Bab 2

BAB 2:

Manuver Terakhir

Suara tegas terdengar memecah keheningan di anjungan, bercampur dengan deru mesin tugboat dan denting peralatan navigasi.

"LEFT twenty..." seru sang pilot kapal berkebangsaan Tiongkok.

"Left twenty..." Prast, sebagai juru mudi, mengulang komando itu dengan lantang dan yakin, memutar roda kemudi sesuai instruksi.

Kapal kargo raksasa itu bergerak perlahan, membelah air keruh pelabuhan. Dua tugboat, seperti anjing penjaga yang setia, membantu mendorong dan menarik lambung kapal agar sandar dengan mulus ke dermaga. Prast masih berdiri tegak di balik kemudi, matanya fokus, menunggu komando berikutnya.

"Ship steady..."

"Ship steady..." Prast selalu mengulang setiap perintah, memastikan komunikasi berjalan sempurna.

Sudah bertahun-tahun ia melakoni peran ini. Sejak masih bujangan, hingga kini ia telah berstatus ayah. Tangannya cekatan, gerakannya efisien. Namun, kali ini ada perasaan berbeda. Ini adalah pelabuhan terakhirnya. Hari ini, ia dan beberapa rekan kerjanya akan sign off-turun kapal-dan kembali ke rumah. Penggantinya sudah dijadwalkan tiba.

Saat kapal akhirnya terikat kuat di dermaga, Prast menghela napas lega, senyumnya mengembang. Tugasnya selesai. Ia menuruni tangga dari anjungan, membawa serta tas berisi harapan.

Janji di Ruang Tunggu

Wajah Prast bersinar bahagia, seolah memancarkan cahaya dari tiket pesawat di tangannya: Shanghai-Jakarta. Namanya, Prastian Utama, tertulis jelas di sana.

Beberapa jam kemudian, ia dan teman-temannya sudah duduk menunggu panggilan boarding. Mata Prast menyapu kawan-kawannya, yang rata-rata terlihat letih namun bahagia. Pandangannya terhenti pada Davin, Mualim Satu kapal, yang duduk di depannya dengan tatapan kosong yang disamarkan senyum tipis.

"Chief!" panggil Prast pelan.

Davin menoleh dan tertawa kecil. "Panggil nama aja, Bro. Sudah selesai dinas, kita sekarang cuma penumpang biasa."

"Vin," Prast merendahkan suaranya, "Jadi, gimana rencana lo buat bini lo? Lo bilang sudah dapat gambaran."

Senyum Davin melebar, senyum yang terasa sedikit getir tapi penuh tekad. Sejak ia berbagi cerita panjang lebar dengan Prast beberapa waktu lalu, Davin seakan telah menerima dan mempersiapkan diri.

"Jadi... gue sudah tahu pasti apa yang harus gue lakukan. Gambarannya sudah jelas."

Prast maju sedikit, penasaran. "Gimana rencananya? Ceritain dong."

Davin menggeleng pelan. "Nanti saja kalau sudah di Jakarta kita ketemuan. Biar waktunya leluasa, kita bisa ngopi santai." Ia mencondongkan badan. "Gue sudah nyusun rencana... dan yang pasti gue butuh bantuan lo, Prast."

Prast langsung menepuk bahu Davin. "Lo butuh gue bantu, bilang aja. Ready!"

"Elu bantu gue ya?" tanya Davin, menatap lurus ke mata Prast.

"Siap!" jawab Prast tegas sambil tersenyum lebar. Janji telah terucap.

Senyum yang Menyimpan Rahasia

Waktu berjalan cepat. Setelah transit di Changi, para pelaut itu akhirnya keluar dari Bandara Soekarno-Hatta. Wajah mereka begitu ceria, walaupun lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Shanghai. Aroma khas Jakarta menyambut mereka.

Di tengah hiruk pikuk area penjemputan, Prast dan Davin berpisah. Hanya Prast yang dijemput keluarganya. Istrinya, Santi, sudah berdiri menunggu.

"Mas Prast!" sapa Santi sambil memeluk. Matanya beralih ke Davin. "Mas Davin, apa kabar? Lama nggak ketemu!"

"Baik, Mba Santi. Alhamdulillah. Kalian apa kabar?" jawab Davin ramah.

Sambil berbasa-basi, Santi sempat melontarkan pertanyaan yang menusuk hati Davin. "Kok nggak dijemput Mba Sabrina, Mas?"

Davin hanya menjawab dengan senyuman yang teramat tipis. Prast melihat senyum itu dan mengerti. Ia maklum dengan masalah yang sedang terjadi di keluarga Davin. Ia juga tidak menceritakan masalah Davin kepada Santi. Ia tidak mau istrinya berubah pandangan terhadap Sabrina, karena Santi dan Sabrina sudah akrab.

Sepanjang persahabatan Prast dan Davin, istri-istri keduanya pun menjadi akrab. Tak jarang keluarga mereka liburan bersama. Tak pantas juga menceritakan keburukan tentang Sabrina ke istriku... batin Prast. Biarlah Santi tetap menganggap keadaan rumah tangga sahabatnya baik-baik saja.

"Oke, Prast, gue pamit dulu," ucap Davin. Ia menoleh ke Santi. "Mbak, pamit yaa."

"Hati-hati, Mas. Salam buat Sabrina yaa," sahut Santi tulus.

Davin mengangguk. Prast memajukan tubuhnya. "Jadi besok ya, Vin? Abis Dzuhur?"

"Sip! Assalamu'alaikum," kata Davin sambil mengangkat tangan, memberikan kode bentuk OK.

"Waalaikumsalam," jawab Prast dan Santi bersamaan.

Pertanyaan di Dalam Mobil

Begitu Davin menjauh, Santi langsung menatap suaminya, meminta penjelasan.

"Memang mau kemana besok, Mas sama Davin?" cecar Santi.

Prast tersenyum. "Oh, besok cuma mau tukar dolar barengan, Sayang. Terus sekalian ke kantor laporan."

Rencana Prast bertemu Davin besok sebenarnya lebih dari sekadar menukar dolar dan ke kantor. Mereka berdua hendak membahas dan menuntaskan masalah keluarga Davin. Tentu lebih baik Santi tidak mengetahui masalah itu.

"Mas, kok tukar dolar sama Davin?" rajuk Santi. "Biasanya kan sama aku."

"Hehe. Davin yang ngajakin, Sayang. Nggak enak Mas tolak," Prast beralasan.

Santi memanyunkan bibirnya. "Takut yaa dolarnya diambil aku?"

"Haha. Kagalah, Say. Nanti juga kamu kebagian," jawab Prast gemas, sambil mengusap kepala istrinya.

Prast merangkul Santi, mengajaknya segera pulang karena malam semakin larut. Ini pertama kalinya ia dijemput hampir tengah malam, sehingga Santi tidak membawa serta anak mereka. Dalam perjalanan pulang, Prast hanya duduk di kursi penumpang, membiarkan Santi yang mengemudi.

Tidak banyak obrolan, hanya ungkapan rindu yang terucap. Sesekali Prast menutup matanya, membayangkan kehidupan yang akan terjadi di keluarga Davin, sahabatnya.

Semoga masalah di keluarga Davin tidak terjadi di keluarganya. Prast sudah sepuluh tahun berumah tangga dengan Santi dan dikaruniai seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun.

Santi adalah wanita luar biasa di mata Prast. Meski tak cantik-menurut standar umum-ia adalah tipe istri yang mandiri. Ia tidak sepenuhnya mengandalkan gaji suaminya yang pelaut. Sembari mengurus anak, ia juga berjualan kue secara online. Kemandirian itu juga ia ajarkan pada anaknya.

Buatku sebagai pelaut, menikahi wanita yang tidak terlalu cantik ada keuntungan tersendiri. Godaan dari luar jika wanita cantik hidup sendiri tentu lebih besar. Itu yang membuatnya tidak terlalu khawatir meninggalkan Santi.

Mungkin karena kecantikan itu pula yang membuat terjadinya masalah di keluarga Davin... batin Prast. Tapi pasti ada masalah lain sehingga Sabrina bisa berbuat seperti itu. Ini yang nanti harus ia bicarakan besok dengan Davin.

"Mas!" sentak Santi, membuyarkan lamunan Prast.

"Ehhh, yaa?"

"Mau mampir nggak ke McD? Kita supper?" tanya Santi, saat mobil mulai keluar dari jalan tol.

"Nggak usah, Yang... Langsung pulang aja. Udah ngebet nih..." Prast tersenyum nakal.

Santi balas menatap genit. "Ngebet ngapain, Mas?"

"Kangenlah... ha ha!"

Keheningan Hotel

Akhirnya Prast sampai di rumah. Ia menengok anaknya yang sudah tertidur lelap. Ia tidak membangunkannya-meski rindu-karena besok pagi anaknya harus sekolah.

"Mau teh ya, Mas?" tawar Santi.

"Boleh, Yang," sahut Prast, merebahkan badannya di sofa.

Rasanya tenang setelah delapan bulan bekerja, kini ia kembali berada di rumah. Apa Davin merasakan hal yang sama ya? batin Prast.

Diambilnya ponsel.

(Prast): Assalamu'alaikum, Bro. Gue sudah di rumah. Gimana elu?

(Davin): Waalaikumussalam... hahaha, gue kaga pulang, Bro! sahut Davin, diiringi suara tawa yang terdengar agak dipaksakan.

(Prast): Lhaaa?? Terus lu ke mana?

(Davin): Gue nginep di hotel.

(Prast): Sabrina gimana? Dia nggak tahu? cecar Prast, penasaran.

(Davin): Dia nggak tahu gue sudah pulang. Gue nggak kasih kabar juga kalau gue pulang. Dia tahunya gue masih onboard di kapal... jelas Davin. Biarin aja, sekalian gue juga mau jalanin rencana gue.

(Davin): (menggoda) Elu sini aja, nginep di rumah gue...

(Prast): Nggak lah! Nanti gue malah gangguin elu. Elu kan mau kangen-kangenan sama bini lu... hahaha!

Bab 3

BAB 3:

Langit Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana serius yang melingkupi pertemuan Prast dan Davin. Setelah selesai menukar dolar di bank, Prast sengaja memilih kafe terbuka. Angin sepoi-sepoi Jakarta yang hangat menerpa, dan mereka bebas menghirup asap rokok; sepertinya mereka akan menghabiskan waktu yang sangat lama di sana.

Setelah mengucap salam dan berbasa-basi sebentar menanyakan kabar keluarga, Prast mengajak Davin untuk duduk di meja pojok, tempat paling tersembunyi.

Prast menatap Davin. Wajahnya cerah, matanya pun bersinar. Ada ketenangan yang aneh, seolah Davin sudah berdamai sepenuhnya dengan keadaan. Prast yakin, Davin sudah menyusun rencana-rencana besar dan gila untuk menyelesaikan masalahnya.

Dua cangkir kopi hitam mengepul sudah tersedia di meja, ditemani beberapa camilan. Davin menghirup asap rokoknya dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, seolah itu adalah langkah pertama dari aksinya. Prast pun berusaha santai.

"Intinya, elu ikuti saja apa yang gue sudah rencanain ini Prast..." Davin mulai membuka percakapan, nadanya datar tapi tegas.

"Sebenarnya bisa saja gue yang jalanin semuanya ini," lanjutnya. "Tapi takutnya nanti ketahuan. Soalnya kan banyak yang kenal gue di sana."

"Ini...!!!" Davin menyodorkan beberapa lembaran kertas folio.

Prast menerima berkas itu. Hahhh... gile... ini Davin benar-benar sangat serius mau menghukum istri dan selingkuhannya itu, pikir Prast. Berkas itu menyerupai checklist seorang inspektur, tersusun rapi dengan langkah-langkah detail, jangka waktu pengerjaan, dan kolom kosong di pinggir kiri untuk tanda centang (✓) pekerjaan yang sudah selesai.

Prast tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat keseriusannya. Davin ikut tersenyum.

"Berapa lama elu nyiapin beginian?" Prast penasaran.

"Dua minggu sebelum kita pulang dari Cina kemarin," jawabnya bangga. "Ini yang kita bahas sekarang, Bro."

Davin menyandarkan punggungnya. "Cek, kali ada yang nggak bisa dikerjakan, atau elu mau nambahin juga boleh."

Davin melihat jam di arlojinya. Mereka benar-benar akan lama di sini, karena setiap langkah harus dibahas secara detail.

Diskusi di Bawah Matahari Senja

Prast mulai memeriksa rencana itu secara keseluruhan. Ada beberapa poin yang ia coret karena langkahnya terlalu berisiko atau tidak mungkin Prast kerjakan sendirian. Namun, ada pula langkah-langkah pendukung yang Prast tambahkan, tentu saja setelah berdiskusi dan mendapat persetujuan Davin.

"Kayaknya gue butuh bantuan orang lain deh, Dav!" ujar Prast. "Yang poin ini nih... nggak mungkin gue sendiri."

Davin mengangguk cepat. "Ningsih nanti yang bantu elu."

"Hanya Ningsih yang tahu gue pulang. Orang tua gue aja nggak gue kasih tahu," jelasnya, menunjukkan betapa ketatnya rahasia ini ia jaga.

Waktu berjalan terus, tak terasa sudah masuk waktu Ashar. Mereka pamit sebentar kepada pelayan kafe untuk salat. Prast berpesan agar meja mereka tidak dibersihkan dan meminta pesanan makanan dan kopi sudah tersedia saat mereka kembali.

Diskusi panas ini mereka lanjutkan setelah menunaikan salat Ashar. Prast mulai membahas detail setiap poin. Ia merasa seperti sedang merencanakan tindakan kriminal, karena apa yang akan ia lakukan nanti terasa ilegal di mata hukum.

Seperti kejahatan dibalas dengan kejahatan, apakah itu pantas? batin Prast. Ia merasa tidak peduli. Niatnya hanya satu: membantu sahabatnya ini.

Di tengah diskusi, Davin tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkan dua buah handphone kepada Prast.

"Lu pegang ini," katanya, menyerahkan sebuah ponsel kecil. "Yang ini buat kita komunikasi dan mencatat semua kegiatan yang kita lakuin."

Prast mengangguk-angguk. Benar-benar seperti kriminal profesional, pikir Prast.

Ia lalu menunjukkan ponsel lain. "Yang ini ponsel kloningan handphone bini gue... buat nyadap."

Hahh! Davin sudah menjalankan poin awal rencananya! Prast tak habis pikir.

"Kapan lu cloning nih handphone?" tanya Prast meminta penjelasan.

"Seminggu lalu. Gue suruh Ningsih." Davin menatap ponsel kloningan itu. "Tapi jangan dibuka. Hanya di-cloning aja."

"Gue sendiri juga belum buka. Gue takut emosi, malah nggak jadi apa yang gue rencanain," akunya.

"Lha... berarti sudah ada bukti kalau Sabrina selingkuh?" potong Prast.

Davin menggeleng. "Kalau cuma WA aja masih lemah, Prast. Dia bisa saja bilang WA palsu. Lagian, mungkin juga dia selalu menghapus riwayat chat-nya."

Prast mulai mengerti jalan pikiran Davin. Dia tidak hanya ingin bukti, dia ingin menangkap basah, ingin menghantam telak.

Jejak Digital dan Dana Operasi

Akhirnya, semua poin selesai dijabarkan dengan detail. Hari menjelang sore. Davin mengeluarkan laptopnya, menulis ulang hasil diskusi mereka yang tadinya hanya coret-coretan kasar di kertas.

"Mana handphone lu?" tanya Davin.

Prast memberikan ponselnya yang biasa ia gunakan.

"Bukan, handphone yang kecil... yang buat rencana ini!" koreksinya. "Mau gue copy hasilnya ke situ."

Setelah berhasil menyalin file, Davin mengembalikan ponsel itu kepada Prast. Dia berpesan agar Prast segera memberi password pada file tersebut, berjaga-jaga jangan sampai rencana ini bocor. Memang, isi file itu adalah panduan yang harus Prast lakukan, dan ini harus dirahasiakan, bahkan dari Santi, istrinya, untuk meminimalkan risiko jika aksinya terbongkar.

"Norek lu berapa, Bro?" tanya Davin mendadak.

"Hah? Buat apa?" tanya Prast kembali, bingung.

"Gue tahu semua ini butuh dana. Mana nomernya?" Ia mendesak sambil menggenggam ponselnya.

"Nggak usah, Bro. Gue pakai duit sendiri aja. Sama lu, masa gue hitung-hitungan?" tolak Prast.

"Gue tanya Santi ya, norek lu?" ancamnya sambil senyum-senyum.

"Yaa... nanti malah ketahuan! Dia tanya macam-macam," sahut Prast, mengalah.

Akhirnya, Prast meminta Davin mengirim uangnya ke aplikasi UANGKU saja, untuk menghindari pertanyaan dari Santi jika ada transfer masuk ke rekening bank. Memang, rencana Davin ini membutuhkan dana yang lumayan besar bagi Prast. Walaupun terasa seperti membuang uang, Prast harus mendukungnya. Davin sendiri sepertinya tidak memikirkan biaya; yang ada di pikirannya hanyalah bukti dan hukuman setimpal untuk Sabrina dan selingkuhannya.

Fake GPS dan Aturan Main

Selesai sudah diskusi mereka. Davin merapikan barang-barangnya: kertas, pulpen, semuanya dimasukkan kembali ke tas. Dia berpesan bahwa mulai detik ini, komunikasi hanya menggunakan handphone kecil pemberiannya. (Handphone kecil di sini maksudnya ponsel dengan ukuran sekitar iPhone 5, karena ponsel zaman sekarang rata-rata berukuran 6 inci ke atas).

Prast merasa aksi mereka telah resmi dimulai saat ini. Namun, melihat tingkah Davin, Prast menduga Davin sudah mulai lebih dulu. Davin tidak pernah melepas topi dan kacamata hitamnya. Saat datang pun dia memakai masker-yang baru diturunkan setelah dia duduk-dan dia memilih tempat duduk yang membelakangi kamera CCTV. Setiap pelayan datang, maskernya selalu dinaikkan lagi.

"Dav... kalau mulai sekarang baru gue ngubungi lu pake handphone kecil... lha sebelom nyampe tadi siang, gue masih hubungi lu pake nomer biasanya, gimana tuuh???" cerocos Prast penasaran.

Davin tersenyum misterius. "Tenang, Bro. Gue udah rencanain ini matang."

"Gue pakai FAKE GPS. Jadi, kalau lu telepon gue, itu seakan-akan gue masih di Cina," jelas Davin. "Sama kayak kemarin malam lu telepon gue... itu gue di Cina kalau dicek."

"Yang tahu keberadaan gue di sini cuma elu, Ningsih, sama pegawai imigrasi... hahaha" Davin tertawa, seolah mengejek Prast yang baru menyadari detail ini.

"Elu juga, mulai sekarang... kalau lagi jalanin rencana gue, handphone utama lu matiin ya!" tegas Davin.

"Dari mulai keluar rumah sudah lu matiin!"

"Lha... kok bisa???"

"Jejak digital, Bro. Jejak linimasa lu ketahuan, lu pergi ke mana saja," jelas Davin, mengakhiri perdebatan.

"Okelah, Bro. Sampai ketemu lagi," ucap Prast.

Mereka bersalaman tanpa pelukan, keluar dari kafe itu. Davin mengangkat tangannya, memberikan kode perpisahan.

"Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED