Pukul sebelas malam. Lampu jalan di kawasan elit Jakarta Selatan itu berbaris rapi, menerangi mobil mewah hitam yang baru saja berbelok tajam memasuki halaman luas. Elias Pradana mematikan mesin. Sunyi.
Sunyi itu sudah jadi teman akrabnya selama dua tahun terakhir. Sunyi yang memekakkan telinga, bukan karena tidak ada suara, tapi karena suara yang seharusnya ada-tawa, sapaan, atau bahkan gerutuan manja-sudah lama mati.
Elias mendesah, lelahnya bukan cuma dari tumpukan file dan meeting seharian, tapi dari rumah ini sendiri. Rumah ini megah, dingin, dan kaku, persis seperti museum di mana setiap sentuhan bisa merusak keindahan palsu. Ia meraih tas kerjanya di jok samping, menanggalkan dasi yang terasa menjerat lehernya, dan membuka pintu.
Langkah kakinya di lantai marmer ruang tamu bergema. Enggak ada sambutan. Enggak ada aroma masakan sisa makan malam. Hanya lampu remang-remang di ruang tengah yang sengaja dinyalakan Safira, tanda bahwa penghuni rumah ini masih bernapas.
"Safira?"
Elias memanggil pelan, lebih karena kebiasaan daripada berharap dijawab.
Ia berjalan ke dapur, mengambil sebotol air dingin. Pikirannya melayang pada rapat dewan direksi sore tadi. Semua orang di sana menatapnya dengan kekaguman. Elias, si jenius finansial, yang berhasil melipatgandakan aset perusahaan dalam setahun. Elias, pria yang memiliki segalanya.
Semua, kecuali satu hal: rumah.
Rumah ini sudah lama berubah jadi formalitas. Elias adalah suami. Safira adalah istri. Mereka berbagi nama belakang dan alamat, tapi hati mereka sudah terpisah benua.
Ia kembali ke ruang tengah. Di sana, di sofa panjang yang berhadapan dengan jendela kaca besar, Safira duduk. Dia membelakangi Elias, menatap kegelapan di luar. Sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya, tapi Elias tahu, dia tidak membaca. Dia cuma duduk, terbungkus dalam selimut tebal, menjadi bagian dari kebekuan malam itu.
"Kamu belum tidur?" tanya Elias, suaranya berusaha terdengar normal dan tidak lelah.
Safira tidak menoleh. Hanya bahunya yang bergerak samar, entah mengedikkan bahu atau menggigil.
"Aku tunggu kamu," jawab Safira, suaranya datar, tanpa intonasi.
Elias meletakkan tasnya di lantai. "Aku bilang tadi aku pulang larut. Kenapa enggak tidur aja?"
"Aku sudah bilang, aku tunggu kamu."
Ada nada defensif di suara Safira. Nada yang selalu ada sejak insiden dua tahun lalu-insiden yang enggak pernah mereka bahas tuntas, tapi dampaknya menghancurkan semua. Safira yang periang, yang selalu menyambutnya dengan pelukan dan bau sampo yang manis, hilang. Berganti dengan Safira yang sinis, dingin, dan dipenuhi rasa bersalah yang ia tumpahkan dalam bentuk kemarahan pasif pada Elias.
Elias menarik napas panjang. Dia mencoba mengabaikannya. Malam ini, dia benar-benar ingin damai.
"Aku lapar. Kamu mau makan sesuatu?" tanyanya, mencoba lagi.
"Enggak," jawab Safira, kali ini buku di pangkuannya ditutup keras. "Aku enggak nafsu."
Elias diam. Itu dia. Kunci pemicu. Trivial, tapi selalu berhasil.
"Kalau kamu enggak nafsu, bilang aja, Safira. Kenapa kamu harus duduk di situ, pakai acara nungguin aku, terus jawab ketus kayak gini?" Elias enggak bisa menahan diri. Rasa lelahnya, rasa kesepiannya, semua tumpah jadi frustrasi.
Safira akhirnya menoleh. Ekspresinya bukan marah, tapi terluka-dan luka itu yang selalu membuat Elias kalah.
"Apa maksud kamu?" tanya Safira, matanya sedikit berkaca-kaca, tapi tatapannya menusuk. "Aku tungguin suami aku pulang, salah? Aku enggak mau tidur sendiri, salah?"
"Bukan itu masalahnya! Masalahnya, kamu tahu aku akan nanya, kamu tahu aku akan menawarkan, dan kamu sudah siap dengan jawaban yang akan membuatku merasa bersalah karena sudah pulang selarut ini!" Elias maju, berdiri di depan Safira. "Aku kerja, Safira! Aku kerja untuk rumah ini, untuk hidup kita yang bahkan sudah enggak ada isinya lagi!"
"Oh, jadi sekarang aku adalah beban?" Safira berdiri, selimutnya jatuh ke lantai. "Aku istri kamu, Elias. Bukan boneka yang bisa kamu simpan, kamu kasih uang, terus kamu abaikan! Kamu yang berubah! Kamu yang menjauh!"
"Aku menjauh? Kamu yang mendorongku pergi!" Elias balik membentak. "Lihat dirimu! Kamu yang membentengi diri! Kamu yang mengunci diri di kamar berhari-hari! Kamu yang membuat rumah ini terasa seperti neraka sunyi!"
"Aku begini karena... karena kamu enggak mengerti!" teriak Safira, suaranya mulai pecah. "Kamu enggak pernah tahu bagaimana rasanya... kehilangan. Kamu enggak pernah mencoba! Kamu cuma sibuk dengan pekerjaanmu, dengan uangmu, dengan semua yang bisa kamu kontrol!"
Mendengar kata 'kehilangan', rahang Elias mengeras. Itu adalah kata kunci yang mereka berdua hindari, tapi yang paling menyakitkan. Insiden itu, yang merenggut senyum Safira dan kehangatan rumah mereka, adalah kehilangan yang dialami mereka berdua. Tapi Safira seolah-olah mengklaim rasa sakit itu sendirian.
"Aku juga kehilangan, Safira!" Elias berbisik, tapi suaranya penuh amarah tertahan. "Aku kehilangan istriku! Aku kehilangan rumahku! Aku kehilangan masa depanku! Tapi apa yang aku lakukan? Aku tetap berdiri! Aku tetap kerja! Aku tetap mencoba mencari celah untuk masuk, tapi kamu menutup semua pintu!"
Safira mundur selangkah. Air matanya mengalir, tapi dia buru-buru menyekanya, seolah tangisan itu adalah kelemahan yang enggak boleh Elias lihat.
"Kamu selalu menuntut aku kembali seperti yang dulu. Kamu enggak mau terima aku yang sekarang, Elias," ujar Safira, suaranya berubah sedih dan menuduh. "Kamu cuma mencintai versi Safira yang kamu ciptakan di kepalamu."
"Aku mencintai Safira yang mencintaiku kembali, Safira yang peduli padaku, Safira yang enggak menjadikan setiap malam sebagai medan perang emosional!" Elias menunjuk ke arahnya. "Dua tahun, Safira! Dua tahun aku berjalan di atas cangkang telur di rumah ini! Aku lelah! Aku muak! Aku enggak tahan lagi dengan sandiwara ini!"
Kata-kata 'muak' dan 'sandiwara' menampar Safira lebih keras daripada bentakan. Matanya melebar, dan luka di wajahnya terlihat nyata.
"Kalau kamu muak..." Safira menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai dirinya. "Kalau ini semua sandiwara buat kamu... kenapa kamu enggak pergi aja?"
Pertanyaan itu melayang di udara, dingin dan final. Elias memejamkan mata. Ini bukan ancaman baru. Ini adalah undangan yang selalu dilemparkan Safira setiap kali mereka bertengkar. Undangan untuk menyerah, untuk mengakhiri penderitaan, dan untuk mengonfirmasi bahwa memang sudah enggak ada yang tersisa.
Elias membuka matanya. Malam ini, dia sudah sampai di batas kesabarannya.
"Baik," jawab Elias, suaranya tenang, tiba-tiba sangat tenang. Ketenangan yang menakutkan, seperti badai yang berhenti sesaat sebelum kehancuran total. "Aku pergi."
Safira terdiam. Dia pasti berharap Elias akan memeluknya, meminta maaf, atau setidaknya berbalik dan pergi ke dapur untuk meredakan amarah. Tapi kali ini, Elias tidak bergerak. Dia hanya berdiri tegak, memancarkan keputusasaan yang nyata.
"Kamu serius?" tanya Safira, nada suaranya sedikit goyah, menyiratkan secercah ketakutan bahwa dia mungkin sudah keterlaluan.
"Sejak kapan aku main-main dengan hidupku, Safira?" balas Elias, sarkastis. "Aku enggak akan meninggalkan kamu. Aku enggak akan melanggar janji pernikahan yang aku ucapkan. Tapi aku enggak bisa lagi berbagi kamar, berbagi ruangan, berbagi udara yang sama dengan kamu kalau kamu hanya bisa menawarkan kebekuan ini."
Elias berbalik, berjalan menuju tangga.
"Aku akan tidur di kamar tamu," katanya tanpa menoleh. "Aku butuh bernapas. Aku butuh ketenangan yang enggak bisa kamu kasih. Aku butuh ruang. Dan kamu..."
Dia berhenti di anak tangga pertama. "Kamu bisa pakai kamarmu. Lakukan apa pun yang kamu mau. Aku enggak akan ganggu kamu lagi."
Safira hanya mematung di tengah ruangan. Wajahnya yang tebeku tadi, kini terlihat kosong. Dia berdiri di sana sampai Elias menghilang di lantai atas.
Di kamar utama, kamar yang dulunya adalah saksi bisu tawa, cinta, dan rencana masa depan, Elias berdiri di depan lemari besar. Ia tidak mengambil koper. Dia hanya meraih ransel kulit kecilnya.
Dia mengambil beberapa pakaian dalam, baju ganti untuk besok, dan laptop. Kemudian, matanya jatuh pada bingkai foto di nakas. Itu foto pernikahan mereka. Safira tersenyum lebar, matanya penuh janji. Elias memegang bingkai itu, melihat pantulan dirinya yang sekarang: pria yang sukses, tapi matanya kosong.
"Kamu yang menghancurkan kita, Safira," bisik Elias pada pantulan di kaca, bukan pada foto Safira. "Kamu yang memilih untuk hidup dalam kegelapan dan menyeretku bersamamu."
Dia meletakkan kembali foto itu, membiarkannya tetap di kamar Safira.
Elias meninggalkan kamar utama, menutup pintu pelan. Klik. Suara kunci itu bukan suara Safira mengunci dirinya di dalam, tapi suara Elias mengunci kenangan mereka di belakang pintu.
Dia berjalan menyusuri koridor panjang, menuju kamar tamu yang jarang dipakai, yang bersebelahan dengan ruang kerja pribadinya.
Kamar tamu itu steril, bersih, dan sangat impersonal. Elias melemparkan ranselnya ke lantai. Dia menyalakan lampu, yang sinarnya lebih terang dan jujur daripada lampu temaram di bawah.
Elias duduk di tepi kasur. Tiba-tiba, dia merasa sangat bodoh. Pria yang memimpin ratusan karyawan, yang menghasilkan jutaan dolar, yang dihormati di setiap ruangan, kini terasingkan di rumahnya sendiri. Dia telah memenangkan perang di dunia bisnis, tapi kalah telak di medan pertempuran rumah tangga.
Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel. Dia menatap layar sebentar. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan dari Safira. Seolah-olah perpisahan kamar ini sudah lama ditunggu-tunggu Safira.
"Bagus," gumam Elias, suaranya parau. "Setidaknya kita berdua dapat apa yang kita mau: sendiri."
Tapi apakah itu yang dia mau?
Sendiri. Kata itu terdengar seperti kemewahan saat ia sibuk, tapi kini, dalam keheningan kamar tamu, kata itu terasa mengerikan. Sendiri.
Elias membaringkan tubuhnya telentang di kasur yang masih berbau kain baru. Selama dua tahun, Safira menolaknya, tapi setidaknya dia masih ada di bawah satu atap. Sekarang, jarak dua pintu dan satu koridor terasa seperti jurang tak berdasar.
Dia memejamkan mata. Kenangan tentang Safira yang lama, yang ceria, yang suka melompat ke pelukannya sepulang kerja, datang menyerbu.
Flashback singkat terlintas. Saat Safira merengek minta dibelikan es krim tengah malam. Saat mereka tertawa sampai sakit perut karena lelucon bodoh. Saat Safira pernah membawakan bekal makan siang ke kantornya, lengkap dengan surat cinta di atas kotak bekal. Itu semua sudah mati. Terkubur di bawah lapisan tebal kesedihan dan rasa bersalah Safira.
Elias membuka mata. Dia harus berhenti menyiksa dirinya. Dia sudah memutuskan. Ini adalah malam pertama kemerdekaan emosionalnya, meski kemerdekaan itu terasa pahit dan sunyi.
Dia meraih laptopnya. Dia memutuskan untuk bekerja, mencari pelarian yang paling andal: angka. Dia tahu dia enggak akan tidur malam ini. Rasa hampa yang ia rasakan sekarang jauh lebih besar daripada rasa marah tadi.
Saat jarinya mengetuk keyboard, dia teringat lagi Safira. Apakah Safira sudah tidur? Apakah Safira menangis?
Elias mencoba menepis pikiran itu. Bukan urusannya lagi. Safira memilih untuk mengisolasi diri. Safira yang menutup pintu.
Dia membalikkan badan, memunggungi pintu kamar tamu itu, memaksakan perhatiannya pada grafik dan spreadsheet. Dia adalah Elias Pradana. Pria kuat. Pria yang mengontrol kehidupannya.
Tapi malam itu, di dalam kamar yang dingin dan asing, Elias tahu dia hanyalah pria yang sangat kesepian, yang akhirnya memilih untuk menyerah pada kebekuan rumah tangganya sendiri. Dia membiarkan dirinya hanyut dalam pekerjaan, sebuah tirai tebal yang bisa menyembunyikan kenyataan bahwa, malam ini, ia telah resmi menjadi duda emosional di rumahnya yang megah.
Aku cuma perlu bertahan. Pikirnya. Bertahan sampai aku bisa menemukan cara untuk benar-benar bebas.
Elias enggak tahu, 'kebebasan' itu akan datang lebih cepat dari yang dia duga, dalam wujud gadis desa yang polos, dan itu akan membawa konflik yang jauh lebih besar daripada sekadar perpisahan kamar. Tapi malam itu, yang Elias tahu hanyalah dinginnya marmer, sunyinya udara, dan kelelahan yang mematikan.
Dia terus bekerja, jarinya menari di atas keyboard, menghasilkan angka-angka yang sempurna, sementara kehidupannya sendiri berantakan dan tak berbentuk. Itu adalah puncak kebekuan, di mana dua orang yang pernah berjanji sehidup semati kini memilih untuk berbagi alamat tanpa berbagi jiwa.
Pagi itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Bukan karena suhu AC, tapi karena lapisan es yang kini resmi memisahkan Elias dan Safira.
Elias bangun subuh, tidur di kamar tamu terasa aneh. Enggak ada suara dengkuran halus Safira, enggak ada aroma lotion tubuhnya, dan enggak ada kebiasaan Safira yang selalu memukul lengan Elias kalau ia berisik saat mencari kaus kaki. Kamar itu sunyi, terlalu sunyi.
Dia buru-buru mandi, mengenakan setelan jas terbaiknya. Rutinitas menyelamatkan segalanya, pikirnya sinis. Setidaknya di kantor, ada aturan, ada tujuan, ada hasil yang bisa dia lihat. Di rumah? Nol.
Elias turun. Rumah masih gelap. Asisten rumah tangga belum datang. Safira? Jelas belum bangun. Dia enggak perlu bangun pagi karena enggak ada yang harus dia kerjakan. Sejak insiden itu, Safira berhenti dari pekerjaannya sebagai konsultan desain interior, menutup diri dari dunia luar.
Elias berjalan ke pantry, membuat kopi hitam pekat. Sambil menunggu air mendidih, matanya tanpa sengaja menatap kulkas. Di sana, tertempel sebuah sticky note kecil yang sudah lusuh, ditulis dengan tulisan tangan Safira yang cantik: "Jangan lupa meeting sama klien jam 10! Aku sayang kamu, Good Luck! <3"
Itu kenangan dari dua tahun lalu, sebelum semuanya terjadi. Safira yang selalu menjadi personal assistant pribadinya, yang selalu mendukungnya, yang selalu menjadi semangatnya.
ESenyum tipis dan getir terukir di wajah Elias. Dia merobek sticky note itu, membuangnya ke tempat sampah. Dia harus berhenti melihat masa lalu yang enggak akan pernah kembali.
Saat ia menyeruput kopi panasnya, pikiran Elias kembali pada pertengkaran semalam. Safira bilang, "Kamu enggak mengerti bagaimana rasanya kehilangan."
"Aku mengerti," gumam Elias pelan. "Aku mengerti lebih dari yang kamu tahu."
Ia berjalan ke ruang kerjanya, yang letaknya tepat di sebelah kamar tamu. Elias duduk di kursi kulitnya, menyalakan komputer. Tapi dia enggak membuka spreadsheet atau laporan keuangan. Dia membuka folder tersembunyi di komputernya, folder yang dia beri nama sandi.
Isinya: semua dokumen medis Safira.
Di sana tersimpan rapi: hasil pemeriksaan, laporan operasi, summary psikiater, dan yang paling menyakitkan, laporan kecelakaan dari dua tahun lalu.
Elias mulai membaca lagi, seolah dengan membaca detail teknisnya, dia bisa menemukan satu kalimat, satu kata, yang bisa menjelaskan kenapa Safira berubah sejauh ini.
Insiden itu terjadi saat mereka pulang dari perjalanan bisnis di luar kota. Safira yang mengemudi, Elias tertidur. Truk di depan mereka mengerem mendadak. Safira, yang selalu percaya diri di belakang kemudi, bereaksi terlalu lambat.
Tabrakan enggak fatal. Elias cuma memar dan kaget. Tapi Safira...
Elias menghela napas panjang, matanya terpaku pada satu kalimat dalam laporan medis: "Trauma fisik ringan, namun trauma psikologis berat karena kehilangan janin di usia 12 minggu kehamilan."
Ya. Itu dia. Anak pertama mereka. Anak yang bahkan belum sempat mereka beri nama. Anak yang kehadirannya sudah mereka rayakan diam-diam. Hilang dalam sekejap, di dalam mobil yang ringsek.
Elias ingat bagaimana saat itu dia panik. Dia berusaha menyelamatkan Safira, membawa istrinya ke rumah sakit terdekat. Dia ingat suster yang memberitahu dia kabar buruk itu dengan wajah penuh iba.
Dia ingat dirinya sendiri, duduk sendirian di lorong rumah sakit, merasa dunia runtuh. Dia bukan cuma kehilangan janinnya, dia juga kehilangan Safira yang ia kenal.
Saat Safira sadar, dia enggak menangis. Dia enggak berteriak. Dia hanya menatap kosong. Sejak saat itu, Safira enggak pernah membicarakan bayi itu. Enggak pernah. Setiap kali Elias mencoba, Safira akan bereaksi ekstrem-entah marah, entah mengunci diri, entah pura-pura enggak mendengar.
Safira menyalahkan dirinya sendiri. Dia yakin, jika dia enggak mengemudi secepat itu, atau jika dia lebih hati-hati, semua enggak akan terjadi.
Elias mencoba meyakinkan Safira ribuan kali bahwa itu adalah takdir, itu adalah kecelakaan, itu bukan salahnya. Tapi Safira enggak mau mendengarkan. Dia mengubah rasa bersalah itu menjadi dinding es yang memisahkan dirinya dari dunia, terutama dari Elias, yang menurut Safira, adalah korban kedua dari kesalahannya.
Elias membaca lagi hasil pemeriksaan psikiater: Pasien menunjukkan gejala depresi situasional berat, rasa bersalah kronis, dan mekanisme pertahanan diri berupa pengabaian emosional terhadap pasangan.
"Pengabaian emosional..." Elias membaca kata itu dengan pahit. Begitu formal, begitu klinis, tapi sangat akurat.
Safira enggak mengabaikannya secara fisik. Dia masih memasak sesekali, dia masih hadir di acara keluarga. Tapi jiwanya? Jiwanya sudah lama pergi, terkubur bersama janin yang gagal mereka bawa pulang.
Elias menutup folder itu, bersandar di kursinya. Dia enggak bisa menyalahkan Safira. Rasa sakit kehilangan itu nyata dan dalam. Tapi dia juga enggak bisa menyalahkan dirinya sendiri karena lelah.
Dia sudah mencoba segalanya: liburan romantis (Safira menolak), terapi pasangan (Safira membatalkan di menit terakhir), bahkan mencoba membicarakan adopsi (Safira marah besar, bilang Elias enggak mengerti apa-apa).
Dua tahun. Hidup dalam upaya yang sia-sia, mencoba menyelamatkan seseorang yang enggak mau diselamatkan.
Tiba-tiba, ponsel Elias berdering. Panggilan dari kantor. Sesuatu yang mendesak.
"Ya, ada apa?" jawab Elias, berusaha mengubah nada suaranya dari putus asa menjadi profesional dalam sekejap.
Dia berbicara selama lima belas menit tentang masalah bisnis yang rumit. Saat dia menutup telepon, Elias menyadari betapa jauh lebih mudah memecahkan masalah multinasional daripada masalah Safira. Masalah bisnis punya solusi. Masalah hati? Hanya ada kehancuran.
Elias memutuskan sudah waktunya dia pergi. Dia melirik jam. Pukul tujuh pagi. Dia bisa sarapan di luar.
Dia mengambil tas kerjanya. Sebelum keluar dari ruang kerjanya, dia berdiri di ambang pintu, menatap koridor yang menghubungkan kamar tamu (tempatnya sekarang) dengan kamar utama (tempat Safira).
Dia merasa seperti seorang penyewa di rumahnya sendiri, yang harus berhati-hati agar enggak mengganggu pemilik aslinya.
Elias berjalan pelan menuruni tangga. Saat melewati ruang makan, matanya menangkap sesuatu. Safira.
Dia duduk di kursi meja makan, hanya mengenakan piyama sutra dan rambutnya masih acak-acakan. Dia sedang minum teh. Ekspresinya enggak dingin seperti semalam, tapi lebih ke hampa.
"Mau kopi?" tanya Safira, suaranya tenang, seolah pertengkaran semalam enggak pernah terjadi.
Elias berhenti. Ini adalah pola. Mereka akan bertengkar hebat, berpisah, lalu besok pagi salah satu akan mencoba berperilaku normal, menyingkirkan puing-puing pertengkaran ke bawah karpet.
"Aku sudah buat sendiri," jawab Elias, menunjuk cangkir di tangannya.
"Oh," Safira menyesap tehnya. "Aku dengar kamu pindah ke kamar tamu."
Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Elias menatapnya.
"Ya. Aku butuh ruang. Seperti yang aku bilang semalam."
Safira meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. "Aku mengerti. Aku minta maaf soal semalam. Aku..." Dia ragu. "Aku tahu aku menyebalkan."
"Bukan menyebalkan, Safira. Kamu enggak adil," koreksi Elias. "Kamu menjadikan aku samsak emosi karena kamu enggak mau menghadapi rasa sakitmu sendiri."
Wajah Safira langsung pucat. Dia menunduk, menatap tehnya.
"Aku tahu. Aku berusaha, Elias. Aku sungguh berusaha."
"Usaha itu enggak terlihat, Safira," Elias melanjutkan, dia enggak mau luluh kali ini. Dia sudah terlalu sering luluh. "Aku sudah memohon kamu untuk bicara, untuk marah, untuk menangis. Tapi kamu cuma diam, dan itu menyiksaku."
Safira enggak menjawab. Dia cuma memutar-mutar cangkirnya. Keheningan itu kembali, mengeras.
Elias meraih jaketnya. "Aku pergi. Aku ada banyak kerjaan hari ini."
"Kamu... kamu akan pulang larut lagi?" tanya Safira, suaranya pelan, hampir enggak terdengar.
"Aku enggak tahu," jawab Elias jujur. "Tergantung. Kalau aku merasa rumah ini lebih nyaman daripada kantor, mungkin aku pulang cepat."
Kalimat itu adalah pukulan telak. Elias tahu itu menyakitkan, tapi dia sudah enggak peduli lagi dengan rasa sakit Safira. Dia hanya peduli pada rasa sakitnya sendiri.
Dia melangkah keluar. Saat ia menutup pintu depan, Elias enggak menoleh ke belakang. Dia langsung masuk ke mobil, menghidupkan mesin, dan meninggalkan rumah megah itu.
Di dalam mobil, dia enggak menyalakan musik. Pikirannya dipenuhi gambaran laporan kecelakaan dan wajah sedih Safira. Apa yang harus aku lakukan lagi?
Dia tahu, mereka berdua terperangkap dalam siklus ini. Safira yang bersalah, Safira yang menjauh. Elias yang mencoba, Elias yang lelah. Lalu Safira yang memohon maaf, dan Elias yang kembali mencoba.
Elias menyentuh dadanya. Ada lubang besar di sana. Lubang yang enggak bisa diisi dengan uang, enggak bisa diisi dengan kekaguman klien, dan enggak bisa diisi dengan Safira yang sekarang.
Saat mobilnya berhenti di lampu merah, dia melihat seorang gadis menyeberang. Gadis itu membawa keranjang besar penuh buah-buahan, rambutnya dikepang sederhana, dan dia tersenyum lebar pada tukang parkir yang membantunya menyeberang. Senyum yang begitu murni, begitu tanpa beban.
Elias menatapnya sejenak, iri. Iri pada kesederhanaan hidup gadis itu. Iri pada senyumnya yang enggak palsu.
Lampu berubah hijau. Elias menginjak gas, meninggalkan gadis itu dan senyumnya.
Dia harus fokus. Dia harus profesional. Dia punya hidup yang harus dijalani.
Tapi di lubuk hatinya, Elias tahu, dia sedang mencari sesuatu. Dia sedang mencari celah, sedikit cahaya, sedikit napas, di luar sangkar emas yang disebut rumah.
Dan ironisnya, hari itu, dia enggak menemukan apa-apa selain kelelahan yang semakin dalam. Tapi pencarian itu sudah dimulai. Kepergian dari kamar utama semalam adalah langkah pertama. Langkah untuk mencari kebahagiaan-atau setidaknya ketenangan-yang sudah lama direnggut darinya.
Dia enggak tahu, takdir sedang menunggunya di belokan selanjutnya. Takdir yang akan memberinya senyum polos itu lagi, tapi dengan harga yang sangat mahal.
Elias sampai di kantornya. Ia naik ke lantai tertinggi, memasuki ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca, menghadap ke seluruh kota. Pemandangan itu luar biasa, tapi terasa hampa.
Elias duduk di balik mejanya, menyalakan komputer lagi. Kali ini, dia enggak membuka folder tersembunyi. Dia membuka email.
Dan begitulah, hari itu dimulai. Hari-hari yang sama, rutinitas yang sama, kehampaan yang sama. Dia enggak tahu berapa lama dia bisa bertahan dalam kebekuan ini, tapi yang jelas, malam ini, dia akan kembali ke kamar tamu, jauh dari Safira, dan lebih dekat dengan kehancurannya sendiri.
Kita berdua hancur, pikir Elias, menyentuh laporan keuangan yang baru saja dicetak. Aku cuma memilih untuk hancur sambil tetap bekerja.
Mungkin itu adalah satu-satunya cara Elias Pradana, pria yang punya segalanya, bisa bertahan hidup: berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, sampai ada seseorang yang datang dan membuktikan bahwa berpura-pura itu enggak diperlukan lagi.
Dia melirik ponselnya. Tetap enggak ada pesan dari Safira. Mereka sudah resmi hidup dalam dua dunia yang berbeda di bawah satu atap.
Sore itu, kantor Elias terasa lebih panas daripada biasanya, padahal AC sentral di lantai 30 itu dijamin bekerja sempurna. Mungkin karena stressor yang datang kali ini bukan berbentuk laporan keuangan, melainkan telepon dari ibunya.
"Kamu harus datang makan malam, El. Besok malam. Enggak ada penolakan," suara Ibu Martha terdengar tegas di seberang sana.
Elias mengurut pangkal hidungnya. "Aku tahu, Bu. Tapi aku ada rapat penting besok sore. Lagipula, ada perlu apa mendadak begini?"
"Enggak ada mendadak-mendadak. Sudah lama Papa kamu ingin bicara serius. Tentang kamu, tentang Safira," kata Ibu Martha, nadanya langsung membuat Elias waspada.
"Tentang kami? Kan baik-baik saja," balas Elias cepat, pura-pura enteng.
"Jangan bohong sama Ibu, Elias. Sejak kapan Safira enggak pernah ikut kumpul keluarga? Sejak kapan kalian enggak pernah datang berdua ke acara amal? Kami semua tahu ada yang enggak beres. Dan ini sudah dua tahun, El. Dua tahun."
Hati Elias mencelos. Seharusnya dia tahu, sandiwara yang ia mainkan di depan publik pasti enggak akan mempan di depan ibunya sendiri.
"Baik, aku usahakan datang," Elias menyerah. "Tapi tolong, jangan libatkan Safira di sini. Dia sedang enggak enak badan."
"Itu alasan kamu dua tahun terakhir, Elias. Pokoknya, datang. Sendirian atau berdua, itu urusan kamu. Tapi kamu harus hadapi Papa."
Telepon terputus. Elias melempar ponselnya ke sofa ruangannya. Ia bersandar di kursi, menatap ke luar jendela. Kota Jakarta yang gemerlap tampak begitu jauh, seolah masalahnya hanya dia seorang yang alami.
Makan malam keluarga Pradana. Itu bukan sekadar makan malam. Itu adalah sidang paripurna. Papa, Bram Pradana, adalah pria yang sangat menjunjung tinggi nama baik dan tradisi keluarga. Keluarga Pradana harus sempurna: sukses secara finansial, stabil secara politik, dan yang terpenting, memiliki penerus.
Keesokan malamnya, Elias datang sendirian. Ia sudah mencoba menghubungi Safira, memintanya datang.
"Aku enggak mau, El," jawab Safira lewat pesan singkat. "Aku enggak siap mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku cuma akan merusak suasana. Bilang aja aku ada proyek di luar kota mendadak."
Elias enggak membalas. Dia cuma tahu dia harus menghadapi api ini sendirian.
Begitu masuk ke rumah besar orang tuanya, nuansa formal langsung menyergapnya. Ayahnya, Papa Bram, duduk di ruang keluarga, membaca koran dengan sorot mata dingin yang khas. Ibu Martha menyambutnya dengan pelukan hangat yang terasa seperti menenangkan seorang prajurit sebelum perang.
Di meja makan, suasananya kaku. Ada Kakaknya, Shinta, dan suaminya, Robi. Mereka sudah punya dua anak yang lucu-lucu, menambah kontras pada meja makan Elias yang selalu kosong.
Obrolan basa-basi berjalan lambat. Tentang bisnis, tentang politik, tentang cuaca. Tapi Elias tahu, ini hanyalah pemanasan.
Begitu makanan penutup selesai disajikan, Papa Bram meletakkan garpunya dengan bunyi denting yang nyaring. Semua mata tertuju pada Elias.
"Safira ke mana?" tanya Papa Bram, suaranya berat dan mengintimidasi.
"Dia ada klien dari luar kota, Pa. Enggak bisa ditinggal," jawab Elias, kebohongan yang sudah ia siapkan.
Papa Bram menatapnya tajam. "Klien. Selalu klien. El, Ibu kamu bilang kamu sudah pindah ke kamar tamu. Benar?"
Jantung Elias berdegup kencang. Ia melirik Ibu Martha, yang hanya memberi tatapan penuh arti, seolah bilang, Sudah kubilang ini akan terjadi.
"Hanya sementara, Pa. Aku sedang butuh fokus untuk proyek besar. Kamar tamu lebih tenang," Elias berusaha berdalih.
"Omong kosong!" Papa Bram membanting tangan ke meja, membuat gelas bergetar. "Kamar kamu di rumah itu sebesar lapangan tenis! Mana ada yang enggak fokus di sana? Katakan yang sebenarnya, Elias. Kalian bertengkar hebat?"
Elias merasa semua energinya terkuras. "Kami cuma sedang butuh waktu. Kami sedang menyelesaikan masalah kami."
"Masalah apa?" Papa Bram menyipit. "Masalah yang sama yang sudah kalian 'selesaikan' selama dua tahun? Masalah yang membuat Safira enggak pernah mau bicara tentang anak?"
Pertanyaan itu tepat menusuk ulu hati Elias. Kakaknya, Shinta, mencoba menengahi. "Pa, jangan begini. Biarkan Elias dan Safira yang menyelesaikan masalah rumah tangga mereka."
"Ini bukan cuma masalah rumah tangga!" bantah Papa Bram. "Ini tentang garis keturunan, Shinta! Elias adalah putra kedua, dia harus punya anak. Ini tentang nama baik! Orang-orang mulai berbisik, kenapa Elias yang suksesnya luar biasa, enggak bisa menghidupi satu anak pun? Kenapa Safira selalu menghindar?"
Robi, suami Shinta, ikut bicara, berusaha menenangkan. "Mungkin mereka memang belum siap, Om. Atau masih trauma setelah yang lalu."
Mendengar kata 'trauma', Papa Bram terdiam. Ia menatap Elias. "Aku tahu soal insiden itu, El. Aku tahu Safira trauma. Tapi sudah dua tahun! Kalian enggak bisa hidup di masa lalu terus! Kapan kalian akan mencoba lagi? Aku enggak minta cucu besok pagi, tapi aku minta kejelasan!"
Elias menunduk, enggak mampu menghadapi tatapan menuntut Papanya.
"Kami sudah mencoba, Pa. Berulang kali," kata Elias, suaranya tercekat. "Tapi Safira... setiap kali kami mencoba, dia akan kembali ke titik nol. Dia menyalahkan dirinya, dia menyalahkan aku. Dia enggak bisa melepaskan rasa bersalahnya."
"Maka ajak dia ke terapis terbaik!" bentak Papa Bram. "Atau bawa dia keliling dunia! Cari solusi, Elias! Jangan cuma menyerah dan pindah kamar!"
Elias mengangkat kepala. Rasa frustrasinya mendidih. "Aku enggak menyerah! Aku hanya lelah, Pa! Aku sudah berusaha keras untuk mempertahankan pernikahan yang satu pihak sudah mati rasa!"
Keheningan melanda ruang makan itu. Ibu Martha menatap Elias dengan air mata di pelupuknya. Shinta menggeleng, prihatin.
Papa Bram menghela napas, suaranya melembut, tapi ancamannya terasa lebih menakutkan.
"Dengar, El," katanya. "Aku sudah tua. Aku ingin melihat cucu dari kamu. Kalau Safira memang enggak bisa memberikan itu-dan aku enggak menyalahkan dia, ini tentang psikologis-maka kamu harus mencari solusi yang lain. Jangan biarkan nama keluarga ini dipertanyakan."
Elias tahu maksud 'solusi lain' itu. Itu adalah izin terselubung untuk mencari pengganti. Itu adalah sinyal bahwa Ayahnya sudah muak dan siap mencampuri lebih dalam.
"Aku enggak akan menceraikan Safira," tegas Elias. "Dia istriku. Aku mencintainya."
"Cinta yang bagaimana, Elias? Cinta yang membuat kamu tidur di kamar terpisah? Cinta yang membuat kamu hampir enggak pernah pulang?" balas Papa Bram. "Aku kasih kamu waktu enam bulan. Enam bulan untuk memperbaiki ini. Kalau sampai akhir tahun kalian enggak bisa menunjukkan kemajuan, entah itu Safira yang sudah mau berdamai atau... ya, setidaknya kamu sudah punya rencana yang jelas untuk masa depan keluarga ini, aku akan turun tangan."
Ancaman itu membuat Elias menggigil, bukan karena takut, tapi karena marah. Dia benci didikte.
"Apa yang akan Papa lakukan?" tantang Elias.
"Aku akan bicara pada Safira secara langsung. Aku akan memintanya untuk memilih: sembuh dan berjuang, atau membebaskan kamu," jawab Papa Bram tanpa ragu. "Aku enggak mau melihat putraku menderita, El. Dan aku enggak mau garis Pradana berhenti di kamu."
Elias berdiri. Nafsu makannya hilang, digantikan oleh gelombang frustrasi.
"Aku mengerti," kata Elias, suaranya dingin dan terkontrol. "Aku akan pikirkan. Tapi ini hidupku, Pa. Aku yang akan memutuskan."
"Hidup kamu adalah hidup keluarga ini, Elias. Jangan lupa itu," tutup Papa Bram, kembali membaca korannya, seolah sidang sudah ditutup.
Elias pamit dengan tergesa-gesa. Dia meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk. Ia marah pada Papanya, tapi ia juga marah pada dirinya sendiri dan Safira. Ayahnya benar, mereka enggak bisa begini terus.
Di mobil, Elias mengendarai tanpa tujuan. Kota sudah larut, tapi ia enggak mau pulang. Ia tahu Safira mungkin sudah tidur, mungkin juga tidak, tapi ia enggak peduli. Ia hanya butuh udara segar.
Ia memarkir mobilnya di pinggir taman yang sunyi. Ia keluar, menghirup udara malam.
Enam bulan. Itu waktu yang sedikit.
Elias menyentuh ponselnya lagi. Dia enggak menelepon Safira. Dia enggak menelepon siapa pun. Dia hanya duduk di bangku taman, memikirkan apa yang harus dia lakukan. Menceraikan Safira? Itu terasa kejam, mengingat Safira sudah melalui banyak hal. Tapi mempertahankan pernikahan yang kosong ini juga terasa kejam, terhadap dirinya sendiri.
Aku butuh jalan keluar.
Pikirannya kembali pada senyum gadis yang ia lihat kemarin. Senyum yang enggak menanggung beban, senyum yang bebas.
"Di mana ketenangan itu bisa aku temukan?" bisik Elias pada kegelapan.
Dia merasa lelah. Lelah dengan janji, lelah dengan trauma, lelah dengan nama baik keluarga yang harus ia jaga. Dia hanya ingin hidup yang sederhana, yang penuh tawa, yang enggak perlu sandiwara.
Elias kembali masuk ke mobil. Tapi alih-alih pulang, dia mengemudi ke tempat lain-ke apartemen kecil yang ia beli diam-diam beberapa tahun lalu, sebagai tempat pelarian. Malam ini, ia enggak akan pulang ke rumah yang dipenuhi kebekuan. Dia akan lari ke ruang yang memang benar-benar miliknya, tanpa kenangan, tanpa Safira, tanpa tuntutan Papa Bram.
Malam itu, Elias enggak hanya menjauhkan dirinya dari Safira, tapi juga menjauhkan dirinya dari beban nama Pradana. Dan di dalam kesendirian yang pahit itu, ia semakin siap untuk mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya. Keputusan yang hanya didorong oleh satu hal: kebutuhannya untuk bernapas.