“Kamu pikir aku mau menikah dengan pria yang tidak punya apa? Jangan harap, Mas!” Suara yang keras dan cempreng tersebut, keluar dari mulut Dewi—seorang istri yang baru beberapa bulan lalu menikah.
“Kamu tidak pernah memberikanku uang jajan, bahkan uang untuk ke salon saja aku susah! Kamu memang gak cocok jadi suami!”
Tidak diharapkan, jika Dewi akan berubah menjadi wanita yang kasar dan keras. Hanya perkara masalah keuangan dan ekonomi, membuat Dewi menjadi berubah sembilan puluh derajat dari sebelum mereka menikah. Dimas—nama suami Dewi hanya bisa terdiam, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang istri. Matanya hanya mampu menatap sayu, ia sadar jika dirinya juga bukan orang kaya.
“Jadi apa kemauanmu saat ini?” tanya Dimas seolah dia sudah tahu, langkah selanjutnya yang akan diminta oleh Dewi.
“Aku muak denganmu Dewi! Kamu pikir kerja itu nggak lelah? Nggak perlu tenaga, dan kamu hanya santai di rumah menunggu uang dan merasa kurang?” Dimas menggelengkan tak habis pikir dengan Dewi.
“Maumu sekarang, cerai ‘Kan?”
Dewi tersenyum degan kepala mengangguk. “Bagus jika kamu sudah tahu.” Tangan Dewi mengambil sesuatu di dalam tas hitam, ia lalu mengeluarkan kertas putih dan melemparkannya kepada Dimas.
“Aku sudah ambil surat gugat perceraian, jadi kita cerai!”
Dewi pergi dari hadapan Dimas, Dimas sama sekali tidak minat melirik ke arah surat putih yang dia miliki. Walau sebenarnya hati Dimas sangalah sakit, melihat istri yang ia cintai tega meninggalkannya.
“Kenapa semuanya seperti ini!” Dimas yang sudah pusing dan kalut, tidak ada pikiran jernih. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mencari tempat, agar ia bisa menenangkan dirinya.
***
Club, adalah tempat yang pelarian seumat manusia. Dengan pikiran yang kacau, jika mereka sudah memasuki tempat ini mereka akan baik-baik saja. Sama halnya dengan Dimas, sudah berapa botol yang ia minum tapi ia belum berhenti. Bahkan petugas di sana, berusaha untuk memberhentikannya tetapi tidak ada yang berhasil.
“Dewi dasar wanita sialan, berani sekali kamu meninggalkanku hanya karena aku miskin?” Meminum satu botol dengan sekali tegakan langsung habis. Mereka semua kewalahan melihatnya.
“Pak tolong berhenti, kamu sudah meminum banyak sekali alkohol di sini,” ujar petugas yang ada di sana, tetapi bukannya pergi Dimas justru menatapnya dengan sangat tajam.
“Diam! Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan, bukan? Jangan banyak tingkah!” sentak Dimas memarahi petugas yang mencegahnya.
Namun mata Dimas tertuju kepada sebuah wanita, yang baru saja datang dengan pakaian yang sangat bagus. Dimas dengan tubuh sempoyongan berjalan mendekatinya, wanita itu membuka kaca mata hitam yang menutupi matanya. Menatap Dimas dengan wajah keheranan.
Dimas merangkulnya, padahal ia tidak kenal sama sekali. “Hei, Nona! Apa kamu tahu, jika zaman sekarang wanita akan menikah dengan orang kaya dan meninggalkannya jika dia sudah miskin?” ujar Dimas.
“Ah, sebelumnya siapa namamu?”
Wanita itu tampak bingung, ia menatap petugas yang di sana. Mengisyaratkan jika Dimas sedang mabuk, membuat wanita itu mengerti. Ia tersenyum menatap Dimas, yang benar-benar kehilangan akal sehatnya.
“Luna, namaku Luna.” Dimas tertawa kecil, lalu melepaskan rangkulannya. Ia menunjuk wajah Luna, menatap sejenak sebelum kembali tertawa.
“Rasanya kamu sama seperti mantan istriku, Dewi. Matanya hanya penuh dengan kekayaan!”
Dimas menggelengkan kepalanya, namun kepalanya terasa berputar-putar pandangannya menjadi buram. Dimas menegang kepalanya terasa sangat sakit sekali, seolah bumi sedang diguncang tubuhnya terasa melayang. Dan detik itu juga, Dimas menjadi pingsan.
Keesokan harinya ....
Dimas membuka kedua matanya yang masih terasa berat, namun matanya terbelalak kaget. Ia sama sekali, tidak tahu di mana ia berada. Merubah posisinya menjadi duduk, sebuah rumah mewah ia tempati. Dimas benar melongo, semua berwarna putih mengkilap bahkan dengan dekorasi yang sangat besar.
“Ini rumah siapa? Aku ada di mana?” Merasa ada yang janggal, Dimas hendak berdiri. Tetapi kepalanya terasa sangat pusing sekali, membuatnya mengurungkan diri.
“Jangan bangun, tidurlah. Kamu sedang sakit.”
Suara wanita mulai terdengar, Dimas menoleh ke sumber suara. Terlihat wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan mendekatinya. Dimas melongo bukan main, melihat wanita itu yang sangat cantik. Kulit mulus, dan sangat putih terawat. Namun, ia segera mengalihkan pandang, ketika ingat masalahnya dengan Dewi.
“Mungkin kau lupa kejadian tadi malam, aku Luna. Siapa namamu?” tanya Luna dengan suara dingin dan sedikit cuek.
“Dimas. Kenapa aku bisa ada di sini? Kamu nggak menculikku bukan?” tanya Dimas merasa was-was. Ia merasa asing dengan wajah wanita di hadapannya. Sama sekali tidak pernah ia temui, bahkan ini pertama kali ia bertemu dengan Luna.
Luna tertawa mendengar perkataan Dimas, ia melepaskan handuk yang ada di kepalanya. Mengeringkannya dengan menggunakan hair dryer yang sudah ada di kamar. Dimas menatapnya dengan teliti, setiap pekerjaan yang ia lakukan. Dimas yakin, jika dia bukanlah wanita biasa.
“Jika aku menculikmu, mungkin aku sudah menjualmu sejak tadi. Atau kamu sudah meninggal dengan potongan-potongan tubuh—“
“Sudah! Jangan dilanjutkan, kamu terlalu keji untuk mengatakan hal itu,” sela Dimas. Tak ingin mendengar lebih panjang lagi, apa yang dikatakan oleh Luna.
Luna tertawa dengan pelan. “Aku tahu permasalahanmu, Dimas. Dewi istrimu yang meninggalkanmu karena kamu miskin, bukan?”
Dimas membeku, mendengarnya. Kenapa Luna bisa tahu masalah hidupnya? Dimas menjadi bertanya-tanya, ia benar tidak ingat apa soal kejadian kemarin malam.
Luna berdiri, ia menatap Dimas dengan sangat tajam. “Menikahlah denganku, maka hidupmu akan berubah.”
Dimas melebarkan matanya kaget, apakah wanita di hadapannya sudah gila? Ia tidak mengenal sama sekali, tetapi menyuruhnya untuk menikah dengannya? Tidak, Dimas tidak boleh tergoda. Ia takut, jika ini hanya tipu muslihat agar bisa membawa Dimas dan menjualnya? Mungkin.
“Kamu gila? Aku nggak mengenalmu, dan kamu menyuruhku untuk menikah denganmu?”
Luna berdecak pelan, “Hello, sudah menjadi duda? Dan aku janda, janda muda.” Luna tertawa dengan keras, dia merasa seolah itu adalah hal yang lucu.
“Jika menikah denganku, aku mempunyai tiga kesepakatan yang akan di patuhi, dan satu hadiah untukmu.”
Dimas menjadi semakin heran. “Apa tujuan sebenarmu?”
Luna mendekat. “Mempunyai calon pendamping dan calon penerus,” bisik Luna tepat di telinga Dimas. Dimas menjadi ngeri, mendengar apa yang dikatakan oleh Luna.
“Aku akan memberikan kamu bayaran banyak, seberapapun yang kamu mau asalkan ada tiga syarat yang harus kamu lakukan, mau?”
Dimas kembali terdiam, ia merasa tergiur. Melihat situasi ekonomi yang tidak jelas, dan ia benar miskin. ‘Jika aku menerimanya, dan aku benar mendapatkan banyak uang. Aku bisa untuk membuat Dewi panas karena aku sudah kata,’ batin Dimas.
“Baik apa syaratnya?”
Luna tersenyum. “Syarat pertama, kamu harus menikah denganku. Kedua, kamu harus berhasil memberikanku keturunan. Jika tidak, kamu akan terus bersamaku dan hadiah itu tidak akan didapatkan, dan yang terakhir, jika aku sudah hamil dan anak ini sudah lahir kita cerai, hadiah akan dikirimkan hari itu juga.”
Dimas kaget mendengar syarat, yang dilontarkan. Seperti Dimas yang akan mengikuti sebuah konsestan dan mendapatkan hadiah yang ia mau. Dimas terdiam, ia bingung apakah ia berani untuk menyanggupi atau tidak? Karena dulu ia bersama dengan Dewi juga tidak memiliki keturunan. Tapi apa salahnya jika ia mencoba?
“Baik, aku mau. Itu syarat yang sangat mudah sekali,” ujar Dimas. “Tapi aku belum bisa mengenalmu lebih jauh, Luna?”
Luna tersenyum, ia mendekatkan wajahnya kepada Dimas. Mencium wajah Dimas dengan gemas, meraba-raba tubuh Dimas membuat Dimas pun akhirnya terpancing dijerat Luna.
Luna kini sudah selesai mandi dan bersiap diri. Ia menatap tubuhnya di pantulan cermin, tubuhnya terlihat sangat indah dan cantik sekali. Namun ingatan akan dirinya hanya menjadi seorang janda, langsung teringat. Luna menghela napas dengan kasar.
“Apa nanti aku benar bisa menikah dengan Dimas dan akan mempunyai keturunan?” monolog Luna penuh tanya.
Karena beberapa kali ia menikah, sama sekali tidak diberikan keturunan. Entah apa kata dunia, ia belum dizinkan untuk mempunyai anak.
Luna pun akhirnya bergegas untuk keluar, pergi dari area kamar untuk menenangkan dirinya. Tetapi langkah Luna terhenti, ketika melihat seorang wanita dan pria duduk di sofa ruang tamu miliknya. Mereka tampak tersenyum senang, melihat kehadiran Luna. Luna hanya mampu mendekati mereka, walau dalam hati mereka bertanya-tanya akan kehadirannya.
“Luna, kamu nanti diundang sama Mama buat makan malam di rumah,” ujar Anggun—ipar Luna, yang memang tinggal bersama dengan ibu kandung Luna.
“Mama sudah lama juga tidak bertemu dengan, kamu Luna,” balas Indra—kakak kandung Luna.
“Baik, nanti aku akan ke sana,” jawab Luna seadanya.
Luna memang tidak begitu dekat dengan keluarganya, terlebih lagi karena dirinya sekarang sudah janda. Namun semua anggota keluarga justru khawatir, dengan kondisi Luna. Indra dan Anggun tampak kebingungan, mereka saling tatap satu sama lain. Berbeda dengan Luna yang melihat gerak-gerik mereka menjadi semakin bingung.
“Ada apa? Apa ada yang ingin kalian sampaikan, lagi? Jika nggak ada silahkan pulang,” ujarnya. Ia paling tidak suka, jika hanya terdiam lama di rumahnya jika tidak ada tujuan apapun.
Indra tersenyum, ia menatap Luna dengan sedikit canggung. “Begini Luna. Sebelumnya, mas minta maaf dulu kalau nanti membuat Luna tersinggung.” Indra menjeda ucapannya, melirik Anggun yang hanya menganggukkan kepalanya.
“Kata mama, nanti Luna bawa calon suami Luna, ya?”
Deg!
Luna langsung terdiam, mendengar perkataan Indra. Membawa calon suami? Ah permintaan apa itu! Memang dirinya sudah mempunyai calonnya, tetapi apakah secepat ini untuk dia bawa ke hadapan orang tuanya? Ini bukan yang tepat untuk membawa Dimas ke keluarga Luna. Luna belum mengenal jelas, siapa Dimas dan apa yang akan nanti ia jawab mengenai Dimas?
“Mas Indra, apakah rasanya terlalu cepat jika aku membawa calon suamiku nanti?” ujar Luna.
“Tapi Luna, kondisi Ayah sudah semakin parah. Mereka ingin Luna cepat-cepat menemukan jodoh yang baik, dan Ayah ingin nantinya kamu bisa memiliki anak. Ayah ingin melihat kamu mempunyai pendamping dan calon pelindung kamu sebe—“
“Oke!” sela Luna dengan cepat, ia tidak mau lagi mendengar ucapan dari Anggun yang sudah mengarah kemana-mana. Luna juga tidak dapat menentang kondisi Papa Luna, yang paling Luna sayang dan Luna akan melakukan semuanya untuk sang Papa.
“Nanti akan aku bawa calon suamiku. Sekarang kalian silakan pergi, aku akan ada urusan!”
Indra dan Anggun pun segera pergi dari rumah Luna, setelah di lihat semua sudah pergi Luna langsung menjadi khawatir. Luna menatap ke depan dengan pandangan kosong, ia benar bingung tentang apa yang akan ia lakukan dengan Dimas nanti di sana.
“Luna?”
Luna terkaget, mendengar suara Dimas tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Dimas menjadi heran, melihat raut wajah Luna. Sementara Luna merubah posisi dan ekspresinya sejenak, tepatsekali jika Dimas sudah bangun dan kini di hadapannya.
“Ada apa? Tadi aku mendengar ada tamu, tapi kenapa mereka nggak ada?” tanya Dimas.
“Sudah pulang,” jawab Luna seadanya. “Oh ya Dimas, apakah dulu kamu bekerja?”
Dimas mengerutkan keningnya, mendengar ucapan dari Luna. Ia menjadi bingung, apakah ia harus jujur atau bagaimana.
“Aku dulu bekerja di salah satu restoran, hanya sebagai pelayan saja,” jawab Dimas seadanya. Melihat raut wajah Luna langsung berubah seketika, mendengar jawaban dari Dimas.
Luna langsung terdiam, mendengarnya. Bagaimana bisa Luna membawa Dimas ke keluarganya, jika sekarang perkerjaan Dimas hanya sebagai pelayan? Bahkan Dimas saja belum mengenal dirinya.
"Apa kamu malu?" Tanya Dimas hati-hati, melihat Luna yang tidak ada jawaban apapun dan hanya terdiam.
Seketika Luna tersentak, ia menggeleng dengan wajah tersenyum menatap ke arah Dimas.
"Enggak, bukan begitu maksudku."
Luna menghela nafas dengan kasar. “Dimas, mamaku mengundang kita makan malam di rumahnya. Aku belum sama sekali mengenalmu, dan kamu juga sama sekali belum mengenalku.” Tatapan Luna begitu dalam kepada Dimas, sementara Dimas hanya mampu terdiam mencerna ucapan Luna
“Bagaimana jika kita melakukan perkenalan lebih dalam lagi?” usul Dimas, yang langsung terlintas di benaknya. “Aku tahu maksudmu, Luna. Kamu nggak mungkin membawaku yang miskin ini ke rumah orang tuamu, jadi lebih baik kamu men—“
“Kamu akan tetap aku bawa ke rumah kedua orang tuaku,” sela Luna dengan tegas, menolak jika Dimas menyuruhnya untuk mencari orang baru. Bagi Luna, Dimas sangat cocok untuk dirinya. Dimas pasti memiliki hati yang baik, dan juga keluarganya pasti menerika jika menikah dengan Dimas.
“Kita susun rencana sementara ya? Kita harus membuat alur agar nanti kita tidak bodoh di sana,” ujar Luna.
“Maksudmu?”
Luna pun mulai menjelaskan, ia menyuruh Dimas untuk pura-pura menjadi CEO sama seperti dirinya. Di salah satu perusahaan, yang pastinya tidak begitu dikenal oleh keluarga mereka. Dimas hanya mampu melonggo saja, ketika Luna juga menceritakan tentang kehidupan sebenarnya dirinya. Ini jadinya jika ia sama sekali belum kenal dengan Luna, tetapi sudah mau ambil resiko untuk menikah. Bahkan tahu saja tidak.
“Jadi kamu ini CEO di perusahaan?” tanya Dimas tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya bertemu dengan wanita yang sangat kaya dan berpendidikan sepertinya? Sangat berbanding jauh dengan mantan istri yang hanya mementingkan uang dan uang.
Luna langsung tertawa pelan. “Kamu pasti mengira aku hanya pencinta wanita malam, bukan? Karena kejadian semalam, dan dua hari lalu di club tersebut,” ujar Luna dengan suara sedikit tertawa. "Mungkin bukan kamu saja yang mempunyai pikiran sempit seperti itu," imbuh Luna.
“Untuk alasan kenapa kamu menyuruhku menikah denganmu, bagaimana?” Dimas menaikkan satu alisnya.
Dimas masih penasaran, kenapa Luna yang sama sekali belum mengenalnya langsung mengajak untuk menikah. Bahkan ia bisa mencari lelaki yang lebih baik, lebih mapan, dan pastinya lebih tampan. Tetapi ia justru tetap memilih Dimas, yang tidak ada apa-apanya. Dengan hanya satu kali pertemuan, Luna bahkan berani untuk memberikan tantangan dan hadiah sebesar itu kepada Dimas.
“Nanti kamu akan tahu, anggap saja jika hadiah nanti yang kamu dapatkan itu akan menjadi alat untuk memanasi mantan istrimu,” ujar Luna membuat Dimas menjadi teringat, Dewi sang istri yang meninggalkannya karena dirinya miskin.
Dimas terdiam di pantulan cermin, siang terasa begitu cepat. Sore terganti dengan malam, dan ini adalah waktu yang paling susah dilupakan olehnya. Makan malam bersama calon mertua, merupakan salah satu kejadian yang paling menegangkan baginya. Dengan pakaian yang sudah lengkap, membuat Dimas terlihat berwibawa.
“Apa aku benar akan bertemu dengan keluarga Luna?” tanya Dimas dengan heran, ia bahkan tidak menyangka jika dirinya akan berada di sini.
Tempat di mana, sama sekali tidak ia kenal. Bahkan ia juga tidak bertanya kepada Luna, di mana sebenarnya dirinya saat ini. Apakah ia masih satu kota dengan kampung halamannya, atau bagaimana?
“Dimas apakah kamu sudah siap?” tanya Luna, yang tiba-tiba masuk ke kamar Dimas. Langkah Luna terhenti, tubuhnya terasa terhipnotis melihat tubuh Dimas.
Dimas dan Luna saling pandang, Dimas tidak dapat menolak pesona Luna. Dengan rok yang di kenakan selutut, membuatnya terlihat sangat anggunnya. Begitu juga dengan Luna melihat Dimas sangatlah tampan, memang tidak salah jika Luna memilih Dimas untuk menjadi suaminya kelak.
“A-anu, aku udah siap,” ujar Dimas membuat Luna juga mengalihkan pandangannya.
“Apakah kamu bisa menyetir mobil?” tanya Luna, Dimas dengan polos hanya mampu menggelengkan kepalanya. Dia hanyalah anak miskin, bagaimana bisa dirinya menyetir mobil? Bahkan dia motor saja tidak punya di rumah
Luna berdecak sambil memutar bola matanya malas. “Mama pasti akan bertanya kenapa aku yang menyetir mobil,” gumam Luna.
“T-tapi mungkin kamu bisa mengajarku malam ini?” balas Dimas, membuat Luna langsung menatapnya dengan sangat tajam.
“Malam ini? Benar kamu ingin belajar menyetir, sekaligus langsung menuju rumah mamaku?” Luna tidak habis pikir dengan ide Dimas. “Biarkan saja dulu, besok kita menyetir. Sekarang, kita akan menggunakan taxi ke sana.”
-::-
Tepat pukul delapan malam, mereka sudah berada di depan rumah mama Luna. Keluarga Luna sangat amat menunggu kehadiran mereka. Luna dan Dimas keluar dari taxi, tubuh Dimas tampak gugup melihat gedung yang sangat mewah di hadapannya.
‘Nggak anak, Nggak ibu benar-benar kaya semua,’ batin Dimas melihat gedung di hadapannya. Luna mendekati Dimas, mereka belum membuka gerbang. Sehingga Luna bisa mengobrol sebentar dengannya.
“Dimas, ingat apa yang sudah kita rencanakan, kamu harus terlihat seperti lelaki berpendidikan, oke?” pesan Luna.
Dimas mengangguk. “Percayakan denganku, aku tidak akan merusak reputasimu di sana,” jawab Dimas.
Luna menggandeng tangan Dimas, membuat Dimas sedikit kaget. “Anggap saja jika ini sudah mulai, kita harus terlihat romantis di sana,” balas Luna.
Dimas pun hanya mampu mengikuti Luna, mereka membuka gerbang yang ada di sana. Ternyata mereka malam malam tidak di alam rumah, melainkan di halaman rumah mereka Semua keluarga menatap ke arah Luna dan Dimas yang baru datang, bahkan mereka tampak senang melihatnya.
“Luna, aku sudah lama nggak bertemu denganmu!” sosok wanita mendekati Luna langsung memeluk tubuh Luna. Ia melepaskan pelukannya dari Luna, matanya menangkap sosok Dimas berdiri di samping Luna.
“Apakah ini calon suamimu?” tanya Ratna—kakak sepupu Luna, yang overprotektif kepadanya. Ia menatap Dimas dengan sangat tajam sekali, membuat Luna menjadi was-was.
“Iya dia calon suamiku,” jawab Luna. Luna berusaha untuk bersikap tenang, bahkan sesekali memegang tangan Dimas lebih erat.
“WAH! DIA SANGAT TAMPAN!” ujarnya dengan keras, dengan nada meninggi. Membuat Luna dan Dimas menjadi kaget, namun bisa bernapas dengan lega. Ratna menarik tangan Luna agar mendekat.
“Apakah dia orang kaya?” Luna hanya mampu mengisyaratkan untuk diam.
Satu wanita mendekat, dengan wajah yang awet muda. Namun Dimas bisa tebak, jika ia adalah ibu dari Luna. Wajahnya yang benar mirip dengan Luna, hanya saja ada sedikit keriputan dari wajahnya. Ia memandang wajah Dimas dengan lama, menatap dari atas hingga ke bawah. Ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Nama kamu, siapa?” tanyanya. Dimas menyalimi tangan wanita itu dengan lembut dan sopan.
“Saya Dimas, Bu,” ujar Dimas dengan sopan. Wanita itu hanya mampu menganggukan kepalanya.
“Ayo kita makan malam dulu, nanti kita mengobrol,” ujar Aruma—mama Luna. Ia mengajak Luna dan Dimas menuju meja makan yang ada di sana.
Ternyata makan malam itu tidak semua keluarga besar Luna, hanya beberapa orang yang ada di rumah besar tersebut. Dimas menjadi canggung, karena gaya makan mereka sangat berbeda dengan gaya makan Dimas.
‘Ini bentuk pisau apa lagi ini!’ batin Dimas dengan kesal, ketika melihat alat makan yang sudah tersedia untuk satu orang.
“Gunakan apa yang kamu bisa, jangan memalukan diri di sini,” bisik Luna yang duduk di samping Dimas. Seolah Luna sudah tahu, apa yang ada di pikiran Dimas.
“Oh ya, Ma. Kakek mana?” tanya Luna, memecahkan keheningan yang ada di sana.
Aruma menelan makanan yang ada dalam mulutnya. “Kakek kamu lagi ada di luar negeri, mungkin tiga bulan lagi dia baru pulang,” ujar Aruma, dengan senyuman manis yang tercetak di bibirnya.
Aruma menatap Dimas, yang sedang menyantap makanan yang di hadapannya. “Calon suami kamu ganteng juga, dia kerja ‘Kan?”
Huk! Uhuk!
Dimas langsung tersedak mendengar pertanyaan Aruma. Luna menginjak kaki Dimas dengan pelan, membuat Dimas mengerti apa yang harus ia lakukan sekarang.
“Aduh minum dulu!” Luna memberikan Dimas minum, bersikap seolah tidak ada rencana apapun.
Dimas menatap Aruma, tersenyum sambil menganggukan kepalanya. “Saya kerja, Tante. Saya juga punya beberapa perusahaan yang masih saya geluti saat ini,” jawab Dimas dengan lugas, bahkan wajahnya tidak terlihat jika dirinya tengah berbohong.
“Bagus, ini yang aku cari,” ujar Ratna dengan senang, terlihat dari kedua wajahnya yang sangat senang. Menatap mereka berdua secara bergilir. “Cepat nikah dong!”
“Ratna, “ tegur Aruma.
“Tapi benar Bu, apa yang dikatakan Ratna. Luna harus segera menikah,” ujar Indra, membuat mereka tertuju kepada Indra. “Melihat kondisi papa yang semakin hari semakin menurun, kita harus segera mewujudkan keinginannya,” sambungnya.
Aruma menganggukan kepala dengan mantap, benar dengan perkataan Indra. “Ada benarnya juga, jadi Dimas kapan kamu bersedia menikah dengan Luna?” tanya Aruma, membuat Dimas menjadi bingung.
Dimas melirik Luna yang ada di samping, ia tidak bisa berkomunikasi dengan Luna saat ini. Karena mereka semua mata tertuju kepada Dimas.
“Saya akan segera menikahkan, Luna,” ujar Dimas, membuat mereka tersenyum lega. Terlihat juga Aruma yang nampak senang.
“Oh ya. Apa kamu masih perjaka? Kamu tahu kan, kalau Luna sudah janda?” ujar Anggun secara tiba-tiba, membuat Dimas langsung terdiam. Bahkan bukan mereka saja, tetapi satu keluarga langsung terdiam. Apakah Dimas dan Luna akan kembali berbohong, atau mereka justru jujur? Apa yang akan terjadi?