Bab 2

Beberapa hari berlalu sejak pertemuan Aluna dengan Elvano dan Dion. Namun pikirannya masih saja tertambat pada bocah kecil itu-dan tatapan mata pria yang seolah mampu membaca luka yang ia sembunyikan selama ini.

Aluna duduk di bangku kayu taman yang sama, tempat ia menyelamatkan Elvano. Angin sore menggoyangkan helaian rambutnya yang panjang dan terurai, sementara suara tawa anak-anak yang bermain di kejauhan mengisi udara. Tapi bukan tawa yang membuat hatinya hangat, melainkan suara langkah kecil yang ia kenali kini mendekat perlahan.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya Elvano pelan, menatapnya dengan pandangan polos.

Aluna menoleh, tersenyum. "Tentu saja. Kamu datang sendiri?"

Elvano mengangguk. "Ayah sedang di mobil. Tapi aku lihat kamu di sini, jadi aku lari duluan."

Aluna tertawa kecil. "Kamu nakal ya."

Elvano menunduk, seperti takut dituduh nakal sungguhan. Tapi kemudian ia berbisik, "Aku cuma pengen ketemu tante Aluna. Di sekolah... aku dimarahi temanku lagi. Mereka bilang aku anak yang nggak laku diurus ibunya."

Kalimat itu menampar nurani Aluna. Ia menatap Elvano lekat-lekat, berusaha menyembunyikan emosi yang tiba-tiba melonjak di dadanya.

"Ayah bilang aku kuat. Tapi kadang... aku juga pengen ada ibu yang bisa peluk aku pas pulang sekolah," lanjut Elvano lirih.

Aluna memeluknya tanpa berkata-kata. Pelukan itu bukan hanya untuk menghibur Elvano, tapi juga untuk dirinya sendiri-seolah hatinya tahu bahwa ia dan anak ini saling menyembuhkan luka satu sama lain.

"Maaf ya, aku jadi nangis," gumam bocah itu sambil menyeka air matanya dengan lengan baju.

"Tidak apa-apa, Elvano. Menangis bukan berarti kamu lemah. Itu berarti kamu berani menunjukkan perasaanmu. Dan itu... itu jauh lebih kuat dari pura-pura bahagia."

Seseorang berdiri tak jauh di belakang mereka. Dion.

Pria itu menatap keduanya, namun kali ini tanpa ragu. Tatapan matanya dalam, tapi ada sesuatu yang berubah. Ia tak lagi hanya berterima kasih karena nyawa anaknya diselamatkan. Kini ada sorotan berbeda di matanya-ketertarikan, rasa penasaran, dan... harapan?

"Maaf kalau aku mengganggu," ucap Dion sambil melangkah pelan.

Aluna berdiri, sedikit canggung. "Tidak sama sekali. Elvano tadi tiba-tiba muncul."

Dion mengangguk, lalu berjongkok di depan anaknya. "El, kamu cerita lagi ya ke Tante Aluna?"

Elvano mengangguk dengan polos. Dion menatap Aluna sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kamu punya cara yang tenang dalam menghadapi dia. Bahkan aku sebagai ayah kadang kehabisan cara."

Aluna menatap Dion, senyum tipis menggantung di bibirnya. "Mungkin karena aku tahu rasanya ingin didengar... tapi tidak ada yang peduli."

Dion tampak tertegun. Kalimat itu menembus lapisan tenang yang selama ini ia pertahankan.

"Aku punya kedai kopi kecil tak jauh dari sini. Kalau kamu tidak keberatan, mungkin... kamu bisa mampir besok sore?" tawar Dion dengan nada rendah.

Aluna ragu sejenak. Tapi kemudian ia mengangguk pelan. "Baik. Aku akan coba datang."

Dan saat Dion mengantar pulang Elvano, Aluna duduk kembali di bangku itu, memandangi langit sore yang mulai memerah. Entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa... tidak sepenuhnya sendiri.

Kedai kopi milik Dion ternyata jauh dari bayangannya. Alih-alih mewah dan dingin seperti image pria itu, kedai ini hangat, dengan interior kayu dan aroma kopi yang menenangkan. Aluna tiba di sana menjelang pukul lima sore. Di sudut kedai, Dion sudah menunggu-tanpa jas mahal, hanya mengenakan kemeja putih digulung hingga siku. Ia tampak... manusiawi. Bukan lagi pria dingin dengan kekuasaan dan uang, melainkan seseorang yang menyimpan luka di balik senyum tenangnya.

"Aku tidak tahu kamu suka suasana begini," ujar Aluna setelah duduk.

Dion tersenyum, menuangkan kopi dari teko. "Kopi ini bukan tentang bisnis. Ini tentang pelarian."

Aluna mengangguk pelan. "Kita sama, ternyata."

Dion menatapnya, kali ini lebih lama dari sebelumnya. "Apa kamu mau cerita, Aluna?"

Pertanyaan itu membuat napas Aluna tercekat. Tidak banyak orang yang bertanya seperti itu. Dan lebih sedikit lagi orang yang benar-benar ingin mendengarnya.

"Aku dulu istri dari pria yang semua orang kira sempurna. Kaya, sopan di depan umum. Tapi di balik pintu rumah, dia... membunuhku perlahan. Dengan kata-kata. Dengan sikap dingin. Dengan pengkhianatan." Aluna berhenti sebentar, menahan suara gemetar. "Keluargaku pun lebih memilih membelanya. Karena uang. Karena status. Aku... keluar dari pernikahan itu tanpa punya siapa-siapa."

Hening mengalir di antara mereka. Dion tidak menyela, tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.

"Aku juga ditinggal," akhirnya Dion bicara. "Istriku pergi karena dia menganggap aku terlalu sibuk. Terlalu serius. Dia bilang, cinta itu harus ringan. Sementara aku terlalu... berat untuk dia. Dia tidak hanya meninggalkan aku. Dia meninggalkan Elvano. Seorang ibu yang tak pernah menoleh ke belakang."

Aluna menunduk, menahan emosi yang membuncah.

"Luka kita berbeda... tapi rasanya sama, ya?" tanya Dion.

Aluna mengangguk pelan. Matanya mulai basah. "Dan mungkin karena itulah... kita bisa saling melihat."

Malam itu, ketika Aluna kembali ke apartemen kecilnya, ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Ada sesuatu yang berbeda. Tidak, bukan karena pria tampan yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Tapi karena, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dirinya... tidak rusak. Ia bukan wanita yang gagal, bukan juga istri yang tidak layak dicintai.

Ia adalah seorang perempuan yang pernah jatuh, pernah dihancurkan, tetapi perlahan-dengan tangan mungil Elvano dan tatapan dalam Dion-ia sedang belajar berdiri kembali.

Dan ia tahu, luka-luka itu belum hilang. Tapi mungkin... kali ini ia tidak harus menyembuhkan diri sendirian.

Bab 3

Udara sore mulai menggigil ketika langkah kaki Aluna menuruni tangga apartemennya. Ia mengenakan mantel cokelat tua, rambut diikat rendah, dan mata yang tampak lebih hidup dari biasanya. Sudah hampir sebulan sejak pertemuan pertamanya dengan Dion dan Elvano, dan sejak saat itu, hidupnya mulai terasa... berbeda.

Bukan berarti lebih mudah. Tapi lebih bermakna.

Hari ini, Dion mengundangnya makan malam di rumahnya. Bukan di restoran mewah atau kafe miliknya. Tapi rumah tempat Elvano tinggal, tempat kenangan dibentuk dan luka dikenang.

Mobil Dion sudah menunggu di depan apartemen saat Aluna keluar. Seperti biasa, pria itu turun sendiri dan membukakan pintu.

"Senyummu sore ini... beda," ujar Dion pelan, memandangi wajahnya sejenak.

"Mungkin karena aku belum pernah diundang makan malam oleh seorang duda kaya sebelumnya," jawab Aluna setengah bercanda.

Dion tertawa, dan untuk pertama kalinya, tawa itu terdengar hangat. Bukan lagi sekadar basa-basi atau topeng sosial. Tapi tulus. Jujur. Rapuh.

Rumah Dion terletak di kawasan elit dengan pagar besi tinggi dan taman yang luas. Tapi begitu memasuki dalamnya, aura hangat langsung menyambut Aluna. Tidak ada kemewahan berlebihan. Ruang tamunya dihiasi lukisan-lukisan tua dan foto-foto Elvano saat bayi.

"Rumah ini terlalu besar untuk hanya dua orang," gumam Aluna saat duduk di sofa.

Dion mengangguk, menuangkan teh ke dalam dua cangkir. "Tapi jadi terasa lebih kecil... saat kamu di sini."

Kalimat itu membuat dada Aluna hangat sekaligus canggung. Ia menunduk, mencoba menahan senyum.

Namun momen itu tak berlangsung lama. Bel rumah tiba-tiba berbunyi.

Dion tampak terkejut. "Aku tidak sedang menunggu tamu..."

Ia berjalan ke pintu, dan sesaat kemudian suara perempuan terdengar dari ambang pintu.

"Dion. Kita perlu bicara."

Suara itu dingin, tajam. Seperti peluru yang membelah keheningan.

Aluna menoleh, dan di pintu berdirilah seorang wanita dengan balutan gaun hitam dan parfum mahal yang menusuk hidung. Rambutnya tergerai rapi, riasan wajahnya sempurna. Namun yang paling menonjol... adalah sorot matanya yang penuh klaim.

"Clare," desah Dion nyaris tanpa suara.

Mata Aluna melebar. Clare? Itu... mantan istrinya?

"Aku ingin bertemu dengan Elvano," lanjut Clare tanpa peduli pada kehadiran Aluna.

"Elvano tidak membutuhkanmu lagi," jawab Dion dengan nada datar.

Clare melirik ke arah Aluna. Matanya menelanjangi perempuan itu dari ujung rambut hingga kaki. "Dan kamu pikir dia butuh... wanita kelas dua seperti ini?"

Kalimat itu menyayat.

Aluna bangkit berdiri, tidak ingin menjadi penonton dari drama yang bukan miliknya. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Dion berbicara lebih dulu.

"Jangan pernah bicara seperti itu pada Aluna."

Clare tertawa kecil. "Lucu. Kau dulu bahkan tidak pernah membelaku seperti ini."

"Kau tidak pantas dibela saat meninggalkan anakmu demi pria lain," sahut Dion, kali ini nadanya meninggi.

Aluna menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan guncangan dalam dadanya. Ia tidak ingin jadi penyebab pertengkaran. Tapi kenyataannya, kehadirannya memicu ledakan yang seharusnya sudah lama meletus.

Clare melangkah maju, kini berdiri tepat di depan Aluna. "Dengar, aku tahu wanita sepertimu. Mengincar pria kaya yang lemah karena luka. Kau pikir Dion butuhmu? Tidak. Dia hanya kesepian. Dan saat aku ingin kembali, kamu tak akan jadi apa-apa."

"Cukup, Clare!" Dion menarik wanita itu menjauh. "Aluna berbeda. Dia tidak datang karena uangku. Dia datang karena dia punya hati-hal yang sudah lama tidak kumiliki dalam rumah tangga kita."

Clare mendengus, menampar Dion dengan keras sebelum akhirnya berlari keluar dari rumah itu.

Keheningan menyelimuti ruangan. Aluna berdiri terpaku, jantungnya berdentam.

"Maafkan aku," suara Dion terdengar serak. "Aku tak tahu dia akan muncul malam ini."

Aluna menarik napas dalam, mencoba meredam emosi yang berkecamuk. "Aku... aku seharusnya pergi."

"Tidak, jangan pergi." Dion mendekat, suaranya penuh kerisauan. "Kau tidak tahu berapa lama aku menunggu seseorang yang mau mendengarkanku tanpa menuntut apa-apa."

"Tapi dia benar," bisik Aluna. "Aku wanita yang rusak, Dion. Dan kamu... kamu terlalu baik untuk seseorang sepertiku."

Dion meraih tangan Aluna, menggenggamnya dengan tegas namun lembut. "Kamu bukan rusak, Aluna. Kamu adalah bukti bahwa seseorang bisa bertahan meski dunia ingin menghancurkannya."

Air mata mengalir di pipi Aluna. Untuk pertama kalinya, ia tidak menahannya.

Di balik jendela, Elvano mengintip diam-diam dari atas tangga. Dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggalkannya, bocah itu tersenyum.

Karena malam ini, ia tahu... rumah mereka perlahan mulai terisi kembali.

Dengan harapan.

Dengan seseorang yang mungkin... akan menjadi pelengkap yang selama ini hilang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED