Bab 1

BARANGKALI ini adalah mimpi di siang bolong yang mengentak kesadaran Jade bagai pukulan godam yang kuat.

Pemuda itu berdiri di depan sebuah rumah empat lantai bergaya klasik Eropa abad pertengahan, yang menjulang muram bagai bangunan angker berbentuk persegi dan dibingkai langit kuning bebercak ungu. Tempat ini meneriakkan kesan warisan kuno yang dibiarkan sekarat dan rusak. Tidak benar-benar rusak, sebenarnya. Hanya saja catnya yang berwarna abu-abu sudah memudar dan hampir mengelupas, sebagian bingkai jendela berkisi enam yang berjajar di sepanjang muka teras agak gompal dan kacanya pudar, sementara tanaman ivy bersulur tebal merambati jeruji pagarnya yang berkarat. Sampah peradaban berupa daun kering dan bangkai serangga berserakan, tenggelam di antara rerumputan yang tak dipangkas, mengotori undakan teras yang berselimut debu dan retak-retak.

Pengamatan lebih lanjut membawa Jade ke kesimpulan bahwa rumah ini pastilah tidak diwariskan untuknya, atau kemungkinan paling kecil; dia salah alamat.

Tidak, ini alamat yang benar. Pemuda itu merogoh kembali lipatan kertas di saku jaketnya dan menghamparkannya di depan muka; Marona Lange, 45 Ruswer

Atensinya merangkak naik pada palang bertuliskan nomor 45 yang tergantung miring di dekat pintu ganda bercat hitam. Ini rumah yang diwariskan Kakek padamu, Jade. Kau tidak salah alamat!

Memikirkannya akan membuat kepalanya lebih pening lagi. Jade tak ingin perjuangannya sampai ke sini menjadi sia-sia hanya karena salah alamat, sebab perjalanan menuju kemari tidaklah mudah. Dia harus naik kereta selama 12 jam dari Palmer hanya untuk mendapat serangan pegal parah. Tulang punggungnya seperti retak dan kepalanya pening setengah mati. Pemuda itu butuh kasur untuk tidur seharian.

Berusaha menahan lelah, Jade mendorong pagar tua di hadapannya yang tidak terkunci. Bunyi nyaring gesekan besi yang sudah lama tak dibuka menusuk telinga, tetapi dia memilih abai selagi bersusah payah menyeret kopornya menyusuri halaman tak terawat yang basah karena sisa-sisa hujan. Pemuda itu naik ke teras dan sedang berusaha memasukkan kunci ke lubang pintu ketika tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.

"Jade, ini aku, Dave. Kau sudah sampai?"

Jade menjepit ponselnya di antara pundak dan telinga seraya mendorong pintunya terbuka, lalu sedikit menendang kopernya agar masuk ke lorong utama. Bau pekat debu menyambutnya, membuatnya mengernyitkan hidung.

"Baru saja tiba. Mau tahu pendapatku? Rumah ini seperti lokasi film horor."

"Yah, setidaknya sekarang kau kaya raya, Nak. Kau suka suasananya?"

Jade menaruh koper di balik pintu, lalu melempar tas ranselnya di sofa terdekat, yang ketika dicermati baik-baik, rupanya memiliki kesan klasik yang mahal. Penutup sofanya terbuat dari beludru yang dipadukan dengan rangka kayu mahoni bercat emas. Pemuda itu meraba teksturnya; terasa kokoh dan lembut, walau sedikit berdebu.

Jade mengernyit. Penemuan ini secara praktis membuatnya tengadah untuk memeriksa seluruh penjuru ruangan yang hanya diterangi sinar dari jendela-jendela tanpa kerai. Segala hal yang menyambutnya adalah definisi mutlak dari kemewahan keturunan ningrat. Lantai kayu yang dipijaknya keras dan berbunyi ketukan mantap, sementara semua perabot yang diletakkan di sini terbuat dari kayu mahoni gelap dengan ukiran rumit; satu set meja tamu dan karpet berpola cerah, serta deretan rak berat yang berjajar bersama beberapa lukisan. Ambang lorong dan pilar penopangnya dibuat melengkung dan memiliki puncak tajam, mirip katedral-katedral di era Victoria, sementara tangga kembarnya melingkari di kedua sisi ruangan, menuju lantai berikutnya yang misterius dan suram.

Sekali lagi, keterkejutannya pecah.

"Tidak terlalu, Dave," balas Jade, dengan suara yang dibuat tenang. Pemandangan ini nyaris membuatnya kena serangan jantung di tempat. "Suasananya terlalu suram untuk ditinggali seorang diri. Aku ragu bakalan ada koloni hantu yang muncul dari loteng. Tapi mari fokus ke berita baiknya; siapa yang menyangka kakekku ternyata kaya raya?"

"Baru saat ini kau percaya apa kataku? Kau selalu bilang kakekmu adalah pensiunan yang hidupnya membosankan." Terdengar Dave terkekeh di ujung sambungan. "Saat aku pertama kali datang kepadamu, kau menyangka akan mendapat warisan rumah yang lebih kecil dan sempit dari unit apartemenmu."

"Yah, kurasa keraguanku wajar. Aku tak pernah ketemu dia seumur hidupku. Ibuku melarangku untuk bertemu dengannya, bahkan sekadar membagi alamat tempat tinggalnya saja ibuku pelit. Kau kan notarisnya, kukira kau sudah tahu tentang hubungan rumit kakekku dengan semua anak perempuannya. Selama ini yang terekam di kepalaku adalah pendapat kebencian ibuku mengenai pria tua itu."

"Oh, jangan panggil pria tua, dong. Dia sudah berbaik hati memberikan rumah itu padamu."

"Karena tidak ada ahli waris lagi selain aku," kata Jade, menyugar rambut cokelatnya ke belakang. Atensinya tengadah memperhatikan lampu gantung kristal di langit-langit ruang tengah yang tinggi. "Selama pria itu masih hidup, dia tak berusaha mencari aku. Itu sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa kakekku orang payah."

"Yah, sudahlah, aku tak bisa memahami kebencianmu. Tugasku hanya mengantar surat-surat penting dan wasiat kakekmu kepadamu," kata Dave.

Jade melangkah menyusuri ruang tamu, melihat-lihat lorongnya yang dipenuhi kabinet berdebu dengan barang-barang antik di dalamnya―artefak dari budaya lain, seperti cermin kayu, patung-patung kecil, kendil keramik, dan perhiasan-perhiasan etnis yang ditaruh dalam wadah bening. Berdasarkan penjelasan Dave, kakeknya dulu adalah seorang pengoleksi barang antik. Benda-benda seperti ini wajar ditemukan, meskipun kegunaannya masih perlu dipertanyakan. Jade sendiri tak begitu suka menghiasi rumah dengan ornamen yang berlebihan begini. Dia berpikir akan menjualnya nanti-nanti.

"Jadi, ada berapa kamar di rumah ini?" Jade bertanya, sementara dia membuka satu per satu pintu yang tersebar di sepanjang lorong lantai pertama.

"Satu kamar utama dan lima kamar biasa. Kamar utama adalah kamar bekas kakekmu. Uh, beliau menuliskan dalam riwayatnya kalau kau mungkin bisa menggunakan kamar yang lainnya, karena kamar utama tidak boleh...."

"Di mana kamar utamanya?"

"Hah?" Suara Dave terdengar terkejut.

"Kamar utama. Tentu saja aku mau menempati kamar utama," kata Jade, mantap. Dia membuka pintu terakhir di bawah tangga dan menemukan sebuah kamar yang cukup bagus, namun tidak begitu luas. Dindingnya dilapisi kertas bernuansa marun yang berbau sedikit apak. Dilihat dari perabotannya, sepertinya ini kamar perempuan. Mungkin milik mendiang ibunya atau salah satu dari saudara-saudaranya.

"Kakekmu melarangmu menggunakan kamar utama."

"Kenapa aku harus menuruti perintah orang yang sudah mati?"

"Itu wasiat, anak muda."

"Aku adalah pewarisnya. Sekarang semua yang ada di rumah ini berhak menjadi milikku."

Dave terdiam sejenak, dan Jade mendesak lagi, "Memangnya dia memberitahumu alasannya?"

"Sejujurnya ... tidak. Dia hanya bilang di suratnya kalau kamar utama lebih baik dibiarkan kosong."

"Bertambah lagi satu alasan mengapa aku pantas menyebutnya payah. Para manula tak pernah serius untuk menjelaskan sesuatu."

Dave terdiam lagi, dan Jade menebak pria itu pasti sedang menggulirkan mata. Namun toh Jade tidak peduli bila orang lain menganggap dirinya kurang ajar, sebab dia tahu orang lain tak memahami hidupnya yang selama ini serba kacau. Bahkan mendiang ibu dan kakeknya, yang selama puluhan tahun rupanya menyimpan harta sebanyak ini tanpa sepengetahuannya. Bagaimana bisa dia berpikir tenang? Selama ini Jade merasa ditipu.

"Ya sudah, terserah kau. Kamar utama ada di lantai tiga, pintu sebelah kiri dari tangga menuju loteng."

"Baiklah, aku ke sana." Langkah Jade berderap di sepanjang tangga yang melingkar.

"Omong-omong, aku akan secepatnya bertemu lagi denganmu. Kita janjian lewat virtual meeting, oke? Mungkin lusa atau hari setelahnya?"

"Tentu. Thanks, Dave." Kemudian Jade mendengar salam terakhir dari Dave sebelum ponsel itu benar-benar ditutup.

Seusai percakapannya dengan Dave, Jade melewati dua bordes tangga sekaligus dan sampai ke lantai tujuan. Dia menarik napas sejenak dan menyiapkan diri melangkah ke lorongnya yang lebih gelap dan suram. Hanya ada tiga pintu yang dua di antaranya merupakan ruang kosong. Satu pintu lain berada di ujung, dekat dengan ambang lengkung kecil ke arah loteng. Jade memantapkan langkah menuju kamar utama, lalu membukanya. Dia menyalakan saklar lampu yang terpasang di dekat pintu.

Ruangan yang menyambutnya, sesuai dugaannya, adalah ruangan paling besar dan luas. Kamar tidurnya terletak di tengah-tengah, diapit dua nakas kayu berpelitur rumit yang kakinya pendek dan melengkung. Karpetnya bundar berwarna emas, melapisi lantai kayu yang terlihat lebih mengilat daripada di luar tadi. Kemudian perabotan lainnya; lemari pakaian, lemari laci, dan meja rias cantik, mengelilingi dinding bercat kelabu. Jade bersiul senang, menghampiri kasur, lalu melemparkan diri ke atasnya.

"Ini kamar yang sempurna. Untuk apa melarangku menempatinya?" gumam Jade, sementara dia merentangkan tangannya di sepanjang kasur, mengusap seprainya yang lembut seperti bocah yang memeragakan kepakan sayap di pelataran salju.

Dia memejamkan mata sebentar dan menemukan fakta bahwa dirinya tak akan bisa tidur sebelum barang-barangnya dibawa naik. Maka Jade menikmati berbaring santai di sana selama beberapa menit.

Pandangannya pelan-pelan bergeser pada sebidang dinding yang digantungi seprai putih untuk menutupi sesuatu yang berbentuk persegi di baliknya. Sepertinya isinya pigura foto atau lukisan.

Di antara semua perabot yang ada, mengapa hanya benda itu yang ditutupi?

Tahu-tahu saja saja nalurinya dibanjiri rasa penasaran untuk menyibak seprai itu. Benaknya menebak-nebak; mungkin itu adalah potret lukisan kakeknya, atau keluarga kakek bersama anak-anak perempuannya. Kalau dugaannya benar, Jade tak kuasa melihat bagaimana rupa ibunya saat masih muda dulu, jadi dia turun dari kasur, menghampiri dinding, dan langsung menarik seprainya ke bawah.

Seketika, pemuda itu terpaku menatap sebuah lukisan yang bersemayam di balik pigura emas.

Itu bukan lukisan kakek atau anggota keluarganya, melainkan lukisan seorang gadis muda yang tak dia kenal. Berambut hitam dan sedikit bergelombang. Helainya turun melewati pundak sampai menyentuh pinggang. Warna kulitnya putih pucat, menyerupai mayat. Kalau saja tidak ada rona merah muda tersepuh di pipinya yang membuatnya kelihatan hidup. Barangkali ada sihir magis di kedua matanya yang sekelam malam, sebab ketika menatapnya, Jade lupa caranya bernapas. Dia terperenyak selama hampir satu menit, dan langsung berkedip dilalap rasa malu karena memelototi wajah seorang gadis terlalu lama.

Secara keseluruhan, lukisan gadis ini memiliki kecantikan yang agung. Jade tak tahu bagaimana

menjelaskannya, mengapa benaknya memilih kosakata "agung" untuk menggambarkan sosoknya yang terlihat gotik sekaligus aristokrat. Barangkali karena pakaian yang dikenakan gadis itu merupakan sulaman bulu hitam elegan berkerah rendah, dipadu dengan kalung batu rubi, dan sarung tangan berenda yang menutupi jemari panjangnya yang seputih susu, seperti busana bangsawan Eropa abad pertengahan.

Jade bisa menebak bahwa gadis itu bukanlah istri sang kakek maupun ibu atau saudara-saudaranya. Selain karena perbedaan tahun yang terlalu lampau, ciri-ciri fisiknya juga berbeda dari foto yang pernah Dave tunjukkan kepadanya. Semua anggota keluarga Jade memiliki rambut cokelat dan mata berwarna hazel atau hijau. Tidak ada yang kulitnya sepucat mayat, dan warna rambut serta matanya tidak sehitam gadis ini.

Setelah beberapa menit membeku dan mengamati lukisan, terbit pertanyaan ganjil dalam kepalanya;

Mengapa sang kakek menyimpan lukisan gadis asing di kamar pribadinya?[]

Bab 2

MATA itu memandangnya dari kegelapan, mencalang dan berkilat-kilat, persis seperti kelereng hitam yang berkilau akibat sinar bulan. Jade merentangkan tangan untuk menggapai subtansi itu. Sentuhan di jemari telunjuknya membuat bola mata itu meletus, seketika menciprati wajahnya dengan seember darah berbau menyengat. Keterkejutan membangunkannya dari alam mimpi, merampas napasnya hingga dia terengah-engah.

Dengan perasaan yang terguncang, Jade mendorong tubuhnya duduk di atas kasur di kamar kakeknya. Dia menunduk dan menemukan telapak tangannya sedikit gemetar, sementara seprai di bawah tubuhnya lengas oleh keringat.

Entah bagaimana, sosok dalam mimpi itu membuatnya teringat dengan lukisan di kamar sang kakek. Lantas Jade mendongak ke dinding seberang untuk menatap lukisan si gadis bangsawan. Mata hitam sosok itu memandang Jade dengan sorot kosong, tetapi mengapa rasanya seperti dia yang sedang dikuliti hidup-hidup?

Perasaan ini entah bagaimana membuatnya merinding, sehingga Jade buru-buru melengos dari lukisan dan kembali menjatuhkan kepala ke bantal. Dia bukan penggemar cerita horor. Dia tidak begitu percaya dengan hantu, atau sesuatu semacam itu. Mimpi yang dialaminya pasti hanyalah akibat yang dia dapat karena kecapekan saja.

Berusaha tak memikirkan lukisan itu, Jade menggulingkan tubuh dan menggapai-gapai permukaan kasur. Dia menyambar ponselnya yang terselip di bawah selimut dan langsung mengecek notifikasi.

Pukul 08.35 A.M

13 pesan tidak terjawab.

Jemari Jade menggulir layar ponselnya dan membaca semua pesan dari Cassie, kekasihnya, maksudnya, calon mantan. Sebab belakangan ini Cassie menunjukkan tanda-tanda muak kepada Jade perihal sikap keras kepalanya yang tak mau berubah. Melihat betapa seringnya pemuda ini tersandung masalah (dan tidak sedikit kasus yang membuatnya mendekam satu-dua hari di kantor polisi), Jade yakin Cassie sedang menyiapkan mental untuk mengakhiri hubungannya.

Memikirkan hubungannya yang rumit dengan Cassie membuat Jade lelah. Pemuda itu memutuskan mengabaikan semua pesan dari pacarnya dan beralih melakukan sesuatu yang lebih berguna. Misalnya melanjutkan membersihkan rumah ini.

Sejak kedatangannya kemarin, Jade sudah mencicil beres-beresnya dengan menyedot debu di seluruh ruangan. Hari ini dia berencana memilah-milah barang koleksi kakeknya untuk dijual ke situs barang antik. Barangkali bukan perbuatan sopan, tetapi dia harus bisa membiayai hidupnya yang pengangguran ini selama beberapa bulan ke depan, bukan? Lagi pula, untuk alasan materialistis itulah dia menerima warisan ini. Kalau bukan karena Dave yang tiba-tiba muncul dan mengabarkan berita tentang kematian kakek-yang-tidak-dikenalnya, Jade pasti sudah hidup menggelandang lantaran diusir dari unit apartemennya akibat tidak membayar uang sewa.

Dia memikirkan betapa carut-marut kehidupannya selama beberapa tahun belakangan seraya mengumpulkan barang-barang antik kakeknya ke dalam sebuah kardus, yang lantas dibawanya ke ruang tengah untuk dinilai satu per satu. Dengan bantuan internet, Jade mencari tahu selenting informasi tentang masing-masing relik dan artifak, memasang kisaran harga yang memungkinkan untuk tawar-menawar, lalu mengunjungi situs-situs penjualan dan mulai mendaftarkan sebagian benda ke sana. Pemuda itu menyibukkan diri sampai tengah hari, dan baru berhenti ketika perutnya keroncongan.

Tak ada makanan di dapur selain beberapa kaleng ikan sarden dan biskuit susu yang dibelinya di stasiun kemarin. Dia membetahkan diri makan seadanya sampai niatnya untuk belanja benar-benar terkumpul.

Setelah makan, pemuda itu kembali lagi ke kamar, mengeluarkan barang-barangnya yang sejak kemarin masih tersimpan dalam koper, lalu mandi dan berganti pakaian. Jade hendak mengecek situs barang antiknya lagi ketika ponselnya berbunyi. Kali ini, Cassie menghubunginya lewat video call.

Oh, sial.

Sebenarnya Jade ogah mengangkat panggilannya, tetapi terus terang saja dia merasa tidak enak karena sudah mengabaikan pacarnya terlalu lama. Pemuda itu menggeser layar ponsel dengan terpaksa dan langsung memasang cengiran lelah.

"Hai, Cassie," sapanya, suram.

Gadis berambut pirang lurus di seberang telepon langsung menyambutnya dengan raut jengkel luar biasa.

"Jade, kau sudah mengabaikan pesan dan teleponku sejak tiga hari lalu. Apa yang terjadi?"

"Kurasa aku sudah bilang padamu kalau aku pergi ke Ruswer, untuk mengunjungi rumah Kakek. Aku lelah setelah perjalanan."

"Tapi setidaknya hubungi aku setelah sampai sana. Sekarang kau kelihatan baik-baik saja, tuh. Dan masih sempat mandi pula."Mata biru Cassie menyipit memperhatikan rambut Jade yang masih basah. Pandangan mencela itu bisa saja diartikan Jade sebagai bentuk kecurigaan sang pacar. Barangkali Cassie menebak bahwa Jade sengaja mengabaikan pesan darinya sejak kemarin.

"Maaf, Cassie. Aku benar-benar ... kau tahu, banyak yang kukerjakan di sini."

Jade duduk di pinggir kasur seraya menatap wajah Cassie yang berkerut jengkel, sengaja menutupi alasan bahwa sejak tadi dirinya sibuk menawarkan barang-barang antik kakeknya di website jual-beli. "Nah, apa permintaan maafku diterima? Aku tak tahu lagi harus menjelaskan padamu dengan cara apa. Seharian kemarin benar-benar menguras tenagaku."

"Kau membuatku khawatir belakangan ini, Jade," Cassie membalas dengan nada lebih prihatin. "Kemarin Joseph membocorkan padaku kalau kau sempat bermalam di kantor polisi karena kasus kekerasan, dan kau tidak memberitahuku apa-apa soal itu! Bagaimana bisa?"

Joseph keparat.

"Aku hanya tak mau kau kepikiran," kata Jade memberi alasan. "Lagi pula itu bukan kasus parah. Ada pemabuk yang berusaha menjambretku, dan aku melakukan apa yang kurasa benar. Polisi itu tahu siapa yang salah, dan dia langsung melepasku begitu proses mediasi selesai. Tak usah memandangku dengan wajah begitu." Jade mengernyit melihat ekspresi Cassie yang seperti menelan obat pahit.

"Kau membuat rahang seorang pria retak dan dia harus operasi. Keluarganya meminta ganti rugi padamu!"

"Kami sudah sepakat untuk berdamai, itu saja yang perlu kita tahu."

"Baiklah," Cassie menunduk sambil memijat tengah keningnya. "Kusangka kau melakukan sesuatu yang buruk demi melampiaskan stres."

"Tidak, tidak." Jade menutup mata dan terbitlah ingatan itu; tinju melayang di bar. Tendangan menyasar perut orang lain. Botol-botol bir dan anggur yang pecah berkeping-keping. Kehidupannya benar-benar hancur. "Aku mengontrol diri dengan baik," kata Jade, lalu nyengir menampakkan deretan giginya yang rapi.

"Dan kau tahu, aku sudah nyaris habis kesabaran melihatmu," Cassie mendesau, seketika nadanya melemah. "Maafkan aku, tapi ... sejak dua tahun lalu kau seperti kehilangan dirimu sendiri, Jade. Kau membuatku terlalu cemas setiap harinya karena panggilan dari kepolisian yang tiada henti; hari ini ditahan, malamnya dilepas, tapi minggu depan ditangkap lagi karena kasus berbeda. Tahukah kau jantungku sudah mau copot setiap kali mendengar berita itu?"

"Aku tahu, aku tahu. Aku minta maaf, Cassie." Jade memejamkan mata sambil memijat keningnya. Dia tak pernah berniat memberitahu Cassie, tetapi selalu saja ada celah bagi gadis itu untuk mengetahuinya.

Cassie melihat wajah Jade dan seolah ingin mengatakan sesuatu. "Jade, kurasa ... kau tahu ... lebih baik kita...."

Jade menunggu pernyataan itu; kalimat yang dia harapkan keluar dari mulut Cassie supaya membuatnya terbebas dari ikatan hubungan yang sudah goyah ini. Satu detik, dua detik, pemuda itu hanya menatap Cassie dan menanti. Ketika bibir pacarnya terbuka, dia sudah menduga bahwa gadis ini akan menyemprotnya dengan keputusan mutlak minta putus.

Namun, yang dilontarkan Cassie malah sesuatu yang lain.

"Kau tidak sendirian di sana?"

"Hah?" Jade refleks berpaling ke belakang dan melihat kamarnya yang kosong. Hanya ada lukisan gadis cantik yang digantung di dinding. Dia berpaling lagi pada Cassie, "Aku sendirian, kok."

"Aku melihat seseorang ... seperti cewek."

"Oh, maksudmu lukisannya? Di belakangku memang ada lukisan seorang cewek."

"Lukisan?" Cassie mengernyit. "Perlihatkan padaku."

Jade mengarahkan kamera ponselnya pada lukisan itu, lalu Cassie berceletuk, "Oh, benar. Sempat kukira tadi ada seorang cewek yang berdiri di belakangmu." Nada Cassie terdengar sinis, seolah-olah Jade benar-benar menyembunyikan orang asing tanpa sepengetahuannya. "Nah, siapa cewek di lukisan itu?"

"Entahlah. Aku perlu mengorek lebih banyak tentang rumah ini. Tapi sepertinya dia adalah putri bangsawan dari abad pertengahan. Bagaimana menurutmu?"

"Cantik tapi seram. Dia mirip vampir dari kastel di Rumania." Komentar Cassie membuat alis Jade berkedut ke atas. "Lukisan itu ada di kamarmu? Kenapa kau tidur dengan lukisan orang yang tidak kau kenal?"

"Dia akan kupindahkan nantinya," kata Jade, yang terus terang memang agak gelisah dengan keberadaan lukisan ini. Barangkali kalau mencari sedikit informasi tentang gadis itu, dia bisa menemukan harga yang tepat untuk dijual di situs barang antik.

"Kakekmu sepertinya kaya raya, ya? Kamarmu mewah sekali."

Jade mengedikkan bahu sambil mendengkus. "Begitulah."

Cassie terdiam sebentar, tampaknya dia tidak jadi mengatakan sesuatu dan malah menunggu Jade untuk mencari topik yang lain. Setelah kebisuan canggung ini, Jade akhirnya memutuskan menutup telepon. "Aku harus melanjutkan beres-beres, Cassie. Nanti malam akan kutelepon kau."

"Baiklah," Cassie memasang senyum yang terlihat lebih lega. Dia mengucapkan salam dan langsung menutup teleponnya.

Setelah melemparkan ponselnya begitu saja di atas kasur, Jade baru sadar topik terakhirnya bersama Cassie menimbulkan rasa penasaran yang menyentil perutnya. Dia berputar dari tepi kasur dan menghampiri lukisan sang gadis bangsawan. Selama hampir satu menit, memandanginya sambil membisu.

Menyadari bahwa bingkai lukisannya kotor, Jade mencabut selembar tisu yang kemarin dibawa kemari untuk mengelap perabotan berdebu di kamar Kakek. Dengan gerakan sembrono dan kurang perhitungan, dia mengusapkan tisu kelewat kasar pada bagian samping pigura. Mendadak saja dirinya tersentak kecil tatkala jemari telunjuknya tertusuk serpihan kayu.

"Ah, berengsek," umpatnya pada jemari yang berdarah. Bingkai ini tidak semulus kelihatannya. Kayu di pinggirannya sudah tua dan terkikis. Sambil berbalik badan, Jade mencabut tisu lebih banyak dari kotaknya. Dia masih sibuk menyeka darah di jemarinya tatkala benaknya mulai menyadari sesuatu yang aneh.

Dari lantai di bawah kakinya, ada bayangan gelap yang tampak memanjang dan membesar.

Pemuda itu terhenyak, lantas berputar untuk melihat sumber bayangan itu.

Matanya seketika melotot menyaksikan sulur-sulur hitam keluar dari dalam lukisan, seperti akar kurus pohon yang tumbuh dan meregang dengan cepat. Di antara sulur gelap itu, ada jemari sepucat mayat, berlumur cairan lendir mirip plasenta, mencuat keluar menembus serat kanvas yang berdenyut, seperti paru-paru yang bernapas ... menggapai-gapai di udara seolah ingin mencengkeram sesuatu.

Keterkejutan membuat Jade membeku sediam patung. Entah bagaimana, jeritannya tak keluar. Mulutnya megap-megap seperti kehabisan napas, sementara suhu udara di sekelilingnya menurun menjadi sedingin es.

Di hadapannya, terjadi sebuah pemandangan paling ganjil seantero sejarah umat manusia. Jemari pucat itu terus memanjang, dengan lendir yang menetes-netes ke lantai, lalu memperlihatkan pergelangan tangan yang kurus dan kaku. Berikutnya tampaklah lengan manusia yang sempurna, diikuti dengan pundak, leher, lalu ... wajah seorang gadis.

Wajah itu mirip seperti potret gadis dalam lukisan, tetapi lebih terkesan datar dan pucat, seperti mayat hidup. Belum selesai diguncang kepanikan, Jade melihat sosok itu memanjat naik ke bingkai lukisan, dengan dua tangan berpegangan di kedua sisi samping, sementara satu tungkai bertengger pada pigura bagian bawah.

Lalu, seperti kehilangan keseimbangan, tubuh yang utuh itu praktis jatuh ke lantai di bawahnya dengan bunyi gedebuk keras.

Gadis itu mengenakan tunik transparan selutut berwarna hitam, yang basah kuyup seperti habis tercebur ke kolam lendir. Kulit di balik pakaiannya samar terlihat akibat paparan sinar lampu. Seluruh kulitnya putih kepucatan dan agak berpendar, nyaris satu tingkat lebih gelap daripada salju, sementara sulur-sulur hitam yang tadi rupanya telah menjelma secara magis menjadi helaian rambut gelap yang halus dan panjang.

Gadis itu menggeliat sebentar. Tulang-tulangnya bertonjolan di balik tubuhnya yang kurus, lalu bahunya naik untuk menopang lengan, sementara dia berusaha bangun di posisi merangkak. Wajahnya pelan-pelan mendongak menatap Jade.

"A-apa ...."

Namun pemuda itu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, lantaran gadis itu menerjangnya hingga terbanting ke lantai, lalu menusukkan dua taringnya ke leher Jade.[]

Bab 3

JEDA waktu sebelum dia tidak sadarkan diri adalah memori samar yang memberinya luka menyakitkan.

Jade masih bisa merasakan dua bilah taring menusuk lehernya dan menyedot sesuatu dari dalam tubuhnya dengan rakus; darah, dia menyimpulkan demikian. Sebab bau khasnya melekat dan menjadi-jadi seiring kesadarannya berangsur menjauh. Di tengah tirai kelabu yang menutupi pandangannya, Jade masih sempat melihat makhluk itu; sang gadis yang keluar dari lukisan.

Bagaimana dia harus menyebutnya? Hantu? Monster? Tubuh yang bersentuhan dengannya terasa dingin, licin, dan agak kenyal. Menyerupai manusia asli; jelas bukan hantu atau jelmaan makhluk halus. Barangkali dia monster pengisap darah, sebab perilakunya begitu liar dan membabi buta. Jade mengingat betapa panik dirinya sehingga dia memberontak dan menendang, tetapi tenaganya justru kalah oleh kungkungan monster itu. Dia merasakan jemari sang makhluk menjambak rambutnya dan menekan kepalanya ke lantai, sementara kaki kecilnya membelit pinggangnya seperti lilitan ular.

Sesaat sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, tatapan pemuda itu terpaku pada dua manik kelam sang monster.

Jade menangkap seringai di wajah monster itu.

Kemudian, setelah lama tergelincir ke kegelapan, kini kabut muram yang meliputinya terangkat. Jade terbangun dan berusaha menggerakkan sendi-sendinya yang kaku luar biasa. Mengerang sembari mendorong dirinya dalam posisi duduk. Napasnya masih terengah―tercabik dalam emosi terkejut dan panik.

Dia memegangi lehernya yang terasa nyeri, meraba kulit yang sebelumnya dirobek oleh dua taring tajam.

Memang benar, ada dua lubang kecil yang letaknya sejajar. Seperti bekas ditusuk sesuatu. Jade menyeka lehernya dan memperhatikan telapaknya dengan cermat. Sisa darah masih menempel di jemarinya, dan fakta ini membuatnya gemetar sekaligus takut. Bila dia benar-benar digigit, apa yang berikutnya akan terjadi? Apakah monster perempuan itu menularkan virus padanya? Apakah dia akan terinfeksi dengan penyakit aneh, lalu tewas?

Entah berapa lama Jade duduk di lantai sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Setelah akhirnya mampu menguasai diri, dia bangkit untuk mencari ke mana makhluk itu pergi. Jade menyapu pandang seluruh kamar. Tidak ada tanda-tanda perusakan. Barang-barangnya masih tergeletak rapi di tempat semula, yang menunjukkan arti bahwa makhluk yang menyerangnya kemarin juga bukan pencuri. Pemuda itu lantas menengok ke arah lukisan yang menjadi mimpi buruknya.

Anehnya, lukisan itu tidak kenapa-kenapa. Potret gadis berwajah pucat itu masih ada, dengan posisi yang tak berubah.

Apa-apaan ini? Apa monsternya sudah kembali masuk ke dalam lukisan?

Dilumuri pertanyaan dan rasa penasaran yang menjadi-jadi, Jade memutuskan keluar untuk mengecek situasi.

Dia mengintip tiap ruangan yang terbuka dan tak menemukan apa pun, kecuali fakta bahwa kondisi rumahnya masih rapi seperti sedia kala. Langkahnya menuruni tangga, melongok ke bawah dari balik birai yang melingkar, lalu masuk dapur. Pemuda itu membuka laci terdekat untuk mencari pisau.

Jemarinya baru saja menyentuh gagang pisau tepat ketika suara perempuan muncul dari belakangnya.

"Kau sudah bangun?"

Pertanyaan itu membuat Jade menengok ke belakang dengan cepat. Wajahnya tercengang menatap seorang gadis yang menyerangnya sebelum ini, kini berdiri di hadapannya dengan paras tanpa ekspresi. Penampilannya kelewat normal. Tidak ada lagi tubuh ringkih pucat dan berlendir, ataupun helaian rambut lebat yang menutupi wajahnya seperti spanduk gelap. Gadis ini lebih tampak seperti manusia, walaupun wajahnya terkesan pucat. Namun, mata kelamnya tidak mati seperti di lukisan, melainkan hidup dan menyala-nyala.

"Siapa kau?" Jade menjaga suaranya tetap tenang. Dilihat dari sudut mana pun, badannya jauh lebih kecil dibandingkan ukuran tubuhnya; sekilas memiliki potongan tubuh yang sama dengan Cassie. Jade bisa dengan mudah membekuknya bila gadis ini berulah. Namun, dia harus menanyainya lebih lengkap. "Kenapa kau datang ke rumahku?"

"Datang ke rumahmu?" Gadis itu mengernyitkan alis yang sama gelap seperti rambutnya. "Sejak dulu aku sudah berada di sini. Seharusnya aku yang menanyai siapa kau."

"Kau ... kau ...." Jade memaksa dirinya bernapas pelan. "Kau sungguh keluar dari lukisan?"

Gadis itu tak menjawab apa-apa, tetapi secara subtil, tatapannya merambat pada leher Jade.

"Siapa namamu?" Jade mendesak.

"Cordelia."

"Kau ini apa? Hantu?"

"Aku manusia sepertimu. Lihat ini," Lalu Cordelia mengulurkan tangannya untuk menyentuh Jade. Namun, pemuda itu menepisnya dengan kasar dan langsung menodongkan mata pisau yang tajam ke wajah Cordelia.

"Aku serius," Jade mendesis dingin. "Tidak ada manusia yang muncul dengan cara seaneh itu."

Selama beberapa saat, Cordelia tampaknya tidak merasa terancam dengan pisau Jade. Dia hanya menatap ujung pisau yang berkilat tajam dengan sorot jemu, lalu menatap wajah pemuda itu lagi. "Kau yang membebaskanku dari lukisan. Seharusnya aku berterima kasih padamu, tapi melihat caramu memperlakukanku, bisa-bisa aku kehilangan selera untuk bersikap hormat."

"Aku membebaskanmu?" Jade bertanya dengan raut bingung tanpa petunjuk. Namun ketekatannya membuatnya lebih tegas dan keras. Pemuda itu menodongkan pisau lebih dekat ke pipi Cordelia. "Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan bocah sepertimu mengada-ada. Lebih baik cepat jelaskan maksudmu."

"Akan lebih sopan kalau kau menurunkan pisau itu dulu."

"Kenapa aku harus berbuat sopan pada sosok yang melukaiku duluan?" kata Jade, menelengkan leher. Jemarinya yang bebas menunjukkan luka di lehernya. "Aku secara sadar ingat betul kau menggigitku, dasar kau makhluk aneh."

"Baiklah, untuk soal itu aku minta maaf. Berada dalam lukisan tanpa makanan selama bertahun-tahun lamanya membuatku lapar dan hilang akal."

Jade membuka mulutnya saking tercengang dengan jawaban aneh itu, sementara gadis bernama Cordelia cepat-cepat melanjutkan, "Sebelum kau mencaci maki dan menyumpah serapah pada apa yang kulakukan, kau perlu tahu kalau sebelumnya aku tidur tenang di tempat itu. Lalu tiba-tiba tercium bau darah, asalnya dari luar lukisan. Aku tak bisa mengendalikan naluri alami dan insting purba yang melekat di otakku. Kaumku sudah seperti ini sejak dulu tanpa kami minta. Singkat cerita, ragaku bereaksi secara otomatis untuk setiap tetes darah yang tercium, jadi aku merangkak keluar dari lukisan itu untuk menjemput hasrat lapar yang mencakar-cakar perutku. Jangan salahkan aku atas insiden ini. Secara teknis, kaulah yang memancingku untuk keluar dengan bau darahmu, bukannya aku yang keluar atas kehendakku sendiri."

Spontan, Jade melonggarkan pegangannya pada pisau sehingga benda itu tergelincir jatuh dari tangannya. Pemuda itu mundur sejenak hingga tubuhnya membentur konter dapur di belakang. Dia berpegangan erat pada wastafel cuci dan memejamkan mata, berusaha meresapi penjelasan dari makhluk aneh ini.

"Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut, tapi kukira kau sudah tahu aturannya," kata Cordelia.

"Tak masuk akal," desis Jade, lalu pelan-pelan mendongak. Tatapannya terpaut pada mata kelam Cordelia yang gelap dan kosong. "Darah, katamu? Kau bereaksi dengan bau darah? Hal apa yang kulakukan sampai aku harus memancingmu dengan darah...."

Lalu kata-kata Jade menghilang secepat dia mengingat apa yang terjadi sebelum insiden itu. Jarinya tergores serpihan kayu. Dia sedang menyeka darah dari telunjuknya ketika tahu-tahu saja terjadi sesuatu yang aneh.

Sial, sial, sial.

Jade mengusap wajahnya dengan tangan. Rautnya berubah gusar dan tidak tenang.

"Lalu bagaimana caranya?" Pemuda itu tahu-tahu menegapkan diri dan menghampiri Cordelia. "Bagaimana agar kau kembali ke dalam lukisan itu?"

"Kau mengusirku?" Cordelia menarik napas.

"Dengar, aku tidak sengaja memancingmu keluar," Jade berusaha menjelaskan. "Saat sedang membersihkan pigura lukisan, jariku berdarah karena tertusuk serpihan kayu, lalu ... kau tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan sebelumnya. Aku sama sekali bukan orang yang kau harapkan. Bahkan sama sekali tidak tahu apa-apa soal rahasia lukisan itu. Jadi kuharap kau pun bisa―dan harus―memahami situasiku. Sekarang, aku minta kau kembali masuk, lalu ...."

"Aku tidak bisa masuk lagi," Cordelia tahu-tahu berceletuk.

Jade terasa seperti ban yang mengempis. "Apa?"

"Karena aku sudah menandaimu, aku tidak bisa masuk lagi dalam lukisan itu."

Mendengar kata "menandai" membuat Jade merinding lebih hebat. Pemuda itu menyugar rambutnya dengan frustrasi sambil berkacak pinggang, tak tahan dengan semua kekacauan ini. "Apa maksudmu dengan menandai?" dia bertanya nyaris membentak.

Untuk pertama kalinya, Cordelia melangkah mengitari dapur dengan pelan. Kedua tangannya saling ditautkan di belakang punggung, sementara wajahnya terangkat sehingga dia terlihat menyerupai putri kerajaan angkuh yang mondar-mandir dengan gaun tidur kuno. "Sudah kubilang tadi, aku tidak bisa menahan gejolak lapar yang menjadi-jadi. Sudah lama sekali sampai aku bisa kembali merasakan darah yang kurindukan. Saat aku keluar dari lukisan, aku langsung menggigitmu dan mengisap darahmu. Itu adalah cara kaum kami memberi tanda pada budak darah."

"Berengsek. Budak darah, katamu? Dan memberi tanda? Lalu bagaimana ... apa hubungannya itu dengan kau yang enggan masuk kembali ke dalam lukisan?"

Cordelia menghampiri Jade, yang sejak tadi mencoba menjaga jarak dengannya. Namun, pemuda itu berubah menjadi lebih berani daripada semula. Dia tak merasa gentar ketika Cordelia mengulurkan tangan ke lehernya. Jade praktis merasakan sengatan perih tatkala ujung jari Cordelia menyetuh lukanya. Gadis itu menjelaskan perlahan, "Saat abare menemukan budak darahnya, segel yang membelenggunya dari tidur panjang akan terlepas. Kau telah melepas segel itu dengan darahmu, sehingga aku tak bisa lagi masuk ke dalam lukisan."

"Abare?" Jade mengerjap bingung.

"Makhluk pengisap darah," kata Cordelia. "Nama kaumku."

"Apa yang dimaksud budak darah?"

"Itu adalah sebutan untuk sumber darah yang hanya boleh disediakan untuk seorang abare sepertiku. Dengan kata lain, setelah kau menerima gigitanku, kita sudah terikat secara adat abare. Ada sesuatu di dalam tubuhmu yang terhubung denganku. Ini membuatku dapat dengan mudah mengontrolmu ... melakukan sesuatu ... sesuai apa yang kumau."

Mata Cordelia diwarnai sesuatu yang baru; kegetiran, atau hasrat. Pupilnya menggelap, dan warna hitam yang pekat berpusar ke luar sampai seluruh bagian putihnya lenyap.

Jade tak sempat menyingkir karena jemari Cordelia lebih tangkas menekan lehernya. Sontak perut pemuda itu kejang dengan sensasi aneh, merambat melalui ulu hatinya, dan naik ke sangkar rusuk. Kemudian, seolah-olah ada kantuk yang menyerbunya dengan tiba-tiba, kekuatan asing itu membuatnya meleleh dengan rasa mengawang seperti habis menenggak obat tidur. Matanya yang berat berkedip, dan konsentrasinya hilang-timbul.

"Tidak," kata Jade, kacau dengan fokusnya yang terdistraksi. "Apa yang kau lakukan?"

"Maaf, tapi seperti yang tadi kubilang," Cordelia menangkup pipi Jade, mengusapkan ibu jarinya di sepanjang rahang dan bibir si pemuda dengan gerakan memutar lembut. "Kukira kau sudah tahu aturannya."

Lalu Jade terjungkir ke depan dan menghantamkan keningnya ke lantai terlebih dahulu hingga berbunyi gedebuk keras. Badannya terasa berat dan lemah. Kepalanya sakit dan berputar-putar, seolah-olah dia dijangkit demam aneh secara mendadak. Pemuda itu menggeliat-geliut, mendesaukan napas yang tinggal sepotong-potong. Sementara Cordelia membungkuk, berlutut di dekatnya. Bibir ranum gadis itu terbuka dan tampaklah dua taring yang berkilat-kilat.

"Budak harus terus menyediakan darah untuk abare-nya, sampai abare-nya pulih seperti sedia kala," bisik Cordelia, pelan-pelan merundukkan wajah di leher Jade, yang kini terbaring tak berdaya sekaligus dicengkeram rasa takut. "Dan aku merasa sangat lemah karena sudah bertahun-tahun tidak mendapat asupan. Jadi, maafkan aku, anak manis. Aku harus meminum darahmu lagi."

Lalu Jade merasakan mulut gadis itu terbenam di ceruk lehernya, disusul sedetik kemudian, sengatan setajam belati membuatnya mengerang dalam penderitaan.[]

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED