Bab 1

Aluna Maheswari menatap langit senja yang mulai memudar di luar jendela kamar tidurnya. Warna oranye yang lembut mulai menghilang, digantikan oleh gelap malam yang semakin mendalam. Namun, dalam benaknya, langit senja itu tak lebih dari cermin keputusasaan yang kini merayap dalam hidupnya. Kehidupannya yang dulu penuh harapan kini terasa hampa-seperti langit yang mulai kehilangan warna.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri setelah hari yang berat. Keputusan yang diambilnya untuk mengakhiri pernikahannya dengan Renandio Dirgantara, suami yang dulu pernah ia cintai, ternyata lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Namun, dengan setiap air mata yang jatuh, dengan setiap kata-kata pedas yang terlontar dari mulut suaminya, ia tahu bahwa ia tak bisa bertahan lagi. Suaminya, yang dulu tampak seperti pria sempurna, ternyata hanyalah bayangan dari seseorang yang tak pernah benar-benar peduli padanya. Renandio lebih memilih untuk berada di sisi keluarganya daripada memperhatikan apa yang terjadi di dalam rumah tangga mereka.

Hari-hari yang berlalu tak ubahnya seperti badai yang datang dan pergi, tetapi tak pernah benar-benar mereda. Caci maki, kebohongan, dan pengkhianatan adalah teman sehari-hari Aluna. Meskipun keluarganya selalu menegaskan bahwa pernikahan ini adalah "pilihan terbaik," mereka tak pernah tahu penderitaan yang ia rasakan dalam diam. Orangtuanya-yang seharusnya menjadi tempat pelindungnya-justru lebih memilih membela Renandio. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mereka ketika suaminya memanggilnya dengan hinaan yang terus mengiris hatinya. Bahkan, ibunya yang dulu begitu peduli, kini hanya diam, memilih menghindar dari kenyataan yang tak ingin mereka hadapi.

Dan ketika akhirnya Aluna menggugat cerai, itu bukan hanya karena dirinya sudah tak kuat lagi, tetapi juga karena ia tahu tak ada harapan yang tersisa. Renandio bahkan tak keberatan, karena di dalam hatinya, dia sudah lama terikat pada ambisi dan kekayaan keluarganya, bukan pada cinta yang seharusnya ada dalam pernikahan.

Proses perceraian itu panjang, penuh dengan rasa malu yang tak bisa ia hindari. Setiap kali orang-orang bertanya, ia harus menahan air mata, berusaha untuk tersenyum meski hati ini nyaris hancur. Apalagi saat pengadilan memutuskan hak asuh atas anak-anak mereka-meski Aluna sangat mencintai mereka, ia tahu bahwa keluarga Renandio lebih berkuasa. Semua yang ia perjuangkan untuk bertahan ternyata tak cukup.

Namun, di tengah kesedihannya, takdir membawa Aluna ke pertemuan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Sebuah pertemuan yang mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.

Semuanya dimulai saat ia sedang berjalan sendirian di taman dekat rumahnya. Ia sering menghabiskan waktu di sana, mencoba menenangkan pikirannya setelah perpisahan yang menyakitkan. Saat itu, di antara dedaunan yang berguguran, ia mendengar suara keras dari arah jalanan. Sebuah sepeda motor melaju cepat, dan sebelum ia sempat menghindar, ia melihat seorang bocah laki-laki kecil-berlari kencang, tampak bingung-terjebak di tengah jalan. Tanpa berpikir dua kali, Aluna berlari menerjang menuju bocah itu, dan dengan kekuatan yang masih tersisa, ia menarik tubuhnya ke samping.

Tepat saat sepeda motor itu melintas, Aluna dan bocah kecil itu jatuh ke tanah. Hatinya berdebar keras. Ia menatap bocah yang tertatih itu, menilai wajahnya yang tampak lelah dan penuh kecemasan. Ia adalah seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun, dengan mata coklat yang dalam dan penuh kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan.

"Maafkan aku, aku tidak sengaja..." kata Aluna, sedikit terengah-engah, mencoba untuk mengangkat bocah itu.

Bocah itu hanya terdiam, menatap Aluna dengan mata yang tampaknya penuh rasa takut, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Aluna melirik ke sekeliling-di dekat mereka, seorang pria dewasa berdiri mematung, tampaknya terkejut dengan kejadian itu. Sebuah senyum lembut muncul di wajah pria itu, meskipun matanya terlihat tegang dan penuh beban.

"Apa kamu baik-baik saja, sayang?" tanya pria itu dengan suara tenang, berjalan mendekat dan mengulurkan tangan untuk membantu bocah itu berdiri. Aluna memandangnya, matanya berbinar dengan kesadaran baru-pria ini tampaknya bukan orang biasa.

Bocah itu, yang sekarang sudah berdiri, mengangguk pelan. "Terima kasih... sudah menyelamatkanku," ucapnya lirih, tetapi terdengar tulus.

Pria itu menoleh ke arah Aluna, tatapannya penuh rasa terima kasih. "Terima kasih sudah menyelamatkan putraku," katanya dengan nada rendah namun hangat. "Namaku Dion Ardianata."

Aluna menatap pria itu dengan rasa penasaran. Dion Ardianata. Seorang pria dengan penampilan yang sangat menawan-dengan jas hitam yang tampak mahal dan aura yang penuh wibawa, seolah dunia di sekelilingnya tak pernah bisa menggoyahkan ketenangannya.

"Aluna Maheswari," jawabnya singkat. Ia merasa agak canggung, tetapi ada sesuatu dalam diri Dion yang membuatnya merasa nyaman, seperti ada perasaan saling memahami meski baru pertama kali bertemu.

"Terima kasih lagi, Aluna. Ini Elvano, putraku. Dan aku-" Dion berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Aku seorang duda. Istriku telah meninggalkan kami beberapa tahun yang lalu."

Aluna menunduk, merasakan simpati yang mendalam untuk bocah kecil itu. "Elvano, ya?" Ia tersenyum padanya, mencoba memberi kenyamanan pada anak yang jelas tampak tidak ingin berada di tempat itu. "Kamu pasti merasa kesepian tanpa ibu."

Elvano mengangguk pelan, lalu berkata dengan suara yang hampir tak terdengar, "Ibu... pergi untuk pria lain."

Aluna merasa dadanya terhimpit. Ia tak bisa membayangkan betapa beratnya bagi seorang anak untuk merasakan pengkhianatan semacam itu.

Dion memandang Elvano dengan tatapan lembut, namun ada sesuatu yang tajam di matanya. Sebuah keperihan yang sama seperti yang Aluna rasakan-kehilangan dan penolakan. Namun, mereka berdua berusaha untuk saling menguatkan.

Di hari itu, pertemuan yang tidak direncanakan itu menjadi titik balik dalam hidup Aluna. Ia tidak tahu mengapa, tetapi di saat ia melihat Elvano, hatinya mulai meleleh. Ia ingin melindungi bocah itu, memberinya cinta yang selama ini hilang. Dion, dengan segala kesempurnaannya, adalah seorang pria yang penuh misteri, dan meski ia tampaknya sudah cukup kuat untuk menghadapi dunia, Aluna bisa melihat bahwa ia juga membawa beban berat dalam hidupnya.

Namun, satu hal yang jelas-dalam dunia yang penuh luka ini, keduanya, Aluna dan Dion, saling menemukan pelipur lara yang tak terduga. Sebuah hubungan yang terjalin dalam diam, penuh dengan rasa sakit yang belum selesai, dan cinta yang mulai tumbuh di antara dua jiwa yang terluka.

Bab 2

Beberapa hari berlalu sejak pertemuan Aluna dengan Elvano dan Dion. Namun pikirannya masih saja tertambat pada bocah kecil itu-dan tatapan mata pria yang seolah mampu membaca luka yang ia sembunyikan selama ini.

Aluna duduk di bangku kayu taman yang sama, tempat ia menyelamatkan Elvano. Angin sore menggoyangkan helaian rambutnya yang panjang dan terurai, sementara suara tawa anak-anak yang bermain di kejauhan mengisi udara. Tapi bukan tawa yang membuat hatinya hangat, melainkan suara langkah kecil yang ia kenali kini mendekat perlahan.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya Elvano pelan, menatapnya dengan pandangan polos.

Aluna menoleh, tersenyum. "Tentu saja. Kamu datang sendiri?"

Elvano mengangguk. "Ayah sedang di mobil. Tapi aku lihat kamu di sini, jadi aku lari duluan."

Aluna tertawa kecil. "Kamu nakal ya."

Elvano menunduk, seperti takut dituduh nakal sungguhan. Tapi kemudian ia berbisik, "Aku cuma pengen ketemu tante Aluna. Di sekolah... aku dimarahi temanku lagi. Mereka bilang aku anak yang nggak laku diurus ibunya."

Kalimat itu menampar nurani Aluna. Ia menatap Elvano lekat-lekat, berusaha menyembunyikan emosi yang tiba-tiba melonjak di dadanya.

"Ayah bilang aku kuat. Tapi kadang... aku juga pengen ada ibu yang bisa peluk aku pas pulang sekolah," lanjut Elvano lirih.

Aluna memeluknya tanpa berkata-kata. Pelukan itu bukan hanya untuk menghibur Elvano, tapi juga untuk dirinya sendiri-seolah hatinya tahu bahwa ia dan anak ini saling menyembuhkan luka satu sama lain.

"Maaf ya, aku jadi nangis," gumam bocah itu sambil menyeka air matanya dengan lengan baju.

"Tidak apa-apa, Elvano. Menangis bukan berarti kamu lemah. Itu berarti kamu berani menunjukkan perasaanmu. Dan itu... itu jauh lebih kuat dari pura-pura bahagia."

Seseorang berdiri tak jauh di belakang mereka. Dion.

Pria itu menatap keduanya, namun kali ini tanpa ragu. Tatapan matanya dalam, tapi ada sesuatu yang berubah. Ia tak lagi hanya berterima kasih karena nyawa anaknya diselamatkan. Kini ada sorotan berbeda di matanya-ketertarikan, rasa penasaran, dan... harapan?

"Maaf kalau aku mengganggu," ucap Dion sambil melangkah pelan.

Aluna berdiri, sedikit canggung. "Tidak sama sekali. Elvano tadi tiba-tiba muncul."

Dion mengangguk, lalu berjongkok di depan anaknya. "El, kamu cerita lagi ya ke Tante Aluna?"

Elvano mengangguk dengan polos. Dion menatap Aluna sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kamu punya cara yang tenang dalam menghadapi dia. Bahkan aku sebagai ayah kadang kehabisan cara."

Aluna menatap Dion, senyum tipis menggantung di bibirnya. "Mungkin karena aku tahu rasanya ingin didengar... tapi tidak ada yang peduli."

Dion tampak tertegun. Kalimat itu menembus lapisan tenang yang selama ini ia pertahankan.

"Aku punya kedai kopi kecil tak jauh dari sini. Kalau kamu tidak keberatan, mungkin... kamu bisa mampir besok sore?" tawar Dion dengan nada rendah.

Aluna ragu sejenak. Tapi kemudian ia mengangguk pelan. "Baik. Aku akan coba datang."

Dan saat Dion mengantar pulang Elvano, Aluna duduk kembali di bangku itu, memandangi langit sore yang mulai memerah. Entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa... tidak sepenuhnya sendiri.

Kedai kopi milik Dion ternyata jauh dari bayangannya. Alih-alih mewah dan dingin seperti image pria itu, kedai ini hangat, dengan interior kayu dan aroma kopi yang menenangkan. Aluna tiba di sana menjelang pukul lima sore. Di sudut kedai, Dion sudah menunggu-tanpa jas mahal, hanya mengenakan kemeja putih digulung hingga siku. Ia tampak... manusiawi. Bukan lagi pria dingin dengan kekuasaan dan uang, melainkan seseorang yang menyimpan luka di balik senyum tenangnya.

"Aku tidak tahu kamu suka suasana begini," ujar Aluna setelah duduk.

Dion tersenyum, menuangkan kopi dari teko. "Kopi ini bukan tentang bisnis. Ini tentang pelarian."

Aluna mengangguk pelan. "Kita sama, ternyata."

Dion menatapnya, kali ini lebih lama dari sebelumnya. "Apa kamu mau cerita, Aluna?"

Pertanyaan itu membuat napas Aluna tercekat. Tidak banyak orang yang bertanya seperti itu. Dan lebih sedikit lagi orang yang benar-benar ingin mendengarnya.

"Aku dulu istri dari pria yang semua orang kira sempurna. Kaya, sopan di depan umum. Tapi di balik pintu rumah, dia... membunuhku perlahan. Dengan kata-kata. Dengan sikap dingin. Dengan pengkhianatan." Aluna berhenti sebentar, menahan suara gemetar. "Keluargaku pun lebih memilih membelanya. Karena uang. Karena status. Aku... keluar dari pernikahan itu tanpa punya siapa-siapa."

Hening mengalir di antara mereka. Dion tidak menyela, tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.

"Aku juga ditinggal," akhirnya Dion bicara. "Istriku pergi karena dia menganggap aku terlalu sibuk. Terlalu serius. Dia bilang, cinta itu harus ringan. Sementara aku terlalu... berat untuk dia. Dia tidak hanya meninggalkan aku. Dia meninggalkan Elvano. Seorang ibu yang tak pernah menoleh ke belakang."

Aluna menunduk, menahan emosi yang membuncah.

"Luka kita berbeda... tapi rasanya sama, ya?" tanya Dion.

Aluna mengangguk pelan. Matanya mulai basah. "Dan mungkin karena itulah... kita bisa saling melihat."

Malam itu, ketika Aluna kembali ke apartemen kecilnya, ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Ada sesuatu yang berbeda. Tidak, bukan karena pria tampan yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Tapi karena, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dirinya... tidak rusak. Ia bukan wanita yang gagal, bukan juga istri yang tidak layak dicintai.

Ia adalah seorang perempuan yang pernah jatuh, pernah dihancurkan, tetapi perlahan-dengan tangan mungil Elvano dan tatapan dalam Dion-ia sedang belajar berdiri kembali.

Dan ia tahu, luka-luka itu belum hilang. Tapi mungkin... kali ini ia tidak harus menyembuhkan diri sendirian.

Bab 3

Udara sore mulai menggigil ketika langkah kaki Aluna menuruni tangga apartemennya. Ia mengenakan mantel cokelat tua, rambut diikat rendah, dan mata yang tampak lebih hidup dari biasanya. Sudah hampir sebulan sejak pertemuan pertamanya dengan Dion dan Elvano, dan sejak saat itu, hidupnya mulai terasa... berbeda.

Bukan berarti lebih mudah. Tapi lebih bermakna.

Hari ini, Dion mengundangnya makan malam di rumahnya. Bukan di restoran mewah atau kafe miliknya. Tapi rumah tempat Elvano tinggal, tempat kenangan dibentuk dan luka dikenang.

Mobil Dion sudah menunggu di depan apartemen saat Aluna keluar. Seperti biasa, pria itu turun sendiri dan membukakan pintu.

"Senyummu sore ini... beda," ujar Dion pelan, memandangi wajahnya sejenak.

"Mungkin karena aku belum pernah diundang makan malam oleh seorang duda kaya sebelumnya," jawab Aluna setengah bercanda.

Dion tertawa, dan untuk pertama kalinya, tawa itu terdengar hangat. Bukan lagi sekadar basa-basi atau topeng sosial. Tapi tulus. Jujur. Rapuh.

Rumah Dion terletak di kawasan elit dengan pagar besi tinggi dan taman yang luas. Tapi begitu memasuki dalamnya, aura hangat langsung menyambut Aluna. Tidak ada kemewahan berlebihan. Ruang tamunya dihiasi lukisan-lukisan tua dan foto-foto Elvano saat bayi.

"Rumah ini terlalu besar untuk hanya dua orang," gumam Aluna saat duduk di sofa.

Dion mengangguk, menuangkan teh ke dalam dua cangkir. "Tapi jadi terasa lebih kecil... saat kamu di sini."

Kalimat itu membuat dada Aluna hangat sekaligus canggung. Ia menunduk, mencoba menahan senyum.

Namun momen itu tak berlangsung lama. Bel rumah tiba-tiba berbunyi.

Dion tampak terkejut. "Aku tidak sedang menunggu tamu..."

Ia berjalan ke pintu, dan sesaat kemudian suara perempuan terdengar dari ambang pintu.

"Dion. Kita perlu bicara."

Suara itu dingin, tajam. Seperti peluru yang membelah keheningan.

Aluna menoleh, dan di pintu berdirilah seorang wanita dengan balutan gaun hitam dan parfum mahal yang menusuk hidung. Rambutnya tergerai rapi, riasan wajahnya sempurna. Namun yang paling menonjol... adalah sorot matanya yang penuh klaim.

"Clare," desah Dion nyaris tanpa suara.

Mata Aluna melebar. Clare? Itu... mantan istrinya?

"Aku ingin bertemu dengan Elvano," lanjut Clare tanpa peduli pada kehadiran Aluna.

"Elvano tidak membutuhkanmu lagi," jawab Dion dengan nada datar.

Clare melirik ke arah Aluna. Matanya menelanjangi perempuan itu dari ujung rambut hingga kaki. "Dan kamu pikir dia butuh... wanita kelas dua seperti ini?"

Kalimat itu menyayat.

Aluna bangkit berdiri, tidak ingin menjadi penonton dari drama yang bukan miliknya. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Dion berbicara lebih dulu.

"Jangan pernah bicara seperti itu pada Aluna."

Clare tertawa kecil. "Lucu. Kau dulu bahkan tidak pernah membelaku seperti ini."

"Kau tidak pantas dibela saat meninggalkan anakmu demi pria lain," sahut Dion, kali ini nadanya meninggi.

Aluna menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan guncangan dalam dadanya. Ia tidak ingin jadi penyebab pertengkaran. Tapi kenyataannya, kehadirannya memicu ledakan yang seharusnya sudah lama meletus.

Clare melangkah maju, kini berdiri tepat di depan Aluna. "Dengar, aku tahu wanita sepertimu. Mengincar pria kaya yang lemah karena luka. Kau pikir Dion butuhmu? Tidak. Dia hanya kesepian. Dan saat aku ingin kembali, kamu tak akan jadi apa-apa."

"Cukup, Clare!" Dion menarik wanita itu menjauh. "Aluna berbeda. Dia tidak datang karena uangku. Dia datang karena dia punya hati-hal yang sudah lama tidak kumiliki dalam rumah tangga kita."

Clare mendengus, menampar Dion dengan keras sebelum akhirnya berlari keluar dari rumah itu.

Keheningan menyelimuti ruangan. Aluna berdiri terpaku, jantungnya berdentam.

"Maafkan aku," suara Dion terdengar serak. "Aku tak tahu dia akan muncul malam ini."

Aluna menarik napas dalam, mencoba meredam emosi yang berkecamuk. "Aku... aku seharusnya pergi."

"Tidak, jangan pergi." Dion mendekat, suaranya penuh kerisauan. "Kau tidak tahu berapa lama aku menunggu seseorang yang mau mendengarkanku tanpa menuntut apa-apa."

"Tapi dia benar," bisik Aluna. "Aku wanita yang rusak, Dion. Dan kamu... kamu terlalu baik untuk seseorang sepertiku."

Dion meraih tangan Aluna, menggenggamnya dengan tegas namun lembut. "Kamu bukan rusak, Aluna. Kamu adalah bukti bahwa seseorang bisa bertahan meski dunia ingin menghancurkannya."

Air mata mengalir di pipi Aluna. Untuk pertama kalinya, ia tidak menahannya.

Di balik jendela, Elvano mengintip diam-diam dari atas tangga. Dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggalkannya, bocah itu tersenyum.

Karena malam ini, ia tahu... rumah mereka perlahan mulai terisi kembali.

Dengan harapan.

Dengan seseorang yang mungkin... akan menjadi pelengkap yang selama ini hilang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED