Bab 1

Seperti kata pepatah, sepintar -pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Setelah berhasil menyembunyikan percintaan terlarangnya dengan Kevin, Bianca Thomas gagal menyembunyikan kehamilan pada mama tirinya.  

Begitu pula perasaan Bianca saat Alice, mama tirinya menatapnya dengan penuh amarah. Bianca sama sekali tak bisa menutupi apapun dari mama tirinya. 

Wanita itu memegang benda pipih berwarna putih itu sambil menatap Bianca tidak percaya. Bianca sudah hamil dan mengacaukan semua rencana mama tirinya.  

Sebenarnya ini adalah cara penolakan Bianca, atas perjodohannya dengan Noel Klein, CEO dari Goro Grup. 

Tapi rencananya yang brilian itu gagal karena ternyata, Kevin yang menjadi tumpuan harapan Bianca malah mengkhianatinya dan menghilang.

Alice sudah sangat senang saat Karen, mama dari Noel Klein, setuju untuk menjodohkan anak mereka. 

Pernikahan pun juga sudah mulai disiapkan, tapi kenyataan seperti ini, membuat Alice hampir mati berdiri. 

"Bagaimana anak tirinya bisa berbuat sebodoh ini sampai hamil? Disaat dia seharusnya menikah dalam beberapa bulan ke depan?" pikir Alice dengan penuh emosi. 

Dia menatap anak tirinya yang meringkuk di atas tempat tidurnya. Walau terlihat mahal, kamar Bianca pengap dan berbau keringat.

"Dasar pelacur! Bikin malu! Bagaimana bisa kamu berbuat ini pada mama, papa!" hardik Alice sambil terus memukul tubuh anak tirinya. 

Alat tes itu dia lempar sampai mengenai wajah Bianca. Sakit atas lemparan itu membuat pelipis wanita muda itu berdenyut, namun Bianca Thomas menangis tersedu-sedu bukan karena itu, dia memegang benda pipih panjang bergaris dua itu dengan ketakutan. 

Dia sudah melakukan kesalahan fatal, segala rencananya gagal dan dia kembali terperangkap dalam kehidupan seperti boneka lagi. Dia adalah boneka cantik yang dimainkan oleh mama tirinya.

Dia benar-benar terperanjat saat mamanya menemukan benda itu, sebelum dia sempat bertemu kembali kepada Kevin kekasihnya. 

Alice meraung dengan penuh amarah dan kecewa. Bianca sendiri hanya bisa menutupi wajahnya dengan tangan yang sudah  penuh luka sabetan mamanya.

"Maafkan Bian mama," rengeknya pelan walau dia tahu percuma. Alice masih terus  memukulnya dengan penuh  emosi. Alice menatap anak tirinya itu dengan penuh kebencian. 

"Bisa-bisanya dia hamil, kalau begini kerjasama antara Goro Grup dan perusahaan mereka akan gagal," pikir Alice panik. 

Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu mengambil alat tes kehamilan dari tangan Bianca dengan  kasar. Dia menatap anaknya dengan penuh kebencian.

"Kamu tidak hamil, dan kamu harus masih perawan. Ini tidak  bisa dibiarkan, kamu akan mama proses hari ini juga, dasar anak nggak tahu diri, dasar sampah!" ujar Alice seketika merasa percuma mengeluarkan tenaga untuk marah. 

Dia segera pergi dan kembali mengurung Bianca di kamarnya. Alice harus mengurus kekacauan yang Bianca telah perbuat. Semoga saja operasi dapat membantu agar Bianca kembali perawan.

Suara pintu kamar yang terbanting tidak membuat Bianca terkejut. Hatinya sudah terasa hampa. Bianca lalu mengambil handphone-nya dan kembali mencoba menghubungi Kevin, tapi sambungannya langsung  masuk ke kotak suara. Seakan-akan pria itu sudah memblokir nomornya. 

Bianca dengan frustrasi membanting handphone-nya ke atas tempat tidur berwarna putih itu. Hatinya hancur sehancur hidupnya yang seperti sia-sia.

Tak lama, Alice segera menyeret anaknya bagaikan boneka cantik ke sebuah klinik yang dapat menjaga rahasia. Kesalahan Bianca harus diselesaikan hari ini juga. 

"Kotoran di rahim anak pelacur ini, harus segera dibersihkan, jangan sampai kesepakatan bisnis dengan Goro Grup hancur hanya karena kelakuan pelacur vréngsék ini," pikir wanita paruh baya itu dengan kejam. 

Bisnis mereka harus tetap bertahan, tidak boleh ada noda sedikitpun dalam pernikahan anak mereka.

Bianca menangis panik, dia tidak mau membuang anaknya. Anaknya ini adalah satu-satunya keluarganya selain papanya. 

Air mata berjatuhan dengan deras tapi Alice tanpa perasaan, dengan tega terus menyeretnya masuk ke klinik aborsi tanpa ampun.

"Maafkan  Bian, Mama! Jangan  buang bayi Bian Mama. Bian janji, Bian akan menuruti mama, apa saja, asalkan anak Bian hidup, maaafkan Bian, Mama," rengek Bianca tak terkendali.  

Rambut panjangnya kusut dan berantakan, ingus dan air mata bercampur di wajahnya yang mungil. Hidung dan mata bengkak memerah. 

Dia menatap mamanya memohon ampun sambil menahan tangan wanita paruh baya itu. 

Tapi Alice malah menatapnya dengan jijik dan segera melepaskan pegangan tangan Bianca seakan anak tirinya itu memiliki sakit kusta. Mama tirinya hanya terus menyeret wanita muda itu masuk tanpa peduli.

"Bereskan, ingat kamu harus tutup mulut, dan ... buat dia jadi perawan lagi!" ucap mama tirinya tanpa perasaan kepada bidan yang langsung mengangguk mengerti. 

Anak ini harus tahu diri dan akhirnya menghasilkan. Alice sudah banyak berinvestasi padanya, pernikahan Bianca Thomas dengan Noel Klein harus berhasil agar kondisi perusahaan mereka yang mulai merosot kembali aman. 

Bianca ditarik paksa oleh dua pria masuk ke sebuah ruangan kecil berwarna  putih kusam, dengan penerangan ekstra terang di tengah ruangan. 

Bianca memohon, tapi wajah semua orang di situ tertutup masker dan kaca mata. Tak lama bau yang menyengat membuat Bianca pusing lalu dia menjadi tak sadarkan diri.

Setelah semua proses selesai, Bianca yang masih lemah segera kembali dikurung di kamarnya yang pengap. Alice tidak akan mengambil resiko lagi anaknya melarikan diri dengan kekasihnya. Dia harus siap menikah beberapa bulan lagi. 

Dengan dingin mengancam wanita muda itu. “Jika kamu berani melakukan kesalahan sekali lagi, mama tidak akan menutupi lagi kesalahanmu, mama akan menceritakan semuanya ke Papa Bara!”  

Bola mata keemasan Bianca membesar dengan ketakutan. Ancaman itu selalu membuat Bianca ketakutan. 

Satu-satunya orang yang mencintai Bianca dengan tulus di rumah itu adalah papanya. Hanya pria itu yang Bianca miliki, keluarga satu-satunya di dunia ini.

Bianca tidak akan mau mengecewakan Papa Bara dengan skandal seperti ini. 

Rencananya gagal, sehingga yang bisa  Bianca lakukan hanya menggeleng cepat dengan bulir bening yang kembali membasahi pipi pucat di wajah tirus wanita muda itu.  Alice tersenyum senang dengan sinis. 

“Jangan mama, a-aku janji, a-aku tidak akan mengulanginya lagi, a-aku a-akan menuruti semua keinginan mama.”

“Good, sekarang kamu harus istirahat, pulihkan dirimu, kamu harus terlihat cantik di hari pernikahanmu nanti!” perintah mamanya lalu mengunci pintu kamar Bianca. 

Dia menatap nanar ke arah pintu. Bayinya telah hilang, hasil cintanya dengan Kevin dengan mudah direnggut seperti itu. Dia terdiam seperti patung dengan air mata yang mengalir di pipi. 

“Bayiku, maafkan mama, mengapa mamamu ini begitu lemah dan tak berdaya? Kamu sudah pergi, haruskah mama ikut bersamamu?” tanya Bianca di dalam hati sambil mengelus perutnya yang rata. 

Dia mengambil handphone-nya, sudah jutaan kali dia menghubungi Kevin, meminta tolong. 

Tapi pria itu tiba-tiba menghilang ketika tahu Bianca hamil. Teleponnya segera masuk ke dalam voice call lagi. 

"Kevin, kamu dimana? Dasar vàngsàt, aku membutuhkanmu!" maki Bianca meraung dengan putus asa. 

Wanita itu lalu tidur meringkuk di tempat tidur. Celaan dari Alice kembali terngiang di benaknya, dia memang seperti pelacur. 

Setelah berhasil merayunya dengan rencana yang terlalu mengada-ada itu, dan membuatnya hamil, Kevin membuangnya begitu saja, seperti sampah. 

“Pelacur, sampah, aku memang seperti itu,” ucapnya lemah merasa dirinya sama sekali tidak ada harganya lagi.

Bab 2

Wanita muda itu menutup mata, mencoba tidur. Tetapi rasa perih dan ngilu di perutnya, membuatnya terus mengerang kesakitan. 

Kepalanya terasa pusing dan  perdarahannya belum juga berhenti. Bianca membuka matanya dan menatap langit-langit  kamarnya. 

Dia mendesah sedih memandang sekeliling kamarnya. Walau semua benda di kamarnya seakan berteriak mahal, tapi kemewahan yang melimpah tidak berarti apa-apa bagi Bianca sekarang. 

Dengan limbung berjalan ke kamar mandi untuk kembali mengganti pembalut. 

Sambil menghela napas, wanita itu menatap bathup. Berendam dengan air panas di dalam bak sepertinya akan menyenangkan.

Wanita itu mulai mengisi air hangat dan masuk, merendam seluruh tubuhnya, pilu di perutnya sedikit mereda, namun hatinya terasa kosong dan kesepiannya semakin menjadi-jadi. 

Dengan kepala terasa berputar, wanita muda itu merendam dirinya dan menikmati sensasi kehangatan air panas memeluk dirinya.

Bianca lalu mengambil obat penenang yang diberikan dokter, dan meminumnya dengan anggur. Bianca merasakan pahit dan asam anggur masuk ke tenggorokannya. 

“Anakku, haruskah mama ikut kamu?” tanya Bianca lemah. Dadanya terasa sesak, “Buat apa sampah tetap hidup? Lebih baik aku menyusul anakku.” pikirnya frustrasi. 

Dia lalu teringat papanya dan mendesah sedih.  “Aku juga tak akan lagi menyusahkan papa, dia juga pasti lebih bahagia jika tidak ada lagi anaknya yang bermasalah seperti aku” isaknya frustasi. 

Dia merasa sangat kesepian dan sendirian. Tidak ada yang benar-benar peduli kepadanya.

Rencana Bianca sebenarnya sangat sederhana, jika dia hamil dia akan bisa menikah dengan Kevin. 

Tapi semua itu gagal, pria itu melarikan diri tanpa mau bertanggung jawab. Hidup bebas tanpa ada cengkraman dari mama tirinya pun menguap bagaikan mimpi. Bianca yang polos sudah ditipu dan dikhianati. Anaknya pun kini hilang. 

"Lalu buat apa aku masih bernapas?" Bianca menatap sekeliling kamar mandi mewahnya dan menatap silet cukur yang ada di samping bathtub dan menghela napas panjang. 

Dengan mendesah kesal, Alice melangkahkan kakinya menaiki tangga dengan berat demi membawakan susu untuk Bianca. 

Menurut bidan yang membantu aborsi tadi, susu bisa membantu memulihkan kandungan. 

Calon besannya sudah bercerita kalau dia menginginkan cucu dengan cepat, karena itu, kondisi kandungan Bianca harus cepat pulih. 

Alice sudah promosi besar-besaran mengatakan kalau anaknya itu sedang masa subur saat malam pernikahan nanti.

Dengan pernikahan dalam beberapa bulan, Bianca harus siap kembali hamil. Wanita paruh akhirnya sampai di kamar anak tirinya yang ditandai dua pilar dari marmer putih. 

Karena cintanya pada anaknya, papa Bianca memberikan kamar yang terluas bagi putrinya. Hal itu selalu membuat dongkol Alice. 

Wanita paruh baya itu lalu mengambil kunci dari kantongnya dan membuka kunci kamar. 

Hidungnya kembali menangkap bau keringat di kamar yang pengap itu. Walau pendingin ruangan berjalan, tapi entah kenapa kamar Bianca selalu terasa pengap. 

Kakinya melangkah sampai dia terhenti karena menatap tempat tidur yang kosong, dengan panik dia berlari dan membuka jendela. Alice menghela napas lega saat tidak ada tanda apa-apa di jendela.

“Dia tidak melompat turun, syukurlah,” pikirnya panik, lalu mendengar gemericik air di kamar mandi. Dia segera menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya dengan tidak sabaran.

“Anak bodoh, bagaimana kamu bisa mandi di jam 1 pagi!” teriaknya menggedor pintu dengan kasar.

“Buka pintunya, BIAN!” teriak Alice menggelegar, tapi Bianca masih belum membuka pintunya, dengan tidak sabar Alice membuka pintu dan menjerit tertahan saat melihat bathtub yang berwarna merah. 

Bau anyir darah tercium dan membuatnya mual. Hanya ujung kepala Bianca yang terlihat, dengan tangan tangan masih mengeluarkan darah. 

“Anak brengsek! Menyusahkan saja,” makinya sambil segera memanggil karyawannya.

Semakin banyak pekerjaan yang harus Alice perbaiki sekarang. Dengan segera Bianca dibawa ke rumah sakit. Tapi sial bagi Alice, golongan darah keluarga Thomas ternyata langka. 

Untuk menyelamatkan nyawa Bianca, wanita itu harus mendapatkan transfusi darah segera. 

Setelah mengerahkan segala kemampuannya, Alice akhirnya harus menghubungi papanya Bianca dan mengaku dosa.

Bara marah sekali dengan istrinya. Bianca anak perempuan satu-satunya dalam keadaan kritis dan wanita itu baru memberitahukan berita itu saat Bianca sangat membutuhkan darahnya untuk bertahan hidup. 

Dia menatap tidak percaya kepada Alice yang hanya bisa menangis. Pria itu segera mengambil penerbangan paling pagi dan untungnya masih sempat untuk mendonorkan darahnya demi Bianca. 

Kini dia hanya bisa berharap keajaiban, nyawa anaknya harus  dapat diselamatkan. 

Pria itu berjalan mondar mandir di depan ruang operasi dan berjanji di dalam hati, apapun yang diminta anaknya, dia akan kabulkan, dia akan lebih memperhatikan anaknya mulai dari sekarang. 

Pria itu memandang jam tangannya sudah 2 jam setelah Bianca menerima transfusi darah, seharusnya sudah ada berita dari dokter. 

Dia menggeram kesal menatap pintu coklat ruang operasi lalu duduk di samping istrinya yang masih menangis sesegukan. 

“Maafkan aku, Bara, aku tidak tahu bagaimana dia bisa berpikir untuk melakukan aborsi, lalu menyayat tangannya, andai dia bercerita denganku, aku pasti melarangnya untuk melakukan semua itu, kamu tahu kan aku menyayangi Bianca seperti anakku sendiri,” ucap Alice merajuk masuk dalam pelukan suaminya. 

Pria itu mendesah kesal tapi akhirnya membalas pelukkan istrinya. Setelah kehilangan mamanya Bianca saat Bianca masih kecil, Bara berjanji tidak akan memarahi istrinya, lagipula  dia tahu istrinya sangat menyayangi Bianca, wanita itu tidak pernah kasar pada Bianca. 

Anak perempuan satu-satunya itu sudah Alice anggap sebagai anaknya sendiri, setelah mengetahui kalau dirinya tidak bisa mempunyai anak. 

“Pasti hatinya ketakutan sekali saat berpikir akan kehilangan anaknya” pikir Bara kasihan dengan istri keduanya, dia benar-benar tertipu dengan sandiwara Alice yang piawai.

“Kasihan kamu, pasti kamu takut sekali saat menemukannya tadi. Untung kamu mau membawakannya susu hangat, kalau tidak, dia pasti akan terlambat ditemukan,” ucap suaminya sambil mengecup keningnya. 

Tubuh Alice yang tadinya dingin merasa diguyur dengan air hangat. Dia dapat bernapas lega kembali, suaminya seperti biasa dapat dibodohi dengan mudah. 

Tadinya wajah pria itu terlihat sangat marah, untung dia dapat berakting dengan sempurna. 

Tapi memang, Alice juga sangat bersyukur, karena dia menuruti apa kata bidan tadi, untuk membawakan susu hangat bagi Bianca, kalau dia tidak, bisa-bisa kesempatannya berbesanan dengan pemilik Goro Grup gagal. 

“Anak bodoh itu harus segera dinikahkan, jika dia mau bunuh diri, nanti setelah menikah, setelah mereka sudah menjadi besan Goro Grup.” pikirnya dalam hati. 

Alice segera bergelung di dada suaminya dengan nyaman. “Pria ini walau tua tetap saja tampan, pikirnya dalam hati mengagumi wajah suaminya.

“Pihak Goro sudah tahu? Ada yang memberitahukan Noel?” tanya Bara tiba-tiba membuat hati Alice mencelos jatuh sampai ke perutnya.

“Eh .... apakah harus mereka tahu? Toh mereka sudah sepakat menikahkan Bianca dengan Noel? Noel juga sudah setuju?” tanya Alice takut-takut, pura-pura bodoh. 

“Itu tidak ada hubungannya, Alice, Noel harus tahu keadaan calon istrinya,” sergah Bara bingung.

“Kata kamu, pria itu jatuh cinta pada Bianca pada pandangan pertama?” tanya Bara heran.

“Iya, karena itu aku tidak mau membuatnya panik, biarlah dia tidak perlu tahu. Hanya mungkin sebaiknya pernikahan dipercepat. Mungkin Bianca merasa kesepian setelah ditinggal begitu saja dengan kekasihnya yang kurang ajar itu, sehingga dia menjadi nekad seperti ini” ujar Alice pura-pura geram.

“Sudah kamu coba tanyakan siapa kekasihnya?” tanya Bara menatap mata istrinya yang segera membuang pandangannya. 

“Sudah, tapi Bianca tidak mau memberitahuku, dia sepertinya terlalu kecewa, harusnya aku tidak meninggalkannya sendiri, dia pasti kesepian, aku yang salah, jangan marahi Bianca, salahkan aku yang kurang memperhatikannya,” ujar Alice menangis dengan hebohnya, membuat Bara melupakan rencananya mencari kekasih Bianca.

“Oh, sayang aku tidak akan menyalahkanmu, kamu sudah menjadi ibu yang baik bagi Bianca, baiklah, kita akan mempercepat pernikahan Bianca dan Noel.” Bara segera memeluk istrinya yang tersedu-sedu. 

"Kamu memang paling mengerti aku, sayang."

Bara mengecup kening sambil memeluk istrinya. 

“Oh Bianca kamu sangat beruntung memiliki mama tiri seperti Alice, dia sangat mengasihimu sampai mau menerima kesalahanmu sebagai kesalahannya. Mengapa kamu melakukan ini nak?” pikir Bara sambil menatap lampu tanda operasi yang masih juga belum berubah warna. 

Saat mata Bianca terbuka, dilihatnya wajah papanya yang menangis. Dia tersenyum ingin meraih papanya, ia ingin bercerita semuanya pada papanya seluruh isi hatinya. Namun semua segera dia urungkan saat melihat Alice yang menangis terharu di sebelah papanya.

“Oh dia sadar Bara, dia sudah sadar!” pekik Alice gembira, kali ini dia tidak berakting, dia sungguh-sungguh senang. 

Dengan siumannya Bianca, maka pernikahan terjadi. Segala kekacauan yang anak tirinya buat, tidak berhasil. Kini, sesuai dengan permintaannya, Bara akan mempercepat pernikahan Bianca. 

Semua tetap berjalan sesuai dengan rencananya. Alice tidak dapat berhenti tersenyum. Goro Grup, bersiaplah.

“Bagaimana keadaanmu sayang? Kamu bahagia kan? Kamu akhirnya menikah dengan pria yang kamu sangat cintai?” tanya  Bara pada putrinya saat hingar bingar pesta pernikahan mereka berakhir. 

Anak perempuannya tersenyum dan menatapnya.

“Bahagia papa, aku sangat bahagia,” ucap Bianca lirih. Alice mengangguk senang akan jawaban Bianca yang sudah dia atur dari jauh-jauh hari.

“Jika kamu bahagia, maka papa akan bahagia, sayang.” 

Bianca menerima pelukan papanya lalu masuk ke dalam mobil pengantin putih yang akan membawanya pulang ke rumah barunya bersama Noel Klein. 

Dia melambai sambil terus berpura-pura bahagia.

“Aku bahagia papa, setidaknya di hadapanmu aku bisa berpura-pura bahagia.

Bab 3

Karen, mamanya Noel menatap dengan tatapannya yang menusuk, seperti biasa Noel menunduk dan kembali ke masa kecilnya, di mana dia memecahkan pot bunga kesayangan  mamanya. 

Wanita  itu tidak berkata apa-apa  hanya diam seakan Noel tak ada dan tidak mau menatap Noel selama 3 hari penuh. 

Noel kecil sama seperti Noel dewasa, dia langsung takut Karen akan membenci dirinya dan otomatis mengikuti apa kemauan mamanya, waktu itu adalah dia masuk kelas piano, yang Noel benci. 

Kini sama saja, dia harus menikah.

Noel tidak pernah menyukai wanita, menurutnya wanita makhluk aneh yang terlalu sering mengeluarkan air mata. 

Wanita juga tidak pernah jelas apa maunya, dia harus menelaah wajah Karen, dan memperkirakan apa keinginan wanita tua itu, dan seringnya pria itu salah. 

Kali ini mamanya berkata jelas, bulan depan dia akan menikah dengan putri keluarga Thomas, Bianca namanya. Mereka membutuhkan aset pabrik PT. Thomas untuk bekerja sama di bidang pakan ternak. 

Noel waktu itu hanya bisa mengangguk dan berharap hidung wanita itu tepat di tengah.  

Pernikahannya termasuk mewah, karena menyandang nama besar Goro Grup dan PT. Thomas. 

Pengantinnya ternyata sangat cantik, bukan saja hidungnya tepat  di tengah, tapi hidung Bianca tinggi  dan ramping.  

Kulit wanita itu putih mulus bagaikan marmer, dengan rambut panjang digelung indah di bawah tiaranya. Bibir Bianca merah muda mungil, namun bola matanya yang membuat hati Noel bergetar. 

Bola mata Bianca yang besar, berwarna keemasan, begitu jernih tapi sedih. Sudah pasti karena wanita itu sama seperti Noel. Dia pasti dipaksa menikah. 

Tapi Noel tak peduli, sepanjang dia sudah melakukan apa yang diminta  keluarganya, dia aman. Noel akan kembali ke dunianya, dan akan membiarkan istrinya melakukan apa yang dia mau.  

Kini wanita itu duduk termenung di bangku kamar pengantin di dalam rumah baru mereka. 

Salah satu hal positif dari pernikahan ini adalah, akhirnya Noel boleh keluar dari kastilnya dan memiliki rumah sendiri.

Mereka berada di kamar pengantin yang dihias sedemikian rupa dengan bunga-bunga indah, Bianca sempat terpesona dengan berbagai interior mewah rumah itu, dulu dia berpikir rumahnya berlebihan, tapi kini ada yang lebih berlebihan. 

Rumah itu bertingkat 3 dengan banyak pilar, dindingnya dihiasi lukisan ternama, Bianca tahu itu karena pernah melihatnya di salah satu pameran lukisan. 

Dengan jantung berdebar Bianca mengikuti suaminya tadi ke kamar pengantin,  tapi Noel hanya segera melepaskan bajunya dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. 

Selain dari ucapan janji tadi, mereka belum bertukar kata yang lain. Dan itu baik bagi Noel, pria itu tak suka basa basi, tapi memberikan kebingungan bagi Bianca.

Saat Noel selesai mandi, wanita itu berdiri bak patung manekin toko di tengah kamar, dekat dengan tempat tidur besar yang seharusnya menjadi ranjang malam pertama mereka. Noel cukup kaget karena melihat wajahnya yang pucat.

"Aku tidak bisa melakukan malam pertama, aku sedang datang bulan." Suaranya halus dan pelan. 

Noel merasakan wajahnya memanas. "Malam pertama? Siapa yang memikirkan malam pertama?" pikirnya dalam hati. 

Dia hanya berencana menulis sebentar lalu tidur, besok ada meeting dengan PT Thomas guna membicarakan alih fungsi pabrik pakan itu. Noel hendak berlalu, tapi wanita itu seperti  menunggu jawabannya.

"Oh, oke." jawabnya setelah beberapa lama, memecah keheningan. 

Dia kembali hendak menuju ruang baca. Tapi wanita itu kembali menatapnya. Dia masih berdiri bagaikan patung, wajahnya yang cantik tidak beremosi. 

"Maaf, pasti kamu mengharapkannya kan?" tanya Bianca menghalangi jalannya Noel. Saat pria  itu menggeleng, wanita itu memutar tubuh dan memunggunginya.

"Bisa tolong buka kaitannya, tidak ada orang lain yang aku bisa minta tolong." 

Noel merasa wajahnya semakin hangat, tapi ucapan wanita itu benar, tidak mungkin memanggil orang lain untuk membuka gaun pengantin istrinya.

Sambil mendesah tajam, Noel mendekati wanita itu, lalu mulai membuka  kait gaun pengantin yang menempel ketat di tubuh Bianca.

"Maaf," ucapnya saat tangannya menggesek kulit halus punggung Bianca. Wanita  itu terkesiap saat merasakan sentuhan tak sengaja dari Noel.

"Tidak apa, teruskan." Wanita itu lalu memegang untaian rambut yang mulai terlepas dari sanggulnya yang indah.

Wangi vanila yang manis menyeruak, mulai mengganggu Noel, dia kembali berkonsentrasi  untuk melepaskan kait kecil nan halus itu di gaun pengantin istrinya. 

Kait itu terlalu banyak, dia hampir frustrasi membukanya. Wangi aroma tubuh Bianca membuatnya sangat susah berkonsentrasi, terlebih karena Noel harus mendekat agar bisa melihat kaitan yang begitu kecil  itu lebih jelas.

Setelah beberapa lama, kaitan itu terlepas dan tanpa aba-aba, gaun itu segera jatuh dan tubuh putih mulus muncul di hadapannya. Dia mendesah pelan, lalu segera menjauhi Bianca.

“Tolong,...” ucap wanita itu lagi, menahannya pergi. Noel mencoba mengalihkan perhatian dari tubuh istrinya yang hanya mengenakan pakaian dalam itu. 

“Tolong lepaskan ikatan tiaraku, sakit sekali,” pinta Bianca tanpa malu dengan ketelanjangannya.

Noel kembali mendesah lalu kembali mendekati wanita itu, kali ini dia segera memfokuskan pandangan ke untaian rambutnya, dia melepaskan kaitan yang ternyata banyak sekali di rambut istrinya. 

Setelah selesai rambut panjang Bianca yang coklat kemerahan jatuh dengan indah di punggungnya.

“Oke, sebaiknya aku pergi,” ucap Noel sebelum Bianca sempat berkata lagi. 

Wanita itu menatap punggung suaminya yang menjauh. Hatinya lega, pria itu tidak meminta haknya, dia masih mengalami pendarahan, mamanya sudah mewanti-wanti dari beberapa hari yang lalu, masalah aborsi sama sekali tidak boleh terucap dari bibirnya, kondisi tubuhnya sudah diperbaiki, jadi dia bisa melakukan malam pertamanya. 

Tapi Bianca belum siap. Saat tadi pagi mama Alice menatapnya mengambil pembalut, wanita itu berdecak kesal.

Alice kembali mengancam untuk Bianca tidak mengecewakan papa lagi, pernikahan ini sangat membantu PT. Thomas. 

Hanya ini yang bisa Bianca lakukan untuk menolong papanya. Dia harus diam dan berpura-pura sangat mencintai Noel, dan melahirkan anak untuknya. Itu tugas Bianca sekarang. 

Wanita itu menghela napas dan menuju kamar mandi. 

“Andai saja waktu itu aku tidak ditemukan, mungkin aku sudah bisa bermain dengan bayiku sendiri,” pikirnya sedih.

Bianca membersihkan diri lalu mengenakan gaun tidurnya, sepertinya suaminya masih akan terus bekerja. 

Akan seperti apakah kehidupan pernikahan mereka? Pria itu sepertinya sama sekali tidak tertarik pada dirinya, bahkan tadi saat pendeta mempersilahkan Noel untuk mencium Bianca saat upacara pernikahan, pria itu malah hanya mengecup keningnya. 

“Apakah dia tahu aku sudah direkonstruksi? Apakah dia sudah memiliki kekasih? Semuanya mungkin karena mereka menikah secara terpaksa. 

Namun jika dibandingkan Bianca harus tinggal serumah dengan mama tirinya lagi, Bianca merasa akan bisa lebih bebas. 

Bianca merebahkan dirinya di atas tempat tidur, memandang ke kamar yang besar dan berkesan asing itu. 

Semuanya mewah tapi berkesan dingin, sedingin pria yang harus Bianca panggil suami sekarang. Dia menunggu, dalam kesunyian sampai tak sadar kalau dia sudah tertidur.

Noel sendiri berada di ruangan yang dipenuhi oleh buku. Ruangan ini merupakan ruangan favoritnya di rumah ini. 

Dia duduk kursi kerjanya dengan nyaman dan membuka buku tebal berlapis kulit. 

“Hari ini aku menikah. Wanita yang kunikahi seperti boneka, wanginya seperti permen, dia menyuruhku membantunya melepas gaun pengantin dan kaitan rambutnya, ternyata pengantinku sangat cantik,” tulis Noel di bukunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED