Wanita muda itu menutup mata, mencoba tidur. Tetapi rasa perih dan ngilu di perutnya, membuatnya terus mengerang kesakitan.
Kepalanya terasa pusing dan perdarahannya belum juga berhenti. Bianca membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya.
Dia mendesah sedih memandang sekeliling kamarnya. Walau semua benda di kamarnya seakan berteriak mahal, tapi kemewahan yang melimpah tidak berarti apa-apa bagi Bianca sekarang.
Dengan limbung berjalan ke kamar mandi untuk kembali mengganti pembalut.
Sambil menghela napas, wanita itu menatap bathup. Berendam dengan air panas di dalam bak sepertinya akan menyenangkan.
Wanita itu mulai mengisi air hangat dan masuk, merendam seluruh tubuhnya, pilu di perutnya sedikit mereda, namun hatinya terasa kosong dan kesepiannya semakin menjadi-jadi.
Dengan kepala terasa berputar, wanita muda itu merendam dirinya dan menikmati sensasi kehangatan air panas memeluk dirinya.
Bianca lalu mengambil obat penenang yang diberikan dokter, dan meminumnya dengan anggur. Bianca merasakan pahit dan asam anggur masuk ke tenggorokannya.
“Anakku, haruskah mama ikut kamu?” tanya Bianca lemah. Dadanya terasa sesak, “Buat apa sampah tetap hidup? Lebih baik aku menyusul anakku.” pikirnya frustrasi.
Dia lalu teringat papanya dan mendesah sedih. “Aku juga tak akan lagi menyusahkan papa, dia juga pasti lebih bahagia jika tidak ada lagi anaknya yang bermasalah seperti aku” isaknya frustasi.
Dia merasa sangat kesepian dan sendirian. Tidak ada yang benar-benar peduli kepadanya.
Rencana Bianca sebenarnya sangat sederhana, jika dia hamil dia akan bisa menikah dengan Kevin.
Tapi semua itu gagal, pria itu melarikan diri tanpa mau bertanggung jawab. Hidup bebas tanpa ada cengkraman dari mama tirinya pun menguap bagaikan mimpi. Bianca yang polos sudah ditipu dan dikhianati. Anaknya pun kini hilang.
"Lalu buat apa aku masih bernapas?" Bianca menatap sekeliling kamar mandi mewahnya dan menatap silet cukur yang ada di samping bathtub dan menghela napas panjang.
…
Dengan mendesah kesal, Alice melangkahkan kakinya menaiki tangga dengan berat demi membawakan susu untuk Bianca.
Menurut bidan yang membantu aborsi tadi, susu bisa membantu memulihkan kandungan.
Calon besannya sudah bercerita kalau dia menginginkan cucu dengan cepat, karena itu, kondisi kandungan Bianca harus cepat pulih.
Alice sudah promosi besar-besaran mengatakan kalau anaknya itu sedang masa subur saat malam pernikahan nanti.
Dengan pernikahan dalam beberapa bulan, Bianca harus siap kembali hamil. Wanita paruh akhirnya sampai di kamar anak tirinya yang ditandai dua pilar dari marmer putih.
Karena cintanya pada anaknya, papa Bianca memberikan kamar yang terluas bagi putrinya. Hal itu selalu membuat dongkol Alice.
Wanita paruh baya itu lalu mengambil kunci dari kantongnya dan membuka kunci kamar.
Hidungnya kembali menangkap bau keringat di kamar yang pengap itu. Walau pendingin ruangan berjalan, tapi entah kenapa kamar Bianca selalu terasa pengap.
Kakinya melangkah sampai dia terhenti karena menatap tempat tidur yang kosong, dengan panik dia berlari dan membuka jendela. Alice menghela napas lega saat tidak ada tanda apa-apa di jendela.
“Dia tidak melompat turun, syukurlah,” pikirnya panik, lalu mendengar gemericik air di kamar mandi. Dia segera menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya dengan tidak sabaran.
“Anak bodoh, bagaimana kamu bisa mandi di jam 1 pagi!” teriaknya menggedor pintu dengan kasar.
“Buka pintunya, BIAN!” teriak Alice menggelegar, tapi Bianca masih belum membuka pintunya, dengan tidak sabar Alice membuka pintu dan menjerit tertahan saat melihat bathtub yang berwarna merah.
Bau anyir darah tercium dan membuatnya mual. Hanya ujung kepala Bianca yang terlihat, dengan tangan tangan masih mengeluarkan darah.
“Anak brengsek! Menyusahkan saja,” makinya sambil segera memanggil karyawannya.
Semakin banyak pekerjaan yang harus Alice perbaiki sekarang. Dengan segera Bianca dibawa ke rumah sakit. Tapi sial bagi Alice, golongan darah keluarga Thomas ternyata langka.
Untuk menyelamatkan nyawa Bianca, wanita itu harus mendapatkan transfusi darah segera.
Setelah mengerahkan segala kemampuannya, Alice akhirnya harus menghubungi papanya Bianca dan mengaku dosa.
Bara marah sekali dengan istrinya. Bianca anak perempuan satu-satunya dalam keadaan kritis dan wanita itu baru memberitahukan berita itu saat Bianca sangat membutuhkan darahnya untuk bertahan hidup.
Dia menatap tidak percaya kepada Alice yang hanya bisa menangis. Pria itu segera mengambil penerbangan paling pagi dan untungnya masih sempat untuk mendonorkan darahnya demi Bianca.
Kini dia hanya bisa berharap keajaiban, nyawa anaknya harus dapat diselamatkan.
Pria itu berjalan mondar mandir di depan ruang operasi dan berjanji di dalam hati, apapun yang diminta anaknya, dia akan kabulkan, dia akan lebih memperhatikan anaknya mulai dari sekarang.
Pria itu memandang jam tangannya sudah 2 jam setelah Bianca menerima transfusi darah, seharusnya sudah ada berita dari dokter.
Dia menggeram kesal menatap pintu coklat ruang operasi lalu duduk di samping istrinya yang masih menangis sesegukan.
“Maafkan aku, Bara, aku tidak tahu bagaimana dia bisa berpikir untuk melakukan aborsi, lalu menyayat tangannya, andai dia bercerita denganku, aku pasti melarangnya untuk melakukan semua itu, kamu tahu kan aku menyayangi Bianca seperti anakku sendiri,” ucap Alice merajuk masuk dalam pelukan suaminya.
Pria itu mendesah kesal tapi akhirnya membalas pelukkan istrinya. Setelah kehilangan mamanya Bianca saat Bianca masih kecil, Bara berjanji tidak akan memarahi istrinya, lagipula dia tahu istrinya sangat menyayangi Bianca, wanita itu tidak pernah kasar pada Bianca.
Anak perempuan satu-satunya itu sudah Alice anggap sebagai anaknya sendiri, setelah mengetahui kalau dirinya tidak bisa mempunyai anak.
“Pasti hatinya ketakutan sekali saat berpikir akan kehilangan anaknya” pikir Bara kasihan dengan istri keduanya, dia benar-benar tertipu dengan sandiwara Alice yang piawai.
“Kasihan kamu, pasti kamu takut sekali saat menemukannya tadi. Untung kamu mau membawakannya susu hangat, kalau tidak, dia pasti akan terlambat ditemukan,” ucap suaminya sambil mengecup keningnya.
Tubuh Alice yang tadinya dingin merasa diguyur dengan air hangat. Dia dapat bernapas lega kembali, suaminya seperti biasa dapat dibodohi dengan mudah.
Tadinya wajah pria itu terlihat sangat marah, untung dia dapat berakting dengan sempurna.
Tapi memang, Alice juga sangat bersyukur, karena dia menuruti apa kata bidan tadi, untuk membawakan susu hangat bagi Bianca, kalau dia tidak, bisa-bisa kesempatannya berbesanan dengan pemilik Goro Grup gagal.
“Anak bodoh itu harus segera dinikahkan, jika dia mau bunuh diri, nanti setelah menikah, setelah mereka sudah menjadi besan Goro Grup.” pikirnya dalam hati.
Alice segera bergelung di dada suaminya dengan nyaman. “Pria ini walau tua tetap saja tampan, pikirnya dalam hati mengagumi wajah suaminya.
“Pihak Goro sudah tahu? Ada yang memberitahukan Noel?” tanya Bara tiba-tiba membuat hati Alice mencelos jatuh sampai ke perutnya.
“Eh .... apakah harus mereka tahu? Toh mereka sudah sepakat menikahkan Bianca dengan Noel? Noel juga sudah setuju?” tanya Alice takut-takut, pura-pura bodoh.
“Itu tidak ada hubungannya, Alice, Noel harus tahu keadaan calon istrinya,” sergah Bara bingung.
“Kata kamu, pria itu jatuh cinta pada Bianca pada pandangan pertama?” tanya Bara heran.
“Iya, karena itu aku tidak mau membuatnya panik, biarlah dia tidak perlu tahu. Hanya mungkin sebaiknya pernikahan dipercepat. Mungkin Bianca merasa kesepian setelah ditinggal begitu saja dengan kekasihnya yang kurang ajar itu, sehingga dia menjadi nekad seperti ini” ujar Alice pura-pura geram.
“Sudah kamu coba tanyakan siapa kekasihnya?” tanya Bara menatap mata istrinya yang segera membuang pandangannya.
“Sudah, tapi Bianca tidak mau memberitahuku, dia sepertinya terlalu kecewa, harusnya aku tidak meninggalkannya sendiri, dia pasti kesepian, aku yang salah, jangan marahi Bianca, salahkan aku yang kurang memperhatikannya,” ujar Alice menangis dengan hebohnya, membuat Bara melupakan rencananya mencari kekasih Bianca.
“Oh, sayang aku tidak akan menyalahkanmu, kamu sudah menjadi ibu yang baik bagi Bianca, baiklah, kita akan mempercepat pernikahan Bianca dan Noel.” Bara segera memeluk istrinya yang tersedu-sedu.
"Kamu memang paling mengerti aku, sayang."
Bara mengecup kening sambil memeluk istrinya.
“Oh Bianca kamu sangat beruntung memiliki mama tiri seperti Alice, dia sangat mengasihimu sampai mau menerima kesalahanmu sebagai kesalahannya. Mengapa kamu melakukan ini nak?” pikir Bara sambil menatap lampu tanda operasi yang masih juga belum berubah warna.
…
Saat mata Bianca terbuka, dilihatnya wajah papanya yang menangis. Dia tersenyum ingin meraih papanya, ia ingin bercerita semuanya pada papanya seluruh isi hatinya. Namun semua segera dia urungkan saat melihat Alice yang menangis terharu di sebelah papanya.
“Oh dia sadar Bara, dia sudah sadar!” pekik Alice gembira, kali ini dia tidak berakting, dia sungguh-sungguh senang.
Dengan siumannya Bianca, maka pernikahan terjadi. Segala kekacauan yang anak tirinya buat, tidak berhasil. Kini, sesuai dengan permintaannya, Bara akan mempercepat pernikahan Bianca.
Semua tetap berjalan sesuai dengan rencananya. Alice tidak dapat berhenti tersenyum. Goro Grup, bersiaplah.
“Bagaimana keadaanmu sayang? Kamu bahagia kan? Kamu akhirnya menikah dengan pria yang kamu sangat cintai?” tanya Bara pada putrinya saat hingar bingar pesta pernikahan mereka berakhir.
Anak perempuannya tersenyum dan menatapnya.
“Bahagia papa, aku sangat bahagia,” ucap Bianca lirih. Alice mengangguk senang akan jawaban Bianca yang sudah dia atur dari jauh-jauh hari.
“Jika kamu bahagia, maka papa akan bahagia, sayang.”
Bianca menerima pelukan papanya lalu masuk ke dalam mobil pengantin putih yang akan membawanya pulang ke rumah barunya bersama Noel Klein.
Dia melambai sambil terus berpura-pura bahagia.
“Aku bahagia papa, setidaknya di hadapanmu aku bisa berpura-pura bahagia.
Karen, mamanya Noel menatap dengan tatapannya yang menusuk, seperti biasa Noel menunduk dan kembali ke masa kecilnya, di mana dia memecahkan pot bunga kesayangan mamanya.
Wanita itu tidak berkata apa-apa hanya diam seakan Noel tak ada dan tidak mau menatap Noel selama 3 hari penuh.
Noel kecil sama seperti Noel dewasa, dia langsung takut Karen akan membenci dirinya dan otomatis mengikuti apa kemauan mamanya, waktu itu adalah dia masuk kelas piano, yang Noel benci.
Kini sama saja, dia harus menikah.
Noel tidak pernah menyukai wanita, menurutnya wanita makhluk aneh yang terlalu sering mengeluarkan air mata.
Wanita juga tidak pernah jelas apa maunya, dia harus menelaah wajah Karen, dan memperkirakan apa keinginan wanita tua itu, dan seringnya pria itu salah.
Kali ini mamanya berkata jelas, bulan depan dia akan menikah dengan putri keluarga Thomas, Bianca namanya. Mereka membutuhkan aset pabrik PT. Thomas untuk bekerja sama di bidang pakan ternak.
Noel waktu itu hanya bisa mengangguk dan berharap hidung wanita itu tepat di tengah.
Pernikahannya termasuk mewah, karena menyandang nama besar Goro Grup dan PT. Thomas.
Pengantinnya ternyata sangat cantik, bukan saja hidungnya tepat di tengah, tapi hidung Bianca tinggi dan ramping.
Kulit wanita itu putih mulus bagaikan marmer, dengan rambut panjang digelung indah di bawah tiaranya. Bibir Bianca merah muda mungil, namun bola matanya yang membuat hati Noel bergetar.
Bola mata Bianca yang besar, berwarna keemasan, begitu jernih tapi sedih. Sudah pasti karena wanita itu sama seperti Noel. Dia pasti dipaksa menikah.
Tapi Noel tak peduli, sepanjang dia sudah melakukan apa yang diminta keluarganya, dia aman. Noel akan kembali ke dunianya, dan akan membiarkan istrinya melakukan apa yang dia mau.
Kini wanita itu duduk termenung di bangku kamar pengantin di dalam rumah baru mereka.
Salah satu hal positif dari pernikahan ini adalah, akhirnya Noel boleh keluar dari kastilnya dan memiliki rumah sendiri.
Mereka berada di kamar pengantin yang dihias sedemikian rupa dengan bunga-bunga indah, Bianca sempat terpesona dengan berbagai interior mewah rumah itu, dulu dia berpikir rumahnya berlebihan, tapi kini ada yang lebih berlebihan.
Rumah itu bertingkat 3 dengan banyak pilar, dindingnya dihiasi lukisan ternama, Bianca tahu itu karena pernah melihatnya di salah satu pameran lukisan.
Dengan jantung berdebar Bianca mengikuti suaminya tadi ke kamar pengantin, tapi Noel hanya segera melepaskan bajunya dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selain dari ucapan janji tadi, mereka belum bertukar kata yang lain. Dan itu baik bagi Noel, pria itu tak suka basa basi, tapi memberikan kebingungan bagi Bianca.
Saat Noel selesai mandi, wanita itu berdiri bak patung manekin toko di tengah kamar, dekat dengan tempat tidur besar yang seharusnya menjadi ranjang malam pertama mereka. Noel cukup kaget karena melihat wajahnya yang pucat.
"Aku tidak bisa melakukan malam pertama, aku sedang datang bulan." Suaranya halus dan pelan.
Noel merasakan wajahnya memanas. "Malam pertama? Siapa yang memikirkan malam pertama?" pikirnya dalam hati.
Dia hanya berencana menulis sebentar lalu tidur, besok ada meeting dengan PT Thomas guna membicarakan alih fungsi pabrik pakan itu. Noel hendak berlalu, tapi wanita itu seperti menunggu jawabannya.
"Oh, oke." jawabnya setelah beberapa lama, memecah keheningan.
Dia kembali hendak menuju ruang baca. Tapi wanita itu kembali menatapnya. Dia masih berdiri bagaikan patung, wajahnya yang cantik tidak beremosi.
"Maaf, pasti kamu mengharapkannya kan?" tanya Bianca menghalangi jalannya Noel. Saat pria itu menggeleng, wanita itu memutar tubuh dan memunggunginya.
"Bisa tolong buka kaitannya, tidak ada orang lain yang aku bisa minta tolong."
Noel merasa wajahnya semakin hangat, tapi ucapan wanita itu benar, tidak mungkin memanggil orang lain untuk membuka gaun pengantin istrinya.
Sambil mendesah tajam, Noel mendekati wanita itu, lalu mulai membuka kait gaun pengantin yang menempel ketat di tubuh Bianca.
"Maaf," ucapnya saat tangannya menggesek kulit halus punggung Bianca. Wanita itu terkesiap saat merasakan sentuhan tak sengaja dari Noel.
"Tidak apa, teruskan." Wanita itu lalu memegang untaian rambut yang mulai terlepas dari sanggulnya yang indah.
Wangi vanila yang manis menyeruak, mulai mengganggu Noel, dia kembali berkonsentrasi untuk melepaskan kait kecil nan halus itu di gaun pengantin istrinya.
Kait itu terlalu banyak, dia hampir frustrasi membukanya. Wangi aroma tubuh Bianca membuatnya sangat susah berkonsentrasi, terlebih karena Noel harus mendekat agar bisa melihat kaitan yang begitu kecil itu lebih jelas.
Setelah beberapa lama, kaitan itu terlepas dan tanpa aba-aba, gaun itu segera jatuh dan tubuh putih mulus muncul di hadapannya. Dia mendesah pelan, lalu segera menjauhi Bianca.
“Tolong,...” ucap wanita itu lagi, menahannya pergi. Noel mencoba mengalihkan perhatian dari tubuh istrinya yang hanya mengenakan pakaian dalam itu.
“Tolong lepaskan ikatan tiaraku, sakit sekali,” pinta Bianca tanpa malu dengan ketelanjangannya.
Noel kembali mendesah lalu kembali mendekati wanita itu, kali ini dia segera memfokuskan pandangan ke untaian rambutnya, dia melepaskan kaitan yang ternyata banyak sekali di rambut istrinya.
Setelah selesai rambut panjang Bianca yang coklat kemerahan jatuh dengan indah di punggungnya.
“Oke, sebaiknya aku pergi,” ucap Noel sebelum Bianca sempat berkata lagi.
Wanita itu menatap punggung suaminya yang menjauh. Hatinya lega, pria itu tidak meminta haknya, dia masih mengalami pendarahan, mamanya sudah mewanti-wanti dari beberapa hari yang lalu, masalah aborsi sama sekali tidak boleh terucap dari bibirnya, kondisi tubuhnya sudah diperbaiki, jadi dia bisa melakukan malam pertamanya.
Tapi Bianca belum siap. Saat tadi pagi mama Alice menatapnya mengambil pembalut, wanita itu berdecak kesal.
Alice kembali mengancam untuk Bianca tidak mengecewakan papa lagi, pernikahan ini sangat membantu PT. Thomas.
Hanya ini yang bisa Bianca lakukan untuk menolong papanya. Dia harus diam dan berpura-pura sangat mencintai Noel, dan melahirkan anak untuknya. Itu tugas Bianca sekarang.
Wanita itu menghela napas dan menuju kamar mandi.
“Andai saja waktu itu aku tidak ditemukan, mungkin aku sudah bisa bermain dengan bayiku sendiri,” pikirnya sedih.
Bianca membersihkan diri lalu mengenakan gaun tidurnya, sepertinya suaminya masih akan terus bekerja.
Akan seperti apakah kehidupan pernikahan mereka? Pria itu sepertinya sama sekali tidak tertarik pada dirinya, bahkan tadi saat pendeta mempersilahkan Noel untuk mencium Bianca saat upacara pernikahan, pria itu malah hanya mengecup keningnya.
“Apakah dia tahu aku sudah direkonstruksi? Apakah dia sudah memiliki kekasih? Semuanya mungkin karena mereka menikah secara terpaksa.
Namun jika dibandingkan Bianca harus tinggal serumah dengan mama tirinya lagi, Bianca merasa akan bisa lebih bebas.
Bianca merebahkan dirinya di atas tempat tidur, memandang ke kamar yang besar dan berkesan asing itu.
Semuanya mewah tapi berkesan dingin, sedingin pria yang harus Bianca panggil suami sekarang. Dia menunggu, dalam kesunyian sampai tak sadar kalau dia sudah tertidur.
Noel sendiri berada di ruangan yang dipenuhi oleh buku. Ruangan ini merupakan ruangan favoritnya di rumah ini.
Dia duduk kursi kerjanya dengan nyaman dan membuka buku tebal berlapis kulit.
“Hari ini aku menikah. Wanita yang kunikahi seperti boneka, wanginya seperti permen, dia menyuruhku membantunya melepas gaun pengantin dan kaitan rambutnya, ternyata pengantinku sangat cantik,” tulis Noel di bukunya.