Bab 2

Juwita terduduk di kursi depan salah satu ruangan VIP rumah sakit tempat Hellen bekerja. Di sampingnya ada adik tingkat sekaligus sahabatnya itu. Mereka sama-sama berdoa atas keselamatan orang yang baru saja dibawa masuk ke sana. Ya, tepat seperti apa yang sedang kalian pikirkan, pria penyelamat Juwita dilarikan ke rumah sakit ini. Hellen menemukannya tergeletak pingsan saat akan menyusulnya untuk menanyakan nomor teleponnya tadi.

Astaga, Juwita semakin merasa sangat bersalah dengan pria itu. Kenapa dia bodoh sekali hingga mengabaikan orang yang telah menolongnya dari pada pria berandal tadi. Kedua tangannya tergenggam gelisah. Bahkan dia masih menggunakan jas lelaki tersebut. Sungguh dia merasa menjadi orang yang tidak tahu terima kasih sekali sekarang. Belum lagi kata pria itu tadi dia harus pulang untuk menemui anaknya yang mungkin sudah menunggunya di rumah. Pikirannya mulai melanglang ke mana-mana. Hingga dia mengambil satu kesimpulan yang pasti. Dia harus melakukan yang terbaik untuk membalas kebaikan pria yang telah menyelamatkannya.

Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Rupanya pemeriksaan telah selesai.

"Bagaimana keadaan orang itu, Mas?" tanya Hellen cepat mewakili Juwita. Mas, Hellen memanggil dokter Ari demikian karena mereka sudah dekat sejak bangku sekolah. Juwita juga tahu hal tersebut.

"Kecapekan. Sepertinya dia juga kekurangan gizi. Aku curiga sesuatu, sih, Len." Ari tampak berpikir sejenak. "Dia juga ada demam, jadi perlu dirawat seenggaknya dua hari di sini."

"Ih, yang bener kalau kasih info." Hellen memukul pundak lelaki itu.

"Bentaran, elah. Enggak sabar banget."

"Kasihan Kak Juwita ini, loh, nungguin."

"Iya. Iya. Jadi ... tadi perutnya agak keras gitu di bagian kanan bawah. Perlu tindakan lanjutan, sih, biar tahu pasti. Omong-omong keluarganya orang itu mana? Enggak ada yang ngerawat, nih?"

"Aku bakalan rawat dia dan tanggung semua biaya pengobatannya. Jadi, tolong, ya, Dok. Lakukan yang terbaik buat kesembuhan orang itu." Juwita langsung menjawab tanpa ragu dan memohon dengan sungguh-sungguh. Nah, ini baru Juwita yang Hellen kenal.

"Emangnya Kak Juwita ini siapanya pria itu?" tanya Ari dengan santai. Sepertinya dia tidak peduli dengan pakaian lusuh pria itu dan penampilan Juwita yang jauh dari kata baik-baik saja.

"Kak Ju habis ditolong sama orang itu tadi. Lihat, kan, wajahnya babak belur gitu." Hellen juga tidak habis pikir dengan temannya tersebut.

"Ah, makanya. Tapi tenang aja, Kak. Suster sedang mengobati luka dia kok."

"Iya kali, enggak." Geregetan juga Hellen kalau begini. Dia ingin mencubit ginjal pria di depannya ini.

Sedangkan Juwita, dia tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Bagaimana dia harus menghubungi kepada keluarga lelaki itu. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada anak pria itu. Bagaimana dia harus berbuat baik dan memenuhi semua kebutuhan keluarga pria tersebut selama dirawat di rumah sakit.

"Boleh masuk enggak?" tanya Juwita menyela percakapan yang lebih bisa disebut dengan 'percekcokan' antara Ari dan Hellen. Dia ingin melihat kondisi pria yang telah berjasa bagi kehormatannya itu.

"Iya, silakan. Bebas, kok. Enggak apa-apa." Ari merentangkan tangannya ke pintu cokelat itu.

Juwita pun permisi dan segera memasuki ruangan tersebut.

Di atas tempat tidur, pria tersebut terbaring dan masih belum sadarkan diri. Dengan memberanikan diri, Juwita mendekati pria itu dan duduk di kursi yang tersedia di tepi ranjang. Netranya menatap lekat wajah pria asing yang penuh lebam itu. Namanya Jamal. Dia mengetahuinya saat di kantor polisi tadi dan kembali membaca nama itu di papan nama pasien. Nama yang pantas dengan paras dan wajah tampannya meski sekarang wajah tersebut lebam dan sebagian ditutup dengan perban.

Terdengar suara ponsel berbunyi. Itu bukan dari milik Juwita. Dia langsung menoleh ke arah nakas seberang dan mendapati ada benda pipih canggih yang tergeletak di sana. Dia pun segera bangkit dan menghampirinya. Tertera nama penelepon di sana, Jevano Anak.

"Halo." Juwita mengawali percakapan. Tak ada jawaban dari seberang. Dadanya berdetak kencang. Terpikirkan tentang bagaimana keadaan anak pria tersebut yang menunggu ayahnya pulang. Dia pun mengulangi sapaannya lagi dengan nada yang sama lembutnya dengan yang pertama.

"Halo. Maaf, Anda siapa? Bisakah saya berbicara dengan Ayah saya?" tanya penelepon bernama Jevano itu.

Sopan. Juwita tersenyum di tengah suasana hatinya yang bercampur aduk. "Maaf, sebelumnya. Perkenalkan nama saya Juwita. Ayah kamu sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Kalau kamu mau ke sini, saya akan mendiktekan tempat rawatnya atau saya akan tunggu kamu di lobi."

"Ayah saya kenapa?" Suaranya terdengar tidak setenang tadi.

"Nanti saja saya akan menceritakan detailnya. Tolong kabari ibu kamu juga, ya. Ada yang perlu saya bicarakan."

"Maaf, tapi saya tidak punya ibu."

Seketika itu Juwita membeku. Astaga dia telah membuat seorang anak piatu menunggu ayahnya pulang sampai selarut ini. Pikirannya ke mana-mana. Bagaimana keadaan anak itu? Apakah dia sudah makan malam? Apakah dia butuh ayahnya dalam keadaan mendesak?

Tanpa dia sadari, satu bulir air matanya menetes. Rasa bersalah menguar di seluruh tubuhnya.

"Kamu tenang dulu, ya." Juwita mengelap pipinya yang dibasahi oleh air mata. "Kalau kamu ingin mengetahui keadaan ayah kamu, kamu bisa ke rumah sakit sekarang." Dia sengaja menawari begitu. Dia yakin bahwa anak ini bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Dari suaranya saja sudah dapat diperkirakan bahwa dia sudah remaja. Juga dengan cara berbicaranya, terdengar tegas, menunjukkan bahwa dia anak yang pintar dan tanggap.

"Iya," jawabnya singkat.

Juwita pun mulai mendiktekan letak ruang rawat Jamal. Namun, dia dihentikan.

"Rumah sakit mana?"

Juwita pun menyebutkan rumah sakit tempatnya berada sekarang. "Kamu hati-hati, ya, kemari." Dia meremas ujung bajunya dengan tangan yang berkeringat. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan tempo cepat.

"Iya. Saya tahu jalan ke sana."

"Kamu ke sini mau pakai apa?"

"Saya akan mengurusnya sendiri. Anda jangan khawatir."

Lalu sambungan telepon antara keduanya terputus setelah anak itu undur diri. Air mata Juwita kembali menetes saat melihat ke arah Jamal. Ternyata pria yang menyelamatkannya ini menanggung kewajiban tunggal atas keluarganya. Dia jadi membayangkan bagaimana perasaan anak pria ini yang bernama Jevano itu saat tahu ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Terlebih lagi, dia sudah tidak mempunyai ibu. Astaga, malang sekali.

Lagi-lagi air mata Juwita jatuh. Dia jadi merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi dengan pria ini. Bagaimana tidak, karena menolongnya pria ini malah terbaring di rumah sakit dan itu membuat anaknya khawatir.

"Maafkan saya, Pak Jamal." Juwita berkata lirih sambil menunduk dalam tangisan yang memenuhi kesunyian ruang rawat tersebut.

***

Hari ini adalah hari kedua Jamal di rawat di rumah sakit. Juwita hendak pergi untuk menjenguk pria itu setelah menyelesaikan pekerjaannya. Akan tetapi dia harus ditahan oleh video call dari mamanya. Berkali-kali Juwita harus memilin keningnya dengan ibu jari dan telunjuk. Berkali-kali pula telinganya memanas karena omelan sang mama. Ada papanya di sebelah sang mama.

"Mama enggak peduli. Pokoknya kamu harus temui cowok pilihan Mama kali ini. Udah berapa kali Mama bilang, umur kamu udah enggak muda lagi, Juwita. Kamu enggak bisa juga hidup kayak gini terus," ucap Nyonya besar keluarga Anggari itu membuat anak semata wayangnya memutar bola mata.

"Gak ada yang cocok, Mama. Juwita juga punya standar. Lagian kalau aku nikah sekarang, pekerjaanku gimana? Siapa dulu yang pengin aku jadi designer brand terkenal? Enggak gampang, loh, Ma, dapetin semua itu." Juwita tidak hanya diam. Topik ini sungguh membuatnya amat jengah. Perjodohan, kencan buta, dan pernikahan. Seperti tidak ada topik lain saja yang bisa dibahas.

Lain dengan dua wanita yang sedang bersikukuh via layar itu. Sang kepala keluarga, Tuan Anggari, hanya bisa menggeleng pelan, mendengarkan dua wanita yang sangat dia cintai mulai bercek-cok lagi. Bukan sekali atau dua kali ini terjadi. Bahkan dia sudah hafal dengan akhir percakapan mereka berdua. Dia pun memilih diam dan menyesap tehnya di samping sang istri sambil sesekali melirik ke layar untuk melihat wajah anaknya dan menikmati suasana ini dengan santai.

"Mau nyalahin Mama lagi?" Nyonya Anggari melotot nyalang. Dia bukannya sedang melampiaskan amarah. Hanya saja anaknya ini terus menentang. Dia jadi kehilangan kesabaran kalau begini.

"Enggak, Mama. Cuma, please, deh, Mama juga harus ngerti aku. Aku banyak kerjaan, Mama. Kalau sampai terbengkalai, bagaimana para klienku?"

"Ya, ampun, Juwita. Apa susahnya, sih, nurut sama Mama dan temui calon kamu?" Nyonya Anggari sungguh tak habis pikir dengan anak perempuannya itu.

"Mama juga udah tahu segalanya tentang dia? Ma, yang terakhir kali itu kelihatan banget kalau posesif. Aku gak mau. Masa mau ke kamar mandi aja dikintili."

Tuan Anggari menahan tawanya. Pundaknya dipukul dengan tidak suka oleh sang istri.

"Kok kamu ketawa, sih, Mas?"

"Itu bukan posesif lagi, Juwita. Mungkin dia dulunya stalker."

Juwita tertawa dan mengacungkan telunjuk dan ibu jarinya yang dibentuk seperti orang menembak kepada sang papa. Papanya memang tidak mengecewakan. "Ya, kan, Pa? Gak suka aku, tuh, sama pilihan Mama. Mama lihatnya cuma dari luar doang. Enggak tahu mereka gimana. Aku yang hadepin mereka cuma makan malam aja udah ogah ketemu lagi."

Nyonya Anggari menatap tajam Juwita. Masih untung hanya lewat layar. "Makanya kamu temui pilihan Mama yang satu ini biar tahu orangnya gimana."

"Ya ampun, Ma. Aku capek harus kencan buta terus sama orang yang bahkan enggak aku kenal."

"Ya, kalau kamu kenal namanya itu bukan kencan buta, sayang." Tuan Anggari memang berkepribadian santai. Ya, seperti yang kalian lihat, bahkan di situasi yang hampir memicu perang seperti ini pun beliau masih bisa berkelakar.

"Aku enggak mau kencan buta lagi, Papa." Juwita merajuk. "Ya ampun, kita ini hidup di jaman modern, loh. Masih aja, ya, keluarga kita butuh yang kayak ginian?"

"Papa kamu juga enggak selamanya bisa menanggung pekerjaan berat di kantor, Juwita. Kamu gak kasihan sama Papa?" Nyonya Anggari masih memperjuangkan pendiriannya.

"Ya udah lepas aja. Ada bawahan Papa yang bisa mengatasi semuanya. Selesai, 'kan?" Wanita dua puluh tujuh tahun itu menyandarkan punggung di kursinya. Kedua tangannya bersedekap.

"Aduh, Pa. Pusing aku sama anak kamu ini." Kini, giliran wanita paruh baya itu yang memilin kening. Dia terlihat lelah berbicara dengan anak semata wayangnya itu.

"Biarin aja, kali, Ma. Lagi pula itu yang dimau Juwita." Tuan Anggari mengedipkan satu matanya ke arah sang anak dan langsung dibalas dengan love sign ibu jari dan telunjuk.

"Ini lagi. Oke, deh. Kalau kamu enggak mau Mama suruh kencan buta, kamu bawa cowok ke hadapan Mama Papa. Kenalin cowok pilihan kamu kepada kami."

Juwita menghela napas lemas dan putus asa. Capek sekali dia. Dia kira percakapan mereka akan berakhir. Dia diam sejenak. "Mama, aku harus bilang berapa kali, sih? Aku enggak mau nikah. Aku bahkan gak tertarik sama sekali, Ma, buat nikah. Aku enggak ada waktu, Ma."

"Astaga, Ya Tuhan. Bukannya enggak ada waktu. Kamu enggak meluangkan waktu aja." Nyonya Anggari sudah tidak sabar. Anaknya ini sangat keras kepala sekali. "Ingat umur, Juwita. Papa juga harus punya penerus bukan hanya seorang pengganti. Perusahaan ini dipercayakan ke keluarga kita. Kamu enggak ingat gimana Papa kamu berusaha mempertahankan perusahaan rintisan mendiang Kakek kamu agar gak jatuh di tangan yang salah? Ini bukan sekedar karena harta tapi juga amanah."

Juwita diam. Memori di kepalanya berputar sangat cepat. Dia sangat ingat bagaimana papanya terluka karena serangan para saingan bisnis yang bahkan beberapanya adalah kerabat sendiri. Ya, dengan cara yang kotor tentu saja. Jangan ingatkan dirinya lagi tentang masalah itu. Itu membuatnya tidak bisa menahan air mata untuk tidak menggenang saat ini.

"Sudah. Sudah. Kita bicarakan tentang ini lain kali." Tuan Anggari menengahi. "Papa juga seneng, Sayang, kalau kamu segera menikah. Papa sama Mama juga pengin punya cucu dari kamu. Umur Papa sama Mama juga enggak ada yang tahu ujungnya sampai mana. Kalau kamu enggak mau sama pilihan Mama, ya, berusahalah untuk melihat sekeliling kamu. Coba buka hati kamu dikit aja. Jangan menutup diri. Pasti ada seseorang yang bisa buat kamu berpikir ulang tentang pernikahan."

Mata Juwita sudah mengeluarkan airnya sekarang. Kalau papanya sudah mengeluarkan suara, dia tidak bisa menentang. Dia tidak bisa beradu argumen dengan pria yang selalu membelanya itu. Pria yang memperjuangkan semua untuk dirinya.

"Oke. Malam ini kita sudahi sampai sini dulu. Kamu masih ada kesibukan, 'kan?"

Juwita mengangguk kecil.

"Ya, udah. Papa Mama pamit terlebih dahulu. Ada urusan yang harus kami selesaikan juga. Ini tadi Mama kamu beneran nyempetin waktu buat bicara sama kamu. Dadah, sayangnya Papa." Pria itu melambaikan tangannya ke layar.

Sambungan itu terputus, meninggalkan dirinya sendirian diruang istirahatnya. Pikirannya jadi buntu sekarang karena perkataan papanya barusan. Lalu sekarang dia harus bagaimana?

Bab 3

Juwita mendesah kasar. Kakinya menendang kaki meja terdekat. Kesal sekali rasanya. Kenapa harus membahas kejadian menyakitkan seperti itu untuk membuatnya menyerah? "Akh, kenapa harus nikah, sih?!" gerutunya dalam sepi. Dia pun meninggalkan sofa dan meja pelengkap itu untuk menuju tempat ternyaman di ruangan istirahat khususnya. Tubuhnya merebah di atas kasur yang empuk. Matanya menatap langit-langit lama. Pikirannya bercabang.

Suara dering ponsel membuatnya terbangun. Dia meraih benda pipih tersebut. Nama yang tertera di layar membuatnya mendengkus. "Kenapa telepon?" tanyanya agak judes karena masih kesal.

"Coba gue tebak. Kalau Kakak kayak gini, tuh, biasanya habis dapet pertanyaan 'kapan nikah' atau 'kamu mau sama dia enggak'. Correct me if I'm wrong." Suara itu membuat Juwita mendecak dan memutar bola mata. "Kan, gue bener. Hahaha. Mekanya, Kak. Cepetan cari gandengan sana." Tak ada jawaban dengan cepat berarti seniornya itu sedang menahan diri. Dia jadi girang kalau begini.

"Lo diem aja, ya, Hellen. Gue enggak selera debat."

"Gak ada yang ngajak debat astaga. Frustasian amat jadi orang." Nada riang gadis itu memenuhi telinga Juwita. Dia jadi tidak tega sudah menjawab dengan sewot tadi.

"Sorry. Gue beneran lagi kepikiran ini. Mana Mama bawa-bawa umur Papa lagi." Dia menghela napas. "Apa gue beneran nikah aja, ya?"

"Woy, Kak! Ya iyalah. Anda ini bagaimana. Ya emang Kakak harus nikah. Emang mau jadi perawan tua?"

"Udah keles."

Hellen terdiam. Sepertinya dia salah bicara. "Ma-maksud gue, emang mau terus-terusan gitu?" Dia menggosok telapak tangannya di atas paha. Khawatir yang diajak bicara masih sensi. Bisa tamat dia kalau mereka bertemu.

"Ya, enggak juga. Gue cuma gak bisa mikirin kalau nikah kayak gimana gitu, loh. Secara, gue enggak punya kenalan dan gue udah umur segini masih perawan," Juwita mencurahkan isi hatinya.

"Bagus, dong, Kak, masih perawan. Artinya Kakak masih terjaga." Hellen ingin melonggarkan hati sahabatnya.

"Lo pasti ngerti apa yang sebenernya gue maksud. Apalagi yang diinginkan Mama itu bukan sekedar pernikahan gue." Juwita menghela napas masygul. "Gue harus gimana."

"Buka hati, Kak. Buka hati. Siapa tahu sebenernya banyak yang udah kepingin deketi Kakak tapi Kakak malah menghindar dan gak buka pintu sama sekali."

Apa yang dikatakan Hellen sama dengan papanya tadi. Sudah lama dia tidak merasakan yang namanya jatuh cinta. Mungkin sekitar sepuluh tahun? Ah, dia hanya teringat dengan seniornya di bangku SMA yang sangat keren itu. Lalu, dia juga harus merasakan patah hati karena seniornya sudah memiliki kekasih. Itu cinta dan patah hati pertama yang harus dia rasakan secara bersamaan. Setelahnya, dia hanya mengagumi orang-orang di sekitarnya dan menolak para lelaki yang ingin menjalin hubungan kasih dengannya.

"Harus banget, ya, gue nerima Pak Karsa?" Itu adalah nama pria yang pernah menyatakan cinta kepada Juwita. Salah seorang pebisnis yang cukup disegani. Tentu saja dia juga mengajak Juwita membangun rumah tangga.

"Jangan, anjir. Ya, enggak Pak Karsa juga kali, Kak. Lo mau jadi istri pak tua kayak gitu? Ih, jangan, Kak. Dari lagatnya aja udah kelihatan kalau mata keranjang. Skandalnya banyak. Jangan, Kak. Jangan."

Juwita tertawa. "Gue juga enggak seputus asa itu juga kali." Dia merebahkan dirinya di kasur lagi. "Lo tahu, Len? Gue bahkan jadi mikir mau kawin kontrak aja."

"Lo gila, sih, Kak. Jatuh cinta beneran baru tahu rasa lo."

"Iya, gue mikir gitu juga. Terus gue enggak bisa mikir jalan keluar apa pun."

"Udah dibilang buka hati, Kak. Kakak juga cantik, kaya, rajin. Pasti banyak yang mau."

Juwita memandangi langit-langit dengan tatapan kosong. "Iya, Len. Semoga."

Semoga ada yang mau dan semoga orang itu tidak membuat hatinya sakit. Sebab, hal utama yang membuatnya menutup hati selama ini adalah dia takut patah hati lagi.

"Btw, Kak. Aku sebenarnya mau ngabari kalau Pak Jamal udah siuman. Anaknya juga langsung ke sini habis sekolah. Kakak enggak ada niatan buat ke sini apa?"

"Astaga, Hellen. Gue lupa. Oke, gue ke sana. Lo udah makan malam apa belum? Gue bawain makan malam sekalian gitu, ya, buat lo sama anaknya Pak Jamal. Pasti dia juga belum makan." Juwita menepuk pipinya sendiri. Telepon dari mamanya tadi membuat pikirannya semakin penuh. Dia sampai lupa kalau akan menjenguk pria tersebut.

Juwita segera bangkit dan merapikan penampilannya. Ingat, dia habis kayal-kayal tadi. Dia pun segera mengambil kunci mobil dan segera menuju ke rumah sakit, tempat pria itu dirawat.

***

Juwita membawa tas kertas berisikan makan malam yang dia beli saat hendak menuju ke rumah sakit. Dia sekarang sedang berdiri di lift dan menunggu gilirannya untuk keluar. Rasa capek yang ada di pikiran dan badan yang dia rasakan seharian seperti langsung hilang ketika Hellen mengabarinya tentang keadaan pria yang menolongnya itu. Berkali-kali dia merutuki dirinya sendiri karena kecerobohannya. Astaga, dia ini niat mau balas budi atau tidak, sih. Dia bahkan meragukan dirinya.

"Gimana keadaan Pak Jamal?" tanya Juwita saat melihat Hellen berdiri di depan ruang rawat pria itu. Dia menyerahkan tas kertas yang dia bawa tadi kepada sahabat yang berumur lebih muda darinya itu.

"Masih diperiksa sama Mas Ari. Tapi, kayaknya beneran butuh tindak lanjut, deh." Lalu, Hellen berisyarat dengan matanya ke kiri.

Juwita mengikuti arah isyarat Hellen. Ternyata di salah satu bangku tunggu ada seorang pemuda yang duduk dengan wajah yang tampak sangat khawatir, anak Pak Jamal. Dia pun mengangguk paham ke Hellen dan mengambil satu box dinner dari tas kertas yang dibawa Hellen. Kakinya mendekat perlahan kepada pemuda tersebut.

"Hai, Jevano?" tanya Juwita lembut. Dia duduk di sebelah pemuda itu. Tidak lupa, dia memasang senyuman paling ramah yang dia punya.

Pemuda itu menoleh dengan tatapan datar. Kedua alisnya terangkat, mempertanyakan siapa wanita di depannya itu.

Juwita mengembangkan senyumannya dan mengulurkan tangan kepada pemuda itu. "Tante Juwita." Dia mengenalkan diri lagi.

Pemuda itu tidak langsung menyambut tangan Juwita. Dia melihat wanita di hadapannya dengan tatapan penuh selidik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sudah seperti robot yang memindai sesuatu.

"Tante ini yang ditolong sama ayah kamu. Kemarin kamu sempat ketemu sebentar. Tante ini kemarin keburu pulang, ada yang cari soalnya." Hellen yang menyaksikan reaksi anak Jamal itu gemas sendiri. Enggak sabar maksudnya.

"Jevano, Tante." Pemuda tersebut menyambut tangan Juwita. Masih dengan muka datar, tanpa ekspresi kecuali gurat kekhawatiran yang sedari tadi tampak.

Juwita masih dengan senyumnya. Perlahan, dia menarik tangan Jevano dan menyerahkan kotak makan malam di tangan anak itu. "Makan dulu, ya. Tante yakin kamu belum makan malam."

"Kalau Tante? Udah makan malam?"

Pertanyaan itu sangat mendadak. Bahkan Juwita sendiri harus terdiam sesaat untuk berpikir. Di saat seperti ini, pemuda di hadapannya masih bertanya tentang keadaan orang lain. Akhirnya dia mengulaskan sebuah senyuman hangat dan mengangguk. "Belum. Tapi, enggak papa. Nanti Tante bisa makan bareng Tante itu." Dia menunjuk Hellen yang masih setia berdiri di tempatnya tadi.

Jevano mengarahkan pandangannya ke Hellen. Dia mendapatkan senyum ramah dari wanita tersebut. Namun, dia tidak membalas dan tetap bermuka datar. "Ini beneran enggak papa aku makan?"

"Iya, Jevano. Enggak papa. Itu Tante yang traktir. Tenang aja." Juwita sangat ramah.

"Enggak disuruh buat bayar dengan yang lain, 'kan?"

Seketika, kedua wanita yang mendengar pertanyaan itu terdiam. Mereka saling tatap untuk mendapatkan, setidaknya, jawaban atas pertanyaan rancu dari Jevano tersebut. Namun, nihil.

"Maksudnya?" tanya Juwita ingin kejelasan.

"Jasa, misalnya." Jevano sangat tenang saat menjawab.

Hellen, di tempatnya, menahan tawa. Pikiran mereka terlalu dewasa untuk menghadapi pertanyaan dari anak remaja. Dia pun segera menghentikan tawa yang ditahannya dengan tarikan napas dalam. Juwita kalau sedang melotot seram.

"Enggak, Jevano. Ini sebagai rasa tanggung jawab Tante aja ke kamu." Juwita berusaha untuk menjelaskan keadaannya.

"Kenapa harus merasa bertanggung jawab? Karena Ayah?"

Juwita mengangguk. "Iya. Sebagai rasa terima kasih Tante juga ke ayah kamu. Sekarang, kan, ayah kamu sedang dirawat. Jadi, sudah selayaknya kalau Tante, sedikit banyak, mengurus kamu. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ke Tante, ya."

"Hmm." Jevano mengangguk paham. Masih dengan deheman dan anggukan dingin dan datar. "Terima kasih, Tante."

Juwita tersenyum melihat reaksi pemuda itu. "Dimakan, ya." Dia mendapatkan anggukan dari Jevano. Tanpa sadar, dia mengamati setiap pergerakan pemuda itu. Dia bisa menyimpulkan bahwa Jevano adalah tipe anak yang pendiam dan patuh. Wajahnya juga sangat bisa dikatakan sedap untuk dipandang. Sama rupawannya dengan Jamal.

"Jangan lihatin aku kayak gitu, Tante. Aku jadi enggak bisa makan." Ucapan Jevano menyadarkan Juwita dari 'pengamatan' seksamanya barusan.

"Ah, iya. Maaf, ya." Lalu, dia membuang wajahnya ke mana saja asalkan tidak ke Jevano lagi. Dia segan jika harus mendapatkan teguran lagi dari pemuda itu.

"Kak Ju, jadi enggak?" Hellen mengangkat tas kertas yang ada di tangannya. Senyumannya terlihat sekali sedang mengejek Juwita.

"Iya, sini." Dengan senang hati, Juwita menyambut tawaran Hellen. Ya, dia perlu menyelamatkan dirinya dari mati gaya di hadapan Jevano sekarang.

Hellen menghampiri Juwita dan duduk di samping sahabatnya itu. "Lo utang budi ke gue, Kak," bisiknya yang langsung mendapatkan cubitan dari Juwita. Dia tertawa.

***

Pintu ruang rawat Jamal terbuka setelah beberapa saat. Dari baliknya, Ari keluar bersama dua perawat yang menemaninya.

Juwita langsung berdiri dan menghampiri lelaki itu. Disusul oleh Jevano dan Hellen setelah meletakkan kotak makan malam mereka.

"Keadaan Pak Jamal, bagaimana, Dok?" tanya Juwita penuh dengan nada kekhawatiran. Bahkan Jevano yang notabene anak dari Jamal saja sampai heran.

"Sejauh ini keadaannya semakin baik. Hanya saja, saya tambah yakin akan sesuatu." Ari terlihat berpikir sejenak sebelum mengatakan diagnosisnya. "Sepertinya Pak Jamal harus mendapatkan perawatan lebih. Beliau ada gejala usus buntu. Jadi, kalau keluarga berkenan, kami akan menindak lanjuti semuanya."

Juwita langsung menoleh ke Jevano. Anak itu terlihat kaget meskipun wajahnya tetap datar seperti tadi. Dia tidak mengatakan apa-apa. Mungkin sedang kebingungan dan mencoba mencerna apa yang sedang terjadi kepada ayahnya.

"Jevano mau Ayah sembuh total dan enggak sakit, 'kan? Ayah ditindak lebih lanjut, boleh?" Juwita bertanya dengan sangat ramah dan penuh dengan perhatian untuk memberikan pemuda itu pengertian.

Dengan gerakan patah-patah, Jevano mengangguk. "Ta-tapi, nanti biayanya?" Tatapannya terlihat ragu. Binarnya matanya meredup saat melihat balik ke arah Juwita.

"Tante yang tanggung. Kamu tenang aja. Tante udah bilang, 'kan, kalau ini juga untuk rasa terima kasih Tante kepada ayah kamu. Jadi, Tante tanya sekali lagi, boleh, ya, ayah kamu ditindak?" Juwita tersenyum teduh, membuat hati Jevano, tanpa disadari pemuda itu, menghangat.

Jevano mengangguk.

Juwita beralih ke Ari dan menatapnya dengan penuh keyakinan. Dia mengangguk sebagai isyarat untuk memperbolehkan tindakan terhadap Jamal.

"Baiklah kalau begitu. Saya akan jadwalkan pemeriksaan lebih lanjut karena ini sudah larut. Mungkin besok Pak Jamal bisa mulai diperiksa, foto rontgen, dan lain sebagainya." Ari memberikan penjelasan.

"Makasih, Dok." Juwita lega. Untung yang menangani Jamal orang yang dia kenal. Jadi gampang jika harus bertanya apa-apa.

"Terima kasih, Dok." Jevano sedikit menundukkan kepalanya, lalu memandang lurus ke arah Ari.

"Jaga ayah kamu, ya." Dokter muda itu menepuk bahu Jevano. "Wah, kamu suka olah raga, ya. Pundak kamu enggak main-main, loh, ini." Dia memberikan sedikit pijatan untuk merasakan otot tangan pemuda itu.

Jevano hanya bisa tersenyum segan. Dia tidak membalas dengan perkataan apa pun.

Rendah hati sekali, batin Juwita sambil mengamati ekspresi yang diberikan pemuda itu. Ternyata, kalau tersenyum seperti ini Jevano terlihat lebih tampan. Matanya hilang dan membentuk lengkungan, seakan juga ikut tersenyum. Ah, apakah ini yang dinamakan eye smile? Baru kali ini dia melihatnya secara langsung dan sangat menawan. Ya ampun manis sekali anak ini.

Di saat seperti itu, Jevano mendekat ke ayahnya dengan langkah agak ragu. "Ayah enggak papa?"

Jamal tersenyum meskipun wajahnya tampak masih pucat dan badannya masih lemas. Dia mengangguk. "Jagoan Ayah udah makan malam?"

Jevano mengangguk. "Sudah, Ayah. Tante ini yang belikan Jevano makan malam."

Jamal mengarahkan pandangannya ke Juwita. "Terima kasih sudah mau mengurus anak saya. Terima kasih juga karena sudah membawa saya ke rumah sakit. Saya berjanji akan menggantinya kalau sudah bisa keluar dari sini."

Juwita langsung melambaikan tangannya. "Tidak usah. Anggap saja ini adalah ungkapan terima kasih saya. Bahkan, semua ini pun menurut saya belum cukup untuk membalas kebaikan Anda. Jadi, tolong jangan merasa terbebani."

Jamal diam. Wanita di hadapannya ini terlihat bersungguh-sungguh. Dia pun mengangguk. "Sekali lagi terima kasih banyak." Bukan karena dia ingin memanfaatkan fasilitas mewah rumah sakit saat keadaannya seperti ini, namun tidak enak jika harus menolak dan saling membalas sungkan. Setidaknya dia akan memasukkan wanita ini ke daftar orang yang harus dia balas suatu saat nanti.

"Ayah, kata dokter Ari tadi kemungkinan besar Ayah kena usus buntu. Terus aku ditanya boleh ditindak atau enggak. Tante ini nawarin mau bantu, jadi maafin Jevano karena bilang iya." Pemuda itu menunduk lemas, merasa bersalah. "Jevano cuma mau Ayah sehat lagi seluruhnya."

Juwita sedikit was-was mendengarkan percakapan antara anak dan ayahnya itu. Dia berharap Jamal tidak menentang keputusan yang telah mereka buat tanpa persetujuannya tadi. Dia jadi harap-harap cemas.

Jamal melirik ke arah Juwita, mencoba memastikan kebenaran ucapan anaknya. Dia pun mendapat anggukan dari wanita tersebut. Lantas, dia pun tersenyum dan mengangguk. Dia mengelus kepala anaknya dengan lembut. "Iya, enggak papa."

Lega. Sangat lega sekali rasanya.

Hellen yang sedari tadi berdiri di posisi paling belakang pun ikut merasakan lega. Astaga, dia seperti menyaksikan adegan hangat antara anggota keluarga sungguhan. Tatapannya tidak lepas dari Jevano, anak itu ternyata juga memperhatikan detail. Tersimpulkan dari cara dia memberitahukan kepada ayahnya apa yang terjadi dan saat dia menyebut nama Ari.

Seketika Hellen mempunyai satu ide cemerlang. Dia melebarkan senyum dan melangkah maju, mendekati Juwita setelah memberikan isyarat salam kepada Jamal. Dia menyenggol lengan sahabatnya. "Kak Ju, enggak sekalian daftar aja jadi anggota keluarganya?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED