Bab 2

Pagi itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Bukan karena suhu AC, tapi karena lapisan es yang kini resmi memisahkan Elias dan Safira.

Elias bangun subuh, tidur di kamar tamu terasa aneh. Enggak ada suara dengkuran halus Safira, enggak ada aroma lotion tubuhnya, dan enggak ada kebiasaan Safira yang selalu memukul lengan Elias kalau ia berisik saat mencari kaus kaki. Kamar itu sunyi, terlalu sunyi.

Dia buru-buru mandi, mengenakan setelan jas terbaiknya. Rutinitas menyelamatkan segalanya, pikirnya sinis. Setidaknya di kantor, ada aturan, ada tujuan, ada hasil yang bisa dia lihat. Di rumah? Nol.

Elias turun. Rumah masih gelap. Asisten rumah tangga belum datang. Safira? Jelas belum bangun. Dia enggak perlu bangun pagi karena enggak ada yang harus dia kerjakan. Sejak insiden itu, Safira berhenti dari pekerjaannya sebagai konsultan desain interior, menutup diri dari dunia luar.

Elias berjalan ke pantry, membuat kopi hitam pekat. Sambil menunggu air mendidih, matanya tanpa sengaja menatap kulkas. Di sana, tertempel sebuah sticky note kecil yang sudah lusuh, ditulis dengan tulisan tangan Safira yang cantik: "Jangan lupa meeting sama klien jam 10! Aku sayang kamu, Good Luck! <3"

Itu kenangan dari dua tahun lalu, sebelum semuanya terjadi. Safira yang selalu menjadi personal assistant pribadinya, yang selalu mendukungnya, yang selalu menjadi semangatnya.

ESenyum tipis dan getir terukir di wajah Elias. Dia merobek sticky note itu, membuangnya ke tempat sampah. Dia harus berhenti melihat masa lalu yang enggak akan pernah kembali.

Saat ia menyeruput kopi panasnya, pikiran Elias kembali pada pertengkaran semalam. Safira bilang, "Kamu enggak mengerti bagaimana rasanya kehilangan."

"Aku mengerti," gumam Elias pelan. "Aku mengerti lebih dari yang kamu tahu."

Ia berjalan ke ruang kerjanya, yang letaknya tepat di sebelah kamar tamu. Elias duduk di kursi kulitnya, menyalakan komputer. Tapi dia enggak membuka spreadsheet atau laporan keuangan. Dia membuka folder tersembunyi di komputernya, folder yang dia beri nama sandi.

Isinya: semua dokumen medis Safira.

Di sana tersimpan rapi: hasil pemeriksaan, laporan operasi, summary psikiater, dan yang paling menyakitkan, laporan kecelakaan dari dua tahun lalu.

Elias mulai membaca lagi, seolah dengan membaca detail teknisnya, dia bisa menemukan satu kalimat, satu kata, yang bisa menjelaskan kenapa Safira berubah sejauh ini.

Insiden itu terjadi saat mereka pulang dari perjalanan bisnis di luar kota. Safira yang mengemudi, Elias tertidur. Truk di depan mereka mengerem mendadak. Safira, yang selalu percaya diri di belakang kemudi, bereaksi terlalu lambat.

Tabrakan enggak fatal. Elias cuma memar dan kaget. Tapi Safira...

Elias menghela napas panjang, matanya terpaku pada satu kalimat dalam laporan medis: "Trauma fisik ringan, namun trauma psikologis berat karena kehilangan janin di usia 12 minggu kehamilan."

Ya. Itu dia. Anak pertama mereka. Anak yang bahkan belum sempat mereka beri nama. Anak yang kehadirannya sudah mereka rayakan diam-diam. Hilang dalam sekejap, di dalam mobil yang ringsek.

Elias ingat bagaimana saat itu dia panik. Dia berusaha menyelamatkan Safira, membawa istrinya ke rumah sakit terdekat. Dia ingat suster yang memberitahu dia kabar buruk itu dengan wajah penuh iba.

Dia ingat dirinya sendiri, duduk sendirian di lorong rumah sakit, merasa dunia runtuh. Dia bukan cuma kehilangan janinnya, dia juga kehilangan Safira yang ia kenal.

Saat Safira sadar, dia enggak menangis. Dia enggak berteriak. Dia hanya menatap kosong. Sejak saat itu, Safira enggak pernah membicarakan bayi itu. Enggak pernah. Setiap kali Elias mencoba, Safira akan bereaksi ekstrem-entah marah, entah mengunci diri, entah pura-pura enggak mendengar.

Safira menyalahkan dirinya sendiri. Dia yakin, jika dia enggak mengemudi secepat itu, atau jika dia lebih hati-hati, semua enggak akan terjadi.

Elias mencoba meyakinkan Safira ribuan kali bahwa itu adalah takdir, itu adalah kecelakaan, itu bukan salahnya. Tapi Safira enggak mau mendengarkan. Dia mengubah rasa bersalah itu menjadi dinding es yang memisahkan dirinya dari dunia, terutama dari Elias, yang menurut Safira, adalah korban kedua dari kesalahannya.

Elias membaca lagi hasil pemeriksaan psikiater: Pasien menunjukkan gejala depresi situasional berat, rasa bersalah kronis, dan mekanisme pertahanan diri berupa pengabaian emosional terhadap pasangan.

"Pengabaian emosional..." Elias membaca kata itu dengan pahit. Begitu formal, begitu klinis, tapi sangat akurat.

Safira enggak mengabaikannya secara fisik. Dia masih memasak sesekali, dia masih hadir di acara keluarga. Tapi jiwanya? Jiwanya sudah lama pergi, terkubur bersama janin yang gagal mereka bawa pulang.

Elias menutup folder itu, bersandar di kursinya. Dia enggak bisa menyalahkan Safira. Rasa sakit kehilangan itu nyata dan dalam. Tapi dia juga enggak bisa menyalahkan dirinya sendiri karena lelah.

Dia sudah mencoba segalanya: liburan romantis (Safira menolak), terapi pasangan (Safira membatalkan di menit terakhir), bahkan mencoba membicarakan adopsi (Safira marah besar, bilang Elias enggak mengerti apa-apa).

Dua tahun. Hidup dalam upaya yang sia-sia, mencoba menyelamatkan seseorang yang enggak mau diselamatkan.

Tiba-tiba, ponsel Elias berdering. Panggilan dari kantor. Sesuatu yang mendesak.

"Ya, ada apa?" jawab Elias, berusaha mengubah nada suaranya dari putus asa menjadi profesional dalam sekejap.

Dia berbicara selama lima belas menit tentang masalah bisnis yang rumit. Saat dia menutup telepon, Elias menyadari betapa jauh lebih mudah memecahkan masalah multinasional daripada masalah Safira. Masalah bisnis punya solusi. Masalah hati? Hanya ada kehancuran.

Elias memutuskan sudah waktunya dia pergi. Dia melirik jam. Pukul tujuh pagi. Dia bisa sarapan di luar.

Dia mengambil tas kerjanya. Sebelum keluar dari ruang kerjanya, dia berdiri di ambang pintu, menatap koridor yang menghubungkan kamar tamu (tempatnya sekarang) dengan kamar utama (tempat Safira).

Dia merasa seperti seorang penyewa di rumahnya sendiri, yang harus berhati-hati agar enggak mengganggu pemilik aslinya.

Elias berjalan pelan menuruni tangga. Saat melewati ruang makan, matanya menangkap sesuatu. Safira.

Dia duduk di kursi meja makan, hanya mengenakan piyama sutra dan rambutnya masih acak-acakan. Dia sedang minum teh. Ekspresinya enggak dingin seperti semalam, tapi lebih ke hampa.

"Mau kopi?" tanya Safira, suaranya tenang, seolah pertengkaran semalam enggak pernah terjadi.

Elias berhenti. Ini adalah pola. Mereka akan bertengkar hebat, berpisah, lalu besok pagi salah satu akan mencoba berperilaku normal, menyingkirkan puing-puing pertengkaran ke bawah karpet.

"Aku sudah buat sendiri," jawab Elias, menunjuk cangkir di tangannya.

"Oh," Safira menyesap tehnya. "Aku dengar kamu pindah ke kamar tamu."

Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Elias menatapnya.

"Ya. Aku butuh ruang. Seperti yang aku bilang semalam."

Safira meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. "Aku mengerti. Aku minta maaf soal semalam. Aku..." Dia ragu. "Aku tahu aku menyebalkan."

"Bukan menyebalkan, Safira. Kamu enggak adil," koreksi Elias. "Kamu menjadikan aku samsak emosi karena kamu enggak mau menghadapi rasa sakitmu sendiri."

Wajah Safira langsung pucat. Dia menunduk, menatap tehnya.

"Aku tahu. Aku berusaha, Elias. Aku sungguh berusaha."

"Usaha itu enggak terlihat, Safira," Elias melanjutkan, dia enggak mau luluh kali ini. Dia sudah terlalu sering luluh. "Aku sudah memohon kamu untuk bicara, untuk marah, untuk menangis. Tapi kamu cuma diam, dan itu menyiksaku."

Safira enggak menjawab. Dia cuma memutar-mutar cangkirnya. Keheningan itu kembali, mengeras.

Elias meraih jaketnya. "Aku pergi. Aku ada banyak kerjaan hari ini."

"Kamu... kamu akan pulang larut lagi?" tanya Safira, suaranya pelan, hampir enggak terdengar.

"Aku enggak tahu," jawab Elias jujur. "Tergantung. Kalau aku merasa rumah ini lebih nyaman daripada kantor, mungkin aku pulang cepat."

Kalimat itu adalah pukulan telak. Elias tahu itu menyakitkan, tapi dia sudah enggak peduli lagi dengan rasa sakit Safira. Dia hanya peduli pada rasa sakitnya sendiri.

Dia melangkah keluar. Saat ia menutup pintu depan, Elias enggak menoleh ke belakang. Dia langsung masuk ke mobil, menghidupkan mesin, dan meninggalkan rumah megah itu.

Di dalam mobil, dia enggak menyalakan musik. Pikirannya dipenuhi gambaran laporan kecelakaan dan wajah sedih Safira. Apa yang harus aku lakukan lagi?

Dia tahu, mereka berdua terperangkap dalam siklus ini. Safira yang bersalah, Safira yang menjauh. Elias yang mencoba, Elias yang lelah. Lalu Safira yang memohon maaf, dan Elias yang kembali mencoba.

Elias menyentuh dadanya. Ada lubang besar di sana. Lubang yang enggak bisa diisi dengan uang, enggak bisa diisi dengan kekaguman klien, dan enggak bisa diisi dengan Safira yang sekarang.

Saat mobilnya berhenti di lampu merah, dia melihat seorang gadis menyeberang. Gadis itu membawa keranjang besar penuh buah-buahan, rambutnya dikepang sederhana, dan dia tersenyum lebar pada tukang parkir yang membantunya menyeberang. Senyum yang begitu murni, begitu tanpa beban.

Elias menatapnya sejenak, iri. Iri pada kesederhanaan hidup gadis itu. Iri pada senyumnya yang enggak palsu.

Lampu berubah hijau. Elias menginjak gas, meninggalkan gadis itu dan senyumnya.

Dia harus fokus. Dia harus profesional. Dia punya hidup yang harus dijalani.

Tapi di lubuk hatinya, Elias tahu, dia sedang mencari sesuatu. Dia sedang mencari celah, sedikit cahaya, sedikit napas, di luar sangkar emas yang disebut rumah.

Dan ironisnya, hari itu, dia enggak menemukan apa-apa selain kelelahan yang semakin dalam. Tapi pencarian itu sudah dimulai. Kepergian dari kamar utama semalam adalah langkah pertama. Langkah untuk mencari kebahagiaan-atau setidaknya ketenangan-yang sudah lama direnggut darinya.

Dia enggak tahu, takdir sedang menunggunya di belokan selanjutnya. Takdir yang akan memberinya senyum polos itu lagi, tapi dengan harga yang sangat mahal.

Elias sampai di kantornya. Ia naik ke lantai tertinggi, memasuki ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca, menghadap ke seluruh kota. Pemandangan itu luar biasa, tapi terasa hampa.

Elias duduk di balik mejanya, menyalakan komputer lagi. Kali ini, dia enggak membuka folder tersembunyi. Dia membuka email.

Dan begitulah, hari itu dimulai. Hari-hari yang sama, rutinitas yang sama, kehampaan yang sama. Dia enggak tahu berapa lama dia bisa bertahan dalam kebekuan ini, tapi yang jelas, malam ini, dia akan kembali ke kamar tamu, jauh dari Safira, dan lebih dekat dengan kehancurannya sendiri.

Kita berdua hancur, pikir Elias, menyentuh laporan keuangan yang baru saja dicetak. Aku cuma memilih untuk hancur sambil tetap bekerja.

Mungkin itu adalah satu-satunya cara Elias Pradana, pria yang punya segalanya, bisa bertahan hidup: berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, sampai ada seseorang yang datang dan membuktikan bahwa berpura-pura itu enggak diperlukan lagi.

Dia melirik ponselnya. Tetap enggak ada pesan dari Safira. Mereka sudah resmi hidup dalam dua dunia yang berbeda di bawah satu atap.

Bab 3

Sore itu, kantor Elias terasa lebih panas daripada biasanya, padahal AC sentral di lantai 30 itu dijamin bekerja sempurna. Mungkin karena stressor yang datang kali ini bukan berbentuk laporan keuangan, melainkan telepon dari ibunya.

"Kamu harus datang makan malam, El. Besok malam. Enggak ada penolakan," suara Ibu Martha terdengar tegas di seberang sana.

Elias mengurut pangkal hidungnya. "Aku tahu, Bu. Tapi aku ada rapat penting besok sore. Lagipula, ada perlu apa mendadak begini?"

"Enggak ada mendadak-mendadak. Sudah lama Papa kamu ingin bicara serius. Tentang kamu, tentang Safira," kata Ibu Martha, nadanya langsung membuat Elias waspada.

"Tentang kami? Kan baik-baik saja," balas Elias cepat, pura-pura enteng.

"Jangan bohong sama Ibu, Elias. Sejak kapan Safira enggak pernah ikut kumpul keluarga? Sejak kapan kalian enggak pernah datang berdua ke acara amal? Kami semua tahu ada yang enggak beres. Dan ini sudah dua tahun, El. Dua tahun."

Hati Elias mencelos. Seharusnya dia tahu, sandiwara yang ia mainkan di depan publik pasti enggak akan mempan di depan ibunya sendiri.

"Baik, aku usahakan datang," Elias menyerah. "Tapi tolong, jangan libatkan Safira di sini. Dia sedang enggak enak badan."

"Itu alasan kamu dua tahun terakhir, Elias. Pokoknya, datang. Sendirian atau berdua, itu urusan kamu. Tapi kamu harus hadapi Papa."

Telepon terputus. Elias melempar ponselnya ke sofa ruangannya. Ia bersandar di kursi, menatap ke luar jendela. Kota Jakarta yang gemerlap tampak begitu jauh, seolah masalahnya hanya dia seorang yang alami.

Makan malam keluarga Pradana. Itu bukan sekadar makan malam. Itu adalah sidang paripurna. Papa, Bram Pradana, adalah pria yang sangat menjunjung tinggi nama baik dan tradisi keluarga. Keluarga Pradana harus sempurna: sukses secara finansial, stabil secara politik, dan yang terpenting, memiliki penerus.

Keesokan malamnya, Elias datang sendirian. Ia sudah mencoba menghubungi Safira, memintanya datang.

"Aku enggak mau, El," jawab Safira lewat pesan singkat. "Aku enggak siap mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku cuma akan merusak suasana. Bilang aja aku ada proyek di luar kota mendadak."

Elias enggak membalas. Dia cuma tahu dia harus menghadapi api ini sendirian.

Begitu masuk ke rumah besar orang tuanya, nuansa formal langsung menyergapnya. Ayahnya, Papa Bram, duduk di ruang keluarga, membaca koran dengan sorot mata dingin yang khas. Ibu Martha menyambutnya dengan pelukan hangat yang terasa seperti menenangkan seorang prajurit sebelum perang.

Di meja makan, suasananya kaku. Ada Kakaknya, Shinta, dan suaminya, Robi. Mereka sudah punya dua anak yang lucu-lucu, menambah kontras pada meja makan Elias yang selalu kosong.

Obrolan basa-basi berjalan lambat. Tentang bisnis, tentang politik, tentang cuaca. Tapi Elias tahu, ini hanyalah pemanasan.

Begitu makanan penutup selesai disajikan, Papa Bram meletakkan garpunya dengan bunyi denting yang nyaring. Semua mata tertuju pada Elias.

"Safira ke mana?" tanya Papa Bram, suaranya berat dan mengintimidasi.

"Dia ada klien dari luar kota, Pa. Enggak bisa ditinggal," jawab Elias, kebohongan yang sudah ia siapkan.

Papa Bram menatapnya tajam. "Klien. Selalu klien. El, Ibu kamu bilang kamu sudah pindah ke kamar tamu. Benar?"

Jantung Elias berdegup kencang. Ia melirik Ibu Martha, yang hanya memberi tatapan penuh arti, seolah bilang, Sudah kubilang ini akan terjadi.

"Hanya sementara, Pa. Aku sedang butuh fokus untuk proyek besar. Kamar tamu lebih tenang," Elias berusaha berdalih.

"Omong kosong!" Papa Bram membanting tangan ke meja, membuat gelas bergetar. "Kamar kamu di rumah itu sebesar lapangan tenis! Mana ada yang enggak fokus di sana? Katakan yang sebenarnya, Elias. Kalian bertengkar hebat?"

Elias merasa semua energinya terkuras. "Kami cuma sedang butuh waktu. Kami sedang menyelesaikan masalah kami."

"Masalah apa?" Papa Bram menyipit. "Masalah yang sama yang sudah kalian 'selesaikan' selama dua tahun? Masalah yang membuat Safira enggak pernah mau bicara tentang anak?"

Pertanyaan itu tepat menusuk ulu hati Elias. Kakaknya, Shinta, mencoba menengahi. "Pa, jangan begini. Biarkan Elias dan Safira yang menyelesaikan masalah rumah tangga mereka."

"Ini bukan cuma masalah rumah tangga!" bantah Papa Bram. "Ini tentang garis keturunan, Shinta! Elias adalah putra kedua, dia harus punya anak. Ini tentang nama baik! Orang-orang mulai berbisik, kenapa Elias yang suksesnya luar biasa, enggak bisa menghidupi satu anak pun? Kenapa Safira selalu menghindar?"

Robi, suami Shinta, ikut bicara, berusaha menenangkan. "Mungkin mereka memang belum siap, Om. Atau masih trauma setelah yang lalu."

Mendengar kata 'trauma', Papa Bram terdiam. Ia menatap Elias. "Aku tahu soal insiden itu, El. Aku tahu Safira trauma. Tapi sudah dua tahun! Kalian enggak bisa hidup di masa lalu terus! Kapan kalian akan mencoba lagi? Aku enggak minta cucu besok pagi, tapi aku minta kejelasan!"

Elias menunduk, enggak mampu menghadapi tatapan menuntut Papanya.

"Kami sudah mencoba, Pa. Berulang kali," kata Elias, suaranya tercekat. "Tapi Safira... setiap kali kami mencoba, dia akan kembali ke titik nol. Dia menyalahkan dirinya, dia menyalahkan aku. Dia enggak bisa melepaskan rasa bersalahnya."

"Maka ajak dia ke terapis terbaik!" bentak Papa Bram. "Atau bawa dia keliling dunia! Cari solusi, Elias! Jangan cuma menyerah dan pindah kamar!"

Elias mengangkat kepala. Rasa frustrasinya mendidih. "Aku enggak menyerah! Aku hanya lelah, Pa! Aku sudah berusaha keras untuk mempertahankan pernikahan yang satu pihak sudah mati rasa!"

Keheningan melanda ruang makan itu. Ibu Martha menatap Elias dengan air mata di pelupuknya. Shinta menggeleng, prihatin.

Papa Bram menghela napas, suaranya melembut, tapi ancamannya terasa lebih menakutkan.

"Dengar, El," katanya. "Aku sudah tua. Aku ingin melihat cucu dari kamu. Kalau Safira memang enggak bisa memberikan itu-dan aku enggak menyalahkan dia, ini tentang psikologis-maka kamu harus mencari solusi yang lain. Jangan biarkan nama keluarga ini dipertanyakan."

Elias tahu maksud 'solusi lain' itu. Itu adalah izin terselubung untuk mencari pengganti. Itu adalah sinyal bahwa Ayahnya sudah muak dan siap mencampuri lebih dalam.

"Aku enggak akan menceraikan Safira," tegas Elias. "Dia istriku. Aku mencintainya."

"Cinta yang bagaimana, Elias? Cinta yang membuat kamu tidur di kamar terpisah? Cinta yang membuat kamu hampir enggak pernah pulang?" balas Papa Bram. "Aku kasih kamu waktu enam bulan. Enam bulan untuk memperbaiki ini. Kalau sampai akhir tahun kalian enggak bisa menunjukkan kemajuan, entah itu Safira yang sudah mau berdamai atau... ya, setidaknya kamu sudah punya rencana yang jelas untuk masa depan keluarga ini, aku akan turun tangan."

Ancaman itu membuat Elias menggigil, bukan karena takut, tapi karena marah. Dia benci didikte.

"Apa yang akan Papa lakukan?" tantang Elias.

"Aku akan bicara pada Safira secara langsung. Aku akan memintanya untuk memilih: sembuh dan berjuang, atau membebaskan kamu," jawab Papa Bram tanpa ragu. "Aku enggak mau melihat putraku menderita, El. Dan aku enggak mau garis Pradana berhenti di kamu."

Elias berdiri. Nafsu makannya hilang, digantikan oleh gelombang frustrasi.

"Aku mengerti," kata Elias, suaranya dingin dan terkontrol. "Aku akan pikirkan. Tapi ini hidupku, Pa. Aku yang akan memutuskan."

"Hidup kamu adalah hidup keluarga ini, Elias. Jangan lupa itu," tutup Papa Bram, kembali membaca korannya, seolah sidang sudah ditutup.

Elias pamit dengan tergesa-gesa. Dia meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk. Ia marah pada Papanya, tapi ia juga marah pada dirinya sendiri dan Safira. Ayahnya benar, mereka enggak bisa begini terus.

Di mobil, Elias mengendarai tanpa tujuan. Kota sudah larut, tapi ia enggak mau pulang. Ia tahu Safira mungkin sudah tidur, mungkin juga tidak, tapi ia enggak peduli. Ia hanya butuh udara segar.

Ia memarkir mobilnya di pinggir taman yang sunyi. Ia keluar, menghirup udara malam.

Enam bulan. Itu waktu yang sedikit.

Elias menyentuh ponselnya lagi. Dia enggak menelepon Safira. Dia enggak menelepon siapa pun. Dia hanya duduk di bangku taman, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Menceraikan Safira? Itu terasa kejam, mengingat Safira sudah melalui banyak hal. Tapi mempertahankan pernikahan yang kosong ini juga terasa kejam, terhadap dirinya sendiri.

Aku butuh jalan keluar.

Pikirannya kembali pada senyum gadis yang ia lihat kemarin. Senyum yang enggak menanggung beban, senyum yang bebas.

"Di mana ketenangan itu bisa aku temukan?" bisik Elias pada kegelapan.

Dia merasa lelah. Lelah dengan janji, lelah dengan trauma, lelah dengan nama baik keluarga yang harus ia jaga. Dia hanya ingin hidup yang sederhana, yang penuh tawa, yang enggak perlu sandiwara.

Elias kembali masuk ke mobil. Tapi alih-alih pulang, dia mengemudi ke tempat lain-ke apartemen kecil yang ia beli diam-diam beberapa tahun lalu, sebagai tempat pelarian. Malam ini, ia enggak akan pulang ke rumah yang dipenuhi kebekuan. Dia akan lari ke ruang yang memang benar-benar miliknya, tanpa kenangan, tanpa Safira, tanpa tuntutan Papa Bram.

Malam itu, Elias enggak hanya menjauhkan dirinya dari Safira, tapi juga menjauhkan dirinya dari beban nama Pradana. Dan di dalam kesendirian yang pahit itu, ia semakin siap untuk mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya. Keputusan yang hanya didorong oleh satu hal: kebutuhannya untuk bernapas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED