Bab 1

ISTRIKU SELINGKUH

BAB 1

Malam merayap perlahan, seperti hewan liar yang tak terlihat namun terasa kehadirannya. Di kabinku yang sempit, hanya ada cahaya lampu kecil menggantung di sudut atap, bergoyang pelan mengikuti getaran mesin kapal. Suara mesin diesel yang konstan itu bagai detak jantung raksasa yang menemani setiap perjalanan kami-menenangkan bagi sebagian orang, namun malam ini terasa menekan.

Aku duduk di kursi lipat sambil menatap pemuda di depanku. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang tak memberi jeda untuk bernapas. Padahal kami baru saja selesai shift empat-delapan, waktu yang biasanya ia manfaatkan untuk mandi, makan, dan kemudian tidur sebentar sebelum berganti jaga lagi.

Tapi malam ini dia tidak tidur. Dia hanya duduk di ranjangku, kedua sikunya bertumpu di lutut, kepala tertunduk seolah kehilangan kekuatan untuk ditopang oleh lehernya sendiri.

Aku menghela napas pelan, lalu menyerahkan segelas kopi panas kepadanya.

"Geng... nih, kopi dulu," ujarku, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung seperti awan gelap.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. Mata yang biasanya tajam, sigap, dan penuh wibawa kini berkaca-kaca, seperti menahan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesedihan.

"Makasih, Bro..." Ia mengambil kopi itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Aku memperhatikannya menyesap kopi itu, seolah berharap panasnya bisa membakar habis beban yang dia rasakan. Aku kenal Davi cukup lama-dia perwira seniorku, Mualim Satu di kapal ini. Dan meski dia atasanku, hubungan kami tidak sekadar profesional. Kami sering berjaga bersama, sering makan bersama, bahkan sering tidur di kursi anjungan saat kapten lagi dermawan dan mengizinkan kami istirahat.

Davi bukan orang yang gampang tumbang. Tapi malam ini... dia bukan Davi yang kukenal.

"Jadi... gimana?" tanyaku pelan. "Coba cerita. Siapa tahu aku bisa bantu."

Ia diam cukup lama. Yang terdengar hanya desiran AC kabin dan suara mesin yang berdengung jauh di bawah dek.

Akhirnya, dia menghembuskan napas berat. "Bini gue selingkuh, Bro..."

Aku tertegun. Kata-katanya menabrak dinding kabinku dan memantul kembali ke telingaku, seperti gemuruh yang tak bisa kutahan.

"Aku nggak tahu... apa yang harus kulakuin... bantu aku, Pras..." lanjutnya, suaranya hampir pecah.

Aku memandangnya lama. Dalam benakku terbayang wajah Sabrina-istrinya. Wanita bertubuh mungil, berwajah manis, dengan wajah yang selalu tertutup jilbab lebar ketika pernah kutemui sekali saat perayaan keluarga. Wanita yang menurutku terlalu kalem, terlalu baik, terlalu-maaf-"rapi" untuk melakukan hal yang begitu kotor.

Aku menggeser kursi, duduk lebih dekat, menepuk pundaknya pelan. "Yakin kamu, Dav?"

"Belum yakin benar, sih..." Davi mengusap wajahnya. "Tapi yang bilang... orang yang kuyakini banget."

"Adikmu?"

Dia mengangguk, sorot matanya kosong.

"Aku tanya dulu," ucapku tegas. "Kamu udah telepon rumah? Udah tanya langsung ke istrimu? Udah cek apa pun?"

"Belum." Ia menggeleng lemah. "Belum apa-apa aku lakukan."

"Dan kamu baru dengar beritanya?"

"Justru itu, Bro... udah lama aku dengar. Enam bulan lalu malah." Ia tertawa kering. "Enam bulan aku bego percaya istri aku nggak akan ngelakuin hal yang hina begitu..."

Aku menggeleng kecil. "Terus... kenapa sekarang kamu yakin?"

"Karena yang ngomong adikku sendiri. Ningsih nggak pernah bohong. Dia bukan tipe yang suka campuri rumah tangga orang. Kalau dia berani ngomong... pasti berat buat dia."

Davi menutupi wajahnya lagi. Kali ini bahunya sedikit bergetar. Aku tahu betul betapa kerasnya dia menjaga martabat, dan fakta bahwa dia menangis... berarti ini benar-benar menghancurkannya.

"Dav." Aku mencondongkan tubuh, menatapnya. "Tenang dulu. Tarik napas."

Ia menghirup napas panjang, berusaha menata diri.

"Sebelum aku kasih saran," lanjutku, "aku pengin tahu dulu... gimana ceritanya. Info apa aja dari Ningsih? Kamu harus ceritain semuanya."

Davi mengangguk pelan. Aku berdiri sebentar, membuka laptop di mejaku, memutar lagu pelan-lagu-lagu yang biasa mengisi shift malam kami di anjungan. Musik membantu suasana agar tidak terlalu hening dan mengancam.

Aku kembali duduk, kali ini kami saling berhadapan.

"Oke," kataku, "jelasin dari awal."

Davi menyesap kopinya lagi sebelum membuka suara.

"Jadi... kata Ningsih, bini aku selingkuh sama ustad tempat dia ikut pengajian..."

Aku spontan memotong, "Hah?! Ustad? Serius, Dav?!"

"Iya..." jawabnya lemah. "Setahun lalu, bini aku minta izin ikut pengajian. Katanya buat nguatin iman... ngisi waktu luang. Lagian anakku, Nouval, udah masuk playgroup, jadi dia banyak waktu kosong."

"Dan kamu izinin?"

"Iya lah." Ia mendesah. "Siapa sih yang nggak senang istrinya mau nambah ilmu agama?"

Aku mengangguk kecil, memahaminya.

"Terus?"

"Enam bulan," lanjut Davi. "Enam bulan pertama semuanya normal. Dia selalu berangkat bawa Nouval. Tapi lama-lama, dia mulai nitipin Nouval ke Ningsih. Katanya biar fokus, biar bisa nyimak kajian."

Aku mulai merasa ada yang mengganjal, tapi kutahan komentarku.

"Setelah itu, gosip mulai muncul dari ibu-ibu sekitar rumah. Gosip kalau Sabrina... sering pulang paling terakhir dari pengajian. Bisa satu jam, dua jam setelah kajian selesai." Davi menelan ludah. "Awalnya aku nggak percaya. Aku pikir cuma iri atau fitnah."

"Tapi Ningsih cari tahu, kan?"

Davi mengangguk. "Dia terlalu sayang sama aku. Dia nggak mau cuma percaya gosip. Tapi dia sibuk kuliah, jadi dia suruh temennya ikut pengajian itu."

Aku bersandar, mendengarkan lebih serius.

"Dari temen Ningsih itulah info datang. Katanya... Sabrina dan Ustad Somad sering menghilang setelah kajian. Atau datang terpisah saat ada kegiatan luar kota. Selalu ada alasan yang mencurigakan."

Aku bisa melihat rahangnya mengeras.

"Dan puncaknya..." ucapnya lirih, "waktu Ningsih nganter Nouval pulang lebih cepat dari biasa. Dia liat Ustad Somad keluar dari rumah aku. Nutup pintu pagar rumah."

Aku mengangkat alis kaget. "Hah? Sendirian? Di rumahmu cuma ada Sabrina?!"

Davi mengangguk, matanya panas.

Di titik itu, aku resmi merasakan amarah merayap di dadaku. Bukan cuma untuk Sabrina, tapi untuk ustad sialan itu yang memanfaatkan posisi dan kepercayaannya.

Davi menyandarkan tubuh, menatap lantai kabin.

"Itu cerita Ningsih," gumamnya. "Dan... sebagai laki-laki... kamu pasti tahu kalau ada cowok dateng ke rumah yang cuma ada istrinya doang... ya bisa dibayangkan."

Kepalaku mengangguk tanpa kusadari.

"Terus?" tanyaku pelan.

Davi meremas rambutnya sendiri. "Aku lemes, Bro... aku ngerasa dihancurin."

Aku merogoh saku, mengeluarkan rokok, menawarkannya. Davi menggeleng.

"Jadi apa langkahmu?" tanyaku.

"Aku bingung." Ia memandangku seolah aku satu-satunya pelampung di lautan luas. "Makanya aku tanya kamu. Menurut kamu aku harus apa?"

Aku memejamkan mata sebentar, merumuskan jawaban.

"Pertama, kamu cari bukti valid. Bukan cuma cerita orang. Percaya boleh... tapi keputusan rumah tangga nggak bisa cuma berdasarkan gosip."

Davi mengangguk pelan, walaupun sorot matanya tetap gelap.

"Kalau udah ada bukti, baru ada dua kemungkinan." Aku mengangkat dua jari.

"Pertama: kamu ceraiin dia. Konsekuensinya anakmu korban."

"Dua: kamu maafin dia. Kamu mulai dari nol."

Davi menunduk. "Berat, Bro... dua-duanya berat."

"Tentu berat," jawabku tegas. "Kalau gampang, semua orang sudah bahagia."

Davi menarik napas panjang, menatapku. "Pras... kamu tahu hukuman zina di Islam?"

Aku mengangguk pelan. "Kalau udah menikah... dirajam."

"Ya." Davi mengepalkan tangannya. "Aku mau kasih hukuman mereka berdua."

Aku spontan berdiri. "Hah?! Serius, Dav?!"

Ia menatapku lurus, tanpa berkedip, mata memerah penuh dendam dingin yang baru pertama kali kulihat darinya.

"Iya. Dan aku butuh bantuan kamu."

Di momen itu, hawa kabin langsung terasa dingin, seolah angin laut masuk dari celah-celah dinding. Suara mesin kapal serasa berubah menjadi detak langkah takdir yang menakutkan.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengar nada suara seorang sahabat yang siap melakukan sesuatu yang tak bisa lagi ditarik kembali.

Bab 2

BAB 2:

Manuver Terakhir

Suara tegas terdengar memecah keheningan di anjungan, bercampur dengan deru mesin tugboat dan denting peralatan navigasi.

"LEFT twenty..." seru sang pilot kapal berkebangsaan Tiongkok.

"Left twenty..." Prast, sebagai juru mudi, mengulang komando itu dengan lantang dan yakin, memutar roda kemudi sesuai instruksi.

Kapal kargo raksasa itu bergerak perlahan, membelah air keruh pelabuhan. Dua tugboat, seperti anjing penjaga yang setia, membantu mendorong dan menarik lambung kapal agar sandar dengan mulus ke dermaga. Prast masih berdiri tegak di balik kemudi, matanya fokus, menunggu komando berikutnya.

"Ship steady..."

"Ship steady..." Prast selalu mengulang setiap perintah, memastikan komunikasi berjalan sempurna.

Sudah bertahun-tahun ia melakoni peran ini. Sejak masih bujangan, hingga kini ia telah berstatus ayah. Tangannya cekatan, gerakannya efisien. Namun, kali ini ada perasaan berbeda. Ini adalah pelabuhan terakhirnya. Hari ini, ia dan beberapa rekan kerjanya akan sign off-turun kapal-dan kembali ke rumah. Penggantinya sudah dijadwalkan tiba.

Saat kapal akhirnya terikat kuat di dermaga, Prast menghela napas lega, senyumnya mengembang. Tugasnya selesai. Ia menuruni tangga dari anjungan, membawa serta tas berisi harapan.

Janji di Ruang Tunggu

Wajah Prast bersinar bahagia, seolah memancarkan cahaya dari tiket pesawat di tangannya: Shanghai-Jakarta. Namanya, Prastian Utama, tertulis jelas di sana.

Beberapa jam kemudian, ia dan teman-temannya sudah duduk menunggu panggilan boarding. Mata Prast menyapu kawan-kawannya, yang rata-rata terlihat letih namun bahagia. Pandangannya terhenti pada Davin, Mualim Satu kapal, yang duduk di depannya dengan tatapan kosong yang disamarkan senyum tipis.

"Chief!" panggil Prast pelan.

Davin menoleh dan tertawa kecil. "Panggil nama aja, Bro. Sudah selesai dinas, kita sekarang cuma penumpang biasa."

"Vin," Prast merendahkan suaranya, "Jadi, gimana rencana lo buat bini lo? Lo bilang sudah dapat gambaran."

Senyum Davin melebar, senyum yang terasa sedikit getir tapi penuh tekad. Sejak ia berbagi cerita panjang lebar dengan Prast beberapa waktu lalu, Davin seakan telah menerima dan mempersiapkan diri.

"Jadi... gue sudah tahu pasti apa yang harus gue lakukan. Gambarannya sudah jelas."

Prast maju sedikit, penasaran. "Gimana rencananya? Ceritain dong."

Davin menggeleng pelan. "Nanti saja kalau sudah di Jakarta kita ketemuan. Biar waktunya leluasa, kita bisa ngopi santai." Ia mencondongkan badan. "Gue sudah nyusun rencana... dan yang pasti gue butuh bantuan lo, Prast."

Prast langsung menepuk bahu Davin. "Lo butuh gue bantu, bilang aja. Ready!"

"Elu bantu gue ya?" tanya Davin, menatap lurus ke mata Prast.

"Siap!" jawab Prast tegas sambil tersenyum lebar. Janji telah terucap.

Senyum yang Menyimpan Rahasia

Waktu berjalan cepat. Setelah transit di Changi, para pelaut itu akhirnya keluar dari Bandara Soekarno-Hatta. Wajah mereka begitu ceria, walaupun lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Shanghai. Aroma khas Jakarta menyambut mereka.

Di tengah hiruk pikuk area penjemputan, Prast dan Davin berpisah. Hanya Prast yang dijemput keluarganya. Istrinya, Santi, sudah berdiri menunggu.

"Mas Prast!" sapa Santi sambil memeluk. Matanya beralih ke Davin. "Mas Davin, apa kabar? Lama nggak ketemu!"

"Baik, Mba Santi. Alhamdulillah. Kalian apa kabar?" jawab Davin ramah.

Sambil berbasa-basi, Santi sempat melontarkan pertanyaan yang menusuk hati Davin. "Kok nggak dijemput Mba Sabrina, Mas?"

Davin hanya menjawab dengan senyuman yang teramat tipis. Prast melihat senyum itu dan mengerti. Ia maklum dengan masalah yang sedang terjadi di keluarga Davin. Ia juga tidak menceritakan masalah Davin kepada Santi. Ia tidak mau istrinya berubah pandangan terhadap Sabrina, karena Santi dan Sabrina sudah akrab.

Sepanjang persahabatan Prast dan Davin, istri-istri keduanya pun menjadi akrab. Tak jarang keluarga mereka liburan bersama. Tak pantas juga menceritakan keburukan tentang Sabrina ke istriku... batin Prast. Biarlah Santi tetap menganggap keadaan rumah tangga sahabatnya baik-baik saja.

"Oke, Prast, gue pamit dulu," ucap Davin. Ia menoleh ke Santi. "Mbak, pamit yaa."

"Hati-hati, Mas. Salam buat Sabrina yaa," sahut Santi tulus.

Davin mengangguk. Prast memajukan tubuhnya. "Jadi besok ya, Vin? Abis Dzuhur?"

"Sip! Assalamu'alaikum," kata Davin sambil mengangkat tangan, memberikan kode bentuk OK.

"Waalaikumsalam," jawab Prast dan Santi bersamaan.

Pertanyaan di Dalam Mobil

Begitu Davin menjauh, Santi langsung menatap suaminya, meminta penjelasan.

"Memang mau kemana besok, Mas sama Davin?" cecar Santi.

Prast tersenyum. "Oh, besok cuma mau tukar dolar barengan, Sayang. Terus sekalian ke kantor laporan."

Rencana Prast bertemu Davin besok sebenarnya lebih dari sekadar menukar dolar dan ke kantor. Mereka berdua hendak membahas dan menuntaskan masalah keluarga Davin. Tentu lebih baik Santi tidak mengetahui masalah itu.

"Mas, kok tukar dolar sama Davin?" rajuk Santi. "Biasanya kan sama aku."

"Hehe. Davin yang ngajakin, Sayang. Nggak enak Mas tolak," Prast beralasan.

Santi memanyunkan bibirnya. "Takut yaa dolarnya diambil aku?"

"Haha. Kagalah, Say. Nanti juga kamu kebagian," jawab Prast gemas, sambil mengusap kepala istrinya.

Prast merangkul Santi, mengajaknya segera pulang karena malam semakin larut. Ini pertama kalinya ia dijemput hampir tengah malam, sehingga Santi tidak membawa serta anak mereka. Dalam perjalanan pulang, Prast hanya duduk di kursi penumpang, membiarkan Santi yang mengemudi.

Tidak banyak obrolan, hanya ungkapan rindu yang terucap. Sesekali Prast menutup matanya, membayangkan kehidupan yang akan terjadi di keluarga Davin, sahabatnya.

Semoga masalah di keluarga Davin tidak terjadi di keluarganya. Prast sudah sepuluh tahun berumah tangga dengan Santi dan dikaruniai seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun.

Santi adalah wanita luar biasa di mata Prast. Meski tak cantik-menurut standar umum-ia adalah tipe istri yang mandiri. Ia tidak sepenuhnya mengandalkan gaji suaminya yang pelaut. Sembari mengurus anak, ia juga berjualan kue secara online. Kemandirian itu juga ia ajarkan pada anaknya.

Buatku sebagai pelaut, menikahi wanita yang tidak terlalu cantik ada keuntungan tersendiri. Godaan dari luar jika wanita cantik hidup sendiri tentu lebih besar. Itu yang membuatnya tidak terlalu khawatir meninggalkan Santi.

Mungkin karena kecantikan itu pula yang membuat terjadinya masalah di keluarga Davin... batin Prast. Tapi pasti ada masalah lain sehingga Sabrina bisa berbuat seperti itu. Ini yang nanti harus ia bicarakan besok dengan Davin.

"Mas!" sentak Santi, membuyarkan lamunan Prast.

"Ehhh, yaa?"

"Mau mampir nggak ke McD? Kita supper?" tanya Santi, saat mobil mulai keluar dari jalan tol.

"Nggak usah, Yang... Langsung pulang aja. Udah ngebet nih..." Prast tersenyum nakal.

Santi balas menatap genit. "Ngebet ngapain, Mas?"

"Kangenlah... ha ha!"

Keheningan Hotel

Akhirnya Prast sampai di rumah. Ia menengok anaknya yang sudah tertidur lelap. Ia tidak membangunkannya-meski rindu-karena besok pagi anaknya harus sekolah.

"Mau teh ya, Mas?" tawar Santi.

"Boleh, Yang," sahut Prast, merebahkan badannya di sofa.

Rasanya tenang setelah delapan bulan bekerja, kini ia kembali berada di rumah. Apa Davin merasakan hal yang sama ya? batin Prast.

Diambilnya ponsel.

(Prast): Assalamu'alaikum, Bro. Gue sudah di rumah. Gimana elu?

(Davin): Waalaikumussalam... hahaha, gue kaga pulang, Bro! sahut Davin, diiringi suara tawa yang terdengar agak dipaksakan.

(Prast): Lhaaa?? Terus lu ke mana?

(Davin): Gue nginep di hotel.

(Prast): Sabrina gimana? Dia nggak tahu? cecar Prast, penasaran.

(Davin): Dia nggak tahu gue sudah pulang. Gue nggak kasih kabar juga kalau gue pulang. Dia tahunya gue masih onboard di kapal... jelas Davin. Biarin aja, sekalian gue juga mau jalanin rencana gue.

(Davin): (menggoda) Elu sini aja, nginep di rumah gue...

(Prast): Nggak lah! Nanti gue malah gangguin elu. Elu kan mau kangen-kangenan sama bini lu... hahaha!

Bab 3

BAB 3:

Langit Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana serius yang melingkupi pertemuan Prast dan Davin. Setelah selesai menukar dolar di bank, Prast sengaja memilih kafe terbuka. Angin sepoi-sepoi Jakarta yang hangat menerpa, dan mereka bebas menghirup asap rokok; sepertinya mereka akan menghabiskan waktu yang sangat lama di sana.

Setelah mengucap salam dan berbasa-basi sebentar menanyakan kabar keluarga, Prast mengajak Davin untuk duduk di meja pojok, tempat paling tersembunyi.

Prast menatap Davin. Wajahnya cerah, matanya pun bersinar. Ada ketenangan yang aneh, seolah Davin sudah berdamai sepenuhnya dengan keadaan. Prast yakin, Davin sudah menyusun rencana-rencana besar dan gila untuk menyelesaikan masalahnya.

Dua cangkir kopi hitam mengepul sudah tersedia di meja, ditemani beberapa camilan. Davin menghirup asap rokoknya dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, seolah itu adalah langkah pertama dari aksinya. Prast pun berusaha santai.

"Intinya, elu ikuti saja apa yang gue sudah rencanain ini Prast..." Davin mulai membuka percakapan, nadanya datar tapi tegas.

"Sebenarnya bisa saja gue yang jalanin semuanya ini," lanjutnya. "Tapi takutnya nanti ketahuan. Soalnya kan banyak yang kenal gue di sana."

"Ini...!!!" Davin menyodorkan beberapa lembaran kertas folio.

Prast menerima berkas itu. Hahhh... gile... ini Davin benar-benar sangat serius mau menghukum istri dan selingkuhannya itu, pikir Prast. Berkas itu menyerupai checklist seorang inspektur, tersusun rapi dengan langkah-langkah detail, jangka waktu pengerjaan, dan kolom kosong di pinggir kiri untuk tanda centang (✓) pekerjaan yang sudah selesai.

Prast tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat keseriusannya. Davin ikut tersenyum.

"Berapa lama elu nyiapin beginian?" Prast penasaran.

"Dua minggu sebelum kita pulang dari Cina kemarin," jawabnya bangga. "Ini yang kita bahas sekarang, Bro."

Davin menyandarkan punggungnya. "Cek, kali ada yang nggak bisa dikerjakan, atau elu mau nambahin juga boleh."

Davin melihat jam di arlojinya. Mereka benar-benar akan lama di sini, karena setiap langkah harus dibahas secara detail.

Diskusi di Bawah Matahari Senja

Prast mulai memeriksa rencana itu secara keseluruhan. Ada beberapa poin yang ia coret karena langkahnya terlalu berisiko atau tidak mungkin Prast kerjakan sendirian. Namun, ada pula langkah-langkah pendukung yang Prast tambahkan, tentu saja setelah berdiskusi dan mendapat persetujuan Davin.

"Kayaknya gue butuh bantuan orang lain deh, Dav!" ujar Prast. "Yang poin ini nih... nggak mungkin gue sendiri."

Davin mengangguk cepat. "Ningsih nanti yang bantu elu."

"Hanya Ningsih yang tahu gue pulang. Orang tua gue aja nggak gue kasih tahu," jelasnya, menunjukkan betapa ketatnya rahasia ini ia jaga.

Waktu berjalan terus, tak terasa sudah masuk waktu Ashar. Mereka pamit sebentar kepada pelayan kafe untuk salat. Prast berpesan agar meja mereka tidak dibersihkan dan meminta pesanan makanan dan kopi sudah tersedia saat mereka kembali.

Diskusi panas ini mereka lanjutkan setelah menunaikan salat Ashar. Prast mulai membahas detail setiap poin. Ia merasa seperti sedang merencanakan tindakan kriminal, karena apa yang akan ia lakukan nanti terasa ilegal di mata hukum.

Seperti kejahatan dibalas dengan kejahatan, apakah itu pantas? batin Prast. Ia merasa tidak peduli. Niatnya hanya satu: membantu sahabatnya ini.

Di tengah diskusi, Davin tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkan dua buah handphone kepada Prast.

"Lu pegang ini," katanya, menyerahkan sebuah ponsel kecil. "Yang ini buat kita komunikasi dan mencatat semua kegiatan yang kita lakuin."

Prast mengangguk-angguk. Benar-benar seperti kriminal profesional, pikir Prast.

Ia lalu menunjukkan ponsel lain. "Yang ini ponsel kloningan handphone bini gue... buat nyadap."

Hahh! Davin sudah menjalankan poin awal rencananya! Prast tak habis pikir.

"Kapan lu cloning nih handphone?" tanya Prast meminta penjelasan.

"Seminggu lalu. Gue suruh Ningsih." Davin menatap ponsel kloningan itu. "Tapi jangan dibuka. Hanya di-cloning aja."

"Gue sendiri juga belum buka. Gue takut emosi, malah nggak jadi apa yang gue rencanain," akunya.

"Lha... berarti sudah ada bukti kalau Sabrina selingkuh?" potong Prast.

Davin menggeleng. "Kalau cuma WA aja masih lemah, Prast. Dia bisa saja bilang WA palsu. Lagian, mungkin juga dia selalu menghapus riwayat chat-nya."

Prast mulai mengerti jalan pikiran Davin. Dia tidak hanya ingin bukti, dia ingin menangkap basah, ingin menghantam telak.

Jejak Digital dan Dana Operasi

Akhirnya, semua poin selesai dijabarkan dengan detail. Hari menjelang sore. Davin mengeluarkan laptopnya, menulis ulang hasil diskusi mereka yang tadinya hanya coret-coretan kasar di kertas.

"Mana handphone lu?" tanya Davin.

Prast memberikan ponselnya yang biasa ia gunakan.

"Bukan, handphone yang kecil... yang buat rencana ini!" koreksinya. "Mau gue copy hasilnya ke situ."

Setelah berhasil menyalin file, Davin mengembalikan ponsel itu kepada Prast. Dia berpesan agar Prast segera memberi password pada file tersebut, berjaga-jaga jangan sampai rencana ini bocor. Memang, isi file itu adalah panduan yang harus Prast lakukan, dan ini harus dirahasiakan, bahkan dari Santi, istrinya, untuk meminimalkan risiko jika aksinya terbongkar.

"Norek lu berapa, Bro?" tanya Davin mendadak.

"Hah? Buat apa?" tanya Prast kembali, bingung.

"Gue tahu semua ini butuh dana. Mana nomernya?" Ia mendesak sambil menggenggam ponselnya.

"Nggak usah, Bro. Gue pakai duit sendiri aja. Sama lu, masa gue hitung-hitungan?" tolak Prast.

"Gue tanya Santi ya, norek lu?" ancamnya sambil senyum-senyum.

"Yaa... nanti malah ketahuan! Dia tanya macam-macam," sahut Prast, mengalah.

Akhirnya, Prast meminta Davin mengirim uangnya ke aplikasi UANGKU saja, untuk menghindari pertanyaan dari Santi jika ada transfer masuk ke rekening bank. Memang, rencana Davin ini membutuhkan dana yang lumayan besar bagi Prast. Walaupun terasa seperti membuang uang, Prast harus mendukungnya. Davin sendiri sepertinya tidak memikirkan biaya; yang ada di pikirannya hanyalah bukti dan hukuman setimpal untuk Sabrina dan selingkuhannya.

Fake GPS dan Aturan Main

Selesai sudah diskusi mereka. Davin merapikan barang-barangnya: kertas, pulpen, semuanya dimasukkan kembali ke tas. Dia berpesan bahwa mulai detik ini, komunikasi hanya menggunakan handphone kecil pemberiannya. (Handphone kecil di sini maksudnya ponsel dengan ukuran sekitar iPhone 5, karena ponsel zaman sekarang rata-rata berukuran 6 inci ke atas).

Prast merasa aksi mereka telah resmi dimulai saat ini. Namun, melihat tingkah Davin, Prast menduga Davin sudah mulai lebih dulu. Davin tidak pernah melepas topi dan kacamata hitamnya. Saat datang pun dia memakai masker-yang baru diturunkan setelah dia duduk-dan dia memilih tempat duduk yang membelakangi kamera CCTV. Setiap pelayan datang, maskernya selalu dinaikkan lagi.

"Dav... kalau mulai sekarang baru gue ngubungi lu pake handphone kecil... lha sebelom nyampe tadi siang, gue masih hubungi lu pake nomer biasanya, gimana tuuh???" cerocos Prast penasaran.

Davin tersenyum misterius. "Tenang, Bro. Gue udah rencanain ini matang."

"Gue pakai FAKE GPS. Jadi, kalau lu telepon gue, itu seakan-akan gue masih di Cina," jelas Davin. "Sama kayak kemarin malam lu telepon gue... itu gue di Cina kalau dicek."

"Yang tahu keberadaan gue di sini cuma elu, Ningsih, sama pegawai imigrasi... hahaha" Davin tertawa, seolah mengejek Prast yang baru menyadari detail ini.

"Elu juga, mulai sekarang... kalau lagi jalanin rencana gue, handphone utama lu matiin ya!" tegas Davin.

"Dari mulai keluar rumah sudah lu matiin!"

"Lha... kok bisa???"

"Jejak digital, Bro. Jejak linimasa lu ketahuan, lu pergi ke mana saja," jelas Davin, mengakhiri perdebatan.

"Okelah, Bro. Sampai ketemu lagi," ucap Prast.

Mereka bersalaman tanpa pelukan, keluar dari kafe itu. Davin mengangkat tangannya, memberikan kode perpisahan.

"Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED