Bab 1

"Tega banget kamu selingkuhin papaku."

"Selingkuh? Nggak, kok."

"Kamu kira aku nggak tahu? Kamu masih ada hubungan sama Leon 'kan?"

"Kenapa? Cemburu? Pasti kamu cemburu soalnya semua pria lebih suka aku daripada kamu. Pacarmu dulu ninggalin kamu demi aku, tunangan kamu selingkuh sama aku, bahkan papa kamu sekarang milikku."

"Aku nggak cemburu! Ini itu salah!"

"Aku sama siapapun itu bukan urusanmu!"

Elitta sampai tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Vivian. Dia tidak mengira wanita yang dulunya teman SMA-nya kini itu masih bertingkah seperti ini.

Vivian tersenyum merendahkan. Dia mendorong dada Elitta sampai membuatnya mundur ke belakang. "Kamu itu cuma anak selingkuhan mama kamu, sekarang papa kamu udah nggak ngurusin kamu. Dia cuma ngurusin aku ... selamat hidup melarat sama suami kampung kamu itu, Elitta."

Usai berkata demikian, dia tertawa terbahak-bahak.

Hati Elitta sakit mendengar semua orang yang pernah dicintainya mengkhianatinya demi wanita di depannya itu. Air matanya hendak jatuh, tapi berusaha ditahan. Tak cukup pacar masa SMA, tunangan, bahkan papanya juga telah direbut.

Tak puas menghina, Vivian kembali berkata, "oh iya, gimana malam pertamamu dengan suami kampung? maaf ya aku dan papa kamu nggak bisa datang, soalnya kami ini 'kan orang kaya, alergi sama hajatan orang miskin yang biasa di jalan-jalan itu."

Elitta kembali ingin menangis. Kemarin adalah pernikahannya, tapi ayahnya sendiri tidak mau hadir. Dia bukanlah anak kandung Pak Derry Dinata, seorang pengusaha konveksi paling tersohor di kota ini.

Sejak kecil, dia dianggap hama oleh pria itu karena merupakan anak haram ibunya dengan pria lain. Meskipun begitu, dia selalu menyayangi ayahnya.

"Oh iya." Vivian kembali bicara, "kamu 'kan nggak dianggap anak, jadi nggak usah ngarep warisan nanti ... semua uang papamu itu akan jadi milikku."

"Aku nggak mengharapkan uang. Aku hanya nggak mau kamu mengkhianati Papa! Tega kamu, Papa beneran cinta sama kamu!"

Vivian mendekatkan wajahnya ke Elitta, lalu berbisik, "ya bodoh amat dia mau cinta atau enggak, aku mau nikah sama tua bangka itu juga karena uang. Daripada dia mati, terus ngasih uangnya ke kamu, si anak haram, mending ke istri mudanya ini."

"Kamu iblis!"

"Ucap anak orang kaya yang nikah sama pengangguran kabupaten miskin. Kenapa? Nggak terima aku sekarang punya harta papa kamu?"

"Jangan menghina suamiku!"

"Atau apa? Itu kenyataan, suami kamu memang miskin. Walaupun aku belum pernah lihat, tapi papa kamu sendiri yang bilang kamu dijodohkan sama pria kampung."

"Dia bukan pengangguran, dia pimpinan perusahaan."

"Pimpinan perusahaan apa? Perusahaan ternak ayam di kampung?" Vivian tertawa terbahak-bahak. Dia sangat menikmati perdebatan ini.

Sakit hati, Elitta menampar pipi Vivian dengan keras. Suaranya sampai menggema di seluruh dinding ruang tengah rumah ini.

Dia menegaskan, "kamu nggak seharusnya menghina pekerjaan orang lain, apapun usahanya, selama itu halal dan menghasilkan, kamu nggak bisa ngomong seenaknya kayak gitu."

"Beraninya wanita babi jelek kayak kamu nampar aku!" bentak Vivian murka. Dia langsung balas dengan menjambak rambut panjang Elitta yang tergerai. "Sok cantik! Nggak ingat dulu jerawatan sewajah, pacar kamu dulu sampai bilang jijik!"

"Ah!" Elitta berusaha keras melepaskan cengkraman tangan Vivian dari rambutnya, tapi gagal terus. Kulit rambutnya seakan ikut terangkat— sakit bukan main. "Lepaskan aku, Vi!"

Helai demi helai rambut Elitta mengalami kerontokan.

Dia menjerit, "Vivian! Stop!"

"Stop?" Vivian tertawa lagi. Perlakuannya makin kasar menjambaki rambut Elitta. "Enak saja bilang stop, siapa yang barusan nampar aku! Sekarang kamu itu udah diusir dari rumah, udah nikah sama cowok kampung, cuma wanita miskin, jangan berani-berani sama nyonya besar sepertiku."

Elitta tak tahan lagi dengan perlakuan kasar itu, dia spontan mendorong Vivian sekuat yang dia bisa. "Lepasin!"

"Ah!" Vivian terdorong ke belakang, hak tingginya tergelincir, sehingga dia sempoyongan, lalu jatuh tersungkur di atas lantai. "Sakit!"

Bertepatan dengan itu, datanglah sosok pria bersetelan jas hitam rapi. Pak Derry Dinata, ayah Elitta sekaligus suami baru dari Vivian. Dia kaget melihat Vivian ada di lantai. "Apa-apaan ini!"

Vivian memasang wajah lemah dan tersakiti. "Sayang, anak kamu masih nggak terima kamu nikahin aku, jadi dia ke sini cuma mau bunuh aku. Tolong."

Elitta melihat kebencian di mata sang ayah.

***

Bab 2

Pak Derry sudah berusia lima puluh lima tahun. Postur tubuhnya tinggi, tegap dan kelihatan cukup bugar. Wajahnya cukup tampan, tak terlalu banyak kerutan, terlihat awet muda dibandingkan dengan pria seumurannya.

Dia membantu Vivian berdiri. Setelah itu, dia menoleh ke Elitta dengan mimik wajah yang tegang. "Elitta, papa memintamu datang ke sini bukan untuk menyakiti istri papa!"

Elitta membela diri, "tapi, Pa! Elitta nggak ada maksud menyakitinya, istri muda Papa itu menjambak Elitta, Elitta nggak sengaja dorong barusan."

Pak Derry menampar Elitta dengan kasar. Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan. Setiap kali melihat anaknya itu, perasaannya dipenuhi amarah.

"Jangan meninggikan bicaramu saat bicara dengan orangtua!" ucapnya.

Rasa sakit tamparan itu tidak ada apa-apa bagi Elitta dibandingkan dengan sakit hatinya. Kedua matanya kembali berlinang air mata. Dia menyentuh pipi yang kemerahan.

Vivian pura-pura simpati dengan menarik lengan jas suaminya. "Sayang, kamu jangan kasar-kasar, kasihan Elitta. Kita memanggilnya ke sini untuk hal lain 'kan?"

"Oh iya, Elitta, papa mau kamu tanda tangan pemindahan dokumen kepemilikan tanah milik mama kamu ke papa. Papa baru melihat kalau nama yang tertertera itu nama kamu, jadi papa minta kamu tandatangan."

"Papa mau ngambil hak Elitta buat istri baru papa itu 'kan?"

"Kalau iya kenapa? Lagian dari awal mama kamu itu nggak punya apa-apa, tanahnya itu juga pastu dibeli dengan uang papa, jadi kamu harus mengembalikannya ke papa."

"Papa lebih peduli sama istri sampah Papa ketimbang Elitta."

"Siapa yang kamu sebut sampah!"

"Wanita jalang yang ada di dekat Papa itu, siapa lagi!"

"Jaga mulut kamu!" Pak Derry hendak menamparnya lagi. Otot-otot wajahnya bermunculan, membuktikan dia begitu murka dengan perkataan Elitta.

"Apa? Tampar lagi kalau perlu! Tampar Elitta terus! Memang itu kenyataannya! Papa milih istri Papa itu bukan Elitta yang anak Papa sendiri!"

"Kamu itu bukti perselingkuhan Mama kamu, Anak Haram. Masih untung papa mau merawatmu sampai besar setelah mama kamu mati. Jadi, jangan seenaknya membandingkan kamu dengan istri baru papa. Ngerti kamu?"

Vivian menahan tawa. Semakin panas perdebatannya maka dia semakin bahagia. Kalau saja ada berondong jagung, dia akan duduk dan makan itu sambil melihat anak dan ayah ini bertengkar.

Elitta terus meyakinkan, "Pa, nggak apa-apa kalau Papa benci Elitta. Tapi, tolong sadar, Vivian itu cuma manfaatin Papa, dia itu masih berhubungan sama Leon."

"Enggak!" Vivian membantah.

Dia memeluk lengan suami barunya itu, lalu pura-pura menangis sambil bersandiwara, "kan, apa kubilang, Sayang. Anak kamu nggak bakalan menerimaku. Dia nggak terima punya ibu tiri yang seusia dengannya. Dia mikir aku cuma mau uang kamu saja."

"Pembohong kamu! Aku lihat sendiri, kalian masih jalan, juga ke hotel berdua!"

"Elitta yang bohong, Sayang. Palingan dia masih nggak terima soalnya dulu Leon itu batalin pernikahan mereka karena jatuh cinta padaku, padahal aku nggak mau sama dia, aku cintanya sama kamu. Elitta mau balas dendam dengan nuduh aku kayak gitu."

"Barusan kamu bilang cuma mau uang Papa saja 'kan?"

"Kapan aku bilang begitu?"

"Tega banget kamu kayak gini, Vi! Kamu boleh menyakiti hatiku, tapi kenapa sampai hati menghancurkan hati papa!"

"Aku ini jujur."

"Kamu ..." Elitta muak, ingin menampar Vivian lagi.

Pak Derry mendorong putrinya dengan kasar. "Jangan coba-coba mengangkat tangan ke istri Papa, Elitta. Sekalipun kalian seusia, sekarang Vivian itu ibu tiri kamu! jadi, kamu nggak usah banyak drama."

"Elitta nggak drama, Pa!"

"Papa paham kamu marah-marah kayak gini soalnya papa jodohin kamu sama orang lain 'kan? Ya udahlah, tunangan kamu juga nggak mau sama kamu, bukan salah Vivian kalau Leon suka sama dia."

"Leon itu bukan cuma suka sama Vivian, tapi selingkuhannya! Mereka udah hubungan setahun, jadi sebelum nikah sama papa bulan lalu, mereka udah sama-sama. Kita ini korban, Pa. Mereka cuma mainin kita."

"Udah cukup. Sudah papa bilang dari awal, mau kamu terima pernikahan ini atau nggak, bukan urusanmu. Papa nggak butuh pendapat kamu. Kamu sudah nikah sekarang, urus saja suami kamu itu."

"Elitta tahu papa menikahkan Elitta dengan pria lain agar cepat-cepat keluar dari rumah ini, agar nggak nganggu hubungan papa sama Vivian, tapi Elitta nggak bisa diam saja melihat Papa diselingkuhi begini."

"Kamu saja anak hasil selingkuhan, tahu apa tentang selingkuh?"

"Papa ..." Elitta meneteskan air mata. Semakin hari, ucapan sang ayah semakin tajam dan menyakitkan.

Dia selalu saja dihina anak selingkuhan, anak haram, anak tidak diharapkan. Tetapi, apapun yang terjadi— dia tak mungkin membiarkan ayahnya disakiti.

Pertunangannya dengan Leon sudah hancur akibat permainan Vivian, dia tidak bisa membiarkan hidup ayahnya juga hancur.

Vivian menahan tawa, puas melihat Elitta kehilangan segalanya, sementara dia mendapatkan semuanya. Dia menyandarkan kepala di lengan suami barunya itu, bertingkah begitu manja.

Dia berkata, "oh iya, sayang, bukannya kamu bilang kamu jodohin Elitta dengan orang kampung random itu soalnya kalah judi pas di meja billyard? Kamu tega banget nggak ngasih tahu dia sampai sekarang?"

Pak Derry menjawab, "iya, daripada ngasih uang lima ratus juta, mending nerima lamarannya saja. Orangnya bilang kalau butuh istri, ya udah kebetulan aku punya anak nggak tahu diri yang gagal nikah."

Elitta kaget. Dia terbiasa dengan semua perkataan jahat dari pria itu, tapi tak mengira sampai hati menikahkannya dengan pria tak dikenal. "Apa papa bilang ..."

Jadi, suaminya itu cuma orang asing acak yang ditemui ayahnya di meja billyard?

***

Bab 3

Lima ratus juta?

Diserahkan ke pria asing karena kalah judi dengan nominal lima ratus juta?

Elitta merasa seperti dijual oleh ayahnya sendiri. Harga dirinya bisa dibeli dengan sejumlah uang. Dia masih tak percaya. Begitu saja?

"Papa bilang suami Elitta itu anak kenalan papa?"

Tanpa rasa bersalah, Pak Derry menjawab, "Cuma bohong. Kalau papa jujur, papa jodohin kamu sama orang random itu karena kalah main billyard, mana mau kamu? Kamu 'kan rewel."

"Hanya karena lima ratus juta?"

"'Hanya' kamu bilang? Itu banyak. Anak bodoh dan manja kayak kamu mana paham susahnya cari uang."

"Uang penjualan tanah milik mama bisa buat bayar, Pa! Sisa banyak malahan."

"Enak saja, itu tanah milik papa, papa nggak sudi kehilangan sepeserpun uang demi kamu. Udah cukup ya, Elitta. Kamu udah gede, udah nggak butuh bantuan keuangan dari papa. Kamu juga udah nikah."

"Kenapa papa yang judi, Elitta yang harus nanggung semua kerugian papa?"

"Jangan lancang kamu! Kamu kira besarin kamu itu pakai daun, pakai uang, ngerti! Jadi, kamu harus tetap hormati papa."

"Tapi papa udah keteraluan banget!"

"Papa begini juga demi kamu. Pernikahan kamu dengan Leon 'kan batal, daripada kamu terus di sini jadi perawan tua, mending nikah sama siapa saja. Lagian, istri baru papa terganggu kalau serumah sama kamu. Kalian sudah menikah kemarin— apa dia belum bilang apapun? Apa dia sibuk lagi ngurus pengiriman barang dagangan?"

"Papa bahkan nggak tahu suami Elitta kerjaannya apa?"

"Emangnya penting?"

Vivian menahan tawa, tapi pura-pura prihatin. Dia berkata, "kasihan banget punya suami pengusaha kampung, pasti kekurangan pegawai, jadi sopir sendiri deh. Malam pertama bukannya bahagia, malah serasa jadi janda. Kamu kok tega ngasih anak kamu ke pria nggak jelas gini, Sayang? nanti kalau ternyata suaminya sindikat perdagangan manusia, gimana?"

Pak Derry sama sekali tidak peduli, tidak menyesal, walaupun menikahkan putrinya dengan pria asing di tempat billyard.

"Yang paling penting Elitta pergi dari rumah. Itu syarat kamu waktu mau tinggal di rumah ini sama aku 'kan?" katanya.

"Iya, Sayang, makasih udah nurutin aku ..." Vivian berjinjit, kemudian mencium pipi pria paruh baya itu dengan tingkah yang masih manja. "Kamu suami terbaik."

Elitta jijik melihat pemandangan ini, ingin muntah rasanya. Bibirnya terkatup rapat, sedih sekali. Dia menahan agar air matanya tak lagi jatuh, percuma menangis hanya karena penghinaan ini. Lagipula, dia tidak menyesal menikah dengan pria yang baru dikenalnya seminggu.

Dengan hati yang bangga, dia berkata, "Pa, sekalipun ternyata papa bohong tentang suami Elitta, Elitta tetap berterima kasih, dia itu pria yang baik."

"Nggak usah menghibur diri sendiri gitu, Elitta, kalau mau nangis, nangis saja. Oh, atau kalau kamu mau, aku bisa kenalin cowok kota yang lebih baik daripada suami kamu yang asal-asalan dipilih papa kamu itu."

"Nggak, makasih. Aku bangga menjadi istri Vito."

"Vito?" Vivian mengulang nama itu. Nama yang tidak asing untuknya.

Mendadak, suara langkah kaki mendekat.

Seorang pria tiga puluh tahunan berpakaian setelan jas hitam rapi berjalan masuk ke ruangan itu.

Tubuhnya tinggi dan tegap. Bentuk wajah tampan terhias oleh sepasang mata hitam tajam, rambut berwarna hitam legam seperti bulu burung gagak. Auranya begitu kuat dan mendominasi.

Dari penampakannya itu saja— orang akan menduga dia adalah seorang pimpinan dari suatu perusahaan besar. Mustahil kalau dia hanyalah pengangguran kabupaten.

Vivian menahan napas. Dia mengenali pria itu. "Vito? Nggak mungkin ..."

Vito menatap Elitta, lalu berkata, "aku mencarimu kemana-mana, kenapa nggak bilang kalau ke rumah ayah kamu yang nggak guna ini?"

Elitta merasa bersalah. "Maaf, aku buru-buru ke sini."

"Nggak guna?" ulang Pak Derry tersinggung. "Apa katamu?"

Vito berhenti di hadapan Elitta. Pria itu sama sekali tak menganggap Pak Derry dan Vivian itu ada.

Dia menyentuh pipi istrinya itu dengan jemarinya yang posesif, lalu menasehati dengan suara yang lembut, "kamu baik-baik saja 'kan? Kenapa kamu malah naik taksi ke sini? Kita 'kan punya helikopter pribadi. Kalau kamu kenapa-napa di jalan bagaimana? Kota itu banyak orang jahat."

Pipi Elitta memerah. Mereka belum lama mengenal, tapi dia sungguh bahagia memiliki suami yang perhatian dan lembut. Detak jantungnya berdebar kencang setiap kali diperlakukan begitu.

Vivian tak percaya. "Vito ... kamu ..."

Vito meliriknya dengan pandangan angkuh dan dingin. "Maaf, kamu siapa? Jangan sok akrab denganku sampai berani menyebut nama panggilan."

Hati Vivian seakan ditusuk tombak tajam.

Itu wajar saja. Vito adalah mantan pacarnya yang dia tinggalkan karena cuma pria kampung miskin. Jadi, kenapa mendadak berubah begitu tampan, terawat, mengenakan baju mahal, jam tangan merek terkenal? Apa dia menjadi bos besar sekarang?

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED