Sudah dua hari ini Juwita kelabakan harus mencari kain, bahan untuk proyek eksperimen rancangan gaun barunya. Ini adalah proyek terbarunya bersama para karyawan di butiknya. Juga, yang perlu dicatat ini adalah proyek dadakan yang tidak sengaja disetujui oleh salah satu asistennya dalam rangka kolaborasi brand. Ya, tidak sengaja karena saat itu asistennya sedang basa-basi bersama manager desainer lainnya yang malah berujung kesepakatan.
Masalahnya adalah waktu perilisan dan acara akan digelar tiga minggu lagi. Sedangkan ia perlu menemukan bahan yang layak, ekonomis dan tepat dalam waktu sesingkat itu sebelum tanggal perilisan. Lebih lagi target utama acara kolaborasi kali ini adalah kalangan tengah. Kalangan tengah biasanya lebih selektif dan juga mempertimbangkan antara kualitas dan harga yang pantas dengan isi dompet. Syukur kalau bisa dijangkau oleh yang agak di bawah. Ide rancangan gaun yang dirumuskannya bersama tim pengerjaan ini memiliki konsep elegan dengan harga yang bersahabat. Perilisan juga akan diadakan secara terbuka, di salah satu mall Sidoarjo. Jadi, sebisa mungkin dia dan para karyawannya bekerja dengan baik dan cepat.
Oke, mungkin itu bisa dikondisikan nanti saat dia sudah menemukan semua bahan. Akan tetapi, hari ini cukup mengenaskan baginya. Dia harus mencari bahan tersebut sendirian karena berbagi tempat tujuan dengan asisten dan satu karyawan lainnya. Dia pergi ke pusat pertokoan di Sidoarjo. Salah satu temannya pernah mengabarkan bahwa bahan kain di sana banyak yang berkualitas dan dijual dengan harga di bawah pemasar semestinya. Sedangkan asistennya dan satu karyawan menuju ke pusat kain yang ada di Surabaya. Sebenarnya tadi ada salah satu karyawannya yang menawarkan diri untuk menemaninya mencari bahan, namun karena ada jadwal lain sebelum meluncur ke tempat, dia tidak jadi ditemani. Bagaimana pun, dia juga yakin bisa mengatasinya sendiri. Toh, sebelum menjadi desainer yang ternama, dia juga pernah mengalami hal seperti ini.
Apakah Juwita tidak mempunyai manager? Jawabannya, dia punya. Hanya saja hari ini managernya sedang berlibur dengan keluarganya, anaknya libur sekolah. Jadi, dia tidak berani untuk mengganggu keluarga itu.
Waktu setempat telah menunjukkan pukul lima sore dan Juwita baru saja selesai mencari bahan kain yang dia inginkan. Sejak tadi siang, dia harus berpindah dari satu toko ke toko yang lain. Untung dia memakai sepatu biasa, bukan yang berhak tinggi. Tumitnya terselamatkan. Hingga tiba di toko terakhir, dia meminta izin terlebih dahulu ke pemilik toko sebelum duduk di kursi yang ada di emper toko untuk meminum air mineral, demi melegakan dahaganya. Dengan senang hati, pemilik toko itu mempersilakan.
Juwita melepaskan lelahnya sejenak. Kendaraan bermotor berlalu lalang di Jalan Gajah Mada itu, salah satu jalan yang sibuk di Sidoarjo. Pandangannya tertuju pada mobil box yang membawa muatan di seberang jalan. Para pekerja angkut menurunkan muatannya. Dia berpikir sejenak tentang bagaimana lelahnya menjadi tukang angkut. Dia yang berjalan ke sana kemari dan hanya membawa diri dan tasnya saja sudah cukup lelah. Apalagi mereka yang harus mengangkat barang. Satu alasan untuk tetap bersyukur dan tidak gampang mengeluh.
Pemilik toko menghampiri Juwita dan mengabarkan bahwa dia selesai menotal semua pesanan wanita itu. Setelah menyelesaikan transaksi, dia hendak menuju ke mall terdekat untuk mampir ke restoran yang pernah dia kunjungi bersama asistennya. Tak jauh, hanya butuh jalan kaki sekitar dua ratus meter dia sudah bisa sampai ke sana. Sudah tidak ada becak yang bisa dia pakai jasanya untuk mengantarkannya sampai ke mall tersebut. Sejenak, Juwita merutuki keputusannya sendiri yang memarkir mobilnya di parkiran mall agar aman.
Dengan langkah santai dan tubuh yang cukup lemas karena belum makan siang dari tadi, Juwita berjalan menelusuri jalan lurus di tengah pusat pertokoan itu. Langit sudah mulai menggelap. Keadaan sekitar juga mulai sunyi. Jalan yang dia lewati juga semakin minim orang. Mungkin penduduk setempat hendak bergegas ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.
Adzan berkumandang ketika wanita berparas cantik dengan rambut setengah lengan atas itu mencapai setengah jalan. Di ujung sana, dia bisa melihat jalan protokol yang sibuk dan padat oleh kendaraan bermotor, lebih padat dari jalan di ujung satunya. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, dia mempercepat langkah untuk segera mencapai ujung jalan. Perutnya perlu segera diisi. Dia bisa pingsan kalau tidak mengembalikan energinya yang terkuras seharian. Pun, tekadnya itu didukung oleh perasaannya yang tiba-tiba saja menjadi gelisah. Sepertinya dia salah memilih jalan.
"Hai, Mbak. Mau ke mana? Ditemenin boleh, nih." Suara asing lelaki pinggir jalan itu membuat Juwita melirik sejenak dan segera mempercepat langkahnya. Sial. Tidak hanya ada satu orang di sana. Firasat buruknya yang baru saja terlintas terbukti dengan secepat itu.
Berkali-kali dia mendengar siulan yang dia yakini ditujukan kepadanya. Siapa lagi? Di jalan itu hanya ada dirinya seorang. Dalam hati, Juwita merapal berbagai doa agar tetap dijaga oleh Yang Maha Kuasa meskipun di sisi lain hatinya dia juga merutuki jalan pilihannya yang sepi.
"Ke mana, sih, Mbak? Buru-buru amat." Dia dihadang. Ada tiga lelaki di sekelilingnya. Tampak sekali dari wajah mereka bahwa mereka bukan orang yang baik-baik.
"Maaf, saya harus segera pergi. Mas-Mas ini tolong beri saja jalan." Genggaman tangan Juwita mengerat pada tali tasnya yang tersampir di bahu. Kalau bukan tasnya yang diinginkan oleh para lelaki ini pasti, ya, dirinya. Pikirannya sangat buruk. Bahkan dia rela kalau harus memberikan sisa uang yang ada di dompetnya sekarang dari pada harus menjadi korban pelecehan. Bagaimana pun kehormatannya harus tetap dia jaga dan lindungi.
"Enggak bisa gitu, dong." Sial, sungguh sial. Dia semakin terpepet hingga tidak bisa bergerak leluasa lagi. Mereka memang belum menyentuhnya, tapi dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika dia tidak segera menyelamatkan diri. Maka dengan mengincar celah yang ada, dia berusaha kabur dari para lelaki nakal itu.
Nahas, tangannya berhasil dicekal dan tubuh semampainya itu harus terjatuh ke aspal. Sakit sekali rasanya. Bahkan dia yakin ada luka lecet di sebagian kulitnya.
"Tolong!" Teriakan itu terasa sia-sia saat dia sudah berkali-kali mengeraskan suaranya namun tidak ada satu pun orang yang datang untuk menolongnya.
Air matanya mulai berjatuhan. Dia masih berusaha agar bisa terlepas dari cekalan salah satu pria nakal tersebut. Dia terus memberontak dan berteriak meskipun mulai merasa sangat putus asa. Suaranya terdengar sangat pilu tanpa ada tenaga yang cukup untuk melawan, untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tubuhnya sudah diseret ke trotoar. Kaki mulus terawatnya bergesek langsung dengan aspal. Terasa sangat kasar dan perih. Dia dibawa hampir masuk ke gang sempit antara dua bangunan di sana ketika dia mendengar ada suara pukulan di belakang.
"Lepaskan dia!" Teriakan itu membuat pria yang mencekalnya semakin erat memeganginya dan semakin kuat menariknya. Namun sedetik kemudian pria itu terpental. Dia pun ikut terjatuh ke tanah.
"Anda tidak apa-apa?" tanya orang asing yang berteriak tadi kemudian membantu Juwita bangkit, sebisa mungkin menjauh dari sana. Dia memakai setelan jas rapi, seperti baru pulang dari kerja.
Juwita tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis.
"Saya sudah telepon polisi," kabar orang itu lagi. Dia memapah Juwita berjalan menjauh dari tiga pria berandal itu, memastikannya ada di jarak aman.
Pukulan keras di punggung penolong Juwita terdengar sangat menyakitkan. Dengan segera, dia berbalik dan meladeni perkelahian tiga banding satu itu. Terlihat pria penyelamat itu bisa mengimbangi perkelahian tersebut. Hingga suara sirine mobil polisi terdengar. Tiga pria berandal itu hendak kabur namun segera terkejar oleh para petugas.
"Maaf, Anda jadi ketakutan." Pria penyelamat itu mendekati Juwita. Wajahnya sudah penuh dengan lebam dan setelannya sudah terlihat lusuh karena perkelahian barusan.
Juwita terlihat masih terpukul dengan kejadian barusan dan hanya bisa sesenggukan di tempatnya sambil menenggelamkan wajah di lututnya. Dia mengintip dari balik tangannya yang terlipat dan menatap tangan yang terulur kepadanya. Dia menyambut tangan tersebut setelah menenangkan diri. Dia dibantu berdiri. Lalu Pria itu memberikan jasnya kepada Juwita untuk menutupi bahu gadis itu yang terekspos karena pakaiannya robek.
Pria itu hanya diam dan berdiri di sebelah Juwita yang masih tergugu dalam tangisannya. Juwita berusaha menghentikan tangisannya namun dia masih terlalu syok dengan apa yang barusan terjadi. Pikirannya masih tidak bisa jernih.
"Terima kasih," cicitnya.
"Sama-sama. Tenangkan diri Anda terlebih dahulu. Saya akan menjaga Anda," kata pria itu. Terdengar sangat tulus.
Salah satu petugas mendatangi mereka. "Anda berdua bisa ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan."
"Baik, Pak." Pria itu menjawab dengan tegas. Kemudian dia berjalan di samping Juwita, menuju mobil petugas.
Setelah memberikan keterangan dan kronologi kejadian untuk laporan kepada polisi yang bertugas, Juwita dan lelaki yang menolongnya tadi keluar secara bersamaan. Juwita yang masih syok dengan kejadian tadi belum sepenuhnya bisa mengontrol diri.
"Terima kasih banyak." Juwita berterima kasih sekali lagi dengan tatapan yang masih setengah kosong itu. Dengan canggung, dia sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan.
Pria itu tersenyum dan mengangguk ringan. "Iya. Sama-sama." Melihat wanita di depannya yang masih labil, dia pun berinisiatif untuk menawarkan bantuan lebih. "Mau diantarkan ke rumah sakit? Mungkin ada yang terluka."
Juwita menggeleng dan agak heran dengan pria di depannya ini. Bukannya lelaki itu yang perlu perawatan, ya? Kenapa dirinya yang ditawari ke rumah sakit? Apalagi wajah lelaki itu terlihat semakin pucat meskipun masih memasang senyuman yang memperlihatkan dua lesung pipinya. Sedetik kemudian, dia langsung sadar. Seharusnya itu yang dia lakukan sedari tadi. Astaga, bodohnya. "Maaf. Tapi, mungkin saya bisa mengantarkan Anda ke sana. Maafkan saya. Saya masih agak ...."
"Kak Juuuu!!!!!" teriak seseorang dari tempat parkir. Dia berlarian ke arah Juwita.
"Hellen!" Juwita melangkah beberapa hitungan untuk segera bisa memeluk gadis itu. Dia sudah tidak tahan. Dia ingin melepaskan ketakutannya.
"Maaf, aku terlambat banget, ya? Tadi ada kendala di rumah sakit. Astaga, Kak Ju. Kamu kenapa bisa jadi kayak gini? Ya ampun kakakku sayang. Mana pucet banget lagi." Hellen memeluk erat Juwita. Gadis yang lebih tua darinya itu menangis kuat dia balik pelukan tersebut.
Pria penyelamat tersebut membiarkan kedua wanita di depannya melepas keresahan mereka. Dia menahan diri untuk berpamitan hingga kedua wanita tersebut selesai dengan kehebohan pilu yang mereka buat. Sekaligus dia harus menahan rasa sakit dan lelah yang menggelayuti seluruh tubuhnya.
"Eh," sadar Hellen lalu berbalik ke belakang, ke arah Pria itu. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak sudah menolong Kak Juwita." Gadis itu sangat bersyukur.
Pria itu tersenyum, menampakkan kedua lesung pipinya yang baru saja Juwita sadari bahwa itu sungguh menawan. "Bukan apa-apa." Dia berucap tulus dan sopan dengan suara beratnya. "Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Anak saya pasti sudah menunggu di rumah. Permisi." Setelah itu, lelaki tersebut melangkah pergi dari hadapan mereka berdua.
"Lo udah punya nomor teleponnya belum, Kak? Biar bisa bales kebaikan dia." Hellen merasa ada yang tidak beres dengan kesadaran Juwita. Biasanya gadis yang dia kenal itu jika berterima kasih selalu menampakkan wajah segan dan bersyukurnya dengan sangat ekspresif. Akan tetapi, saat ini yang dia lihat adalah Juwita yang linglung. Semakin menguatkan dugaannya jika katingnya di kampus dulu ini belum memberikan apa-apa sebagai balasan bagi kebaikan pria tadi.
"Hah? Nomor telepon? Astaga gue lupa. Gimana ini?" Kaki Juwita mengentak-entak kecil. Tangannya secara random meraba-raba lengan Hellen, mencari genggaman. Dia panik.
"Ya ampun, Kak. Tunggu sini." Hellen segera mengejar langkah lelaki tadi. Namun, baru saja dia akan berbelok ke samping bangunan kantor polisi tersebut ....
"KAKAAAAKKK!!! TOLOOONG!!!!"
Juwita terduduk di kursi depan salah satu ruangan VIP rumah sakit tempat Hellen bekerja. Di sampingnya ada adik tingkat sekaligus sahabatnya itu. Mereka sama-sama berdoa atas keselamatan orang yang baru saja dibawa masuk ke sana. Ya, tepat seperti apa yang sedang kalian pikirkan, pria penyelamat Juwita dilarikan ke rumah sakit ini. Hellen menemukannya tergeletak pingsan saat akan menyusulnya untuk menanyakan nomor teleponnya tadi.
Astaga, Juwita semakin merasa sangat bersalah dengan pria itu. Kenapa dia bodoh sekali hingga mengabaikan orang yang telah menolongnya dari pada pria berandal tadi. Kedua tangannya tergenggam gelisah. Bahkan dia masih menggunakan jas lelaki tersebut. Sungguh dia merasa menjadi orang yang tidak tahu terima kasih sekali sekarang. Belum lagi kata pria itu tadi dia harus pulang untuk menemui anaknya yang mungkin sudah menunggunya di rumah. Pikirannya mulai melanglang ke mana-mana. Hingga dia mengambil satu kesimpulan yang pasti. Dia harus melakukan yang terbaik untuk membalas kebaikan pria yang telah menyelamatkannya.
Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Rupanya pemeriksaan telah selesai.
"Bagaimana keadaan orang itu, Mas?" tanya Hellen cepat mewakili Juwita. Mas, Hellen memanggil dokter Ari demikian karena mereka sudah dekat sejak bangku sekolah. Juwita juga tahu hal tersebut.
"Kecapekan. Sepertinya dia juga kekurangan gizi. Aku curiga sesuatu, sih, Len." Ari tampak berpikir sejenak. "Dia juga ada demam, jadi perlu dirawat seenggaknya dua hari di sini."
"Ih, yang bener kalau kasih info." Hellen memukul pundak lelaki itu.
"Bentaran, elah. Enggak sabar banget."
"Kasihan Kak Juwita ini, loh, nungguin."
"Iya. Iya. Jadi ... tadi perutnya agak keras gitu di bagian kanan bawah. Perlu tindakan lanjutan, sih, biar tahu pasti. Omong-omong keluarganya orang itu mana? Enggak ada yang ngerawat, nih?"
"Aku bakalan rawat dia dan tanggung semua biaya pengobatannya. Jadi, tolong, ya, Dok. Lakukan yang terbaik buat kesembuhan orang itu." Juwita langsung menjawab tanpa ragu dan memohon dengan sungguh-sungguh. Nah, ini baru Juwita yang Hellen kenal.
"Emangnya Kak Juwita ini siapanya pria itu?" tanya Ari dengan santai. Sepertinya dia tidak peduli dengan pakaian lusuh pria itu dan penampilan Juwita yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Kak Ju habis ditolong sama orang itu tadi. Lihat, kan, wajahnya babak belur gitu." Hellen juga tidak habis pikir dengan temannya tersebut.
"Ah, makanya. Tapi tenang aja, Kak. Suster sedang mengobati luka dia kok."
"Iya kali, enggak." Geregetan juga Hellen kalau begini. Dia ingin mencubit ginjal pria di depannya ini.
Sedangkan Juwita, dia tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Bagaimana dia harus menghubungi kepada keluarga lelaki itu. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada anak pria itu. Bagaimana dia harus berbuat baik dan memenuhi semua kebutuhan keluarga pria tersebut selama dirawat di rumah sakit.
"Boleh masuk enggak?" tanya Juwita menyela percakapan yang lebih bisa disebut dengan 'percekcokan' antara Ari dan Hellen. Dia ingin melihat kondisi pria yang telah berjasa bagi kehormatannya itu.
"Iya, silakan. Bebas, kok. Enggak apa-apa." Ari merentangkan tangannya ke pintu cokelat itu.
Juwita pun permisi dan segera memasuki ruangan tersebut.
Di atas tempat tidur, pria tersebut terbaring dan masih belum sadarkan diri. Dengan memberanikan diri, Juwita mendekati pria itu dan duduk di kursi yang tersedia di tepi ranjang. Netranya menatap lekat wajah pria asing yang penuh lebam itu. Namanya Jamal. Dia mengetahuinya saat di kantor polisi tadi dan kembali membaca nama itu di papan nama pasien. Nama yang pantas dengan paras dan wajah tampannya meski sekarang wajah tersebut lebam dan sebagian ditutup dengan perban.
Terdengar suara ponsel berbunyi. Itu bukan dari milik Juwita. Dia langsung menoleh ke arah nakas seberang dan mendapati ada benda pipih canggih yang tergeletak di sana. Dia pun segera bangkit dan menghampirinya. Tertera nama penelepon di sana, Jevano Anak.
"Halo." Juwita mengawali percakapan. Tak ada jawaban dari seberang. Dadanya berdetak kencang. Terpikirkan tentang bagaimana keadaan anak pria tersebut yang menunggu ayahnya pulang. Dia pun mengulangi sapaannya lagi dengan nada yang sama lembutnya dengan yang pertama.
"Halo. Maaf, Anda siapa? Bisakah saya berbicara dengan Ayah saya?" tanya penelepon bernama Jevano itu.
Sopan. Juwita tersenyum di tengah suasana hatinya yang bercampur aduk. "Maaf, sebelumnya. Perkenalkan nama saya Juwita. Ayah kamu sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Kalau kamu mau ke sini, saya akan mendiktekan tempat rawatnya atau saya akan tunggu kamu di lobi."
"Ayah saya kenapa?" Suaranya terdengar tidak setenang tadi.
"Nanti saja saya akan menceritakan detailnya. Tolong kabari ibu kamu juga, ya. Ada yang perlu saya bicarakan."
"Maaf, tapi saya tidak punya ibu."
Seketika itu Juwita membeku. Astaga dia telah membuat seorang anak piatu menunggu ayahnya pulang sampai selarut ini. Pikirannya ke mana-mana. Bagaimana keadaan anak itu? Apakah dia sudah makan malam? Apakah dia butuh ayahnya dalam keadaan mendesak?
Tanpa dia sadari, satu bulir air matanya menetes. Rasa bersalah menguar di seluruh tubuhnya.
"Kamu tenang dulu, ya." Juwita mengelap pipinya yang dibasahi oleh air mata. "Kalau kamu ingin mengetahui keadaan ayah kamu, kamu bisa ke rumah sakit sekarang." Dia sengaja menawari begitu. Dia yakin bahwa anak ini bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Dari suaranya saja sudah dapat diperkirakan bahwa dia sudah remaja. Juga dengan cara berbicaranya, terdengar tegas, menunjukkan bahwa dia anak yang pintar dan tanggap.
"Iya," jawabnya singkat.
Juwita pun mulai mendiktekan letak ruang rawat Jamal. Namun, dia dihentikan.
"Rumah sakit mana?"
Juwita pun menyebutkan rumah sakit tempatnya berada sekarang. "Kamu hati-hati, ya, kemari." Dia meremas ujung bajunya dengan tangan yang berkeringat. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan tempo cepat.
"Iya. Saya tahu jalan ke sana."
"Kamu ke sini mau pakai apa?"
"Saya akan mengurusnya sendiri. Anda jangan khawatir."
Lalu sambungan telepon antara keduanya terputus setelah anak itu undur diri. Air mata Juwita kembali menetes saat melihat ke arah Jamal. Ternyata pria yang menyelamatkannya ini menanggung kewajiban tunggal atas keluarganya. Dia jadi membayangkan bagaimana perasaan anak pria ini yang bernama Jevano itu saat tahu ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Terlebih lagi, dia sudah tidak mempunyai ibu. Astaga, malang sekali.
Lagi-lagi air mata Juwita jatuh. Dia jadi merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi dengan pria ini. Bagaimana tidak, karena menolongnya pria ini malah terbaring di rumah sakit dan itu membuat anaknya khawatir.
"Maafkan saya, Pak Jamal." Juwita berkata lirih sambil menunduk dalam tangisan yang memenuhi kesunyian ruang rawat tersebut.
***
Hari ini adalah hari kedua Jamal di rawat di rumah sakit. Juwita hendak pergi untuk menjenguk pria itu setelah menyelesaikan pekerjaannya. Akan tetapi dia harus ditahan oleh video call dari mamanya. Berkali-kali Juwita harus memilin keningnya dengan ibu jari dan telunjuk. Berkali-kali pula telinganya memanas karena omelan sang mama. Ada papanya di sebelah sang mama.
"Mama enggak peduli. Pokoknya kamu harus temui cowok pilihan Mama kali ini. Udah berapa kali Mama bilang, umur kamu udah enggak muda lagi, Juwita. Kamu enggak bisa juga hidup kayak gini terus," ucap Nyonya besar keluarga Anggari itu membuat anak semata wayangnya memutar bola mata.
"Gak ada yang cocok, Mama. Juwita juga punya standar. Lagian kalau aku nikah sekarang, pekerjaanku gimana? Siapa dulu yang pengin aku jadi designer brand terkenal? Enggak gampang, loh, Ma, dapetin semua itu." Juwita tidak hanya diam. Topik ini sungguh membuatnya amat jengah. Perjodohan, kencan buta, dan pernikahan. Seperti tidak ada topik lain saja yang bisa dibahas.
Lain dengan dua wanita yang sedang bersikukuh via layar itu. Sang kepala keluarga, Tuan Anggari, hanya bisa menggeleng pelan, mendengarkan dua wanita yang sangat dia cintai mulai bercek-cok lagi. Bukan sekali atau dua kali ini terjadi. Bahkan dia sudah hafal dengan akhir percakapan mereka berdua. Dia pun memilih diam dan menyesap tehnya di samping sang istri sambil sesekali melirik ke layar untuk melihat wajah anaknya dan menikmati suasana ini dengan santai.
"Mau nyalahin Mama lagi?" Nyonya Anggari melotot nyalang. Dia bukannya sedang melampiaskan amarah. Hanya saja anaknya ini terus menentang. Dia jadi kehilangan kesabaran kalau begini.
"Enggak, Mama. Cuma, please, deh, Mama juga harus ngerti aku. Aku banyak kerjaan, Mama. Kalau sampai terbengkalai, bagaimana para klienku?"
"Ya, ampun, Juwita. Apa susahnya, sih, nurut sama Mama dan temui calon kamu?" Nyonya Anggari sungguh tak habis pikir dengan anak perempuannya itu.
"Mama juga udah tahu segalanya tentang dia? Ma, yang terakhir kali itu kelihatan banget kalau posesif. Aku gak mau. Masa mau ke kamar mandi aja dikintili."
Tuan Anggari menahan tawanya. Pundaknya dipukul dengan tidak suka oleh sang istri.
"Kok kamu ketawa, sih, Mas?"
"Itu bukan posesif lagi, Juwita. Mungkin dia dulunya stalker."
Juwita tertawa dan mengacungkan telunjuk dan ibu jarinya yang dibentuk seperti orang menembak kepada sang papa. Papanya memang tidak mengecewakan. "Ya, kan, Pa? Gak suka aku, tuh, sama pilihan Mama. Mama lihatnya cuma dari luar doang. Enggak tahu mereka gimana. Aku yang hadepin mereka cuma makan malam aja udah ogah ketemu lagi."
Nyonya Anggari menatap tajam Juwita. Masih untung hanya lewat layar. "Makanya kamu temui pilihan Mama yang satu ini biar tahu orangnya gimana."
"Ya ampun, Ma. Aku capek harus kencan buta terus sama orang yang bahkan enggak aku kenal."
"Ya, kalau kamu kenal namanya itu bukan kencan buta, sayang." Tuan Anggari memang berkepribadian santai. Ya, seperti yang kalian lihat, bahkan di situasi yang hampir memicu perang seperti ini pun beliau masih bisa berkelakar.
"Aku enggak mau kencan buta lagi, Papa." Juwita merajuk. "Ya ampun, kita ini hidup di jaman modern, loh. Masih aja, ya, keluarga kita butuh yang kayak ginian?"
"Papa kamu juga enggak selamanya bisa menanggung pekerjaan berat di kantor, Juwita. Kamu gak kasihan sama Papa?" Nyonya Anggari masih memperjuangkan pendiriannya.
"Ya udah lepas aja. Ada bawahan Papa yang bisa mengatasi semuanya. Selesai, 'kan?" Wanita dua puluh tujuh tahun itu menyandarkan punggung di kursinya. Kedua tangannya bersedekap.
"Aduh, Pa. Pusing aku sama anak kamu ini." Kini, giliran wanita paruh baya itu yang memilin kening. Dia terlihat lelah berbicara dengan anak semata wayangnya itu.
"Biarin aja, kali, Ma. Lagi pula itu yang dimau Juwita." Tuan Anggari mengedipkan satu matanya ke arah sang anak dan langsung dibalas dengan love sign ibu jari dan telunjuk.
"Ini lagi. Oke, deh. Kalau kamu enggak mau Mama suruh kencan buta, kamu bawa cowok ke hadapan Mama Papa. Kenalin cowok pilihan kamu kepada kami."
Juwita menghela napas lemas dan putus asa. Capek sekali dia. Dia kira percakapan mereka akan berakhir. Dia diam sejenak. "Mama, aku harus bilang berapa kali, sih? Aku enggak mau nikah. Aku bahkan gak tertarik sama sekali, Ma, buat nikah. Aku enggak ada waktu, Ma."
"Astaga, Ya Tuhan. Bukannya enggak ada waktu. Kamu enggak meluangkan waktu aja." Nyonya Anggari sudah tidak sabar. Anaknya ini sangat keras kepala sekali. "Ingat umur, Juwita. Papa juga harus punya penerus bukan hanya seorang pengganti. Perusahaan ini dipercayakan ke keluarga kita. Kamu enggak ingat gimana Papa kamu berusaha mempertahankan perusahaan rintisan mendiang Kakek kamu agar gak jatuh di tangan yang salah? Ini bukan sekedar karena harta tapi juga amanah."
Juwita diam. Memori di kepalanya berputar sangat cepat. Dia sangat ingat bagaimana papanya terluka karena serangan para saingan bisnis yang bahkan beberapanya adalah kerabat sendiri. Ya, dengan cara yang kotor tentu saja. Jangan ingatkan dirinya lagi tentang masalah itu. Itu membuatnya tidak bisa menahan air mata untuk tidak menggenang saat ini.
"Sudah. Sudah. Kita bicarakan tentang ini lain kali." Tuan Anggari menengahi. "Papa juga seneng, Sayang, kalau kamu segera menikah. Papa sama Mama juga pengin punya cucu dari kamu. Umur Papa sama Mama juga enggak ada yang tahu ujungnya sampai mana. Kalau kamu enggak mau sama pilihan Mama, ya, berusahalah untuk melihat sekeliling kamu. Coba buka hati kamu dikit aja. Jangan menutup diri. Pasti ada seseorang yang bisa buat kamu berpikir ulang tentang pernikahan."
Mata Juwita sudah mengeluarkan airnya sekarang. Kalau papanya sudah mengeluarkan suara, dia tidak bisa menentang. Dia tidak bisa beradu argumen dengan pria yang selalu membelanya itu. Pria yang memperjuangkan semua untuk dirinya.
"Oke. Malam ini kita sudahi sampai sini dulu. Kamu masih ada kesibukan, 'kan?"
Juwita mengangguk kecil.
"Ya, udah. Papa Mama pamit terlebih dahulu. Ada urusan yang harus kami selesaikan juga. Ini tadi Mama kamu beneran nyempetin waktu buat bicara sama kamu. Dadah, sayangnya Papa." Pria itu melambaikan tangannya ke layar.
Sambungan itu terputus, meninggalkan dirinya sendirian diruang istirahatnya. Pikirannya jadi buntu sekarang karena perkataan papanya barusan. Lalu sekarang dia harus bagaimana?
Juwita mendesah kasar. Kakinya menendang kaki meja terdekat. Kesal sekali rasanya. Kenapa harus membahas kejadian menyakitkan seperti itu untuk membuatnya menyerah? "Akh, kenapa harus nikah, sih?!" gerutunya dalam sepi. Dia pun meninggalkan sofa dan meja pelengkap itu untuk menuju tempat ternyaman di ruangan istirahat khususnya. Tubuhnya merebah di atas kasur yang empuk. Matanya menatap langit-langit lama. Pikirannya bercabang.
Suara dering ponsel membuatnya terbangun. Dia meraih benda pipih tersebut. Nama yang tertera di layar membuatnya mendengkus. "Kenapa telepon?" tanyanya agak judes karena masih kesal.
"Coba gue tebak. Kalau Kakak kayak gini, tuh, biasanya habis dapet pertanyaan 'kapan nikah' atau 'kamu mau sama dia enggak'. Correct me if I'm wrong." Suara itu membuat Juwita mendecak dan memutar bola mata. "Kan, gue bener. Hahaha. Mekanya, Kak. Cepetan cari gandengan sana." Tak ada jawaban dengan cepat berarti seniornya itu sedang menahan diri. Dia jadi girang kalau begini.
"Lo diem aja, ya, Hellen. Gue enggak selera debat."
"Gak ada yang ngajak debat astaga. Frustasian amat jadi orang." Nada riang gadis itu memenuhi telinga Juwita. Dia jadi tidak tega sudah menjawab dengan sewot tadi.
"Sorry. Gue beneran lagi kepikiran ini. Mana Mama bawa-bawa umur Papa lagi." Dia menghela napas. "Apa gue beneran nikah aja, ya?"
"Woy, Kak! Ya iyalah. Anda ini bagaimana. Ya emang Kakak harus nikah. Emang mau jadi perawan tua?"
"Udah keles."
Hellen terdiam. Sepertinya dia salah bicara. "Ma-maksud gue, emang mau terus-terusan gitu?" Dia menggosok telapak tangannya di atas paha. Khawatir yang diajak bicara masih sensi. Bisa tamat dia kalau mereka bertemu.
"Ya, enggak juga. Gue cuma gak bisa mikirin kalau nikah kayak gimana gitu, loh. Secara, gue enggak punya kenalan dan gue udah umur segini masih perawan," Juwita mencurahkan isi hatinya.
"Bagus, dong, Kak, masih perawan. Artinya Kakak masih terjaga." Hellen ingin melonggarkan hati sahabatnya.
"Lo pasti ngerti apa yang sebenernya gue maksud. Apalagi yang diinginkan Mama itu bukan sekedar pernikahan gue." Juwita menghela napas masygul. "Gue harus gimana."
"Buka hati, Kak. Buka hati. Siapa tahu sebenernya banyak yang udah kepingin deketi Kakak tapi Kakak malah menghindar dan gak buka pintu sama sekali."
Apa yang dikatakan Hellen sama dengan papanya tadi. Sudah lama dia tidak merasakan yang namanya jatuh cinta. Mungkin sekitar sepuluh tahun? Ah, dia hanya teringat dengan seniornya di bangku SMA yang sangat keren itu. Lalu, dia juga harus merasakan patah hati karena seniornya sudah memiliki kekasih. Itu cinta dan patah hati pertama yang harus dia rasakan secara bersamaan. Setelahnya, dia hanya mengagumi orang-orang di sekitarnya dan menolak para lelaki yang ingin menjalin hubungan kasih dengannya.
"Harus banget, ya, gue nerima Pak Karsa?" Itu adalah nama pria yang pernah menyatakan cinta kepada Juwita. Salah seorang pebisnis yang cukup disegani. Tentu saja dia juga mengajak Juwita membangun rumah tangga.
"Jangan, anjir. Ya, enggak Pak Karsa juga kali, Kak. Lo mau jadi istri pak tua kayak gitu? Ih, jangan, Kak. Dari lagatnya aja udah kelihatan kalau mata keranjang. Skandalnya banyak. Jangan, Kak. Jangan."
Juwita tertawa. "Gue juga enggak seputus asa itu juga kali." Dia merebahkan dirinya di kasur lagi. "Lo tahu, Len? Gue bahkan jadi mikir mau kawin kontrak aja."
"Lo gila, sih, Kak. Jatuh cinta beneran baru tahu rasa lo."
"Iya, gue mikir gitu juga. Terus gue enggak bisa mikir jalan keluar apa pun."
"Udah dibilang buka hati, Kak. Kakak juga cantik, kaya, rajin. Pasti banyak yang mau."
Juwita memandangi langit-langit dengan tatapan kosong. "Iya, Len. Semoga."
Semoga ada yang mau dan semoga orang itu tidak membuat hatinya sakit. Sebab, hal utama yang membuatnya menutup hati selama ini adalah dia takut patah hati lagi.
"Btw, Kak. Aku sebenarnya mau ngabari kalau Pak Jamal udah siuman. Anaknya juga langsung ke sini habis sekolah. Kakak enggak ada niatan buat ke sini apa?"
"Astaga, Hellen. Gue lupa. Oke, gue ke sana. Lo udah makan malam apa belum? Gue bawain makan malam sekalian gitu, ya, buat lo sama anaknya Pak Jamal. Pasti dia juga belum makan." Juwita menepuk pipinya sendiri. Telepon dari mamanya tadi membuat pikirannya semakin penuh. Dia sampai lupa kalau akan menjenguk pria tersebut.
Juwita segera bangkit dan merapikan penampilannya. Ingat, dia habis kayal-kayal tadi. Dia pun segera mengambil kunci mobil dan segera menuju ke rumah sakit, tempat pria itu dirawat.
***
Juwita membawa tas kertas berisikan makan malam yang dia beli saat hendak menuju ke rumah sakit. Dia sekarang sedang berdiri di lift dan menunggu gilirannya untuk keluar. Rasa capek yang ada di pikiran dan badan yang dia rasakan seharian seperti langsung hilang ketika Hellen mengabarinya tentang keadaan pria yang menolongnya itu. Berkali-kali dia merutuki dirinya sendiri karena kecerobohannya. Astaga, dia ini niat mau balas budi atau tidak, sih. Dia bahkan meragukan dirinya.
"Gimana keadaan Pak Jamal?" tanya Juwita saat melihat Hellen berdiri di depan ruang rawat pria itu. Dia menyerahkan tas kertas yang dia bawa tadi kepada sahabat yang berumur lebih muda darinya itu.
"Masih diperiksa sama Mas Ari. Tapi, kayaknya beneran butuh tindak lanjut, deh." Lalu, Hellen berisyarat dengan matanya ke kiri.
Juwita mengikuti arah isyarat Hellen. Ternyata di salah satu bangku tunggu ada seorang pemuda yang duduk dengan wajah yang tampak sangat khawatir, anak Pak Jamal. Dia pun mengangguk paham ke Hellen dan mengambil satu box dinner dari tas kertas yang dibawa Hellen. Kakinya mendekat perlahan kepada pemuda tersebut.
"Hai, Jevano?" tanya Juwita lembut. Dia duduk di sebelah pemuda itu. Tidak lupa, dia memasang senyuman paling ramah yang dia punya.
Pemuda itu menoleh dengan tatapan datar. Kedua alisnya terangkat, mempertanyakan siapa wanita di depannya itu.
Juwita mengembangkan senyumannya dan mengulurkan tangan kepada pemuda itu. "Tante Juwita." Dia mengenalkan diri lagi.
Pemuda itu tidak langsung menyambut tangan Juwita. Dia melihat wanita di hadapannya dengan tatapan penuh selidik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sudah seperti robot yang memindai sesuatu.
"Tante ini yang ditolong sama ayah kamu. Kemarin kamu sempat ketemu sebentar. Tante ini kemarin keburu pulang, ada yang cari soalnya." Hellen yang menyaksikan reaksi anak Jamal itu gemas sendiri. Enggak sabar maksudnya.
"Jevano, Tante." Pemuda tersebut menyambut tangan Juwita. Masih dengan muka datar, tanpa ekspresi kecuali gurat kekhawatiran yang sedari tadi tampak.
Juwita masih dengan senyumnya. Perlahan, dia menarik tangan Jevano dan menyerahkan kotak makan malam di tangan anak itu. "Makan dulu, ya. Tante yakin kamu belum makan malam."
"Kalau Tante? Udah makan malam?"
Pertanyaan itu sangat mendadak. Bahkan Juwita sendiri harus terdiam sesaat untuk berpikir. Di saat seperti ini, pemuda di hadapannya masih bertanya tentang keadaan orang lain. Akhirnya dia mengulaskan sebuah senyuman hangat dan mengangguk. "Belum. Tapi, enggak papa. Nanti Tante bisa makan bareng Tante itu." Dia menunjuk Hellen yang masih setia berdiri di tempatnya tadi.
Jevano mengarahkan pandangannya ke Hellen. Dia mendapatkan senyum ramah dari wanita tersebut. Namun, dia tidak membalas dan tetap bermuka datar. "Ini beneran enggak papa aku makan?"
"Iya, Jevano. Enggak papa. Itu Tante yang traktir. Tenang aja." Juwita sangat ramah.
"Enggak disuruh buat bayar dengan yang lain, 'kan?"
Seketika, kedua wanita yang mendengar pertanyaan itu terdiam. Mereka saling tatap untuk mendapatkan, setidaknya, jawaban atas pertanyaan rancu dari Jevano tersebut. Namun, nihil.
"Maksudnya?" tanya Juwita ingin kejelasan.
"Jasa, misalnya." Jevano sangat tenang saat menjawab.
Hellen, di tempatnya, menahan tawa. Pikiran mereka terlalu dewasa untuk menghadapi pertanyaan dari anak remaja. Dia pun segera menghentikan tawa yang ditahannya dengan tarikan napas dalam. Juwita kalau sedang melotot seram.
"Enggak, Jevano. Ini sebagai rasa tanggung jawab Tante aja ke kamu." Juwita berusaha untuk menjelaskan keadaannya.
"Kenapa harus merasa bertanggung jawab? Karena Ayah?"
Juwita mengangguk. "Iya. Sebagai rasa terima kasih Tante juga ke ayah kamu. Sekarang, kan, ayah kamu sedang dirawat. Jadi, sudah selayaknya kalau Tante, sedikit banyak, mengurus kamu. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ke Tante, ya."
"Hmm." Jevano mengangguk paham. Masih dengan deheman dan anggukan dingin dan datar. "Terima kasih, Tante."
Juwita tersenyum melihat reaksi pemuda itu. "Dimakan, ya." Dia mendapatkan anggukan dari Jevano. Tanpa sadar, dia mengamati setiap pergerakan pemuda itu. Dia bisa menyimpulkan bahwa Jevano adalah tipe anak yang pendiam dan patuh. Wajahnya juga sangat bisa dikatakan sedap untuk dipandang. Sama rupawannya dengan Jamal.
"Jangan lihatin aku kayak gitu, Tante. Aku jadi enggak bisa makan." Ucapan Jevano menyadarkan Juwita dari 'pengamatan' seksamanya barusan.
"Ah, iya. Maaf, ya." Lalu, dia membuang wajahnya ke mana saja asalkan tidak ke Jevano lagi. Dia segan jika harus mendapatkan teguran lagi dari pemuda itu.
"Kak Ju, jadi enggak?" Hellen mengangkat tas kertas yang ada di tangannya. Senyumannya terlihat sekali sedang mengejek Juwita.
"Iya, sini." Dengan senang hati, Juwita menyambut tawaran Hellen. Ya, dia perlu menyelamatkan dirinya dari mati gaya di hadapan Jevano sekarang.
Hellen menghampiri Juwita dan duduk di samping sahabatnya itu. "Lo utang budi ke gue, Kak," bisiknya yang langsung mendapatkan cubitan dari Juwita. Dia tertawa.
***
Pintu ruang rawat Jamal terbuka setelah beberapa saat. Dari baliknya, Ari keluar bersama dua perawat yang menemaninya.
Juwita langsung berdiri dan menghampiri lelaki itu. Disusul oleh Jevano dan Hellen setelah meletakkan kotak makan malam mereka.
"Keadaan Pak Jamal, bagaimana, Dok?" tanya Juwita penuh dengan nada kekhawatiran. Bahkan Jevano yang notabene anak dari Jamal saja sampai heran.
"Sejauh ini keadaannya semakin baik. Hanya saja, saya tambah yakin akan sesuatu." Ari terlihat berpikir sejenak sebelum mengatakan diagnosisnya. "Sepertinya Pak Jamal harus mendapatkan perawatan lebih. Beliau ada gejala usus buntu. Jadi, kalau keluarga berkenan, kami akan menindak lanjuti semuanya."
Juwita langsung menoleh ke Jevano. Anak itu terlihat kaget meskipun wajahnya tetap datar seperti tadi. Dia tidak mengatakan apa-apa. Mungkin sedang kebingungan dan mencoba mencerna apa yang sedang terjadi kepada ayahnya.
"Jevano mau Ayah sembuh total dan enggak sakit, 'kan? Ayah ditindak lebih lanjut, boleh?" Juwita bertanya dengan sangat ramah dan penuh dengan perhatian untuk memberikan pemuda itu pengertian.
Dengan gerakan patah-patah, Jevano mengangguk. "Ta-tapi, nanti biayanya?" Tatapannya terlihat ragu. Binarnya matanya meredup saat melihat balik ke arah Juwita.
"Tante yang tanggung. Kamu tenang aja. Tante udah bilang, 'kan, kalau ini juga untuk rasa terima kasih Tante kepada ayah kamu. Jadi, Tante tanya sekali lagi, boleh, ya, ayah kamu ditindak?" Juwita tersenyum teduh, membuat hati Jevano, tanpa disadari pemuda itu, menghangat.
Jevano mengangguk.
Juwita beralih ke Ari dan menatapnya dengan penuh keyakinan. Dia mengangguk sebagai isyarat untuk memperbolehkan tindakan terhadap Jamal.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan jadwalkan pemeriksaan lebih lanjut karena ini sudah larut. Mungkin besok Pak Jamal bisa mulai diperiksa, foto rontgen, dan lain sebagainya." Ari memberikan penjelasan.
"Makasih, Dok." Juwita lega. Untung yang menangani Jamal orang yang dia kenal. Jadi gampang jika harus bertanya apa-apa.
"Terima kasih, Dok." Jevano sedikit menundukkan kepalanya, lalu memandang lurus ke arah Ari.
"Jaga ayah kamu, ya." Dokter muda itu menepuk bahu Jevano. "Wah, kamu suka olah raga, ya. Pundak kamu enggak main-main, loh, ini." Dia memberikan sedikit pijatan untuk merasakan otot tangan pemuda itu.
Jevano hanya bisa tersenyum segan. Dia tidak membalas dengan perkataan apa pun.
Rendah hati sekali, batin Juwita sambil mengamati ekspresi yang diberikan pemuda itu. Ternyata, kalau tersenyum seperti ini Jevano terlihat lebih tampan. Matanya hilang dan membentuk lengkungan, seakan juga ikut tersenyum. Ah, apakah ini yang dinamakan eye smile? Baru kali ini dia melihatnya secara langsung dan sangat menawan. Ya ampun manis sekali anak ini.
Di saat seperti itu, Jevano mendekat ke ayahnya dengan langkah agak ragu. "Ayah enggak papa?"
Jamal tersenyum meskipun wajahnya tampak masih pucat dan badannya masih lemas. Dia mengangguk. "Jagoan Ayah udah makan malam?"
Jevano mengangguk. "Sudah, Ayah. Tante ini yang belikan Jevano makan malam."
Jamal mengarahkan pandangannya ke Juwita. "Terima kasih sudah mau mengurus anak saya. Terima kasih juga karena sudah membawa saya ke rumah sakit. Saya berjanji akan menggantinya kalau sudah bisa keluar dari sini."
Juwita langsung melambaikan tangannya. "Tidak usah. Anggap saja ini adalah ungkapan terima kasih saya. Bahkan, semua ini pun menurut saya belum cukup untuk membalas kebaikan Anda. Jadi, tolong jangan merasa terbebani."
Jamal diam. Wanita di hadapannya ini terlihat bersungguh-sungguh. Dia pun mengangguk. "Sekali lagi terima kasih banyak." Bukan karena dia ingin memanfaatkan fasilitas mewah rumah sakit saat keadaannya seperti ini, namun tidak enak jika harus menolak dan saling membalas sungkan. Setidaknya dia akan memasukkan wanita ini ke daftar orang yang harus dia balas suatu saat nanti.
"Ayah, kata dokter Ari tadi kemungkinan besar Ayah kena usus buntu. Terus aku ditanya boleh ditindak atau enggak. Tante ini nawarin mau bantu, jadi maafin Jevano karena bilang iya." Pemuda itu menunduk lemas, merasa bersalah. "Jevano cuma mau Ayah sehat lagi seluruhnya."
Juwita sedikit was-was mendengarkan percakapan antara anak dan ayahnya itu. Dia berharap Jamal tidak menentang keputusan yang telah mereka buat tanpa persetujuannya tadi. Dia jadi harap-harap cemas.
Jamal melirik ke arah Juwita, mencoba memastikan kebenaran ucapan anaknya. Dia pun mendapat anggukan dari wanita tersebut. Lantas, dia pun tersenyum dan mengangguk. Dia mengelus kepala anaknya dengan lembut. "Iya, enggak papa."
Lega. Sangat lega sekali rasanya.
Hellen yang sedari tadi berdiri di posisi paling belakang pun ikut merasakan lega. Astaga, dia seperti menyaksikan adegan hangat antara anggota keluarga sungguhan. Tatapannya tidak lepas dari Jevano, anak itu ternyata juga memperhatikan detail. Tersimpulkan dari cara dia memberitahukan kepada ayahnya apa yang terjadi dan saat dia menyebut nama Ari.
Seketika Hellen mempunyai satu ide cemerlang. Dia melebarkan senyum dan melangkah maju, mendekati Juwita setelah memberikan isyarat salam kepada Jamal. Dia menyenggol lengan sahabatnya. "Kak Ju, enggak sekalian daftar aja jadi anggota keluarganya?"