Seorang lelaki tampan keluar dari sebuah private jet kelas eksklusif di sebuah bandar udara. Ia menggunakan kacamata hitam sambil menatap luasnya hamparan lapangan terbang di hadapannya. Seorang lelaki berjas hitam menyambut kedatangannya dengan wajah gembira.
“Selamat datang kembali, Tuan Muda,” ujar lelaki empat puluh tahunan itu. Lelaki itu tidak menjawab. Ia berjalan ke arah mobil mewah yang sudah menunggunya. Luke Anderson sang asisten langsung membukakan pintu dengan cepat.
“Dimana Adam? Kenapa dia tidak ikut menyambut kedatanganku?” tanya Evan Halbert. Anak dari Steven Halbert yang menjadi orang terkaya di negeri ini. Dia pemilik perusahaan Taxon Group yang lebih dikenal sebagai perusahaan pengendali uang disini. Taxon Group adalah sebuah perusahaan pemberian pinjaman terbesar di negara ini. Selain itu ia juga memiliki beberapa supermall, real estate dan showroom kendaraan dari kelas mewah hingga umum. Meskipun bunga yang diberikan cukup besar, tapi orang-orang sering meminjam di tempat ini dengan berbagai alasan. Meskipun pernah mengalami kebangkrutan karena ada salah satu pihak yang berkhianat. Tetapi, di tangan lelaki ini perusahaan itu kembali melambung tinggi melebihi sebelumnya. Ia berhasil mencari investor dari luar negeri. Sehingga usaha sang Papa pun bisa kembali berjalan dan lebih cepat lagi.
“Tuan Adam sudah menunggu Tuan Muda di sebuah tempat. Kita harus kesana sekarang,” jawab Luke. Evan hanya mengangguk. Sambil memalingkan wajah ia membuka kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Ia memang sudah diberitahu oleh adik mendiang Papanya itu kemana mereka akan bertemu setelah ia tiba.
Tak butuh waktu lama Evan sudah berdiri di hadapan batu nisan besar bertuliskan Steven Halbert lengkap dengan tanggal kematiannya. Evan menghembuskan nafas beratnya mengingat kejadian sepuluh tahun silam itu. Ia yang baru saja kembali ke rumah sang kakek di Stockhold. Tidak bisa pulang dengan alasan pribadi. Mungkin terdengar egois, tapi semua orang memaklumi itu. Evan menghapus air matanya yang mengalir di balik kacamata hitamnya itu. Sang Paman mengetahui perasaan Evan langsung menepuk pundak lelaki itu dengan lembut.
“Tak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, Evan! Kakak juga tau keadaanmu saat itu sedang tidak baik-baik saja,” ujar Adam menenangkan ponakannya. Evan berjongkok untuk menatap batu nisan itu dari jarak yang lebih dekat.
“Aku akan membalas setiap sakit hati yang kau rasakan, Dad,” gumam Evan mantap.
Di tempat lain. Seorang gadis cantik baru saja lulus kuliah dengan nilai terbaik. Ia keluar dari area kampus dengan mata yang tertutup rapat oleh tangan sahabatnya.
“Kemana lagi kita akan pergi? Apakah ini masih belum sampai?” tanya gadis yang bernama Caitlyn Wilson itu.
“Sabar, Sayang. Lima langkah lagi kau akan mendapatkannya,” balas Jenny Theron, sang teman.
“Aku pikir kita sudah terlalu jauh berjalan dari tempat wisuda tadi,” protes Caitlyn mengomel.
“Baiklah. Baiklah. Dalam hitungan ketiga. Bersiaplah untuk terkejut. Oke. Satu… dua… tiga!” Jenny membuka mata Caitlyn dan seketika gadis membuka mulutnya lebar-lebar. Meskipun tampak ada guratan ekspresi kecewa di wajahnya, tapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Ayah. Bukannya Ayah sudah bersamaku sejak tadi. Kenapa tiba-tiba menjadi hadiah kejutan ku,” kata Caitlyn pura-pura kesal.
“Tunggu! Kamu harus lihat ini!” balas Sonny Wilson lalu berjongkok. Seketika tampak sosok lelaki tampan yang menggunakan seragam polisi berdiri di belakangnya
“Kejutan!” ujarnya sambil menggoyangkan buket bunga di tangannya.
“Max,” gumam Caitlyn dengan senyum bahagia. Ia berlari kecil ke arah lelaki itu kemudian memeluknya dengan erat.
“Kau jahat! Bukannya kau bilang tidak bisa datang karena sedang bertugas di luar kota?” Caitlyn memarahi Max sambil memukul lengan kekarnya pelan. Lelaki itu hanya tersenyum geli melihat tingkah teman baiknya itu marah.
“Hahaha. Aku pikir kau sudah lebih dewasa dari sebelumnya. Tapi, sepertinya nilai terbaikmu tidak merubah kepribadianmu,” ejek Max.
“Hei! Kau mau mengejekku lagi!”
“Sudah. Sudah. Jangan bertengkar. Kita harus simpan energi untuk pesta nanti malam. Oke?” kata Jenny sambil merangkul pundak kedua sahabatnya itu.
“Oke,” balas Caitlyn dan Max bersamaan.
Diam-diam Caitlyn mencuri pandang pada Max. Ia sangat senang lelaki itu ada disini sekarang. Sebenarnya ia sudah lama mencintai lelaki itu. Tetapi, ia belum berani mengatakannya secara langsung. Meskipun begitu teman-temannya sudah mengetahui hal itu. Sehingga, mereka menyusun rencana untuk mendekatkan Caitlyn dan Max. Tentu saja atas persetujuan Caitlyn.
Sore harinya Caitlyn datang ke Apartemen Mia. Teman baik Caitlyn juga yang tidak bisa datang ke acara kelulusannya karena sedang sakit. Caitlyn yang cemas membawakannya sup daging spesial agar Mia cepat sembuh. Dia memang lulus lebih cepat dari Jenny dan Mia karena kecerdasannya yang melebihi kedua sahabatnya itu.
Caitlyn memencet bel di samping pintu masuk apartemen Mia. Tetapi, Mia tak kunjung membukakan pintu. Sehingga Caitlyn mengulanginya beberapa kali karena semakin cemas.
“Tunggu! Tunggu!” Mia berteriak sambil membukakan pintu. “Caitlyn!” pekiknya terdengar kaget.
“Hai, Mia! Kudengar kau sedang sakit. Jadi, aku datang untuk memberikanmu sup daging ini agar kau cepat sehat!” ujar Caitlyn sambil menunjukkan tempat makan di tangannya.
“Ehms…. Caitlyn. Kenapa kau tidak memberitahuku dulu sebelum kau kemari?” tanya Mia dengan logat yang aneh. Dia bahkan terkesan gelagapan.
“Aku tidak sempat, Mia. Setelah membuat sup ini aku langsung cepat-cepat membawanya ke sini. Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu sekarang. Aku ingin kau memakannya selagi hangat. Kau tau kan sup ini sangat baik untuk kesehatan,” kata Caitlyn sambil berjalan masuk ke dalam. Mia semakin gugup.
“Tapi, Caitlyn. Aku sudah cukup sembuh. Kau tidak perlu terlalu khawatir.” Mia berusaha untuk menghalangi Caitlyn masuk lebih dalam apartemen itu. Namun, Caitlyn yang sudah terbiasa ada disana. Tidak begitu mengindahkan tingkah konyol Mia. Ia menyentuh kening sahabatnya itu. Lalu menggeleng pelan.
“Sudahlah, Mia. Jangan banyak bercanda. Tubuhmu masih panas. Kedua pipimu saja masih terlihat merah. Kau harus secepatnya memakan makanan ini. Aku yakin setelah ini pasti kau sembuh.” Caitlyn mendorong pelan pundak sahabatnya itu yang masih terasa sedikit panas. Kemudian ia berjalan ke arah dapur. Namun, saat melewati kamar Mia yang terbuka. Tiba-tiba ia terkejut dan menjatuhkan wadah makan itu.
Prangg!
Tentu saja suara bising itu membangunkan lelaki yang sedang tidur di atas ranjang. Reflek lelaki itu beranjak dari tidurnya. Kemudian mereka berdua saling berpandangan untuk beberapa saat. Mata Caitlyn membulat melihat dada bidang lelaki itu hanya ditutupi selimut. Caitlyn reflek balik badan. Air matanya sudah berkumpul di pelupuk mata.
“Max,” gumam Caitlyn rak percaya. Tepat saat itu air matanya seketika mengalir deras.
“Caitlyn,” ujar Max terkejut juga.
“Caitlyn! Caitlyn! Kau harus mendengarkan penjelasanku!” kata Mia dengan cepat. Caitlyn langsung mengibaskan tangan sahabatnya itu.
“Mia! Bukankah kau sudah tau aku sangat mencintai Max? Kenapa kau bisa melakukan ini padaku? Bukankah selama ini kau mendukung hubunganku dengannya? Tapi, kenapa di belakang kau menghianatiku?” Caitlyn berucap dengan air mata yang mengalir deras.
“Maafkan aku, Caitlyn. Kau harus mendengarkan penjelasanku!” ujar Mia dengan menangis juga.
“Tidak, Mia. Kau jahat! Kau jahat!” Caitlyn berlari keluar dari apartemen itu dengan sakit hati. Ia tidak pernah berpikir jika sahabat yang selalu bisa diandalkan untuk mendekatkan dirinya dengan Max kini menjadi duri dalam perjalanan cintanya.
“Caitlyn tunggu!!” teriak Mia dan Max bersamaan.
“Maafkan aku, Caitlyn. Kau harus mendengarkan penjelasanku!” ujar Mia dengan menangis juga.
“Tidak, Mia. Kau jahat! Kau jahat!” Caitlyn berlari keluar dari apartemen itu dengan menahan sakit hati. Ia tidak pernah berpikir jika sahabat yang selalu bisa diandalkan untuk mendekatkan dirinya dengan Max kini menjadi duri dalam perjalanan cintanya.
“Caitlyn tunggu!!” teriak Mia dan Max bersamaan.
Caitlyn yang tidak mau bertemu dengan mereka berdua, memilih untuk berlari secepat mungkin. Ia menekan tombol lift berulang kali agar pintu cepat menutup sebelum mereka berhasil menyusulnya ke dalam kotak box alumunium ini. Namun, mereka berdua tidak kehabisan akal. Max dan Mia masuk ke lift yang lain untuk segera menyusul Caitlyn di bawah. Caitlyn yang sendirian di dalam lift menangis dengan sangat keras. Hatinya benar-benar hancur mengingat kejadian itu. Padahal, dulu Mia yang selalu menjadi miss cupid yang mendukung kelanjutan hubungannya dengan Max. Bahkan, melebihi Jenny. Tapi, kini orang yang sama telah menghancurkan harapannya hingga menjadi debu.
Caitlyn tau jika Max dan Mia masuk ke lift yang lain. Makanya saat lift itu sampai di lantai dasar ia cepat-cepat berlari keluar. Tepat di depan pintu masuk tampak sebuah mobil sedan hitam berhenti. Caitlyn masuk ke dalam mobil itu tanpa pikir panjang. Sehingga membuat sang sopir di dalam mobil itu terkejut.
“Nona siapa? Kenapa masuk ke dalam mobil Tuan saya dengan sembarangan?” tanyanya dari jok depan. Caitlyn menyeka air matanya sambil menunjukkan ekspresi wajah memohon.
“Tuan, tolong saya. Bawa saya pergi dari tempat ini sekarang juga! Saya berjanji akan memberikan uang yang banyak kepada anda,” kata Caitlyn memohon.
“Tapi, Nona ini bukan mobil taxi. Kau lihat disebelahmu! Tuan Muda saya sedang tidur dan ingin cepat beristirahat di apartemennya. Jadi, silahkan keluar dan cari mobil yang lain saja!” ujarnya sambil menunjuk lelaki tampan yang sedang memejamkan mata di jok sebelah Caitlyn. Untuk sesaat gadis itu mengagumi wajah tampan pria di sebelahnya. Namun, suara Max dan Mia yang memanggil namanya langsung membuyarkan semuanya. Caithlyn langsung menunduk bersembunyi.
“Saya mohon. Pergi dari sini secepatnya, Pak! Nyawa saya sedang dalam bahaya.” Caithlyn akhirnya berbohong. Sang supir memperhatikan sikap ketakutan Caitlyn dari spion di depannya. Ia merasa iba juga akhirnya.
“Baiklah. Tapi, kita tidak kan pergi jauh dari sini.”
“Setuju! Kemanapun yang penting jangan turunkan saya di tempat ini!” balas Caitlyn antusias.
Sepanjang perjalanan Caitlyn terus menatap lelaki yang masih tertidur itu. Hatinya berdebar kencang tiba-tiba. Padahal, ia tidak menyentuhnya sama sekali.
‘Siapa lelaki ini? Dia tampan sekali. Mungkinkah dia artis? Tapi, rasanya aku baru pertama kali melihatnya,’ batin Caitlyn sambil terus memandangi wajah lelaki itu. Tiba-tiba mobil pun berhenti.
“Kita sudah cukup jauh, Nona. Jadi, anda silahkan untuk pergi dari mobil ini!” usir si sopir halus.
“Baiklah-baiklah. Aku keluar sekarang. Dan untuk imbalannya….” Caitlyn mencari sesuatu di sekitarnya. Bodohnya dia sudah meninggalkan tasnya di apartemen Mia tadi.
‘Bagaimana aku harus membayar supir ini?’ pikirnya. Namun, tak ingin mendapatkan pelecehan karena sudah masuk ke dalam mobil orang sembarangan. Caithlyn bersikap seperti biasa. Ia turun dengan tenang dan menutup pintunya tak begitu keras.
“Terima kasih atas bantuannya. Dan untuk imbalannya….” Caithlyn menggantung kalimatnya. “Akan saya berikan jika kita ketemu lain waktu!” lanjut gadis itu sambil berlari cepat. Sopir itu menggeleng sambil berdecak kesal.
“Dasar gadis tidak punya etika,” umpatnya. Di saat yang sama ternyata si lelaki yang tidur di jok belakang terjaga.
“Siapa yang kau maksud?” tanya lelaki itu bingung. Sambil mengucek matanya sesekali.
“Oh, Tuan Muda. Anda sudah bangun. Maaf, tadi ada gadis nakal yang tiba-tiba masuk ke dalam mobil ini begitu saja. Lalu meminta saya untuk membawanya keluar dari daerah apartemen, Tuan,” jelas sang sopir.
“Wanita? Maksudnya orang asing?” Evan tampak terkejut. Reflek ia langsung mencari benda-benda berharga yang selalu dibawanya di mobil itu.
“Maafkan saya, Tuan Evan. Tadi dia masuk begitu saja tanpa saya bisa mencegahnya.”
“Tidak apa-apa. Lain kali lebih hati-hati lagi. Untung dia tidak mengambil barang-barangku,” balas Evan. “Ayo, kita kembali ke Apartemen!”
“Baik, Tuan!”
*****
Keesokan harinya Evan dan Adam berencana untuk berburu di hutan. Seperti biasanya mereka selalu menghabiskan waktu luang untuk menyalurkan hobi mereka sambil mencoba senapan jenis terbaru yang baru saja mereka beli dari seorang mafia. Bersama beberapa orang pengawal mereka turun dari mobil Jeep Wrangler Rubicon di sebuah pinggir hutan. Kemudian mereka berjalan menyusuri hutan itu untuk mencari tempat yang bagus untuk menembak mangsanya. Sampai di sebuah tebing yang cukup tinggi. Mereka berhenti. Mereka bisa melihat hampir seluruh hutan dari tempat itu.
“Ini tempat yang bagus kan, Evan?” tanya Adam.
“Sangat sempurna, Paman,” balas Evan.
Adam tersenyum lalu memberi kode pada anak buahnya untuk menyiapkan senapan semi otomatis dengan amunisi peluru kaliber 7,62 mm itu. Senapan itu memiliki jarak efektif sampai 800 m dengan kecepatan peluru 783 m/s. Evan meraih senapan kebanggaannya itu dengan senyuman bangga.
“Sekarang saatnya kita buktikan! Siapa yang lebih hebat diantara kita berdua!” kata Adam menantang.
“Tentu, Paman,” balas Evan tanpa ragu.
Mereka mulai mengarah ujung senapan ke arah hutan yang cukup rimbun. Dari teropong khusus yang menempel di bagian atas senapan ia mulai mencari mangsa hingga jarak yang cukup jauh.
“Bingo!” gumam Evan saat matanya menangkap seekor rusa yang sedang berlari kecil menuju sebuah tempat. Tangannya cepat-cepat mengatur senapannya agar mengunci target. Namun, hewan bertanduk itu berjalan menuju suatu tempat. Tentu saja pandangan Evan setia mengikutinya dari balik teropong itu.
‘Mau kemana rusa itu?’ pikir Evan tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun. Akhirnya rusa itu berhenti di depan air terjun yang sangat indah. Melihat hewan buruannya sudah berhenti pada satu titik Evan langsung menarik pelatuk senapan itu perlahan. Namun, belum sempat ia lepaskan. Tiba-tiba muncul seorang wanita dari permukaan air yang menggenang di depan air terjun itu.
Wanita itu menyibakkan rambut panjangnya yang basah ke belakang dengan perlahan. Lalu pelan-pelan ia keluar dari dalam sana tanpa mengenakan pakaian apapun. Evan langsung menelan salivanya dengan susah payah melihat kemolekan tubuh gadis itu.
“It’s so beautiful,” gumamnya.
“Sejak kapan kau tertarik dengan hewan, Evan?” tanya Adam bingung.
“Dia bukan hewan, tapi dia seorang malaikat,” balas Evan tanpa melepaskan pandangannya pada gadis itu yang kini sedang memakai bathrobe yang tersampir di batu besar. Setelah itu ia bermain dengan rusa di pinggiran sungai. Bermain kejar-kejaran dan saling menyipratkan air satu sama lain.
Adam mencari apa yang sedang dilihat oleh Evan, tapi ia tidak menemukan apapun kecuali rimbunan pohon-pohonan yang cukup besar.
“Sepertinya kalau mengigau. Mana mungkin ada malaikat di dunia ini. Atau kau kebanyakan minum sebelum kesini?”
“Aku tidak mengigau dan aku berjanji akan menangkapnya,” balas Evan sambil melepas pelatuk senapannya.
Dorrr!
Bunyi peluru yang melesat pun langsung menggema di seluruh hutan.
“Cari gadis itu sampai ketemu!” perintahnya pada anak buahnya.
“Baik, Tuan!” balas orang-orang itu sambil meninggalkan tempat itu dengan patuh.
“Apakah… kau sudah menembak seseorang?” tanya Adam cepat. Wajahnya tampak seperti orang kebingungan. Evan tidak langsung menjawab. Dia tersenyum penuh arti.
“Mungkin,” balasnya singkat dengan bibir yang tersenyum misterius. Ia berjalan lebih dulu menuju mobil yang mereka tinggalkan di pinggir hutan.
“Evan. Apa kau sudah gila? Bagaimana jika dia tidak sendirian disana? Kita bisa mendapatkan masalah besar, Evan?” Adam yang mengejar kepergian Evan terus bertanya dengan kebingungan.
Namun, dengan santainya Evan membalas, “Jangan khawatir, Paman. Aku tau apa yang sudah kulakukan.”
Evan masuk ke dalam mobil mewahnya. Lalu melesat meninggalkan Adam disana.
“Evan! Evan, tunggu!” teriak Adam yang tidak didengar sama sekali. “Sialan! Anak itu ternyata masih suka cari masalah saja!” gumam Adam menggerutu.
Caitlyn kembali ke rumahnya yang berada di pinggir hutan saat langit sudah mulai senja. Ia tampak lebih tenang dan bahagia setelah mandi di air terjun dalam hutan ini. Sungguh, apa yang sudah terjadi padanya saat berkunjung di apartemen Mia kemarin sangat membuatnya terpukul dan murung untuk beberapa saat. Namun, kesegaran air terjun dan pemandangan sekitarnya yang indah selalu bisa menghanyutkan perasaan sedihnya.
“Aku pulang!” ujar gadis yang memakai bathrobe itu sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya. Meskipun rumah itu tampak sederhana dari luar, tapi bagian dalamnya sangat berbeda. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern. Mulai dari AC, TV LED 41 inci, kulkas besar dan lain-lain. Sehingga rumah itu begitu nyaman dan aman untuk menjadi teman tinggal. Meskipun berada di pinggir hutan seperti ini.
“Caitlyn! Darimana saja kamu? Bukankah ayah sudah melarangmu mandi di air terjun itu?” omel Sonny saat melihat anak gadisnya itu berjalan riang melewati ruangan tempat ia menghaluskan permukaan kayu. Ini adalah pekerjaannya setiap hari menjadi tukang kayu. Menghaluskan kayu-kayu tumbang yang dia dapatkan dari hutan. Lalu menjualnya pada para pelanggan untuk dijadikan patung atau ukiran.
“Ayah! Aku butuh kesegaran setelah hari sialku kemarin. Jadi, apakah aku salah jika sedikit saja menikmati hidup ini,” balas Caitlyn membela diri.
“Tapi, kamu bukan anak kecil lagi. Bagaimana jika ada yang melihatmu mandi disana? Apalagi Ayah sangat tau kebiasaan burukmu seperti apa. Ayah hanya takut kau akan menjadi korban kejahatan lelaki yang tidak bermoral, Sayang. Kita tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka dimana saja,” ujar Sonny menasehati anaknya. Caithlyn berjalan ke arah sang ayah lalu memeluknya dari belakang. Mereka memang tinggal hanya berdua. Karena ibu Caitlyn meninggal saat gadis itu masih kecil. Sehingga, Sonny sangat over protektif pada Caithlyn. Takut gadis itu kenapa-kenapa.
“Ayah. Aku bisa jaga diri baik-baik kok. Ayah tidak perlu terlalu khawatir. Lagian selama ini aku juga sering mandi disana, kan? Dan sampai sekarang aku masih baik-baik saja.”
“Ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri. Jika sampai terjadi hal buruk padamu, Sayang. Jadi, Ayah mohon berhati-hatilah. Kejahatan bisa terjadi dimana saja tanpa kita ketahui arah kedatangannya. Kamu mengertikan ucapan ayah?” kata Sonny sambil berbalik badan dan menatap Caitlyn dengan penuh kasih sayang. Caithlyn tersenyum lalu mengangguk mantap.
“Baiklah, Ayah. Caithlyn mengerti. Caithlyn juga sayang sekali sama ayah. Dan Caithlyn juga tidak ingin terjadi hal-hal buruk padamu.” Ayah dan anak perempuannya itu saling berpelukan dengan erat. Sampai-sampai mereka tidak sadar jika seseorang masuk ke dalam rumah mereka.
“Apakah aku melewatkan sesuatu? Kenapa kalian saling berpelukan tanpa menunggu kedatanganku terlebih dahulu,” ujar Amber. Dia adalah tetangga rumah Caitlyn yang sangat dekat dengan keluarga kecil itu. Bahkan, Caithlyn bisa merasakan jika Amber dan Ayahnya saling mencintai. Hanya saja ya tidak tau kenapa keduanya memilih untuk diam saja dan tidak melanjutkan hubungan mereka lebih serius. Padahal, Caitlyn sendiri sangat setuju apabila mereka menikah. Karena dia bisa merasakan ketulusan pada mereka berdua.
Caithlyn dan Sonny saling melepaskan pelukannya.
“Kau tidak pernah datang terlambat, Amber. Aku selalu memberi waktu lebih agar kau bisa memeluk ayahku,” balas Caithlyn meledek.
“Hai! Kau anak kecil. Apa yang kau pikirkan? Aku datang untuk memberikan kalian makanan ini. Aku yakin ayahmu yang sangat gila kerja itu belum memasakkanmu sesuatu. Benar, kan?” Amber setengah menyindir Sonny yang hanya tersenyum kecil.
“Hahaha. Kau memang paling mengerti kami, Amber. Kau juga yang selalu menjaga Ayahku disaat aku sedang kuliah di lain kota. Aku sangat berhutang budi padamu.”
“Jangan lupa dia juga mendapatkan keuntungan dari hal itu! Bukankah ayah selalu memberikan uang harian untuknya. Bahkan, uang itu lebih dari cukup untuk membeli semua keperluan make-upnya,” timpal Sonny tidak mau kalah.
“Hei. Kau mau lihat daftar belanjaanku. Aku selalu memberikan bahan-bahan berkualitas terbaik untuk setiap masakanku. Jadi, pantas saja harganya mahal.” Amber membela diri.
“Ku sarankan kalian cepatlah menikah. Karena sikap kalian lebih mirip seperti suami istri daripada seorang tetangga biasa,” kata Caitlyn sambil berdiri.
“Ah, itu terlalu beresiko. Aku tidak akan sanggup memiliki anak tiri sepertimu.” Amber lagi-lagi melempar candaan.
“Aku bahkan lebih baik dari seorang malaikat. Andai aku mau aku akan menjodohkan Ayahku dengan wanita lain.” Caithlyn berucap sambil melewati wanita tiga puluh delapan tahun itu. Tak lupa ia menjulurkan lidahnya untuk meledek Amber yang mulai berubah marah.
“Hai, dasar anak kecil. Silahkan saja lakukan! Belum tentu juga ayahmu mau,” katanya berbisik.
“Apa yang kau masak hari ini?” tanya Sonny yang ternyata sudah berada di belakang Amber.
“Sesuatu yang pasti kau suka.”
“Kau memang paling tau kesukaanku,” balas Sonny sambil mencolek ujung hidung Amber. Dia juga meraih kepala Amber lalu mengecup kening wanita itu.
“Sonny hentikan! Bagaimana jika Caithlyn melihatnya?”
“Aku sudah cukup dewasa untuk melihatnya! Apa yang ingin kalian tutupi lagi. Cepatlah menikah dan berikan aku adik yang banyak,” sahut Caitlyn yang ternyata bersembunyi di balik tembok.
“Hai, tidak baik menguping pembicaraan orang tua!” teriak Amber yang hanya membuat Caitlyn tertawa sambil berlari masuk ke dalam kamarnya. Saat Sonny dan Amber hanya ditinggal berdua. Mereka tampak sedikit canggung.
“Maaf, Amber. Kau berada di situasi yang sulit ini. Aku hanya berusaha agar kau tidak ikut celaka karena menjadi bagian dari keluargaku. Tapi, aku juga bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Caitlyn. Dia belum tentu mengerti,” ujar Sonny dengan wajah bersalah.
“Aku mengerti, Sonny. Tak perlu kau jelaskan berulang kali. Perasaanku padamu tidak akan hilang. Meskipun secara resmi kita tidak menjadi pasangan. Aku akan selalu ada untukmu dan Caitlyn. Ingat itu!”
“Terima kasih, Amber. Aku sangat menghargai keputusanmu.” Sonny kembali mencium Amber, tapi kali ini bibir mereka yang bersatu.
Di sebuah mansion mewah milik keluarga Halbert. Evan duduk di pinggir kolam renang sambil menatap permukaan air yang sangat tenang. Pantulan sinar rembulan dan kelap-kelip bintang mewarnai air kolam itu dengan begitu indah. Namun bukan itu yang dipikirkan Evan. Dia terus terbayang-bayang gadis cantik tadi siang.
“Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia ada di tengah-tengah hutan seperti itu? Bermain dengan binatang. Seperti wanita Tarzan. Tapi, melihat kulitnya yang sangat putih dan terawat. Aku yakin dia bukan gadis seperti itu,” gumam Evan tanpa merubah pandangannya sedikitpun.
Tiba-tiba ponsel Evan berdering nyaring sehingga membuyarkan lamunannya. Evan sedikit kesal karena merasa terganggu. Lalu sambil mengumpat ia meraih ponsel itu di atas meja di sampingnya. Kemudian menerima panggilan dari sang Paman dengan wajah tidak bersemangat.
“Ada apa, Paman? Kenapa kau menelponku malam-malam?” tanya lelaki itu dengan malas.
“Evan datanglah ke kantor esok pagi. Akan ada berita penting untukmu!” jawab Adam dengan menggebu-gebu.
“Berita apa? Memangnya tidak bisa dikatakan sekarang saja?”
“Jangan membantah. Aku yakin kau pasti akan senang dengan berita ini.”
“Apa ini tentang gadis itu?” tanya Evan cepat.
“Gadis? Gadis mana?” Adam malah bingung.
“Gadis yang kulihat di hutan tadi siang. Bukannya aku sudah memberitahumu sebelumnya?”
“Kau masih memikirkan dia? Sudahlah, Evan. Hentikan kekonyolanmu. Gadis itu tidak ada. Kau mungkin salah lihat. Mana mungkin ada gadis di tengah hutan seperti itu. Memang dia sedang apa disana? Mencari berlian? Fokus, Evan. Fokus! Masih banyak urusan kita yang jauh lebih penting.” Dengan geram Adam menyadarkan keponakannya.
“Aku tidak akan melupakan urusan kita, Paman. Tapi, gadis itu juga tidak bisa hilang dari pikiranku. Dan dia itu benar-benar ada. Aku tidak berbohong.” Evan tidak mau kalah.
“Baiklah. Terserah kau saja. Aku hanya ingin memintamu ke kantor besok. Selain itu aku tidak peduli!” Adam memutuskan sambungan teleponnya dengan Evan. Evan mencibir ponselnya sendiri mengingat betapa kakinya pikiran Adam.
“Pantas saja sampai saat ini kau tidak punya pasangan. Ternyata, pikiran dan hatimu sekeras batu,” umpatnya. Lalu Evan kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Sedangkan dia kembali memperhatikan permukaan air kolam sambil membayangkan gadis tadi keluar dari sana.