Bab 1

Denting jam dinding yang tertempel di tembok ruangan itu telah menunjukkan pukul 07:30 wib. Semburat jingga mulai memasuki celah tirai yang tersibak angin.

Ceceran busana tergeletak begitu saja di lantai ruangan Hotel mewah berbintang lima dengan desain yang modern, dengan tirai berwarna krem yang menjulang tinggi, di tambah dengan lampu remang - remang yang menambah aesthetic suasana. Ditambah dengan melodi syahdu alunan lagu romantis yang sedang di putar di piringan hitam.

Namun, berbanding terbalik sang wanita yang malah sedang terisak pilu seakan penuh rasa sakit dan juga penyesalan yang begitu menyeruak di sekujur tubuhnya. Sementara itu, suara guyuran air shower di kamar mandi masih terdengar gemericiknya. Sang pria tampan nan gagah berhias tato naga di bahu kiri nya itu tengah membersihkan diri setelah aktifitas panas yang telah ia lakukan dengan seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali sebelumnya itu. Bukan hal aneh untuk pria seperti dirinya itu, yang kerap kali menikmati kegiatan panas tersebut dengan bermodalkan uang dan juga ketampanan yang ia miliki. Tak jarang justru para gadis itu lah yang terlebih dahulu merangkak naik ke atas ranjangnya. Merindukan sentuhan dan gelora cinta dari sang Casanova. Dengan sejuta pesona dan harta yang ia miliki seolah dunia pun mampu ia beli dengan uang, atau ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan hanya dengan menjentikkan ujung jarinya. Seolah dunia berada di dalam genggamannya.

Hanya berselang 30 menit si lelaki gagah dengan postur tubuh yang tinggi sekitar 185cm rambut cepak berwarna hitam pekat dan hidung mancung serta berahang tegas, otot-otot di tubuhnya yang terlihat sangat menonjol itu, terlihat begitu kuat dan juga kokoh.

Belum lagi, bulu - bulu halus yang menghiasi bagian dada bidangnya.

Sebelum ia kembali untuk berpakaian di kamarnya, ia pun langsung meraih sebuah alat yang tertempel di tembok. Dan tersenyum lebar setelah berbicara dengan seseorang.

Ia dapat dengan jelas mendengar suara isak tangis sendu si wanita yang tadi malam telah ia jelajahi. Namun, ia cuek saja dan seakan tak peduli. Dengan masih membelakangi nya. Ia pun mulai mengeluarkan kata-kata dari suara seraknya yang terdengar sangat seksi.

"Pergilah. Tugasmu telah selesai. Ambil ini semua untuk tip malam tadi! Karena bayaranmu telah diambil oleh orang itu. Tak usah menangis, karena ku lihat kau bukan lagi seorang gadis yang polos!" hardiknya kesal, pria berotot kekar itu pun berjalan melewatinya dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Meraih satu gepokan uang yang lemparkan tepat di wajah si wanita yang tak lain adalah Audrey. Hingga terbang berhamburan jatuh di lantai.

"Apakah harga diriku semurah ini?" Audrey membatin seraya dengan terpaksa harus memunguti semuanya.

"Cepat lah pergi dari sini, karena aku hanya menggunakan barang sekali pakai saja!" bentaknya tanpa menoleh lagi pada Audrey yang masih terisak sambil memeluk selimutnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya.

"Iya, Tuan! Saya pun memang tak betah berada disini." pungkas Audrey masih terisak.

"Heh, aku tak mengerti kenapa wanita jalang sepertimu. Kenapa masih menangis hah? Kamu bukan gadis yang masih tersegel rapi, masih untung aku memberikan bayaran yang lumayan. Jadi, cukup! Tak usah sok polos, hm karena aku tak tau dengan berapa puluh pria dirimu melakukannya hanya sekedar untuk mendapatkan uang" cecarnya dengan senyum miring tersungging di sudut bibirnya.

"T-tidak Tuan, semua itu tak benar! Saya melakukan semua ini karena terpaksa!" teriak Audrey dengan suara yang terdengar kian parau. Masih berusaha untuk membela diri.

"Mana bisa aku percaya, karena terlalu banyak wanita di luaran yang sama sepertimu. Menjual tubuhnya hanya demi uang, untuk memenuhi gaya hidup di luar kemampuan." ucapnya ketus. Lagi-lagi dengan nada yang merendahkan.

"Terserah apapun yang Tuan katakan. Pada intinya, saya bukan lah wanita seperti itu." Jawab Audrey dengan mata yang menyala-nyala hatinya berontak tak terima dengan penuturan pria di hadapannya itu. Yang telah seenak jidat menjudge dirinya.

"Halah, menjadi seorang wanita murahan saja masih berpikir untuk mengaku masih memiliki harga diri. Sungguh luar biasa, sangat di luar nalar!" Ia pun hanya mencebikan bibirnya seraya kembali melirik Audrey dan memandangnya sebelah mata, melihat wanita itu tak ubahnya seperti wanita lainnya yang rela menghabiskan malam bersama dirinya untuk mendapatkan kesenangan dan juga uang yang banyak.

Mendengar hal itu, Audrey hanya bisa menyeka air matanya karena percuma ia berbicara dengan pria yang tak memiliki perasaan seperti itu. Dengan dada yang naik turun, nafasnya masih tersengal-sengal menahan emosi. Marah pada pria itu, pada dirinya sendiri, juga marah pada keadaan yang menjebak dirinya sendiri dalam keadaan yang sangat menjijikkan seperti itu.

"Sudahlah, tak usah banyak omong lagi. Karena aku tak memiliki banyak waktu untuk berdebat dengan seorang wanita seperti dirimu. Aku sudah cukup puas dan itu sudah cukup. Aku telah mendapatkan mu malam tadi, dan kamu pun telah mendapatkan uang yang banyak dariku. Jadi, sekarang pergilah, jangan sisakan apapun di sini. Dan, ingat mulai detik ini kita memang tidak pernah saling mengenal dan ingat kita tak pernah saling bertemu. Camkan itu baik-baik!" Tegasnya sambil berbalik badan dengan tatapan super tajamnya menatap Audrey yang masih memeluki lututnya.

"B-baik, Tuan. Saya akan ingat apa yang Tuan katakan," ucap Audrey kepada pria yang ia sendiri pun tak mengetahui siapa namanya.

Dan tanpa menunggu lama, pria itu pun kembali ke ruangan ganti pakaiannya, karena akan segera berangkat untuk urusan bisnis ke Amerika. Ya, ia adalah Albyan Razel Winata pemilik perusahaan besar yang bergerak di bidang bisnis food and fashion. Yaitu Nata corp. Pria single berusia 32 tahun itu adalah seorang Casanova yang suka berpetualang dengan banyak wanita. Hal itu terjadi di akibatkan rasa kecewanya pada sang mantan kekasih yang tega meninggalkan dirinya.

Melihat itu, Audrey pun segera turun dari tempat tidur untuk segera memunguti ceceran busananya yang akan segera ia kenakan kembali. Sebelum Alby muncul kembali di hadapannya, karena ia tak ingin melihat wajah pria yang telah menyentuh dirinya tadi malam itu, membuat dirinya geli dan jijik di waktu yang bersamaan.

Setelah mengancingkan kemejanya, ia pun berdiri di depan cermin besar itu. Merasa alangkah kotornya dirinya saat itu. Namun, Audrey hanya bisa untuk memejamkan sejenak matanya dan menerima bahwa memang hal itu lah yang telah terjadi, dan ini pertama kali dalam sejarah hidupnya.

Dengan wajah yang sembab juga maskara yang telah luntur membuat bagian bawah matanya menghitam. Namun, ia tak peduli lagi. Dengan kedua tangannya yang berlomba untuk kembali menyeka air mata di kedua belah pipinya itu. Ia pun segera meraih tas miliknya di atas sofa untuk memasukkan ponselnya yang tergeletak di atas meja. Juga uang haram yang ia terima barusan untuk kegiatan kotor yang telah ia lakukan.

Ia pun segera keluar dari kamar Hotel itu, berjalan gontai menyusuri koridor dengan perasaan yang sangat pilu. Rasa di dalam dadanya sangat sesak perasaannya terasa kian tercabik-cabik mengingat kejadian tadi malam yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Rasa pilu menyelimuti pikirannya, isak tangis pun kembali pecah, dan tak bisa hentikan lagi. Hingga ia tiba di ujung halaman Hotel untuk menyetop taksi dan akan segera pulang ke rumah.

Bab 2

Tak berselang lama ia berdiri di sana, hangat sinar mentari pun menerpa tubuhnya, pandangannya melebar melihat suasana yang mulai ramai. Dengan riuh suasana di jalan raya dengan padatnya lalu lintas kendaraan di pagi hari itu yang memang adalah hari Senin, yang tentunya begitu sibuk seperti biasanya.

Akhirnya, satu taksi pun menepi tepat di hadapannya.

Audrey pun segera menaiki taksi dengan perasaan yang sangat gelisah.

"Kemana, Mbak?" tanya sopir taksi.

"Komplek kemuning raya no, 29 ya, Pak." jawabnya datar setelah mendaratkan bokongnya di jok.

"Baik, kita berangkat" ucap sopir taksi pun lanjut menginjak pedal gas dan akan segera meluncur ke alamat yang telah di sebutkan oleh si penumpang.

"Eh, sebentar, Pak!" seru Audrey, sontak membuat sopir taksi pun kaget dan mengerem mendadak. Untung saja jarak kendaraan lain di belakangnya itu masih jauh dan tak menabrak.

"Ada apa ya, Mbak?" tanyanya seraya menoleh ke belakang.

"Maaf ya, Pak."  Ia pun baru teringat dan ingin mampir terlebih dahulu ke Rumah Sakit karena anak semata wayangnya yaitu Jonathan masih dirawat di rumah sakit karena penyakitnya yang kembali kambuh.

"Oh, tidak apa-apa kok, Mbak" ucapnya santai.

"Maaf ya, Pak. Saya baru ingat, bisa putar balik ga? Sepertinya saya harus pergi ke Rumah Sakit dulu," tanya Audrey sambil melongokan wajahnya ke depan.

"Oh, tentu boleh kok, Mbak. Emangnya Rumah Sakit mana ya?" tanya pak sopir seraya menoleh melihat wajah Audrey yang amat berantakan itu dari kaca spion atasnya. Seraya langsung memutar kemudi untuk memenuhi permintaan sang penumpang, yang merupakan penumpang pertamanya di pagi itu.

"Rumah Sakit Medika Sentosa ya, Pak." jawab Audrey dengan suara yang amat lesu tak bertenaga. Sambil membuka layar ponselnya ia pun menyamankan posisi duduknya.

"Oh, baik mbak. Tak jauh dari sini memang kalau Rumah Sakit itu sih," pungkasnya kembali menginjak pedal gasnya.

"Iya, Pak" jawab Audrey lagi. Pandangannya pun nanar menyapu suasana di sepanjang jalan, di pagi hari yang sangat cerah, namun tidak untuk hatinya.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 20 menit akhirnya ia pun tiba di halaman Rumah Sakit.

"Terimakasih ya, Pak" Audrey pun keluar dan membayar tarif taksi tersebut dengan sebelah tangan meraih tasnya. Ia pun masuk ke halaman Rumah Sakit untuk segera melihat keadaan sang buah hati yang telah dua hari dirawat disana.

Dengan berjalan lesu, ia pun membuka pintu ruang rawat inap Jonathan.

"Mama," lirih bocah itu dengan selang infus yang masih tertempel di tangannya. Ia sangat senang melihat kehadiran ibu tercintanya itu yang ia tunggu dari tadi.

"Hai, Jo. Sayang kamu sudah bangun, nak?" Audrey pun berlari dan langsung mengecup kening bocah ganteng kesayangannya itu. Bocah yang baru berumur 4 tahun itu mengidap masalah serius pada jantungnya sehingga ia sering bolak-balik masuk Rumah Sakit. Hal itu pun membuat Audrey sangat sedih, dan itu alasan kenapa ia harus terus berjuang bekerja untuk mendapatkan uang demi pengobatan sang buah hati.

"Sudah Mama, Jo kangen, Ma!" Serunya begitu nyaman dalam pelukan sang ibu.

"Oh iya, Jo. Kenapa kamu sendirian di sini?  Hm, papamu mana, bukannya dia harus menemani kamu di sini semalam tadi?" tanya Audrey yang heran seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu, tapi tak melihat batang hidung sang suami.

"Jo, ga tau Papa dimana, Ma." jawab bocah itu sambil menggeleng lemah.

"Tega banget sih dia, sudah tau anaknya sedang sakit begini. Tapi dia malah menghilang, apa yang sebenarnya yang sedang dia lakukan sekarang?" gumam Audrey sambil mengelus rambut Jonathan dengan penuh kelembutan seorang ibu.

Ia sangat sedih melihat tubuh Jonathan yang makin kurus dari hari ke hari.

"Papa tak ada, dan Mama pun tak ada. Jo sangat merasakan sepi," celoteh Jonathan sambil merengut.

"Iya nak, maafkan Mama ya, karena tak bisa menemani kamu tadi malam," ucap Audrey kembali mengecup pipi Jonathan.

sembari duduk Audrey kembali mengingat kejadian 2 hari yang lalu.

Tepat tengah malam, penyakit Jonathan pun kembali kambuh. Kondisinya kembali melemah.

"Ayo dong, Pa. Kita harus segera membawa Jo ke Rumah Sakit sekarang juga!" teriak Audrey yang tertatih menggendong Jonathan yang kembali pingsan.

"Haduh, telpon taksi online aja deh atau apa kek, ganggu orang lagi cape aja kamu tuh!" bentaknya seraya menenggak sebotol minuman rasa teler di tangannya.

"Hei, ngomong apa sih kamu? Ini anak kamu sendiri lho, kamu bisa bicara seperti itu dalam keadaan gawat seperti ini!" teriak Audrey tak habis fikir dengan ucapan sang suami yang malah merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya dengan keadaan yang sangat kacau itu.

"Panggil taksi, pliss ga usah ribet lah! Ini sudah malam." teriaknya sekuat tenaga. Membuat jantung Audrey kian terpacu kencang tak sanggup lagi untuk menahan amarahnya. Karena memiliki suami yang tai peduli dengan anaknya sendiri.

"Dalam keadaan yang sangat gawat seperti ini, tapi kamu bisa cuek begitu, heran aku." gerutu Audrey dengan wajah yang memerah.

"Argh bawel, kenapa sih mulut cewek itu hobinya ngoceh terus sampe berbusa! Pusing aku mendengar ocehanmu itu" teriaknya lagi semakin meracau.

"Dasar suami ga bertanggung jawab, nyesel aku menikah denganmu. Jonathan sakit keras seperti ini pun kelakuan kamu sama sekali ga berubah, pa!" teriak Audrey kesal.

"Suruh siapa punya anak yang sakit-sakitan seperti itu, dan malah menghabiskan uang kita!" teriaknya sambil meneguk habis minumannya.

"Ga pantes kamu jadi seorang ayah. Ga punya hati nurani kamu itu, jahat!" balas Audrey tak kalah geram.

Prangg

Seketika botol itu ia lemparkan, tepat menabrak dinding dan satu serpihan pecahan tajam itu mengenai kaki Audrey yang masih berdiri disana.

"Awww," pekik Audrey meringis karena pecahan beling tertancap di betisnya.

"Sudah pergi sana. Ngantuk aku ingin tidur!"

"Sialan, seperti orang yang kerasukan setan gondrong kamu itu," Audrey mendengus sangat kesal dan mencabutnya perlahan. Dengan tetesan darah dari lukanya itu ia merasakan perih. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan lelaki itu yang tak lain adalah  suaminya yang telah menikahinya 6 tahun yang lalu ia bernama Jordan. Rumah tangga yang ia bayangkan akan penuh kebahagiaan dan harmonis. Namun ternyata berbanding terbalik dengan kenyataannya dengan sikap Jordan yang selalu kasar. Ia kerap memaki dan juga tak bertanggung jawab untuk kehidupan rumah tangganya.

Audrey segera menggendong Jonathan keluar rumah, dan berjalan tertatih untuk mencari Taksi atau pun angkutan umum, yang penting ia bisa membawa Jonathan segera pergi ke Rumah Sakit.

Bagaimana tidak, ibu mana yang tak kalut melihat keadaan anaknya yang memprihatinkan seperti itu, di tambah dengan sikap Jordan yang selalu membuat dirinya semakin sakit dan geram.

Bab 3

"Bu, Audrey itu Jo kenapa lagi?" tanya Ricko tetangganya yang baru saja pulang kantor, ia menepikan mobilnya tepat di hadapan Audrey yang sedang menggendong Jonathan.

"Jo, kambuh lagi, Mas! Saya mau ke Rumah Sakit sekarang." jawab Audrey dengan wajah yang amat gelisah.

"Waduh, kasihan sekali. Ayo, masuk saja. Biar sekalian saya antar!" seru Ricko yang membuka pintu mobilnya.

"Terimakasih banyak ya, Mas." ucap Audrey yang memeluk erat sang buah hati. Ia masik ke mobil Ricko.

"Tak apa, itu lah tugas tetangga. Harus saling menolong" pungkas Ricko seraya menutup kembali pintu mobilnya perlahan.

Ia berlari memutar badan untuk kembali ke ruang kemudi.

"Jo sakit lagi ya?" tanya Ricko ikut iba memandang Jonathan yang terkulai lemas seperti itu.

"Iya, Mas. Seperti biasanya dia suka kambuh." Jawab Audrey dengan senyum tipisnya menoleh pada Ricko yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.

"Kasihan sekali kamu, Jo. Hm, mudah-mudahan kamu cepet sembuh dan baik-baik saja" ucap Ricko merasa tak tega harus melihat anak sekecil itu yang sudah menderita akibat penyakitnya.

"Iya, makasih Mas," ucap Audrey yang merasa tak enak.

"Memangnya ayah Jo, kemana?" tanya Ricko lagi.

"Ada kok Mas, di rumah hanya diam saja dan malah cuek, walaupun melihat keadaan anaknya seperti ini. Dia malah santai seperti tak memiliki beban" pungkas Audrey sambil menunduk, seraya mengusap usap terus punggung Jonathan.

"Astaga kok bisa seperti itu," Ricko hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dari Audrey.

"Iya gpp Mas, memang sudah biasa." pungkas Audrey tersenyum kelu.

"Hmmm," Ricko hanya bisa menghela nafas panjangnya sungguh tak tega melihat ibu satu anak itu.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, mereka pun tiba di halaman Rumah Sakit Medika Sentosa, Rumah Sakit langganan Jonathan sedari bayi.

"Makasih banget ya, Mas!" ucap Audrey seraya menoleh.

"Sama-sama, Bu. Tapi maaf, karena saya ga bisa ikut untuk mengantarkan Jo masuk ke dalam, karena saya tadi ga bilang dulu pada istri saya di rumah." ucap Ricko.

"Oh, gpp. Ga masalah. Hati-hati di jalan ya, Mas" Audrey pun langsung keluar dari mobilnya untuk segera menuju ke dalam.

Mobil Ricko pun segera berlalu meninggalkan halaman Rumah Sakit besar tersebut.

Dengan sigap paramedis pun langsung menangani Jonathan.

Hari pun berganti.

"Ma," lirih Jonathan mengusap rambut sang ibu yang tertidur dengan posisi terduduk di kursi samping ranjangnya.

"Hm," Audrey pun mengucek kedua matanya seraya tersenyum melihat Jonathan yang terbaring lemah itu.

"Ma, Mama ngantuk ya?" tanya bocah itu dengan suara yang pelan.

"Iya sayang, Mama ngantuk banget. Hm, dari tadi Jo lihatin Mama bobo ya?" tanya Audrey lembut seraya mengusap wajah Jonathan.

"Iya, Jo kan suka lihatin Mama kalau lagi bobo," jawabnya sambil tersenyum.

"Hmm, masa? Emang kenapa, kok bisa gitu?" tanya Audrey menyimak apa yang akan di katakan oleh sang putera.

"Abisnya Mama Jo kan cantik sekali." jawabnya datar sambil menangkupkan kedua tangan kecilnya di pipi Audrey.

"Maniss sekali, sayang." ucap Audrey yang sangat lah terharu mendengar ucapan tulus si buah hati. Ia pun mendaratkan kecupannya di kening Jonathan.

Tak berselang lama suster Alina pun memasuki ruangan, dengan membawakan satu nampan menu makanan sehat untuk sarapan Jonathan dan juga obat yang harus ia minum di pagi itu.

"Makasih ya, Sus" ucap Audrey yang langsung menerima nampan itu.

"Iya, sama-sama, Bu. Dihabiskan ya Jo, supaya cepat sembuh!" seru Suster Alina yang telah akrab dengan Jonathan. Dengan lembut ia mengunyel pipi Jonathan gemas.

"Iya, makasih Sus cantik!" celoteh Jonathan dengan mengacungkan finger heart membuat Audrey dan Suster Alina tertawa melihat tingkah laku lucu bocah tampan yang menggemaskan itu. Yang masih bisa berkelakar di tengah kondisi tubuhnya yang lemah.

"Permisi, bu Audrey. Saya harus melanjutkan tugas saya kembali" ucap Alina.

"Iya, silahkan Sus." pungkas Audrey yang lanjut menyuapi Jonathan.

Suster Alina pun segera kembali meninggalkan ibu dan anak itu, yang telah lama menjadi pasien langganan di Rumah Sakit tersebut.

Setelah selesai menyuapi dan memberikan obat untuk Jonathan, anak itu pun kembali tertidur. Audrey dengan perlahan menyelimutinya membuat perasaannya sedikit lega.

Dan ia pun kembali ke ruangan Dokter Shania. Untuk mengetahui tentang kondisi terkini Jonathan.

Tok

Tok

"Silahkan masuk, " ucap Dokter Shania.

"Permisi, Dok. Lagi sibuk kah?" tanya Audrey.

"Tidak kok, Bu. Silahkan duduk" ucapnya.

"Gimana keadaan Jo, Dok? Apakah ada perkembangan yang bagus?" tanya Audrey sangat gugup. Seraya menarik kursi dan kemudian duduk.

"Maaf ya Bu Audrey, saya akan katakan ini sebelumnya, Bu. Dengan sangat berat hati, karena keadaan Jonathan memang sangat parah dan sesegera mungkin dia harus dioperasi." jawab Dokter Shania sambil menahan nafasnya, ia kembali menunjukkan beberapa lembar berkas hasil pemeriksaan kondisi jantung Jonathan.

"Separah ini kah, Dok? Apa tak ada jalan keluar lain selain tindakan operasi?" tanya Audrey lagi dan lagi air matanya harus lolos membanjiri pipinya.

"Ya, memang ini sulit dengan resiko yang cukup besar pula, tapi memang tak ada solusi lain, Bu." jelas Dokter Shania, ia pun merasa iba pada ibu satu anak di hadapannya itu. Bagaimana hancurnya hati dan perasaan seseorang ibu melihat kondisi anak semata wayangnya yang hari demi hari semakin bertambah memburuk.

"Lalu bagaimana dengan biayanya, kira-kira berapa ya, Dok?" tanya Audrey dengan jantung yang berdebar kencang, karena ia tahu pasti bahwa biayanya akan sangat besar. Padahal, selama ini sudah cukup banyak uang yang ia habiskan untuk biaya perawatan Jonathan. Hingga banyak aset-aset miliknya yang telah habis terjual.

"Ini," Dokter Shania pun memberikan rincian untuk biaya operasi, perawatan dan lain sebagainya. Hal itu untuk membuat mata Audrey membulat sempurna. Karena ia tak mungkin mendapatkan uang dengan nominal sebanyak itu hanya dalam satu hari.

Dan memang hal yang percuma juga jika ia mengatakan semua itu kepada sang suami yang jelas-jelas tak peduli dengan keadaan anaknya itu

*****

Di kediaman Audrey.

"Cepat pakai pakaian itu, karena kamu harus tampil seksi dan cantik malam ini!" teriak Jordan yang melemparkan sebuah gaun slim fit berwarna hitam tepat di wajah Audrey yang sedang duduk di atas kasurnya.

"Apa maksudnya ini, perasaan baru saja aku bilang bahwa Jonathan membutuhkan uang yang sangat banyak untuk biaya operasinya? Lalu, apa ini? Apa maksud kamu aku tak mengerti" tanya Audrey semakin heran dengan tingkah sang suami.

"Jangan banyak omong!"

"Apa sih maksudnya?" cecar Audrey masih tak mengerti ia mengacungkan gaun seksi itu di tangannya.

"Segera pakai itu dan berdandan lah yang rapi dan cantik. Karena kamu harus memuaskan seseorang malam ini!" titah Jordan sambil berkacak pinggang.

"Hah, kamu sudah gila?" Audrey terperanjat dan berdiri menatap nyalang wajah Jordan.

"Jangan banyak tanya, lakukan saja, dan kita bisa mendapatkan uang yang banyak untuk biaya operasi Jonathan." pungkasnya datar.

"Apa? Jadi, kamu mau menjual istri kamu sendiri pada pria lain, Pa?" tanya Audrey dengan mata yang membola. Ia sontak terkejut setelah mendengar penuturan yang keluar dari mulut sang suami.

"Ya, lakukan demi anak kita,"

Audrey kembali menjatuhkan diri di atas kasur, sontak tubuhnya pun lunglai tak berdaya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED