Bab 1

IZINKANLAH AKU MENCINTAIMU

"Aku talak kamu, Rania! Ayo keluar sekarang. Biar keluarga kita menjadi saksi talakku ini!" ucap Mas Gaza begitu ketus saat aku baru saja melipat mukena. Hatiku berdebar tak karuan mendengar ucapannya.

Apakah detik ini aku sedang bermimpi? Mengapa tiba-tiba Mas Gaza menjatuhkan talaknya padaku, padahal baru tadi pagi dia mengucapkan qabul itu? Apa yang membuatnya berubah sedrastis ini?

Seharusnya, malam pertama adalah malam yang membahagiakan bagi setiap pengantin, siapa pun itu. Malam penuh warna atas bersatunya dua hati yang saling mencintai. Apalagi pernikahan ini bukanlah pernikahan akibat sebuah perjodohan, melainkan pernikahan atas dasar cinta, suka sama suka dan komitmen untuk saling mengisi dan menjaga. Sebuah mimpi bersama demi menjalankan separuh agama yang diridhoiNya.

Tapi apa daya, malam ini justru menjadi malam terburuk dalam hidupku. Malam kelam yang bahkan sekadar membayangkannya saja aku tak mampu. Aku sendiri tak paham kenapa Mas Gaza tiba-tiba begitu jijik menatapku. Dia bahkan menamparku dua kali tanpa kutahu penyebabnya.

Air mataku membanjiri pipi. Sesak ini semakin menjadi apalagi saat Mas Gaza dengan tega mempermalukan aku di depan banyak orang, di hadapan keluarga besar kami yang masih asyik bercengkerama di ruang keluarga. Seolah aku hanya sebutir barang menjijikkan yang layak dimasukkan dalam tong sampah.

Saat ibu dan kakak lelakiku masih asyik bercengkerama di ruang keluarga bersama umi dan abah, di saat para saudara masih duduk lesehan sambil menikmati hidangan, saat itu juga Mas Gaza keluar kamar dengan murka. Menarik lenganku begitu kasar lalu mendorongku tersungkur begitu saja di depan mereka semua.

"Gaza? Apa-apaan kamu! Bisa-bisanya memperlakukan Rania seperti ini. Kamu amnesia siapa dia? Dia baru saja bergelar menjadi istrimu tadi pagi!" bentak abah dengan sorot mata penuh amarah.

"Kamu kenapa, Za? Kesurupan?" Bang Alif ikut menimpali. Dia memapahku menuju sofa di samping umi.

"Aku melakukan semua ini juga ada sebabnya, Bah. Aku sangat mencintai Rania, karena itu pula aku mau menikahinya lebih dulu sebelum melanjutkan S2 ke Kairo. Tapi apa? Dia justru mempermalukan aku di depan semua orang! Istri macam apa ini?!" Pekik Mas Gaza lagi.

Air mataku terus mengalir deras. Dadaku terasa semakin sesak. Perih sekali rasanya. Ingin rasanya aku bertanya apa salahku namun lidah ini terasa begitu kelu. Hanya bulir bening yang terus mengalir di kedua pipiku.

Semua orang di ruangan ini pun menatapku penuh tanda tanya. Umi bahkan menciumi pucuk kepalaku sedari tadi. Seolah minta maaf atas perlakuan anaknya yang semena-mena. Sedangkan ibu masih duduk terpaku di samping Bang Alif, menangis tersedu di pundak anak sulungnya sembari menatapku iba.

"Mulai malam ini, aku talak Rania, Bah. Aku nggak sudi menjadi suaminya. Mau ditaruh di mana mukaku jika teman-temanku tahu siapa dia. Sekarang, biar dia pulang bersama keluarganya dan lupakan saja pernikahan yang baru saja digelar pagi tadi!"

"Astaghfirullah ... Gaza!"

Semua yang hadir berteriak bersamaan. Ibuku sampai jatuh pingsan setelah mendengar talak yang keluar dari bibir Mas Gaza. Tega sekali dia melakukan ini semua padaku, di saat keluarga besar masih menikmati suasana bahagia atas pernikahanku. Di saat aku baru saja sujud syukur karena DIa mengabulkan doa-doaku selama ini, untuk bersanding dengan orang yang kucintai pun mencintaiku.

Kupikir, mulai detik ini aku akan menjadi salah satu perempuan paling bahagia di dunia. Menjadi istri seorang Muhammad Gaza Ramadhan. Laki-laki tampan, beriman dan cukup mapan. Bahkan aku sangat bersyukur akhirnya dia lebih memilih aku yang biasa saja dibandingkan perempuan-perempuan lain di luar sana yang menurutku jauh lebih sempurna. Tapi apa? Impianku itu musnah seketika. Bahkan kini hatiku remuk dan hancur berkeping-keping.

"Apa-apaan kamu, Za!" Abah menampar pipi Mas Gaza dua kali saking jengkelnya.

"Abah nggak pernah mengajarimu seceroboh ini, Za. Ucapan lelaki yang sudah bergelar menjadi suami itu harus benar-benar dijaga, bukan seenaknya. Jangan pernah mengambil keputusan di saat kepala mengebul, jika kamu tak ingin menyesal setelahnya. Tenangkan hati, berpikir jernih, salat istikharah baru mengambil keputusan dengan benar, apalagi menyangkut talak!" Bentakan Abah kembali kudengar.

Namun Mas Gaza seolah acuh. Dia tak peduli dengan omelan abah. Bahkan saat umi ikut menasehati, hati Mas Gaza seolah masih penuh dengan benci. Dia tetap bersikukuh tak ingin menjadikanku sebagai istri. Keputusan Mas Gaza untuk menalakku tak bisa ditarik kembali.

Kebahagiaanku sebagai istri nyatanya tak sampai sehari. Hanya beberapa jam saja, setelahnya justru hati ini benar-benar patah karenanya. Aku yang bahkan belum sempat merasakan malam indah bersamanya, harus berlapang dada untuk pergi selamanya. Menanggalkan semua mimpi yang pernah dirajut bersama.

"Katakan pada abah, pada kami semua. Sebesar apa kesalahan Rania sampai kamu tega menalak dia di malam pertama kalian!"

Mas Gaza menatapku tajam. Aku yang masih tenggelam di pangkuan umi. Hampir semua orang yang ada di ruangan ini menitikkan air mata melihatku begitu terluka. Mungkin ikut merasakan bagaimana sesak dadaku saat ini. Saat yang tak pernah kubayangkan akan terjadi dalam malam pertama pernikahan kami.

"Kamu mau cerita sendiri atau aku yang menceritakan, Ran!" Mas Gaza berucap kasar sembari melotot lebar.

Perih sekali rasanya. Baru kali ini kudengar Mas Gaza sekasar itu padaku. Dia yang biasanya begitu manis dan sopan, tak kusangka bisa bersikap bar-bar.

"Ran, ceritakan pada abah dan umi, juga pada semua yang masih ada di sini. Biar semuanya jelas. Tak akan ada asap kalau tak ada api!" Bentak Mas Gaza lagi. Dia benar-benar dirasuki emosi. Giginya bergemeletuk menahan geram bahkan rahangnya tampak mengeras menatapku begitu tajam.

"Rania! Kamu nggak tuli, kan?" Bentaknya lagi.

Apa yang harus kujelaskan? Sedangkan aku sendiri tak paham kenapa Mas Gaza bisa tiba-tiba murka bahkan kini menjatuhkan talaknya, tepat setelah dia membuka ponsel dari saku celananya.

***

Cerita lain : Salah Kirim Kado, Petaka Ponsel Rahasia Suamiku

Bab 2

"Rania! Kamu nggak tuli, kan?" Bentaknya lagi.

Apa yang harus kujelaskan? Sedangkan aku sendiri tak paham kenapa Mas Gaza bisa tiba-tiba murka bahkan kini menjatuhkan talaknya, tepat setelah dia membuka ponsel dari saku celananya.

"Apa salahku, Mas? Hingga kamu tega menjatuhkan talak di hari yang sama kamu mengucap qabul. Kenapa tak tabayyun dulu? Kenapa ucapan talak seolah begitu ringan bagimu?" Aku tergugu di samping umi. Wanita paruh baya yang baru tadi pagi bergelar sebagai mertua. Air matanya masih bercucuran sepertiku, sedih dan terluka mendengar talak yang begitu lantang diucapkan anak lelakinya.

"Kamu masih bertanya apa salahmu, Ran? Apa urat malumu sudah putus?" Mas Gaza kembali memberondongku dengan dugaannya yang aku sendiri masih tak mengerti apa maksudnya.

"Aku benar-benar nggak paham apa salahku, Mas," jawabku lagi.

"Bahkan aku sendiri malu untuk menceritakannya," ucap Mas Gaza lagi. Sorot mata yang sedari tadi begitu tajam, kini mulai terlihat rapuh. Ada kecewa, duka dan benci yang tersirat di kedua matanya.

Serapuh itukah Mas Gaza? Apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya seperti ini? Selama hampir enam bulan mengenal dia, aku belum pernah melihatnya sekecewa ini.

Aku dan Mas Gaza memang belum lama saling mengenal tapi orang tua kami sudah sejak lama bersahabat. Awalnya mereka memang berniat menjodohkan aku dengan Mas Gaza namun belum sampai diadakan pertemuan keluarga untuk membahas itu, kami sudah saling jatuh cinta. Cinta itu datang begitu saja saat ketiga kali aku dan dia bertemu di kampus yang sama.

Pertemuan ketiga yang begitu istimewa, saat itu aku dan dia sama-sama berada di sebuah rumah makan. Aku ingin pulang sementara dia sepertinya baru saja datang bersama ketiga temannya. Dua orang perempuan dan seorang laki-laki yang tak asing bagiku. Laki-laki yang pernah menjadi teman sekolahku saat SMA dulu.

"Rania anaknya tante Erita, kan?" tanyanya saat dia melihatku kebingungan karena ban motor yang bocor.

"Iya, dia Rania," ucap laki-laki di sebelah Mas Gaza. Ahdan namanya. Dia tersenyum ramah menatapku.

"Oh, kalian sudah saling kenal?" tanya Mas Gaza kemudian. Aku dan Ahdan mengangguk bersamaan.

"Dunia begitu sempit rupanya, ya," ucap Mas Gaza lagi, lalu dia tertawa kecil. Tawa yang membuatku tak bisa tidur berhari-hari manakala mengingatnya. Mungkin itulah yang dinamakan cinta pada pandangan ketiga.

"Ohya, Ran. Ini Ahdan sahabat dekatku. Sedangkan mereka berdua, Windy dan Yoanda. Sahabat kami juga. Kami bersahabat sejak masuk bangku perkuliahan hingga kini, hampir empat tahun lamanya," ucap Mas Gaza lagi. Dia memperkenalkan ketiga sahabatnya padaku.

"Bagaimana kabarmu, Dan?" tanyaku basa-basi pada Ahdan yang masih menatapku tak berkedip beberapa saat lamanya.

"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri kenapa akhir-akhir ini nggak pernah posting di media sosialmu, sibuk?" tanyanya tiba-tiba, membuatku mengerutkan alis seketika.

Berulang kali kueja pertanyaan Ahdan namun masih saja tak kumengerti. Apa selama ini dia mengikutiku di media sosial hingga dia tahu kapan aku on dan kapan aku off? Tapi buat apa dia mengikutiku? Bahkan selama menjadi teman sekelasnya dulu, aku dan dia juga tak terlalu akrab.

"Eh ... iya aku agak sibuk akhir-akhir ini," balasku kemudian.

"Ohya, maaf aku harus segera pulang. Ibu pasti sudah menunggu pesanannya," ucapku lagi.

Aku memang sengaja mampir ke rumah makan ini untuk membelikan nasi kebuli pesanan ibu.

"Tapi ban motor kamu bocor, Ran. Aku antar pulang aja gimana?" Mas Gaza menawarkan jasa. Namun aku menolak. Meski ibu sudah mengenal baik orang tuanya tapi ibu pasti tak suka jika aku pulang diantar laki-laki bukan mahram.

"Maaf, Mas. Aku pulang sendiri saja. Mau cari bengkel dulu," ucapku lagi. Di saat yang sama, dua sahabat wanita Mas Gaza pamit untuk masuk lebih dulu. Perempuan bernama Yoanda itu menatapku sinis, seolah tak suka jika aku berlama-lama dengan sahabatnya. Entah karena apa.

"Kalau begitu biar aku yang dorong motornya, ya? Ada bengkel tak jauh dari sini tapi lewat gang sebelah. Kamu pasti nggak tahu tempatnya," ucap Mas Gaza lagi. Tanpa kuiyakan dia sudah memintaku untuk menyerahkan stang motor ke tangannya.

"Dan, kamu masuk dulu sama si Windy dan Yoanda. Nanti kususul. Pesan saja suka-suka kalian, oke?"

Kulihat Ahdan hanya mengangguk pelan, membiarkanku pergi bersama sahabatnya. Sampai di belokan iseng kumenoleh ke belakang, masih ada Ahdan dengan tatapannya yang begitu sulit kuartikan.

Sejak saat itu, hubunganku dengan Mas Gaza kian dekat hingga dia mengungkapkan kekagumannya padaku. Tanpa menunggu waktu lama, dia melamarku sebulan lalu. Ibu begitu terharu saat itu, karena setelah menikah Mas Gaza akan memboyongku ke rumah umi.

Waktu yang begitu mendebarkan buatku dan ibu yang sejak dulu hampir tak pernah berpisah. Mas Alif pun menitikkan air mata, melihatku begitu bahagia menerima pinangan laki-laki yang kucinta.

Kuseka kembali air mata yang menitik di pipi. Ah momen bahagia yang tak lama kurengkuh, karena detik ini semua senyum bahagia itu pun luruh.

"Katakan saja di sini, Mas. Apa salahku hingga kamu tega menjatuhkan talak itu," ucapku lirih. Dadaku sesak karena terus menangis sedari tadi.

"Dengan siapa dan kapan kamu melakukan ini, Ran?" tanya Mas Gaza tiba-tiba. Dia menatapku begitu tajam sembari mengulurkan ponselnya.

Betapa terkejutnya aku saat melihat video yang ada di ponselnya itu. Kepalaku mendadak pening, mata berkunang-kunang hingga semua gelap seketika, dan aku tak sadar apa yang terjadi setelah itu.

***

Bab 3

Kubuka mata perlahan. Tampak orang-orang yang begitu kusayang berjejer di tepi ranjang. Ranjang yang seharusnya menjadi ranjang kenangan indah bersama pasangan, kini hanya menanggalkan sesak dan luka terdalam.

Mas Gaza masih sibuk bicara dengan ibu dan umi di sudut ruangan. Mungkin membicarakan video yang tadi kulihat di ponselnya. Hanya beberapa detik karena aku tak sanggup melanjutkan untuk menonton lebih lama.

Video yang mengerikan dengan wajahku di sana. Aku yakin itu tak benar dan sebatas editan, tapi sekilas memang tak tampak jika itu sebuah editan. Seperti nyata, begitu sempurna rekayasanya.

Tapi bagaimana caraku untuk membuktikan bahwa itu hanya sekadar rekayasa? Jika Mas Gaza tak berniat untuk menyelidikinya lebih lanjut, dengan alasan dia tak ingin mengumbar aib keluarga?

"Mas, tolong jelaskan padaku. Kamu dapat darimana video itu?" tanyaku lirih. Mas Gaza menoleh ke arahku. Uni dan ibu pun memandangku dengan tatapan iba, tak ada kecewa di wajah mereka. Mungkin mereka juga yakin kalau aku tak mungkin melakukan hal seburuk itu.

"Aku dapatkan dari orang yang terpercaya, Ran. Mereka tak mungkin membohongiku, aku kenal sudah lama dengan mereka bahkan bertahun-tahun," jawab Mas Gaza kemudian.

"Iya tapi siapa?" tanyaku setengah memaksa. Aku berusaha untuk duduk, bersandar dengan bantal di atas ranjang.

"Kamu nggak perlu tahu soal itu, Ran. Yang harus kamu jelaskan, kenapa kamu bisa melakukan ini?" tanya Mas Gaza lagi. Kutatap tajam kedua matanya yang masih diliputi kecewa dan emosi.

"Apa kamu percaya jika aku bilang bahwa dalam video itu bukan aku?" tanyaku lagi.

"Berarti kamu menuduh pengirim video itu membohongiku?" tanyanya balik.

"Aku tak menuduhnya. Aku hanya tanya apa kamu percaya ucapanku jika aku bilang bahwa dalam video itu bukan aku?" tanyaku lagi.

"Jadi maksud kamu apa, Ran? Perempuan bug*l dalam video itu bukan kamu, begitu?" tanyanya lagi.

"Iya. Itu bukan aku, Mas. Bahkan melepas hijab di teras rumah saja aku nggak pernah. Bagaimana mungkin aku melakukan hal sebodoh itu?"

"Apa aku harus lebih percaya sama kamu yang baru kukenal beberapa bulan dibanding pengirim video itu? Mereka yang sudah kukenal bertahun-tahun?" Mas Gaza kembali bertanya.

"Tapi aku nggak pernah melakukan itu. Terserah kamu percaya atau tidak, Mas," ucapku lagi. Tangisku kembali pecah. Tega-teganya suami sendiri meragukan ucapan istrinya. Lantas bagaimana nasib rumah tanggaku nanti jika dia jauh lebih mempercayai orang lain dibandingkan istrinya sendiri?

"Abah antar ke orang yang lebih paham dalam hal ini, Za. Kita buktikan yang sebenarnya. Kamu jangan percaya begitu saja apalagi ini bukan perkara biasa. Bagaimana jika Rania yang benar sedangkan kamu yang salah?" Abah kembali memberi saran namun lagi-lagi Mas Gaza menolak.

"Nggak perlu, Bah. Aku nggak mau menyebarkan aib keluarga sendiri. Aku sudah lihat video itu beberapa detik sampai kulihat ada jam tangan dan gamis yang tergeletak di ranjang, sama persis seperti gamis yang pernah dipakai Rania kala itu. Apa itu belum cukup bukti jika video itu memang dia?"

"Istighfar, Gaza! Umi yakin itu bukan Rania. Umi kenal betul siapa ibunya," ucap umi membela.

"Iya umi memang kenal ibunya sejak lama tapi umi nggak begitu kenal anaknya."

Mas Gaza masih saja bersikukuh dengan opininya. Dia tetap tak ingin rujuk, bahkan terang-terangan bilang akan segera mengurus perceraian kami. Ah, teganya dia!

"Tega kamu, Mas. Kamu lebih mempercayai orang lain dibandingkan aku, istrimu sendiri," ucapku lagi. Kupeluk ibu dan menangis di pangkuannya. Ibu pun mengusap kepalaku perlahan.

Aku yakin detik ini tak hanya aku yang sakit hati, tapi umi, abah, mas Alif dan keluarga besar ini pun mengalami sakit yang sama kecuali Mas Gaza yang dirasuki entah apa.

"Kamu baru sehari menjadi istriku, Ran. Sedangkan pengirim video ini, aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Kamu dengar itu, kan? Dari dulu mereka tak pernah membohongiku. Aku mengenalnya bahkan keluarganya," ucap Mas Gaza begitu yakin.

"Ajak dia ke sini. Biar aku sendiri yang tanya kenapa dia bisa mendapatkan video itu. Darimana dan kapan dia mendapatkannya," ucapku lagi. Aku tak terima difitnah begitu saja, apalagi dengan fitnah yang menjijikkan seperti itu.

"Kenapa? Kamu nggak mau mengajak mereka ke sini?" tanyaku lagi.

"Aku sudah berjanji untuk tak membocorkan identitas pengirim ini, Ran. Aku tak mungkin melanggar janjiku sendiri," ucap Mas Gaza lagi. Dia tetap menolak permintaanku untuk menghadirkan pengirim video itu.

"Tapi kamu juga sudah melanggar janjimu di hadapanNya, Mas. Janjimu untuk menjadi pemimpin yang adil. Nyatanya baru tadi pagi kamu berjanji, detik ini kamu sudah mengingkari."

Mas Gaza mendongak cepat, menatap kedua mataku lekat.

"Aku nggak mungkin melanjutkan pernikahan dengan perempuan yang mengumbar auratnya bahkan bug*l di hadapan laki-laki lain, Rania. Aku malu jika ibu dari anak-anakku memiliki sikap seburuk itu. Aku malu. Aku malu!"

"Terserah apa maumu, Mas. Tapi yang jelas, dalam video itu bukan aku!"

"Ibu juga bisa pastikan kalau itu bukan Rania, Za. Ibu mendidiknya sedari kecil untuk menutup aurat bahkan jika keluar rumah, kedua kakinya pun tertutup rapat. Mana mungkin Rania melakukan hal bod*h seperti itu. Buat apa? Soal uang dia tak pernah kekurangan meski hidup kami pas-pas an. Alif juga sosok pengganti bapak yang baik untuk keluarga. Dia kakak yang tanggungjawab. Tak pernah membiarkan adiknya kenal laki-laki sembarangan."

Ibu tergugu di sampingku, lalu berpelukan dengan umi.

"Maafkan anakku, Er. Maafkan dia," ucap umi berulang kali. Mereka masih saja berpelukan dalam tangis.

"Aku tak akan memaafkanmu begitu saja, Za. Kamu sudah merendahkan adikku!" Bentak Mas Alif kemudian. Kedua tangannya mengepal hendak menonjok Mas Gaza namun abah memintanya untuk kembali istighfar.

"Maafkan aku, Bah, Mi. Pikiranku kacau. Aku malu. Sekali lagi maaf, aku nggak bisa melanjutkan pernikahan ini," ucap Mas Gaza lagi. Dia pergi begitu saja meninggalkan kami di kamar yang cukup luas ini.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED