Bab 1

Bismillah 

         "Isteriku Kuyang "

# part_1

# by: Ratna Dewi Lestari.

     Angin semilir membelai rambutku yang lebat, ku telusuri setiap jalan di Kota yang baru saja ku datangi. Ya, kota dengan hutan yang lebat dan masih sangat asri. Kalimantan. 

     Bersama dengan sahabatku semasa kuliah dulu, aku mengadu nasib di Kota yang terkenal banyak cerita misteri di baliknya. Menurutku Kota ini tak seseram yang banyak orang ceritakan. Mungkin karena aku tinggal di daerah perkotaannya yang jauh dari hal mistis.

    Yang kutahu Kota ini menyimpan banyak wanita cantik dan mempesona, memanjakan mata para pria dengan kulit wajah dan tubuhnya yang putih berseri.

    Sambil menikmati keindahan Kota menggunakan vespa milik teman, ku tebarkan pesona dengan tersenyum manis ke setiap wanita yang berpapasan denganku. Ah, mereka rata-rata berwajah putih dan glowing. Membuat aku semakin betah di Kota ini. Surga wanita cantik.

***

   Tak terasa sudah setahun berada di Kota nan asri ini. Akupun sudah bekerja di sebuah perusahaan yang terbilang elit dan bergaji lumayan besar. Dalam jangka waktu beberapa bulan saja, mobil sudah terparkir di kontrakanku. Sengaja tak membeli rumah karena aku tak bermaksud menetap selamanya di Kota ini.

    Namun semua pikiranku seketika berubah di saat pertama melihat Arini, wanita cantik asli tanah Kalimantan yang baru saja magang di Kantorku. Wajahnya bukan hanya cantik, putih, bersih dan bersinar, tapi ketika berpapasan dengannya ada sesuatu yang membuatku ingin selalu menatapnya dan tak bisa berpaling dari paras cantiknya yang menawan.

   Ia benar-benar membuatku tergila-gila. Wanita berjilbab dengan tubuh yang lumayan tinggi itu pun selalu membalas tatapan dan tersenyum melihat tingkahku yang selalu memperhatikannya.

     Sebulan berkenalan dengannya, kuberanikan diri menemui orang tuanya. Walaupun antara aku dan Arini belum ada ikatan apapun, dan akupun belum menyatakan perasaanku. Nyatanya Arini tak keberatan dengan keinginanku.

     Dengan rasa percaya diri aku datang bertandang kerumah Arini di hari minggu. Wanita itu tampak sangat cantik menyambut kedatanganku. Begitupun kedua orang tuanya yang begitu ramah kepadaku. Yang aku heran, wajah Ibu Arini terlihat sama cantik seperti Arini, sangat awet muda untuk ukuran seorang Ibu yang punya anak gadis seperti Arini.

    Arini punya seorang adik yang berusia sepuluh tahun. Bocah laki-laki itu pun ramah dan senang berbincang denganku.

    Keluarga Arini sangatlah baik. Rumah Arini yang eksotik dan terkesan asri dengan pepohonan rindang di sisi kanan dan kiri membuatku semakin betah dan ingin segera memantapkan hati untuk meminang Arini.

   Kesempatan itu tak kusia-siakan, saat Arini mengajakku berkeliling dengan berjalan kaki menikmati suasana sore di sekitar tempat tinggalnya. Di pinggie sawah, ketika matahari mulai terbenam dengan langit yang berwarna jingga, kuungkapkan semua rasa, rasa cinta dan sayang kepada dirinya.

     Gayung bersambut. Dengan tersipu malu Arini menerima cintaku. Wanita cantik itu mengangguk dengan tangan yang sedikit gemetar ketika kusentuh. Aku tak mampu menyembunyikan rasa bahagiaku. Dan dengan sebuah janji, aku tak ingin berpacaran lagi. Aku ingin segera melamarnya dan menjadikannya seorang istri.

     Awalnya Arini sempat terkejut dengan ucapanku. Namun , setelah semua kuungkapkan ia pun setuju dengan syarat ia ingin tetap tinggal dengan kedua orang tuanya. Ia ingin berbakti dan merawat kedua orang tuanya. Bagiku tak masalah, aku malah bangga dengan sikap Arini yang begitu mencintai orang tuanya.

***

    Pernikahan kami berlangsung secara meriah. Arini tampak sangat cantik menggunakan pakaian adat kebanggaannya. Keluargaku pun terpesona dengan kecantikan dan tak henti-henti memuji wanita pilihanku.

      Setelah acara usai dan semua tamu pulang, keluargaku pun ikut menginap bersamaku di rumah Arini. 

     Semua tampak biasa, tapi ketika tengah malam timbul keanehan di rumah Arini. Aku heran ketika keluarga masih berkumpul dan mengobrol dengan seru, tak nampak sosok Ibu Arini di antara kami. Kamar pun terbuka lebar.

    Hingga ku dengar sayup-sayup sekumpulan orang berteriak sambil memukul kentongan. Mereka berteriak menyebut kata kuyang berkali-kali. Mereka berlari mendekat ke arah rumah Arini.

    Bukkk!

     Kudengar suara benda jatuh di atap rumah Arini. Aku menatap Arini, Arini seperti tidak mendengar apa yang barusan ku dengar. Aku berusaha bangkit namun ditahan tangan Arini. Ia menggelengkan kepalanya seraya berucap.

      "Biarkan saja, Bang! biasa itu di daerah sini! jangan heran,"

      "Kuyang itu apa, Dek?" tanyaku heran. Ya, aku memang tidak tau apa yang mereka sebut dengan kuyang itu.

    "Kuyang itu binatang malam yang suka mencari buah, kalau di daerah Abang namanya kelelawar," jelas Arini.

     "Ooo , kelelawar ...," jawabku dengan mengangguk cepat.

      "Bang, masuk yuk! dah sepi ni," ujar Arini centil mengedipkan mata. 

     Naluri kelelakianku tiba-tiba muncul. Dengan tergesa ku gandeng Arini menuju kamar pengantin. Melewati kamar Ibu Arini yang terbuka, kulihat Ibu sedang duduk menjahit baju. Ia tersenyum melihatku.

      "Aneh, sejak kapan Ibu berada di situ?" pikirku. 

      Arini menarik tanganku kencang, pikiran itu segera hilang berganti dengan kebahagiaan bisa berdua saja dengan istri yang selama ini kunanti.

        Di kamar, Arini membuka jilbabnya , ia tampak semakin cantik dengan rambut hitam panjang terurai , kusibak rambut nya dan kukecup mesra lehernya. Mataku terperangah melihat bekas sesetan benda yang melingkar nyaris melingkar penuh di lehernya.

     "Dek ... ini kenapa?" tanyaku hati-hati takut menyinggung perasaan istriku.

     "Apa, Bang?" Arini menatapku heran.

    "Ini, Dek," ucapku seraya menunjuk bekas luka di lehernya. Ia pun mengernyitkan dahinya. 

   "Oh, ini, ini bekas luka kena tali layangan sewaktu kecil, Bang, cukup berbekas karena lumayan dalam lukanya. Beruntung aku selamat," jawab Arini lirih meraba bekas lukanya.

    "Ooo, ya la, Dek, biarin la bekas luka itu. Sekarang kita lanjutkan urusan yang tertunda!" ajakku dengan mendekatkan wajahku ke wajahnya yang bersemu merah. Malam pertama harus berjalan lancar. Aku tak mau kehilangan momen berharga.

***

    Pagi ini Arini nampak semakin cantik. Ia begitu sigap menyiapkan keperluanku dan dirinya. Dengan hati bahagia kami berangkat ke kantor bersama. 

     Sebelum berangkat sempat ku dengar Arini berbisik kepada ibunya. Kata- kata yang sempat kudengar dari mulut Arini ketika tak sengaja diriku melintas," Bu, di desa sebelah ada ibu hamil, anak pak kades,"

     Entah apa maksud Arini berkata seperti itu. Bisik-bisik lagi. Kulihat wajah mereka sangat ceria dan kegirangan. Seperti melihat makanan enak. Hatiku jadi deg-deg ser. Apa sih menariknya ibu hamil sampai mereka bisa kegirangan seperti itu? Ah, entahlah.

     Aku berpura-pura tidak mendengarnya dan berlalu begitu saja. Arini sempat menutup mulutnya. Membuat tingkahnya semakin aneh terlihat.

    Dengan sabar aku menunggu Arini di dalam mobil. Arini berlari kecil dengan senyuman lebar di wajahnya. Ia membuka pintu mobil dan wajah cantiknya menyembul. Ku perhatikan dengan seksama, Arini sepertinya sangat bahagia.

     "Bahagia banget, Dek," ucapku keceplosan.

     "He-he-he, iya, Bang, Adek bahagia nikah sama Abang," ucapnya manja. Membuatku serasa terbang melayang.

    Kucubit pipinya yang mulus. Ah, aku semakin merasa bersalah berpikir yang tidak-tidak kepada istri tercantikku. 

     Dengan hati yang berdebar kupacu mobil secepat mungkin menuju ke kantor. Mobil berderu di sepanjang jalan melewati rindangnya pepohonan di sisi kanan dan kiri jalan. Desa tempat Arini tinggal memang masih sangat sayup dan rumah masih sangat jarang. Tiba-tiba timbul perasaan takut. Sebelum pergi keluargaku sempat berpamitan untuk kembali pulang ke kampung halaman. Aku tak bisa mengantar karena dari kantor tidak mengizinkan. Dengan terpaksa aku merelakan keluargaku pulang tanpa kehadiranku.

***

     Pulang kerja langit sudah gelap. Aku dan Arini sudah sangat lelah. Ku lihat istriku sudah tertidur di sampingku. Ku belai kepalanya yang tertutup jilbab merah. 

   Memasuki jalan desa hatiku mulai tak karuan. Udara terasa dingin menyengat tulang. Tidak ada lampu penerangan. Cahaya hanya dari lampu mobil dan rumah warga yang berjarak antara satu rumah dan rumah berikutnya.

   Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sekumpulan sinar dari jauh. Ku tajamkan mata dan mobil ku hentikan di pinggir jalan. Semakin lama semakin nampak jelas sekumpulan orang dari jalan setapak tak jauh dari mobil. Orang-orang itu membawa obor dan membawa peralatan dapur juga bambu hijau yang sudah di runcingkan . Mereka berjalan beriringan seraya menyebut nama "kuyang". 

     Lagi-lagi kuyang. Sebenarnya kuyang itu apa?

      Gerombolan orang itu melintas di depan mobilku . Salah satu dari mereka mendekat dan mengetuk kaca mobilku, membuat copot jantungku. Aku takut mereka mempunyai niat jahat. 

      Tok! Tok! Tok!

     Perlahan kubuka jendela mobilku . Pria paruh baya itu tersenyum penuh arti kepadaku.

     "Jaga dirimu, kau orang baru di sini! berhati-hatilah ," setelah ia mengucapkan itu, ia pun berpamitan dan berlalu bersama rombongannya.  Aku hanya terhenyak dan berusaha mencerna setiap kata-kata si bapak.

      Arini menggeliat dan menatapku sayu. Kasihan ia, nampaknya sangat kelelahan.

      "Kenapa berhenti di sini, Bang?" Ia nampak sangat heran melihat mobil terparkir di pinggir jalan sepi.

       "Ah, ga apa-apa, Dek, ini Abang lanjuti ya perjalanan kita, kasihan kamu pasti sangat lelah," tuturku lembut seraya mencium keningnya.

     Ia mengangguk dan mobil segera kupacu. Walaupun mobil kupacu cepat, tapi entah mengapa rasanya lambat. Untuk tiba di rumah terasa amat lama.

     Memasuki gapura desa tanpa sengaja mataku menatap bayangan aneh berkelebat melintas tak jauh dari mobil. Lampu mobil menerpa bayangan hitam yang melesat cepat. Nampak seperti kepala dengan rambut terurai panjang di langit malam. Aku terkesiap. Jantungku berdetak cepat. Tanpa sengaja ku sebut nama Allah dan mobil ku rem mendadak.

       Ckitttttt!

       "Astagfirullah," ucapku tanpa sadar. Tanganku mengelus dadaku yang berdetak kencang. 

       "Kenapa, Bang?" ia menatapku heran.

       "Ah, tak apa, Dek," jawabku sekenanya. Aku memilih diam dan melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi sampai. Lelah, letih dan takut menyergap diriku. Ingin segera sampai rumah dan melupakan semua kejadian buruk dengan tertidur.

        Mobil berhenti di halaman rumah Arini. Suasana nan asri jika siang hari terasa sangat mencekam di malam hari. Kulihat ponsel, baru jam sembilan malam. Namun, siswa nya di desa ini sangatlah sepi. Tak nampak orang berlalu lalang. Rumah yang berjarak membuat suasana tampak bak kuburan. 

      Aku pun segera melangkah masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Arini. Tak nampak ibu dan ayah serta adik Arini. Mungkin semua sudah tertidur lelap. Aku pun tak mau ambil pusing. 

        Selesai makan dan bersih-bersih, aku dan Arini segera menuju peraduan . Lelah dan letih yang menyerang sedari tadi memaksaku untuk segera berbaring. Tertidur sambil memeluk Arini yang cantik.

***

      "Ah, bisa-bisanya tengah malam begini aku mau pipis!" sungutku . Dengan terpaksa kubuka mataku pelan, rasanya sangat mendesak dan tidak bisa ditahan lagi. Tanganku bergrilya mencari keberadaan Arini. Kosong. Kupicingkan mataku, ya, Arini sudah tak tampak di sampingku .

       Ku edarkan pandanganku berharap Arini ada di kamarku . Namun, nihil. Arini tak jua terlihat. 

       Dengan langkah malas aku beranjak dari peraduan . Berjalan menuju toilet yang letaknya di luar rumah. Dingin menyergap ketika ku buka pintu belakang rumah. Bulu kudukku seketika berdiri , kutatap...

Bersambung....

Bab 2

Bismillah 

       "Istriku Kuyang"

# part_2

#by: Ratna Dewi Lestari.

     Bulu kudukku seketika merinding, kutatap toilet yang berjarak sekitar lima puluh meter dari tempatku berdiri. Suasana malam yang gelap, hanya ada lampu lima watt di belakang dan toilet. Ingin rasanya aku pipis di tempat saja. Rasa takut kian menyergap. 

    Aku belum terbiasa berada di tempat sesunyi ini. Apalagi di sekitar tumbuh pohon-pohon tinggi menjulang. Kelebatan kelelawar malam seolah menambah suasana mencekam. Angin malam yang dingin membuatku bertambah enggan beranjak dari tempatku berdiri.

    Beruntung malam ini bulan bersinar amat terang. Cahayanya berpendar sangat indah. Ku beranikan diri melangkah dengan melipat tangan di dada. Dingin. Sambil mataku menatap sekeliling.

     Krekkkkk!

    Dengan segera kubuka pintu toilet. Sudah sangat sesak. Dan lega.

    Byurrrrr!

    Bukkkkk!

   " Astaga, apa itu!" tak sengaja bibirku terucap mendengar sesuatu jatuh menghantam atap rumah. Aku segera menyelesaikan kegiatanku dan berjalan keluar dari toilet.

    Mataku menatap sekeliling. Tak ada apapun. Ku kira buah yang di bawa kelelawar jatuh menimpa rumah, tetapi tak ada nampak satu buahpun terjatuh di sana. Sedang asyik mataku mencari sambil menunduk, tiba-tiba ...

    Plukkkk!

    Sesuatu menepuk pundakku. Aku langsung berdiri dengan kaki gemetar. Dengan pelan kubalikkan tubuhku dan kulihat seseorang berdiri di belakangku.

   "Arini?" ucapku lirih.

   "Ya, Bang, ini aku, Abang ngapain di sini?" ucapnya.

    "Abang habis dari toilet. Kamu dari mana saja? Abang cari-cari dari tadi!" sungutku sedikit merajuk.

   "Aku tadi di ruang tamu, Bang. Abang aja yang ga lihat aku di sana!" jawab Arini cuek. Ia membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah.

   Akupun mengikutinya dari belakang. Aneh, perasaan tadi tak ada siapapun di ruang tamu. Apa aku ngelindur?

   Kakiku terasa beku ketika ku angkat naik ke peraduan. Arini menatapku sekilas dengan senyuman teramat manis untukku. Entah kenapa aku merasa ada misteri di balik senyum Arini untukku. Bibirnya kulihat merah merona. Tapi, ada sesuatu yang terlihat mangganjal di situ. Ada setitik noda di dekat bibirnya. Makan apa dia malam-malam begini?

     "Dek, sini!" panggilku menyuruhnya datang mendekat.

     "Apa, Bang?" ia pun mendekat.

     Kuseka noda di bibirnya. Kuperhatikan secara seksama. Noda itu lengket dan berbau anyir. Darah?

     "Darah apa ini, Dek?" selidikku.

     "Da--darah?" ucapnya tergagap.

      "Ah, sudahlah, Bang! Adek tak tau juga itu kenapa bisa di bibir Adek," jawabnya sekenanya. Ia langsung membalikkan badan dan membiarkanku terdiam dalam sejuta pertanyaan di benakku. Ya, akupun malas berdebat. Tubuhku sudah lelah karena seharian bekerja. Aku memutuskan untuk kembali beristirahat dan membiarkan pertanyaan itu menguap begitu saja.

***

    Matahari baru saja menampakkan sinarnya ketika aku selesai menjalankan kewajibanku menunaikan solat subuh. Anehnya Arini enggan bila ku ajak solat bersama. Ia selalu menolak. Jikapun solat, ia pasti mengunci pintu dengan rapat. Semakin ke sini semakin banyak keanehan di diri Arini.

     "Bang? sarapan dulu sini!" Arini melambaikan tangan mengajakku duduk bersama dengannya. Hanya kami berdua . Adiknya sudah berangkat sekolah. Kedua orang tuanya sudah berangkat ke ladang.

     Ku tatap Arini dengan seksama. Ia tampak sangat cantik. Wajahnya tambah bersinar padahal belum memakai make up. Yang kutahu ia tak memakai skincare mahal. Hanya memakai viva. Itu yang sempat ku baca.

    "Dek, semakin hari kamu tampak semakin cantik," pujiku tulus.

     "Terimakasih Bang, mungkin karena terlalu bahagia menjadi istrimu," jawabnya sembari mengecup tanganku . Genggamannya erat. 

    Seharusnya aku bahagia dengan ucapannya. Namun, entah mengapa aku merasa Arini menyembunyikan sebuah kebohongan. Ku ulas sedikit senyum agar ia tak curiga .

    Jam delapan tepat aku dan Arini sudah berada di dalam mobil yang berjalan dengan kecepatan sedang. 

      "Bang--Bang, berhenti dulu! cepat!" Arini tiba-tiba menyuruhku berhenti di depan sebuah warung sayur yang penuh dengan ibu-ibu.

    "Tunggu sebentar, Bang . Ada yang mau aku beli," ucapnya tergesa seraya turun dari mobil. 

    Dari jauh kulihat ia mengobrol dengan asik. Ia sangat ramah. Aku pun memutuskan untuk turun dan menjemputnya. Aku takut terlambat bekerja.

    Kulihat Arini sedang asik berbincang dengan seorang ibu hamil. Yang kudengar dari percakapan mereka jika ia sedang hamil sembilan bulan. Tinggal menunggu lahiran.

  Sekilas kutatap wajah Arini sangat bahagia berbincang dengan si ibu. Ia pun sempat mengelus perut si ibu hamil. Apa Arini sudah tak sabar ingin punya anak?

    Ia pun sempat enggan ketika ku ajak kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Kulihat ia sempat cemberut ketika berpamitan.

***

    Seperti biasa, malam ini kami lembur kembali. Pulang kerumah keadaan sudah sepi. Aku memutuskan untuk segera istirahat tanpa mandi. Begitupun Arini. Kami sama-sama terlelap karena sangat kelelahan.

     Krekkkkk!

     Entah berapa lama aku tertidur . Tak sengaja terbangun karena mendengar pintu belakang seperti terbuka. Ya, sedari kecil aku memang gampang bangun jika mendengar sesuatu.

    Ku balikkan badan, Arini masih terlelap. Aku penasaran siapa gerangan yang membuka pintu belakang? Ah, mungkin itu ibu atau ayah Arini yang ingin ke toilet.

     Shhhhh! Shhhhh!

     Sekilas ku dengar seperti desisan ular di balik jendela. Rasa penasaran menyergap hatiku. Apa benar malam-malam begini ular berkeliaran mendekati kamarku?

     Aku pun turun dari peraduan menuju jendela kamar. Perlahan kusibak gorden jendela.

      "Astagaaaaa!" segera ku tutup mulutku begitu melihat sosok di balik jendela . Sosok bermata merah itu tajam melihatku. Sempat beberapa detik kami bertatapan hingga akhirnya aku pingsan tak sadarkan diri. Sebelum akhirnya ...

Bang, Abang!" suara Arini terdengar nyaring di telingaku. Kurasa tetesan air jatuh di pipiku. Perlahan kubuka mataku, samar-samar kulihat Arini sedang terduduk mendekap tubuhku. Ia kemudian mengangkat kepala dan menatapku dengan pipi yang sudah basah. Mata nya bengkak.

    "Abang--Abang Yusuf tak apa-apa, kan?" isaknya. Tangannya yang terasa dingin mengusap pipiku lembut.

    "Abang, ga kenapa-kenapa, Dek," ucapku berbohong. Masih teringat jelas sosok menyeramkan yang menatapku tajam di balik jendela.

    Sosok bermuka keriput dengan rambut acak-acakan, menyeringai seperti ingin menyantapku. Lidahnya panjang terkilir keluar. Benar-benar menakutkan.

"Abang kenapa bisa di sini?" tanya Arini khawatir.

    "Mungkin Abang ngelindur, Dek," ucapku sekenanya.

    "Abang hari ini di rumah aja, ya Dek. Badan Abang ga enak, kayaknya demam," lanjutku.

   Ia mengangguk cepat. " Adek pergi naek ojek bang Salim tetangga kita aja ya, Bang. Abang baik-baik di rumah," ucap Arini seraya mengecup keningku. Ia pun membantuku beranjak dari lantai dan berbaring di peraduan.

Aku merebahkan diri di atas ranjang. Kepalaku masih sangat pusing, tapi rasa penasaranku kian membuncah. Perutku keroncongan. Sakit. Namun semua kutahan, dan ketika Arini pergi...

Bab 3

Arini membuatkanku sarapan yang sangat enak. Bubur ayam dengan taburan daging dan jeroan ayam. Tapi, tunggu. Ada sesuatu yang aneh ketika aku menyantap bubur buatan istriku tersayang. Ketika tak sengaja aku mengunyah daging yang sangat enak. Rasanya seperti bukan daging ayam, bukan pula daging sapi. Teksturnya seperti jeroan sapi tapi lebih tebal. Ah, entahlah. Baru kali ini aku menikmati daging yang super lezat ini.

    Arini melambaikan tangan ketika akan berangkat pergi bekerja. Ku tatap istri cantikku dari dalam rumah. Ibu pun sepertinya ingin berangkat ke ladang. Aku mengangguk ketika Ibu lewat di hadapanku. Wanita paruh baya itu tersenyum kepadaku.

     "Gil*, cantik banget ini mertuaku, ga kalah dengan anaknya. Kok jadi seperti kakak adik aja, cantiknya awet dan alami," batinku.

   Entah kenapa ketika Ibu tersenyum, aku merasakan dingin yang menyergap tengkukku. Terasa ada sesuatu di balik senyum Ibu. 

     "Ibu berangkat dulu, Nak," seloroh Ibu di sertai anggukan dariku.

     Ku tatap Ibu dan Ayah yang pergi ke ladang bersama. Ayah Arini tampak biasa, tak ada yang mencurigakan, tidak seperti ibunya Arini. Penuh misteri.

***

    Semua penghuni rumah sudah pergi. Tinggal aku sendiri. Perasaan bosan mulai menghinggapi. Apalagi ketika mendekati tengah hari, perutku keroncongan minta diisi. 

   Aku mulai melangkah pelan menuju ke dapur.  Mengecek apakah ada bahan makanan atau mungkin masakan enak sudah tersedia di sana. 

   Mataku mulai mengedar ke segala penjuru. Tak nampak masakan ataupun bau-bau sedap di sana. Ku telusuri semua perabot, kalau-kalau ibu atau Arini meninggalkan lauk di situ. Tapi, nihil. Tak ada apapun.

    Langkahku terhenti ketika mataku menatap ke sebuah perabot yang terbuat dari tanah liat teronggok, tersembunyi di balik kulkas dua pintu milik Arini. Benda itu nyelip hingga nyaris tak terlihat.

      Rasa penasaranku membuncah. Pelan namun pasti ku dekati benda itu. Tanganku dengan mudah menggapai. Dengan jantung yang berdebar, perlahan ku buka tutupnya.

     Mataku terbelalak melihat isi dari benda itu. Sungguh di luar dugaanku. Begitu di buka bau anyir seketika menyeruak, membuatku ingin muntah. Sekuat tenaga berusaha ku tahan. 

     Seonggok daging merah yang masih berlumuran darah dan tebal itu mengeluarkan bau anyir darah yang menyiksa indra penciumanku. Segera ku taruh kembali di tempatnya semula dan keluar berlari dari dalam rumah.

      Jantungku berdebar amat kencang. Benda apa itu? Seumur hidup baru kulihat benda menjijikkan itu tersimpan rapi di dalam rumah. Apa tidak mengganggu? Jika itu daging, kenapa terlau banyak darah dan berbau amis?

    Beribu tanya memenuhi pikiranku. Dengkulku terasa lemas. Aku sungguh takut untuk kembali masuk ke rumah itu. Aku terus berjalan hingga tak sadar sudah sampai di sebuah warung nasi tak jauh dari rumah Arini.

      Walaupun selera makanku sudah hilang, aku tak mau membiarkan diriku kelaparan . Dengan langkah gontai aku masuk ke dalam warung. Seorang wanita tua menyambutku dengan ramah dan senyuman yang sangat khas .

      "Mari, Nak, masuk," ucapnya sembari melambaikan tangan.

      Aku mengangguk dan duduk. Tanganku masih gemetar karena ketakutan. Ternyata hanya ada aku dan Nenek tadi di warung. Ia datang membawa nasi dan beberapa lauk , juga sambal yang kelihatannya sangat lezat.

     Dengan lahap ku makan semua makanan yang nenek sediakan. Ajaib , rasa mual itu hilang seketika dan aku begitu menikmati masakannya.

      Nenek tadi duduk di hadapanku . Ia menatapku penuh rasa kasihan. 

      "Nak, berhati-hatilah, kau berada dalam pengaruhnya ," ucap Nenek membuatku menghentikan makan dan menatapnya tajam.

     "Ma--maksud, Nenek?" jawabku spontan.

     "Nanti kau akan tahu, saran Nenek, jangan makan apa pun di sana! agar kau bisa tahu siapa keluargamu itu sebenarnya, terutama istri dan mertuamu!" ucap Nenek sembari berlalu.

      Aku semakin bingung dengan ucapan Nenek. Ini sudah kali kedua ada orang yang menasehatiku untuk berhati-hati. Sebenernya ada apa denganku dan juga keluarga baruku?

     Setelah selesai makan dan membayar, akupun berpamitan pulang. Perasaanku kini terasa lebih lega. Sempat berkenalan dengan warga sekitar yang kurasa amat ramah. Maklum, selama menikah dengan Arini aku belum pernah berbincang dan bertemu warga sekitar.

      Dari jauh kulihat Ibu sedang berbincang dengan seorang wanita yang kutaksir berusia dua puluh tahun. Wanita muda itu tampak hamil, terlihat dari perutnya yang buncit. 

      Ibu tampak antusias berbicara dengan si wanita. Ia pun tak henti mengelus perut si wanita, persis seperti Arini kemarin yang tampak kegirangan. Namun, semua berhenti ketika aku berpapasan dengan ibu. Ibu tampak terkejut melihat kedatanganku .

     "Darimana, kau, Yusuf?" tanya Ibu begitu melihatku.

    "Habis beli makan tadi, Bu," jawabku pelan.

    "Oia , maaf Ibu tadi lupa memasak untukmu, ayo kita pulang, Nak," ajak Ibu.

     Aku pun mengangguk dan ikut pulang bersama ibu. Kulihat Ibu sempat melirik wanita tadi. Lirikan dan tatapan mata Ibu mengingatkanku pada sesuatu. Tapi, apa itu?

***

   Malam itu Arini sudah tertidur pulas. Aku berpura-pura tidur. Sengaja aku tak ingin tidur cepat malam ini. Aku masih sangat trauma dengan kejadian tadi malam. 

      Brakkkkkk! 

     Kembali kudengar pintu dapur terbuka. Ku dengarkan dengan seksama. Lagi dan lagi kudengar suara desisan dari arah luar jendela kamarku. Badanku gemetar. Aku yakin itu makhluk yang semalam melotot menatapku .

    Shhhhhh! Shhhhhhh!

   Ku biarkan suara itu. Hingga kemudian terdengar...

    Pok! Pok! Pok!

   Dengan langkah gemetar aku mendekati jendela kamar, sengaja di sudut yang berbeda. Ku sibak tirai perlahan, dan ...

    Samar-samar kulihat sesuatu perlahan pergi meninggalkan kamarku. Sosok itu berambut panjang. Nampak sesuatu menggantung seperti usus dari jauh. Sosok itu terbang melayang melesat entah kemana. Peluh membanjiri tubuhku . Badanku bergetar hebat. Dengan tertatih aku kembali naik ke atas kasur.

     Ku paksa mataku untuk tidur. Baru kali ini kulihat sosok tanpa tubuh melayang membumbung di angkasa. Aku tak tau itu apa. Ingin rasanya malam ini aku pergi dari tempat ini. Sungguh mengerikan tinggal di sini. Tapi pasti Arini tak akan mau pindah, karena perjanjian dari awal aku harus tinggal bersamanya di sini.

***

     Sialnya malam ini aku tak jua mau tertidur. Aku sengaja membelakangi Arini berpura-pura sudah terlelap. Tak lama kurasakan ranjangku sedikit bergoyang , Arini bangkit dari tidurnya perlahan.

     Ia melangkah keluar dari dalam kamar . Sayup-sayup ku dengar Arini seperti berbincang dengan seseorang, suaranya amat ku hapal. Sepertinya itu Ibu yang mengajaknya berbincang. 

      Ku dengar percakapan mereka dari dalam, sembari berbisik-bisik. Aku melangkah mendekati pintu. Mataku membesar ketika mengintip dari balik pintu, ketika kulihat Arini dengan lahap memakan seonggok daging merah berlumur darah bergantian dengan Ibunya.

       Mereka tampak mengerikan. Hingga...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED