ia tak lagi menatap mereka dengan kesombongan yang biasa ia tampilkan. Karena kebanyakan dari mereka mencemooh dan mengkritik dengan sikap Max saat ini.
"Akhirnya aku tau bagaimana sikap kalian kepadaku, kalian begitu munafik, awas aja aku akan balas kalian semua suatu saat ini," ucapnya sembari melewati mereka dengan menunduk.
Max tiba-tiba membeku saat polisi memborgolnya, ia bahkan masih bingung dengan kejadian yang barusan menimpanya. Ia juga semakin kesal dengan teman-temannya yang berbahagia dengan nasibnya yang sekarang, ia berjanji akan membalas mereka suatu hari nanti.
Ia masih berjalan mengikuti langkah mereka, ia masih berpikir dengan keras langkah apa yang diambil selanjutnya, ia masih tidak terima dirinya dipermasalahkan karena seharusnya translatornya yang salah karena tidak memberinya catatan.
"Harusnya bukan aku yang ditangkap, ayo Max pikir bagaimana caranya kamu bebas dari belenggu ini," ucapnya dalam hati, ia berhenti sejenak saat sebuah tulisan tak sengaja ia lihat. Otaknya langsung terlintas sebuah ide ketika melihat bangunan yang biasa orang lain buang hajat.
"Permisi apa bisa saya ke kamar mandi, kebetulan perut saya sangat mules sejak tadi," ucapnya tiba-tiba sembari membuat agar wajahnya mengeluarkan keringat dingin agar dipercaya.
"Jangan dipercaya, dia hanya sedang akting," jawab polisi lain yang memborgolnya. Mereka tak menggubris dengan pernyataan Max barusan.
"Bruuuut!!
Tiba-tiba suara kentut terdengar cukup nyaring di telinga mereka, lalu sebuah bau yang sangat menggangu indra penciuman mereka.
"Kamu kentut ya," tanya polisi yang lain ke temannya sembari berbisik.
"Maaf, saya yang kentut, saya sudah tidak tahan lagi, apa kalian mau menciumnya lagi," tawar Max yang sembari sudah siap untuk mengeluarkan kentut kembali.
"Ah, abaikan saja, pakai ini biar tidak lagi mencium baunya," jawab polisi lain sembari memberikan masker ke temannya.
Max lalu berpikir dengan keras, ia mencoba mengeluarkan keringat sebesar biji jagung hingga wajahnya memucat.Aktingnya sangat bagus dan tidak terlihat sehingga bahkan petugas polisi tidak tahan untuk tidak mengiyakan.
"Maaf, saya sudah tahan lagi, aku mau pingsan jika tidak segera buang hajat," ucap Max yang masih mencoba mengelabui mereka.
" Ayolah! Bawa dia ke kamar mandi, daripada dia mati, lihat wajahnya saja sudah cukup pucat," sambung polisi yang lain sembari memperhatikan wajah Max yang memprihatinkan.
Petugas polisi gegas membawa Max ke kamar mandi dengan kedua tangan yang masih terborgol.
" Borgolnya terlalu kencang, tanganku sakit, apa boleh dilonggarkan," ucap Max sebelum masuk ke kamar mandi.
"Tidak, bagaimana kalau kabur?" tanya petugas yang merasa sedang ditipu oleh Max.
Max masih berpikir keras bagaimana polisi yang menjaganya bisa mengabulkan permintaannya.
"Bagaimana caranya cebok kalau tanganku terborgol seperti ini?" tanyanya dengan wajah masih pucat pasi.
" Apa kalian mau nyebokin saya?" tanyanya karena berulang kali polisi tersebut tak mengiyakan.
Mereka berdua saling melirik dan mengabulkan permintaan Max sembari membuka salah satu tangan Max yang masih terborgol.
" Cetek!"
Suara salah satu borgol dapat terlepas, Max langsung masuk sembari berpikir bagaimana caranya keluar dari sini, ia tak mau mendekam penjara tentang perbuatan yang tidak dilakukannya.
"Tunggu dulu, enak saja langsung masuk," tegur polisi yang melihat Max langsung masuk begitu saja.
"Lalu?" jawaban Max membuat polisi itu saling melirik satu sama lain terkait pertanyaan Max barusan, mereka bingung karena tak mungkin ia masuk menemani Max yang sedang buang hajat.
" Apa kalian hendak ikut aku masuk?" tanya Max lagi ia ingin memastikan karena satu petugas polisi sudah masuk lebih dulu ke kamar mandi.
" Apa kalian yakin? Saya mau buang air besar yang baunya tidak terkalahkan, yang jelasnya lebih baik dari bau kentutku," ucap Max yang kemudian tiba-tiba sengaja kentut dengan bau yang masih tercium meski sudah menggunakan masker.
" Hoek!"
"Hoek!"
Mereka, para polisi hampir muntah ketika tiba-tiba mencium bau kentut Max.
" Hoek-hoek!
" Cepat masuk, aku tak tahan dengan baunya."
Salah satu polisi bahkan mendorong ke Max agar masuk, ia sungguh tak tahan jika berada lama-lama di sini, bau kentut saja hampir membuatnya mati apalagi buang air besar.
"Akhirnya aku terbebas, tapi bagaimana caraku keluar dari sini?" tanyanya dan tak lama sebuah ide gila melintas di kepalanya. Ia kemudian menurunkan celana dan sepatunya, lalu membuka pakaiannya yang kebetulan masih ia pakai double sebelum polisi menangkapnya.
"Untung tadi aku double pakaianku, jadi lebih mudah mengelabui mereka," ucapnya sembari terkekeh dan memanjat dinding ketika dirinya melihat celah yang bisa muat untuknya masuk. Dengan meninggalkan sepatu dan celana di tolilet agar terlihat seperti masih buang air besar dari dalam. Setelah hampir satu jam, polisi yang sudah curiga mengetuk pintu kamar mandi dengan sangat keras.
"Lama sekali keluarnya, apa jangan-jangan dia kabur?" tanya satu polisi yang masih setia memakai masker.
"Coba kita pastikan dulu," sambungnya yang tak ingin mengganggu pengguna toilet lainnya.
" Tok! Tok!
Polisi tersebut masih mengetuk pelan karena ia yakin Max masih di dalam terlihat dari celana dan sepatunya terlihat dari bawah.
"Tok! tok! Tok!"
Kali ini suara ketukan itu sangat keras hingga pengguna toilet lain kaget.
"Saudara, cepat buka pintunya!" Titah salah satu petugas polisi setelah merasa cukup lama mengetuk dan tak ada respon. Suara polisi terdengar sangat tegas dan garang berbeda dengan nada bicaranya sebelumnya.
"Dobrak saja pintunya," ucap salah satu petugas dan melakukan bersama temannya.
"Dug! Dug!"
Beberapa kali mereka mendobrak pintu namun, susah sekali terbuka karena selain terkunci, pintu itu sengaja diberikan penghalang sehingga berat didobrak.
"Sialan, dia melarikan diri," umpat petugas karena merasa dikibuli oleh Max, ia gegas memberikan kode dan menghubungi temannya.
Polisi tersebut masih tidak putus asa, ia membuka satu persatu toilet barang kali ada Max di dalamnya, karena ia sangat yakin bahwa Max belum pergi terlalu jauh.
"Terdakwa melarikan diri," ucap salah satu petugas yang sembari membuka semua pintu kamar mandi seperti temannya sebelumnya dan berharap Max masih di sana dan hanya berpindah tempat.
"Tidak ada," ucap mereka berdua yang tidak tau bahwa Max sudah masuk plafon melalui celah di kamar mandi yang sudah sangat ia kenali.
Petugas polisi tersebut lari tunggang langgang mencari keberadaan Max, mereka bahkan mengumpat dan menyalahkan satu sama lain.
"Ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu terdakwa kabur," ucap petugas senior yang merasa telah tertipu oleh Max.
"Memangnya kalian tahan dengan bau kentutnya?" tanya petugas yang lain dan dijawab dengan gelengan kepala.
Mereka berdua berlari mengejar Max sembari menunggu bantuan datang.
"Aku yakin, dia tidak akan jauh dari sini," ucap petugas yang lain.
Semua petugas dikerahkan untuk mencari keberadaan Max, semua pintu bahkan ditutup dan dijaga ketat agar Max tidak bisa kabur dari sini. Mereka semua siaga dengan senjata yang sudah siap dengan pelurunya.
"Bagaimana apa ada sinyal keberadaan terdakwa," tanya petugas polisi yang telah dikibuli oleh Max sembari bersiap hendak menembak Max jika salah satu dari mereka menangkapnya, mereka merasa harga dirinya ternodai karena telah dibohongi manusia seperti Max.