“Segera ke ruangan saya sekarang juga!”
‘Pip’
Belum sempat menyapa sang bos wanita itu sudah mendapat semburan darinya. Wanita itu memberengut menatap horor ruangan di depannya yang tertutup rapat.
“Nggak nyangka gue bakal terus berhubungan sama orang kayak dia,” gerutu wanita itu yang sedang beberes. Membuat beberapa pasang mata menatapnya dengan pandangan geli dan juga ... gemas?
Yang orang kantor ketahui kalau wanita itu salah satu karyawan yang berani beradu argumen dengan atasan mereka disaat karyawan yang lainnya terdiam dan menunduk hormat.
“Siapin hati sebelum berperang, Sell,” pesan wanita yang duduk di sebelah kubikelnya dengan kekehan tak tertahan diikuti oleh beberapa karyawan lainnya.
Sella menatap mereka satu per satu dengan pandangan penuh permohonan. “Ada yang mau gantiin posisi gue, nggak?” tanyanya dengan pandangan sayu, namun sudut bibirnya tersenyum sinis.
Beberapa orang tergelak dengan perkataan wanita itu, padahal Sella berkata begitu karena sebenarnya kali ini dia sangat ingin bebas dari atasan mereka yang terkenal bossy.
‘Tok ... tok ....’
“Masuk!” sahut suara lantang dari dalam sana.
Seketika itu juga Sella merinding hanya sekedar mendengarnya saja. Sangat berbanding terbalik dengan kepribadian sang atasan.
Membuka pintu lalu tak lupa pula menutupnya kembali Sella memilih duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
Tanpa bertanya mengenai kedatangannya saat ini Sella justru asik menidurkan tubuhnya bersandar di sofa kecil.
Pria itu menatap sang wanita dengan dengusan malas. “Kalau mau tidur ke kamar saja,” ujar pria itu tanpa menatap Sella.
Tanpa menunggu dua kali perintah sang atasan Sella memilih melangkahkan kakinya menuju kamar yang tersedia di dalam ruangan ini.
Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah karena semalam dia kurang tidur demi mengurus kerjaan yang belum tuntas. Itulah sebabnya sang atasan memintanya datang ke ruangannya untuk beristirahat. Tapi ... Sella mana tahu, sih?
Betapa pengertian sekali atasannya ini, ‘kan?
Apakah Sella merasa beruntung memiliki atasan sepertinya? Jawabannya ada di Sella sendiri.
Pria itu yang bernama Rishan memasuki kamar yang ditempati oleh Sella. Memilih bergabung dalam satu ranjang yang sama. Memeluknya dengan erat sembari memberi kehangatan kepada wanitanya yang tidak terganggu sama sekali.
***
Matahari sudah hilang di ufuk barat ketika kelopak mata itu terbuka. Objek pertama kali yang dilihatnya setiap bangun tidur adalah wajah pria di depannya yang sangat memikat hatinya.
Jarinya dia larikan menapaki pahatan sempurna milik atasannya yang terkenal bossy. Rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, matanya yang tajam saat menatap dirinya serta alis dan bibirnya yang tebal memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa pun.
Itulah yang membuat Sella menerima kehadiran sang atasan di hidupnya, tapi alasan lain adalah keluarga yang—
“Kamu sudah bangun tapi tidak membangunkan saya, Sella?”
Sella meringis mendengar nada datar yang keluar dari bibir seksi milik atasannya.
“Bisa santai tidak, sih, Pak? Saya juga baru bangun, kok,” kilah Sella tidak mau disalahkan.
Tatapan tajam bak elang milik Rishan nyatanya tidak membuat nyali Sella menciut.
“Ini kantor, lho.” Rishan memberitahu keberadaan mereka saat ini.
Merasa kesal dengan wanitanya Rishan memilih beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Melihat pria itu masuk ke kamar mandi bergegas Sella ikut bangkit menyiapkan pakaian untuk atasannya.
“Tidak salah pilih,” ujar Rishan menghampiri Sella yang sedang duduk di depan meja rias.
Tanpa perlu repot-repot menengok Sella sudah tahu kalau Rishan sedang berpakaian. Kebiasaan buruk pria itu yang tidak pernah mau bersiap-siap di dalam kamar mandi.
“Udah berapa kali Bapak berbicara seperti itu?” tanya Sella merasa jengah.
“Nggak mau mandi dulu?” Pertanyaan Rishan tidak dihiraukan oleh Sella. Dia memilih kembali merapikan riasannya.
Berjalan bersisihan dengan sang atasan membuat Sella harus memasang muka tebal di koridor kantor yang masih terlihat ramai.
Menyadari langkah seseorang terlihat sangat jauh membuat Rishan menghentikan langkahnya menunggu wanita itu berjalan lebih dekat dengannya.
“Kenapa berjalan di belakang saya?” tanya Rishan terdengar sinis di telinga Sella.
Sella menunduk menahan malu, bukan karena teguran sang atasan, akan tetapi dirinya menjadi pusat perhatian orang kantor saat ini.
Meski sudah waktunya jam pulang kantor, tetapi masih banyak yang bekerja saat jam mereka sudah selesai. Dan hal itu membuat Sella tidak nyaman saat berada di kantor seperti ini.
"Pelankan suaranya, Pak," desis Sella. Wanita itu menolak saat Rishan menyejajarkan diri berjalan beriringan. Bahkan saat secara terang-terangan Rishan hendak meraih jari kelingkingnya.
Dihempaskan keras oleh Sella tanpa peduli dengan muka masam pria itu. "Jaga sikap." Sekali lagi Sella mendesis. Dia kesal, jengkel dengan sikap atasannya hari ini. Entahlah, atau memang dia saja yang banyak menolak.
Dia hanya sedang menjaga nama baik di depan karyawan yang belum mengetahui seluk-beluk dirinya di perusahaan ini. Sebisa mungkin Sella ingin namanya bersih tanpa ada pemberitaan sebagai 'penjilat'. Ini semua juga atas perjanjian keduanya.
"Masuk!" tegas pria itu membuka pintu penumpang, tatapan matanya enggan mengarah kepada Sella. Hal itu dimanfaatkan oleh Sella supaya tidak diperpanjang.
'Brak!'
Wanita itu tersentak sampai menekan dadanya saking kaget dan tidak menduga kalau Rishan sampai seperti itu. Dia memegang kaki sebelah pintu takut-takut lecet, padahal tanpa dia sadari Rishan tidak akan ceroboh dengan melukainya.
Sepersekian detik saat pria itu masuk juga menutup pintu tak kalah kencang, mungkin jika bukan terbuat dari besi sudah rontok pintunya.
"Pak—"
'Cup'
Bukan hanya sebuah kecupan saja, melainkan lumayan sedikit kasar yang didapati oleh Sella karena serangan pria itu. Beberapa kali dia berusaha mendorong dada bidangnya. Akan tetapi, tenaganya kalah jauh.
Setelah puas bermain bibir pria itu menyatukan kening keduanya dengan napas yang saling bersahutan. Dia membelai pipi mulus Sella dengan jari-jemari yang besar. "Saya tidak suka kamu menghindar."
Sella meneguk salivanya dengan susah payah. Dia menunduk, berusaha menutupi pipinya yang merona. Namun, pergerakannya kalah cepat karena Rishan sudah lebih dulu membimbing pandangannya, sehingga dua daging kenyal itu kembali bertemu.
Kali ini hanya saling mengecup kecil yang dilakukan berulang kali. Sella tidak bisa menolaknya karena pesona Rishan begitu kuat dia rasakan. Apalagi tatapan tajam bak elang milik pria itu 'tak bisa dielakan.
"S-stop, Pak," tahan Sella saat tangan Rishan mulai berani merayap masuk ke dalam rok spannya. Wanita itu menggeleng, menetap sekeliling yang diikuti juga oleh pria itu. "Tempat umum," cicitnya. Menunduk karena kilat emosi dari mata pria itu.
"Sialan!"
"Saya hajar kamu di rumah, Sella." Sella bergidik ngeri dengan ancaman pria itu.
Baru sehari semalam menjadi istri dari seorang Rishan Diantoro sudah membuat Sella berdecak sebal. Bagaimana tidak saat bangun tidur dia tidak hanya mengurus dirinya saja.
Sekarang ini dengan seenaknya atasannya yang belum genap satu minggu menyandang status sebagai suaminya tiba-tiba saja memerintah dirinya sebagaimana seorang suami. Boleh saja kalau kasusnya bukan seperti yang dialami oleh Sella, masalahnya ini semua tak semudah yang dibayangkan.
Sella harus rela bangun pagi demi memberi makan untuk perut orang yang tidur satu ranjang dengannya. Kalau dulu Sella tidak pernah mengurus antara kecocokan perutnya, tapi sekarang dia dituntut untuk terjun langsung ke dapur.
Bagaimana tidak kesal coba? Baru dua hari jadi suami sudah membuatnya darah tinggi bagaimana kalau satu tahun, ah ya! Sella melupakan satu hal. Seharusnya kalau dari cerita-cerita roman yang dia baca selalu ada perjanjian kontrak dalam kasus yang dialaminya saat ini, tapi ... kenapa dia tidak dimintai tanda tangan?
Sibuk dengan pikiran ngawurnya sampai tidak menyadari tangan kekar seseorang yang mengulurkan sebuah dasi berwarna biru ke hadapannya.
Melihat keterdiaman istrinya membuat Rishan mengecup keningnya yang nampak berkerut. Mendapati serangan mendadak dari suaminya membuat Sella mengerjap bak tertiup angin topan, lalu tatapannya mengarah ke dasi yang disodorkan oleh suaminya.
Sella menaikan alisnya pertanda bingung dengan sikap Rishan terhadapnya, apalagi tadi keningnya dikecup dengan tidak hormat.
“Berasa murahan banget gue,” batin Sella menenangkan degup jantungnya yang memompa lebih cepat dari biasanya.
Tidak usah munafik! Nyatanya Sella merasa ada sesuatu yang beda saat mereka saling bersentuhan.
“Apa seberat itu membantu saya memakai dasi?”
Sella mengerjap. Menatap Rishan dengan tatapan polos. Rishan menatap istrinya dengan senyum yang tertahan. Hanya melihat tingkah natural yang ditunjukkan oleh Sella sukses membuatnya terpesona.
Sella wanita apa adanya, tidak pernah neko-neko dan yang penting tidak gila harta. Berbeda dengan wanita yang meninggalkannya dulu.
“Tangan Bapak masih berfungsi dengan baik, ‘kan?” tanya Sella sinis.
Hening. Tidak ada balasan dari Rishan, tapi tindakannya mewakilkan suasana di dapur.
‘Cup’
Sella melotot tidak percaya dengan tindakan suaminya yang menurutnya diluar batas.
“Salah panggil lima kecupan,” kata pria di depannya dengan santai.
“What?!” pekik wanita itu tidak terima.
***
Setelah kepergian Rishan Sella langsung melarikan diri ke dalam kamar mandi. Bukan untuk mandi, melainkan membasuh sisa-sisa daging kenyal yang masih terasa menempel pada bibirnya. Sella masih bisa merasakan bagaimana daging kenyal itu menempel sempurna bak perangko. Hanya menempel, tidak lebih! Tapi ... kenapa rasanya sangat terasa?!
Sella uring-uringan tidak jelas. Dalam benaknya dia sudah merencanakan berbagai macam pelanggaran-pelanggaran yang akan dia terapkan.
Harus segera terlaksana hari ini juga!
Rishan bertingkah semena-mena terhadapnya. Bukan tidak mau, tapi tubuhnya tidak bisa menolak setiap sentuhan yang diberikan atasannya yang merangkap sebagai suaminya.
“Berasa jadi wanita malam yang minta pertanggungjawaban!” dengus Sella menatap cermin besar di depannya.
Sudah hampir satu jam berada di dalam kamar mandi. Hanya memandang dirinya lewat cermin. Memastikan bahwa wajahnya pantas bersanding dengan seorang Rishan Diantoro.
“Nggak terlalu buruk, sih kalau jadi istrinya CEO.” Sella berputar-putar di depan cermin.
“Tapi kenapa gue merasa nggak percaya diri, ya?”
“Tahu, deh! Nggak urusan sama omongan orang.”
Sella keluar dari kamar mandi langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baru dua hari statusnya dari karyawan berubah menjadi istri bos dan tidak ada yang tahu. Pernikahan memang dilakukan secara tertutup karena permintaannya dan Rishan dengan alasan hemat, padahal kekayaan milik Rishan Diantoro tidak akan berkurang hanya untuk menggelar pesta pernikahan yang mewah.
Hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan beberapa wartawan yang ditugaskan untuk meliput berita itu, bahkan keluarga Sella saja tidak ada yang datang.
Mengingatnya membuat Sella kembali meneteskan air matanya.
Bagaimana perasaanmu saat di hari bahagia tidak ada satu pun keluarga yang datang menghadiri. Bahkan sosok ayah saja tidak hadir, bukan tidak mau hadir, melainkan Sella sendiri yang tidak mengabari. Pernikahan diwakilkan kepada wali yang sudah dibereskan oleh Rishan. Semua menjadi mudah bila dikerjakan dengan uang, bukan?
Alasannya masih sama. Sella tidak mau ada keributan, lagi pula pernikahan ini hanya pengganti saja, tidak lebih. Akan ada saatnya nanti Sella keluar dari ikatan suci pernikahan ini.
Sudahlah!
Masalah seperti ini tidak perlu dipikirkan lagi, saat ini fokus saja dengan kehidupan baru. Eits ... maksud Sella fokus saja dengan karirnya bukan dengan suaminya. Dia baru saja terjun ke lapangan kerja, tetapi kini terjebak dengan pernikahan pengganti yang sialnya juga dinikmati olehnya.
Oke, Sella bangkit dari acara berbaring. Memilih mengganti bajunya dengan pakaian yang sopan, lalu membawa sisa makanan, sarapan dirinya dan sang suami.
Menekan bel apartemen di depannya yang langsung dibuka oleh si tuan rumah. Sambutan pertama yang didapatkan Sella adalah pelukan hangat.
Dia Agnes, teman sekaligus rekan kerjanya di kantor milik suaminya, bahkan Agnes pula lah yang mengenalkan perusahaan itu kepada dirinya yang berakhir dilamar oleh atasannya.
Agnes mempersilahkan Sella masuk, menggiring Sella duduk di sofa depan televisi.
Begitu mereka duduk berdampingan tatapan Agnes memicing terhadapnya, lalu senyum jahil menghiasi wajah ayunya.
Sella mendengus. Mencoba mengalihkan tatapannya ke depan televisi mengacaukan keberadaan si tuan rumah.
“Berlagak kayak nggak kenal aja lo!” sindir Agnes dengan sikap Sella yang seolah tidak ingin bercerita.
“Nggak perlu juga kali gue cerita apa yang mau lo tahu karena pada dasarnya gue masih tersegel rapi,” balas Sella mencibir.
Agnes tertawa sumbang mendengar nada bicara temannya yang kelewat santai. Bisa dipastikan hubungan apa yang sedang dibangun oleh sahabatnya itu.
“Nggak nyesel ‘kan dapat yang glowing?” Agnes manaikturunkan alisnya menggoda.
“Apaan, sih!” Sella tersipu malu.
“Yang ada itu bos yang beruntung dapat wanita kayak gue yang super mandiri,” bantah Sella tidak terima.
Agnes memilih diam. “Gue iya aja, deh,” balasnya.
Keduanya sama-sama diam sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Agnes yang sibuk dengan laptop dan beberapa berkas, sedangkan Sella yamg sibuk dengan makanan yang tadi dibawanya. Padahal niatnya mau berbagi, tapi ujung-ujungnya dia sendiri yang menghabiskan.
“Mau ikut gue ke mall, nggak?” tanya Agnes.
Beranjak menuju kamarnya guna berganti pakaian. Sella mengekor memasuki kamar Agnes.
“Gue nggak perlu ganti baju, ‘kan?”
Mendengar lontaran pertanyaan dari Sella membuat fokus Agnes menatap pakaian Sella. Tidak terlalu buruk kalau untuk dipakai pergi ke mall saja.
Dress biru selutut dipadukan dengan sandal rumahan berbentuk kelinci sangat pas di kaki kecil temannya. Tidak ada kesan terlalu bocah yang ada malah terlihat mengemaskan. Rambutnya pun tergerai indah.
“Oke, not bad,” komentar Agnes setelahnya.
***
Berjalan bersisian dengan Sella seperti berjalan dengan anak, soalnya Sella lebih pendek dari Agnes. Yang sukses memancing orang-orang menatap keduanya adalah langkah Sella yang terlihat santai sembari mengemut permen lollipop. Jangan lupakan juga temannya ini sangat suka dengan lollipop. Status tidak menjadi seseorang meninggalkan kesukaannya, ‘kan?
Gemes, deh!
“Gue berasa ngasuh anak kalau jalan sama lo, Sell,” omel Agnes, tetapi tidak dihiraukan oleh Sella.
Mereka yang menatapnya mengira masih anak SMA padahal aslinya sudah menikah. Istri sang CEO pula.
Langkah Sella terhenti saat netranya menemukan sepasang manusia berjenis kelamin berbeda sedang berbincang santai, tapi tunggu dulu! Yang membuat Sella harus menghentikan emutannya pada si lollipop adalah ... suaminya!
Suaminya sedang duduk santai di sana dengan seorang wanita yang bisa dikatakan cantik, bahkan jika disandingkan dengan dirinya ia akan merasa malu sekali, apalagi saat Sella menunduk memperhatikan pakaiannya saat ini sukses membuatnya meringis.
Malu sekali dia!
Meskipun Sella kerap kali membanggakan dirinya di depan sahabatnya bahwa dia memang cantik, tapi kalo urusan membanggakan dirinya di depan wanita itu yang Sella yakini kekasih suaminya, maka dia lebih memilih mundur.
Tidak mau harus bersaing dengan wanita sesempurna kekasih suaminya yang ada dia seperti mempermalukan dirinya sendiri.
Jika yang kalian harapkan Sella akan mencak-mencak dan melabrak mereka, maka jawabannya salah! Sella bahkan menyunggingkan senyuman saat otak cantiknya menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum selebar ini.
Menyadari langkah seseorang tidak terdengar di belakangnya membuat Agnes menengok dan mendapati keberadaan sahabatnya tertinggal sangat jauh. Agnes menghela napas penuh kesabaran jika harus menghadapi polah tingkah Sella.
Sudah bukan lagi menjadi rahasia umum kalau Sella ini tergolong wanita yang polos dan bersikap kekanak-kanakan, maka dari itu begitu mengetahui sang sahabat menikah dengan bosnya sukses membuat Agnes was-was sendiri, meskipun dia tahu dibalik ini semua.
Memikirkan nasib sahabatnya yang sama sekali tidak memikirkan nasibnya. Karena Sella tergolong wanita yang cuek dan apa adanya, makanya Agnes khawatir kepolosan Sella dimanfaatkan oleh bosnya secara suami sahabatnya itu tergolong pria matang.
Agnes memilih menunggu dengan pose tampang garang. Bersedekap dada saat Sella menatapnya dengan menunjukkan deretan giginya yang putih rapi. Ditunggu sampai lima menit, tetapi Sella tidak ada niatan menghampirinya membuat Agnes yang memilih menghampiri Sella.
Belum sempat sampai di hadapan Sella dia malah diacuhkan dengan kepergian Sella ke arah restoran. Dan yang membuat Agnes melototkan bola matanya sempurna adalah orang yang dihampiri sahabatnya itu.
Agnes tidak tahu lagi apa yang akan dilakukannya saat ini. Ingin mencegah, tapi tidak mungkin karena Sella sudah duduk manis di meja itu. Meja suaminya yang juga bosnya dengan seorang wanita yang tak kalah cantik dari sahabatnya.
Agnes memilih duduk di meja belakang mereka. Mengamati apa yang akan terjadi. Agnes bersumpah jika sampai sahabatnya itu membuat keributan dia akan meninggalkan Sella di sini.
Bodo amat yang penting dia sudah bersama suaminya, begitulah pikir Agnes.
Sampai menit kesepuluh belum ada tanda-tanda pertengkaran yang diperkirakan oleh Agnes saat kedua wanita akan saling menjambak di depan pria itu. Justru Sella dengan santainya ikut berbincang seolah tidak sadar atau bahkan pura-pura tidak sadar ada wanita lain yang juga bersama suaminya.
“Emang dasar bocah kalau dinikahin ya gini kelakuannya. Polosnya bikin gue pengin bunuh lo, Sell!” Agnes terus saja ngedumel tidak jelas. Sumpah serapah akan dia lontarkan untuk Sella.
Sedangkan di meja nomor lima belas seorang pria yang sedang ditatap sedemikian rupa oleh istrinya membuat Rishan terdiam kaku. Dia merasa terciduk oleh istrinya sendiri.
Merasa sadar telah main belakang. Bilangnya ke kantor, tapi malahan mangkal di sini.
Merasa bersalah, ya, Mas?
Wanita itu yang duduk berhadapan dengan Rishan juga sama bingungnya mendapati keberadaan Sella di antara mereka. Saat wanita itu akan membuka suaranya tiba-tiba saja Sella menyelanya dengan sapaan lembut.
“Hallo, Kak,” sapa Sella ramah bahkan sampai tersenyum.
Wanita itu menerima uluran tangan Sella dengan ragu. Saat mendapati senyuman itu entah mengapa wanita itu pun ikut tersenyum.
Senyuman Sella selalu menjadi candu bagi siapa pun, termasuk suaminya mungkin.
Mendapat sambutan baik dari kekasih suaminya membuat senyum Sella makin lebar. Dia bahkan sampai menatap suaminya. Mengatakan seolah ‘kami adalah teman’ nyatanya Rishan sudah ketar-ketir mendapati senyum lebar istrinya yang jarang sekali terlihat. Karena saat bersamanya, Rishan selalu mendapatkan tatapan sinis tidak mengenakan.
***
Setelah menyeret Sella yang berakhir meninggalkan teka-teki untuk Bella. Rishan langsung membawa Sella pulang, tidak lagi kembali ke kantor. Baginya saat ini lebih penting Sella daripada pekerjaannya.
Eits ... jangan salah paham! Maksud pak Rishan itu mementingkan meredamkan amarah Sella sebelum istrinya itu membludak dan berakhir dia yang berurusan dengan sang ibu.
Bukan tidak peka, bahkan Rishan sangat peka dengan tingkah Sella barusan. Istri mana yang baik-baik saja saat suaminya—
Sampai di apartemen Sella memilih menyibukan diri di dapur dengan segala macam wajan dan pisau demi menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Rishan pun tak kalah canggungnya dengan Sella, akan tetapi dia memilih menghampiri Sella. Karena jika masalah ini diendapkan yang ada akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
Rishan duduk di depan meja pantry memperhatikan istrinya yang bergerak lincah ke sana ke mari dengan celemek yang menempel di tubuh mungilnya.
“Sella ....”
Tidak ada tanggapan. Sella diam Rishan ikutan diam. Bingung akan memulai percakapan dari mana karena yang diajak bicara sepertinya tidak mood.
“Mau saya bikinin kopi atau teh?” Pertanyaan Sella membuat Rishan tersadar karena sedari tadi dia melamun.
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya dia menyuguhkan secangkir kopi yang masih mengepul. Harum semerbak kopi menguar sampai hidungnya membuat Rishan tanpa sengaja tersenyum tipis. Sangat tipis hanya dia seorang yang tahu.
Mengabaikan harum kopi Rishan justru fokus memperhatikan istrinya yang masih asik berkutat dengan pisau. Jika diperhatikan sekilas Sella nampak seperti anak SMA dari tubuhnya yang terbilang kecil. Mungkin itu salah satu daya tarik tersendiri baginya kenapa dia menjadikan staf kantornya ini sebagai istri.
Sella duduk di depan Rishan. Mengambilkan nasi beserta lauknya untuk sang suami. Mendapat perhatian kecil seperti ini membuat hatinya menghangat karena baru kali ini dia merasa dilayani dan dihormati.
Bahkan saat menjalin kasih dengan mantan kekasihnya dulu tidak pernah dia merasa diutamakan seperti halnya Sella mengutamakan dirinya. Apa karena dia istrinya? Tapi ... tidak juga! Buktinya teman-temannya sering kali mendapat perlakuan seperti saat dia diperlakukan oleh Sella yang mana artinya apakah hubungan seperti ini yang patuh dipertahankan? Terlebih orangnya.
Mengenyahkan pikiran ngawurnya perihal masa lalu Rishan memilih menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh istrinya, meskipun Rishan tahu kalau Sella melakukannya dengan sedikit menggerutu tidak ikhlas, tetapi Rishan bodo amat.
Baginya terpenting makan lalu berbincang sedikit dengan sang istri yang sudah terlanjur menutup mulut.
Berbeda dengan Rishan yang terlihat ketar-ketir Sella justru sangat santai menanggapinya. Bahkan dia sama sekali tidak mempermasalahkan kedekatan suaminya dengan wanita lain. Hanya saja dia sedikit penasaran. Hanya penasaran tidak lebih!
Kira-kira siapa wanita itu?