Kala itu, gadis cantik yang bernama Almaira baru saja menginjak usia 29 tahun. Ia berasal dari keluarga yang jauh dari kata cukup. Dengan bermodal wajah cantik nan mulus, ia memberanikan diri pergi ke kota untuk bekerja disalah satu bar yang cukup ternama. Meskipun dirinya seorang tipe pemalu, namun kecantikannyalah yang menjadi alasan kuat untuk melangkah ke zona hitam demi memperbaiki perekonomiannya.
Sudah hampir setengah bulan, Alma bekerja di bar itu. Ia mulai bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Tidak hanya itu, ia pun mendapatkan teman baru yang rata-rata usianya lebih tua dari dirinya. Meskipun Alma bekerja di bar, tapi ia tidak pernah melayani pria hidung belang, yang seperti layaknya wanita nakal. Justru tiap ada pria yang mendekatinya, ia selalu menolaknya dengan halus.
Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, Alma masih bergelut dengan pekerjaannya. Hanya ada dua orang rekan kerjanya yang menemani Alma di bar itu, mereka adalah Doni dan Ikhsan. Semakin malam, bar itu semakin ramai. Ketika Alma sedang membereskan gelas bekas alkohol, tiba-tiba saja seorang pria datang menghampirinya dengan muka yang begitu masam, seperti sedang dirundung kecewa dan bercampur amarah.
Pria itu langsung memesan minuman yang mengandung alkohol kepada Alma. Dan dengan gesitnya gadis itu langsung menyediakan minuman yang dipesannya. Awalnya Alma tidak begitu mempedulikan, namun karena pria itu terlihat sedih, apalagi meneteskan air mata, rasa simpati Alma tidak bisa tertahan lagi. Pikirannya pun bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada pria tersebut. Bahkan rasa ingin tahunya kepada pria itu menjadi semakin penasaran.
Dengan rasa canggung dan malu, Alma pun memberanikan diri untuk bertanya kepada pria tersebut, "Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?"
Pria itu hanya menoleh dan tersenyum kepada Alma dengan tatapan kosong. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena menahan air mata yang hampir saja terberai.
"Sepertinya Anda memang sedang punya masalah. Apa Anda pikir dengan meminum banyak alkohol bisa menyelesaikan masalah Anda, Tuan?" tambah Alma menyunggingkan bibirnya. Ia semakin penasaran karena pria itu tidak juga menjawab pertanyaannya. Malahan minum lagi dan lagi.
"Daripada Anda melakukan hal yang tidak berfaedah, mendingan—" belum juga selesai bicara, pria itu langsung memotong pembicaraan Alma.
"Apa pedulimu? Kamu bahkan tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini!" sentak pria itu marah dan dengan sedikit agak mabuk. Air mata yang mulai mengalir dari pipinya pun tidak ia rasakan. Bahkan pria itu menambahkan minuman alkohol lagi ke dalam gelas hingga penuh.
Ya ampun, sepertinya orang ini sombong dan keras kepala. Lagipula, bagaimana aku tahu dengan perasaannya sekarang. Ah, betapa menyebalkannya dia.
"Ya, tidak tahu juga sih, tapi kasihan saja melihat Tuan menangis seperti itu," tambah Alma dengan polosnya.
"Apa? Menangis? Sok tahu kamu! Mana mungkin orang ganteng sepertiku menangis di depan umum," geram pria itu gelagapan dan sedikit malu.
"Oh, masa? Tapi kenapa pipinya basah ya?" kata Alma sedikit Mengernyitkan alisnya. "Ya sudah, tidak masalah, kalau begitu, saya permisi dulu, selamat menikmati Tuan, jangan lupa bayarnya di kasir," sahut Alma dengan senyuman manisnya. Ia berusaha tersenyum meski hatinya kesal kepada pria itu.
"Ya sudah, sana! Lagian siapa yang menyuruhmu ke sini. Orang ganteng sepertiku, tidak akan pernah mau mendekati perempuan seperti kamu!" cetus pria itu menyunggingkan bibirnya.
Alma hanya tersenyum geli, meski pria itu mengejeknya, tapi dia tidak peduli, ia hanya menyengir karena laki-laki itu membantah kalau dirinya tidak menangis. Padahal sudah terlihat jelas oleh Alma, kalau pria itu sedang menangis.
Terserah kamu saja, Tuan. Yang pasti saya orang yang tidak bisa kamu bohongi, sudah jelas-jelas nangis, masih saja berkilah!
Setelah Alma pergi dari hadapannya, pria itu langsung segera menyeka air mata di wajahnya dengan tisu sambil berkata, "Bisa-bisanya ada orang yang memperhatikanku seperti ini."
****
Sudah hampir larut malam, Pria itu masih terus saja meminum alkohol sampai mabuk berat. Bahkan suasana di bar sudah mulai sepi. Alma dan rekan kerjanya pun sudah membereskan tempat itu dan siap untuk segera ditutup.
"Gimana nih, kita sudah mau pulang, tapi orang itu masih ada di sini, kalau disuruh pulang, nanti dia tersinggung nggak ya?" ucap Ikhsan salah satu rekan kerja Alma.
"Dia sedang bersedih, tadi saya sudah menghampiri dia," ujar Alma.
"Oh ya? Ya sudah kalau begitu kamu saja yang ngasih tau kalau bar ini akan segera ditutup," suruh Doni kepada Alma.
"Tapi—dia sombong, nanti ngomel-ngomel lagi gimana?" kata Alma yang sedikit merasa enggan untuk menghampirinya lagi.
"Sudah tidak apa-apa, aku yakin dia gak bakalan marah. Percaya deh sama aku, orang lagi mabuk gitu juga," tutur Ikhsan sembari mendorong Alma supaya segera menghampiri pria itu.
Tanpa bisa mengelak lagi, Alma terpaksa menghampiri pria itu dengan sedikit ragu. Dalam benaknya, pasti pria ini akan marah. Mengingat tadi yang ia lakukan atas sikapnya, membuat Alma sungkan.
"Tuan, bar ini akan segera tutup, jadi aku harap—" Seperti biasa, pria itu langsung memotong pembicaraan Alma.
"Iya-iya, aku tahu," ucap pria itu yang sudah mabuk berat.
Untuk beranjak dari tempat duduk pun pria itu seperti kesulitan dan hampir saja terjatuh. Alma yang masih di hadapannya ikut prihatin dan tanpa berpikir panjang, ia langsung membantu pria itu berdiri.
"Hati-hati, Tuan. Anda sudah mabuk berat, bagaimana bisa pulang kalau Anda dalam keadaan seperti ini?" tutur Alma sembari memegang tangannya.
"Tidak apa-apa, karena aku memang tidak ingin pulang. Kamu tidak usah khawatir aku bisa sendiri," ucap pria itu sembari berusaha melepaskan tangan Alma. Dan akhirnya ia bisa lepas, namun ia jatuh tersungkur ke lantai.
"Ya ampun, Anda sudah mabuk berat begini, mana mungkin bisa sendiri. Ayo saya bantu. Di luar ada tempat duduk, Anda bisa duduk dulu di sana, sampai keluarga menjemput Anda," ucap Alma sembari berusaha mengangkat tubuh pria itu yang sudah tidak berdaya.
Melihat Alma dalam kesulitan, rekan kerjanya pun tidak tinggal diam, mereka berdua langsung segera membantu pria itu berjalan keluar dari bar.
"Sini biar kita saja yang membawa pria ini keluar, mendingan kamu bereskan dulu bekas minumannya, dan jangan lupa setelah itu matikan semua lampu, kecuali yang di luar," tutur Doni sambil menyodorkan kunci. "Oh iya, nih kuncinya!"
"Oke, Mas. Oh iya, dia sudah bayar belum?" tanya Alma.
"Ya ampun belum! Untung saja kamu ngingetin kita, jadi gimana dong?" tanya Ikhsan kepada Doni.
"Nanti kita bicarakan lagi di luar, berat nih, orangnya udah gak sadar," kata Doni yang sudah membopong Pria itu dengan sekuat tenaganya.
"Oke-oke."
Kedua rekan kerja Alma langsung membopong pria itu, sementara Alma membereskan semua yang ada di dalam bar sebelum tempat itu ia tutup. Selang beberapa menit kemudian, Alma pun keluar dari tempat itu dan langsung menguncinya.
"Mas, ini kuncinya, Oia, gimana? Apa sudah ada pihak keluarganya yang mau jemput dia?" tanya Alma sembari memberikan kunci kepada Doni.
Bersambung ..
Doni dan Ikhsan masih setia menunggu pria tersebut. Tidak lama kemudian, Alma pun datang menghampirinya sambil menanyakan pihak keluarga pria itu. Namun, sayang sekali, ponsel milik pria itu lowbat dan tidak bisa digunakan.
"Boro-boro mau menghubungi keluarganya, ponselnya saja mati," sahut Doni yang sudah terlihat kelelahan.
"Terus bagaimana dong? Apa kita laporkan saja ke manager kita? Atau lapor polisi?" tutur Alma kebingungan.
"Ke kantor polisi saja deh, lagian percuma kita lapor ke manager, orang dianya lagi ke luar kota," usul Ikhsan.
Mendengar dirinya akan dibawa ke kantor polisi, pria itu langsung sadar dan seketika marah, namun masih dalam keadaan mabuk pria itu berkata, "Aku tidak mau ke kantor polisi, kalau kalian nekat membawa aku ke sana, kalian akan tau akibatnya!"
"Yey, malah mengancam dia. Eh, Tuan! Bagaimana tidak lapor polisi, dirimu saja sudah dalam keadaan begini, udah gitu belum bayar minuman pula," cetus Alma.
"Uangku banyak, nih kalian ambil saja semau kalian, tapi ijinkan aku tidur di sini," ucap pria itu sembari mengeluarkan isi dompetnya dan setelah itu, ia langsung tepar lagi di tempat duduk yang sudah tersedia di bar itu. Kebetulan tempat duduknya ada empat kursi dan satu meja.
"Gimana? Ambil sajakah uangnya? Dan meninggalkan pria ini disini sendirian?" tutur Doni ragu.
"Mau gimana lagi, waktu sudah tidak memungkinkan, kita terpaksa meninggalkan pria ini di sini. Dan untuk masalah uang itu, aku tidak berani mengambilnya. Mendingan ambil kartu identitasnya saja, jika nanti dia mengelak gak mau bayar, ‘kan bisa lapor polisi," usul Ikhsan.
"Kan tadi dia sudah bilang, ambil saja uangnya. Kalau ngambil kartu identitasnya saja, ya, buat apa? Pasti urusannya beda lagi," ujar Doni.
"Benar juga, dari mana kita dapat kartu identitasnya kalau bukan dari dalam dompetnya?" ujar Alma, "nanti disangkanya kita ambil isinya lagi!"
"Terus bagaimana dong? Aku sudah lelah ingin segera beristirahat," cetus Ikhsan.
"Sama aku juga," ujar Alma dan Doni dengan serempak.
"Laki-laki ini benar-benar merepotkan!" tukas Doni sembari menyunggingkan bibirnya.
"Iya, baru kali ini ada orang mabuk, tapi tidak mau pulang!" tambah Ikhsan sembari menatap ke arah Laki-laki itu.
"Mungkin dia sedang ada masalah di rumahnya, Mas. Makanya tidak mau pulang," celetuk Alma sembari duduk dengan tenang.
"Bisa jadi, lagi pula sudah menjadi tabiat laki-laki jika sedang ada masalah, pasti larinya ke bar dan mabuk-mabukan!" kata Doni dengan pedenya.
"Untung aku tidak!" sahut ikhsan dengan mantap.
"Yah, tidak semua laki-laki begitu ‘kan?" kata Alma mendelik ke arah mereka berdua.
"Benar!" kata keduanya dengan serempak.
"Walau pernah mencoba meminumnya, iya ‘kan?" kata Alma lagi.
"Ben—"
Sejenak Doni terdiam, ingin berkata benar tapi pertanyaannya Alma sungguh membuatnya rancu.
"Aku ... aku pernah meminum alkohol, tapi sedikit," kata Ikhsan terbata-bata.
Alma pun tersenyum manis kepada mereka berdua dan berkata, "Tentu sajalah, aku juga pernah, Mas. Santai saja, jangan malu-malu, bukannya kita di sini bekerja di bar? Mana mungkin tidak pernah menyentuh rasa alkohol, hehehe."
"Iya benar! Kamu memang benar, Alma!" kata Doni malu.
"Aduh, mau sampai kapan kita akan begini terus? Lama-kelamaan kita gak bisa pulang nih," kata Ikhsan mengalihkan pembicaraannya.
"Iya, benar-benar menyebalkan!" tambah Doni dengan raut yang sudah terlihat kecapekan.
Mereka bertiga masih duduk di dekat pria itu sembari kebingungan, entah harus bagaimana lagi, mau melapor polisi pun mereka takut ancaman pria itu, sementara, mereka sudah kelelahan akibat bekerja seharian.
Melihat situasi seperti ini, Alma pun merasa kasihan kepada kedua rekan kerjanya. Ia pun memutuskan untuk menjaga pria itu sampai benar-benar sadar dan berharap ada pihak keluarga yang menjemputnya. Sementara ia menyuruh rekan kerjanya untuk pulang terlebih dulu.
"Kalian pulang duluan saja, untuk urusan laki-laki ini, biar aku yang. Menangani nya," kata Alma tersenyum manis.
"Kamu serius? Nanti kalau terjadi sesuatu dengan kamu bagaimana? Sudah larut malam loh, Al!" ujar Doni khawatir.
"Tenang saja Mas, aku bisa jaga diri. Kalian pulang saja, jangan khawatirkan aku. Keluarga di rumah pasti sedang menunggu kalian, kalau aku ‘kan hanya sendirian di kosan. Jadi santai saja, gak bakalan ada yang mencemaskan aku," ucap Alma dengan senyuman manisnya.
"Ya sudah kalau begitu, tapi janji ya, kalau ada apa-apa, hubungi kita," ucap Ikhsan.
"Baik, Mas. Santai saja," kata Alma membalas senyuman mereka.
"Baiklah, kalau begitu kita berdua pulang duluan ya, pokoknya kalau terjadi sesuatu sama kamu, hubungi kita berdua!" kata Doni.
"Siap, Mas. Hati-hati di jalan ya," tutur Alma kepada rekan kerjanya.
Kedua rekan kerjanya itu langsung meninggalkan Alma bersama pria itu, mereka berdua merasa tidak enak hati kepada Alma, namun apa boleh buat mereka harus pulang, karena anak istrinya pasti sedang menunggu mereka di rumah.
Sementara, Alma masih setia menjaga pria itu sampai benar-benar tersadar, ia pun duduk didekat pria itu yang sedang tertidur pulas. Semakin malam, cuacanya semakin dingin, apalagi mereka berada di luar dan sudah pasti hal itu membuat mereka semakin kedinginan.
Ketika suasana dalam keheningan, pria itu mengigau, "Dingin!"
Laki-laki itu benar-benar terlihat sedang kedinginan. Alma yang sedang duduk di sampingnya pun terperanjat kaget. Ia kebingungan, harus bagaimana lagi menghadapi pria itu, sementara ia pun kedinginan juga.
"Dingin!" kata Laki-laki itu lagi.
Namun pria itu mengigau terus, saking tidak teganya, Alma terpaksa membuka jaketnya untuk pria itu. Ia tidak memperdulikan bagaimana nasib tubuhnya yang sama-sama sedang kedinginan juga. Yang terpenting bagi dirinya, laki-laki itu bisa diam dan tidak mengigau lagi.
"Nah, seperti ini ‘kan lebih baik. Jangan mengigau lagi ya. Awas aja kalau kamu berisik lagi, aku tinggalin kamu di sini," kata Alma sembari menatap laki-laki itu yang sedang tertidur pulas.
*****
Waktu terus bergulir dengan begitu cepat. Alma pun akhirnya tertidur juga saking lelahnya sehabis bekerja. Ia tertidur di dekat pria itu, hingga sang mentari pun telah menampakan sinar cahayanya kepada wajah gadis itu. Karena cahaya mentari itu menyilaukan matanya, ia pun terpaksa terbangun dari tidurnya. Dengan berat ia membuka matanya yang berwarna coklat secara perlahan-lahan.
Setelah dalam situasi yang sadar, Alma terperanjat kaget karena pria itu sudah tidak ada lagi di sisinya. Jaket yang telah ia berikan untuk menghangatkan tubuhnya pun, kini sudah kembali lagi ke tangan Alma, di mana saat pria itu mengembalikannya, dirinya masih dalam keadaan tertidur pulas.
Loh, pria itu pergi ke mana? Dan jaket ini kenapa bisa ada padaku lagi?
Bersambung…
Flashback on
Dari kejauhan, terlihat dua orang Bodyguard sedang mencari seseorang, yang tak lain adalah Bosnya sendiri. Sejak malam itu, mereka mencarinya ke setiap tempat namun tak kunjung juga menemukannya. Mereka juga sembari menanyakan kesetiap orang yang ada di jalanan, sambil memperlihatkan sebuah foto Bosnya, berharap ada orang yang mengenalinya.
Benar saja, ketika dua Bodyguard itu sedang menanyakan ke seseorang di jalanan, orang itu mengetahui di mana Bosnya berada. Langsung saja kedua Bodyguard itu segera mencari ke tempat yang sudah diberitahu oleh orang yang tak dikenal itu. Dan akhirnya usaha mereka membuahkan hasil, mereka menemukan Bosnya di sebuah bar, di mana Alma dan pria itu sedang tertidur pulas di kursi luar yang sudah tersedia di tempat itu.
"Lihat! Ada orang di sana! Ayo kita hampiri saja," ucap salah satu bodyguard itu.
"Apa benar itu Bos kita?"
"Entahlah, kata orang itu, bos kita ada di sana. Ayo ke sana saja!"
"Baiklah!"
Sesampainya di depan bar, mereka berdua terkejut, karena orang yang sedang tertidur pulas itu benar-benar bosnya sendiri. Dan ditambah lagi mereka melihat perempuan, yang ikutan tertidur di dekat bosnya. Sontak saja mereka semakin kaget, karena baru kali ini, mereka melihat bosnya bersama wanita lain.
"Benar! Ternyata ini bos kita, tapi siapa perempuan ini? Dan kenapa jaketnya ada pada bos kita?"sahut salah satu Bodyguard itu. "Nah, terus dompet si bos juga nih ada di meja! Kenapa dia terledor begini sih! Ponselnya juga!"
"Entahlah, mendingan sekarang kita bawa dulu bos kita ke rumahnya, soal perempuan ini biarkan saja, yang penting bos kita aman dan dalam keadaan baik-baik saja."
"Ayo bantu aku untuk membopongnya!"
"Ok!"
Kedua Bodyguard itu langsung membopong bosnya yang masih keadaan tidak sadarkan diri, masuk ke dalam mobil. Mereka juga tidak lupa membawa dompet milik bosnya, dan ponsel serta jaket yang tadinya dikenakan oleh bosnya, dikembalikan lagi oleh Bodyguard itu kepada pemiliknya yang tak lain adalah Alma. Karena jaket itu sudah jelas terlihat seperti jaket perempuan.
"Ayo cepat! Nanti keburu bangun dia!" ucap salah satu bodyguard itu.
Flashback off
*****
Suasana di rumah mewah yang tenang dan damai. Hamparan luas kebunnya begitu menawan, disertai indahnya kolam renang yang didesain dengan tipe minimalis menjadikan suasana nyaman dan betah di rumah.
Saat itu, lelaki bertubuh kekar itu terbangun dari tidurnya. Ia masih dalam keadaan linglung, dikarenakan mabuk yang begitu berat menjadikan tubuhnya belum stabil. Lelaki itu bernama Daffa Virgantara. Usianya sudah menginjak kepala tiga, yaitu 32 tahun. Ia seorang pemilik perusahaan tunggal. Orang tuanya sudah memberikan hak untuk Daffa agar mengambil alih semua perusahaan baik yang perusahaan kecil maupun besar.
Namun, yang paling ia tekuni saat ini adalah perusahaan pertambangan. Orang tua Daffa sudah tua, dan mereka ingin menikmati hidupnya di masa tua dengan disertai adanya seorang cucu. Namun, hal itu belum terwujudkan juga. Andai saja orang tua Daffa mempunyai anak lebih dari satu, pasti mereka sudah menimang cucu dari anak-anaknya.
"Kamu sudah bangun?" tanya seorang perempuan yang tak lain adalah istrinya Daffa, dia bernama Karin.
Sudah hampir sepuluh tahun, mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal Daffa sangat menyukai anak kecil. Jika melihat anak temannya atau anak-anak yang ada di foto-foto media sosial, ia merasa iri dan selalu berharap ia bisa secepatnya dikaruniai anak. Saking lamanya menunggu anugerah dari Tuhan, keharmonisan mereka mulai surut. Terkadang Daffa ingin sekali pergi ke rumah sakit untuk di tes kesuburan, namun, Karin selalu menolaknya.
Saking penasarannya terhadap sang istri, Daffa pun mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan setelah diselidiki oleh Bodyguardnya, apa yang belum ia ketahui akhirnya ia mengetahuinya juga. Karin, selalu datang tiap bulan ke sebuah rumah bidan. Ia hendak mendaftar untuk disuntik KB dengan sembunyi-sembunyi. Hal inilah yang membuat Daffa kecewa terhadap Karin dan menduga-duga, jika Karin memang tidak mau mengandung anak dari Daffa.
"Semalam, katanya kamu tidur di bar? Benarkah itu?" Karin bertanya lagi, karena Daffa sedari tadi tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku mau ke kantor, siapkan baju untukku," sela Daffa kepada Karin. Ia mengalihkan pembicaraannya karena tidak mau membahas masalah itu kepada Karin.
"Kenapa kamu mengacuhkanku terus setelah tau aku memakai alat kontrasepsi? Apa aku salah memakai alat kontrasepsi, hingga kamu selalu menjadi seperti ini terhadapku?" ucap Karin. Air matanya mulai membasahi pipinya.
"Memakai alat kontrasepsi memang tidak salah! Hanya saja, kamu itu belum pernah mengandung, kenapa harus pakai alat kontrasepsi? Bukankah dikaruniai anak itu suatu anugerah dari pernikahan kita?" kata Daffa.
"Sudahlah, aku mulai jenuh dengan dengan perilakumu yang tidak jujur ini. Andai saja kamu tau apa artinya sebuah pernikahan, pasti aku tidak akan seperti ini," ucap Daffa lagi yang penuh kekesalan.
"Tapi itu karena—"
Daffa tidak mendengarkan ucapan Karin, ia langsung meninggalkan Karin dan masuk ke kamar mandi, ia hendak membersihkan diri dan segera menuju ke kantor. Sementara Karin hanya bisa terdiam menahan air mata yang membuat dirinya tersentak atas perkataan Daffa.
Setelah setengah jam kemudian, Daffa langsung berangkat ke kantor didampingi oleh dua Bodyguard yang selalu setia bekerja untuk dirinya, mereka adalah Akmal dan Farhan. Daffa berangkat bekerja tanpa sarapan terlebih dahulu. Ia sudah tidak mempedulikan suasana yang ada di rumah itu. Yang ada dipikirannya sekarang adalah kerja dan kerja.
Selama dalam perjalanan, kedua Bodyguard itu asyik menceritakan, jika dirinya telah didampingi oleh seorang perempuan, pada saat ketiduran di luar bar. Mendengar hal itu, Daffa pun tercengang. Ia hampir saja melupakan kejadian saat tadi malam.
"Serius kalian? Aku bahkan tidak ingat sama sekali," ucap Daffa seolah tidak percaya jika perempuan itu setia menemani dirinya tidur.
"Iya, Bos! Bahkan dia memberikan jaketnya untuk Bos, mungkin supaya Bos tidak kedinginan," ujar Farhan sembari fokus menyetir mobil.
"Oh iya Bos, apakah isi dompetnya masih utuh? Aku lihat tadi pagi dompet Bos tergeletak di atas meja, siapa tau perempuan itu mengambil semua isi dompetmu, Bos," kata Akmal penasaran.
"Dompet?" mata Daffa terbelalak kaget.
Daffa pun langsung mengecek isi dompetnya, dan setelah apa yang dilihatnya, ia tersenyum lebar karena dompetnya masih utuh. Ia pun mengingat-ngingat siapa perempuan yang sudah membantunya tadi malam. Namun ia tidak mengingatnya sama sekali, hanya saja yang ada dalam ingatannya itu, ia belum membayar minuman yang ada di bar itu.
"Ya ampun! Antarkan aku ke bar itu lagi!" ucap Daffa dengan membelalakan matanya.
"Loh! Kenapa Bos? Apa ada sesuatu yang hilang?" tanya Farhan keheranan.
"Tidak! Hanya saja, aku belum bayar minuman!" ucap Daffa dengan santainya.
Kedua Bodyguard itu langsung tertawa cekikikan menertawakan bosnya sendiri. Secara, seorang Ceo bisa-bisanya belum membayar minuman, apalagi bar itu sudah terkenal dimana-mana. Apa jadinya kalau mereka tahu, jika yang belum bayar adalah seorang Ceo yang memiliki perusahaan besar di daerah tersebut. Pasti semua orang juga akan menertawakannya.
Bersambung …