Delapan bulan lagi. Akan menyandang status duda.
Berkali-kali ucapan itu selalu jadi alasan mengapa Arvin berusaha untuk bertahan demi rumah tangga dengan Gina yang terjalin hampir empat tahun lamanya. Perjanjian di atas kertas sudah menjadi saksi ikatan yang sudah dijalani oleh mereka berdua tanpa adanya cinta itu akan segera berakhir dengan cepat.
Hanya delapan bulan, maka semua akan benar-benar selesai tanpa harus dipikirkan lagi oleh Arvin. Usianya telah menginjak angka tiga tidak menjadi alasan ia untuk tidak digandrungi banyak wanita. Saat ini masih menjadikan anak yang usianya baru dua tahun empat bulan itu sebagai alasan kuat bertahan.
Gadis mungil di dalam hidupnya yang diterima oleh Arvin. Tapi tidak dengan wanita yang hidup di sisinya—ibu dari anaknya.
Usai rapat dengan beberapa kepala divisi, Arvin keluar dari ruangan rapat dan bertanya pada sekretarisnya yang membawa tablet juga dengan file penting usai rapat barusan yang dilaksanakan sebelum makan siang. “Mila, apa hari ini saya ada kegiatan?”
Berjalan di belakang Arvin dengan cepat, langkah pria bertubuh tinggi itu sangat cepat sekali. Langkahnya sangat panjang sehingga mudah sekali untuk berjalan lebih cepat dari Mila yang tubuhnya tidak setinggi Arvin. “Untuk hari ini hanya ada pertemuan dengan Tuan Tomas, Pak.”
Arvin memasukkan kedua tangannya di saku celana berbahan kain lalu kemudian dia berkata. “Kalau begitu saya ada kepentingan di luar. Untuk pertemuan dengan Papa, beritahu Papa kalau saya akan langsung ke rumah nanti.”
Sudah jam makan siang, yang artinya anaknya sudah waktunya untuk dijemput ke tempat mengajar Gina.
Sekosong apa pun hatinya Arvin masih tetap ada Dacry di dalam hidupnya—sampai saat ini. Arvin tidak pernah mengatakan tidak jika itu berkaitan dengan anaknya.
Menikah tidak tinggal di satu rumah yang sama dengan istrinya sedari awal. Arvin tidak ada perasaan pada istrinya.
Jam sudah menunjukkan sebentar lagi waktunya untuk mengajak putri kecilnya jalan-jalan.
Sampai di depan PAUD tempat Gina mengajar. Pria itu turun dari mobilnya mencari keberadaan anaknya di ruang guru. Arvin sudah biasa menjemput anaknya kalau sudah waktunya ke sana.
Arvin punya kebebasan mencari Darcy ke ruang guru karena sudah biasa menjemput anaknya ke sana.
Kalau untuk masuk langsung Arvin tidak akan berani. Lantaran masih ada etika harus menjaga nama baiknya. Menunggu di luar lebih baik dia lakukan sembari menghubungi istrinya.
Tidak lama anaknya keluar dengan ekspresi yang sangat bahagia. “Papa,” Arvin menyambut dengan senyuman.
“Aku jemput kamu nanti malam,” ujarnya kepada sang istri yang baru keluar dari ruang guru. “Aku berangkat sama, Darcy.”
Darcy selalu bahagia setiap kali Arvin mengatakan akan datang menjemput. Meski anak itu tidak tahu bahwa pernikahan sudah diujung tanduk. Tepat di hari ulang tahun Darcy yang ketiga tahun hubungan Arvin dan Gina akan berakhir di pengadilan untuk perceraian. Hak asuh Darcy memang jatuh kepada Gina sudah diikhlaskan oleh Arvin. Akan tetapi untuk nafkah dan kebutuhan lainnya akan tetap diberikan kepada sang anak.
Ia pergi membawa Darcy jalan-jalan siang ini. Makan siang di luar sudah biasa dilakukan berdua oleh Arvin bersama buah hati. Atau terkadang mengajak Darcy ke tempat bermain.
“Papa nggak sibuk?” anak itu bertanya waktu Arvin menggendong Darcy.
Biasanya memang jarang sekali bisa bertemu dengan Darcy lantaran sibuk dalam pekerjaan. Orangtuanya meminta untuk bertemu, namun Arvin akan menjemput Gina nanti untuk diajak ke rumah orangtuanya.
Semua orang tahu bahwa hubungan mereka tidak pernah baik. Memangnya siapa yang bisa mengatur perasaan Arvin saat ini? Orangtuanya? Gina? Darcy? Sama sekali hati Arvin mati untuk Gina.
Setidaknya pria tiga puluh empat tahun ini sudah berusaha untuk di sisi anak perempuannya di hari yang dibutuhkan. “Papa sibuk, tapi mau ajakin adek main.”
Anaknya tidak pernah terlibat di dalam urusan Arvin dengan Gina.
Sembari mengajak Darcy makan siang dengan suasana hatinya yang membaik untuk siang ini. Menjadi teman Darcy bercerita. Anaknya pintar bicara, meski masih cadel. Bergaul dengan anak-anak PAUD karena selama ini diajak mengajar oleh Gina sedari Darcy kecil. Tidak heran kalau anaknya pandai berkomunikasi dan bernyanyi.
“Papa, kenapa nggak pelnah di lumah?”
Cepat atau lambat juga Darcy akan paham soal ini. Pernikahannya dengan Gina memang tidak pernah diinginkan oleh Arvin. Namun kehadiran Darcy yang tidak bisa ditolaknya. Bukan karena dia menginginkan perceraian lalu menyakiti hati anaknya. Tapi Arvin punya wanita yang harus dinikahinya tanpa harus melupakan si kecil.
Arvin masih ada di restoran tempat dia makan bersama anaknya. “Papa kan kerja.”
Anaknya mengangguk. Anak itu lalu meminta disuapi oleh Arvin.
Perceraian yang akan terjadi delapan bulan lagi. Lalu menikah lagi, Arvin sudah siapkan semua itu. Orangtuanya tahu akan hal itu. Karena semua sudah keputusan Arvin, maka semua juga akan selesai dengan cepat.
Gina juga tidak pernah peduli bagaimana kehidupan Arvin di luar, Gina juga tidak peduli soal rumah tangga mereka. Yang penting untuk urusan anak bisa mereka kerjasama untuk mengurus si kecil.
Sewaktu mereka makan siang, Arvin mendapatkan pesan dari kekasihnya. “Aku lagi di kantor kamu. Lagi di mana?”
Ada Darcy, tidak mungkin dia pertemukan. “Aku sedang ada rapat di luar. Kamu jangan ke kantor dulu.” Balasnya kepada wanita itu.
Sementara dia melihat ke arah Darcy dengan tatapan yang indah sekali. Mirip dirinya sehingga Arvin tidak menolak ini adalah darah dagingnya. “Sayang, makan dulu. Kita main setelah ini. Terus kita pulang, ya.”
Darcy mengiyakan dan selalu membuka mulut kalau Arvin yang menyuapi.
Arvin juga ikut makan sembari anaknya mengunyah. “Papa, adek kenyang.”
“Sudah?”
“Ya, adek makan banyak.”
Arvin mengajak anaknya jalan-jalan setelah makan siang, mengajak si kecil bermain dengan puas. Waktu yang dia berikan kepada Darcy memang baik kalau dia sudah berjanji akan menemani anaknya bermain. Tapi pernikahan tanpa ada rasa cinta yang tidak bisa Arvin pertahankan. Dulu juga waktu menikah sudah menjadi perjanjian kalau Arvin akan bercerai jika anaknya sudah berumur tiga tahun.
Lalu Arvin punya wanita lain yang harus dia jadikan istri karena mencintai wanita itu.
Puas mengajak anaknya bermain dan membelikan mainan untuk anaknya. Arvin mengajak Darcy pulang dan menjemput Gina.
Mereka akan tidur di rumah orangtuanya Arvin setiap malam Minggu.
Arvin mandi terlebih dahulu, anak dan istrinya sudah ada di meja makan bersama semua orang-orang yang tinggal di rumah ini. “Aku keluar dulu, Ma.”
“Vin, makan di rumah.”
Arvin menggeleng, dia harus pergi dengan kekasihnya untuk bermalam Minggu. Selama menikah Arvin tidak pernah satu meja dengan istrinya sampai detik ini. Pria itu menoleh ke arah mamanya dan menjawab. “Aku ada keperluan, Ma.”
Sona harus bagaimana? Menghadapi Arvin itu tidak pernah mudah. Apalagi suaminya juga tidak bisa mengendalikan anaknya. Mengajari bagaimana cara untuk mengikat rumah tangga dengan atas dasar cinta.
Di luar sana entah apa yang dilakukan oleh Arvin. Mereka semua tidak tahu, kesibukan yang seperti apa membuat Arvin selalu pergi saat jam makan malam jika ada anak dan istrinya di rumah.
“Papa hati-hati, ya!” pesan anaknya.
Darcy melambaikan tangan, dibalas dengan senyuman oleh Arvin lalu pergi dari rumah.
Suasana makan malam terasa canggung setiap kali ada Gina di sini.
Delapan bulan lagi usia pernikahan anak mereka. Ekspresi Gina tetap saja ramah sedari dulu. Kalau memang tidak cinta? Kenapa Arvin malah menikah? Pertanyaan itu yang terus saja membuat Sona hancur setiap kali mendengar anaknya berkata bahwa pernikahan itu akan berakhir sebentar lagi.
“Gina, apa mengajarmu lancar?” pertanyaan yang sama setiap kali bertemu tidak pernah dilupakan oleh Sona.
Bahkan ekspresi Tomas yang sedang menyantap makan malamnya sudah hafal dengan gerak-geriknya Sona. “Lancar, Ma. Darcy juga punya banyak teman. Dia nggak pernah bikin ribut di sekolah.”
Seusia Darcy mana paham soal perceraian yang akan dilakukan oleh Arvin. Menggugat istrinya kurang dari setahun lamanya. Dadanya Sona sesak kalau tahu pernikahan sang anak hanya bertahan selama Darcy berusia tiga tahun. Ingin kalau pagi tidak akan berganti malam, atau malah sebaliknya.
Usai makan malam itu, Darcy juga sudah tidur. Arvin belum kembali lagi ke rumah. Sementara Sona bersama dengan suaminya ada di kamar sedang menyelam ke dalam pikiran masing-masing.
“Arvin ….”
Ucap mereka bersamaan.
Lalu Sona mengatakan. “Papa yang duluan.”
Tomas menarik napasnya dalam-dalam lalu berkata. “Papa dukung Arvin bercerai.”
Sementara Sona yang mendengar itu marah, ada apa sebenarnya antara anaknya dengan Gina? Kenapa malah mau bercerai saat Darcy berusia tiga tahun? Mereka menikah atas dasar apa? Kalau tidak cinta, seharusnya Arvin jangan menikah dan Darcy tidak perlu ada di dunia ini sebagai korban. “Kenapa Papa berpikiran seperti itu?”
“Darcy adalah korban dari keegoisan, Arvin, Ma. Kalau dibiarkan bertahan. Papa kasihan sama, Gina.”
Alasan yang memang logis, tidak perlu bertahan hanya demi anak. Sementara Arvin tidak jelas mau membawa hubungan ini ke mana. Anaknya memang benar-benar sudah lepas kendali dengan pertanyaannya untuk menceraikan Gina.
“Dengan begitu, Gina bisa bebas. Kenapa harus diikat dengan cara seperti ini tapi Arvin tidak pernah tahu bagaimana cara membesarkan Darcy dengan keadaan yang rumit ini. Kita sendiri nggak pernah tahu alasan mereka. Apa waktu mereka sedang pacaran dulu ada masalah lalu mereka ungkit. Sementara Arvin juga nggak pernah ngomong sama kita.”
Sampai detik ini mereka berdua masih bertanya di dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang berani bercerita. Mereka tidak tahu juga orangtuanya Gina. Tidak pernah bertemu selama ini.
Hari-hari yang dijalani oleh Gina adalah mengajar di salah satu PAUD yang merupakan milik dari orangtua teman baiknya selama kuliah dulu. Gina memang bukan basicnya mengajar. Tapi temannya mengatakan kalau ini memang bagus untuk Gina. Diberikan gaji yang cukup banyak juga. Dia bukan guru honorer, tapi diberikan gaji selayaknya dia mengajar di sini.
Harus memiliki banyak sekali pengalaman untuk bisa bersabar menghadapi anak-anak yang terhadang bertengkar setiap hari. Pertengkaran batinnya Gina juga tidak kalah besarnya dibandingkan dengan anak-anak yang bertengkar hanya untuk memperebutkan mainan.
Rumah ini adalah rumah pemberian dari Arvin beberapa tahun lalu. Atas nama Gina, dan akan tetap jadi milik Gina dengan Darcy.
Waktu dia merapikan bajunya usai disetrika.
Plaaaak.
Sebuah amplop berwarna kuning jatuh ke lantai saat Gina menarik salah satu baju yang ada di bagian lemari paling bawah untuk dikeluarkan sebelum memasukkan baju yang baru saja di setrika. Mengurus rumah sendirian, tidur dengan Darcy. Mengurus si kecil sendirian.
Nafkah setiap bulan diberikan oleh suaminya.
Gina duduk di pinggir ranjang lalu membuka amplop itu yang berisikan fotonya dengan Arvin saat menikah. Juga ada lembaran yang di bawahnya sudah dibubuhi tanda tangan persetujuan perceraian mereka.
Apa yang indah di dalam pernikahan ini? Sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan oleh Gina. Waktu memegang lembaran itu dia menoleh sejenak ke arah anak yang sedang tidur di ranjang yang sama dengan Gina.
Usai pulang dari rumah mertuanya, dan besok akan kembali lagi mengajar di sekolah. Lalu dia membaca semua isi yang dituliskan di sana. Bahwa Darcy adalah hak Gina. Bersyukur kalau dia tidak dipisahkan oleh Arvin dari anaknya.
Sebelum dia tidur, dia mendengar ponselnya dengan nada pesan singkat.
Gina mengambil ponselnya dan membaca pesan dari ayahnya. “Kapan ada waktu? Papa kangen sama kamu.”
Setiap kali dia libur mengajar pasti akan pergi ke rumah mertuanya. Bukan ke rumah orangtuanya. Gina membalas pesan itu dengan cepat. “Besok aku usahakan pulang ngajar langsung ke sana, Pa.”
Capek itu sudah pertama dirasakan oleh Gina semenjak dia mengandung Darcy tapi sikap Arvin tidak pernah luluh. Apa gunanya bertahan juga? Gina sudah tidak peduli lagi bagaimana perlakuan suaminya terhadapnya saat ini.
Dari awal menikah sampai sekarang ini Gina sudah tahu semuanya.
Dia berdiri di dekat ranjang, menatap anak yang mirip sekali dengan Arvin. Lalu dia berkata dengan lirih. “Maafin Mama yang nggak bisa tahan Papa untuk hidup sama kamu, Darcy.” Suaranya lemah sekali mengatakan itu ketika Darcy tidur memeluk gulingnya.
Gina meletakkan ponselnya di atas kasur lalu memasukkan pakaian yang sudah disetrika itu.
Gina juga memasukkan surat yang sudah ditanda tangani soal perceraian mereka. Darcy tidak pernah tahu apa yang terjadi antara mereka berdua. “Mama lebih sayang sama kamu, Nak. Nanti kita pulang ke rumah kakek dan ninggalin rumah ini. Biar kita sewakan. Kakek sama nenek pasti kangen.”
Orangtuanya selalu meminta untuk pulang sejak Gina menikah dengan Arvin. Tapi kalau Gina pulang membawa Darcy, sudah pasti Arvin tidak akan pernah mencari keberadaan Darcy.
Gina tidak sadar waktu menatap gadis mungil yang tidur di atas ranjang memeluk bantal dengan sangat nyenyak sekali. Air matanya mengalir tanpa disadari, sampai dia terkejut. “Apa ini?”
Pikirannya mulai tidak keruan. Kenapa malah menangis? Gina tidak pernah menangis sebelumnya walaupun selalu diperlakukan tidak baik oleh Arvin. Tidak pernah dihargai keberadaannya.
Jika keinginan Arvin untuk bercerai. Akan dia laksanakan juga sesuai dengan keinginan dari suaminya. Sementara sikap baik dari mertuanya selalu memperlakukan dia bak anak kandung sendiri. Tapi tidak dengan Arvin yang tidak menghargai keberadaannya sampai detik ini.
Kakinya bergetar, lemas dan tidak berdaya lagi saat ini. Arvin jahat?
Pikiran itu tidak ada, bahwa memang bukan miliknya. Arvin bukan miliknya yang harus ditahan oleh Gina. Jika pria itu adalah miliknya, sudah pasti mereka hidup di rumah ini bertiga dengan buah hati mereka.
Kenyataan itu tidak sama sekali. Arvin ada di luar, hidup dengan gaya sendiri. Hidup dengan pilihannya sendiri. Sementara Gina harus berjuang keras menghidupi anaknya. Arvin memang memberikan nafkah, memberikan rumah untuknya. Nafkah untuk Gina dan Darcy berbeda. Tapi apa gunanya?
Uang puluhan juta yang bahkan dalam sebulan bisa membeli satu unit mobil jika digabungkan nafkah untuk Darcy dan juga Gina. Tidak menyenangkan sama sekali.
Dibandingkan dengan mengajar, jika dikumpulkan tiga tahun pun belum menutupi uang yang diberikan Arvin untuk mereka berdua.
Semua kebutuhan untuk Darcy memang tidak pernah ada yang kurang. Satu yang paling disayangkan—keberadaan Arvin yang tidak bisa di sisi sang anak.
Pagi-pagi sekali Gina sudah diributkan oleh sang anak yang sudah tidak sabar pergi ke sekolah. Anaknya sudah tahu kalau setiap hari Gina mengajar. Dia mengambilkan sepatu untuk Darcy. “Pasang sepatu, terus ambil tasnya, ya. Kita berangkat.”
Sepeda motor matic yang dibeli oleh Gina dengan hasil jerih payahnya sendiri. Setiap uang yang diberikan oleh Arvin untuknya paling dia gunakan untuk makan sehari-hari. Mungkin tidak perlu bekerja pun sudah cukup uang itu. Tapi Gina tidak bisa tinggal diam saja.
Baru saja dia keluar dari rumahnya dan mengunci pintu. Gina melihat kalau ada Felysia—kakaknya di sana. “Kakak, ada apa pagi-pagi sekali?”
“Makanan buat Darcy, Mama yang suruh anterin. Kamu kenapa nggak pulang?”
Pertanyaan yang sama dengan yang semalam papanya katakan. “Aku pulang siang ini. Terima kasih sudah anterin.”
Waktu Gina melihat ada kue yang diberikan oleh mamanya untuk Darcy. “Aku berangkat ke kantor dulu.”
Kakaknya sudah menggunakan mobil, memang gajinya juga banyak. Tidak salah kalau sang kakak hidupnya agak sedikit jauh lebih baik. Sementara Gina tidak bisa menyetir.
Felysia melenggang pergi dari rumahnya waktu dia hendak pergi ke sekolah. “Kakak hati-hati di jalan!”
“Ya, kamu juga.”
Gina masuk kembali ke dalam rumah untuk menaruh kue itu. “Nanti makannya, ya. Kita ke rumah kakek juga hari ini. Katanya kangen sama adek.”
“Iya, Ma.”
Gina memasangkan helm untuk si kecil lalu anaknya naik ke atas motor saat sudah bersiap untuk berangkat.
Menghidupi satu anak ini akan dilakukan oleh Gina demi bisa membahagiakan Darcy. Entah itu ada Arvin atau tidak. Namun, tidak ada halangan yang membuat Gina menyerah untuk sang buah hati. Tidak peduli Arvin ada maupun tidak, bukan menjadi alasan yang tepat untuk Gina menyerah.
Dia bisa melewati semuanya tanpa ada kehadiran Arvin. Bukankah dari Darcy lahir, Arvin sudah sibuk dengan dunianya sendiri?
Di sekolah anaknya langsung turun dari motor dan meminta Gina membuka helm. Dilihatnya kalau anak-anak sudah datang. Darcy juga ikut belajar di tempat Gina mengajar. Anaknya tidak pernah rewel sedari awal Gina diminta mengajar oleh temannya.
Darcy dia biarkan bergabung dengan anak-anak yang lain sembari diawasi, sebelum jam pelajaran dimulai. Dia mengirim pesan kepada mamanya bahwa dia berterima kasih kepada mamanya atas kue yang telah diberikan tadi.
Bel pertama untuk masuk telah berbunyi. Gina melihat anak-anak sudah mulai masuk ke dalam kelas. Ada pula yang telah tapi dibiarkan oleh Gina. Saat itu mereka telah berbaris dengan rapi untuk diperiksa kerapiannya dan kuku yang tidak boleh panjang.
Dua anak yang kukunya panjang dan Gina berkata. “Nanti duduk di depan, ya. Biar Bu Guru yang potong kukunya.”
Anak muridnya mengangguk. Darcy malah duduk di paling depan dengan Sheila. Usia mereka memang berbeda, tapi Sheila punya sikap pengalah kalau Darcy meminjam sesuatu. Meskipun alat menulisnya sudah lengkap. Tapi Darcy meminjam milik Sheila dan mereka kadang bertukar pinjam.
“Kukunya harus bersih, biar belajarnya juga enak. Ada kotoran di kuku itu nggak baik. Nanti kan pegang makanan juga.” Peringat Gina kepada anak muridnya yang kemudian duduk di tempat masing-masing.
Sebelum pelajaran dimulai mereka berdoa.
Gina mulai menuliskan huruf di papan tulis untuk dilafalkan oleh anak muridnya. Darcy sendiri sudah hafal dengan huruf yang ada di papan tulis.
Gina memang selalu lembut kepada anak-anak yang dia ajari. Anak-anak di sini dititipkan, dididik untuk menjadi anak yang memiliki kepribadian. Orangtua mereka percaya kalau di sekolah adalah tempat menimba ilmu. Tapi tidak sepenuhnya pendidikan harus di dapatkan di sekolah. Peran orangtua juga pasti sangat penting sekali.
Semua anak mendapatkan giliran untuk membaca huruf yang sudah dituliskan Gina. Memang ada beberapa yang kesulitan. Tapi Gina tidak mau melompati mereka, inginnya adalah semua anak bisa berjalan bersama. Dan harus bisa membaca sama-sama juga. Gina perlahan mengajari dan kadang saat mereka sudah dapat giliran. Gina duduk di sebelah anak yang tidak bisa membaca itu lalu mengajarinya langsung. Sedangkan yang lain dia biarkan bermain.
Itu adalah cara pendekatan Gina dengan beberapa anak yang memang sulit sekali memahami pelajaran selama ada di sekolah.
Meskipun ada buku yang sudah diberikan oleh sekolah. Tapi mungkin di rumah anak-anak kurang waktu untuk belajar.
Setiap orangtua punya banyak cara untuk mendidik anak. Gina juga belum merasa dirinya berhasil mendidik sang anak. Meskipun selalu terlihat bahagia di sekolah. Siapa sangka kalau dirinya sebentar lagi akan menyandang status janda satu anak yang harus dia hidupi sendirian.
Sampai jam istirahat dia menemani anaknya mengobrol ketika anak-anak yang lain sedang makan bekalnya. Itu perintah dari Gina untuk membiarkan orangtua membawakan bekal untuk anak-anak dibandingkan harus jajan sembarangan. Karena Gina tidak mau disalahkan. Semua anak-anak wajib membawa bekal.
Jam pulang sekolah. Anak-anak tidak lupa diajarkan berdoa dan juga bernyanyi sebelum pulang.
Para orangtua sudah menunggu di luar. Gina sudah terbiasa dengan orangtua yang menjemput anaknya dengan kendaraan mewahnya. Ini sudah biasa terjadi setiap hari karena sekolah tempat Gina mengajar memang kebanyakan diisi oleh anak-anak yang berada.
Jadi Gina tetap mendapatkan pelatihan juga dari guru yang lain untuk bisa mengimbangi cara mengajar.
Sewaktu dia dihampiri oleh salah satu orangtua. “Permisi, Bu.”
Gina meminta anaknya menunggu di dalam kelas dulu. “Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
“Bisa kita mengobrol sebentar?”
Gina mengiyakan lalu dirinya pergi ke taman bersama ayah dari salah satu anak. “Saya mau tanyakan soal anak saya Roland. Apa dia kesulitan membaca?”
Roland? Anak yang tadi diajari oleh Gina tapi tidak bisa membaca satu huruf yang diajarkan oleh Gina. “Ya, tapi kita ajarkan pelan-pelan saja, Pak.”
“Mohon maaf sebelumnya. Ini tidak harus saya katakan pada Ibu. Tapi jika anak saya melakukan kesalahan, tolong jangan dipukul atau dimarahi, ya.”
Gina tidak pernah membentak anak kecil. Bahkan dia tahu cara menenangkan anak-anak. Dengan cara dipeluk atau diberikan pengertian. “Saya tidak melakukan itu, Pak. Tapi memang benar kalau Roland itu sedikit lambat dalam membaca. Di rumah juga mungkin bisa diajarkan.”
Pria itu mengatakan. “Kami baru bercerai. Maaf ini yang jadi alasan anak kami tidak bisa berpikir dengan baik. Memang bukan hak saya berkata seperti itu. Tapi saya memberitahu soal perceraian kami. Roland tinggal dengan saya, di rumah juga ada neneknya. Ibunya sudah menikah lagi beberapa hari lalu. Kami bercerai seminggu lalu.”
Gina antara bingung mau menanggapi seperti apa. Sementara dirinya berkebalikan dengan Arvin. Pria di sebelahnya ini baru saja mengatakan kalau dia mengurus anaknya. “Saya usahakan akan berikan yang terbaik.”
“Maaf kalau anak saya bikin ulah. Kalau anak saya bandel nggak bisa diatur. Saya akan pindahkan ke sekolah lain.”
“Tidak, dia tidak melakukan apa pun. Hanya saja kebanyakan diam.”
“Kalau begitu saya pamit, ya. Beritahu saya kalau ada apa-apa tentang Roland. Saya akan usahakan jadi orangtua yang nggak ganggu pendidikan dia.”
Gina termenung. Bagaimana nanti dengan Darcy yang menghadapi hal serupa. Tapi ini kebalikan. Sementara Darcy akan hidup dengan Gina. Kalau Roland hidup dengan ayahnya, tapi ibunya sudah menikah lagi.
Darcy juga akan merasakan hal serupa. Arvin akan menikah lagi dengan kekasihnya—Gina tahu akan hal itu.
“Maafkan Mama, Darcy.”
Perasaan dingin itu langsung menyambat tepat di uluh hatinya Gina yang mengingatkan dirinya kalau rumah tangga yang sedang dijalani oleh Gina dengan Arvin akan berakhir. Ini semua atas keinginan Arvin.
Tidak perlu menunggu Darcy tiga tahun untuk menyerah. Semakin besar Darcy, maka dia akan semakin paham arti kehadiran orangtua harus ada di sisinya. Tidak ingin kalau wanita itu menanggung semuanya.
Gina harus bisa mengurus semuanya sendirian.
Mulai dengan perasaan hampa yang sedari dulu sudah terbiasa dirasakan, sampai saat ini rasanya tidak ada yang berbeda. Entah Arvin yang memang lupa terhadap dirinya sendiri atau lantaran kehadiran cintanya lagi.
Gina memandang langit terik hari ini. Keringat bercucuran dengan perasaan yang panas tapi dengan suasana hati yang dingin. Lantas, bagaimana harus bisa bertahan dengan keadaan begini? Saat hati tidak pernah bisa mencerna apa yang diinginkan oleh Gina.
Ketika semua usaha telah dilakukan namun tidak pernah dihargai, percayalah bahwa menyerah adalah opsi paling tepat untuk semua ini. Gina yang pada akhirnya paham bahwa yang dirasakan saat ini adalah perasaan semu. Kehadiran Arvin bukan untuknya—melainkan hanya untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang ayah untuk Darcy.