Bab 1

"Zam, nanti malam jam tujuh jangan lupa hadir ke acaranya Bu Rosanty. Ibu sama Icha dah beli baju bagus buat dipakai ke acara itu."

"Baik, Bu. Aku ajak Lili dulu, biar dia juga ikut siap-siap."

"Alaaaah, gak usah. Buat apa ngajak istrimu yang udik itu, yang ada malah malu-maluin kita."

"Tapi, Bu--"

"Tidak, titik. Kita berangkat bertiga, ibu, Icha sama kamu saja. Lili biar urus rumah aja. Seharian kerjanya rebahan terus gak ada geraknya. Rumah aja dibiarkan berantakan kayak begini!"

Deg! Kenapa ucapan ibu seperti itu? Padahal aku tahu di rumah inilah Lili yang paling capek. Pagi-pagi sekali Lili sudah bangun, dan mengerjakan semuanya. Padahal ia tengah hamil, usia kandungannya delapan bulan. Kata ibu, dia harus banyak gerak, gak boleh manja, biar persalinannya lancar.

Walaupun ibu sering bersikap ketus, tapi Tak ada bantahan apapun dari Lili, dia memanglah istri penurut.

Aku menghempaskan nafas kasar. Ibu sudah bangkit dari tadi dan menuju ke kamar. Aku menoleh, kudapati Lili berdiri di balik pintu ruang tengah. Tanpa sengaja kulihat gerakan tangannya menyapu pipi. Apakah Lili menangis?

Segera kukejar sosoknya, namun ia sudah masuk ke dalam kamar. Kamar kami berada di belakang, lebih sempit dan pengap, sebenarnya ini kamar pembantu. Ya, Lili memilih mengalah. Kamar utama ia serahkan untuk ibu. Rumah minimalis yang baru kubeli satu tahun silam ini hanya mempunyai 4 kamar saja, yaitu satu kamar utama, satu kamar tamu yang sekarang digunakan oleh Icha, satu kamar kugunakan untuk gudang ruang kerjaku, serta satu kamar pembantu yang sekarang aku tempati berdua dengan Lili.

Sejak kedatangan ibu dan adik sepupuku itu, ibu yang mengatur kendali rumah ini. Awalnya aku ingin merekrut pembantu agar Lili ada yang bantu. Tapi ibu menyanggahnya, katanya buang-buang uang, mending uangnya ditabung buat biaya persalinan.

Lili tak pernah protes dengan perkataan ibu. Dia hanya mengangguk dan selebihnya diam.

"Li, Li, buka pintunya dek," kupanggil namanya disertai ketukan pintu.

Lama menunggu, akhirnya pintu terbuka. Kulihat matanya memerah, aku tahu dia habis menangis.

"Dek, apa kamu gak apa-apa kalau ditinggal sendirian?"

Lili hanya mengangguk.

"Atau kamu mau ikut? Nanti aku bujuk ibu."

Lili menggeleng. Ia merebahkan diri diatas kasur dan membelakangiku.

"Li, Li!" teriak ibu dari luar, kalau sudah seperti ini pasti ibu ingin menyuruh sesuatu.

"Ada apa, Bu?" tanyaku sambil melongokkan kepala saat pintu separuh terbuka.

"Mana istrimu itu? Kenapa gak masak makan malam?"

"Lho, katanya kita mau ada acara di tempat Bu Rosanty, pasti disana makan kan?""

"Tapi sekarang ibu sudah laper."

"Tapi kasihan Lili bu, dia kecapekan--"

"Biar saya masakin, Mas. Ibu mau makan apa?" sela Lili, ia bangkit menghampiri kami.

"Mie goreng aja deh buat ganjal perut, jangan lupa teh manisnya. Sekalian bikinin buat Icha juga, kasih telor dan irisan bakso."

"Bu, itu kan mudah. Icha juga bisa bikin sendiri sekalian bikinin ibu, kenapa harus nyuruh Lili?"

Lili menarik ujung kemejaku agar tak membantah perintah ibu.

"Mas mau dibikinin juga?" tanyanya, menatapku dengan wajah yang sendu.

"Tidak usah, mas gak laper."

Ia mengangguk, kemudian berlalu menuju dapur, menyalakan kompor dan mengambil bungkus mie instan di lemari penyimpanan.

Tangannya bergerak cekatan, selain menunggu mie matang ia membuatkan teh manis.

Aku memperhatikannya tak jauh dari dapur, sembari bersandar di dinding. Sesekali kulihat ia mengurut pinggangnya yang mungkin terasa pegal.

"Biar mas yang bawakan," tukasku.

"Jangan mas, nanti ibu marah lagi."

"Ibu sering marah-marah sama kamu kalau mas gak ada?"

Lili menggeleng. Ia tetap membawa nampan berisi mie goreng dan teh manis itu ke meja makan.

Ibu dan Icha sudah menunggu, mereka berbincang dan cekikikan gak jelas. Entahlah sejak kedatangan Icha disini, ibu jadi makin sering nyuruh-nyuruh Lili.

Kasihan Icha, dia baru datang dari kampung, baru beradaptasi disini. Selalu begitu kata-kata ibu.

Ya, awalnya niat Icha datang kemari karena ingin mencari pekerjaan. Beberapa lamaran ia layangkan ke perusahaan, namun saat ada panggilan interview ia malah tidur dengan alasan lupa. Nyatanya sudah tiga bulan ia belum juga bekerja, aku sebenarnya tak masalah toh dia adikku. Tapi harusnya dia peka, ikut membantu Lili mengerjakan pekerjaan rumah.

"Cha, kamu kan bisa bikin mie sendiri dan bikinin ibu sekalian, jangan malas gitu dong, kasihan Lili!" tegurku saat mereka enak-enakan makan.

"Kamu ini! Icha itu tamu disini, jadi harus dilayani. Sudahlah Lili aja gak masalah, kenapa kamu yang protes!" sela ibu.

Kalau sudah begitu ibu tak bisa dibantah. Ya, ibu memang keras kepala. Semenjak kepergian almarhum bapak, perasaan ibu jadi lebih sensitif. Menyinggung sedikit perasaannya saja dia menangis.

*

"Ayo Zam, ibu sudah siap."

"Aku antar kalian aja ya, nanti langsung pulang. Kasihan Lili sendirian."

"Terus nanti kami pulang sama siapa? Pokoknya kamu harus tetap disana sampai acara selesai. Lili kan di rumah aja, dah gak usah khawatir. Ayo cepat Zam, ibu tunggu di mobil."

Ibu dan Icha sudah melenggang pergi keluar rumah. Aku berpamitan pada Lili yang saat ini sedang merapikan baju.

"Mas berangkat dulu ya, dek. Kalau ada apa-apa hubungi mas ya!"

Dia hanya mengangguk saja, tanpa salam sapa seperti biasanya. Ada yang aneh dengan istriku, apa dia merahasiakan sesuatu?

*

Di Rumah Bu Rosanty acara begitu meriah. Banyak tamu undangan datang. Ah ternyata ini acara lamaran anak bungsunya. Tapi mereka gelar secara besar-besaran.

Ibu dan Icha tampak berbincang dengan Bu Rosanty, lamat-lamat kudengar arah pembicaraannya menjelek-jelekkan istriku. Untung saja dia tak ikut, jadi tak mendengar ucapan menyakitkan ini.

Sudah satu jam disini, perasaanku bertambah khawatir memikirkan Lili di rumah. Tak pernah kurasakan kecemasan seperti ini sebelumnya.

Tiba-tiba ponselku berdering, sebuah panggilan dari nomor rumah. Ya selama ini Lili tak punya handphone, aku hanya menyediakan telepon rumah agar ia bisa berkomunikasi denganku. Awalnya memang punya tapi kujual karena dia boros menggunakan pulsa. Bisa habis lebih dari seratus ribu sebulan, padahal di rumah saja. Entah ia gunakan untuk apa.

"Halo, ada apa Li?" tanyaku. Suaranya tidak terdengar jelas karena disini sangat ramai, ada alunan musik yang menghiasi suasana.

"Mas, bisa pulang sekarang? Perutku sakit sekali--" suara dari ujung telepon terdengar seperti sedang menahan sesuatu.

"Sakit? Kenapa? Ya sudah. Tunggu ya, mas segera pulang."

Kumatikan panggilan telepon lalu menghampiri ibu.

"Bu, ayo Bu kita pulang sekarang, perut Lili sakit katanya Bu, aku khawatir sama dia."

"Azzam, acaranya belum selesai kok. Tunggu sebentar lagi. Itu pasti cuma alasan istrimu saja! Dah gak usah digubris."

Ingin rasanya membantah ibu, tapi ini ditempat keramaian, aku tak ingin mengundang masalah.

Tapi pikiranku melayang ke rumah. Apa Lili baik-baik saja?

Aku jadi merasa bersalah, selama ini aku telah mengabaikannya. Tak pernah memberi perhatian untuknya, karena kupikir aku sudah lelah bekerja, sedang dia di rumah saja ada hiburan televisi atau main ke tetangga. Lagi pula ada ibu yang bisa jadi teman ngobrolnya.

Sekitar jam sebelas malam barulah kami pulang, acara itu baru saja selesai.

"Mewah banget ya acara lamaran anaknya Bu Rosanty," celetuk ibu dengan takjub. Icha juga menanggapinya dengan antusias.

Sampai di rumah, suasana begitu sepi.

Bel pintu kutekan berkali-kali, namun tak ada sahutan dari Lili. Apa dia sudah tidur?

"Gimana sih istrimu itu, malas banget, apa dia sudah tidur? Padahal baru jam sebelas malam!" tukas ibu dengan nada kesal.

"Biar kurobrak pintunya Bu."

"Nanti rusak."

"Gak apa, biar besok dibenerin sama tukang, memangnya ibu mau tidur di luar?"

Satu dua tiga. Dengan sekuat tenaga berulang kali kudobrak, akhirnya pintu terbuka. Aku merangsek masuk sambil memanggil Lili, namun tak ada sahutan. Sampai di ruang tengah, di meja telepon, kutemukan tubuhnya meringkuk di lantai. Dan, darah segar mengalir dari bagian bawahnya.

"Astaghfirullah hal'adzim. Li, Li, bangun dek! Apa yang terjadi denganmu?!

Bab 2

Satu dua tiga. Dengan sekuat tenaga berulang kali kudobrak, akhirnya pintu terbuka. Aku merangsek masuk sambil memanggil Lili, namun tak ada sahutan. Sampai di ruang tengah, di meja telepon, kutemukan tubuhnya meringkuk di lantai. Dan, darah segar mengalir dari bagian bawahnya.

"Astaghfirullah hal'adzim. Li, Li, bangun dek! Apa yang terjadi denganmu?!

Kuguncang tubuhnya, tapi dia hanya diam. Rasa panik menjalar ke seluruh tubuhku. Bagaimana ini? Kenapa aku jadi suami yang tak peka? Padahal tadi Lili sudah mengeluh sakit.

Kubopong tubuhnya dan langsung membawanya ke mobil.

"Ibu ikut, Zam," ujar ibu. Kurasa ia pun panik setelah melihat menantunya tak sadarkan diri.

"Tidak perlu, Bu. Ibu di rumah saja, biar Lili aku yang urus," tukasku. Aku tak ingin mendengar protes dari ibu. Sudah cukup, bisa tambah runyam pikiranku kalau ibu ikut. Ia bisa ngomong ngelantur yang tidak-tidak.

Gegas kulajukan mobil ini dengan kecepatan sangat kencang.

"Li, bertahanlah."

Rasa sesal kembali merajai diri seakan berletupan tak ingin lagi sembunyi. Rasa sakit ini makin menghimpit dada. Semua karena keegoisanku, semua karena ketidakpekaanku. Lili jadi seperti ini.

Sampai di rumah sakit, Lili yang masuk di ruang IGD langsung ditangani oleh tim medis, berhubung dokter spesialis kandungan sudah pulang, mereka hubungi lebih dahulu.

Seorang wanita berpakaian dokter berjalan tergopoh-gopoh, setelah kutahu ternyata ia dokter obygin alias dokter kandungan.

Mengingat kondisi Lili yang kritis, akhirnya langsung dilakukan tindakan. Para perawat langsung membawa Lili ke ruang operasi, mereka tak membiarkanku untuk ikut melihat prosesnya.

Setelah sekitar 1 jam menunggu, pintu ruang operasi terbuka dan munculah seorang pegawai rumah sakit yang memakai baju OK keluar dari pintu ruang operasi.

Aku segera mendekatinya, " Bagaimana dengan kondisi istri saya dan bayinya, Suster?" tanyaku.

Perawat bermasker itu memandangku sejenak. "Mohon maaf ya pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi bayi bapak tidak bisa diselamatkan. Bayi bapak sudah meninggal di dalam kandungan," jawabnya.

Deg! Dunia seakan runtuh seketika. Aku seperti hilang pijakan. Kepalaku berputar-putar, terasa berat dan penat.

"Istri saya bagaimana, Sus?"

"Kondisi istri bapak masih sangat lemah. Bapak bisa temui nanti setelah dipindah ke ruang perawatan ya."

*

Kugendong tubuh mungil yang tak bernyawa ini. Hatiku runtuh, air mataku luruh, tenggelam dalam penyesalan yang tak bertepi. Semua salahku. Anak yang kudambakan selama dua tahun terakhir ini, justru berakhir karena kelalaianku sebagai seorang suami.

"Nak, bahkan kamu sudah pergi sebelum bisa membukakan mata melihat ayah dan bunda ke dunia," lirihku.

Apakah ini ganjaran yang pantas untukku karena telah mengabaikan Lili? Ya, Lili, bagaimana dengannya kalau tahu bayinya tidak bisa diselamatkan?

Tengah malam yang begitu kelam, aku harus kehilangan. Buah hati yang kutunggu, harus pergi tanpa mencicipi manisnya kasih sayang dari kami.

"Sayang, Nak, maafin ayah karena sudah mengabaikan kalian."

Lagi, aku tak bisa menahan lelehan air mata ini. Begitu sakit dan menyesakkan dada.

Ini salahku membiarkan ibu bersikap sesukanya pada Lili. Salahku juga karena tak tegas pada mereka. Kupikir hubungan ibu dan Lili baik-baik saja. Wajar kalau ibu menyuruh Lili, dan Lili tak pernah membantahnya sebagai bukti kalau ia begitu taat sebagai istri maupun menantu.

Aku tak pernah mau mendengar keluhan Lili tentang ibu, atau mendengar keluhannya kalau ia merasa capek.

Kalau dipikir aku suami yang begitu tega, bahkan tak pernah memberikan reward apapun pada Lili. Walau sekadar membelikan baju atau apapun itu. Karena kupikir uang tiga juta sangatlah cukup untuk biaya hidup kami sekeluarga. Lili tak membutuhkan apapun lagi, toh dia tak pernah protes.

Apakah aku suami dzolim? Gajiku saat ini adalah sepuluh juta rupiah. Tiap bulannya, kuberikan pada Lili tiga juta untuk uang belanja dan semua kebutuhan rumah. Dua juta kuberikan pada ibu, sebagai reward telah melahirkanku dan merawatku dari kecil. Sedangkan yang lima juta aku pegang sendiri, aku tabung demi masa depan nanti. Atau untuk pegangan bila ada kebutuhan yang mendesak. Ya, aku tak ingin terlibat dalam lingkaran hutang. Sudah cukup masa kecilku saja yang kekurangan, jadi sebisa mungkin aku harus punya tabungan untuk anakku kelak maupun untuk hari tua.

***

"Mas, bagaimana bayi kita?" tanya Lili saat mulai sadar.

Nyess. Mendengar pertanyaannya membuatku tak mampu berkata. Ada hancur di sudut hatiku.

Aku hanya menunduk, tak mampu berkata-kata. Setelah sembilan jam, akhirnya Lili sadar dari kritisnya. Namun yang ditanya pertama kali adalah tentang bayinya.

Bagaimana aku mengatakan kalau bayinya sudah meninggal sejak dalam kandungan? Rasanya belum siap melihat amarahnya.

Akupun sudah menguburkan anakku tadi. Ya, pagi-pagi sekali aku pulang membawa bayiku yang sudah tak bernyawa lagi, untuk segera dikuburkan. Kasihan bila terlalu lama dibiarkan, sedangkan pihak dokter pun tak tahu kapan Lili akan sadar.

Aku sempat memotret wajahnya yang imut dan mungil itu. Foto itu tersimpan rapi di handphoneku.

"Mas, kenapa diam saja? Dimana bayiku, Mas? Tolong bawa kesini, aku ingin melihatnya," lirihnya lagi.

"Dek, kamu yang sabar ya, yang tenang."

"Apa maksudmu, Mas? Bayiku baik-baik saja kan? Kalau kamu tak bisa membawa bayiku kesini, tolong antarkan aku ketemu dengannya mas ..." rengeknya dengan nada pilu.

"Maaf dek, tapi--"

"Tapi apa, Mas? Cepat katakan mas! Ada apa dengan bayiku?"

"Maaf dek, bayi kita sudah meninggal dek."

"Tidak, itu tidak mungkin!"

"Dek, bayi kita sudah meninggal sejak dalam kandungan, dia tidak bisa diselamatkan, dek."

"Tidak, itu tidak mungkin! Itu tak boleh terjadi! Antarkan aku ketemu bayiku, Mas! Bayiku tak mungkin meninggal. Tadi sore aku masih merasakan gerakannya, Mas."

Kudekap erat tubuhnya yang terguncang hebat. Namun sekuat tenaga ia mendorong tubuhku. Air matanya jatuh bercucuran.

Sungguh aku tak sanggup melihatnya seperti ini. Ya, ini semua murni kesalahanku. Andai saja penyesalanku bisa mengembalikan bayi kami ...

"Kembalikan bayiku, Mas! Kembalikan bayiku! Bayiku tak mungkin meninggal, bayiku masih hidup, Mas!"

"Sayang, maafin mas. Maaf--" ucapku sambil terus mendekap tubuhnya. Lili berontak lagi.

Lili makin tergugu mendengarnya, ia meremas ujung selimut rumah sakit yang menutupi sebagian tubuhnya. Sesekali dia terlihat memukul-mukul bed yang ditidurinya. Selang infus terlihat mobat-mabit ketika dia mulai histeris. Iapun mulai memukuli kepalanya sendiri, seakan-akan penat begitu terasa menusuk kepala.

Ah Lili ... Dia masih saja histeris seakan tak menerima kenyataan yang terjadi.

"Bayiku, mana bayiku ...?! Mana bayiku?! Tolong kembalikan bayikuuu ... Mas, tolong kembalikan bayikuuu ..."

Bab 3

Pasca 4 hari di rumah sakit, akhirnya Lili diperbolehkan pulang. Aku memapahnya masuk ke dalam mobil. Kami hanya berdua. Ibu dan Icha enggan berkunjung ke rumah sakit, walaupun aku telah mengajaknya.

Kondisi Lili sangat lemah. Kali ini tidak ada perlawanan darinya, ia lebih banyak diam, bahkan seperti patung. Jika ditanya pun enggan menjawab.

Wajahnya sendu, netranya begitu sayu. Pandangannya seakan kosong, embun tebal tampak begitu kentara di kedua bola matanya.

Pandangannya yang biasa meneduhkan kini terlihat sangat rapuh.

Lili, maafkan suamimu ini. Aku memang pria yang tak becus bergelar suami.

Hening. Sepanjang perjalanan tak ada percakapan apapun yang keluar dari mulut kami. Hanya alunan musik klasik yang kusetel begitu lirih untuk sekedar mengusir sepi.

"Mas, kita ke makam bayiku dulu, baru pulang," pintanya tanpa memandang ke arahku.

Aku menoleh. Lalu hanya bisa menganggukkan kepala melihat ekspresinya yang begitu sedih.

*

Gundukan tanah itu masih terlihat baru dan basah, diatasnya penuh taburan bunga. Lili terkulai, ia bersimpuh disamping pusara anak kami.

Tubuh Lili terguncang hebat, air matanya jatuh bercucuran bak anak sungai.

Hatiku mencelos. Sakit sekali menyaksikan pemandangan ini.

"Sudah yuk pulang dulu, dek. kamu juga butuh istirahat, sayang."

Lili menggeleng.

"Ayo dek, pulang dulu. Kasihan tubuhmu butuh istirahat lho, masih dalam pemulihan."

Akhirnya Lili mau menurut, kupapah tubuhnya masuk ke dalam mobil.

*

"Zam, kok kamu yang nyuci sih?" tegur ibu saat aku memasukkan baju kotor ke mesin cuci.

"Ya gak apa-apa to, Bu. Lili kan masih sakit, gak boleh banyak gerak dulu."

"Alaaaah dasar istrimu itu malesan!"

"Cukup ya, Bu. Aku gak mau berdebat masalah ini. Bisa gak sih ibu menghargai sedikiiit saja perasaan Lili?"

"Kamu udah berani bentak ibu, Zam?!"

Ibu berlalu begitu saja dengan netra berkaca-kaca. Sudah dipastikan, ibu pasti akan ngambek seharian.

Aku mengusap wajah dengan kasar. Ya Allah, aku harus bagaimana?

Sembari menunggu cucian di mesin cuci, aku beranjak ke dalam menemui Lili. Ia masih meringkuk dalam tidurnya.

"Dek, kamu mau makan apa? Biar nanti mas belikan."

Lili hanya menggeleng perlahan. Aku tahu dia lapar, ibu mana mau memasak untuk kami. Menurutnya, dia sudah tua, jadi dia yang harus diladeni.

"Mas, tolong berhenti. Jangan mengerjakan pekerjaan rumah. Biar aku saja. Nanti ibu marah-marah lagi."

"Itu tidak mungkin dek, kondisimu masih lemah begini. Dah, gak usah pikirin omongan ibu."

"Gak usah pikirin gimana, Mas? Omongan ibu membuatku down."

"Oh, jadi ini yang kamu lakukan di belakang ibu? Kamu ngadu sama suamimu gitu? Biar ibu keliatan jelek di matanya?!" pungkas ibu yang tiba-tiba masuk ke kamar kami.

"Ibu, cukup!! Ini gak seperti yang ibu pikirkan!" tukasku.

"Gara-gara wanita ini, sekarang kamu sudah berani bentak ibu ya, Zam!"

"Bukan karena Lili, Bu. Tapi ibu sendiri yang sudah keterlaluan! Padahal ibu tau, kondisi Lili tidak baik-baik saja, dia sedang dalam masa pemulihan! Dia juga terguncang karena kehilangan anak kami. Ibu, bisa gak sedikiiit saja hargai perasaan Lili Bu, dia menantu ibu, bukan pembantu!"

"Percuma ngomong sama kamu, Zam! Hatimu sudah tertutup oleh dia! Dia itu cuma berdiam di rumah, ya sudah pasti harus mengerjakan semuanya! Masa kamu yang kerja dia okang-okang kaki!"

"Kalau aku yang nyuruh ibu nglakuin semuanya gimana? Atau Icha? Kalian juga berdiam diri di rumah? Okang-okang kaki!"

"Tega kamu, Zam! Ngomong kayak gitu sama ibu. Jadi kamu nyuruh ibu untuk kerjain semua kerjaan rumah? Ibu itu bukan pembantu, Zam! Ibu ini yang sudah melahirkanmu!"

"Aku tahu Bu, makanya ibu gak usah protes lagi kalau nantinya aku ambil pembantu. Aku menghargai ibu, tapi aku juga tak ingin menyakiti Lili. Apalagi dia masih sakit, Bu. Aku tak ingin membuatnya lebih sakit lagi karena terlalu capek mengerjakan pekerjaan rumah."

"Ambil pembantu itu buang-buang uang, Zam!"

"Ini solusi yang terbaik. Ibu tidak mau membantu kan? Sedangkan Lili masih sakit, ibu tega nyuruh-nyuruh orang sakit untuk bekerja? Ini jalan tengah yang terbaik, mulai besok akan ada pembantu yang bekerja disini, sekaligus merawat Lili kalau aku berada di kantor!"

"Huh!"

Ibu sengaja menghentakkan kakinya pergi meninggalkan kami dengan perasaan tak suka. Duh ibu, sebenarnya apa sih maumu, Bu?

Aku menoleh ke arah Lili. Dia terisak. Kubelai rambutnya dan kuciumi puncak kepalanya.

"Maafin mas, selama ini ya. Mas sudah salah sama kamu."

Kudekap erat tubuhnya. Badannya panas, jangan-jangan Lili sakit lagi?

"Obatnya belum diminum?" tanyaku.

Lili hanya diam saja. Ah ya, bagaimana mungkin dia minum obat, makan saja belum.

"Kamu tunggu disini ya, kamu mau apa? Bubur ayam atau apa?"

Lagi-lagi Lili hanya menggeleng.

Aku bangkit, mengambil kunci mobil. Di ruang keluarga ibu sedang tertawa kecil bersama Icha sambil menonton TV. Satu toples cemilan ada dihadapannya.

"Kamu mau kemana, Zam?" tanya ibu seolah tak terjadi apa-apa.

"Cari makan."

"Ibu sama icha mau juga, kami dari tadi belum makan, gak ada yang masak!" tukas ibu.

"Suruh Icha masak, Bu! Bahan makanan banyak di kulkas! Dia kan cewek, harusnya masak itu perkara mudah!"

"Kamu ini! Icha itu tamu disini, jadi harus dilayani."

"Tamu apa Bu, yang sampai berbulan-bulan gak pulang-pulang? Niat cari kerja gak sih?"

Icha menghentikan makan cemilannya, wajahnya ditekuk cemberut.

"Kamu itu gimana, dia itu masih keluarga kita!" tukas ibu.

"Kalau masih keluarga harusnya peka, ikut bantu-bantu, apalagi kondisi Lili sedang sakit begini!"

"Kamu jangan lancang Azzam! Tuan rumah ya harus menyediakan kebutuhan tamunya!"

"Iya-iya, terserah! Kalian mau makan apa?"

"Ibu mau nasi plus ayam bakar, kamu mau apa Icha?"

"Sama aja kayak budhe."

"Ya sudah Ibu sama Icha mau nasi ayam bakar, jangan lupa belikan pizza juga, Zam!"

"Hmmm!"

***

Cukup lama berada diluar mencari makanan kesukaan ibu. Apalagi harus ngantri kayak sembako.

Kalau begini aku jadi kepikiran sama Lili. Takut kalau ibu marah-marah pada Lili.

Pulang ke rumah tampak sepi.

"Ibuu ...? Icha ...?"

Tak kutemui batang hidungnya. Kugeletakkan saja diatas meja makan. Aku berlari menghampiri Lili di kamar, istriku itupun tak ada.

"Li, kamu dimana, Li? Sayang?"

Tak lama terdengar suara dari halaman belakang. Aku tercengang melihatnya, dengan tangan gemetar Lili menjemur pakaian-pakaian yang tadi masih kucuci dan kutinggalkan begitu saja.

Jadi dia melakukan ini? Lili mengangkat pakaian basah diember itu sendiri? Ini kan sangat berat?

"Dek, biar mas saja. Kamu makan dulu gih!"

Lili menoleh, memandangku dengan tatapan nanar. Tiba-tiba tubuhnya terhuyung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED