Gea gadis tomboy yang disegani di kampus, mendadak menikah dengan Roy si pria tulen dan banyak penggemarnya.
"Aduh Abang, sakit tahu! Pelan pelan kalau nyisir rambut aku tuh," teriak Gea.
Hari pertama pernikahan Roy dan Gea berhasil membuat suasana selalu gaduh. Riasan sanggul yang ada di rambut Gea harus segera dilepas. Ia risih seharian menjadi pajangan di pelaminan.
Mengingat kejadian empat bulan lalu antara Roy dan Bram sahabatnya. Mereka selalu menertawakan Gea di kampus. Pasalnya, Gea selalu berdandan ala pria setiap harinya. Terkadang Bram merasa gagal menjadi pria sejati. Namun, Gea selalu cuek tak memperdulikan.
"Gimana kalau kita bikin perjanjian?" tanya Bram.
Roy yang merasa tertantang langsung menyetujuinya. "Boleh. Apa tuh?"
"Kalau lo berhasil buat Gea jatuh cinta, lo berhak buat ngelanjutin atau enggak hubungan kalian dan lo juga bakalan gue kasih link untuk masuk ke perusahaan ternama setelah lulus kuliah. Tetapi kalau lo gagal, lo wajib nikahin dia. Nanti gue kasih tau caranya. Kalau nggak lo nikahin, gue bakal umumin satu kampus tentang perjanjian ini."
"Berapa lama waktunya?"
"Tiga bulan deh."
"Deal!"
Bram dan Roy pun bersalaman.
Keesokan harinya Roy sudah mulai mencari cara untuk mendekati Gea. Dari mulai pura-pura menjatuhkan buku bak sinetron sampai nekat mengajak kencan saat Gea makan bersama temannya di kantin kampus.
Sebulan pun berlalu. Roy nampak putus asa karena Gea tak juga meresponnya. Jelas Gea curiga. Orang yang selama ini mengejeknya mendadak super baik hati.
"Susah woy! Nggak suka cowo kali tuh anak," kata Roy ketus.
"Parah lo! Kalau gue lihat sih nggak gitu ya. Soalnya temen-temennya juga nggak dominan cewe. Lagian gue dengar, dia punya mantan pacar di SMA, cowo."
"Masih ada waktu dua bulan lagi dan gue nggak boleh gagal."
Roy mulai mencari alamat kos-kosan Gea. Gea merupakan anak rantau dari desa. Sifat tomboynya muncul saat ayahnya meninggalkan ibunya tanpa kabar. Gea sudah taklagi mempercayai pria.
Malam pun tiba, Gea sedang ke depan gerbang kosan. Ia memesan nasi goreng karena kelaperan belum sempat makan dari siang. Tiba-tiba mobil terparkir di sebrang kos Gea.
"Hai Gea!" sapa Roy.
"Kok lo tau kosan gue? Wah ngikutin gue pasti. Mau ngapain?"
"Iya. Gue sengaja cari tau kosan lo. Habisnya gue sapa selalu cuek. Gue ajak kencan nggak mau."
"Ya elo bikin gue curiga. Kemarin ledekin gue sekarang malah belagak sok peduli." Gea menengok ke Abang Nasi Goreng. "Bang nasgor, buruan. Laper!"
"Iya, Neng," jawab tukang nasi goreng.
"Jahat banget sih lo. Gue jauh-jauh kesini malah lo cuekin juga."
"Siapa yang bilang mau nyuekin? Orang gue mau ajak lo ke teras kosan tuh mumpung sepi. Pengen tau gue maksud lo selama ini."
Senyum Roy merekah. Taklama nasi goreng pun sudah siap disantap. Roy dan Gea masuk ke dalam kosan dan duduk di teras.
"Jadi kenapa selama ini lo sok care sama gue?"
"Gue mau lo jadi pacar gue."
"Nggak mau gue! Curiga tau nggak, lo taruhan sama siapa?"
Mata Roy terbelalak. "Ah enggaklah. Ngapain?Cewe cantik kayak lo dibuat mainan. Ya walaupun gaya lo begini."
"Gue bilang nggak mau ya nggak mau."
Tanpa basa basi lagi Roy pun berlalu pergi dari hadapan Gea dengan wajah lesu.
Sesampainya di rumah Roy langsung menelpon Bram. "Nyerah gue. Gue nikahin dah Gea. Daripada disebarin satu kampus. Ancur nama beken gue."
Terdengar suara tawa yang keras dari sebrang telepon.
"Belom habis waktunya. Udah nyerah aja."
"Kasih tau lah gimana caranya gue nikahin dia?"
"Lo kan banyak duit tuh. Bayarin hutang keluarga si Gea di desa. Katanya hutang orang tuanya lumayan banyak. Kalau sampai nggak bayar bakalan diusir dari rumahnya. Nah lo kasih syarat Gea harus menikah sama lo."
"Buset. Hutang apaan bisa sampai serem kayak gitu? Lagian lo tau aja berita ginian."
"Orangtuanya pinjem uang buat biayain kuliah si Gea. Berita ini kan udah nyebar Bro. Lo aja yang nggak tahu."
Dalam waktu singkat Roy dan Bram menghampiri rumah Gea di desa saat liburan semester. Roy menyampaikan maksud kedatangannya.
Selang seminggu orang tua Gea akhirnya memaksa Gea untuk menikahi Roy karena kondisi mereka yang terpaksa harus melunasi hutangnya. Tak ada cara lain bagi Gea. Karena ia belum lulus dan belum bisa membantu banyak. Ia pun menuruti kemauan orang tuanya.
***
Setelah selesai menyisir rambut Gea. Roy dan Gea pun memutuskan untuk tidur.
"Geser ih. Abang di sofa aja!"
"Kan udah halal. Gimana sih?!"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar. Mereka lupa menguncinya. Kemudian dibuka oleh Larsih, ibunya Gea.
"Astagfirullah! Kenapa Abang Roy tidur di sofa?" tanya Larsih.
"Ng.. Anu.. Roy ngerasa gatel-gatel punggungnya kalau tidur di kasur. Biasa tidur di sofa," jawab Roy.
"Gea, olesin bedak gatel atuh itu punggungnya abang. Masa suaminya gatel-gatel malah nggak diurus."
Mata Gea yang terlihat setengah mengantuk mendadak melotot. "Olesin?"
"Lha iya, olesin punggung suamimu."
Ibu Gea langsung mengambilkan bedak gatel dan memberikannya kepada Gea.
"Kamu harus belajar urus suami. Udah, Ibu awasi dulu gimana kamu olesinnya. Nanti salah lagi. Malu-maluin aja. Ibu kan sering ajarin kamu," ujar ibu seraya berdiri di samping kasur dan berkacak pinggang.
Perlahan Roy pun ke kasur. Ia nampak ketakutan mendengar ocehan ibunya Gea. Maklum malam ini pertama kalinya Roy menginap di rumah Gea sehabis acara pernikahan.
"Bu, masa punggung suami tercinta harus dilihat Ibu, ya kan. Mendingan Ibu keluar deh." Gea merayu ibunya dan mendorong hingga ibu keluar kamar.
"Awas ya jangan sampai enggak. Besok harus sembuh." Ibu berteriak saat pintu mulai ditutup.
Gea menutup dan memastikan pintu terkunci.
"Eh lo ya, Bang. Gue udah berusaha menghargai lo sebagai suami pakai acara panggil aku kamu segala kan, tapi lo malah buat masalah mulu. Untung nggak jadi tuh ibu lihat adegan oles mengoles punggung lo yang kagak gatel sama sekali. Malah gue curiga daki semua yang nempel," ujar Gea sembari menuju kasur dan memakai selimut kesayangan.
"Belajar dong lo ngomong aku kamu, nanti pada bingung kan keluarga kita. Oh ya, ngomong-ngomong, nggak ada sedikit pun daki di punggung gue. Jangan asal ngomong! Gue buka juga ya ini baju!" Roy mencoba membuka bajunya.
"Wey nggak usah. Udah lah, gue percaya."
Gea segera menutup mata dengan kedua tangannya.
"Udah ya, malam ini pokoknya Abang harus tidur di sofa. Gue nggak mau lo tidur di kasur gue," kata Gea menegaskan.
"Oh ya sudah, berarti kalau di rumah kita nanti, lo harus tidur bareng gue di kasur K I T A." Roy berusaha mengeja. "Kita!"
Keluarga Roy berasal dari keluarga yang kaya raya. Roy merupakan pewaris tunggal keluarganya. Orangtua Roy sudah meninggal tiga tahun yang lalu saat mereka pergi dinas ke luar negeri. Pesawat yang ditumpangi jatuh dan mengakibatkan beberapa penumpang tewas termasuk orangtua Roy. Kini ia menjadi tanggung jawab Om Boy, adik dari ayahnya yang bekerja menggantikan kedua orang tua Roy di perusahaan milik keluarga. Rencananya, setelah lulus Roy akan meneruskan dan mendampingi pamannya.
Sebenarnya Roy ingin mandiri tidak tergantung pada perusahaan keluarga. Maka dari itu, ia sempat tertarik tawaran Bram saat memenangkan perjanjian kemarin. Namun kenyataannya ia kalah dan harus meneruskan perusahaan bersama pamannya.
Kemarin Om Boy menjadi wali nikah di acara pernikahan Gea dan Roy. Om Boy berpesan untuk membeli rumah lagi untuk Gea dan Roy. Sedangkan rumah orang tuanya dijadikan panti asuhan saja. Hal itu merupakan salah satu amanah dari orang tua Roy.
"Jadi kita beneran bakal tinggal di rumah baru nantinya?" tanya Gea.
"Iyalah." Roy berusaha tidur dengan menghadap ke sofa. "Awas aja nanti gue kudu di kasur. Nggak ada sofa dalam kamar di rumah baru."
Gea bergidik lalu tidur dengan perasaan cemas.
***
Keesokan paginya, ibu sudah menghidangkan masakan sisa acara pernikahan. Masakannya telah selesai dipanaskan.
"Pengantin baru ... Ayo dong kita sarapan. Keluar dulu ya dari kamar," teriak ibu.
Gea dan Roy pun membuka pintu kamar sambil sempoyongan masih mengantuk. Gea dan Roy duduk bersebelahan. Sedangkan ibu duduk bersebelahan dengan adik Gea bernama Salsa.
"Beda ya, Bu. Gea dengan Salsa," ucap Roy.
"Beda kenapa Nak Roy?"
"Salsa itu anggun ya, Bu."
"Maksud Abang apa?" timpal Gea.
"Salsa itu memang anggun nak Roy. Waktu bapak masih tinggal bersama kita, Salsa kecil menjadi anak kesayangan bapak. Selalu diajarkan bertata krama yang baik sebagai perempuan," jelas ibu.
"Cih! Terus pergi gitu aja ninggalin kita. Kalau menghargai perempuan harusnya nggak begitu," kata Gea.
"Nggak boleh gitu Nduk. Ayo suaminya disiapin makanannya," pinta ibu sambil memberi kode kepada Gea untuk mengambilkan nasi.
Dari tadi Roy berusaha tidak menimpali. Karena ia sudah tau bahwa hal ini lah yang membuat Gea memutuskan untuk berpenampilan tomboy agar tidak dilirik pria. Padahal Gea adalah wanita cantik jika mau berdandan seperti kebanyakan para wanita.
Piring berisi makanan sudah tersedia di depan mereka. Diawali dengan berdoa yang dipimpin Salsa.
"Amiiiiiin..."
Mendadak Gea mengangkat satu kakinya ke kursi. Lalu menyuapi nasi dengan tangan ke mulutnya.
"Gimana semalem? Ibu nggak sabar lho ingin segera gendong cucu," tanya ibu sambil mengambil lauk di piring.
Gea dan Roy tersedak berbarengan lalu bertatapan.
"Minum, minum!" Roy meminta diambilkan minum. Gea yang juga tersedak segera mengambil minum dari teko untuk Roy dan dia.
"Lho kenapa sih? Kan kalian udah halal. Kok kaget. Kemarin habis olesin punggung Nak Roy kalian ga langsung tidur kan?"
"Bu.. Ada Salsa," kata Gea berusaha mengalihkan topik.
"Aku udah gede kali kak. Setau Salsa, orang yang sudah menikah pasti ingin memiliki anak," ucap Salsa sambil menggoyangkan kakinya. Kursi yang diduduki membuat kaki Salsa belum menyentuh lantai.
"Gea nggak mau, Bu!" jawab Roy.
Tatapan sinis segera ditujukan pada Roy oleh Gea. Satu cubitan kecil telah mendarat di pinggang Roy. "Adoooooh!"
"Sama suami jangan begitu. Kalau malah makin cinta nanti bahaya loh Gea," kata ibu.
Gea melengos. Makanannya terus ia santap dengan kecepatan tinggi. Ia nampak ingin segera berlalu meninggalkan meja makan.
Gea dan Roy mengambil jatah absen libur per semester untuk pernikahan ini. Itu artinya tersisa tiga hari lagi termasuk hari ini. Karena baru memasuki semester, Gea merasa tak ingin ketinggalan mata kuliah. Ia berniat membatalkan pengajuan rencananya satu hari saja perihal jatah absen tersebut.
"Bang, hari rabu gue masuk aja ya. Lagian nggak ngapa-ngapain juga kan habis ini?" tanya Gea setelah selesai makan.
"Siapa bilang nggak ngapa-ngapain? Orang gue mau ajak lo pindah rumah terus kita pergi honeymoon semalem keluar kota."
"Salsa ikut dong!" kata Salsa.
"Ibu juga ya? Plis!" Ibu pun tak mau kalah.
Sementara Roy berpikir, Gea pun langsung mengiyakan. "Eh apa-apaan kamu?" tanya Roy.
"Ya nggak apa-apa dong Bang. Ibu dan Salsa kan nggak pernah jalan-jalan. Palingan ke waduk tuh deket kelurahan," jawab Gea cuek.
"Ng. I-iya deh."
"Hore!" Ibu dan Salsa saling berpegang tangan kegirangan.
"Pokoknya hari ini kita kemasin barang di rumah. Masukin ke koper besar yang ini. Kemarin Om Boy udah bawain koper ini sekalian pas acara," perintah Roy.
Di kamar, Gea menempelkan bokongnya di ujung meja belajar. Sambil mengunyah permen karet pemberian Salsa ia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Roy.
"Habis itu, kita ke rumah orang tua gue dulu. Bantuin beresin barang gue. Barang yang gede kayak lemari gitu nggak usah dibawa. Apalagi kasur. Udah full furniture rumah baru kita nanti. Malamnya kita langsung ke rumah baru. Barulah besok kita keluar kota," jelas Roy panjang lebar. "And by the way, gue bakal transfer lo tiap bulan sepuluh juta. Terserah lo mau gunain apa. Kalau kurang bilang aja."
"Eh buset. Itu duit tuh?"
"Ya duitlah. Lo pikir apa? Daun?"
"Tapi ya nih sampai sekarang gue masih bingung. Kenapa tiba-tiba nih ya. Tiba-tiba pokoknya mah. Abang bayarin tuh hutang-hutang orang tua gue. Bukan cuman hutang biaya kuliah gue ternyata, gue baru diceritain ibu, hutang SPP Salsa yang nunggak dua bulan juga lo bayarin."
"Elo ya, bukannya bersyukur gue bayarin. Anggap aja ini tuh pertolongan Allah. Lewat gue."
"Tapi Abang nggak cinta kan aslinya sama gue?" tanya Gea yang beralih duduk di sofa.
"Ng.. Hmm. Ya.. Ya.. cintalah sama lo. Gue tahu lo tuh baik sebenarnya. Cuman tampang lo aja yang buat pada takut."
"Terus satu lagi, Abang kan banyak penggemar rahasia. Kenapa milih gue ya? Apalagi pada beda banget penampilannya sama gue."
"Lo banyak omong banget sih! Udah cepetan sana beresin barang lo. Gue bantuin. Nih kopernya gue tarik ke deket lemari lo."
Roy segera menarik koper besar itu. Dibukanya pintu lemari Gea.
"Astagfirullah, ini kok banyakan kaos sih. Rata-rata hitam lagi warnanya. Kayak nggak ganti baju. Tapi daleman lo warna pink ya. Ih lucu banget!" Underware milik Gea diambil oleh Roy dan diangkatnya.
"Balikin nggak?"
Tiba-tiba Roy jatuh dan punggungnya menyentuh lantai kamar. Mereka tersungkur berdua dan saling bertatap mata, lagi-lagi ala sinetron.
"Aelah, pake jatuh segala. Buruan ah!" gerutu Gea.
Mereka segera berdiri. Takut kalau ibu melihat adegan ini. Bisa-bisa disuruh gaspol bikin cucu.
Satu per satu baju milik Gea pun mulai dimasukkan ke dalam koper. Ada satu dress berwarna hijau tosca dengan gambar bunga mawar merah di area dada. Dress ini pemberian ayahnya ketika dia ulang tahun saat dua tahun lalu.
"Wah harta karun nih. Punya juga lo dress beginian. Nggak kesambet kan lo?"
Gea hanya terdiam tak menjawab. Mungkin baiknya dress ini diberikan kepada Salsa. Ia pun berdiri membawa dress keluar kamar.
"Salsa." Gea menyisir pandangannya ke setiap sudut rumah. Sayangnya, Gea tak juga menemukan Salsa. Lalu, ia pun menghampiri ibu yang di dapur mengiris bawang.
"Salsa mana, Bu?"
"Apa sih Kak? Aku habis luluran." Tiba-tiba Salsa sudah berada dibelakang Gea sambil meringis.
"Ya ampun... Diajarin siapa sih? Baru juga masuk sekolah, udah centil aja," kata Gea.
"Justru karena baru masuk sekolah. Salsa kan harus cantik. Nanti apa kata bu guru dan temen-temen kalau Salsa dekil."
Gea geleng-geleng tak habis pikir kelakukan adik satu-satunya itu.
"Ini kakak mau kasih dress ini. Buat kamu nanti pas udah muat," kata Gea sembari menyodorkan dressnya.
"Itu kan pemberian ayah. Udah nggak muat, Kak?"
"Iya perut kakakmu kan buncit," timpal Roy yang mendengarnya dari kamar. Ia tau bahwa Gea hanya tak ingin saja membawa barang pemberian ayahnya.
Dress itu langsung diberikan kepada Salsa. Lalu, Gea berlari kecil ke arah kamar dan memukul Roy dengan bantal.
"Heh! Kayak tau aja perut gue!"
"Ampuuun!"
Seketika celana Roy robek terkena ujung meja belajar yang lumayan tajam. Gea yang sempat melihat celana dalam Roy segera menutup wajahnya.
"Lo tuh sangar bener sih. Sampe robek kan ini celana. Tuh tuh merah tuh. Lihat dong!" Roy menjulurkan lidahnya.
Roy berlenggak lenggok di depan Gea.
"Bawa celana lagi nggak, Bang? Pake celana gue tuh di lemari pilih aja."
Kemudian Roy melihat seluruh celana yang digunakan Gea sehari-hari di rumah. "Nggak ada yang gedean dikit? Kenapa kecil semua begini."
"Abang pake celana gue, atau mau telanjang biar Salsa sama ibu tau?" gertak Gea.
Diambilnya salah satu celana berukuran paling besar oleh Gea sambil memejamkan mata sesekali.
"Lumayan daripada nggak ada. Ini lagi gambar mickey mouse," gerutu Roy.
"Bawel amat. Buruan bantuin gue lagi." Gea membuka matanya dan tertawa keras. "Ya ampuuuuun. Itu bokong kemana-mana!"
"Seksi kali gue. Belum juga lo rasain kan."
"Diiiiih."
Selang dua jam mereka pun akhirnya selesai membereskan baju Gea ke dalam koper. Mobil milik Roy yang paling besar sudah terparkir cantik di teras.
Roy langsung menganga melihat Gea mampu menggendongnya diatas pundak dan berjalan menuju mobil.
"Bukain pintunya!" teriak Gea. Sementara Roy yang masih berada di depan pintu rumah segera berlari kecil membukakan pintu mobil.
"Abang kaget ya! Ga pernah lihat cewe angkat koper gede begini? Norak!" ledek Gea.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Roy. Mereka memasukkan lagi barang-barang lain milik Gea yang sekiranya perlu untuk dibawa ke rumah baru.
"Makan siang dulu yuk!" kata ibu sembari menghidangkan makanan di atas meja.
Taklama Gea dan Roy yang berkeringat langsung duduk di kursi makan.
"Capek ya.. Jangan kaget ya Nak Roy. Kita bertiga kan nggak ada cowo di rumah. Jadi Gea terbiasa angkat yang berat-berat di rumah," jelas ibu meringis.
"Hehe, iya Bu," jawab Roy.
Gea segera mengambilkan makanan untuk Roy. Kali ini ada menu semur jengkol andalan.
"Abang kalau udah nikah sama aku, wajib hukumnya makan nih jengkol. Buruan!" kata Gea sambil menyuapi jengkol beserta nasi ke mulut Roy.
Awalnya Roy menolak dan susah sekali membuka mulut. Namun karena mata Gea yang terus melotot, Roy terpaksa membuka mulutnya.
"Hehe, enak!" kata Roy.