Bab 2

Hugo keluar dari Club Malam menuju Parkiran mobil dimana Sid sudah menunggu dengan ekspresi kesal. Melihat ada sesuatu yang tidak beres, Sid langsung membukakan pintu mobilnya untuk atasannya.

“Apa yang sebenarnya terjadi di dalam? Kenapa tubuhmu basah kuyup seperti ini?” Tanya Sid yang nampak khawatir.

“Sial sekali aku hari ini! Pertama, aku diputuskan sepihak oleh Belle. Kedua, aku harus berurusan dengan cewek gila di dalam!” Gerutu Hugo emosi.

Jika sudah begitu, Sid tahu benar tidak boleh ada pertanyaan lain yang keluar jika tidak ingin ikut terkena amarahnya. Sid hanya membawa mobil dalam diam menuju kediaman utama Chavez.

Cukup 1 jam sampai mereka tiba di Rumah Utama Keluarga Chavez. Rumah tingkat 2 dengan gaya khas Eropa bercat putih diselingi corak keemasan dengan Air mancur di tengah taman depan. Ketika Hugo memasuki ruang tamu, terlihat sosok lelaki tua berkacamata tengah membaca koran.

“Hugo, dari mana saja kamu baru pulang? Harusnya urusan kantor sudah selesai sejak jam 10 malam tadi. Cepat duduk,” perintah sang lelaki tegas.

Hugo tahu benar jika sudah seperti itu artinya Sang Papa hendak membahas masalah yang penting dengannya. Dia tahu persoalan apa itu.

“Besok saja, Pa bicaranya. Hugo sangat lelah sekarang, ingin langsung istirahat di kamar,” tolak Hugo selembut mungkin.

“Papa bilang duduk sekarang!” gertak sang pemilik utama Vendora Capital, Harry Chavez. Hugo akhirnya mengalah dan duduk di sampingnya.

“Papa, ingin menagih janjimu. Katanya, hari ini kamu akan memberitahukan sosok wanita yang akan mendampingimu. Ingat, kamu sudah 30 tahun, bukan waktunya lagi untuk main-main soal asmara,” ucap Harlen.

Hugo nampak menghela napas berat sebelum memberitahukan berita buruk kepada Sang Papa yang begitu berharap agar dia segera menikah.

“Maafkan saya, Pa. Sepertinya, saya tidak bisa mewujudkan janji itu hari ini,” jawab Hugo lemah dan putus asa.

“Apa kamu bilang! Ingat perjanjian kita, 6 bulan lagi, akan ada peresmian jabatanmu sebagai CEO Vendora Capital yang baru. Saat itu, kamu sudah harus memiliki pendamping. Jika tidak, jabatanmu akan dilepas dan diturunkan kepada adikmu, Helio Chavez,” ucap Sang Papa penuh ketegasan.

“Ya, saya tahu, Pa. Kita bahas hal ini lain kali. Hugo sangat lelah malam ini. Selamat malam,” putus Hugo dan langsung meninggalkan Sang Ayah menuju kamarnya di lantai 2.

Terlihat dari dekat tangga lantai atas, Sang Mama tiri, Hestia Chavez tersenyum licik mencuri dengar perdebatan diantara anak dan ayah itu. Hugo menatap sang mama tiri dengan sangat tajam sebelum memasuki kamarnya.

Hestia Chavez merupakan Mama Tiri dari Hugo Chavez. Wanita itu ibu dari seorang anak laki-laki yang usianya lebih muda 5 tahun dari Hugo. Mama Kandung Hugo meninggal 9 tahun lalu akibat Kanker Getah Bening saat usia Hugo 19 tahun. 1 tahun kemudian, Sang Papa menikahi sang janda anak 1.

Hugo menutup pintu kamarnya dengan keras dan langsung melemparkan tubuhnya ke kasur empuk berukuran Queen itu. Sebelumnya, dia sudah membayangkan akan mengisi kasur besar itu berdua dengan Belle. Kini, semua harapan itu pupus sudah.

“Belle! Dasar wanita kejam!” Gerutunya sambil menutup mata. Dia berharap, dia bisa segera terlelap untuk sekadar melupakan rasa sesak di dadanya. Namun, Hugo justru terbayang sosok wanita gila yang sudah berani menyiram tubuhnya seperti kucing kampung di Club.

“CK! Kenapa malah terbayang wanita gila itu! Baru kali ini, aku diperlakukan serendah itu oleh wanita selama 30 tahun hidup! Siapa sih dia!” teriaknya frustasi. Dia lalu menutup wajahnya dengan bantal putih agar bisa terlelap.

*****

Wanita gila yang berhasil mengusik sang CEO itu terlihat berjalan santai memasuki sebuah komplek perumahan yang cukup elit.

“Zella! Kamu lihat sekarang jam berapa! Bagaimana bisa anak gadis pulang selarut ini!” teriak lelaki paruh baya penuh emosi.

Gadis berambut pendek itu dengan santainya melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 00.00 sebelum menjawab sang Ayah.

“Biasa saja kali, Ayah! Vienna saja biasa pulang lebih larut dari Zella. Tapi, kenapa Ayah hanya memarahi Zella saja?” protesnya tak terima.

“Zella! Jangan samakan kamu dengan Vienna! Dia sedang melanjutkan kuliah S1, jadi wajar jika dia pulang larut akibat tugas kampus,” elak Sang Ayah.

“Lalu bagaimana dengan Zella, Ayah? Zella juga bekerja sebagai Barista! Jadi wajar jika pulang selarut ini!” balasnya emosi.

“Apa yang bisa kamu banggakan dengan menjadi Barista! Sudah jangan melawan Ayah lagi. Cobalah ikuti setengah saja sifat Vienna yang baik dan patuh,” puji Sang Ayah tanpa memikirkan perasaan Zella.

“Memangnya salah siapa, aku harus bekerja seperti itu di usia 20 tahun! Semuanya salah Ayah, Ayah lebih memilih untuk menguliahkan Vienna dibandingkan aku! Zella yang anak kandung ayah bukan dia!”

PLAAAAKKKKKK

Lelaki yang dipanggilnya Ayah itu refleks mendaratkan tangannya di pipi kanan Zella dengan cukup keras.

“Sudah cukup, Zella! Tidak ada anak tiri bagi ayah! Walaupun Vienna tidak lahir dari rahim yang sama denganmu, tapi ayah sangat menyayanginya sama sepertimu!” teriak Ayahnya kalut.

“Hah? Apanya yang sayang! Omong Kosong! Selalu saja Vienna dan Vienna yang utama di mata Ayah. Anak paling cantik. Anak paling pintar. Anak paling membanggakan!” ucap Zella diiringi kekehan kecil. Tangannya memegang pipinya yang kemerahan dan berjalan memasuki kamarnya.

“Ah, gue sudah muak dengan semua ini! Gue ingin segera pergi dari tempat yang dianggap sebagai rumah ini padahal kenyataannya tidak ada kehangatan rumah yang gue rasakan seperti saat masih ada hadirmu. Ibu, Zella kangen,” ucap Zella seraya mengambil sebatang rokok dari kantong celananya.

Semua begitu sempurna awalnya, Zella Polly, gadis kecil pasangan Sandy Polly dan Jenny Polly penyuka semua beladiri sejak kecil khususnya karate. Jenny begitu menyayangi Zella dan mendukung hobi sang anak dalam hal beladiri meskipun perempuan. Sandy pun begitu menyayangi sang istri dan mendukung setiap keputusannya.

Namun, semua berubah, kala Sang Ibu meninggal akibat kecelakaan tunggal sepulang dari mengantar Zella mengikuti lomba Karate tingkat SD. Sedangkan, Zella yang masih berusia 10 tahun saat itu bisa sembuh setelah perawatan intensif.

Kehilangan wanita yang sangat dicintai, membuat Sandy frustasi dan nyaris bunuh diri. Dia sempat overdosis setelah meminum banyak pil keras bersamaan. Namun, Takdir masih menyelamatkan nyawanya karena segera ditolong setelah dipergoki oleh petugas administrasi rumah sakit tempat Zella dirawat intensif.

Sejak itulah, Sandy dekat dengan sang pegawai administrasi yang menjadi Ibu Tiri Zella saat ini, Vega Polly. Vega Polly merupakan seorang janda dan memiliki anak yang seumuran dengan Zella, Vienna Polly. 1 tahun lamanya menjalin cinta, Sandy dan Vega akhirnya resmi menjadi suami istri.

******

Pagi yang cerah, seperti biasa, agenda wajib keluarga Chavez adalah sarapan pagi bersama.

“Hugo, Papa sudah memikirkan soal hubungan asmaramu. Jika memang kamu belum ada calon, Mama punya kenalan kerabat jauh yang anak gadisnya sedang mencari jodoh. Kenapa kalian tidak coba bertemu?” tawar Sang Papa.

“Hugo, tenang saja, Mama jamin anak kenalan Mama itu adalah wanita terpelajar yang anggun dan cantik pastinya sesuai seleramu,” timpal Sang Mama dengan senyum manisnya.

“Zaman sudah modern, kenapa sih masih saja ada percobaan perjodohan seperti ini,” protes Hugo tak senang.

“Papa tidak mau tahu. Jika dalam waktu dekat, kamu tidak mengenalkan calon pilihanmu sendiri, Papa akan nikahkan kamu dengan anak kenalan Mama itu!” Ancam Sang Papa dengan wajah serius.

“CK! Terserah kalian saja! Aku sudah tidak nafsu makan. Aku berangkat ke kantor sekarang,” ucap Hugo tegas.

“Sabar, Sayang. Namanya juga anak muda. Mungkin jika Hugo sudah melihat anak kenalan Mama itu dia akan berubah pikiran,” tenang Hestia.

“Ya, sudah. Papa, Mama, Helio juga pamit ke kampus sekarang,” ucap lelaki berumur 25 tahun berpostur tinggi besar dengan rambut blonde itu.

*****

Di kantor, Hugo nampak kurang fokus dengan tumpukan dokumen yang harus diperiksa olehnya. Hatinya gusar mengingat ancaman Sang Papa pagi tadi yang sangat serius.

“Aku yakin, wanita itu pasti sudah memilihkan wanita yang ada di pihaknya sebagai calon pendampingku. Aku yakin, dia ingin mengukuhkan posisinya sebagai Nyonya Utama Keluarga Chavez dengan mencari wanita lemah lembut bodoh yang patuh dengan semua perintahnya,” gumam Hugo penuh kecemasan.

“Ada apa denganmu pagi ini, Hugo? Kamu nampak tidak fokus bekerja. Apa masih ada hubungannya dengan insiden di Club semalam?” tanya Sid khawatir.

Mendengar pertanyaan Sid membuat Hugo kembali mengingat insiden di Club Malam yang mencoreng harga dirinya. Namun, kemudian muncul ide gila di dalam kepalanya.

“Benar! Wanita itu! Dia wanita yang tampak kuat dan pemberani! Dialah kunci dari masalahku ini. Sid, cepat cari tahu informasi tentang wanita misterius yang terlibat insiden denganku semalam di Club,” perintah Hugo semangat diiringi senyum licik.

“Siap, Bos!” Balas Sid penuh kepatuhan.

Bab 3

Sore itu, Hugo sengaja membereskan semua pekerjaan kantornya yang menumpuk. Dia sudah tidak sabar, menunggu hasil pencarian dari Sid tentang sosok perempuan gila yang sudah berani mengusiknya di Club. Suara ketukan terdengar dari pintu depan kantornya, Hugo tahu bahwa itu adalah Sid yang hendak melaporkan hasil pencariannya.

“Masuklah, Sid. Aku sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi,” ucap Hugo dipenuhi semangat membara.

Sid datang dengan membuat sebuah dokumen bersampul cokelat. Hugo segera membuka amplop itu secepat kilat. Di dalam amplop itu, ada beberapa foto gadis yang telah menyiram dirinya di Club Malam.

“Benar! Dialah si cewek gila! Jelaskan hasil pencarian latar belakangmu,” perintah Hugo.

“Baik. Jadi, gadis ini bernama Zella Polly. Usianya adalah 20 tahun, dia tinggal di perumahan Golden Spring bersama Ayahnya, Sandy Polly, Pegawai Negeri Sipil di Kantor Perpajakan dan Ibu tirinya, Vega Polly, Pegawai Administrasi di RS. Cakrawala Medika. Zella memiliki saudara tiri perempuan bernama Vienna Polly yang sedang kuliah Bisnis semester akhir,” jelas Sid.

“Hmm, latar belakang keluarga yang menarik. Ternyata dia memiliki kisah yang tak jauh berbeda denganku,” gumam Hugo.

“Lalu, jika saudara tirinya kuliah di jurusan bisnis. Apa bidang kuliah yang Zella ambil?” tanya Hugo penasaran.

“So-soal itu, anehnya, Zella Polly tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang kuliah. Setelah lulus SMK, dia langsung bekerja untuk membiayai hidupnya sendiri,” lanjut Sid. Hugo kelihatan kaget dengan fakta yang disampaikan oleh Sid itu.

“Ba-bagaimana mungkin dia tidak berkuliah? Padahal, jika aku lihat, pekerjaan kedua orangtuanya tidak buruk dan pasti cukup untuk membiayai kuliahnya,” ucap Hugo heran.

“Aku juga tidak tahu, Hugo. Yang aku tahu dari hasil penyelidikan orang-orangku, Zella bekerja sebagai Pelatih Taekwondo anak-anak dari pagi hingga siang. Kemudian, dari siang hingga malam hari, dia bekerja sebagai Barista di Delmoure Coffee and Cake,” jelas Sid.

“Apa? Pelatih Taekwondo dan Barista? Pekerjaan yang tidak biasa bagi seorang wanita. Menarik! Dia gadis yang unik,” gumam Hugo semakin antusias.

“Lalu apakah ada informasi lain tentangnya, misalnya dalam hal hubungan percintaan?” lanjut Hugo.

“Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa Zella Polly sudah berpacaran dengan Aaron, sang pemilik cafe 2 tahun lamanya.”

“Apa? Jadi dia sudah memiliki kekasih, sayang sekali. Tapi, aku tidak bisa membuang kesempatan ini begitu saja. Mari amati dia dulu untuk saat ini,” batin Hugo.

“Baiklah, kerja bagus, Sid! Mari kita tunggu jam pulang kantor sebelum pergi,” ucap Hugo mendadak.

“Huh? Memangnya kita mau pergi ke mana, Hugo?” tanya Sid penasaran.

“Tentu saja ke Delmoure Coffee and Cake itu,” putus Hugo dengan senyum licik.

*****

Pada suatu cafe yang dipenuhi nuansa Metalik dengan warna abu-abu dan hitam yang dominan, terlihat seorang gadis berambut bob pendek tengah serius meracik kopi dengan mesin. Dia hanya memakai kaos polos berwarna Navy dan jeans belel.

“Selamat datang di Delmoure Coffee and Cake!” teriak Zella penuh semangat dalam menyambut kedatangan Hugo dan Sid.

Seorang pelayan menghampiri Sid dan Hugo yang langsung duduk di kursi agak belakang seraya mengamati Zella yang sedang bekerja. Tidak ingin dicurigai, mereka akhirnya memesan 2 cangkir kopi Espresso.

Terlihat, ada pelayan lain yang menghampiri Zella untuk mengajaknya menemui pelanggan di meja no 20. “Maaf, apa ada masalah?” tanya Zella segera sesampainya di meja no 20.

“Begini, aku memang memesan secangkir Americano. Tapi, mengapa rasanya pahit sekali? Apakah kamu tidak menambahkan gula ke dalamnya?” protes pelanggan lelaki berumur 30-an tahun seperti Hugo.

“Maaf, Kakak. Tapi, memang di pesanan meja no 20 ini hanya tertulis Americano saja tanpa ada pesanan tambahan gula atau susu yang membuatnya lebih manis,” jelas Zella ramah.

“Masa tidak ada, mungkin kamu yang membacanya tidak teliti. Pokoknya, saya tidak suka kopi ini!” kekehnya.

“Baik, maaf, apakah kakak mau pesan ulang dengan tambahan gula atau susu? Kali ini, kami bisa berikan setengah harga,” tawar Zella.

“Hmm, tidak perlu. Cukup kamu temani aku di sini. Sepertinya, melihat wajah manismu saja sudah cukup untuk membuat Americano ini manis,” rayu sang lelaki seraya memegang tangan Zella dan menariknya untuk duduk.

“Apa?! Maaf saya tidak bisa. Masih banyak pesanan kopi yang harus saya buat, permisi.” Tegas Zella.

Namun, lelaki itu tetap saja mencengkeram tangan Zella untuk memaksanya duduk dan menemaninya. Zella kesulitan melepaskan cengkraman itu. Dia langsung menabrakkan tubuhnya ke meja lelaki itu hingga Americano panas tumpah ke bawah perut sang lelaki.

“Aduh! Panas! Panas! Dasar wanita jal*ng! Kamu pasti sengaja bukan melakukannya!” Teriak lelaki itu emosi.

“Hahaha, dia pantas mendapatkannya!” batin Hugo puas melihat insiden itu. Keributan antara Zella dan pelanggan nomor 20 membuat Aaron, sang pemilik cafe ke luar untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

“Mohon maaf, saya adalah Aaron pemilik cafe ini, ada masalah apa ini?” tanyanya tak mengerti.

“Masalahnya adalah karyawan wanitamu yang kurang ajar ini! Dia sengaja menumpahkan Americano Panas ke celanaku!” ucap sang lelaki yang tengah naik pitam.

“Saya sungguh minta maaf. Mari, kita selesaikan masalah ini dengan cara damai! Saya pasti akan menghukumnya. Sebagai permintaan maaf, semua pesanan Kakak akan kami beri gratis,” nego Arga seramah mungkin.

“CK! Baiklah! Lain kali, cari karyawan yang kompeten!” protesnya sebelum pergi tergesa-gesa sambil menahan sakit di bawah perutnya.

“Zella, ayo ikut saya ke kantor,” tegas Aaron yang berjalan menuju sebuah ruangan diikuti dengan Zella.

Rasa penasaran membuat Hugo diam-diam mengikuti ke mana mereka berdua pergi. Dari celah pintu, Hugo nampak serius mengintip ke dalam. “Sayang, bukan gue yang salah! Lelaki itu duluan yang udah kurang ajar!” gerutu Zella dengan raut frustasi.

“Gue tahu, Zella. Tapi, tolonglah Lo tahan diri Lo sedikit! Untung kali ini kita bisa ambil jalan damai, bagaimana jika ada kejadian yang sama namun pelanggan lain memperpanjang masalah ini,” jelas Aaron setengah memohon.

“Terus gue harus diam aja gitu jika ada pelanggan genit yang sengaja menggoda gue kayak gitu! Lo kira gue cewek murahan!” balas Zella tak terima.

“Bukan gitu, Sayang. Cukup abaikan saja orang itu atau Lo bisa panggil gue buat bantu,” ujar Aaron setenang mungkin.

“CK! Terserah aja deh! Gue harap nggak akan pernah lagi ketemu pelanggan kurang ajar kayak gitu,” balas Zella.

“Iya, semoga begitu. Sudah ya, jangan cemberut gitu lagi. Nanti, cantiknya luntur loh,” rayu Aaron dengan manis.

“Huh! Bisa aja Lo! Oke, gue ngaku kalah deh kalau Lo udah ngegombal kayak gitu,” ujar Zella. Terlihat senyuman manis dari bibir tipisnya.

Arga terlihat menelan ludahnya menyaksikan senyuman manis dari sang kekasih. Dia kemudian mengelus-elus rambut Zella. Lalu, perlahan Aaron mencondongkan wajahnya menuju bibir tipis Zella. Belum sempat bibirnya bertemu milik Zella, Zella langsung menutup mulutnya dengan tangan.

“Sst! Ingat, jangan melewati batas. Lagi pula, kita masih di Cafe, bagaimana jika ada karyawan lain atau pelanggan yang melihat kita seperti ini,” tolaknya.

“Ah, Oke, Mari kembali.” Balas Arga salah tingkah. Lelaki berwajah oriental dengan rambut agak berantakan itu nampak menahan kekecewaan atas penolakan kekasihnya, Zella.

“Ck! Malang sekali nasib Aaron. Semakin aku memperhatikannya, semakin menarik sosok Zella di mataku. Tidak salah lagi, dialah sosok yang tepat untuk menjalankan rencanaku,” putus Hugo sebelum pergi meninggalkan cafe setelah membayar pesanan kopi Espresso mereka.

*****

Zella menghubungi Cafe tapi tidak ada yang menjawabnya. Padahal, jelas-jelas, Aaron bilang akan lembur di Cafe semalaman untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah menghubungi nomor Aaron tanpa ada jawaban, Zella menghubungi karyawan cafe yang paling terakhir pulang hari ini yaitu Bob. Dia bilang, Aaron pamit pulang duluan karena ada urusan di Club Azora.

Zella memutuskan untuk menyusul kekasihnya ke Club Malam Azora untuk membahas hal penting terkait pengadaan mesin kopi tambahan. Di sisi lain, Hugo sudah berada di Club Azora terlebih dulu untuk melepaskan pikirannya dari bayang-bayang sang mantan, Belle. Mendadak, dia melihat sosok Zella yang mencari keberadaan seseorang di kerumunan. Refleks, Hugo mengikuti Zella diam-diam.

Setelah mencari di berbagai sisi Club, akhirnya, Zella bisa menemukan sang kekasih yang tengah duduk. Namun, betapa kagetnya Zella kala melihat Arga tidak sendiri melainkan bersama seseorang yang dikenalnya, Vienna.

Perasaan Zella semakin kalut tatkala melihat kekasih dan saudaranya berpelukan begitu mesra. Hatinya sakit melihat sisi Aaron yang terlihat lebih romantis dan ceria ketika bersama Vienna dibandingkan ketika dengannya selama 2 tahun bersama.

Zella diam-diam duduk tidak jauh dari belakang keduanya untuk mencari tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

“Vienna, Gue sudah lelah berpacaran dengan Zella, gue mau bersama Lo saja,” ungkap Arga penuh kejujuran.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED