Ini terdengar seperti sebuah petir di siang bolong. Impian yang hampir saja tercapai mendadak musnah dan harus dilepaskan. Di sudut ruangan kamarnya yang penuh barang berserakan, Clara tersungkur memeluk kedua lututnya sambil terisak. Tubuhnya tergunjang, hatinya bergetar hebat.
"Kalian egois!" seru Clara sambil menendang sebuah benda yang ada di lantai.
Kini Clara mendongak dengan kedua kaki selonjor dan kedua tangan kemudian menangkup wajah.
"Selalu saja aku yang dikorbankan!" seru Clara lagi.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara beberapa langkah kaki beriringan mendekat dan berhenti setelah masuk di kamar Clara yang bak kapal pecah.
"Cukup, Clara!" teriak suara serak dari ambang pintu. "Kau tidak usah mengamuk seperti ini!"
Clara membuka kedua telapak tangan dari wajahnya hingga kini bisa melihat dengan jelas siapa yang sudah berada di dalam kamarnya. Ayah dan ibu sudah melangkah masuk, sementara di belakang mereka terlihat sosok pria belasan tahun memasang wajah iba.
Clara kini mengusap wajah lalu berdiri tegak menatap wajah kedua orang tuanya bergantian. Tadi, sebelum kamar ini berantakan, sudah lebih dulu terjadi adu mulut ruang tamu.
Perdebatan antara anak dan orang tua yang pada akhirnya berujung pertengkaran.
"Kenapa harus aku, Ayah?" kata Clara dengan mata memerah. "Kenapa?"
"Karena memang harus kau!" jelas Bill. Di sampingnya, sang istri tengah memegang lengannya coba untuk menenangkan.
"Karena Cloe, kakakmu! Kau harus mengalah padanya!" sambung Bill lagi.
Clara mendecih dan sedikit menelengkan kepala. "Mengalah? Ini bukan mengalah, Ayah. Ini tidak jauh berbeda dengan mengorbankan!"
Bill semakin mendekat. "Memang. Apa salahnya kau berkorban untuk keluargamu? Chloe sudah banyak berkorban, kau harusnya bisa balas budi."
Clara sungguh tidak menyangka kalau kedua orang tuanya tega berbuat seperti ini. Menyuruhnya menikah dengan kekasih kakaknya, apa-apaan ini? Clara ingin memaki tapi sama sekali tidak bisa.
Bagaimana kata ayah, memang Chloe sudah banyak membantu keluarga ini termasuk dengan kebutuhan sehari-hari. Untuk Clara, bukan berarti tidak membantu. Dia hanya sedang mengejar mimpi menjadi seorang designer. Dan betapa sedihnya saat mimpi itu hampir tercapai, Clara harus mundur.
"Tidakkah ayah dan ibu kasihan padaku?" Clara menatap mereka iba. "Aku sedang coba mewujudkan mimpiku. Kenapa kalian rusak?"
Saat Bill hendak maju dan mungkin akan memarahi Clara, Tania melerai dan menyuruh Bill diam dulu. Setelah itu, Tania yang maju menghampiri Clara.
"Sayang, kita hanya butuh bantuanmu," kata Tania sembari meraih telapak tangan Clara.
Clara buang muka dan diam-diam, air mata kembali menitik.
"Kalau keadaannya tidak mendesak seperti ini, ayah dan ibu tidak mungkin berbuat sampai sejauh ini padamu," sambung Tania lagi.
Bill ingin maju dan ikut bicara, tapi dengan cepat Tania melotot lalu memberinya kode dengan sebuah kedipan mata.
"Hanya kau yang bisa menolong keluarga kita saat ini," ujar Tania memohon.
"Apa tidak ada cara lain, Bu? Ini terlalu kejam menurutku." Pria yang semula berdiri di ambang pintu ikut bicara. Dia adalah Glen yang tak lain adalah adik Clara dan Chloe.
Clara dan Cloe adalah putri dari pasangan Bill Holand dan Tania Ricardo. Mereka berdua terlahir sebagai dua anak yang kembar. Tidak terlalu identik memang, jika di amati, banyak perbedaan diantara keduanya melalui sisi wajah.
Itu tidak penting sekarang. Sekarang adalah, bagaimana Clara harus menghadapi kehidupan yang sama sekali tidak sejalan dengan keinginannya.
Bill dan Glen sudah keluar meninggalkan kamar, dan kini hanya ada Tania dan Clara.
"Nasib keluarga kita ada di tanganmu, Sayang." Sekali lagi Tania coba terus membujuk. "Ibu tidak akan memaksa jika kejadiannya tidak sekacau ini."
"Lalu bagaimana dengan perasaanku?" Clara masih sesenggukan.
"Kau tepiskan dulu sekarang. Jangan berpikir ibu kejam, tapi ibu hanya tidak ada pilihan lain. Kakakmu sudah pergi jauh dan harus menggapai mimpinya yang tertunda."
Rania mendecih lalu membuang muka. Ia melepas genggaman tangan ibunya lalu menyeka air mata. Dalam hatinya Clara tengah memaki keadaan ini.
Chloe pergi tanpa penjelasan dan hanya mengatakan akan mengejar kesempatan menjadi model internasional yang memang selama ini ia impikan. Clara juga begitu, tapi kenapa harus begini. Selalu saja Chloe yang menang.
"Ibu harusnya tahu kalau aku juga sedang mengejar mimpiku menjadi designer," kata Clara tanpa menoleh.
"Ibu tahu. Ibu sungguh tahu, Sayang." Tania membalas. "Tapi impian kakakmu jauh lebih besar akan keberhasilannya dibandingkan dirimu."
Oh astaga! Kejam sekali ini. Kenapa rasanya sakit sekali?
Clara merasa hatinya sedang disayat-sayat hanya karena sekedar mendengar kalimat sang ibu. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa pilihkasih seperti itu? Clara tidak habis pikir.
"Terserah apa mau kalian saja, aku tetap akan kalah," kata Clara kemudian.
Diam-diam Tania tersenyum. "Apa itu artinya kau setuju?"
Huh! Ibu macam apa ini!
Tidakkah dia tahu hati ini sangat sakit?
Clara ingin memaki dengan sangat keras saat ini. "Ya." Namun hanya satu kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Clara.
Saat itu juga, Tania menghambur memeluk Clara dengan erat. "Terimakasih, Sayang."
Setelah ibu pergi dan hanya tinggal sendirian di dalam kamar, Clara kembali menggeram dan mengacak-acak rambutnya. Ketika melihat beberapa lembar kertas yang berserakan, Clara tertunduk dan diam.
Perlahan Clara turun hingga terjatuh lagi di atas lantai. Lembaran kertas itu ia pungunti lalu dipandangnya dengan derasnya air mata yang membasahi pipi.
Gambar-gambar gaun indah yang sudah ia rancang, kini tiada artinya. Keikutsertaan lomba hingga sampai di titik sepuluh besar harus ia tinggalkan begitu saja.
"Memang jahat!" teriak Clara. "Kalian jahat!"
Semua menjadi gelap dan Clara terjatuh pingsan tanpa ada yang tahu. Mereka--orangtua Clara--tengah bergembira karena akhirnya Clara mau menggantikan Chloe menikah dengan pria yang tak lain putra dari pasangan Josh Pedro dan Lilyana Wang. Mereka sepasang suami istri yang sudah sikenal banyak orang sejagad negara.
Mungkin, itu sebannya Bill dan Tania tidak berani melawan karena pada dasarnya perusahaan milik Bill bisa saja hancur karena dilengser pihak Josh.
"Aku rasa kalian memang kejam," kata Glen sebelum masuk ke dalam kamar.
"Kau tahu kalau ayah dan ibu tidak ada pilihan kan?"
"Itu karena kalian terlalu memanjakan Chloe sampai-sampai dia selalu berbuat seenaknya. Clara bukan hanya akan menjadi istri pria itu, tapi kalian juga harus ingat kalau Clara pastilah akan menjadi ibu dari anak Chloe yang sudah ditinggalkan di rumah konglomerat itu."
Bill dan Tania diam sejenak. Mereka tahu ini akan sangat berat untuk Clara. Namun, lagi-lagi rasa kasihan dan peduli itu tertepiskan oleh pentingnya perusahaan dan martabat yang harus diselamatkan.
"Dan kalian juga harus berpikir, apa nantinya pria itu akan menerima Clara dengan baik atau tidak. Sungguh tidak punya hati!"
Setelah berkata demikian, Glen pun menghilang masuk ke dalam kamar.
Bab 2
"Atur saja sesuka kalian," kata Noah sebelum menaiki tangga menuju lantai dua. "Asal ada wanita yang mau mengurus bayi itu, aku nurut."
Obrolan berakhir sejenak diikuti helaan napas dari empat orang yang duduk di ruang tengah. Ada Bill, Tania dan kedua orang tua Noah yang tidak lain adalah Josh dan Iily.
"Kalian sudah dengar jawaban dari putraku, kan?" Lily menatap serius. "Hari esok juga, maka langsungkan pernikahan untuk mereka."
"Baik, Tuan," jawab Bill dengan anggukan kepala.
"Ingat!" Kini Josh yang bicara. "Aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui akan hal ini. Jika mulut kalian berani berkoar, habislah kalian!"
Seperti itukah sifat seorang penguasa? Josh seorang presdir di sebuah perusahaan yang berpusat pada pembangunan gedung-gedung perkantoran maupun perhotelan yang sudah mendirikan berbagai anak perusahaan lainnya. Tiada yang tidak tahu dengan keluarga ini, akan tetapi mengenai kehidupan sang putra belumlah banyak yang tahu.
Noah Pedro, itulah namanya. Pria gagah berpawakan tinggi dengan bibir tidak terlalu tipis. Senyumnya yang sinis, terkadang bisa membuat setiap wanita luluh dan ingin memilikinya. Namun, tidak semudah itu untuk bisa menggapai hati sosok Noah. Selain dikenal pendiam, dia juga termasuk pria kejam. Ya, begitulah menurut kabar yang beredar.
Satu wanita yang berhasil meluluhkannya, dialah Chloe. Wanita pertama yang membuat Noah bersimpuh, dan pada kenyataannya dia juga yang membuat Noah terjatuh.
"Kau berani meninggalkanku, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kembaranmu!" Di depan jendela kaca, Noah berdiri dengan tangan mengepal kuat.
Usai melemaskan tulang rahang dan membuka kepalan itu, Noah berbalik kemudian menghampiri box ranjang kayu berbentuk kotak berukuran sekitar satu meter persegi kurang di dekat ranjangnya. Noah menundukkan kepala lalu mencengkeram tepian box tersebut dengan tatapan penuh arti.
"Kalau tidak ada dirimu, aku tidak perlu menikahi wanita itu," kata Noah saat memandangi bayi berumur sekitar satu bulan di dalam box tersebut.
"Untung saja kau laki-laki. Setidaknya aku masih punya hati."
Noah berbalik lalu keluar dari kamar tersebut. Ia melangkahkan kaki menuruni tangga, dan terlihat sudak tidak ada siapapun di ruang tengah. Noah membelokkan langkah menuju dapur lalu terlihatlah ayah dan ibu tengah makan malam.
"Kemari, Noah!" panggil Lily.
Noah acuh tapi akhirnya ikut duduk.
"Makanlah. Kau belum makan dari siang kan?" kata Lily.
Noah masih acuh dan hanya mengangguk.
Di hadapannya, Josh terlihat masih mengunyah makanan. Setelah tertelan dan meneguk air putih, Josh kini memandang ke arah Noah.
"Tidak perlu murung begitu," kata Josh. "Semua ini sudah menjadi resiko untukmu. Kau yang sudah memulai, kau juga yang harus bertanggung jawab."
"Aku sangat bertanggung jawab. Aku bahkan siap merawat bayi itu, jadi untuk apa menikah segala?"
Josh nampak menghela napas. Ia kembali meneguk air putih sebelum kembali bicara.
"Ayah tahu, tapi nama keluarga kita lebih penting. Ayah tidak mau keluarga ini tercoreng karena ulahmu!" Josh mendadak tegas.
Noah tahu ayahnya sangatlah keras kepala, Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sifat dirinya. Noah juga keras kepala, angkuh, dan tidak mau tertandingi.
"Apakah harus dengan menikah?" tanya Noah.
"Tentu saja," jawab Josh dengan cepat. "Ayah juga mau mereka bertanggung jawab. Biar bagaimanapun juga, bayi itu adalah cucu mereka. Dan menyangkut Chloe, ayah harap wanita itu menghilang selamanya."
Noah berubah datar. Ia membuang muka dan memilih menikmati makan malamnya yang terabaikan.
"Jangan bilang kau masih mencintainya." Kini Lily ikut bicara. "Ibu tidak mau ya, kalau kau terus-terusan memikirkannya!"
Klunting!
Noah menjatuhkan sendok di atas piring membuat ayah dan ibunya sedikit kaget. Tanpa bicara apapun, Noah berdiri lalu pergi begitu saja. Josh dan Lily saling pandang sebelum akhirnya sama-sama menghela napas.
"Kalau saja dulu dua nurut untuk tidak berhubungan dengan wanita itu, pasti kejadiannya tidak begini," kata Josh.
"Kau benar, dia memang keras kepala," sahut Lily. "Tidak jauh berbeda denganmu, wahai suamiku." Kalimat tersebut tentunya cuma Lily ucapkan dalam hati.
Beralih ke Noah, pria itu kini sudah berada di dalam mobil yang melaju. Noah menambah kecepatan hingga mobilpun berhenti di sebuah kelab malam.
"Datanglah! Temani aku minum."
Selesai bicara dengan seseorang di balik ponsel, Noah pun segera turun dari mobil. Ia menaikkan kancing hodienya lalu menangkupkan tudung di atas kepala. Noah tidak mau ada orang yang tahu dirinya berada di sini.
Sampai di dalam, Noah masuk ke ruang vip. Dia duduk di sana dengan berbagai macam minuman. Tidak lama setelah duduk, terdengar pintu terbuka.
"Cepat sekali," kata Noah.
Wanita yang baru masuk itu segera ikut duduk. Ia meletakkan tas di ruang kosong di sampingnya lalu tanpa menjawab pertanyaan Noah lebih dulu, dia justru meneguk minuman kaleng dengan lahap.
"Kau kesurupan?" cibir Noah.
Wanita bernama Angela itu terlihat melotot dan meletakkan kaleng minuman itu cukup keras di atas meja. "Aku haus."
"Tapi tidak perlu sampai meneguk cepat begitu, kalau kau tersedak bagaimana?"
"Tidak akan," sahut Angela enteng. "Ada apa kau memintaku datang?"
Noah membuang napas lalu duduk bersandar dengan kedua tangan telentang. Angela yang melihat reaksi itu sudah bisa menebak-nebak apa yang kemungkinan terjadi.
"Jadi benar?" tanya Angela.
Dengan malas, Noah mengangguk. Ia kini terduduk sedikit mencondong sambil meraup wajahnya sesaat. "Ayah ibuku terus memaksa. Aku tidak bisa menghindar."
Terlihat jelas ada raut masam di wajah Angela. "Kapan?"
"Besok."
Angela tidak bereaksi apapun selain mendesah dan bersandar. Ia seolang enggan dan tidak suka mendengar berita ini.
"Kenapa kau diam saja!" sungut Noah. "Aku datang untuk meminta bantuanmu."
Angela mendengkus. "Memang aku bisa apa?"
"Setidaknya berilah aku solusi!"
"Kau tahu keluargamu itu sangatlah berkuasa. Kau sendiri tidak bisa melawan, bagaimana aku?"
Noah kembali membuang napas. Memang benar, nama Josh Pedro terlalu mustahil untuk dilawan sekalipun itu putranya sendiri. Siapapun yang memulai masalah, maka harus siap bertanggung jawab. Begitulah prinsip keluarga Pedro.
"Jadi, kalau sudah begini aku tetap akan menikah?"
"Yap! Memang apa lagi. Toh mereka kembar, meski bukan Chloe si cinta matimu itu, wanita itu tetap mirip dengannya. Benarkan?"
"Brengsek!" sembur Noah. "Kau pikir sesimple itu?"
Angela angkat bahu. Ia seolah enggan membahas pernikahan dadakan yang akan terjadi pada Noah di hari esok. Andai saja Noah tahu bagaimana perasaan Angela sedikit saja, mungkin Angela tidak terlalu sakit.
"Lama aku menanti kesempatan ini, tapi nyatanya tetap kau tidak akan bisa aku miliki."
"Hei!" Noah menjentikkan jari di depan wajah Angela yang tengah melamun. "Kenapa diam saja! Bantulah sahabatmu ini!"
"Kau turuti saja kemauan kedua orang tuamu. Hanya itu jalannya saat ini."
Noah tidak lagi bisa berkata-kata, karena pada akhirnya memang pernikahan itu tetap akan terjadi.
Bab 3
Pernikahan sudah tidak terhindarkan. Di sebuah kamar, Clara sedang dihias secantik mungkin seperti seorang pengantin pada umumnya. Clara duduk di depan cermin, menatapi pantulan wajahnya sembari meremas-remas jemarinya sendiri. Di sampingnya, ada seorang penata rias yang begitu telaten merias wajahnya.
Meski nampak cantik, semburat wajah sendu dan pias tidak bisa terelakkan. Clara gugup, takut, panik dan juga ingin berlari. Namun, dia seperti sudah diikat dengan tali yang begitu kuat.
"Nona sangat cantik," puji penata rias pada Clara.
Clara kembali menatap dirinya dari pantulan cermin dan sedikit melengkungkan senyum. Ingin menangis, huh! Itu sungguh tidaklah mungkin. Martabat dan kondisi keluarga yang dipertaruhkan di sini.
Sementara di ruangan lain, Noah sudah siap dengan setelan jas berwarna putih yang senada. Wajahnya yang gagah rupawan, akan segera memukau para tamu undangan. Bukan sekedar karena pria tampan yang mereka kagumi, akan tetapi sosok Noah yang tertutuplah yang membuat para tamu tidak sabar menunggu di luar sana.
"Cih! Aku akan menikah." Noah melengos dari hadapan cermin persegi panjang. Ia menarik jasnya lebih erat, kemudian berjalan keluar.
"Anda sudah siap?" tanya Daniel selaku asisten pribadi Noah.
Noah hanya memberi anggukan kemudian kembali melangkah. Tak jauh di hadapannya, wanita berparas cantik dengan dress mocca tengah mendekat.
"Wah! Wah!" Angela menggelengkan kepala sambil menahan senyum. Kedua tangannya tak lupa bertepuk tangan. "Sungguh gagah calon pengantin di hadapanku."
"Sialan kau!" sembur Noah.
"Pengantinmu sudah siap," kata Angela kemudian.
Noah tidak menjawab melainkan kembali berjalan menuju ruangan yang sudah disiapkan.
Sampai di tempat yang akan digunakan untuk mengucapkan janji suci, Noah sudah berdiri di samping sang pendeta. Tidak jauh darinya, berdiri kedua orang tuanya yang melengkungkan senyum. Sementara di sepanjang red carpet, sedang melangkah seorang wanita bergaun putih dengan ditutup kain tutu di bagian wajah. Dia berjalan dengan elegan di gandeng sang ayah.
Setiap pasang mata yang menghadiri acara pernikahan ini, nampak terkagum-kagum melihat betapa cantiknya rupa Clara meski masih samar-samar tertutup kain tutu. Mereka sangatlah penasaran seperti apa jika kain itu terbuka. Pastilah sangat cantik dan luar biasa.
"Apakah wajahnya sungguh seperti Chloe?" batin Noah sembari terus mengamati langkah Clara yang kian mendekat.
Dan detik berikutnya, Bill melepaskan sang putri saat sudah sampai di hadapan sang pendeta dan calon suami. Sudah berdiri di hadapan Noah sambil memegang buket bunga, Clara mulai gemetaran. Keringat dingin mulai terasa di sela-sela jarinya.
"Diakah pria bernama Noah?" batin Clara. "Tampan. Em, tapi dia terlihat garang. Alasan apa sampai Chloe meninggalkannya? Benarkah hanya sekedar ingin menggapai mimpi?" Clara masih saja membatin sampai tidak mendengar panggilan dari sang pendeta.
"Apa Nona sudah siap?" tanya pendeta.
Clara nampak gelagapan. "I-iya, aku siap."
"Sangat mirip, sungguh mirip. Dia mengingatkanku pada Chloe." Kini Noah yang membatin.
Pengucapan janji suci pun segera dilaksanakan. Sang pendeta dengan khidmat mempersatukan dua insan hingga menjadi sepasang suami istri yang sah.
"Sudahkah?" batin Clara usai cincin berlian melingkar di jari manisnya. "Sudahkah aku sah menjadi suaminya?" sambungnya lagi.
Ya, semua sudah terjadi. Clara milik Noah, pun sebaliknya. Sebuah pernikahan yang sama sekali tidak mereka berdua sangka-sangka.
Riuh tepuk tangan pun kini terdengar nyaring di telinga mereka berdua. Dan di saat sesi sang pendeta mempersilahkan pengantin pria untuk mencium pengantin wanita, di saat itulah semua terasa terhenti. Jantung berdegup kencang, panik dan bingung dirasakan Clara.
Sementara di hadapan Clara, dengan santainya Noah sudah membuka kain tipis yang menutupi wajah dan siap mrmberi sebuah ciuman untuk Clara.
"Astaga! Ini terlalu dekat!" batin Rania sambil menggigit bibir.
Begitu wajah Noah semakin dekat, dan tinggal menunggu detik hingga bibir itu saling bersentuhan, tiba-tiba Rania mundur.
"Lakuan saja saat hanya berdua."
Sontak semua tamu tertawa dengan perkataan Clara. Tidak terasa kedua pipi Clara pun memerah menahan rasa malu. Sementara Noah, dia diam-diam mengamati raut wajah Clara.
"Dia berbeda, sungguh beda," kata Noah dalam hati.
Kini beralih pada para tamu undangan bergiliran mengucapkan kata selamat pada sepasang pengantin baru. Mau tidak mau, mereka berdua harus melengkungkan bibir membentuk senyuman.
Setelah acara selesai dan para tamu undangan sudah pergi, keluarga dari kedua mempelai mengantar putra putri mereka di halaman rumah untuk menuju rumah baru yang akan mereka tinggali.
"Selamat ya, sayang." Lily mencium kedua pipi Clara bergantian. "Selamat menempuh hidup baru."
Clara yang gugup hanya mengangguk dan tersenyum.
"Semoga kalian bahagia," imbuh Josh sambil menepuk pundak Noah.
Sudah berpamitan, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil yang sudah dipersiapkan. Satu mobil dengan hiasan bunga besar di bagian punggung dan pita-pita cantik yang mengitarinya.
Di dalam perjalan, tentu saja tidak ada sebuah percakapan. Entah Noah maupun Clara, mereka sama-sama diam. Begitu mobil memasuki area halaman rumah mewah nan megah, Clara sedikit menundukkan kepala ke arah jendela kaca mobil.
"Inikah rumahnya?" batin Clara penuh rasa kagum. "Besar sekali?"
Dalam keadaan terkagum-kagum, beberapa orang yang berpakaian sama datang berlari mendekat ke arah mobil. Mulanya Clara nampak bingung dan takut, tapi setelah menyadari siapa mereka, Clara pun semakin terkagum.
"Selamat datang, Tuan Noah dan Nona Clara?" Mereka bersamaan menyambut kedatangan Noah dan Clara.
Clara yang heran hanya tersenyum tipis. Sungguh keluarga Noah sangatlah kaya raya. Bisa Clara hitung, kemungkinan ada lima lelayan wanita dan empat pelayan pria.
"Pst! Apa mereka semua ini pelayanmu?" Clara menarik baju lengan Noan dan berbisik.
Noah hanya menoleh dan memberi tatapan aneh. Clara yang sadar sudah ceroboh karena bertanya, akhirnya mendecih dan buang muka.
"Dia sungguh mengerikan!"
"Apa dia baru saja menjelekkanku?" batin Noah sembari melirik Clara yang berjalan di sampingnya. "Kau bahkan jauh lebih pendek dari Chloe! Cih! Sungguh bukan wanita idaman."
Oh astaga! Clara kembali terkagum-kagum begitu sampai di dalam rumah tersebut. Saking bagusnya, Clara tidak akan bisa menjelaskan apa yang ia lihat saat ini.
Noah yang cuek kini berjalan menaiki tangga menuju lantai dua tanpa mengajak Clara. Clara yang memang enggan ikut malah hanya diam saja dan masih menyapu pandangan pada setiap dekorasi di dalam rumah ini.
"Mari saya antar, Nona." Salah satu melayan mengajak Clara ikut menaiki tangga.
"Em, aku di sini saja."
"Tapi kamar Nona ada di atas," ujar pelayan tersebut.
Clara terdiam sebentar memandangi punggung Noah yang sudah jauh di atas sana.
"Apa aku sekaram dengannya?"
"Tentu saja, Nona."
"Eh!" Clara segera menepuk bibirnya yang ternyata berkata terlalu keras.
"Mari, Nona." Pelayan itu kembali mempersilahkan Clara segera menyusul Noah.
"I-iya, baiklah."
***