Bab 1

Rasa sakit itu luar biasa. Seperti tenggelam dalam kegelapan yang pekat, tubuhnya terasa berat, dan kepalanya seperti dihantam ribuan duri tajam.

Lalu, tiba-tiba, Seraphina Elmswood terbangun.

Dia tersentak, napasnya memburu, mata cokelat kusamnya menatap sekeliling dengan panik. Dada naik turun seiring dengan kebingungan yang menggerogoti pikirannya. Ini... bukan tubuhnya. Ini bukan tempatnya.

Dia mengangkat tangannya-telapak yang kasar, jari-jarinya kaku dengan kuku yang pendek dan tidak terawat. Di cermin di seberang ruangan, seorang wanita berambut kusam dan wajah pucat menatapnya. Lingkaran hitam di bawah matanya menandakan kurang tidur, dan kulitnya tampak kusam, tanpa kilauan kecantikan yang biasa ia miliki.

"Apa ini?" suaranya parau, bukan nada lembut dan penuh percaya diri yang ia kenal sepanjang hidupnya.

Lalu ingatan itu datang menghantamnya.

Eleanor Vienne.

Supermodel internasional, ikon fashion dunia, wajah paling dicari dalam industri kecantikan. Dia adalah lambang kesempurnaan, dengan tubuh tinggi semampai, rambut pirang keemasan yang selalu berkilau, dan mata biru es yang memikat.

Namun, satu kecelakaan tragis telah merenggut segalanya. Mobilnya ditabrak dengan brutal, tubuhnya terlempar, dan rasa sakit yang luar biasa adalah hal terakhir yang ia ingat sebelum semuanya menjadi gelap.

Dan kini... dia ada di tubuh wanita ini.

Seraphina Elmswood. Nama itu tiba-tiba melayang di pikirannya, seakan bukan hanya tubuh wanita ini yang ia tempati, tapi juga memorinya.

Seraphina, menantu keluarga Elmswood yang selalu dianggap sebelah mata. Seorang istri yang dicampakkan, diremehkan, dan diabaikan oleh suaminya sendiri, Lysander Elmswood.

Mata Eleanor-atau sekarang, Seraphina-menatap bayangannya di cermin sekali lagi. Ini tubuh yang rapuh, letih, dan jauh dari pesona yang biasa ia banggakan.

Tapi dia bukan wanita yang mudah menyerah.

"Baiklah," gumamnya dengan suara serak, seolah menerima kenyataan aneh ini. "Kalau ini permainan takdir, maka aku akan memenangkannya."

Seraphina berjalan keluar dari kamar, dan langkahnya membuat seorang pelayan yang kebetulan lewat terkejut.

"Madam? Anda sudah bangun?" tanya wanita itu dengan ekspresi tak percaya.

Seraphina mengangkat alisnya. Dari memori yang melintas di kepalanya, dia tahu bahwa pelayan ini, Alice, selalu melihatnya dengan kasihan.

Dulu, mungkin Seraphina yang lama akan menunduk dan menggumamkan jawaban samar. Tapi bukan kali ini.

"Hari ini aku ingin sarapan di ruang makan utama," katanya dengan nada dingin dan pasti.

Alice tampak kaget. "T-tapi... biasanya Anda makan di dapur bersama pelayan lain-"

"Dan siapa yang menetapkan aturan itu?" Seraphina menyela dengan tajam.

Alice tampak pucat. "Tentu saja, tidak ada, Madam."

"Bagus," Seraphina berbalik, meninggalkan pelayan itu yang masih termangu.

Begitu dia tiba di ruang makan utama, seluruh keluarga Elmswood sudah berkumpul. Lydia Elmswood, ibu mertuanya yang angkuh, sedang menikmati teh di ujung meja. Di sebelahnya ada Clarisse, adik iparnya yang selalu bersikap superior.

Dan di sana, duduk dengan wajah acuh tak acuh, adalah Lysander Elmswood.

Suaminya.

Pria itu benar-benar gambaran sempurna dari seorang bangsawan modern-dengan jas mahal yang pas di tubuhnya, wajah tampan tanpa cela, serta mata abu-abu tajam yang dingin.

Ketika Seraphina masuk, percakapan di meja itu terhenti.

Lydia meletakkan cangkir tehnya dengan anggun, lalu menatapnya dengan heran. "Seraphina?"

Seraphina berjalan dengan tenang ke kursinya sendiri, lalu duduk tanpa ragu. Dia bisa merasakan tatapan Lysander padanya-dingin, menilai, dan sedikit terkejut.

"Kau biasanya tidak sarapan di sini," kata Lydia, nadanya sarat dengan ketidaksenangan.

Seraphina menyeringai. "Mungkin aku bosan dengan kebiasaan lama."

Clarisse terkikik mengejek. "Lucu sekali. Sejak kapan kau berani bicara seperti itu?"

Seraphina menoleh, menatap adik iparnya dengan tajam. "Sejak aku sadar bahwa aku juga anggota keluarga ini."

Clarisse terdiam. Biasanya, Seraphina akan langsung menunduk dan menghindari konfrontasi. Tapi tidak lagi.

Lysander yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. "Ada apa denganmu?"

Seraphina berbalik ke arahnya. "Apa maksudmu?"

Mata abu-abu pria itu menyipit, seolah mencoba memahami perubahan mendadak dalam dirinya. "Kau terdengar... berbeda."

Seraphina tersenyum kecil. "Mungkin karena selama ini aku terlalu lelah bersikap rendah hati."

Lysander menatapnya lebih lama, tapi akhirnya kembali pada makanannya tanpa berkata apa-apa.

Namun, Seraphina bisa melihatnya dengan jelas. Untuk pertama kalinya, suaminya yang selalu mengabaikannya, kini mulai memperhatikannya.

Dan ini baru permulaan.

Seusai sarapan, Seraphina kembali ke kamarnya dan menatap dirinya di cermin.

Tubuh ini membutuhkan perubahan besar. Jika ingin menaklukkan keluarga ini, menaklukkan dunia ini, dia harus mengembalikan keanggunannya.

Dia membuka lemari dan mendapati pakaian-pakaian lusuh yang biasa dikenakan Seraphina yang lama. Dia mendengus.

"Ini harus dibuang," gumamnya.

Dengan cepat, dia meminta Alice untuk menghubungi butik eksklusif di kota.

Ketika pakaian-pakaian mewah datang, mata Alice hampir melotot saat melihat gaun-gaun mahal itu. "Madam... ini terlalu mahal!"

Seraphina menatapnya dingin. "Aku adalah Nyonya Elmswood. Tidak ada yang terlalu mahal untukku."

Alice hanya bisa mengangguk dengan takut.

Seraphina mengambil satu gaun berpotongan anggun dan mengenakannya. Rambut panjangnya yang kusam dia sisir dengan rapi, lalu dia merias wajahnya dengan sederhana.

Begitu dia kembali menatap bayangannya di cermin, yang dia lihat bukan lagi wanita lemah yang selalu diabaikan.

Yang berdiri di sana adalah seorang ratu.

Sore itu, saat dia berjalan menyusuri koridor, dia bertemu dengan Lysander.

Pria itu baru saja selesai menelepon seseorang, dan ketika melihatnya, dia berhenti di tempat.

Mata abu-abu itu menelusuri penampilannya dari atas ke bawah, ekspresinya sulit ditebak.

Seraphina tersenyum tipis. "Apa ada sesuatu yang aneh, suamiku?"

Lysander menyipitkan mata. "Apa yang sedang kau rencanakan?"

Seraphina mendekat, hanya beberapa inci dari pria itu. "Aku hanya ingin hidup sesuai dengan statusku."

Lysander menatapnya lama, seolah mencoba membaca pikirannya. Tapi Seraphina tak lagi wanita yang bisa dia remehkan.

Dia membalikkan badan dan berjalan pergi, meninggalkan pria itu dengan pikiran yang mulai dipenuhi kebingungan.

Ya, ini baru permulaan.

Seraphina Elmswood yang baru telah lahir.

Dan dia akan mengambil kembali dunia ini.

Bab 2

Pagi berikutnya, Seraphina bangun dengan tubuh yang terasa lebih ringan, lebih kuat. Matanya yang dulu tampak sayu kini berkilau penuh determinasi. Dia tahu bahwa kekuatan dalam dirinya telah bangkit kembali-bukan hanya kekuatan fisik, tapi kekuatan mental yang selama ini tersembunyi dalam bayang-bayang tubuh yang lemah ini.

Namun, tidak semua orang akan mudah menerima perubahan tersebut.

Setelah selesai mempersiapkan diri, Seraphina memutuskan untuk mengunjungi kebun keluarga Elmswood, tempat yang sering kali ia hindari. Dulu, hanya para pelayan yang bekerja di sana, dan ia merasa dirinya tidak pernah dianggap cukup penting untuk berinteraksi dengan orang-orang ini. Tapi hari ini, semuanya akan berbeda.

Begitu memasuki kebun, matahari pagi menyinari wajahnya yang kini lebih bersemangat. Seraphina berjalan di antara tanaman yang subur, berusaha merasakan setiap detil lingkungan sekitarnya. Kaki-kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi melangkah dengan percaya diri, berirama dengan keanggunan yang sebelumnya tidak pernah dimiliki tubuh ini.

Tiba-tiba, sebuah suara memecah kesunyian.

"Seraphina?"

Seraphina berhenti dan menoleh. Di hadapannya berdiri Lysander, suaminya. Namun, kali ini, pria itu tidak tampak acuh seperti biasanya. Dia memandang Seraphina dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Lysander," jawab Seraphina dengan nada yang lebih tenang daripada yang ia rasakan. "Ada apa?"

Lysander berjalan mendekat, menatapnya dengan intens. "Kau berubah."

Seraphina tersenyum tipis. "Begitu sepertinya."

Lysander mengangkat alisnya. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa tiba-tiba kau begitu... berbeda?"

Seraphina menatapnya dalam-dalam. "Karena aku menyadari bahwa aku tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang. Aku bukan lagi Seraphina yang dulu-wanita yang selalu mengalah, yang selalu direndahkan. Aku lebih dari itu, Lysander."

Lysander terdiam sejenak, merenung. "Aku tidak mengerti."

"Tenang saja," ujar Seraphina sambil tersenyum lebar. "Kau akan mengerti seiring waktu. Aku ingin menunjukkan padamu, padaku, dan pada dunia, siapa sebenarnya aku."

Lysander hanya mengangguk pelan, meskipun terlihat kebingungan. Seraphina tidak peduli. Di dalam dirinya, rasa percaya diri dan ambisi yang baru saja muncul menguatkan setiap langkahnya.

Hari itu berlalu dengan cepat, dan kebijakan Seraphina untuk merombak banyak hal di dalam rumah semakin terlihat. Setiap ruang di rumah besar itu disulapnya menjadi tempat yang jauh lebih elegan dan mencerminkan statusnya. Ia mengganti perabotan yang sudah usang dan memerintahkan pelayan untuk mendekorasi ruang keluarga dengan karya seni dan furnitur yang lebih mewah.

Lydia, ibu mertuanya, tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat ia masuk ke ruang makan dan mendapati suasana yang begitu berbeda.

"Seraphina..." Lydia berkata, suaranya terasa penuh kecemasan. "Apa yang kau lakukan pada rumah ini?"

Seraphina menatapnya dengan tenang. "Aku hanya memperbaiki beberapa hal, Ibu. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?"

Lydia meremas cangkir teh di tangannya, matanya tajam menatap Seraphina. "Jangan kira kau bisa begitu saja mengubah segalanya. Tempat ini bukan milikmu."

"Begitulah, Ibu. Tapi siapa lagi yang akan membuatnya lebih baik, jika bukan aku?" jawab Seraphina dengan senyum tipis, meyakinkan dirinya sendiri.

Clarisse, yang berdiri di samping Lydia, tersenyum sinis. "Kau pikir dengan mengubah sedikit furnitur, kau bisa mengubah dirimu?"

Seraphina menatap Clarisse dengan penuh penghinaan. "Sebenarnya, perubahan ini hanya permulaan. Jika kalian ingin bertahan dalam permainan ini, kalian harus lebih pintar."

Clarisse terdiam, ekspresinya berubah menjadi marah. Lydia hanya menyandarkan dirinya pada kursi, mencoba mengendalikan emosinya.

Seraphina tahu, setiap kata yang diucapkannya mulai mempengaruhi mereka-menyerang keteguhan mereka dengan cara yang tak terduga.

Setelah makan malam, Seraphina kembali ke kamarnya dengan hati yang penuh kemenangan. Namun, di balik semua itu, dia tahu satu hal pasti-perubahan ini baru saja dimulai.

Keesokan harinya, sebuah kejutan menanti.

Seraphina sedang berada di ruang perpustakaan pribadi keluarga Elmswood ketika seorang pria misterius datang ke rumah mereka. Pria itu tampak elegan, dengan jas hitam rapi dan wajahnya yang tampak sedikit dikenali oleh Seraphina.

"Madam Seraphina," pria itu menyapa dengan nada formal. "Saya Jareth, utusan dari keluarga Haverston. Tuan Lysander memerintahkan saya untuk memberikan informasi penting."

Seraphina menatap pria itu dengan curiga. "Informasi tentang apa?"

Jareth mengangguk, mengeluarkan sebuah amplop hitam dari sakunya. "Ini berkaitan dengan perjanjian keluarga Elmswood dengan Haverston. Ada beberapa dokumen yang harus segera ditandatangani oleh Tuan Lysander."

Seraphina memandang amplop itu dengan seksama. Sesuatu di dalamnya terasa tidak beres. "Bawa dokumen itu ke Lysander. Aku hanya seorang istri yang tidak tahu menahu soal urusan keluarga."

Namun, Jareth menatapnya tajam. "Tuan Lysander baru saja meninggalkan rumah. Saya diinstruksikan untuk memberikan dokumen ini langsung kepada Anda, Nyonya Elmswood."

Seraphina menarik napas dalam-dalam. Hatinya berdetak cepat. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergerak cepat. Apa yang sedang terjadi? Mengapa Lysander tidak ada di rumah?

Dia meraih amplop itu, lalu menatap Jareth. "Baiklah. Aku akan menandatanganinya."

Jareth mengangguk, menyarankan agar dia membuka dan memeriksa dokumen tersebut. Seraphina merobek segel amplop itu dan mulai membaca.

Isinya cukup mengejutkan.

Perjanjian itu bukan hanya soal kerjasama bisnis antara keluarga Elmswood dan Haverston, tetapi juga menyangkut aset pribadi Lysander yang selama ini disembunyikan-dan yang lebih mengejutkan lagi, sebuah pernyataan bahwa Seraphina berhak atas sebagian besar kekayaan tersebut jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada Lysander.

Hatinya berdebar. Ini lebih dari yang dia bayangkan. Lysander-suaminya-telah melakukan sesuatu yang besar, sesuatu yang mengarah ke pengkhianatan besar.

Dan sekarang, dia berada di pusat permainan ini.

Seraphina menatap Jareth dengan penuh perhitungan. "Bawa pesan ini kepada Lysander," katanya dengan nada rendah namun tegas. "Aku akan menunggu penjelasan dari suamiku."

Jareth tampak bingung, namun hanya mengangguk. Sebelum pergi, dia menatap Seraphina sekali lagi dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Seraphina memandang amplop itu, tangannya sedikit gemetar. Sepertinya dia baru saja membuka pintu menuju dunia yang penuh rahasia, pengkhianatan, dan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

Namun, dia tidak takut. Justru, dia merasa lebih kuat dari sebelumnya. Kini, dia punya kendali lebih besar atas hidupnya. Semua ini adalah bagian dari permainannya.

Dan dia akan memainkan permainan ini dengan sempurna.

Bab 3

Pagi yang cerah tak lagi memberikan ketenangan seperti dulu. Seraphina duduk di meja makan, menatap sarapan yang disiapkan oleh para pelayan. Namun, pikirannya jauh melampaui ruang makan yang mewah ini. Sesuatu telah berubah dalam dirinya, dan dia tahu bahwa perubahannya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Setiap keputusan yang diambil, setiap langkah yang diambil, harus dihitung dengan cermat. Kepercayaan dirinya kini jauh lebih besar, namun juga lebih berbahaya.

Hari ini, dia harus mengambil langkah berikutnya dalam permainan ini. Dia tahu, dengan kekuatan yang dia miliki sekarang, dia bisa mengubah segalanya-termasuk dirinya sendiri. Dan lebih dari itu, dia akan membuat orang-orang di sekitarnya melihatnya dengan cara yang berbeda.

Lysander, suaminya, belum kembali ke rumah. Seraphina menduga dia tengah menyelesaikan urusan bisnis, mungkin juga mencari cara untuk menghadapi perjanjian yang baru saja ia temui. Namun, bagi Seraphina, itu bukanlah masalah utama. Yang lebih penting adalah bagaimana dia bisa memanfaatkan informasi yang baru saja ia terima dan menggali lebih dalam ke dalam permainan yang sedang terjadi.

Kunci dari semua ini adalah kekuatan. Kekuatan yang tersembunyi dalam diri Seraphina, yang selama ini tak pernah ia ketahui benar-benar ada. Kini, dia memegang kendali atas banyak hal yang sebelumnya tidak terjangkau olehnya. Tetapi, seperti halnya kekuatan, ia harus hati-hati dalam menggunakannya. Jika salah langkah, permainan ini bisa berakhir cepat, dan dia akan kembali menjadi perempuan yang dilupakan, perempuan yang hanya dianggap sebagai ibu rumah tangga biasa, tak lebih.

Pikirannya dihentakkan oleh suara Lydia yang memasuki ruang makan. Ibu mertuanya itu tampak sedikit lebih cemas dari biasanya, dengan raut wajah yang penuh pertanyaan. Seraphina menatapnya tanpa ekspresi.

"Apa yang kau lakukan dengan rumah ini?" Lydia bertanya, melirik perubahan besar yang terjadi di setiap sudut rumah.

Seraphina menatap ibu mertuanya dengan tenang. "Mengubahnya menjadi lebih baik, Ibu. Tak ada yang salah dengan itu, bukan?"

Lydia menghela napas panjang, seakan enggan untuk mengungkapkan ketidakpuasannya secara terbuka. "Ini bukan sekadar perubahan kecil. Kau tahu betul ini tidak hanya soal furnitur dan dekorasi."

Seraphina tetap diam, hanya mengangkat bahu. "Kadang, kita memang harus mengubah sesuatu untuk melihat lebih jelas, Ibu."

Lydia mengerutkan kening, tetapi tidak mengatakan lebih banyak. Setelah beberapa detik yang terasa hening, dia pergi begitu saja, meninggalkan Seraphina dengan pikirannya yang sibuk merencanakan langkah-langkah berikutnya.

Setelah sarapan, Seraphina memutuskan untuk mengunjungi ruang pribadi Lysander. Ruang yang selama ini hanya ia lewati tanpa benar-benar peduli. Pintu kamar itu terkunci, namun kunci yang ada di genggamannya kini memberikan kebebasan untuk masuk. Dengan hati-hati, Seraphina membuka pintu dan melangkah masuk.

Ruangan itu terasa sepi dan terkesan pribadi-berbeda dari ruang-ruang lain yang lebih formal. Di meja kerja, terdapat tumpukan dokumen dan buku-buku yang tampaknya belum sempat dibereskan. Matanya segera menangkap sesuatu yang mencurigakan di atas meja-sebuah buku kecil yang tampaknya berisi catatan pribadi Lysander. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Seraphina mengambil buku itu, membukanya dengan hati-hati.

Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sebuah catatan tentang perjanjian yang ditandatangani oleh Lysander dan keluarga Haverston. Perjanjian yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya ia duga. Tidak hanya soal bisnis, tetapi juga tentang pengaturan keluarga, sesuatu yang Seraphina tidak pernah tahu. Tulisannya sangat jelas-ini adalah tentang masa depan mereka, masa depan Seraphina yang sudah tertulis tanpa sepengetahuannya. Ini bukan hanya tentang uang atau kekuasaan, tetapi tentang kekendalian.

Seraphina menyadari bahwa Lysander telah menutup banyak pintu bagi dirinya-sesuatu yang tak pernah diungkapkan kepadanya, meski dia telah menjadi bagian dari keluarga Elmswood. Namun, semua ini hanya semakin menguatkan tekadnya. Ia tidak akan duduk diam dalam pernikahan yang hanya menguntungkan satu pihak saja.

Setelah menutup buku itu, Seraphina merasakan sebuah rasa tak nyaman di hatinya-rasa ketidakadilan yang membuncah. Namun, ia tidak boleh terlalu emosional. Sekarang bukan waktunya untuk menunjukkan kelemahan. Justru, ia harus menunjukkan kepada Lysander dan seluruh keluarga Elmswood bahwa ia tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Kini, dialah yang memiliki kendali.

Di saat yang sama, dia harus berhati-hati. Pahlawan yang terlalu tampak terang bisa mudah dihancurkan, jadi dia harus bergerak dengan langkah-langkah yang tersembunyi dan terencana.

Petang itu, Lysander akhirnya kembali ke rumah. Seraphina sudah menunggu di ruang keluarga, mengenakan gaun panjang yang memancarkan aura ketegasan. Saat Lysander memasuki ruangan, matanya langsung tertuju pada istrinya. Ada sesuatu yang berbeda dalam diri Seraphina, sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan. Namun, ia berusaha tetap tenang.

"Kau kembali," Seraphina berkata, suaranya tenang namun penuh makna.

Lysander mengangguk. "Ada banyak yang harus dibicarakan, Seraphina."

Seraphina tidak bergerak. "Aku rasa aku sudah tahu sebagian dari apa yang harus dibicarakan. Tentang perjanjian yang kau buat dengan keluarga Haverston, dan tentang bagaimana semua itu mempengaruhi hidupku."

Lysander menatapnya tajam, tak menyangka Seraphina sudah mengetahui tentang perjanjian itu. "Kau tahu?"

"Ya," jawab Seraphina dengan suara rendah. "Dan aku ingin mendengar penjelasanmu, Lysander. Semua ini bukan hanya tentang perjanjian bisnis. Ini lebih besar dari itu."

Lysander menghela napas panjang. "Seraphina, ini bukan semudah yang kau pikirkan. Ada banyak yang terjadi di luar sana-dan aku terjebak dalam permainan ini lebih lama daripada yang kau bayangkan."

"Permainan?" tanya Seraphina dengan alis terangkat. "Jadi, kita ini hanya pion dalam permainan besar yang tidak pernah kita pilih?"

Lysander terdiam, akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan ini. "Aku-aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kau harus tahu, ini bukan sesuatu yang mudah diterima."

Seraphina menatapnya dalam-dalam. "Aku sudah siap mendengarnya."

Di dalam hati Seraphina, segala sesuatu mulai terjalin-permainan ini baru saja dimulai, dan dia akan menjadi penggeraknya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED