Bab 1

"Bagaimana bisa hah menjaga satu orang saja kalian tidak bisa, bahkan kalian lebih bodoh darinya." ucap wanita seksi dengan dua buah jeruk yang menyembul sambil memegang kipas di tangannya."Jika seperti ini maka aku akan rugi, cepat cari dia jangan sampai kalian gagal lagi."mengibaskan tangannya.

Para bodyguard pun segera mencari keberadaan seseorang yang sudah di bayar mahal oleh pendatang yang kaya raya. Sementara wanita seksi itu pun menghampiri seseorang yang sudah sejak tadi menunggunya.

"Maaf Tuan, sepertinya gadis itu lari tetapi Tuan tenang saja, saya sudah menyuruh bodyguard saya untuk mencarinya." ucapnya dengan hati-hati.

Seseorang itu pun murka lalu ia pun menampar wanita seksi itu dan membuatnya sedikit oleng, ia pun memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari seseorang itu.

Dia pun melangkah pergi, dan menyuruh bodyguardnya untuk mencari gadis itu, sementara seorang gadis sedang bersembunyi di antara guci yang berjejer rapi di rumah bordil itu ia sangat ketakutan. Tarikkan napasnya seirama dengan bahunya yang ikut naik turun, ia begitu takut karena para bodyguard dari wanita seksi itu masih saja mencarinya.

"Tuhan tolong aku, aku tidak mau di jual kepada pria botak itu." gumamnya sambil merapal doa.

Setelah mencari ke seluruh ruangan dan tidak menemukan apapun lalu para bodyguard itu segara keluar dan mencari ke tempat lain, gadis itu pun menghembuskan napas lega setidaknya ia aman untuk saat ini. Tanpa menunggu lama lagi, ia pun segera keluar dan berlari untuk ke rumah Paman dan Bibinya.

Ia pun terus berlari tanpa melihat ke arah depan lalu salah tau bodyguard itu melihat gadis yang mereka cari lalu mengejarnya, merasa tidak aman lagi gadis itu pun semakin menambah kecepatan larinya.

Hingga menabrak seseorang dan membuat ia pun terjatuh duduk dan gadis itupun mendongkakkan kepalanya.

"Tuan tolong aku." ucapnya dengan tatapan memelas.

Lalu para bodyguard itu pun segera menghampirinya dan gadis itu semakin ketakutan ia pun semakin mencengkram kaki seseorang yang ada di hadapannya.

"Tuan tolong aku, aku tidak ingin ikut dengannya." ucapnya lagi.

Seseorang itu hanya menatap datar tidak menjawab apapun, para bodyguard itu pun semakin dekat membuat gadis itu semakin ketakutan.

"Hei, gadis itu milik kami cepat berikan." ucapnya dengan lantang.

"Cck merepotkan, ambil saja aku tidak suka ada keributan di sini apa lagi. Berhubungan dengan bocah bau kencur ini." ucapnya seolah tidak peduli dengan gadis yang sedang menatapnya.

Gadis itu menggelengkan kepalanya ia benar-benar takut jika harus melayani pria botak itu, salah satu bodyguard pun maju sayangnya ia kalah cepat dengan bersamaan ada suara tembakan yang membuat gadis itu pingsan.

Sang asisten pun segera mengambil alih pistol itu dengan sapu tangan agar menghilangkan sidik jari itu, seseorang itu pun membalikkan badannya tetapi sang asisten tidak tega melihat gadis itu pingsan.

"Tuan, gadis ini pingsan? Apa sebaiknya kita bawa kerumah." ujarnya dengan hati-hati.

"Cck merepotkan, iya sudah cepat bawa lalu bereskan orang-orang yang tidak berguna itu." ucapnya lalu ia pun meninggalkan asistennya.

Sementara pria botak sudah gelisah sedari tadi karena para bodyguardnya belum juga kembali, lalu seseorang masuk dan pintu di buka lebar ia pun masuk ke dalam ruang keluarga milik wanita seksi itu.

Wanita seksi itu terkejut lalu ia pun segera menghampirinya seperti biasanya wanita seksi itu selalu bermuka dua dan bergelayut manja di lengan seseorang itu.

"Tuan Muda Jhason, kebetulan sekali anda datang ke sini. Aku membutuhkan bantuanmu." ucapnya dengan manja.

"Apa lagi yang kurang hah, Ferisa. Kau menginginkan rumah bordil ini bahkan aku sudah memberikannya." ucapnya terdengar kesal.

Ferisa tersenyum manis lalu ia pun memeluk erat lengan Jhason, tatapan mata Jhason tertuju pada pria paruh baya dan juga botak yang sedang menatap ke arah mereka berdua.

"Kau sedang apa disini?"

Belum sempat menjawab, para bodyguard dari pria botak itu menghampirinya dan menceritakan tentang kejadian di lorong tadi. Karena salah satu dari bodyguardnya ada yang menebaknya, membuat pria botak itu semakin kesal dan juga geram.

"Apa? Siapa yang berani menghabisinya hah cepat katakan!" ucapnya dengan penuh emosi.

Salah satu bodyguardnya tidak sengaja menatap ke arah Jhason dan membuat pria botak itu mengikuti tatapan dari bodyguardnya. Lalu pria botak itu menatap sinis ke arah Jhason, sedangkan Jhason hanya menatap biasa saja.

"Kau yang telah menghabisi para bodyguardku hah! Ada masalah apa kau denganku." ucapnya dengan sorot mata tajam.

Jhason diam saja ia tidak ingin menjawab pertanyaan dari pria botak itu, dan menatap Ferisa dengan datar tetapi Ferisa begitu senang melihat kedatangan Jhason sehingga ia melupakan masalahnya.

"Kenapa kau masih melakukannya? Apa ucapanku waktu itu tidak kau dengar."

"Maksudmu apa Tuan Jhason? Aku tidak mengerti."

Jhason berdecak kesal juga menggelengkan kepalanya, ia hanya bisa berpikir kenapa di dunia ini ada wanita yang begitu menyebalkan menurutnya.

"Kau tidak tahu atau kau bodoh hah! Aku sudah mengatakannya kepadamu jika kau ingin membawa gadis maka bawalah gadis yang layak bukan malah anak ingusan yang merepotkan." ujarnya dengan tajam.

"Maafkan aku Tuan, karena permintaan Tuan Chandra jadi aku menurutinya saja." jawab Ferisa dengan menundukkan wajahnya.

Ferisa tidak ingin di salahkan jadi ia melemparkannya kepada Tuan Chandra, membuat Tuan Chandra melotot melihat hal itu Jhason pun mengerti lalu ia pun segera melepaskan tangan Ferisa dari lengannya.

Jhason segera membalikkan badannya tetapi Tuan Chandra tidak terima dengan sikap Jhason, ia pun segera memanggilnya membuat Jhason terdiam.

"Hei, anak bau kencur cepat kembalikan gadis itu karena dia adalah milikku. Aku bahkan sudah membayar dengan harga yang sangat mahal." ucapnya dengan sombong.

Mendengar hal itu Jhason menatap tajam ke arah Ferisa dan membuat ia menjadi salah tingkah. Tak lama asisten Jhason pun datang, ia pun segera membungkuk hormat kepada Jhason lalu Jhason menegadahkan tangannya seolah meminta sesuatu kepada sang asisten.

Sang asisten pun mengerti lalu ia pun segera mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke Tuan Chandra, membuat Tuan Chandra menelan ludahnya begitu juga dengan Ferisa yang mulai ketakutan.

"K-kau mau apa hah! Jangan macam-macam denganku, aku yang berkuasa segalanya jadi jangan pernah meremehkanku." sahutnya dengan takut tetapi ia mencoba tetap tenang.

"Merepotkan." gumamnya.

Tanpa aba-aba Jhason pun segera menarik platuknya dan membuat Ferisa menutup kedua telinganya dengan lutut bergetar, setelah selesai dengan tugasnya ia pun segera memberikan pistol itu kepada sang asisten.

Jhason dan sang asisten segera membalikkan badannya untuk segera pergi, baru satu langkah ia pun berhenti lalu mengatakan sesuatu kepada Ferisa dan membuat ia pun semakin lemas saja.

"Mulai sekarang rumah bordil ini akan aku tutup, dan kau bisa pergi secepatnya jika nyawamu masih berharga maka cepat pergilah." ujarnya dengan datar.

Mendengar hal itu Ferisa lemas dan juga hatinya hancur, padahal sudah lama ia memimpikan rumah bordil ini namun pada akhirnya ia juga yang harus keluar. Setelah kepergian Jhason lalu Ferisa mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah jhason.

"Aku akan membalasnya." gumamnya.

Bab 2

Mentari telah bersinar kini gadis cantik itu sudah ceria lagi dan tidak terasa ia pun sudah satu bulan bekerja di rumah Tuan Jhason, Kara dialah gadis yang di selamatkan oleh Jhason saat di rumah bordil.

Seharian ini Kata di sibukkan oleh Kakak senoirnya dan membuatnya lelah tidak ada waktu untuk istrahat, Kara hanya bisa menggangukan kepalanya saja karena dialah yang paling muda di antara yang lainnya.

Seperti hari ini saat semua pelayan telah selesai dengan tugasnya tetapi tidak dengan Kara ia masih harus mengantarkan pakaian yang sudah selesai di setrika oleh pelayan lain lalu kepala pelayan Susi menyuruh Kara untuk mengantarkan pakaian milik Tuan Jhason.

Sebenarnya Kara ingin sekali menolak permintaannya tetapi kepala pelayan Susi memohon kepadanya, dan mau tidak mau Kara harus mengantarkan pakaian milik Tuan Jhason. Menarik napas dalam sebelum Kara masuk ke dalam kamar Tuan Jhason, ia pun mengetuk pintu terlebih dahulu dan sudah dia puluh menit Kara menunggu tetapi pintu belum di buka juga.

Dia pun mencoba membuka handel pintu perlahan menyembulkan kepalanya ia ingin tahu apa Tuan Jhason ada di dalam atau tidak, terdengar suara gemercik air di kamar mandi lalu Kara menghembuskan napas lega.

Akhirnya Kara pun masuk ke dalam kamar Tuan Jhason lalu ia pun meletakan pakaiannya, baru saja ia akan melangkah keluar lalu ada yang memanggilnya.

"Siapa kau?" ujar Jhason dengan menatap datar Kara.

Mendengar hal itu langkah kaki Kara pun terhenti lalu ia pun membalikkan badannya dengan sedikit membungkuk.

"Sa-saya Kara, Tuan." ucap Kara dengan tubuh bergetar."Tuan yang menyelematkan saya di rumah bordil itu."ucap Kara dengan menundukkan kepalanya.

Jhason sedikit mengerutkan keningnya lalu ia pun melangkahkah kakinya mendekati Kara yang sedang gugup, Jhason hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya hingga terlihat jelas roti sobek yang di idamkan seluruh kaum hawa.

Salah satu tangan Jhason menempel pada tembok dan tangan satu lagi memegang dagu Kara, ia ingin melihat sepolos apa gadis yang ia selamatkan perlahan-lahan Kara pun menatap wajah tampan Jhason dengan raut wajah yang begitu membingungkan bagi Jhason.

Dia melihat mata Kara sudah berkaca-kacs bahkan jika berkedip pun maka air mata itu siap meluncur bebas, sedangkan Kara sudah ketakutan melihat wajah Jhason yang menurutnya menakutkan.

"Bukankah wanita suka seperti ini." ucap Jhason ia memegangi dagu Kara dan juga menatapnya begitu dalam.

"Tuan, aku masih kecil bisakah kau lepaskan aku." jawab Kara dengan takut.

Lalu Jhason pun segera melepaskan tangannya dari dagu Kara dan Kara pun bisa bernapas lega, lalu ia pun menundukkan kepalanya dan bergegas keluar dari kamar Jhason.

Sebelum Kara menghilang di balik pintu Jhason pun memanggilnya kembali dan membuat langkah kaki Kara terhenti.

"Siapa namamu?" tanya Jhason memastikan.

"Kara, Tuan." jawab Kara, lalu ia pun tersenyum manis dan berlalu pergi.

Jhason pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dan tersenyum manis.

"Kara."

***

Sementara di kediaman Albert seorang pria paruh baya dan juga istrinya sedang membicarakan tentang masa depan putranya, hingga saat ini putranya pun belum juga menikah dan hal itu membuat kedua orang tuan renta itu harus berpikir kerasa bagaimana ia bisa mendapatkan jodohnya.

"Papa, bagaimana nasib putra kita, bahkan sampai sekarang pun ia belum menikah. Dia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu dan membuatku begitu khawatir." ucap wanita paruh baya itu yang begitu khawatir.

"Kau tenang saja, jika sampai hari ini anak itu belum mendapatkan jodohnya maka aku akan mengaturnya." ucapnya lalu memeluk erat sang istri.

Tak butuh waktu lama orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga lalu sepasang suami-istri itu tersenyum manis. Seseorang pun dan para pelayan saling menunduk hormat.

Lalu kepala pelayan menghampiri dan sedikit membungkukkan badannya."Selamat malam Tuan Muda, anda sudah di tunggu oleh Nyonya."

"Baiklah, terima kasih Paman Zhang."

Dia pun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dan di sana kedua orang tuanya sudah menunggu kedatangannya, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantornya ia pun di telepon untuk segera pulang ke rumah. Dan mau tidak mau pun ia akhirnya datang juga dengan sedikit paksaan dari sang ibu yang telah melahirkannya.

"Akhirnya kau datang juga Jhason." ucap Nyonya Ervina dengan tersenyum manis.

Jhason pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan ia pun segera duduk di hadapan kedua orang tuanya. Sedangkan Tuan Albert menatap datar ke arah putranya.

"Bisakah kau tidak bersikap seperti itu." ucap Tuan Albert menatap sang putra.

Jhason pun menjawab dengan entengnya dan membuat Tuan Albert kesal tetapi Nyonya Ervina melerainya, karena ada hal yang lebih penting daripada pertengkaran mereka berdua.

"Karena aku adalah kau, Papaku tercinta." jawabnya datar.

"Kau selalu saja."ucapan Tuan Albert pun langsung di potong oleh Nyonya Ervina.

"Cukup itu tidak penting, ada hal yang lebih penting." ucap Nyonya Ervina menatap keduanya dengan serius.

Jika Nyonya Ervina sudah mengatakan hal seperti itu maka kedua pria itu terdiam dan mulai mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Nyonya Ervina.

"Papa dan Mama sudah memutuskan jika kau akan di jodohkan dengan teman Mama, dan Papamu setuju. Jadi besok kau bersiaplah untuk bertemu dengan calon istrimu." ucap Nyonya Ervina menatap Jhason.

"Cck merepotkan." gumamnya, lalu Jhason pun terpikirkan sesuatu dan ia pun memberi tahu kedua orang tuanya."Aku sudah punya calon, Mama. Jadi kalian saja yang datang ke rumahku."

Mendengar hal itu pun kedua orang tua Jhason langsung melotot dan mereka berdua pun memastikan kembali dengan ucapan Jhason. Jhason pun mengangguk setuju, kedua orang tuanya pun bisa bernapas lega jika besok pagi kedua orang tua Jhason akan datang ke rumahnya.

Hari pun semakin sore lalu Jhason memutuskan untuk pulang ke rumahnya, bahkan ia tidak mau menginap di rumah orang tuanya dengan alasan pekerjaannya masih banyak.

Nyonya Ervina sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Jhason tetapi Jhason terus meyakinkan Nyonya Ervina, dan Nyonya Ervina pun luluh mau menuruti kemauan Jhason.

Kini mobil Jhason sudah terpakir di garasi lalu ia pun melangkahkan kakinya danasuk ke dalam, lalu kepala pelayan Susi pun menghampiri sang majikan. Dan ia pun membawakan tas kerja milik Jhason.

Jahson pun duduk di sofa ruang keluarga dan ia pun menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah, setelah menaruh tas kerja milik Jhason lalu kepala pelayan Susi segara ke dapur ia pun membuatkan minuman untuk Jhason.

Jahson pun menerimanya dan ia pun mulai bertanya tentang Kata yang seharian di rumahnya, lalu kepala pelayan Susi pun mengatakan semuanya dan tanpa sadar ada senyuman tipis di sudut bibir Jhason yang tidak terlihat.

"Baiklah, kau boleh istirahat kepala pelayan." ujar Jhason, ia pun segera bangun dari duduknya.

"Baik Tuan, selamat malam."

Jhason pun menganggukkan kepalanya saja, lalu ia pun melangkahkan kakinya menaikk anak tangga menuju kamarnya, lalu ia pun masuk ke dalam kamar.

"Semoga ini keputusan yang benar."

Bab 3

Sekitar pukul sembilan pagi kedua orang tua Jhason pun menepati janjinya mereka pun sudah datang dan sedang menunggu Jhason. Sambil menikmati secangkir teh hangat, serta pemandangan yang cukup memanjakan mata yaitu ada kolam ikan dan yang lainnya.

Beberapa menit kemudian, Jhason pun melangkahkan kakinya menghampiri kedua orang tuanya. Lalu ia pun duduk dengan santai sedangkan kedua orang tuanya mengedarkan pandangannya seolah mencari calon istri yang sudah di katakan oleh Jhason kemarin malam.

"Dimana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?" ucap Nyonya Ervina yang mencari keberadaan calonnya.

"Mama tunggu saja, sebentar lagi dia akan datang." jawab Jhason santai.

Tak lama datanglah seseorang dengan pakaian pelayan dengan langkah gemetar ia pun menghampiri Jhason dan kedua orang tuanya, ia tidak berani menatap kedua orang tua Jhason.

Nyonya Ervina mengerutkan keningnya sedangkan Tuan Albert menatap datar, seseorang itupun membungkukkan badannya. Ia benar-benar takut, jika bukan karena permintaan Jhason mana mungkin ia mau melakukannya. Dia hanya berpikir untuk membalas budi yang telah di lakukan Jhason kepadanya, dan ini tidak akan lama.

"Siapa namamu? Angkat kepalamu, aku ingin melihat wajahmu." ucap Nyonya Ervina yang menyipitkan matanya.

Sungguh detak jantungnya saat ini berpacu dengan cepat serta tubuhnya sedikit gemetar, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang sebelum menjawab ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya.

Sepersekian detik perlahan-lahan ia pun mengangkat wajahnya dan menatap kedua orang tua Jhason, dengan rasa gugup ia pun tersenyum menatap kedua orang tua Jhason.

"Ha-hallo Tante dan Om, pe-perkenalkan namaku Kara." ucap Kara dengan gugup.

Raut wajah Nyonyan Ervina tersenyum manis berbeda sekali dengan Tuan Albert ia menatap tak suka pada Kara. Tuan Albert pun menghembuskan napas kasarnya, karena selera putranya begitu jauh dari yang ia perdiksikan.

"Jadi maksudnya ini? Seorang pelayan sendiri. Ckck merepotkan." ucap Tuan Albert.

Kara hanya bisa menundukkan kepalanya ia pun tahu diri jika dirinya tidak sebanding dengan Jhason, tetapi tidak di sangka Nyonya Ervina malah membela Kara dan membuat Kara tidak percaya.

"Apa yang kau katakan hah! Pilihan Jhason tepat dan tidak ada yang salah." ucap Nyonya Ervina, menatap sinis ke arah suaminya."Jhason, Mama merestuimu karena Mama yakin jika ia adalah gadis yang baik dan cocok denganmu."ujarnya dengan tersenyum manis.

"Ma, apa Mama sudah tahu latar belakang gadis ini? Kau bahkan belum tahu apapun, dia hanya beruntung di selamatkan oleh Jhason. Jika bukan karena Jhason yang menolongnya mungkin ia sudah jadi simpanan pria lain." ujar Tuan Albert panjang lebar.

Nyonya Ervina menarik napas dalam, ia tahu jika pilihan putranya begitu rendah tetapi naluri keibuannya tidak bisa bohong jika Kara adalah gadis yang baik dan pasti setia kepada Jhason.

"Pa, aku ini seorang ibu dan bisa merasakannya mana yang tulus dan mana pembohong. Aku yakin jika Kara adalah gadis yang baik dan bisa setia dengan Jhason." ucap Nyonya Ervina menjelaskan.

Hingga perdebatan pun cukup hebat tetapi Tuan Albert pun menyetujuianya dan kedua orang tua Jhason pun pulang, kini di ruang kerja Jhason ia pun duduk di kursi kebesarannya dan bersamaan juga ada Kara yang berdiri di hadapan Jhason.

Lalu Jhason menarik laci meja kerjanya dan memberikan map kepada Kara membuat raut wajahnya bingung, ia pun mengambil map itu dan membukanya.

"Perjanjian Pra-Nikah! Jadi kita menikah hanya satu tahun saja." ucap Kara yang sambil membaca perjanjian itu.

"Ya, cukup satu tahun saja, kau akan mendapatkan kompensasi jika pernikahan kita sudah satu tahun. Aku akan memberikanmu uang, rumah, dan mobil untukmu." ujarnya datar.

Kara pun menganggukkan kepalanya, lalu asistennya pun mengambil kembali setelah Kara menandatanganinya. Setelah itu, Jhason pun menyuruh kepala pelayan untuk memindahkan barang- barang milik Kara ke kamarnya.

***

Dan malam harinya seperti biasanya ia pun melakukan tugasnya seperti biasanya kepala pelayan sudah melarangnya tetapi Kara bersikukuh ingin membantunya. Tetapi di sisi lain ada salah satu pelayan yang tidak menyukai Kara, dengan tatapan sinisnya ia menatap Kara dengan raut wajah kesalnya.

Karena kepala pelayan begitu peduli dengan Kara dan tidak memperhatikan dirinya, semenjak Kara datang ia pun seolah terlupakan oleh kepala pelayan Susi karena ia lebih mementingkan Kara.

"Heh! Jangan terlalu percaya diri, lebih baik kau pergi saja dari sini." ujar Mela dengan melipat tangan di dada.

"Maksudnya apa? Kenapa Kak Mela bicara seperti itu." ucap Kara bingung dengan sikap Mela.

Tidak ingin berlama-lama lalu Mela pun menarik pergelangan tangan Kara dan membuat Kara terkejut dengan sikap Mela, yang Kara tahu jika Mela adalah orang yang baik. Mela belum tahu jika Kara adalah tunangan Jhason.

"Kak Mela ada apa denganmu? Lepaskan tanganmu." Kara mencoba menarik tangannya.

"Aku peringatkan sekali lagi, lebih baik kau pergi saja dari rumah ini dan jangan pernah datang lagi." ucap Mela dengan sorot mata tajam.

Berkali-kali Kara menarik tangannya dan akhirnya terlepas juga dan Mela pun terjatuh, saat bersamaan Jhason pun melihatnya tetapi hanya bersikap biasa saja dan tidak ingin orang lain tahu.

Jhason pun melangkahkan kakinya sedangkan Mela memulai aktingnya dengan menangis dan membuat Kara mengerutkan keningnya juga menggelengkan kepalanya, jhason hanya menghampiri Kara yang berdiri di hadapan Mela.

"Ada apa ini?" tanya Jhason datar.

"Eh, Tuan i- itu... Kara mendorongku, ia tidak suka jika aku bekerja di sini." ucapnya dengan raut wajah sedihnya.

Kara yang mendengar hal itu pun segera menggelengkan kepalanya ia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Mela. Jhason sekilas melihat ke arah Kara lalu ia pun menarik napas dalam dan menghembuskannya.

"Baguslah jika Kara tidak suka padamu, jadi aku tidak perlu mengotori tanganku."ucap Jhason datar.

Membuat mata Mela melotot mendengar ucapan dari Jhason, sedangkan Kata hanya bisa menundukkan kepalanya saja lalu. Jhason pun berlalu dari hadapan Kara, sedangkan kepala pelayan Susi malah memarahi Mela karena melakukan hal bodoh seperti itu.

Kepala pelayan Susi pun menarik tangan Mela menuju kamarnya, dan meninggalkan Kara begitu saja lalu setelah selesai pekerjaannya Kara menuju kamarnya di lantai bawah.

Saat membuka pintu kamar Kara baru sadar jika semua barang- barang miliknya sudah berpindah ke lantai atas. Kara hanya bisa menepuk keningnya dan juga merutuki kebodohannya, dengan langkah malas ia pun segera melangkahkan kakinya tetapi sebelum melangkah lebih jauh lagi.

Kara mengedarkan pandangannya ia takut jika Mela melihatnya maka pekerjaan Kara pun akan terancam, setelah memastikan semuanya aman lalu Kara sedikit berlari menuju anak tangan. Dia tidak ingin ada yang melihatnya, karena hanya kepala pelayan saja yang tahu jika Kara adalah tunangan Jhason.

Sampai di depan pintu rasanya ragu sekali ingin mengetuk pintu kamar Jhason, berkali-kali Kara menarik napasnya berkali-kali juga ia mengangkat tangannya ke udara.

Sepersekian detik kemudian, Kara sudah memutuskan pilihannya dan menarik napasnya dalam. Semoga ini keputusan yang benar untuknya, Kara pun mulai mengangkat tangannya dan mengetuk pintu kamar Jhason.

"Ayo Kara pasti kamu bisa."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED