Bab 2

"Aku tidak pernah mendengar namaku disebut dalam sajak dedoamu, ternyata memang karena aku bukanlah syair yang kau rajut dalam pelitanya malam yang hangat"

Part 2

🍂Bukan Anak Kandung 🍂

Setelah mengantarkan Tya ke sekolah, Hananan mengayuh sepedanya menuju warung untuk menitipkan dagangannya. Sebenarnya, dia sudah membeli sepeda motor sejak Hananan kuliah, hasil dari dia bekerja sampingan. Namun, Tika dan Tiwi yang masih sekolah SMA merengek pada sang ibu agar juga dibelikan motor untuk berangkat ke sekolah. Ibu memaksa Hananan untuk memberikan kendaraan miliknya untuk mereka saja.

"Kamu enggak kasihan lihat adikmu jalan kaki mulu ke sekolah?"

"Tapi Bu, Ana sering telat ke kampus karena nunggu bus kadang ada kadang enggak."

"Mau kamu kenapa-kenapa di jalan karena kualat sama Ibu? Kasih sama mereka saja, kamu suka keluyuran sejak punya motor."

"Aku kerja, Bu, bukan keluyuran," papar Hananan meluruskan.

"Makanya kasih ke mereka saja, kamu bisa beli lagi dengan hasil kerjamu," paksa Ibu lagi sehingga Hananan tidak mau berdebat dan menyerahkan kunci kepada Tika.

"Hati-hati, kalian belum punya SIM dan jangan lupa pakai helm," pesan Hananan kepada dua adik kembarnya yang begitu senang ketika diizinkan pergi ke sekolah dengan motor.

Hananan menyapa beberapa pejalan kaki dengan senyum manisnya, dia tidak mau terlalu berlarut dalam kesedihan. Sekarang dia sudah lulus kuliah meski sedikit terlambat dari temannya yang seusianya karena dia membayar semua biaya kuliah dengan hasil keringatnya sendiri.

"Ibu enggak mau boros uang cuma buat kamu copy makalah, bikin skripsi dan bayar uang semesteran kalau kamu punya uang sendiri silakan kuliah, jangan merepotkan kami."

"Iya, Bu, doakan saja Ana dimudahkan rezekinya, ya."

Hananan turun dari sepeda, lalu masuk ke warung untuk menitipkan dagangannya. Setelah ini dia akan kembali ke rumah untuk mencuci semua baju adik-adiknya serta pakaian kedua orang tua.

"Kamu cuci punya mereka, mereka harus les dan belajar jangan sampai mereka lelah. Kamu lihat tangan Tika sama Tiwi sensitif, bantu saja cuci baju mereka."

"Iya, Bu."

Hananan tidak membantah bukan karena takut, tetapi dia tidak ingin berdebat dengan ibunya. Hananan berharap ibu selalu berdoa akan kebaikan terhadapnya supaya setiap langkah yang ditujunya dimudahkan oleh Allah SWT. Mungkin dengan patuh kepada ibu akan membuka pintu rezeki untuknya, begitulah pikir Hananan.

Hananan memang tidak ingin memanjakan adik-adiknya itu, dia sering mengajak mereka ke sungai di hari Minggu agar mencucikan pakaian mereka sendiri meski sepulangnya akan mengeluh tangan gatal-gatal dan perih.

"Langsung pulang? Kamu sudah makan?" Salim mendekat ketika Hananan ingin mengayuh sepedanya.

"Iya, sudah makan tadi pagi, Bang," jawab Hananan sopan.

"Permisi, aku mau lewat," ujarnya tidak ingin menjadi pusat perhatian dari pelanggan warung apalagi jika sampai perhatian Salim sampai ke telinga ibu dan adik-adiknya dia akan kembali didesak untuk membalas perasaan Salim kepadanya.

Hananan belum berkeinginan menikah meski usianya sudah dua puluh lima, dia tidak mau sekadar ikut-ikutan teman yang sudah melangkah ke jenjang pernikahan apalagi jika berlomba-lomba memamerkan pasangan. Hananan masih bermimpi meraih semua cita-citanya sebelum menjadi seorang istri.

Salim memang baik, tetapi dia tidak bisa membohongi diri dan hati jika dia belum tersentuh oleh semua perhatian yang diberikan oleh Salim kepadanya. Apalagi mengingat keluarga Salim merupakan juragan pinang, memiliki banyak toko di Beureunuen. Hananan merasa mereka tidak cocok untuk bersanding karena perbedaan status sosial.

"Gimana lamaran kerjamu, diterima?" tanya Salim masih belum minggir dari hadapan sepeda Hananan.

"Hari ini dikirimkan email bagi yang lolos tahap selanjutnya," jelas Hananan masih berusaha santun.

"Semoga lolos ya, kabarin saja aku nanti biar aku anterin kamu biar enggak telat tes."

"Enggak usah, Bang, aku enggak mau merepotkan dan--"

"Siapa yang merasa direpotkan? Abang nawarin berarti enggak direpotkan," potong Salim.

"Maaf Bang, aku harus pulang," pamit Hananan lantas membelok stang sepedanya ke arah kiri, kemudian langsung mengayuhnya cepat agar menjauh dari warung dan Salim.

"Kenapa kamu kejar-kejar dia, Salim, seperti enggak ada perawan lain saja," cibir seorang ibu yang baru saja keluar dari warung membeli kopi dan kue.

"Anak ibu masih muda lho, baru tamat SMA masih segar," ujarnya menawarkan putrinya untuk dipinang oleh Salim, siapa sih yang tidak mau anaknya menjadi menantu di keluarga juragan yang kaya raya.

"Bu, perasaan itu enggak bisa dipaksakan," kata Salim menolak halus niat baik ibu tersebut.

"Nah itu tau, kamu kok maksa Hananan terus," sinisnya jutek kentara sekali tidak menyukai sosok Hananan yang telah menarik perhatian dari Salim.

"Ini namanya perjuangan, Bu. Lelaki memang harus berjuang, kan? Salim beli kopi dulu ya," pungkasnya berpamitan masuk ke dalam warung supaya tidak memperpanjang obrolan dengan wanita paruh baya itu, apalagi jika harus mendengarkan Hananan dijelekkan olehnya.

🍂🍂🍂

"Simpan itu, Tini, jangan mengambil tabungannya," cegah Bambang pada istrinya.

"Tabungannya berarti punyaku juga. Ini belum seberapa, dia enggak akan bisa membayar semua jasa-jasaku mengasuhnya. Coba kalau orang lain yang merawatnya, emang ada yang mau?" Tini tidak peduli larangan Bambang, dia membuka celeng milik Hananan yang dia simpan di dalam lemari sebagai modal untuk membuka usaha di depan rumah jika lamaran kerjanya ditolak.

"Kamu enggak ikhlas? Dia sudah seperti anak kandung kita. Sejak bayi kamu mengasuhnya, kenapa masih membedakan dia?" Bambang kesal dengan sikap Tini, meski berulang kali dinasehatkan, tetapi Tini keras kepala dan selalu memperlakukan Hananan berbeda dari ketiga putrinya yang lain.

Tini tidak menjawabnya, tangannya sibuk menyusun uang dua ribuan, lima ribu dan sepuluh ribu kemudian menghitungnya.

"Kenapa lama sekali dia pulang, baju kotor menunggunya, pasti dia sengaja supaya enggak mencuci. Dasar anak malas," cerca Tini.

"Kamu masih menyuruhnya mencuci baju Tika dan Tiwi? Mereka sudah besar, bisa cuci sendiri."

Hananan menatap kedua orang tuanya dengan air mata yang berlinang. Dia berniat untuk mengetuk pintu dan memberi salam, tetapi karena jendelanya terbuka dan keadaan tampak hening dia mengintipnya dulu apakah ada ibu dan ayah di dalam rumah. Namun, Hananan malah mendapati kenyataan mengejutkan ketika tidak sengaja menguping pembicaraan keduanya.

Hananan tidak bersedih karena tabungannya dibuka oleh sang ibu meski tanpa izin darinya. Namun, air matanya berderai meski sudah dicoba tahan sekuat tenaga karena fakta yang baru saja dia ketahui.

Hananan bukan anak kandung dari pasangan Bambang dan Tini?

Lalu, siapa orang tua kandungnya?

Kenapa dia dititipkan pada Tini?

Hananan tidak bisa berpikir untuk beberapa menit. Dia memilih berbalik badan dan mengayuh sepedanya menuju kebun. Hananan akan menenangkan diri di sana, daripada masuk ke rumah dan bertanya banyak hal kepada pasangan suami istri itu yang dia anggap orang tua kandungnya selama ini.

Salim melihat Hananan, dia mengejarnya dengan sepeda motor karena penasaran apa yang sedang dialami oleh perempuan itu mengingat wajah sendu Hananan yang lebih mendung daripada langit kelabu saat ini.

"Hananan, kenapa?" Salim berteriak setelah mengimbangi laju sepeda Hananan yang tampak terkejut melihat sosok lelaki itu, beruntung dia tidak terjatuh dari sepedanya yang sedikit oleng ke kanan.

"Jangan mengikutiku, Bang," cegah Hananan dengan suara seraknya.

"Kamu sedang enggak baik-baik saja, aku enggak akan membiarkan kamu sendiri. Kamu mau ke kebun? Biar aku temanin."

Hananan berhenti mengayuh sepedanya, jika dia membiarkan Salim mengikutinya sampai ke kebun akan berbahaya karena bisa mengundang fitnah jika ada yang melihat mereka berdua di sana.

"Aku mau pulang, Bang." Hananan segera berbalik arah dan mempercepat mengayuh sepedanya, meski dia tahu kalau Salim akan lebih cepat untuk mengejarnya.

Salim membuntuti Hananan dari belakang, dia tidak mau memaksa agar Hananan menceritakan permasalahannya sekarang ini. Dia tidak ingin membuat Hananan semakin tidak menyukai sikapnya, mungkin nanti dia akan mencoba mencari tahu alasan embun turun dari mata bening Hananan padahal beberapa menit lalu ketika mereka bertemu di warung, muara indah itu terpancar sinar.

Lantas, mengapa mendadak mendung?

Bab 3

"Lukisan asa dan karsa di langit harapan berubah mendung pekat, berselimut rintik-rintik sendu yang butuh penghangat"

Part 3

🍂 Berselimut Lara 🍂

Hananan tidak tahu harus bagaimana nanti jika dia masuk dan berhadapan dengan kedua orang tua yang dianggap sebagai orang tua kandungnya selama ini. Apakah dia harus mengabaikan kebenaran yang baru saja dia ketahui, ataukah mempertanyakan kepada mereka kenyataan tersebut untuk menyakinkan dirinya.

Hananan bimbang. Terlalu syok ketika mendengarnya. Dia terpaksa kembali ke rumah karena tidak ingin Salim mengikutinya ke kebun. Niat untuk menyendiri, menenangkan hati dan pikiran malah nanti akan menimbulkan fitnah jika ketahuan warga mereka sedang berduaan di ladang.

Hananan membasuh wajahnya di keran samping rumah supaya tidak terlihat wajah sembab usai menangis.

"Ke mana saja kamu? Baru pulang sekarang, sengaja enggak mau menyuci?" omel Tini yang muncul mendadak dari pintu belakang, menatapnya dengan ketus.

Hananan tidak menjawab, dia menatap wajah yang selama ini begitu dia rindukan di kala berjauhan. Wajah yang tak lagi semuda dulu, ditandai beberapa kerutan itu sering dipandanginya diam-diam. Dia tidak pernah suka jika dirinya menjadi sebab turunnya hujan di wajah cantik itu.

Semua perlakuan Tini kepadanya memang terbilang keras, dia tidak pernah dimanjakan oleh ibunya itu seperti perlakuan kepada ketiga adiknya. Dan sekarang, Hananan tahu alasannya. Karena ...

Dia bukan anak kandung Tini dan Bambang.

Kasih sayang yang dia dapatkan tak sebesar yang diterima oleh para adiknya.

Hananan tidak pernah menuntut diperlakukan sama, dia mencoba berbesar hati karena menganggap sebagai anak tertua memang harus berjiwa tegar supaya bisa melindungi ketiga adiknya.

Namun, semuanya terbuka sekarang ini. Hananan sadar jika dirinya bahkan tidak berhak menuntut lebih kepada Tini dan Bambang. Diasuh dan dirawat sejak kecil hingga sekarang saja dia sudah sangat bersyukur. Alih-alih membenci sikap mereka terhadapnya yang pilih kasih, Hananan malah semakin bertekad untuk bisa membahagiakan mereka karena dia tahu tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa keduanya, seperti kata Tini saat membuka tabungan Hananan tadi.

"Bengong mulu, sana masuk ke dalam! Baju di kamar mandi sudah bau," hardik Tini semakin geram karena melihat Hananan melamun, tidak mengindahkan perintahnya.

"Assalamualaikum Bu," sapa Salim memberi salam ketika Hananan hendak beranjak masuk ke dalam rumah.

"Waalaikumsalam," jawab Tini dengan perubahan mimik dan intonasi, tidak mungkin dia bersikap arogan di depan Salim, lelaki yang beberapa kali membantunya jika dia sedang dalam kesulitan. Tini bisa membaca perasaan Salim kepada Hananan meski perempuan itu bersikap biasa saja, bukannya berbangga dan senang hati karena bisa dicintai lelaki baik, serta anak juragan itu.

Hananan sontak berhenti di depan pintu, dia tidak berniat untuk menyapa Salim apalagi lelaki itu menangkap basah mata sendunya yang tak bisa terbaca oleh pandangan Tini.

"Ada apa ya Nak Salim? Kamu mau bertemu sama Hananan?" tanya Tini seraya menarik pelan Hananan agar berbalik menghadap Salim.

"Iya, Bu, apa boleh?" Salim selalu meminta izin jika dia bertamu sekadar melihat Hananan ataupun membawakan sesuatu untuk mereka.

"Ya boleh dong," sahut Tini cepat sambil menyikut lengan Hananan.

"Oh baik, Bu, terima kasih."

Tini mengajak Salim untuk masuk ke dalam daripada mengobrol sambil berdiri.

"Tidak usah repot-repot, Bu, saya dari warung tadi sudah minum kopi dan makan kue buatan Hananan," ujar Salim mengurungkan Tini ke dapur untuk menyajikan minuman.

"Oh, baiklah. Ibu tinggal ke belakang dulu ya."

"Iya, Bu, oh ya Pak Bambang ada di rumah?"

"Baru saja keluar, ada apa ya Nak? Maaf apa ... mau melamar Hananan?" tebak Tini sukses membuat Hananan mendongak karena terkejut mendengarnya.

"Bu!'' lirih Hananan, Salim tertawa mendengarnya.

"Saya sih maunya begitu, Bu, tetapi saya enggak mungkin maksa Hananan, kan?"

Salim sebenarnya niat bertamu hanya untuk sekadar bertanya keadaan Hananan karena dia tidak bisa mengabaikan begitu saja kondisi perempuan itu. Salim tahu ada sesuatu yang tidak biasa telah terjadi.

"Dia mah malu-malu, Nak. Teman sebayanya sudah pada nikah, bukannya membalas perasaanmu malah dia pura-pura jual mahal. Kalau dia mau nikah sama kamu kan, dia enggak perlu lamar kerja mulu diterima kagak," sindir Tini semakin melukai perasaan Hananan yang sedang tidak baik-baik saja.

Apakah Hananan memang harus menikah saja dengan Salim, supaya dia tidak terlalu lama menjadi beban bagi kedua orang tuanya?

Hananan takut jika dia menikah hanya untuk kesenangannya, padahal dia tidak--belum mencintai Salim, apakah pernikahan mereka akan bahagia? Bagaimana keluarga Salim akan menerimanya menjadi menantu mereka sedangkan Hananan sangat berbeda.

"Menikah bukan lomba, Bu. Hananan enggak salah jika dia belum bisa menerima dan membalas perasaan Salim. Maaf, apa saya bisa mengorbrol dulu dengannya?"

Salim ingin mengakhiri pembahasan menikah yang hanya menyudutkan Hananan. Dia bisa melihat ketidaknyamanan perempuan itu akan ucapan Ibunya.

"Ah, baiklah. Ibu ke belakang dulu," pungkas Tini berbalik menuju arah dapur.

Salim memandang Hananan yang lebih memilih menunduk memandangi lantai.

"Kamu kenapa? Ada yang mau kamu ceritakan? Maaf, aku enggak bermaksud memaksa, tapi aku cemas melihatmu seperti tadi," ungkap Salim jujur.

"Aku baik-baik saja, Bang dan ini enggak ada kaitannya dengan Abang. Maaf aku harus menyuci baju, Bang. Sebaiknya jika enggak ada yang mau ditanyakan lagi, aku mau ke kamar mandi," tukasnya berharap Salim tidak memaksanya untuk menjelaskan kepadanya yang terjadi tadi. Dia belum sanggup jika harus berbagi laranya pada orang lain, terlebih di saat ini, di rumah ini. Ibu akan mendengarnya.

"Baiklah, jika kamu butuh pendengar yang baik Abang bisa menjadi salah satunya," ucap Salim.

"Makasih, Bang, aku permisi dulu ya, maaf bukan bermaksud mengusir," tandas Hananan lantas berdiri dari duduknya, diikuti Salim.

"Enggak apa-apa," balas Salim. Hananan berjalan menuju kamar mandi, Tini kembali masuk ke ruang tamu. Dia meminta maaf pada Salim akan sikap Hananan kurang sopan seperti tadi.

"Bukan salah Hananan, Bu. Saya cuma singgah sebentar, saya izin pulang dulu," pamit Salim diantar hingga ke depan oleh Tini, dia malah senang jika ada tetangga yang melihat sosok Salim sedang bertamu ke rumahnya supaya para ibu-ibu yang mempunyai niat untuk mendekatkan putri mereka kepada Salim membatalkannya.

Selepas Salim keluar dari perkarangan rumahnya, Tini menutup pintu lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk menegur Hananan.

"Kamu masih sok jual mahal, mau kamu menyesal kalau dia tiba-tiba besok melamar anak gadis lain?" cerca Tini berdiri di ambang pintu kamar mandi. Hananan terus melanjutkan untuk menyikat baju yang dia ambil dalam rendaman ember berisi air dan deterjen.

"Kamu tuli atau bisu, hah? Ibu bicara sama kamu!" tegur Tini merasa sikap Hananan hari ini sedikit kelewatan dan tidak sopan karena lebih banyak diam jika ditanya.

"Maaf, Bu." Hananan seperti kehilangan kata-kata, karena dia takut jika banyak berbicara malah akan bertanya banyak hal kepada Ibunya. Dadanya terasa sesak dan lidahnya kelu untuk melontarkan satu pertanyaan saja.

Apakah benar aku bukan anak kandungmu, Bu?

"Kerjakan itu, abis ini kamu ke pasar," tukas Tini seraya berbalik menahan kekesalannya.

Hananan mempercepat pekerjaannya, dia ingin sekali keluar rumah setelah ini sekadar untuk menyegarkan pikiran.

"Siapa orang tua kandungku?" gumam Hananan dengan pandangan kosong pada baju yang sedang disikatnya.

"Kenapa kalian enggak merawatku?"

"Apakah aku enggak diharapkan?"

Hananan membiarkan setetes air jatuh dari pelupuk matanya, tetapi segera dia seka agar tidak semakin berlarut berselimut lara.

Hananan sudah dewasa, tidak perlu ada adegan sinetron penuh drama hanya karena kenyataan ini.

Hananan percaya setiap takdir yang dia jalani adalah ketetapan terbaik yang Allah tetapkan baginya. Dia tidak perlu membenci nasibnya.

"Hananan, semangat jangan bersedih. La tahzan, Allah bersamamu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED