Bab 2

Tahun 1991

Langit membentangkan teriknya siang itu. Dalam rumah kayu beratap seng, udara terasa sangat menyengat. Jadi, penghuninya yang merupakan Pasangan suami istri beda usia itu, memilih bercengkerama di beranda. Sambil berharap ada semilir angin yang bisa  mengurangi sedikit rasa tak nyaman pada tubuh mereka yang kegerahan.

Untungnya, sebatang pohon ketapang yang rimbun di halaman membuat sejuk keadaan. Sesekali, Mayang masih mengibaskan kipas yang terbuat dari anyaman batang purun ke arah leher mengeringkan keringat yang cukup mengganggu di area tersebut.

"Yang. Pinggir matamu, sepertinya mulai berkeriput." Edi yang berbaring di paha Mayang berkomentar. Sambil memilin anak rambut yang mencuat di tepi telinga istrinya.

"Benarkah begitu?" Ada nada kecewa dalam pertanyaan Mayang.

Padahal, sebulan terakhir ia telah rutin menggunakan bedak dingin bercampur rempah yang dikirim Ibu mertuanya.

Jelas saja, meski kalimat Edi terdengar biasa, hal ini cukup membuat nyeri di dada Mayang. Ia berusia 15 tahun lebih tua dari sang suami. Jika yang di katakan Edi benar. Berarti ia harus lebih rajin melakukan perawatan dari biasanya. Ia tak ingin suaminya itu melirik wanita yang lebih muda atau bahkan berpaling darinya.

Edi dan Mayang baru menikah setahun lalu. Dan selama masa pernikahan mereka itu, Mayang tak pernah sekalipun bertemu mertuanya. Mereka tinggal di perkampungan. Rumah yang mereka tempati saat ini, merupakan peninggalan mendiang suami Mayang sebelumnya. Mayang pun merupakan yatim piatu. Jadi, begitu ada lelaki berusia jauh lebih muda darinya datang melamar, ia tak menolak.

Suami Mayang itu, sejak dulu bekerja di seberang sungai, tempat yang sama dengan kediaman mertuanya. Untuk ke sana memakan waktu sekitar dua jam perjalanan menggunakan perahu motor.

Pernah suatu kali Mayang mengutarakan keinginannya untuk bertemu Ibu dari Edi. Sekedar berkenalan atau sekalian mengurus perbekalan makan suaminya sebelum bekerja. Namun, Edi tak memberi izin. Akses jalan masih sulit. Begitu alasan suaminya. Lagi pula pekerjaan Edi tak terlalu berat katanya, ia pun masih bisa mengatasinya urusan perutnya sendiri meski tak bersama Mayang.

Edi hanya pulang seminggu sekali ke rumah. Seperti hari ini, ia akan membawa banyak kiriman dari Ibunya. Seperti padi, sayur, ikan asin, termasuk bedak rempah dan jamu untuk perawatan Mayang.

Ah, benar. Bicara tentang jamu. Ada hal yang aneh sempat dikatakan Mesih--seorang Nenek, tetangga paling dekat dari Mayang. Saat Mayang di beranda sendirian meminum jamu pemberian mertuanya minggu lalu, Mesih yang kebetulan lewat cukup penasaran. Ia yang terbilang berpengalaman dengan berbagai ramuan itu berucap juga ingin mencicipi.

Mayang terkekeh kala itu. "Apa Ninik juga mau awet muda?" kelakarnya.

Mayang mengangsurkan gelasnya yang berisi sedikit jamu pada Mesih yang kini ikut duduk di lantai kayu beralas tikar purun.

"Siapa yang tahu bukan? Kalau aku bisa muda lagi, mungkin masih laku." Sahut Mesih dengan gelak tawa yang tak mau kalah.

Setelah menyesap sedikit isi gelasnya, Mesih berujar dengan mimik muka serius. "Mayang. Ini bukan jamu untuk awet muda. Dari aromanya saja aku tahu, ini campuran kunyit dan akar biduri. Biasanya ramuan seperti itu digunakan untuk KB alami. Mungkin ini penyebab kalian belum juga memiliki keturunan."

Tapi sayangnya, sampai saat ini, Mayang masih mengkonsumsi jamu tersebut. Ia lebih mempercayai sang mertua dari pada tetangga yang menurutnya sok tahu itu.

Kata suaminya, Ibu Edi sangat menyayangi Mayang meski mereka tak pernah bertemu. Tapi, ia hanya bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan cara mengirimkan barang-barang untuk Mayang. Alasannya tak ada lain. Seperti yang Edi sebutkan sebelumnya, walau mertuanya itu juga memiliki niat untuk mengunjungi Mayang, apalagi Ibu Edi sudah cukup berumur. Pasti ia tak mau orang tuanya itu kesulitan saat di jalan.

Jadi, mana mungkin mertua yang sangat perhatian dan menyayanginya itu tak menginginkan cucu dari Mayang dan Edi bukan?

Setelah menghela napas keras, Mayang kini menarik kakinya, ia biarkan Edi rebahan tanpa alas kepala. Lalu, Mayang menggeser pantat ke tepi dan beranjak meninggalkan suaminya.

"Ke mana Yang? Kau belum mengikis ketombe di kepalaku,” keluh Edi.

Benar. Sedari tadi mayang hanya memainkan rambut Edi dengan menyelipkan jemari di antara rambut suaminya saja. Ia lebih fokus dengan pikirannya sendiri akibat komentar yang tak mengenakkan dari lelaki pendamping hidupnya itu.

"Mau ambil cermin sebentar. Melihat keriput." Mayang ingin memastikan kebenaran dari perkataan suaminya.

Benar saja, begitu cermin berbingkai rotan ia hadapkan ke wajah. Mayang melihat dengan jelas garis-garis yang dimaksud Edi. Dan parahnya, guratan-guratan itu bukan hanya di bagian mata saja, melainkan pada dahi dan lehernya juga. Ia jengkel, tapi tak tahu apa lagi yang harus ia gunakan untuk menghilangkan tanda penuaannya itu.

Jika dipikir lagi, sebenarnya wajar kerutan itu mulai ada di usia Mayang yang sudah hampir memasuki kepala lima sekarang. Tapi, pikiran untuk kehilangan Edi begitu sangat menyiksanya. Kini Mayang terduduk di lantai beralas tikar purun, menyembunyikan muka di antara dua lutut. Ia merasa begitu putus asa.

Edi yang begitu yakin Mayang mulai terpengaruh dengan perkataannya tadi, ikut menyusul ke dalam. Dilihatnya posisi sang istri yang sudah bisa ditebak dalam keadaan menangis, membuatnya wajib melancarkan rencana selanjutnya.

Terlebih dulu, Edi ke kamar. Mengambil tas anyaman rotan yang tergantung di sudut ruangan. Lalu, ke luar dan duduk bersila di hadapan Mayang.

"Sebenarnya aku punya titipan Ibu yang lain."

Mayang mengangkat kepala dan menyeka pipinya yang basah saat sang suami terdengar akan berbicara serius.

"Apa? Apa itu jamu lain agar aku bisa tetap awet muda?" tanyanya penuh harap.

"Sepertinya begitu. Ibu juga menggunakan ini. Tapi, karena aku bercerita keadaanmu sebelum pulang tadi, ia dengan senang hati memberikannya padamu." Edi mengeluarkan sebuah buntilan kain kecil berwarna hitam.

"Apa kau melihat keriput ini sudah lama?" Wanita itu memastikan. Sebelumnya ia jarang bercermin, hanya sesekali. Membubuhkan bedak rempah pun, hanya dengan meraba wajahnya saja.

Edi mengangguk sambil merengut. Istrinya semakin tak keruan.

Mayang langsung merebut buntilan dari suaminya dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Ia senang, lelaki itu sudah mendapat solusi untuk keresahan hatinya.

Begitu dibuka, kening Mayang malah berkerut. Botol kecil seukuran telunjuk di tangannya itu sudah bisa di pastikan isinya minyak. Bukan jamu. Bagaimana caranya minyak yang isinya lebih dari separuh itu bisa membuat cantik dan awet muda? Sungguh, menurut Mayang itu tak masuk akal.

"Jika kau bersedia menggunakan itu, aku akan memberi tahu syaratnya," ujar Edi sambil menarik naik satu alisnya.

Sedangkan Mayang masih bingung memerhatikan botol di tangannya.

Bab 3

"Syarat seperti apa?" Ia menatap lekat wajah suaminya.

Edi menghela napas sejenak. "Sudah kukatakan jika kau setuju akan kuberi tahu. Bagaimana? Apa kau setuju?” Sangat jelas, Edi terdengar memaksa.

"Apa saja yang kudapat selain jadi cantik dan awet muda?" Mayang begitu antusias hingga penasaran. Ia tak mau jika nanti keputusannya membuat penyesalan dikemudian hari.

"Kamu juga akan mendapat hidup abadi Mayang. Kau banyak memiliki kesempatan untuk menikmati hidup. Bahkan jika nanti aku mati lebih dulu." Edi mengatakan dengan pasti dan meyakinkan. Matanya menyala dengan penuh semangat.

Terang saja Mayang percaya, dengan berbinar ia sudah membayangkan kehidupannya yang akan datang. Jika benar ia akan Abadi, ia tak perlu takut lagi memikirkan kematian. Ia bukan hanya bisa menjumpai anak cucu, namun juga cicit-cicitnya kelak.

"Tentu aku mau. Eh, tapi ..., kenapa kau tak menggunakannya juga? Kita bisa hidup lama bersama."

Suaminya mengulum senyum dan melontarkan bualan. "Aku juga sudah menggunakannya. Kau saja yang tak tahu umurku yang sebenarnya."

Mayang masih saja berpikir, ada yang aneh dengan kalimat suaminya. Saat ini, ia kembali menimbang untuk memutuskan.

"Bagaimana? Mau dipakai sekarang?" lanjutnya.

Dengan tersenyum Mayang mengangguk. Rasa ragu wanita itu luntur seketika saat Edi bertanya smabil tersenyum. Tak ada suami yang akan melakukan hal buruk terhadap istrinya, bukan?

Pertama-tama Edi meminta kembali botol dari tangan Mayang dan membuka penutupnya, menginstruksi  Mayang agar membuka mulut dengan kepala yang sedikit bertengadah. lalu, perlahan ia menuangkan minyak ke mulut sang istri. Hanya beberapa tetes. Setelah ritual itu. Wajah Edi tampak sangat senang. Ia juga terlihat menghela napas lega, seakan ada beban yang terlepas dari rongga dadanya.

Dan bodohnya, Mayang tak menaruh curiga sedikit pun saat menyadari hal itu.

"Sebelum kau tahu syaratnya, kau harus tahu tentang minyak ini Yang. ini adalah minyak kuyang. Apa kau pernah dengar temtang ini?" Edi memastikan sambil menyeringai.

Mayang membeliak. Ia merasa jadi manusia paling bodoh sekarang, sebab tak menanyakan hal itu lebih awal. Dan hanya memikirkan keuntungan yang ia dapat tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain yang menimbulkan risiko.

Wanita paruh baya itu yakin, Edi pasti juga berbohong bahwa dia juga menggunakan minyak tersebut. Ah, hal ini lah yang terasa mengganjal aneh dipikirannya tadi. Mayang benar-benar bodoh.

Minyak kuyang biasanya hanya digunakan oleh perempuan. Minyak tersebut pun bukan membuat orang hidup abadi, namun tepatnya susah mati. Selain itu, penggunanya akan dituntut terus menerus mencari darah wanita yang melahirkan atau janin untuk dijadikan makanan. Mayang bergidik. Apa ia akan jadi mengerikan seperti itu setelah ini?

"Apa kepalaku akan terlepas dari badan saat ini juga?" Dengan polosnya ia bertanya seraya meraba leher. Ekspresi wajah Mayang juga terlihat takut. Iatak bisa membayangkan bagaimana rasanya kepala dan isi perut meninggalkan tubuh.

"Tidak sekarang. Itu akan mulai terjadi jika kau memenuhi syaratnya. Setelah menelan minyak tadi, kau sudah tak boleh bersyahadat!"

Alis Mayang tersentak bersamaan. Dan Ia lagi-lagi membeliak.

"Astagfirullah! Kau menukar tauhidku dengan ini Edi? Tega sekali kau!" Dada wanita itu mulai sesak, tangan kanannya ia letakkan di sana. Penglihatan Mayang pun mulai samar sebab matanya kini mulai berembun.

"Selalu ada harga untuk setiap keinginan Mayang. Kau yang bodoh, tak tahu itu!" Edi mengatakannya dengan jengkel.

"Kau mengelabuiku! Aku tak mau melakukannya. Kau suami biadab Edi! Sungguh aku tak mau melakukannya. Ini gila!" Teriak Mayang sambil mulai menangis.

"Aargh!"

Sesaat kemudian, Mayang tiba-tiba mengerang kesakitan. Perutnya perih seperti disayat-sayat. Dua tangannya sekarang memeluk perut.

"Jika kau tetap menentang. Minyak yang sudah kau telan tadi, akan mulai menggerogoti organ dalammu. Itu reaksi dari kalimat istigfarmu tadi dan kau pasti sudah tahu, kau tidak akan mati walau isi perutmu sudah membusuk. Bayangkan saja Sendiri.” Ia bergidik sebentar. “Ya, selain syahadat, orang yang sudah menelan minyak kuyang harus menanggalkan keislamannya,” lanjut Edi, ia menerangkannya secara detail tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Bangsat kau Edi! Kenapa tak mengatakan semuanya dari awal?” Sekarang Mayang semakin geram.

Edi yang merasa terhina jelas saja marah. Tangannya terkepal langsung ia layangkan ke wajah Mayang yang berada di hadapannya. Terang saja, istrinya itu langsung terseruduk ke lantai. Bukan hanya keriput di tepi matanya sekarang. Tapi, juga lebam.

"Ingat! Itu maumu Mayang. Aku cuma membantu dan malah kau sumpahi. Dasar istri tak tahu terima kasih. Jika bukan aku, tak ada orang yang mau menikahi jandanya Jali. Kau tahu! Begitu pun kau tak bersyukur!” Edi meradang. Suaranya lantang hingga mengundang beberapa tetangga datang.

Tulang pipi mayang bekas ditinju berdenyut. Namun hatinya lebih terasa sakit saat mendengar kalimat hinaan itu terlontar dari mulut suaminya.

Ya, Mayang tahu. Meski tak Edi katakan. Semuanya benar. Mana ada yang mau menikahi jandanya Jali selain dia. Mantan suaminya dulu yang mati mengenaskan setelah diarak dan dirajam massa sebab tertangkap basah menggauli perawan desa sebelah. Dan itu menyisakan aib yang seakan ditempel tepat di wajah Mayang. Seolah dialah penyebab melencengnya perangai mendiang suaminya itu. Sungguh miris jika diingat kembali. Dan sangat menyedihkan jika setiap perselingkuhan seorang suami, selalu istri yang dikatakan jadi penyebabnya dan harus menanggung hasil perbuatan yang bahkan Mayang pun tak pernah tahu dimulai sejak kapan.

"Edi, kau apa kan Mayang! Astagfirullah ...."

Mesih juga datang, hanya ia tetangga yang berani masuk dan langsung mendekat mengangkat wajah Mayang. Selama bertetangga dengan pasangan itu, ia tak pernah mendengar suami istri tersebut beradu mulut, apa lagi sampai terjadi kekerasan seperti ini.

Edi dengan cepat menyembunyikan minyak kuyang yang masih ada di lantai sebelum Mesih mengalihkan pandangan dari Mayang. Ia tak ingin urusan ini jadi panjang jika ada tetangga yang tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan. Bisa-bisa ia akan bernasib sama seperti mendiang suami Mayang.

"Maaf Mayang. Aku khilaf. Sungguh, aku hanya sedang banyak pikiran. Maaf aku tak bisa mengontrol diri dan menjadikanmu pelampiasan." Tentu saja lelaki itu bersandiwara. Ia tak mau para tetangga yang ikut bercokol di pintu tahu kejadian sebenarnya.

Mayang yang sudah terlanjur sakit hati pun, juga tak ingin buka suara. Percuma. Sampai berbusa mulitnya untuk menjelaskan pun sudah tak berguna. Ia sudah terlanjur menjadi iblis sekarang. Tak ada hal yang bisa Mayang lakukan untuk mencegahnya, bahkan jika ia mengadu pada Mesih, tetangganya yang sudah uzur itu. Mayang kini hanya bisa terisak menahan sakit dan menyesali kebodohannya.

Ya, dia bodoh. Terlalu percaya dengan Edi. Seandainya tahu akan begini, Mayang lebih memilih berwajah tua seperti seharusnya, meski nanti berujung ditinggalkan sang suami.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED