Pagi itu, Rania Alvi duduk di tepi tempat tiduran, memandangi bayangan dirinya yang terpantul di cermin besar. Jari-jarinya bermain dengan kain gorden berwarna krem yang bergelombang lembut di jendela. Angin pagi yang masuk melalui celah-celah gorden membawa aroma segar dari taman kecil di halaman belakang. Tapi tidak ada kesejukan yang mampu menghapus panas yang mengalir di sekujur tubuhnya. Panas yang datang bukan dari sinar mentari, melainkan dari luka yang terus membara di hatinya.
Suami Rania, Rizky Wira, masih terlelap di tempat tidur mereka. Wajahnya yang terbalut tidur tampak lelah, namun tak kehilangan ketampakan angkuhnya. Rizky adalah pria yang selalu diidam-idamkan oleh banyak wanita; tampan, karismatik, dan cerdas. Namun, bagi Rania, pria itu seperti musim dingin yang membekukan. Ketegangan di antara mereka sudah tak terhitung. Setiap percakapan mereka hanya menyisakan keheningan yang membosankan, hanya suara jam dinding yang berdetak kian lama kian menekan.
Rania menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah pintu. Terdengar suara langkah kaki kecil yang mengetuk lantai kayu dengan ritme riang. Seperti biasa, itu adalah Raka, putra Rizky dari pernikahan sebelumnya. Rania tahu bahwa hari itu, seperti hari-hari lainnya, akan penuh dengan rutinitas yang membosankan dan menyakitkan. Di dalam kebisuan rumah ini, ia adalah satu-satunya yang selalu merasa asing.
"Selamat pagi, Bu," sapa Raka, suaranya melompat riang saat dia masuk ke kamar. Ia membawa sebuah buku cerita dengan gambar-gambar berwarna cerah.
"Selamat pagi, Nak," jawab Rania, berusaha menghadirkan senyum yang tulus di wajahnya. Namun, senyum itu terasa seperti senjata yang tajam, menyakitkan saat ditarik paksa.
Raka meloncat ke tempat tidur, mengendap-endap di samping Rania. Dia mendongakkan kepala ke arah Rizky, yang masih terlelap. "Ayah masih tidur, ya, Bu?" tanyanya, matanya bersinar penasaran.
Rania menatap Rizky, yang kini berbalik arah, memperlihatkan rahangnya yang tegang. "Ya, Nak. Ayah sangat lelah akhir-akhir ini," jawab Rania sambil menahan rasa sakit di dadanya. Penuh kebohongan, tetapi hanya itu yang bisa ia katakan.
"Bukankah ayah selalu lelah, Bu?" Raka bertanya dengan nada polos, membuat Rania terdiam sejenak. Kali ini, pertanyaan itu menyakitkan, lebih dalam daripada biasanya. Sejak awal pernikahannya, Rania sudah tahu bahwa Rizky hanya menyisakan ruang kosong dalam hatinya untuknya. Tapi, melihat Raka yang berbicara dengan kepolosan seorang anak kecil membuat hatinya semakin sakit, seperti dirajam ribuan pecahan kaca.
"Sudah, jangan ganggu ayah, Nak. Ayo kita sarapan dulu," kata Rania dengan lembut, mengalihkan perhatian Raka.
Mereka turun ke ruang makan, tempat di mana mereka biasa berbagi momen pagi yang sunyi. Setiap pagi seperti ini, suasana terasa semu dan hampa, meskipun di luar jendela matahari sedang tersenyum cerah. Rania menghidangkan roti bakar dan selai strawberry, menu yang hampir tak pernah berubah sejak pernikahan mereka. Ia tahu Rizky hanya akan mengambil secangkir kopi dan berlalu ke kantornya tanpa banyak bicara. Itu sudah cukup bagi Rania, setidaknya dia bisa melihat anaknya senang di pagi hari.
Raka duduk dengan penuh semangat, mengunyah roti sambil bercerita tentang sekolahnya. "Hari ini, Bu, aku akan bermain bola di lapangan!" katanya dengan mata yang berbinar. Rania mengangguk, membalas senyuman Raka, meskipun hatinya terasa sakit mendengar riuh tawa anak kecil itu, yang tak bisa ia bagi dengan suaminya.
Seperti dugaan Rania, Rizky datang ke meja makan dalam balutan jas hitamnya. Wajahnya segar, matanya tajam, dan ekspresinya tetap seperti biasa, dingin dan tak terbaca. Ia duduk di kursi di ujung meja, mengangkat cangkir kopi, dan hanya memberikan sekilas pandangan pada Rania.
"Selamat pagi, Rizky," ucap Rania dengan suara yang begitu lembut, hampir tak terdengar. Rizky hanya mengangguk, lalu kembali menatap ponselnya, mencari tahu email atau pesan yang menunggu di layar. Di sisi lain meja, Raka menatap ayahnya, berharap akan mendapatkan perhatian lebih dari pria yang hanya hadir dalam hidupnya seperti bayangan.
Rania merasa seolah dirinya berada di tengah badai yang tak terlihat. Setiap kata yang keluar dari mulut Rizky adalah pisau yang merobek, dan setiap diam yang ia pilih adalah luka yang semakin dalam. Pagi itu pun berlalu dalam keheningan, hanya diisi dengan suara piring, sendok, dan gelas yang berdenting.
Setelah Raka pergi ke sekolah, Rania duduk di ruang tamu, menatap dinding kosong yang penuh dengan foto-foto keluarga mereka. Foto-foto yang diambil ketika semuanya tampak sempurna. Tawa mereka terlihat tulus, mata mereka terlihat hidup. Namun, sekarang, semua itu hanyalah kenangan yang membebani, seperti gumpalan awan gelap yang menghalangi sinar matahari.
Rizky sudah pergi, meninggalkan rumah dengan langkah cepat, seperti selalu. Rania merasakan kekosongan di sekelilingnya, yang lebih dalam daripada ruang di antara dinding-dinding rumah. Ia tahu bahwa di dalam rumah ini, kebahagiaan hanya tinggal sebuah kenangan, sebuah ilusi yang tak pernah bisa ia genggam.
Telepon di meja sampingnya berbunyi. Rania menatap layar ponsel, yang menampilkan nama Dr. Amelia. Jantungnya berdegup kencang, seolah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh dokter itu. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan beratnya kenyataan yang telah menunggu sejak beberapa minggu terakhir. Lalu, ia menekan tombol untuk menjawab.
"Selamat pagi, Ibu Rania. Maaf mengganggu pagi Anda," suara Dr. Amelia terdengar melalui ponsel, hangat dan penuh empati.
"Selamat pagi, Dokter," jawab Rania, suaranya gemetar.
"Rania, hasil tes terakhir sudah keluar. Kami ingin mendiskusikan hasilnya dengan Anda."
Mata Rania mulai berair, suara Dr. Amelia seperti ribuan ombak yang menghantam pantai. "Apakah... apakah ada kabar buruk?" tanyanya, suara itu hampir hilang di antara isak tangis yang sudah tak bisa ia tahan.
"Ya, Ibu Rania. Kami menemukan bahwa kanker Anda sudah mencapai stadium dua. Kami harus segera memulai pengobatan untuk menghentikan perkembangan penyakit ini."
Rania mendapati dirinya terdiam, seolah kata-kata itu melayang di udara dan membekukan seluruh tubuhnya. Di luar, suara mobil yang lewat terdengar begitu jauh, seperti deru angin yang tak ada artinya. Di dalam dirinya, dunia seperti berhenti sejenak, mengalir lambat dan berat, menunggu realitas baru yang akan segera datang.
Ia tahu, saat itu, bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk melarikan diri. Tidak ada ruang untuk menolak kenyataan. Hatinya bergetar, bukan hanya karena rasa sakit yang akan datang, tetapi juga karena ketidakberdayaan yang menggerogoti. Ia mendongak ke arah langit-langit rumah, mengingat kembali janji-janji yang telah diucapkan saat pernikahan, yang kini hanya menjadi angin lalu yang menyinggahi.
"Rizky," bisik Rania dalam hati, berharap pria itu mendengar. Namun, di mana pun Rizky berada, ia hanya sebuah bayangan di antara kegelapan yang membungkus malam mereka.
Langit sore itu memancarkan warna oranye keemasan yang menenangkan, tapi Rania hanya bisa menatapnya dari balik jendela kamar dengan perasaan hampa. Dalam hatinya, ia berharap warna indah itu bisa membawanya ke tempat lain-tempat di mana ia tidak merasa seperti tahanan dalam hidupnya sendiri.
Pintu kamar berderit pelan, menandakan seseorang masuk. Rania tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Langkah berat Rizky yang selalu tegas sudah terlalu familiar baginya.
"Aku dengar kau pergi ke rumah sakit hari ini," suara Rizky terdengar dingin, tanpa emosi, seperti biasa.
Rania menghela napas, tidak ingin terlibat dalam percakapan yang ia tahu hanya akan berakhir dengan ketegangan. "Ya," jawabnya singkat, masih memandang ke luar jendela.
"Kenapa tidak memberitahuku?" Rizky bertanya, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
Rania menoleh perlahan, menatap suaminya dengan mata lelah. "Kau terlalu sibuk, Rizky. Aku tidak ingin mengganggumu."
Rizky mendekat, berdiri di sisi tempat tidur, menatapnya dengan mata tajam yang sulit ditebak. "Kau istriku, Rania. Apa pun yang terjadi padamu, itu bukan gangguan."
Rania hampir tertawa mendengar kata-kata itu, tapi ia menahannya. Betapa ironisnya mendengar Rizky mengatakan hal semacam itu ketika selama tiga tahun terakhir, dia bahkan hampir tidak pernah peduli tentang apa pun yang terjadi padanya.
"Kalau begitu, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat bagimu untuk peduli," balas Rania dengan nada lirih, tapi sarat dengan luka yang sudah lama ia pendam.
Rizky tampak terkejut mendengar balasan itu. Biasanya, Rania hanya menunduk dan menerima setiap kata yang ia ucapkan tanpa perlawanan. Tapi sore itu, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan wanita itu-sebuah keberanian yang bercampur dengan keputusasaan.
"Apa maksudmu?" Rizky bertanya, suaranya terdengar lebih pelan kali ini.
Rania menghela napas, lalu berdiri perlahan, berjalan ke meja samping tempat tidur, di mana hasil diagnosanya tergeletak dalam amplop putih. Ia meraihnya dengan tangan gemetar, lalu menyerahkannya kepada Rizky.
"Baca ini," ucapnya singkat, menatap Rizky dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Rizky mengambil amplop itu, membuka isinya, dan membaca dengan seksama. Semakin lama ia membaca, wajahnya yang biasanya tenang berubah menjadi tegang. Tangannya mengepal erat, hampir meremas kertas itu.
"Kau menderita kanker?" tanyanya, suaranya terdengar berat, seolah kata-kata itu sulit ia keluarkan.
Rania mengangguk pelan. "Leukemia, stadium dua," katanya, suaranya hampir tidak terdengar.
Rizky terdiam, tatapannya kosong. Ia merasa seperti dunia di sekitarnya runtuh, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaannya. Rizky bukanlah tipe pria yang pandai mengekspresikan emosi, terutama ketika emosi itu melibatkan rasa takut atau kehilangan.
"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?" tanyanya akhirnya, suaranya sedikit bergetar.
Rania tersenyum pahit. "Apa bedanya, Rizky? Kau bahkan tidak pernah ada untukku. Aku sakit atau tidak, kau tetap akan sibuk dengan pekerjaanmu, dengan... dengan hidupmu yang tidak pernah melibatkan aku."
Rizky menatapnya dengan tajam. "Itu tidak adil, Rania. Aku bekerja keras untuk kita. Untuk masa depan kita."
"Untuk masa depan siapa?" Rania membalas dengan nada tajam, matanya penuh dengan air mata yang tidak lagi bisa ia tahan. "Untukku? Untukmu? Atau untuk anakmu dan mantan istrimu?"
Kata-kata itu menusuk Rizky seperti pisau. Ia tahu Rania selalu merasa terabaikan, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa perasaan itu sedalam ini.
"Kau tahu betapa pentingnya Raka bagiku," Rizky mencoba membela diri.
"Dan aku?" Rania menyela, suaranya pecah. "Apa aku tidak penting bagimu, Rizky? Apa aku hanya istri yang kau nikahi karena kewajiban? Karena kau merasa harus memberikan sosok ibu untuk Raka?"
Rizky terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.
Melihat kebisuan Rizky, Rania menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak akan mendapatkan jawaban yang ia harapkan. Selama ini, Rizky selalu menghindar dari percakapan yang terlalu emosional, dan kali ini tidak berbeda.
"Aku lelah, Rizky," kata Rania akhirnya, suaranya lemah tapi penuh dengan kejujuran. "Aku lelah merasa seperti orang asing dalam hidupku sendiri. Aku lelah bertahan dalam pernikahan yang hanya membuatku semakin hancur. Aku ingin pergi. Aku ingin bebas."
Rizky menatapnya dengan mata yang penuh dengan konflik. "Kau tidak bisa pergi, Rania," katanya dengan suara tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu."
"Kenapa, Rizky?" Rania bertanya, air mata mengalir di pipinya. "Kenapa kau ingin aku tetap di sini? Karena kau mencintaiku? Atau karena kau tidak ingin terlihat gagal?"
Rizky terdiam lagi. Ia ingin mengatakan bahwa ia mencintai Rania, tapi kata-kata itu terasa begitu asing di lidahnya. Ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya tanpa terdengar palsu, karena ia tahu, dalam hatinya, bahwa ia telah gagal menunjukkan cinta itu selama ini.
"Aku tidak peduli apa pun alasanmu, Rizky," kata Rania akhirnya, suaranya penuh dengan kepastian. "Aku akan pergi. Dan kali ini, kau tidak bisa menghentikanku."
Rizky menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kehilangan kendali. Dan itu adalah perasaan yang paling ia takuti.
Bagian Selanjutnya
Rania berdiri di ambang pintu kamar, menatap punggung Rizky yang kini duduk di sofa ruang tamu dengan kepala tertunduk. Tangannya yang besar menggenggam kertas hasil diagnosa itu erat, seperti ingin meremasnya hingga lebur. Pemandangan itu seharusnya menimbulkan simpati di hati Rania, tapi yang ia rasakan hanyalah kehampaan.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Rizky. Aku sudah memutuskan," katanya dingin, memecah keheningan yang terasa menyesakkan.
Rizky mendongak perlahan, menatapnya dengan mata yang penuh kebingungan dan... sesuatu yang Rania tak bisa mengartikan. Apakah itu rasa bersalah? Penyesalan? Atau hanya egonya yang terluka karena ia kehilangan kendali atas sesuatu?
"Memutuskan? Memutuskan apa?" Rizky bertanya, suaranya terdengar serak, hampir seperti bisikan.
Rania menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku ingin pergi dari sini. Dari hidup ini. Dari pernikahan ini."
Kata-kata itu menggema di ruang tamu, seperti petir yang menggelegar di tengah malam sunyi. Rizky terdiam sejenak, lalu bangkit berdiri. Sosoknya yang tinggi dan penuh wibawa kini tampak rapuh, seperti pria yang baru saja kehilangan pijak
Berikut adalah Bab 3 yang penuh emosi, mengembangkan hubungan yang semakin rumit antara Rania dan Rizky, dengan tekanan baru dari kehadiran Inez dan keputusan besar yang diambil Rania.
Bab 3: Di Ambang Perpisahan
Rania duduk di ruang tamu yang sepi, menatap cangkir teh yang sudah dingin di tangannya. Sore itu begitu sunyi, hanya suara jarum jam yang berdetik di dinding. Ia merasa seperti seorang tahanan di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindungnya.
Pikirannya melayang ke kejadian kemarin, ketika ia akhirnya mengungkapkan tentang penyakitnya kepada Rizky. Meski pria itu terlihat terkejut, Rania tahu ia tidak akan berubah. Rizky selalu seperti itu-pria yang hanya tahu bagaimana mengontrol, tapi tidak pernah tahu bagaimana menunjukkan cinta.
Sebuah suara ketukan pelan di pintu depan membuyarkan lamunannya. Rania menoleh dengan sedikit bingung. Ia tidak mengharapkan tamu hari ini. Dengan langkah perlahan, ia menuju pintu dan membukanya.
Di ambang pintu berdiri seorang wanita dengan penampilan sempurna-rambut hitam panjang yang tertata rapi, wajah yang cantik dengan riasan tipis, dan senyuman yang tampak seperti pisau tajam. Itu adalah Inez, mantan istri Rizky.
"Rania," sapa Inez dengan nada lembut yang terdengar terlalu dibuat-buat. "Boleh aku masuk?"
Rania menelan ludah, berusaha menahan emosi yang tiba-tiba muncul. Ia tahu bahwa Inez tidak datang hanya untuk sekadar berkunjung. Wanita itu selalu membawa badai bersamanya.
"Tentu," jawab Rania dengan suara datar, meskipun hatinya berteriak untuk menolak.
Inez melangkah masuk dengan percaya diri, seolah-olah rumah itu masih miliknya. Ia duduk di sofa dengan santai, memperhatikan sekeliling dengan mata tajam.
"Aku dengar kau sedang tidak sehat," kata Inez akhirnya, memecah keheningan. "Aku sangat prihatin, Rania."
Rania tersenyum tipis, mencoba untuk tidak terpancing oleh kepalsuan Inez. "Terima kasih atas perhatianmu," jawabnya singkat.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa Raka mendapatkan perhatian yang cukup," lanjut Inez, matanya menatap Rania dengan tajam. "Kau tahu, dia sangat bergantung pada ayahnya. Dan Rizky... yah, dia tidak mudah berurusan dengan situasi seperti ini."
Rania merasa darahnya mendidih. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Inez. Wanita itu selalu menyelipkan sindiran-sindiran tajam di balik kata-katanya yang tampak peduli.
"Aku masih bisa mengurus Raka," kata Rania dengan tegas, menatap balik ke arah Inez.
Inez tersenyum kecil, lalu menyilangkan kakinya. "Tentu saja. Tapi aku hanya berpikir, apakah kau sudah mempertimbangkan untuk memberi Rizky ruang? Kau tahu, ini situasi yang sulit untuk semua orang."
Kata-kata itu seperti tamparan bagi Rania. Ia tahu bahwa Inez sedang mencoba menggoyahkan kepercayaannya. Dan lebih dari itu, Inez ingin mengatakan bahwa ia tidak cukup baik untuk Rizky-atau bahkan untuk menjadi ibu bagi Raka.
"Saya pikir itu bukan urusanmu, Inez," balas Rania, suaranya penuh dengan ketegasan yang jarang ia tunjukkan. "Ini adalah rumah saya. Ini adalah keluarga saya."
Inez tertawa pelan, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti ejekan. "Oh, Rania. Kau begitu manis. Tapi kau harus tahu bahwa Rizky dan aku memiliki sejarah yang panjang. Kami berbagi sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau pahami."
Rania menahan napas, berusaha keras untuk tidak menunjukkan kelemahannya. Ia tahu Inez ingin melihatnya hancur, dan ia tidak akan memberikan kepuasan itu.
"Sejarah adalah masa lalu, Inez," kata Rania akhirnya. "Dan Rizky memilih untuk melanjutkan hidupnya bersamaku."
Inez menatap Rania dengan mata yang penuh dengan tantangan. "Kita lihat saja, Rania. Kita lihat siapa yang benar-benar dia pilih di akhirnya."
Dengan itu, Inez berdiri, merapikan gaunnya, dan melangkah keluar dengan angkuh, meninggalkan Rania yang masih berdiri di ruang tamu, merasa seperti dirinya baru saja dihantam badai.
***
Malam itu, Rizky pulang lebih awal dari biasanya. Ia terlihat lelah, tapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat Rania merasa gugup. Rizky meletakkan tas kerjanya di meja dan berjalan menuju sofa, tempat Rania duduk dengan selimut menutupi kakinya.
"Kita perlu bicara," kata Rizky tanpa basa-basi.
Rania mengangguk pelan, meskipun hatinya berdegup kencang. Ia tahu percakapan ini tidak akan mudah.
"Inez datang ke kantor hari ini," kata Rizky, langsung ke intinya.
"Oh," hanya itu yang bisa Rania katakan. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh, meskipun pikirannya penuh dengan pertanyaan.
"Dia bilang dia ingin kembali," Rizky melanjutkan, matanya menatap lurus ke arah Rania. "Untuk Raka."
Rania merasakan napasnya terhenti. Ia tahu bahwa Inez selalu menjadi bayangan dalam pernikahannya dengan Rizky, tapi mendengar kata-kata itu langsung dari suaminya membuat luka di hatinya semakin dalam.
"Apa yang kau katakan padanya?" Rania bertanya akhirnya, suaranya hampir berbisik.
"Aku bilang itu tidak mungkin," jawab Rizky dengan tegas. "Aku sudah memilih untuk melanjutkan hidupku bersamamu."
Rania seharusnya merasa lega mendengar jawaban itu, tapi ada sesuatu dalam nada suara Rizky yang membuatnya meragukan ketulusan kata-katanya.
"Tapi dia benar tentang satu hal," Rizky melanjutkan, suaranya lebih pelan kali ini. "Raka membutuhkan perhatian lebih. Dan dengan kondisimu sekarang..."
"Kondisiku?" Rania menyela, suaranya naik satu oktaf. "Apa maksudmu, Rizky? Apa kau berpikir aku tidak mampu mengurus Raka hanya karena aku sakit?"
Rizky menghela napas, terlihat frustrasi. "Bukan itu maksudku, Rania. Aku hanya... aku hanya tidak ingin Raka merasa diabaikan."
"Dan kau pikir aku yang akan mengabaikannya?" Rania membalas, matanya mulai berair. "Aku telah melakukan segalanya untuk anakmu, Rizky. Aku mencoba menjadi ibu baginya, meskipun aku tahu dia tidak pernah melihatku seperti itu. Aku mencintai Raka, bahkan ketika kau tidak pernah mencintaiku."
Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa bisa ditahan. Dan untuk pertama kalinya, Rizky terlihat benar-benar terkejut.
"Apa kau benar-benar berpikir aku tidak mencintaimu?" tanyanya, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Rania tertawa pahit, meskipun air matanya mulai mengalir deras. "Apa yang harus aku pikirkan, Rizky? Kau tidak pernah menunjukkan bahwa aku berarti bagimu. Kau lebih peduli pada pekerjaanmu, pada Inez, pada Raka. Aku hanya... aku hanya seorang istri yang kau nikahi karena kau merasa perlu."
Rizky terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berkata apa. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan kendali atas situasi.
"Aku ingin kita berpisah, Rizky," kata Rania akhirnya, suaranya penuh dengan kepastian.
Rizky menatapnya dengan mata yang penuh dengan rasa sakit dan penyesalan. "Tidak," katanya dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Tapi aku tidak bisa terus seperti ini," balas Rania, suaranya pecah. "Aku tidak bisa hidup dalam pernikahan yang hanya membuatku semakin hancur. Aku ingin bebas, Rizky. Aku ingin bahagia, bahkan jika itu berarti aku harus pergi."
Rizky berdiri, matanya penuh dengan kemarahan dan kesedihan. "Aku tidak peduli apa yang kau inginkan, Rania. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Dengan itu, Rizky berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Rania yang terduduk di sofa, menangis dalam keheningan.
Di tengah kesedihan dan keputusasaan itu, Rania tahu satu hal: ini bukan akhir. Perjuangan mereka baru saja dimulai, dan entah bagaimana, ia harus menemukan kekuatan untuk melawan-baik melawan penyakitnya, maupun melawan cinta yang selalu membuatnya terluka.