Api di pucuk obor bergoyang-goyang ditingkahi oleh angin. Sementara itu, di depan gubuk kayu, dua lelaki saling tunjuk dan berseteru. Satu sama lain di antara mereka tak ada yang mau mengalah. Urat leher terlohat jelas membiru, berteriak, sama-sama menolak dan bertahan dengan keinginannya masing-masing. Keduanya sama-sama berkepala batu.
“Aku harus mengurus keluargaku! Sebagai adik, sudah sepantasnya kaulah yang mengurus Umak. Lagi pula, kau belum berkeluarga. Ini kesempatanmu untuk balas budi.” Terlontar kalimat tegas yang diucapkan salah satunya.
“Tapi Bang, kau juga tahu. Pekan depan keluarga Liyah memintaku datang melamar. Aku juga ingin memiliki masa depan. Punya anak istri seperti yang lain! Mana mungkin terus-terusan jadi budak Umak, yang sudah membusuk begitu. Aku pun jijik mengurusnya! Kenapa tak Abang pinta saja Bang Mardi atau Bang Oman, yang mengurusnya!” Midan menyahuti dengan teriakan. Jelas ia tampak geram.
Terang saja gigi lelaki yang wajahnya lebih sangar di hadapan Midan itu bergemeretak. Mana bisa ia meminta dua saudaranya yang lebih tua mengurus Umak. Sementara keduanya itulah yang selama ini mengirimi beras berkarung-karung untuk Ibu mereka itu, agar bisa terus makan.
Sabarnya tentu sudah habis. Ia juga lelah membujuk Adik bungsunya dengan perkataan. Tanpa pikir panjang, kini tinjunya yang mengayun tepat mengenai tulang rahang Midan. Jemarinya berdenyut, ia yakin pukulannya cukup keras. Pasti Midan setelah ini akan menuruti perintahnya. Jika tidak, lelaki tersebut tak segan memberi bogemnya sekali lagi.
“Jangan jadi anak durhaka! Ingat, Umak seperti itu gara-gara kau yang tak lahir sebagai perempuan!” teriaknya penuh amarah.
Lalu, Lelaki yang katanya bergelar Abang itu mencabut obor yang terikat pada tiang pondok. Pergi. Melenggang angkuh tanpa niat kembali lagi. Bagaimanapun, yang dilakukannya sekarang adalah pilihan terbaik bagi keluarganya.
Benar, bukan ia masa bodoh dengan keadaan orang tuanya itu, hanya saja saat ini mendahulukan tanggung jawab pada anak istrinya jauh lebih penting.
Midan melenguh dalam gelap. Rahangnya sebelah kirinya terasa nyeri. Tapi, segumpal daging dalam dadanya lebih sakit lagi. Hanya karena ia miskin dan anak paling bungsu, bisa diperlakukan seenaknya begitu. Para Abangnya bahkan tak ada yang peduli dengan perasaannya. Dengan kebutuhannya.
Meski begitu, Midan masih bersyukur ia tak terlahir sebagai perempuan. Jika iya, dia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya menjadi pengganti ilmu yang dianut oleh sang Ibu.
“Jika bisa memilih pun, aku tak ingin lahir dari rahim wanita iblis itu! Cuih!” lirihnya sambil meludah cairan amis dan asin yang mengucur dari geraham akibat kena tinju tadi. Midan melakukannya lebih dari dua kali sampai rasa tersebut hilang.
“Midan! Uy, Midan! Umak sudah lapar! Mana nasinya?” Suara parau dari dalam sudah berteriak menagih jatah makannya.
Terang saja Midan tambah geram. Pintu pondok yang dibangun seadanya itu memang sedari tadi sedikit terbuka, jadi sekalian saja Midan meluapkan pelampiasan kemarahannya. Ia menendang keras hingga terbuka lebar dan membentur dinding kayu yang papannya masih berkontur kasar, tak diketam.
Suara nyaring yang ditimbulkan sama sekali tak membuat Ramiah terkejut. Mungkin, ia sudah biasa dengan hal itu atau memang ia tak ingin ambil pusing dengan polah sang anak. Ya, menurut Ramiah itu bisa saja balasan setimpal baginya selain jadi kumpulan daging busuk yang terpaksa dimasukkan dalam bak oleh anaknya, supaya tubuh yang sudah lebur tak berbentuk itu tidak berceceran.
Dulu, saat suaminya masih ada, kehidupannya bahkan bisa dikatakan jauh lebih buruk. Ia bukan hanya mendapat kekerasan fisik, tapi juga luka batin yang luar biasa.
Benar bukan? Di belahan dunia manapun, mana ada seorang istri yang mampu bertahan jika pasangannya sudah berpindah hati? Hingga di ujung keputusasaan Ramiah memilih satu jalan yang membuatnya menyesal hingga sekarang.
Midan datang dari dapur membawa periuk yang seluruh bagian luarnya menghitam. Ia mendekat ke arah Umak-nya dengan bergidik dan sambil menutup hidung menggunakan bagian leher kaus lusuhnya. Meskipun sudah begitu, aroma busuk masih juga ter-hidu. Membuat perut bergejolak mual.
Bahkan dulu, saat awal-awal mengurus Umak, berhadapan seperti ini, ia pasti sudah memuntahkan isi perutnya.
“Ayo Midan. Suapi aku. Jangan melamun! Aku sudah sangat lapar!” Ramiah membuka mulutnya lebar.
Ya, tubuh yang hampir lebur dengan hanya kepala yang tersisa utuh itu, masih bisa bersuara dengan jelas. Jiwa Umak Midan tak akan bisa meninggalkan jasad busuknya sebelum mendapat pewaris ilmu.
Nasi yang dikepal Midan saat ini masih hangat, sebab setelah matang tadi tetap dibiarkan di atas tungku yang masih menyisakan bara. Midan berulang kali mengepalkannya tanpa lauk. Lalu, ia suapkan berulang kali ke wanita yang wajahnya masih tampak muda itu. Midan harus lebih cepat mengepal, ia sudah tak heran jika Umak-nya itu makan seperti kesetanan. Masuk terus ke mulut, begitu lahap dengan kunyahan cepat. Lagi. Dan lagi. Hingga nasi yang seperiuk penuh habis dalam sekejap.
“Jangan lupa. Langsung masak lagi setelah ini!” perintah Ramiah sesaat sebelum Midan kembali ke dapur untuk membersihkan tangan.
Lelaki itu mendengus kesal. Belum juga nasi seperiuk tadi berubah jadi kotoran, sudah disuruh masak lagi. Ugh! Tolong jangan membayangkan bagaimana bentuknya kotoran yang keluar dari tubuh yang sudah busuk itu! Midan memegang perut menahan mual. Ia sendiri sampai tak berselera makan saat mengurus orang tuanya tersebut.
Sebelumnya, di mata Midan, Umak adalah ibu terbaik. Dengan wajah cantiknya yang awet muda, Ibu dari empat orang anak lelaki itu begitu mudah mendapatkan uang sebagai penyanyi panggung. Saweran yang ia dapat sehabis tampil, selalu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka setelah tulang punggung di keluarga tersebut memilih menikahi wanita lain dan mengabaikan tanggung jawabnya.
Namun, semua berubah semenjak orang kampung tahu, Ramiah penganut ilmu yang bisa membuatnya menjadi kuyang. Ilmu yang wajib dipenuhi dahaganya dengan darah-darah dari perempuan yang melahirkan serta bayi baru lahir.
Orang-orang yang sudah dikuasai emosi datang dengan geram, mengamuk membabi buta membakar rumah mereka, setelah itu mengusir satu keluarga dari kampung tersebut. Ramiah hanya bisa pasrah saat anak tertua mengusulkan untuk mengasingkannya ke hutan. Ia yakin, kabar yang dibawa angin lebih cepat menyebar dan seluruh perkampungan di sekitar kediamannya akan tahu tentang hal itu. Jika Ramiah bersikeras, akan sulit bagi wanita tersebut untuk memulai kehidupan baru di kampung lain.
Dan disini lah Ramiah sekarang. Dalam tempat yang dibangun empat putraya. Temoat ysng sebenarnya tak layak disebut rumah, di tengah hutan menanti ajal. Berharap putra bungsunya mau bermurah hati mencarikan perempuan untuk ia wariskan ilmu kuyang.
Tahun 1991
Langit membentangkan teriknya siang itu. Dalam rumah kayu beratap seng, udara terasa sangat menyengat. Jadi, penghuninya yang merupakan Pasangan suami istri beda usia itu, memilih bercengkerama di beranda. Sambil berharap ada semilir angin yang bisa mengurangi sedikit rasa tak nyaman pada tubuh mereka yang kegerahan.
Untungnya, sebatang pohon ketapang yang rimbun di halaman membuat sejuk keadaan. Sesekali, Mayang masih mengibaskan kipas yang terbuat dari anyaman batang purun ke arah leher mengeringkan keringat yang cukup mengganggu di area tersebut.
"Yang. Pinggir matamu, sepertinya mulai berkeriput." Edi yang berbaring di paha Mayang berkomentar. Sambil memilin anak rambut yang mencuat di tepi telinga istrinya.
"Benarkah begitu?" Ada nada kecewa dalam pertanyaan Mayang.
Padahal, sebulan terakhir ia telah rutin menggunakan bedak dingin bercampur rempah yang dikirim Ibu mertuanya.
Jelas saja, meski kalimat Edi terdengar biasa, hal ini cukup membuat nyeri di dada Mayang. Ia berusia 15 tahun lebih tua dari sang suami. Jika yang di katakan Edi benar. Berarti ia harus lebih rajin melakukan perawatan dari biasanya. Ia tak ingin suaminya itu melirik wanita yang lebih muda atau bahkan berpaling darinya.
Edi dan Mayang baru menikah setahun lalu. Dan selama masa pernikahan mereka itu, Mayang tak pernah sekalipun bertemu mertuanya. Mereka tinggal di perkampungan. Rumah yang mereka tempati saat ini, merupakan peninggalan mendiang suami Mayang sebelumnya. Mayang pun merupakan yatim piatu. Jadi, begitu ada lelaki berusia jauh lebih muda darinya datang melamar, ia tak menolak.
Suami Mayang itu, sejak dulu bekerja di seberang sungai, tempat yang sama dengan kediaman mertuanya. Untuk ke sana memakan waktu sekitar dua jam perjalanan menggunakan perahu motor.
Pernah suatu kali Mayang mengutarakan keinginannya untuk bertemu Ibu dari Edi. Sekedar berkenalan atau sekalian mengurus perbekalan makan suaminya sebelum bekerja. Namun, Edi tak memberi izin. Akses jalan masih sulit. Begitu alasan suaminya. Lagi pula pekerjaan Edi tak terlalu berat katanya, ia pun masih bisa mengatasinya urusan perutnya sendiri meski tak bersama Mayang.
Edi hanya pulang seminggu sekali ke rumah. Seperti hari ini, ia akan membawa banyak kiriman dari Ibunya. Seperti padi, sayur, ikan asin, termasuk bedak rempah dan jamu untuk perawatan Mayang.
Ah, benar. Bicara tentang jamu. Ada hal yang aneh sempat dikatakan Mesih--seorang Nenek, tetangga paling dekat dari Mayang. Saat Mayang di beranda sendirian meminum jamu pemberian mertuanya minggu lalu, Mesih yang kebetulan lewat cukup penasaran. Ia yang terbilang berpengalaman dengan berbagai ramuan itu berucap juga ingin mencicipi.
Mayang terkekeh kala itu. "Apa Ninik juga mau awet muda?" kelakarnya.
Mayang mengangsurkan gelasnya yang berisi sedikit jamu pada Mesih yang kini ikut duduk di lantai kayu beralas tikar purun.
"Siapa yang tahu bukan? Kalau aku bisa muda lagi, mungkin masih laku." Sahut Mesih dengan gelak tawa yang tak mau kalah.
Setelah menyesap sedikit isi gelasnya, Mesih berujar dengan mimik muka serius. "Mayang. Ini bukan jamu untuk awet muda. Dari aromanya saja aku tahu, ini campuran kunyit dan akar biduri. Biasanya ramuan seperti itu digunakan untuk KB alami. Mungkin ini penyebab kalian belum juga memiliki keturunan."
Tapi sayangnya, sampai saat ini, Mayang masih mengkonsumsi jamu tersebut. Ia lebih mempercayai sang mertua dari pada tetangga yang menurutnya sok tahu itu.
Kata suaminya, Ibu Edi sangat menyayangi Mayang meski mereka tak pernah bertemu. Tapi, ia hanya bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan cara mengirimkan barang-barang untuk Mayang. Alasannya tak ada lain. Seperti yang Edi sebutkan sebelumnya, walau mertuanya itu juga memiliki niat untuk mengunjungi Mayang, apalagi Ibu Edi sudah cukup berumur. Pasti ia tak mau orang tuanya itu kesulitan saat di jalan.
Jadi, mana mungkin mertua yang sangat perhatian dan menyayanginya itu tak menginginkan cucu dari Mayang dan Edi bukan?
Setelah menghela napas keras, Mayang kini menarik kakinya, ia biarkan Edi rebahan tanpa alas kepala. Lalu, Mayang menggeser pantat ke tepi dan beranjak meninggalkan suaminya.
"Ke mana Yang? Kau belum mengikis ketombe di kepalaku,” keluh Edi.
Benar. Sedari tadi mayang hanya memainkan rambut Edi dengan menyelipkan jemari di antara rambut suaminya saja. Ia lebih fokus dengan pikirannya sendiri akibat komentar yang tak mengenakkan dari lelaki pendamping hidupnya itu.
"Mau ambil cermin sebentar. Melihat keriput." Mayang ingin memastikan kebenaran dari perkataan suaminya.
Benar saja, begitu cermin berbingkai rotan ia hadapkan ke wajah. Mayang melihat dengan jelas garis-garis yang dimaksud Edi. Dan parahnya, guratan-guratan itu bukan hanya di bagian mata saja, melainkan pada dahi dan lehernya juga. Ia jengkel, tapi tak tahu apa lagi yang harus ia gunakan untuk menghilangkan tanda penuaannya itu.
Jika dipikir lagi, sebenarnya wajar kerutan itu mulai ada di usia Mayang yang sudah hampir memasuki kepala lima sekarang. Tapi, pikiran untuk kehilangan Edi begitu sangat menyiksanya. Kini Mayang terduduk di lantai beralas tikar purun, menyembunyikan muka di antara dua lutut. Ia merasa begitu putus asa.
Edi yang begitu yakin Mayang mulai terpengaruh dengan perkataannya tadi, ikut menyusul ke dalam. Dilihatnya posisi sang istri yang sudah bisa ditebak dalam keadaan menangis, membuatnya wajib melancarkan rencana selanjutnya.
Terlebih dulu, Edi ke kamar. Mengambil tas anyaman rotan yang tergantung di sudut ruangan. Lalu, ke luar dan duduk bersila di hadapan Mayang.
"Sebenarnya aku punya titipan Ibu yang lain."
Mayang mengangkat kepala dan menyeka pipinya yang basah saat sang suami terdengar akan berbicara serius.
"Apa? Apa itu jamu lain agar aku bisa tetap awet muda?" tanyanya penuh harap.
"Sepertinya begitu. Ibu juga menggunakan ini. Tapi, karena aku bercerita keadaanmu sebelum pulang tadi, ia dengan senang hati memberikannya padamu." Edi mengeluarkan sebuah buntilan kain kecil berwarna hitam.
"Apa kau melihat keriput ini sudah lama?" Wanita itu memastikan. Sebelumnya ia jarang bercermin, hanya sesekali. Membubuhkan bedak rempah pun, hanya dengan meraba wajahnya saja.
Edi mengangguk sambil merengut. Istrinya semakin tak keruan.
Mayang langsung merebut buntilan dari suaminya dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Ia senang, lelaki itu sudah mendapat solusi untuk keresahan hatinya.
Begitu dibuka, kening Mayang malah berkerut. Botol kecil seukuran telunjuk di tangannya itu sudah bisa di pastikan isinya minyak. Bukan jamu. Bagaimana caranya minyak yang isinya lebih dari separuh itu bisa membuat cantik dan awet muda? Sungguh, menurut Mayang itu tak masuk akal.
"Jika kau bersedia menggunakan itu, aku akan memberi tahu syaratnya," ujar Edi sambil menarik naik satu alisnya.
Sedangkan Mayang masih bingung memerhatikan botol di tangannya.
"Syarat seperti apa?" Ia menatap lekat wajah suaminya.
Edi menghela napas sejenak. "Sudah kukatakan jika kau setuju akan kuberi tahu. Bagaimana? Apa kau setuju?” Sangat jelas, Edi terdengar memaksa.
"Apa saja yang kudapat selain jadi cantik dan awet muda?" Mayang begitu antusias hingga penasaran. Ia tak mau jika nanti keputusannya membuat penyesalan dikemudian hari.
"Kamu juga akan mendapat hidup abadi Mayang. Kau banyak memiliki kesempatan untuk menikmati hidup. Bahkan jika nanti aku mati lebih dulu." Edi mengatakan dengan pasti dan meyakinkan. Matanya menyala dengan penuh semangat.
Terang saja Mayang percaya, dengan berbinar ia sudah membayangkan kehidupannya yang akan datang. Jika benar ia akan Abadi, ia tak perlu takut lagi memikirkan kematian. Ia bukan hanya bisa menjumpai anak cucu, namun juga cicit-cicitnya kelak.
"Tentu aku mau. Eh, tapi ..., kenapa kau tak menggunakannya juga? Kita bisa hidup lama bersama."
Suaminya mengulum senyum dan melontarkan bualan. "Aku juga sudah menggunakannya. Kau saja yang tak tahu umurku yang sebenarnya."
Mayang masih saja berpikir, ada yang aneh dengan kalimat suaminya. Saat ini, ia kembali menimbang untuk memutuskan.
"Bagaimana? Mau dipakai sekarang?" lanjutnya.
Dengan tersenyum Mayang mengangguk. Rasa ragu wanita itu luntur seketika saat Edi bertanya smabil tersenyum. Tak ada suami yang akan melakukan hal buruk terhadap istrinya, bukan?
Pertama-tama Edi meminta kembali botol dari tangan Mayang dan membuka penutupnya, menginstruksi Mayang agar membuka mulut dengan kepala yang sedikit bertengadah. lalu, perlahan ia menuangkan minyak ke mulut sang istri. Hanya beberapa tetes. Setelah ritual itu. Wajah Edi tampak sangat senang. Ia juga terlihat menghela napas lega, seakan ada beban yang terlepas dari rongga dadanya.
Dan bodohnya, Mayang tak menaruh curiga sedikit pun saat menyadari hal itu.
"Sebelum kau tahu syaratnya, kau harus tahu tentang minyak ini Yang. ini adalah minyak kuyang. Apa kau pernah dengar temtang ini?" Edi memastikan sambil menyeringai.
Mayang membeliak. Ia merasa jadi manusia paling bodoh sekarang, sebab tak menanyakan hal itu lebih awal. Dan hanya memikirkan keuntungan yang ia dapat tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain yang menimbulkan risiko.
Wanita paruh baya itu yakin, Edi pasti juga berbohong bahwa dia juga menggunakan minyak tersebut. Ah, hal ini lah yang terasa mengganjal aneh dipikirannya tadi. Mayang benar-benar bodoh.
Minyak kuyang biasanya hanya digunakan oleh perempuan. Minyak tersebut pun bukan membuat orang hidup abadi, namun tepatnya susah mati. Selain itu, penggunanya akan dituntut terus menerus mencari darah wanita yang melahirkan atau janin untuk dijadikan makanan. Mayang bergidik. Apa ia akan jadi mengerikan seperti itu setelah ini?
"Apa kepalaku akan terlepas dari badan saat ini juga?" Dengan polosnya ia bertanya seraya meraba leher. Ekspresi wajah Mayang juga terlihat takut. Iatak bisa membayangkan bagaimana rasanya kepala dan isi perut meninggalkan tubuh.
"Tidak sekarang. Itu akan mulai terjadi jika kau memenuhi syaratnya. Setelah menelan minyak tadi, kau sudah tak boleh bersyahadat!"
Alis Mayang tersentak bersamaan. Dan Ia lagi-lagi membeliak.
"Astagfirullah! Kau menukar tauhidku dengan ini Edi? Tega sekali kau!" Dada wanita itu mulai sesak, tangan kanannya ia letakkan di sana. Penglihatan Mayang pun mulai samar sebab matanya kini mulai berembun.
"Selalu ada harga untuk setiap keinginan Mayang. Kau yang bodoh, tak tahu itu!" Edi mengatakannya dengan jengkel.
"Kau mengelabuiku! Aku tak mau melakukannya. Kau suami biadab Edi! Sungguh aku tak mau melakukannya. Ini gila!" Teriak Mayang sambil mulai menangis.
"Aargh!"
Sesaat kemudian, Mayang tiba-tiba mengerang kesakitan. Perutnya perih seperti disayat-sayat. Dua tangannya sekarang memeluk perut.
"Jika kau tetap menentang. Minyak yang sudah kau telan tadi, akan mulai menggerogoti organ dalammu. Itu reaksi dari kalimat istigfarmu tadi dan kau pasti sudah tahu, kau tidak akan mati walau isi perutmu sudah membusuk. Bayangkan saja Sendiri.” Ia bergidik sebentar. “Ya, selain syahadat, orang yang sudah menelan minyak kuyang harus menanggalkan keislamannya,” lanjut Edi, ia menerangkannya secara detail tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Bangsat kau Edi! Kenapa tak mengatakan semuanya dari awal?” Sekarang Mayang semakin geram.
Edi yang merasa terhina jelas saja marah. Tangannya terkepal langsung ia layangkan ke wajah Mayang yang berada di hadapannya. Terang saja, istrinya itu langsung terseruduk ke lantai. Bukan hanya keriput di tepi matanya sekarang. Tapi, juga lebam.
"Ingat! Itu maumu Mayang. Aku cuma membantu dan malah kau sumpahi. Dasar istri tak tahu terima kasih. Jika bukan aku, tak ada orang yang mau menikahi jandanya Jali. Kau tahu! Begitu pun kau tak bersyukur!” Edi meradang. Suaranya lantang hingga mengundang beberapa tetangga datang.
Tulang pipi mayang bekas ditinju berdenyut. Namun hatinya lebih terasa sakit saat mendengar kalimat hinaan itu terlontar dari mulut suaminya.
Ya, Mayang tahu. Meski tak Edi katakan. Semuanya benar. Mana ada yang mau menikahi jandanya Jali selain dia. Mantan suaminya dulu yang mati mengenaskan setelah diarak dan dirajam massa sebab tertangkap basah menggauli perawan desa sebelah. Dan itu menyisakan aib yang seakan ditempel tepat di wajah Mayang. Seolah dialah penyebab melencengnya perangai mendiang suaminya itu. Sungguh miris jika diingat kembali. Dan sangat menyedihkan jika setiap perselingkuhan seorang suami, selalu istri yang dikatakan jadi penyebabnya dan harus menanggung hasil perbuatan yang bahkan Mayang pun tak pernah tahu dimulai sejak kapan.
"Edi, kau apa kan Mayang! Astagfirullah ...."
Mesih juga datang, hanya ia tetangga yang berani masuk dan langsung mendekat mengangkat wajah Mayang. Selama bertetangga dengan pasangan itu, ia tak pernah mendengar suami istri tersebut beradu mulut, apa lagi sampai terjadi kekerasan seperti ini.
Edi dengan cepat menyembunyikan minyak kuyang yang masih ada di lantai sebelum Mesih mengalihkan pandangan dari Mayang. Ia tak ingin urusan ini jadi panjang jika ada tetangga yang tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan. Bisa-bisa ia akan bernasib sama seperti mendiang suami Mayang.
"Maaf Mayang. Aku khilaf. Sungguh, aku hanya sedang banyak pikiran. Maaf aku tak bisa mengontrol diri dan menjadikanmu pelampiasan." Tentu saja lelaki itu bersandiwara. Ia tak mau para tetangga yang ikut bercokol di pintu tahu kejadian sebenarnya.
Mayang yang sudah terlanjur sakit hati pun, juga tak ingin buka suara. Percuma. Sampai berbusa mulitnya untuk menjelaskan pun sudah tak berguna. Ia sudah terlanjur menjadi iblis sekarang. Tak ada hal yang bisa Mayang lakukan untuk mencegahnya, bahkan jika ia mengadu pada Mesih, tetangganya yang sudah uzur itu. Mayang kini hanya bisa terisak menahan sakit dan menyesali kebodohannya.
Ya, dia bodoh. Terlalu percaya dengan Edi. Seandainya tahu akan begini, Mayang lebih memilih berwajah tua seperti seharusnya, meski nanti berujung ditinggalkan sang suami.