Bab 1

Anak merupakan sebuah titipan rezeki yang dianugerahkan langsung oleh Tuhan kepada setiap pasangan. Akan tetapi, faktor kesehatan dan kesuburan juga termasuk pengaruh dari terciptanya seorang anak.

Di salah satu Rumah Sakit ternama di kota Jakarta, suasana di rumah sakit ini sangat tenang tidak ada keramaian. Hanya suara alat-alat rumah sakit yang menunjukan suara kerja mereka termasuk juga alat pemeriksaan kandungan yang sedang dinyalakan untuk memeriksa kandungan seseorang bernama Amayra.

"Dari hasil pemeriksaan yang telah kami lakukan, Nyonya Amayra tidak akan bisa mengandung dan kami menemukan sesuatu di rahim Nyonya, ada tumor yang sudah mulai menyebar di rahimnya. Kita harus melakukan operasi pengangkatan rahim."

Amayra menangis keras di pelukan suaminya, mencari dukungan dari Gray. Pria itu hanya terdiam, terlalu terkejut mendengar setiap ucapan dari Dokter Lisa—Dokter Kandungan di Rumah Sakit tersebut. Pupus sudah harapan pasangan pengantin ini untuk mendapatkan anak.

"Tindakan operasi harus cepat dilakukan." perkataan Dokter Lisa menambah kesedihan pasangan suami istri tersebut.

"Tidak mungkin, pasti ada cara lain lagi. Kau seorang Dokter 'kan, angkat penyakit ini. Aku harus memiliki bayi!" Amayra berteriak histeris. Sesak di dadanya terasa menyakitkan ketika mendengar pernyataan ini.

"Tenanglah Amayra." sang suami mencoba menenangkan istrinya.

"Kau tidak mengerti dan memahami perasaanku, Gray! Ini terlalu menyakitkan. Aku benci hidupku!"

Wanita pemilik rambut sebahu tersebut berdiri, kedua matanya yang berwarna coklat itu terus mengeluarkan air mata. Dengan langkah cepat dia meninggalkan ruangan Dokter dan tak lama kemudian Gray menyusulnya.

Amayra berlari di sepanjang koridor Rumah Sakit, melewati pintu keluar, taman, dan wanita itu terus berlari, berharap angin yang berhembus di tubuhnya menghilangkan sedikit kesedihannya.

"Amayra ….?!"

Tiba-tiba sebuah tarikan di lengannya yang cukup keras memaksanya berhenti, detik itu juga ia merasakan sebuah pelukan mendekap Amayra dengan erat. Terdengar isakan tangis wanita itu.

"Amayra, tenanglah sayang." bisik Gray di dekat telinga wanitanya.

"Aku selalu menjadi wanita yang payah, aku selalu payah. Aku tidak berguna. Aku tidak bisa membuatmu bahagia. Aku menghancurkan impian dan harapan kita. Bagaimana aku bisa menghadapi keluargamu, Gray!"

Air mata terus mengalir di kedua pipi Amayra, dia menunduk menyembunyikan wajah menyedihkannya di dada bidang Gray. Gray mengeratkan pelukannya sengaja membenamkan wajah rupawannya di lengkungan leher istrinya dan sesekali mengecupnya berharap Amayra lebih merasa tenang. Tidak ada wanita ataupun istri yang menginginkan ini terjadi, sudah empat tahun keduanya terikat dengan pernikahan suci dan selama itu pula mereka memiliki impian. Impian yang membuat keluarga Adelard kecil mereka menjadi lengkap. Namun sekarang hal itu hanya akan menjadi harapan kosong.

"Apa yang kau katakan sayang?" Gray merangkum kedua pipi wanita itu, saling menempelkan kening sehingga dapat dia merasakan nafas hangat Amayra di wajahnya, "Kau kebahagiaanku, Amayra. Aku mencintaimu."

"Tapi ...."

"Asalkan kau ada disisiku, itu sudah cukup. Kalau kita tidak memiliki bayi memangnya kenapa? Kita masih tetap bahagia, Amayra. Kau dan aku masih bisa bahagia!"

Amayra memeluk Gray dengan erat, obat terbaik untuk sakit yang dia rasakan adalah cinta dari orang terdekat. Hidupnya sudah lebih dari cukup, dicintai oleh pria yang dia cintai, setidaknya itu yang dia pikirkan saat ini.

***

Rumah keluarga Adelard berdiri kokoh dan megah. Ukiran khas Italia sebagian menghiasi bagian-bagian rumah ini dan taman yang mengelilingi rumah itu tampak indah dengan beraneka bunga yang mulai bermekaran. 

Sebuah mobil berwarna silver masuk melewati gerbang besi yang menjulang tinggi setelah seorang Security membukakan pintu tersebut. Itu mobil milik Gray—Grayson Adelard. Gray keluar lebih dahulu membukakan pintu untuk Amayra—Amayra Lenora Adelard. Tak lama kemudian seorang anak kecil berlari ke arahnya, menghambur memeluk Amayra dengan sangat erat.

"Tante, mana es krim favoritku?! Tante akan membelikanku es krim 'kan!" kedua pipi anak perempuan itu menggembung, sangat lucu. Amayra terkekeh saat melihatnya. Dicubitnya salah satu pipinya yang tembem.

"Baiklah sayang, Nana mau es krim rasa apa?"

"Hmm Apa ya, mau ...."

"Hey ... bocah, berhenti menjadi anak manja. Sekarang biarkan kami masuk dulu!" ucap Gray sambil menyentil hidung Nana, Nana memasang muka cemberutnya memeluk Amayra posesif.

"Mau es krim! Tante Ama ayo belikan es krim, jangan ajak Om!" rengek Nana yang terus bergelayut manja pada Amayra. Wanita itu hanya terkekeh kala Gray yang tidak mau mengalah malah menarik istrinya menjauh dari keponakannya.

"Eh, kalian sudah datang, Nana jangan nakal ...!" sebuah suara menginterupsi ketiganya, yang disapa langsung menatap ke asal suara. Amayra tersenyum, dipeluknya sahabat sekaligus kakak iparnya itu.

Daniela Kelly Adelard, wanita yang sudah menikah dengan Ray yang notabenenya adalah kakak Gray. Sudah menikah selama 9 tahun dan kini keduanya telah dikarunia seorang anak perempuan berusia 8 tahun, Nana Della Adelard yang sangat manja kepada Amayra.

"Tidak apa-apa Daniela namanya juga anak-anak."

"Jangan memanjakannya Amayra, dia itu nakal!" ujar Daniela sambil melihat anak satu-satunya itu sedang bersenda gurau atau lebih tepatnya di 'bully'' Gray dengan mencubiti pipinya yang chubby.

"Jangan begitu pada putriku sayang, kau mau ku hukum?!"

Sebuah suara menginterupsi kedua Ibu Rumah Tangga yang sedang asyik bergosip, keduanya menoleh dan melihat Ray—Raymond Adelard—yang berjalan mendekati mereka. Daniela langsung menghadiahi Ray dengan cubitan kecil di perutnya.

"Kak Ray, bergosip adalah kebiasaan kaum wanita yang menyenangkan jadi kau jangan iri!" canda Amayra kepada kakak suaminya itu.

"Mana mungkin iri! Hey, Adikku yang bodoh berhenti menganiaya anakku!" seru Ray saat melihat anak kesayangannya diganggu sang adik. Gray menyeringai menatapnya.

"Kakak yang cerewet dan bodoh, aku suka melihat wajah seriusmu itu menunjukkan dirimu kalau kau benar-benar tidak bodoh …." Gray pun menggendong Nana dan masuk kedalam mobil miliknya, "Tapi kali ini Nana harus bersamaku!"

"Gray, mau kau bawa kemana anakku yang imut itu! Awas saja kalau kau mengajarkan yang aneh-aneh!"

"Tenanglah Ray, Gray hanya ingin mengajak jalan-jalan saja. Kau terlalu berlebihan." Daniela memutar matanya malas dengan sikap suaminya yang terlalu posesif terlebih lagi kepada putri semata wayang mereka. Amayra tertawa melihat kekonyolan di depannya.

"Bodoh, kenapa dia tidak membuat anak sendiri saja. Ini sangat menjengkelkan!" tanpa disadarinya ucapan Ray itu sukses membuat Amayra terdiam hingga Daniela langsung menepuk bahu Ray.

"Maaf Amayra, aku ...."

"Tidak apa-apa Kak ...." Amayra tersenyum, dadanya kembali merasakan perih.

*

Nama cafe itu Cafe Snow, terletak dipinggir laut. Tempat yang cukup strategis karena dekat jalan raya dan gedung-gedung perkantoran. Penikmat es krim juga akan disuguhkan panorama pantai yang indah. Desir angin dari lautan membuat daun-daun pohon nyiur melambai di sepanjang pantai. 

"Nana mau es krim rasa apa?" tanya Gray, kedua tangannya memegang setir kemudi mobilnya dan menatap jalan yang dilaluinya. Sesekali dilihatnya anak perempuan yang sedang memainkan boneka barbienya.

"Es krim rasa strawberry!"

Gray mengangguk mendengar permintaan keponakannya itu. Dia menjalankan mobilnya menuju sebuah cafe. Mobil itu terparkir manis di tempat parkir yang disediakan.

Ting

Saat membuka pintu cafe otomatis akan terdengar lonceng berbunyi dan sapaan dari orang berkostum es krim yang merupakan maskot cafe tersebut. Bahkan beberapa orang yang mengunjungi cafe itu menatap Gray dengan tatapan kagum dan teriakan memuja.

Gray hanya tersenyum.

Grayson Adelard, pria berusia 26 tahun, bermata tajam, memiliki rambut berwarna hitam dan proporsional. Wajahnya yang tampan dan karir yang cemerlang membuat fotonya selalu menghiasi sosial media setiap harinya. Gray adalah pemilik restoran terbesar di Jakarta, kepopuleran restorannya bukan hanya di dalam negeri bahkan juga di luar negeri. Tapi untuk sekarang dia hanyalah seorang Om biasa.

"Selamat datang! Jiwamu akan merasakan kesejukan karena rasa es krimku! Selamat menikmati!" seru perempuan berkostum badut maskot dengan ceria dan semangat.

Melihat maskot itu Nana berteriak senang, dia bahkan memeluknya dengan erat. Sang maskot kehilangan keseimbangan, dia mulai terhuyung namun pergerakannya terhenti karena Gray menahannya yang hampir jatuh. Di bagian kepala kostum es krim tersebut ada lubang kecil, wajah Gray yang tampan terlihat dari lubang itu.

"Hampir saja kau membuat maskotnya jatuh, Nana!" Gray menghela nafas lalu membantu si maskot berdiri tegak, hampir saja keponakannya membuat kekacauan di cafe tersebut.

"Terima kasih."

"Maafkan keponakanku, dia terlalu bersemangat." Gray melirik keponakannya, "Nana, ayo minta maaf!"

Nana cemberut dan menundukkan kepala, "Maafkan aku."

Maskot berkostum es krim itu memberikan stiker bergambar es krim pada Nana.

"Aku baik-baik saja. Apa kau mau makan es krim?" Maskot itu berbicara ramah pada anak kecil didepannya. Si gadis kecil tersenyum senang.

Bab 2

Hari telah mulai senja, Snowball terlihat lelah. Shift kerjanya juga sudah habis, saatnya dia pulang. Snowball pergi ke ruang ganti, dia melepas kostum badutnya. Keringat membanjiri sekujur tubuh dan rambut panjangnya berantakan. Setelah merapikan dirinya dia bersiap untuk pulang.

"Kau mau langsung pulang, Mia?" seorang pria menyapa gadis yang sedang berjalan cepat menuju pintu keluar.

"Ah, aku harus menjaga adikku!"

"Kerja yang bagus, Snowball! Es krim buatanmu yang paling disukai di Cafe!""

"Hey, kau itu memuji atau mengejek?!"

"Snowball itu nama yang lucu 'kan, mulai sekarang aku akan memanggilmu nama itu."

"Kau sangat menyebalkan!"

"Okey, tolong berikan ini pada adikmu!" pria yang merupakan pemilik Cafe Snow itu memberikan sekotak kue ukuran sedang.

Dengan wajah masam Mia menerima kue pemberian Adrian, "Terima kasih, Aku pergi dulu, Adrian!"

Panggilan "Snowball" terdengar manis, Mia mengingat kejadian siang tadi yang tanpa persetujuannya salah satu pengunjung cafe memberikan nama itu padanya dan berfoto bersama. Mia tahu itu hanya untuk menyenangkan hati anak kecil yang datang bersamanya.

Mia tersenyum lembut dan senyuman itu menghangatkan hati Adrian yang sejak tadi menatapnya. Mia sudah bekerja di Cafe Snow selama dua tahun. Hubungan mereka murni kerjasama antara bos dan karyawan, tapi Mia tidak tahu sejak lama Adrian sudah menyukainya.

Mia Malva Elard seorang gadis berusia 24 tahun, berparas manis dengan rambut panjangnya yang terurai. Di tangannya memegang erat kotak berisi kue dari teman kerja sekaligus Bosnya. Dia berlari kecil di trotoar jalan, tempatnya kerja tidak terlalu jauh dari tempat tujuan.

Salah satu Rumah Sakit ternama di Jakarta itu berdiri kokoh di hadapannya. Seseorang yang disayanginya ada di dalam tempat itu. Mia tersenyum saat memasuki ruangan serba putih tersebut. Mia melihat seorang gadis remaja terbaring ditempat tidur, gadis itu tersenyum ceria saat menyadari seseorang memasuki ruangannya.

Fialova Anthea Elard, gadis remaja berusia 16 tahun, meski terlihat pucat tapi tidak menyembunyikan wajahnya yang cantik. Fia terlihat senang melihat kakaknya datang.

"Fia …."

"Kak Mia, kau sudah datang?!"

Meski wajah Fia terlihat pucat, tapi gadis kecil itu selalu tersenyum ceria. Fia langsung memakan kue yang diberikan Mia dengan lahap. Mia mengelus puncak kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.

"Makasih Kak, kuenya sangat enak!"

"Kuenya memang enak tapi kau harus pelan-pelan saat memakannya nanti tersedak." Fia menuruti nasehat kakaknya.

"Setelah makan langsung tidur ya, jangan main game terus." Mia mengambil ponsel Fia yang diletakkan di atas meja, lalu menyimpannya ke dalam laci.

"Matahari baru tenggelam, Kakak sudah menyuruhku tidur. Menyebalkan!"

"Jangan membantah, aku ingat bagaimana kau terjaga semalaman karena bermain game saat aku sedang lembur bekerja! Jadi mulai sekarang Fia harus tidur cepat!"

Fia cemberut dengan terpaksa dia mengangguk patuh, "Kak, maukah kau menyanyikan lagu sebelum tidur yang biasa dinyanyikan Mama?"

Mia mengangguk, "Baiklah, pejamkan matamu dan dengarkan nyanyianku."

Fia memejamkan kedua matanya, suara merdu Mia mulai terdengar. Lagu ciptaan Ibu mereka yang dulu sering dinyanyikan ketika mereka hendak tidur. Mia menyanyikan lagu itu penuh dengan perasaan.

Seperti dugaan Mia--Fia memang sudah mengantuk, dia hanya sengaja terjaga untuk menunggu kakaknya atau mungkin karena efek obat dia langsung tertidur.

Mia duduk disebelah adiknya. Air mata mengalir di kedua pipi Mia, dia menangis tanpa suara.

Memori empat tahun yang lalu terlintas dalam pikirannya, itu adalah hari pertama kesedihan yang pahit mulai menghampiri dirinya.

Empat tahun yang lalu hidup bagaikan sebuah dongeng. Di sebuah rumah besar dan megah—Keluarga Elard, Mia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya ; ada Ayah, Ibu, dan Fia. Saat Ayah dan Ibunya bekerja, Mia bertugas menjaga adiknya yang saat itu masih berusia 12 tahun dan mengurus rumah. Mia sudah terbiasa mandiri, dia melakukan dengan hati senang meskipun ada beberapa pelayan yang akan siap membantunya.

Tepat di hari ulang tahunnya yang ke 20 tahun, Mia mendapatkan kado terburuk dalam hidupnya, gadis itu mendapat berita tentang kecelakaan maut kedua orangtuanya. Saat perjalanan pulang dari Bandara, mobil yang ditumpangi kedua orangtuanya mengalami kecelakaan karena saat itu hujan sangat deras dan hampir disaat yang bersamaan Fia jatuh sakit. Dokter Penyakit Dalam yang memeriksanya mengabarkan kabar buruk yang membuat Mia tertunduk lemas. Di usia Fia yang masih 12 tahun, dia harus merasakan sakit seberat itu. Sirosis hati, penyakit yang mulai menggerogoti tubuh dan semangat hidup Fia.

Kesedihan tidak berhenti disitu, setelah kepergian kedua orang tuanya dan diagnosa penyakit adiknya, Mia menerima kenyataan pahit karena dikhianati oleh Paman dan Sepupunya sendiri. Harta yang seharusnya diwariskan kepada Mia dan Fia kini dikuasai oleh mereka. Mereka memaksa Mia dan Fia meninggalkan Rumah Keluarga Elard. Keluarga yang seharusnya mengayomi melepas tanggung jawabnya untuk mengurus dua anak yatim piatu itu, Mia dan Fia.

Sejak hari penuh kesedihan itu Mia dan adiknya tinggal di rumah kost. Namun semakin hari berlalu penyakit Fia semakin parah, gadis kecil itu membutuhkan pengobatan dan tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Setiap hari Mia bekerja, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari matahari terbit hingga matahari terbit lagi. Selama empat tahun ini Mia berjuang sangat keras, setiap dia melihat Fia tersenyum rasa lelah yang dirasakannya akan menghilang dan dia akan kembali bersemangat.

'Fia … Kakak akan berjuang lebih keras lagi. Kakak berjanji!' 

Itu adalah janji Mia, demi melihat masa depan bersama adiknya.

Suara pintu yang dibuka membuat Mia tersentak, seorang wanita berpakaian perawat memasuki kamar tersebut. Mia mengenalnya.

"Suster Sarah, terima kasih untuk hari ini sudah menjaga Fia."

"Sudah menjadi tugasku."

Suster tersebut melakukan pemeriksaan pada Fia, obat melalui suntik masuk dalam tubuhnya dan pemeriksaan tekanan darah. Kondisi Fia terlihat sudah stabil berbeda dengan satu minggu yang lalu saat Mia membawanya ke Rumah Sakit.

"Kau tahu 'kan memberi makanan pasien dari luar Rumah Sakit itu dilarang, tapi kenapa kau melanggar peraturan itu?" Suster Sarah melirik sisa kue di meja yang tadi dimakan Fia.

"Maaf, tapi Fia sangat menyukainya jadi aku pikir tidak masalah."

"Peraturan ada untuk dipatuhi, ini yang terakhir kalinya."

Mia mengangguk.

Suster Sarah memberikan selembaran kertas pada Mia. Lembaran bertuliskan tentang audisi memasak yang diadakan oleh salah satu channel tv.

"Kau harus mencoba mengikuti audisi itu. Tidak baik memendam keinginanmu. Jadilah seorang Chef, raihlah mimpimu."

Tapi Mia sudah tidak menginginkan itu. Mimpinya sudah bukan hal penting lagi ketika rasa sedih yang dirasakan lebih besar. Mia hanya akan fokus mengurus adiknya, Fia adalah keluarga satu-satunya yang paling berharga.

Setelah dirasa cukup membuat Fia tertidur, Mia berpamitan pada Suster Sarah dan pergi dari Rumah Sakit, mempercayakan adiknya pada Suster baik hati. Karena, tempat tujuan Mia sekarang adalah kerja part timenya yang lain.

Sarah Wijaya adalah seorang wanita paruh baya yang masih lajang, dia mendedikasikan sepenuhnya menjadi perawat.

Bab 3

Makan malam yang seharusnya dipenuhi canda tawa terlihat suram, suasana tegang terasa di meja makan Kediaman Adelard. Meski ada anak perempuan yang berceloteh tidak bisa mencairkan suasana tegang disana.

"Aku dengar siang ini kalian ke Rumah Sakit? Apa ada kabar baik?" Ibu dari Raymond dan Grayson ; Gretta Adelard menatap intens menantunya, Amayra.

Amayra gugup tidak tahu harus menjawab apa, saat itu punggung tangannya terasa hangat, Gray meremas telapak tangannya dengan erat. Berusaha menenangkan istrinya.

Gray menjawab pertanyaan Ibunya, "Hanya pemeriksaan rutin, Ma. Dokter mengatakan kepada kami kalau kami masih harus berusaha. Benar 'kan Amayra?"

Amayra mengangguk dengan cepat.

Gretta menghela nafas terlihat tidak puas dengan jawaban Gray, "Aku harus menunggu berapa lama lagi, sudah 4 tahun kalian menikah tapi kau tidak memberi apapun pada Keluarga Adelard, Amayra. Kapan kau akan memberi kami pewaris?!"

Amayra tidak bisa bertahan lama menyembunyikan emosinya, air mata luruh dari mata tanpa disadarinya.

"Apa yang Mama katakan? Mama sudah memiliki cucu yang imut seperti Nana 'kan? Dia bisa membantu menyiram taman bunga milik Mama!" Ray berusaha melunakkan suasana yang penuh ketegangan, dia mencubit pipi putrinya. Putri kecilnya itu tampak sibuk mengunyah makanan yang disuapkan oleh Ibunya—Daniela.

"Tapi anak perempuan tidak bisa membantu Kakek dan Ayahnya, Ray. Keluarga kita membutuhkan pewaris—seorang anak laki-laki dan ini seharusnya menjadi kewajiban Amayra Lenora Adelard setelah dia tahu istri dari kakak iparnya sudah tidak memungkinkan untuk mengandung lagi."

"Sudah cukup Mam!"

Gray memutus ucapan Ibunya itu dengan keras, karena setiap ucapan yang keluar sangat menyakitkan.

"Pah, katakan sesuatu?!" Gray mengalihkan pandangannya ke arah Ayahnya yang sejak tadi hanya diam. Gray berharap William Adelard, sang Ayah akan mendukungnya dan Amayra.

"Papamu tidak akan mengatakan apapun mulai dari sekarang, karena dia sudah banyak bicara selama 4 tahun ini. Apa kau ingat, demi kebahagiaanmu dan Amayra dia membatalkan perjodohan dengan gadis pilihan yang sudah disepakati. Sekarang saat kami berharap banyak Amayra tidak bisa memberikan pewaris untuk Keluarga Adelard. Aku tidak bisa bersabar lagi!"

"Mam … Itu sudah berlalu, kau sudah mulai menyukai wanita pilihanku tapi kenapa sekarang kau bersikap egois?"

"Saat kau menolak dijodohkan dan memilih Amayra, apa kau juga tidak bersikap egois? Tapi pada akhirnya kalian menikah, kalau anakku bahagia aku juga akan bahagia. Aku hanya menuntutnya memberikan seorang anak untukmu, Gray!"

Tubuh Amayra gemetar, rasa sakit dan malu secara bersamaan dirasakannya. Amayra ingin lari dari tempat itu.

"Suatu saat nanti ketika rambutku mulai memutih aku mungkin akan merasa kesepian tanpa seorang anak. Tapi aku sangat yakin hanya dengan Amayra hidupku akan bahagia. Tidak apa-apa, meski hanya kami berdua melewati hari tua bersama." Gray tersenyum menatap istrinya, namun ucapannya hanya ditujukan untuk meyakinkan Ibunya.

Amayra menatap Gray dengan tatapan haru, dia sangat beruntung karena memiliki Gray di sisinya. Dia wanita yang paling beruntung di dunia ini 'kan?

"Begitu? Jadi ini keputusanmu. Aku mempunyai syarat untuk keputusanmu itu." Gretta menatap putra keduanya, di wajahnya terlihat ada kekecewaan karena penolakan Gray.

Semua orang yang ada di meja makan tampak serius menunggu ucapan sang Nyonya Besar.

"Aku akan memberi kalian waktu satu tahun lagi untuk memberi Keluarga Adelard pewaris. Jika dalam satu tahun itu kalian tidak bisa memenuhinya. Kalian harus berpisah! Itu syaratnya agar kau bisa melewati hari tua bersamanya, Gray!"

Malam itu serangan tak kasat mata sudah menghancurkan hati Amayra. Dia pergi dari tempat itu, dadanya terasa sesak, mengabaikan teriakan Gray yang memanggilnya. Amayra menangis keras bersamaan dengan air hujan yang mulai membasahi sekujur tubuhnya.

*

Di langit yang tampak gelap, kilat dan petir bersahutan. Hujan semakin deras. Di Kediaman Adelard, Gray berdiri di ruang tamu terus mencoba menghubungi seseorang dengan ponselnya. Saat Amayra meninggalkan meja makan sambil menangis, Gray menyesal tidak mengejarnya tadinya dia ingin memberikan waktu pada istrinya untuk menenangkan diri tapi Amayra tidak kunjung kembali ke rumah dan hari bertepatan hujan deras semakin membuat pria itu cemas.

"Dia tidak mengangkatnya! Amayra dimana kau!?"

"Tenanglah Gray, mungkin dia sudah pulang ke rumah kalian." Daniela mencoba menenangkan adik iparnya, dia juga mencemaskan Amayra karena Amayra adalah sahabatnya.

"Amayra pasti sudah pulang dan tidur dengan nyenyaknya. Sangat tidak sopan, seharusnya dia berpamitan kepada kita." Gretta menghela nafas.

Setiap pasang mata langsung menatap Gretta dengan berbagai macam reaksi. Gray tidak pernah mengira Ibunya sendiri bisa mengatakan perkataan setajam seperti itu tentang istrinya. Dia meninggalkan rumah tanpa mengucapkan apapun.

"Kalian lihat sendiri, putra kesayanganku yang dulu sangat manja kini sudah tidak menyayangiku. Dia sudah dipengaruhi Amayra!" Setelah mengucapkan kalimat itu Gretta pergi dari hadapan suami, anak dan menantunya.

William, sang kepala Rumah Tangga hanya bisa menghela nafas melihat perilaku istrinya. Sejak dulu Gretta memang tidak menyukai Amayra, perempuan itu berasal dari kalangan bawah yang tidak jelas asal usulnya karena Amayra berasal dari Panti Asuhan.

*

Di bawah rinai hujan deras, mobil Gray melaju dengan kecepatan sedang, kedua matanya fokus melihat sekitar mencari sosok sang istri. Dia takut terjadi hal buruk pada Amayra.

"Amayra, dimana kau?!"

Sementara itu seorang gadis berlari menyusuri jalan yang tampak lengang. Sepulang dari Rumah Sakit, Mia bermaksud pergi ke tempat kerjanya yang lain. Cuaca buruk menghambat perjalanannya ke tempat kerja. Dia mengabaikan dirinya yang basah kuyup.

Hujan semakin deras, pandangan mata pun juga mulai terbatas. Saat gadis itu menyeberangi jalan bertepatan sebuah mobil melaju kearahnya dan kecelakaan tidak terhindar lagi. Meski hanya kecelakaan kecil namun cukup mengejutkan Gray. Pria itu keluar dari mobil, dia melihat gadis yang ditabraknya berlutut sambil memegang kakinya.

"Maafkan saya. Apa kamu terluka?!"

Mia meringis kesakitan, dia memijat kakinya perlahan, “Aakh, sakit sekali!”

"Kakimu terkilir, masuk ke mobil saya akan memberimu obat!"

"Tidak perlu, saya harus ke tempat kerja, saya sudah sangat terlambat!"

"Jangan keras kepala! Cepatlah, saya juga terburu-buru sekarang!"

Dengan susah payah Mia berdiri, Gray membukakan pintu mobil untuknya. Mia merasa tidak enak hati karena akan membuat tempat duduk mobil itu basah.

"Tapi saya akan mengotori mobilmu kalau saya masuk ke dalam."

"Jangan membuang waktu lagi, atau kamu ingin saya mendorongmu untuk masuk ke mobil?!"

"Baik, saya masuk!" Mia yang ketakutan langsung masuk ke dalam mobil, setelah itu Gray ikut masuk dari pintu yang lain.

Gray mengambil kotak obat yang sudah tersedia disana. Saat pandangan mata saling bertemu, untuk sesaat Mia melupakan rasa sakit pada kakinya. Mia mengenal paras pria disampingnya karena derasnya hujan tadi di luar membuat hampir tidak bisa mengenali wajah orang didepannya.

Seperti Mia, Gray juga merasakan itu.

Gray mengenal gadis di depannya, gadis pilihan keluarganya, gadis kesayangan Ibunya. Meskipun Gray menyayangi keluarganya tapi cintanya pada Amayra tidak bisa diabaikan. Bukan karena kecantikan dan hartanya. Mia memang berasal dari bibit, bebet, bobot yang baik dan dia juga gadis yang cantik. Gray, pria normal yang tertarik dengan keindahan itu tapi hanya saja hati sudah ditempati oleh Amayra.

Pria itu juga tidak pernah menyalahkan kehadiran Mia. Bisa dikatakan, Gray sangat menghargainya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED