Hidup di kalangan keluarga biasa tak membuat seorang pemuda berumur 20 tahun yang bernama Sota segera berubah. Internet telah melenakannya. Setiap hari hanya medsos yang dihadapi. Rayuan demi rayuan dia lancarkan. Tapi tiada perubahan bagi Laila, perempuan yang selama ini menjadi incaran.
Kursi panjang di ruang tamu tempat biasa Sota berbaring. Rumah ukuran sedang tempat bernaung setiap hari. Tak ada keinginan untuk keluar rumah. Artisa, sang ibu mengkhawatirkan masa depan anak bungsunya. Tak bosan setiap hari peringatan selalu dia utarakan.
"Sota, daripada kamu main medsos saja lebih baik kau ikut jejak kakakmu. Bekerja dan mencari uang," kata Artisa.
"Ibu mengganggu saja. Tunggu aku jadian dengan Laila," kata Sota dengan penuh kekesalan. Wajah sang ibu tak dilirik sedikit pun.
"Ta, kalau kau bekerja nanti Laila akan takluk sendiri."
"Ibu mana mengerti. Jika mengandalkan harta aku akan kalah saing. Hanya dengan cara ini aku bisa memiliki Laila."
"Apakah kau berhasil? Tidak kan. Makanya bekerja dulu baru mengincar Laila."
Omelan demi omelan keluar dari mulut Artisa. Tak tahan dengan itu Sota mengeraskan suara di gawainya. Suara ibu kini telah tak terdengar lagi. Jengkel tak diperhatikan anaknya, Artisa melepas earphone yang tertempel di telinga Sota.
"Sota, kamu tadi dengar tidak," kata Artisa agak keras.
"Iya, Bu." Beranjak Sota dari tempat rebahan. Kamar tidur menjadi tujuannya. Pintu kamar ditutup dengan keras, bentuk kekesalan terhadap sang ibu. Terkunci pintu dari dalam kamar tempat Sota berdiam diri.
Kelakukan Sota hanya bisa membuat Artisa geleng-geleng kepala. Tak mau ambil pusing lagi, Artisa melangkah keluar rumah.
Warung makan Mampiro tempat tujuan Artisa. Pintu belakang tempat biasa dia masuk. Seorang lelaki muda dia datangi. Ikan yang ada di wajan terdekat tergoreng sudah.
"Bu, Sota bagaimana?" tanya pemuda yang bernama Apis, dia kakak ipar Sota.
"Seperti biasa, tetap ingin mengincar Laila," jawab Artisa.
"Dasar Sota, mentang-mentang keluarganya baru mapan seenaknya sendiri. Apa Ibu sudah rayu Sota?" tanyanya lagi.
"Aku sudah bosan merayunya. Ayah dan istrimu saja tak sanggup mengatasi sifat malasnya."
"Sabar Bu, mungkin suatu hari nanti dia akan sadar sendiri."
Warung tempat mencari nafkah mulai ramai. Segenap anggota keluarga bekerja sesuai dengan porsi mereka masing-masing. Artisa mengecek bahan baku. Ketika persediaan telah menitip Artisa baru keluar untuk berbelanja.
Kian malam hari warung kian sepi. Para pelanggan telah pulang ke rumah masing-masing.
Artisa kembali lagi ke rumah. Sebungkus makanan dia bawa untuk Sota.
"Bu, aku sudah lapar. Ibu lama sekali pulang," keluh Sota.
"Kenapa kamu tidak buat mie instan atau goreng telur?" tanya sang ayah, Garu.
"Tak ada nasi atau apa pun yang bisa dimakan," kata Sota.
"Oh ya, Ibu lupa. Sekarang makanlah sepuasnya," kata Artisa.
Perut yang keroncongan membuat Sota tak tahan lagi. Dibuka bungkus makanan dan diambil isinya. Sebuah pisang goreng dia makan. Entah kenapa Sota malah mual dan muntah-muntah. Segala isi perut dia keluarkan. Sota berlari ke dapur. Kedua orangtuanya mengikuti dari belakang.
"Nak, ada apa?" tanya sang ayah.
Sota hendak menjawab pertanyaan tersebut. Pandangannya telah kabur terlebih dahulu. Kesadarannya telah hilang sebelum Sota sempat menjawab. Sang ayah membawanya ke dalam tempat biasanya Sota tidur.
***
Tujuh hari dalam seminggu telah dilalui. Selama itu juga Sota tak sadarkan diri. Artisa senantiasa menunggu si buah hati. Pekerjaan yang selama ini dilakukan terpaksa dia hentikan. Tak sedikit pun rasa cintanya hilang meskipun terkadang si anak mengabaikannya. Rasa lapar membuat Artisa pergi sementara meninggalkan Sota.
Pagi hari telah menyingsing. Cahaya mentari menembus jendela kamar yang terbuat dari kaca. Kala itu Sota terbangun karena cahaya yang membuat silau saat dipandang. Rasa pusing sedikit dia rasakan.
"Dimana aku?" tanyanya pada diri sendiri.
Terdengar dengan jelas suara perempuan dari mulut Sota. "Lho, Kok bisa?" terkejut dia dengan suaranya sendiri. Dilihatlah kedua tangannya, halus lembut bagaikan sutera. Otot pada tangannya semakin mengecil. Lalu Sota merunduk ke bawah. Sebuah tonjolan besar di badannya. "Tidak!" teriaknya sekeras mungkin.
Artira berlari menemui si anak. Berhenti sejenak di saat mendengar suara perempuan dari kamar Sota. "Aku harus memasang wajah polos agar anakku tak curiga kepadaku," katanya di dalam batin.
Masuklah Artisa ke dalam kamar Sota. Ditemui si anak yang sedang meneteskan air mata. "Nak, mengapa menangis?" tanyanya.
"Bu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku berubah?" tanya Sota dalam tangisannya.
"Nak, Ibu sendiri tak tahu apa yang terjadi. Yang sabar Nak, kita nanti cari jalan keluarnya," kata Artisa. Didekaplah si anak untuk mempercantik aktingnya. Tapi air matanya tak bisa disembunyikan lagi.
Seharian sudah Sota terbangun. Tapi tidak juga dia beranjak dari tempat tidurnya. Mengurung diri di dalam kamar yang dia lakukan. Dilihat terus tubuhnya, seolah-olah dia tak percaya akan takdir yang menimpa padanya. Artisa selalu saja mendampingi si anak bungsu. Sekali-kali dia mengambilkan makanan, tapi selalu saja Sota tolak. Walau akhirnya Sota juga yang mengalah. Rasa sakit di perut tidak bisa dia tahan, apa pun pemberian sang ibu dia lahap. Tapi tetap saja dia tak mau mandi. Apalagi kini dia telah berubah.
Malam telah menjelang. Sinarnya rembulan menambah pedih hati Sota. erlip bintah sebagai penusuk luka di hati. Suara beberapa orang terdengar jelas dibalik dinding. Sota tak ingin siapa pun mengetahui bentuk wujud barunya. Selimut panjang dia kenakan. Sekujur tubuh tertutup rapat. Hanya hidung dan mata yang tampak dari luar.
"Sota, Ayah ada sesuatu untukmu!" panggil Garu.
Tiada keberanian Sota untuk menolak permintahan sang ayah. Langkah pelan menghantarkan dia kehadapan sang ayah. Rasa malu, sedih dan segalanya bercampur menjadi satu. Tubuh Sota bergemetaran. Riksa, sang kakak muncul dari belakang. Dibuka penutup kepala Sota. Rambut indah dan wajah cantik tubuh baru Sota terlihat jelas. Bingung bagaimana Sota menutupi identitasnya.
"Adikku yang manis, kamu tak perlu malu. Kami semua telah mengetahui keadaanmu," kata Rikma.
"Tapi, aku takut...," kata Sota.
"Tak usah takut, kami di sini bisa menerimamu apa adanya. Kasih sayang kami tak akan berkurang," kata Garu.
Selimut yang menutupi tubuhnya sudah tak berguna. Sota membuangnya begitu saja. Pakaian yang kedodoran masih dia kenakan. Langkah pelan berubah drastis. Berlarilah Sota dengan segenap tenaga di tubuh baru. Sang ayah tercinta dipeluknya. Tetes demi tetes air keluar dari kedua bola mata. "Ayah, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?" tanyanya dalam pelukan.
"Nak, Ayah juga tidak tahu. Tapi jangan khawatir, suatu hari nanti kita akan mengembalikan dirimu seperti semula," jawab Garu.
"Sota, bagiku kamu tetap adikku bagaimana pun wujudmu. Kita masih bisa main game online bersama," kata Apis. Ditepuk bahu gadis perempuan itu.
Sota melepaskan pelukan sang ayah. "Ayah, apakah mungkin suatu hari nanti aku akan kembali seperti semula?" tanyanya.
"Kita tak akan pernah tahu. Tapi kita akan mencoba," kata Garu.
"Adikku, aku masih punya pakaian banyak. Aku sebentar lagi tak bisa memakainya. Kau pakai juga alat rias milikku," kata Rikma. Dipeganglah perut yang sudah mulai membesar.
Dukungan dari anggota keluarga membuatnya agak bersemangat. Air mata yang menetes di pipi berkurang drastis. Tapi masih saja Sota menundukkan wajahnya. Dalam wujud yang baru Sota tak berani menatap wajah siapa saja.
***
Cahaya mentari telah menembus jendela yang terbuat dari kaca bening. Sota terbangun sebab alarm alami itu. Kasur tempat tidur berantakan tak karuhan. Rasa kantuk masih berat di matanya. Keinginan tidur masih terasa kuat. Pintu kamar dibuka lebar. Terlihat ibu sedang menonton televisi.
"Ibu tidak kerja?" tanya Sota.
"Nak, kamu ini masih saja seperti yang dulu. Bangun telat, ayo ikut Ibu sekarang." Artisa mematikan perangkat televisi. Digandeng tangan si buah hati yang masih malas melebarkan pandangannya. Kamar mandi menjadi tujuan mereka.
"Bu, kenapa aku ke sini?" tanya Sota.
"Sota, sudah berapa hari kamu tidak mandi?" tanya ibunya.
"Dua hari," jawab Sota.
"Bukan, tapi delapan hari. Sekarang ibu yang akan memandikanmu."
"Bu, aku malu."
"Kenapa kau harus malu? Kau juga perempuan, sama seperti Ibu."
"Tapi aku belum lama jadi perempuan. Aku bisa mandi sendiri."
"Kau sedang reproduksi atau tidak?"
"Aku tak tahu apa itu reproduksi. Tolong beritahukan ciri khasnya."
"Jika ada darah atau sebuah cairan yang keluar dari saluran pembuangan berarti kamu sedang reproduksi."
"Aku baik-baik saja. Aku belum keluar apa pun, bahkan air seni. Ibu, mohon tinggalkan aku."
"Baiklah, Ibu beri waktu satu jam. Jika kau tak dalam waktu satu jam Ibu akan datang untuk memandikan dirimu. Mau tak mau kau harus menurut." Artisa keluar dari kamar mandi. Ditutup pintu kamar itu, Artisa pergi ke kamar yang lain.
Di kamar mandi Sota sendirian. Dilihat bentuk tubuhnya yang mulus. Cermin di depan dia gunakan sebagai alat bantu. Terbias gambar wajah seorang perempuan muda. Rambut pendek terlihat sangat kusut. Tapi setidaknya rambut agak panjang sedikit. Beberapa bulu telah hilang. "Jadi ini aku sekarang? Cantik juga. Andaikan saja tubuh ini milik orang lain dan aku punya tubuhku yang sebelumnya pasti kami sangat cocok, pasangan yang serasi. Laila pasti akan cemburu pada sosok perempuan ini," katanya di depan cermin.
Selesai sudah Sota membasuh tubuhnya. Tiada satu pun bagian tubuh yang tak terkena air, termasuk juga rambut pendek yang kini sudah agak rapi. Pakaian yang semalam dia kenakan dikenakan kembali. Kamar tempatnya bermalam didatangi. Artisa sedang merapikan beberapa lembar pakaian. Kain yang biasa digunakan Sota ditaruh di luar lemari.
"Bu, kenapa pakaianku dibuang?" tanya Sota.
"Nak, kau bukan laki-laki lagi. Kau sudah berubah menjadi perempuan. Mulai sekarang kau pakai baju perempuan. Untuk pakaian biasamu tetap ibu simpan." Sambil melipat baju Artisa melihat tubuh anaknya. Air sisa mandi masih melekat pada tubuh Sota. Pakaian yang Sota gunakan juga ikut basah. "Sota, kenapa kau tidak pakai handuk?" tanyanya.
"Aku belum biasa pakai handuk dalam keadaan ini. jadi handuknya basah masuk ke dalam air, hehehe," tawa kecil Sota.
"Jadi kamu lama di kamar mandi sebab itu?"
"Bukan, tapi aku masih sulit menerima ini. Lagi pula Ibu beri waktu aku satu jam alias 60 menit."
"Sota Sota, ternyata kamu tak berubah juga. Sekarang Ibu bantu kamu memakai baju."
Dilihat sebuah gaun putih berhiaskan warna merah yang disiapkan Artisa. Cairan yang ada di dalam rongga mulut ditelan Sota kembali. "Bu, aku pakai yang ini?" tanyanya sambil menunujuk ke kain itu.
"Iya," jawab Artisa.
"Bu, tidak adakah baju yang lain?" tanya Sota lagi.
"Sota kamu sekarang perempuan. Sini Ibu bantu."
Artisa bergegas berdiri. Dia hendak membuka pakaian Sota. Tak ayal Sota melawan sebab tak mau memakai kain tersebut. Sota menyadari sesuatu hal yang aneh, dia tak tahu apa itu. Tenaga di tubuh baru tak sekuat seperti yang dulu. Sekarang sang ibu lebih kuat daripada dirinya. "Tidak, Bu!" teriak Sota yang kewalahan melakukan perlawanan.
Tiada lagi daya Sota. Dia pasrah atas apa yang dilakukan ibunya sendiri. Tak terasa air matanya menetes. Pakaian yang basah diletakkan di lantai begitu saja. Digiring Sota hingga ke hadapan sebuah cermin. Terlihat baju yang sedikit kecil bagi tubuh Sota. Setengah tungkai atas terlihat jelas. Rasa malu malah semakin menjadi-jadi. Merunduk ke bawah hal yang bisa dia lakukan.
"Sota, kamu jangn merunduk saja. Tatap matamu ke cermin." Artisa mengangkat wajah Sota hingga bisa tegak. Tak tahu lagi apa yang bisa dia lakukan. Tak mungkin bisa melawan ibunya lagi. Kabur jalan yang dia pilih. Berlarilah Sota keluar dari kamar. Tapi Sota terhenti di pintu depan. Tiada keberanian bagi dirinya untuk membuka pintu.
Segera Artisa menyusul. Seperangkat peralatan rias dia bawa. Ditemui Sota sedang berdiri di depan pintu, lalu merunduk. Meringkuk sendirian di depan pintu. Wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangan. Didekatilah Sota yang sedang terduduk.
"Nak, ada apa?" tanya Artisa.
"Bu, bagaimana jika orang-orang tahu tentang aku. Apa yang mereka katakan? Aku malu," kata Sota.
Artisa bingung mau jawab apa. Dipeganglah kedua tangan si anak. Perlahan Artisa membangunkan anaknya. Secara bertahap Sota mulai berdiri. "Sota, Ibu rias dulu agar kamu cantik. Jika kamu malu untuk keluar maka jangan keluar. Kamu mau kan," katanya.
Terdiam, Sota tak mampu menjawab ajakan ibunya. Merunduk dan meneteskan air mata Sota lakukan. Tiada makna pasti dalam peristiwa ini.
"Kalau kamu tak mau Ibu pergi saja. Kamu seperti ini juga tak akan dilihat orang lain. Hanya keluarga dan kerabat saja yang akan memperhatikanmu." Artisa melepaskan genggamannya, berbalik arah dia melangkahkan kaki.
Tak mau ditinggalkan sang ibu, Sota memegang tangannya. "Bu, jangan pergi. Aku mohon bantuannya," pintanya dengan air mata masih membekas di pipi.
"Jadi kau mau dirias?" Artisa menoleh ke belakang.
Anggukan kepala tanda Sota mau dirias oleh sang ibu.
Ditarik tangan Sota, keduanya berjalan dan kembali lagi ke kamar tempat Sota tidur. Berbagai macam kosmetik dipersiapkan. Bedak, lipstik, eyeshadow dan segala macam jenis telah berjejer di depan mata Sota. Semua Artisa buka satu per satu. "Wow, banyak sekali. Bu, apakah aku harus memakai sebanyak ini?" tanyanya.
"Iya, kenapa?" tanya balik Artisa.
"Tidak apa-apa, aku belum pernah melakukan ini," kata Sota.
"Nanti lama-lama kamu akan terbiasa sendiri."
"Bu, aku malu melakukannya. Boleh tidak aku pejamkan mata."
"Baiklah, untuk kali ini saja. Tapi kau harus belajar berhias sendiri."
Sota memejamkan kedua matanya. Penglihatan tertutup rapat. Segala cahaya tak bisa masuk ke dalam. Hal ini mempermudah Artisa sebab Sota tak banyak bergerak. Alas bedak dia taburkan, diikuti dengan peralatan yang lain. Bibir dibuat senatural mungkin, begitu pula dengan yang lain.
30 menit telah berlalu. Artisa selesai merias wajah Sota. Segala peralatan dia tutup dan dirapikan.
"Sota, buka matamu," kata Artisa.
Perlahan kelompak mata diangkat. Sedikit demi sedikit cahaya mulai terlihat. Sebuah cermin dihadapkan ke wajah Sota. Tergambar bayangan wajah cantik. Sota tersipu malu tapi juga senang. "Bu, apakah ini aku?" tanyanya tak percaya.
"Iya," kata ibunya.
"Yeah, aku jadi cantik!" teriak Sota kegirangan. Tak terasa dia melompat-lompat.
"Sota, sebenarnya Ibu masih bisa membuatmu lebih cantik lagi. Hanya saja rambutmu masih pendek. Mungkin jika kamu sudah memanjangkan selama setahun bisa lebih cantik lagi." komentar ibunya.
"Terima kasih Bu, tapi aku ingin segera menjadi seperti semula lagi," kata Sota.
"Sota, sekarang ikut Ibu."
Artisa kembali menggandeng tangan anaknya. Dapur yang menjadi tempat tujuan kali ini.
"Sota, sebagai perempuan sudah seharusnya kita untuk bisa memasak makanan. Jadi Ibu akan ajari kamu cari memasak." Artisa mengambil beberapa bumbu dapur yang ada di dalam lemari. Diletakkan bumbu itu di depan Sota. Beberapa sayuran juga diambil Artisa dari dalam lemari es.
"Kamu perhatikan dulu cara Ibu." Pisau dapur di genggam di sebelah kanan. tangan cekatannya mengiris bawang merah hingga tipis. Sota mengikutinya walau masih lamban. Bumbu lain juga diiris Artisa dengan cekatan dan hasilnya halus. Sota mengikutinya masih sedikit, pelan dan kasar.
Sayuran diambil dari dalam lemari es, dicuci bersih lalu di potong. Sota memperhatikan setiap gerak tangan sang ibu. "Sota, perhatikan ukuran sayurannya," kata Artisa.
Sebuah kompor dinyalakan. Wajan yang ada di atas kompor diberi minyak. Saat minyak sudah panas bumbu dimasukkan dan digoreng hingga tercium bau harum. Kemudian sayuran dimasukkan. Sedikit Artisa mencicipinya. Gula dan gara dimasukkan sebagai penyeimbang rasa.
"Soya, coba kau cicipi. Segini standar rasa. Jika kurang sesuatu tinggal kau tambah saja," kaya Artisa.
Sota mencicipi sedikit cairan. Baru dia tahu rasa yang diinginkan sang ibu.
Artisa terus mengaduk sayuran di dalam penggorengan. Ketika sayuran telah layu dan matang kompor dimatikan, lalu sayuran dipindahkan ke sebuah wadah. Hasil olahan ditempatkan di atas meja makan. Kursi terdekat tempat Artisa duduk.
"Bu, aku mau tanya. Biasanya Ibu masak banyak, tapi sekarang kok sedikit," tanya Sota.
"Karena ibu hanya ingin melatihmu saja dan yang makan hanya kita berdua," kata Artisa dengan santai.
Mereka berdua menikmati hasil masakannya sendiri yang mereka hidangkan.
Waktu makan telah usai. Artisa menumpuk piring. Dengan isyarat tangan mengajak Sota. Bergegas Sota mengikuti kemana ibunya pergi. Sampai mereka ke tempat cucian piring. tertumpuk beberapa alat makan di sana.
"Sota, kamu bersihkan semua ini," perintah Artisa.
"Kok, aku?" tanya Sota.
"Karena sekarang kamu inii seorang perempuan. Sudah menjadi kewajiban kita untuk melayani suami termasuk juga membersihkan benda yang kotor," kata Artisa.
"Apa salahku dahulu hingga aku bisa mendapatkan tubuh ini," keluh kesah Sota.
Piring dan peralatan lainnya Sota basuh dengan ar dan bersihkan satu persatu. Terlihat tiada kesemangatan dalam diri Sota. Gerak masih lamban tapi hasilnya bisa bersih. Artisa memeriksa setiap peralatan yang dibersihkan si buah hati. Baru Artisa sadari ternyata Sota memiliki ketelitian lumayan tinggi.
Peralatan makan telah usai dibersihkan dan disimpan, Artisa memberikan isyarat lagi. Kini mereka berdua membersihkan rumah. Kain lap diambil, Artisa mengepel lantai rumah. Sota mengikuti jejak ibunya. Tempat yang lain pun ikut dibersihkan.
***
Rumah telah rapi, mereka berdua beristirahat. Terlihat rasa kelelahan menghinggapi wajah Sota. Napasnya seperti mau habis. Udara keluar masuk sangat cepat. Segelas air disodorkan oleh Artisa. "Nak, kamu capek," katanya.
"Tak kusangka membersihkan rumah selelah ini. Bu, aku minta maaf karena telah merepotkan selama ini," kata Sota.
"Sota, ini belum selesai. Handuk dan pakaian yang kamu basahi belum kamu cuci. Untuk hari ini cukup sekian dulu, mulai besok kamu cuci sendiri. Beristirahatlah." Artisa kembali berdiri dan bergegas menuju ke kamar mandi.
Telah lama Sota tak membuka ponselnya. Kouta internet telah habis masanya. Ingin rasanya Sota keluar untuk membeli pulsa. Saat tahu orang lalu lalang melintas Sota mengurungkan niatnya. Rasa malu telah membunuh keinginannya untuk berselancar di jejaringan. Remot diambil, televisi dinyalakan. Berbaringlah Sota di kursi panjang dengan santai.
Usai sudah Artisa mencuci pakaian anak yang baru berubah itu. Tanah di belakang rumah menjadi tempatnya menjemur kain yang masih basah. Artisa kembali menemui Sota. Tampak jelas Sota berbaring dengan posisi kaki terbuka lebar.
"Nak, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus sopan," kata Artisa.
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Sota.
"Apa kamu tak malu jika ada orang yang melihatmu seperti ini?" Artisa menyingsingkan rok yang digunakan Sota.
"Bu, jangan begitu. Aku malu." Wajah Sota memerah karenanya. Segera dia menutup bagian kaki.
"Itu baru Ibu sendiri yang melihatmu. Bagaimana nanti jika lelaki nakal di luar sana yang menggodamu." Artisa menurunkan kaki Sota satu persatu. Duduklah Sota dikursi itu. "Sota, kau harus menutupi bagian vitalmu. Kau silangkan kakimu agar tak terlihat dan letakkan tanganmu di atasnya," imbuhnya.
"Ibu sih enak, pakai rok panjang. Sedangkan aku Ibu paksa pakai gaun rok mini. Bu, tolong contohkan. Buka rok Ibu, sedikit saja," kata Sota.
"Eh Sota, itu tidak sopan. Kau mau melihat tubuh Ibu," kata Artisa.
"Lho, bukannya Ibu yang duluan melakukannya. Tadi Ibu melihat tubuh mulusku, sekarang gantian aku yang melihat Ibu. Lagian aku ini juga perempuan."
Sota hendak membuka pakaian ibunya tapi tangan Sota terlebih dahulu dipegang sang ibu. Terjadinya adu dorong keduanya hingga mereka berguling-guling di lantai. Tenaga Sota telah habis, sekali lagi dia kalah dari sang ibu. Gagal sudah usaha Sota. Berbaring di lantai menjadi kenikmatan tersendiri.
"Sota, entah kenapa aku merasa senang seperti ini. Apakah kau juga merasakannya?" tanya Artisa.
"Iya, Bu. Mungkin hal seperti ini yang aku rindukan. Aku ingin saat seperti ini selamanya," jawab Sota.
"Tapi harus kita akhiri saat seperti ini. Kau masih butuh banyak belajar untuk menjadi perempuan."
"Bu, bolehkan aku beristirahat. Sebentar saja, aku capek," pinta Sota.