Anthony duduk di sofa, saling berhadapan dengan Alicia Huang dan mulai berkata, “Berikan sum-sum tulang belakangmu untuk Anna!”
Hati Alicia terasa sedikit tergelitik oleh duri ketika mendengar Anthony berkata seperti itu. Alicia memandang kepada langit yang saat ini tengah menjadi saksi perseteruan dingin mereka hari ini . Alicia tertawa sarkas ketika mendengar permintaan Anthony.
Alicia menyilangkan kakinya seraya berkata dengan elegan,"Nikahi aku, maka aku akan memberikan sumsum tulang belakang ini ke wanita kesayanganmu!”
Dulu kala Alica dan Anna adalah teman baik, Alicia pernah mengikuti serangkaian tes kesehatan, dia dan Anna iseng mengecek apakah mereka memiliki tulang sumsum yang cocok. Melihat riwayat kesehatan Anna yang memiliki kemungkinan besar mengidap kanker karena kebanyakan keluarga besarnya mati karena kanker darah. Pada waktu itu hasilnya menyatakan jika Alicia memiliki sum-sum yang cocok untuk menjadi pendonor.
Perkataan Alicia Huang tadi jelas saja membuat satu alis Anthony terlihat mengernyit ,dia pun berkata, “Apa kau sudah gila?”
“Aku serius!” jawab Alicia tidak kalah sarkas.
Wajah Anthony memerah karena merasa marah, baginya Alicia ini benar-benar wanita tidak tahu malu. Sudah tahu jika Anna adalah teman baiknya. Tapi sedari dulu malah terus mengejar, ingin merebut dirinya dari Anna.
Alicia tersenyum "Tuan Smith jika hanya karena masalah ini kau memanggilku datang untuk bertemu, maka aku sudah memberikan jawabanku.”
“Jangan sampai terlambat dan menyesal," ujar Alicia seraya berdiri dan berkata, “Jika tidak ada hal yang ingin dikatakan lagi, maka kau kembali bersibuk saja, aku pergi!”
“Permainan apalagi yang ingin kau mainkan!” tanya sarkas Anthony.
Alica sedikit mengangkat wajahnya dan berkata, “Jika begitu sampai berjumpa di pemakaman!” ujarnya lalu benar-benar pergi meninggalkan ruangan kerja Anthony.
Baru saja beberapa langkah pergi meninggalkan, suara berat Anthony terdengar memanggil, “Berhenti!”
Alicia pun menghentikan langkahnya, lalu berpaling menatap Anthony Smith yang sedang menatap benci kepadanya dan berkata, “Katakan berapa nominal yang kau inginkan?”
“Tidak ada nominal, Menikah, aku hanya ingin menikah denganmu!” jawab Alica sembari mengeratkan kepalan tangannya kuat-kuat dari balik pinggul rampingnya.
“Kau benar-benar wanita tidak tahu malu!” ujar sarkas Anthony.
“Jika tidak bersedia, maka aku tidak akan pernah mau berbagi tulang sum-sum ini kepadanya!” ujar Alicia lebih sarkas lagi.
Tidak ingin berinteraksi lebih lama lagi dengan Anthony, maka Alicia pun segera melangkah cepat meninggalkan Grup Smith. Jika bukan karena Albert Huang, Ayah Alicia yang berselingkuh sampai benar-benar memukul telak kesehatan ibunya. Dan membuat meninggal pada akhirnya. Maka dia tidak akan pernah mau memakai cara ini untuk mendekati Anthony.
Alicia berjalan di koridor sambil menahan air matanya. Dalam hati benci dan rindu merasuk di kalbu. “Apa yang aku lakukan, aku baru saja membodohi diriku sendiri!”
“Hmm … ini akan terasa lebih sulit. Tapi hanya ini cara yang saat ini terpikir,” ujarnya menghibur diri seraya melajukan mobilnya untuk pulang.
Setelah kepergian ibunya, keberuntungan pun seakan menghilang dari keluarga Huang. Bahkan sekarang Hutang-hutang perusahan keluarga menjadi semakin bertambah, dan Perusahaan keluarganya semakin terpuruk, sebelum perusahaan Huang dinyatakan bangkrut, maka Alicia harus bisa mendapatkan dana untuk menyelamatkan semuanya.
Saat ini Alicia membutuhkan nama besar keluarga Smith untuk bisa bangkit membangun warisan bisnis yang ibunya dirikan dan kembangkan bertahun silam yang. Jadi ketika Anthony memohon agar dirinya memberikan sum-sum tulang belakangnya untuk Anna Hwang, maka dia berpikir jika ini adalah kesempatan bagus untuk memulai memperbaiki semua masalah keluarganya dan juga salah paham di masa lalu.
Alicia tiba di kediamannya, Mansion River side. Terdengar suara vas terbanting dengan keras dari ruang keluarga. Saat ini Ayahnya terlihat sedang dipukuli, "Ada apa ini," teriak Alicia terkejut karena melihat rumahnya berantakan.
"Ah, Nona Huang, Papamu ini selalu saja mangkir untuk membayar hutang,” ujar salah satu penagih.
"Rentenir … kalian ini Rentenir kan?" tanya Alicia memastikan dengan menatap curiga.
"Tuan Huang telat membayar hutang berikut bunganya, kepada kami!" jelas si penagih lagi
"Berapa hutangnya?" tanya Alicia, yang awalnya berpikir jika hanya perusahaannya saja yang berhutang kepada Bank, tetapi Papa-nya juga ternyata terjerat hutang Rentenir.
"Setengah juta dollar, belum berikut bunga berjalan," jawab si penagih lagi sambil memutar-mutar sebilah pisau kecil di jemari tangannya.
"Apa!" ujar Alicia terkejut seraya bergumam pelan,”Setengah juta dollar!”
Alicia memandang benci kepada Tuan Huang. karena Papanya itu malah berfoya-foya dan berjudi, Alicia mengepalkan tangannya seraya berkata, “Apa Papa sudah hilang akal, mengapa terus saja berjudi!” ujarnya dengan napas tercekat menahan emosi
Alicia benar-benar merasa lelah, otaknya serasa tengah mendidih karena perilaku Ayahnya itu, “Aku tidak ada kaitannya sama sekali dengan hutang Yang Tuan Huang buat, jadi tagi saja dia jangan meminta kepadaku!” ujarnya seraya berlalu pergi.
"Hei tunggu …” ujar salah satu si penagih sembari menarik lengan Alicia dan mencengkramnya dengan keras.
"Tuan Huang bilang, kami bisa mengambilmu sebagai penebusan hutangnya!” jelas si penagih itu.
Kesabaran Alicia sudah benar-benar habis, "Kalian ini sudah benar-beanr gila ya!" hardik marah Alicia kepada semuanya. Seraya ingin melepaskan diri dari kekangan si penagih hutang.
“Plak” sebuah tamparan keras malah mendarat di wajah Alicia. Dengan cepat itu menjadi sedikit memar merah di pipi putih mulus Alicia.
Alicia manatap marah kepada si penagih yang baru saja menamparnya, tanpa rasa belas kasihan para penagih itu langsung saja menyeret tubuh ramping Alicia, seraya berkata “Mulai saat ini kau adalah milik kami.”
Alicia meronta-ronta, tidak bersedia dibawa. Tapi apa daya tenaganya tidak sekuat para penagih itu. Sementara itu, Tuan Huang hanya memandangi putrinya itu dibawa pergi, dia tidak menahan malah dia berkata, “Hutangku semua sudah lunas ya?”
Alicia pun berteriak, “Brengsek … kau benar-benar manusia brengsek!” hardik marah Alicia kepada Papa-nya itu.
Sesampainya di Klub W, Alicia langsung didorong masuk ke sebuah kamar dan dikunci. Dia terjatuh di lantai, melihat pintu tertutup dia pun segera bangun dan mencoba membuka pintu itu seraya berteriak-teriak, “Lepaskan aku! Lepaskan aku, brengsek kalian semua brengsek!”
Berteriak lama, Alicia pun pada akhirnya merasa kelelahan. Dia pun bersandar di pintu kamar tersebut sembari duduk di lantai. Pada saat ini dia hanya bisa menangis, memikirkan betapa tega Papanya itu, sudah membuat keluarga mereka bangkrut, dan sekarang malah menjual putrinya.
Di dalam kamar lamunan Alicia terbuyarkan, ketika beberapa pelayan memasuki kamar Alicia dan langsung menarik Alicia ke kamar mandi untuk bersiap pergi.
"Hei, ini mau apa!?" tanya Alicia.
"Kita akan bersiap untuk pergi ke hotel," jawab salah satu pelayaan di klub itu.
"Kami hanya menjalankan perintah," jawab mereka.
Setelah itu Alicia diminta turun, para penagih yang tadi menyeret ke Klub W ini telah menunggunya, Dia akan dibawa ke sebuah hotel. Lagi-lagi Alicia berusaha melarikan diri, namun tetap saja dia tertangkap.
Setelah sampai di sana salah satu para penagih hutang itu membawa Alicia ke sebuah kamar Suite yang sudah di pesan. Allicia terpaksa masuk dengan enggan. Namun, si penagih hutang tadi malah mendorongnya masuk ke dalam.
Di sana bukan hanya ada dirinya, ternyata ada beberapa pria juga yang telah lebih dulu datang, ada di kamar itu, "Kemari!" panggil salah satu dari pria itu.
Enggan mendekat, Alicia hanya berdiri di hadapan mereka semua yang sedang memandangi dirinya dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
"Hei! wanita ini sangat cantik dan terlihat polos," ujar salah satu teman dari pria yang ada di kamar suite itu.
"Jangan pernah menilai buku hanya dari sampulnya saja," jawab pria yang lainnya lagi seraya menambahkan kata, “Kita tidak pernah tahu sampai kita mencobanya.”
“Apa kata mereka … eum, ingin mencoba aku,” pikir Alicia dengan ketakutkan, wajahnya sudah terlihat pucat.
"Kau disini saja malam ini, temani mereka bermain!" perintah si penagih hutang tadi.
"Maksudmu apa?" tanya Alicia dengan tatapan ketakutan.
"Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini kepadaku!” hardik marah Alicia.
"Nikmati saja, kami pergi dulu !" ujar si pengih hutang meninggalkan Aliia dalam kelimbungan dengan para pria yang ada di sana.
Alicia segera saja mengembalikan kesadarannya, melangkah lari menarik tangan si penagih hutang seraya memohon dengan lirih. "Jangan! jangan tinggalkan aku di sini!" pinta Alicia.
Bukannya merasa kasihan, tapi malah si penagih hutang menarik lepas tangan yang melingkar di lengannya, kemudian melemparkan tubuh Alicia ke lantai.
"Hei! kau temani saja kami di sini," ucap salah satu dari mereka yang ada di dalam kamar suite ini sambil bersimpuh di depan Alicia.
"Tidak! jangan menyentuhku!" teriak Alicia berusaha menghindar dari pria itu.
Namun, salah satu dari mereka berhasil mendekap Alicia. Dengan serampangan pria itu menciuminya. Ini adalah hadiah yang diberikan kepada para pelanggan dari kaum kaya raya, karena sudah setia menjadi pelanggan Klub W. Mereka dipersilahkan untuk bermain sampai puas dengan Alicia. Siapa yang rela menolak tawaran seenak ini. Jadi malam ini mereka akan bermain sepuasnya dengan Alicia.
“Arghh …!” teriak Alica meronta-ronta sementara yang lain masih asyik mengamati dengan sambil menyesap anggur merah mereka, tertawa karena merasa terhibur.
Alicia pun berhasil memukul bagian bawah pria yang memeluknya itu lalu berlari masuk ke kamar mandi, “Brengsek!” hardiknya seraya mendorong pria yang tadi sedang memeluknya.
Alicia langsung mengunci pintu kamar mandi, lalu dia melihat sebuah Vas bunga yang ada di meja. Dia pun mengambilnya untuk melindungi dirinya. Pintu kamar mandi berhasil dibuka, Alicia bereakasi dengan langsung memukul kepala pria yang baru saja membuka pintu.
“Sudah kubilang jangan sentuh aku!” hardik marah Alicia dengan tatapan jijik.
Pria tersebut langsug terjatuh bersimbah darah, Alicia menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri. Kamar mandi di kamar Suite ini kebetulan dekat dengan pintu keluar kamar. Sementara para pria di sana terdiam sesaat karena terkejut.
Alicia berlari dengan sangat kencang, pintu lift terbuka seorang anak kecil tengah masuk ke dalam lift, lalu Alicia pun ikut masuk, dengan cepat dia menekan-nekan tombol tutup pada lift hotel itu.
Wajah Alicia semakin panik, ketika melihat beberapa pria keluar dari kamar suite untuk mengejarnya. Bocah kecil yang ada di dalam lift itu memandang wajah ketakutan Alicia. Lalu dia mengulurkan tangannya, dan mengambil jemari tangan Alicia yang terlihat sedikit gemetaran itu.
“Kakak cantik apa baik-baik saja?” tanya bocah kecil yang terlihat baru berusia lima tahun itu.
Alicia mengatur napasnya lalu berkata, “Ya aku baik-baik saja!” jawabnya sambil melempar senyum cantik kepada bocah itu.
Begitu sampai di lobi, maka Alicia pun segera berlari kecil di lobi. Langkahnya terhenti ketika melihat ada si penagih hutang yang tadi membawa dia kemari. Dia pun langsung membalikan tubuhnya dan memilih bersembunyi di balik pot besar yang ada di dekat pintu keluar lobi hotel.
Sebuah mobil Roles Royce berhenti di depan Lobi hotel, melihat jika si penagih hutang semakin mendekat, otak Alicia seperti mendidih. Tidak tahu apalagi apa yang harus dilakukan. Melihat jika mobil yang sedang terparkir tanpa pikir panjang, Alicia langsung saja membuka pintu dan masuk ke dalam Rolls Royce itu.
Alicia menenggelamkan tubuhnya, mencoba untuk bersembunyi, sementara supir yang di depan memperhatikan gerak-geriknya, Melihat sedang di perhatikan Alicia meletakan satu jari tangan di mulutnya, meminta agar supir itu diam saja, jangan bereaksi.
Supir itu mellihat ke beberapa yang sedang mencari-cari seseorang, lalu pria yang sedang memegang kendali mobil itu pun berkata, “Nona, sebaikanya segera keluar dari mobil ini, jika tidak aku bisa mendapat masalah dari Tuan-ku?”
“Aku mohon sebentar saja!” pinta Alicia sembari melirik ke jendela.
Alicia membenarkan posisi duduknya, pintu di sebelahnya pun terbuka, Dan, itu membuatnya terkejut “Anthony!” ujar Alicia.
Melihat ada Alicia di dalam mobilnya, Anthony langsung memanggil nama assitennya dengan nada marah. Melihat ini Alicia langsung memegang tangan Anthony, “Dia tidak ada hubungannya, aku masuk sendiri ke mobil ini!”
Mendengar itu, tatapan Anthony semakin terlihat marah. Anthony berpikir, “Baru saja berbicara tadi pagi, sekarang dia sudah datang mengejar jawaban.”
Merasa sedikit aman karena tidak mellihat si penagih hutang lagi. Lalu dia melihat taksi berhenti di lobi dan berkata, “Ok, begini saja sudah cukup!” ujarnya sembari keluar dari mobil lalu masuk ke dalam taksi.
Alicia semakin tidak memikirkan kesan dirinya di depan Anthony, bersikap baik atau bar bar di depannnya sama saja, dia akan selalu dianggap buruk. Taksi pun membawa Alicia melaju pergi, sementara Anthony masih memandang dingin kepada asistennya itu seraya berkata, “Sekali lagi kau mengizinkan wanita itu masuk, maka kau tidak perlu pergi bekerja denganku lagi!”
Malam ini Alicia tidak ingin kembali ke Mansion River Side, Dalam hati sungguh dia merasa hari ini adalah hari yang penuh kesialan, “Di kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin kisah ini terulang, aku harap cintaku juga bukanlah dia!” ujarnya dalam hati seraya menghapus air matanya.
Gerimis masih menyapa, Alicia mengulurkan jemari tangannnya yang sedikit gemetaran. Lalu dia mengetuk-ketuk pintu, berharap penghuni di dalam rumah membukakan pintu. Alicia sedikit menggigil, dia memeluk tubuhnya sendiri.
“Alicia …! Sapa suara orang yang baru saja membukakan pintu.
Pintu pun dibuka, sebuah suara yang nyaring seperti burung pipit berkicau langsung saja terdengar, "Hei! Apa yang terjadi padamu, kau terlihat berantakan sekali!" ujar Edna teman kecil Alicia.
"Sepertinya aku baru saja membunuh orang!" jawab Alicia.
"Membunuh bagaimana, membunuh siapa?" ujar Edna seraya menarik masuk Alicia ke rumah petakannya yang mungil.
"Aku baru saja memukul kepala seseorang dengan vas porselen,” cerita Alicia dengan nada suara yang sedikit bergetar, tubuh gemetaran.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Edna seraya menarik Alicia untuk duduk di sofa.
Alicia langsung saja menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya, lalu berkata, "Apa yang harus aku lakukan?" ujarnya sembari berjalan ke sana kemari, terlihat sangat gugup dan ketakutan.
"Selama tidak ada pencarian dari polisi maka kau aman!" hibur Edna.
"Menurutmu begitukah?" ujar Alicia ikut membesarkan hatinya sendiri.
"Eum ..." imbuh Edna seraya menganggukan kepalanya.
Di Mansion Smtih, Anthony baru saja tiba di rumah, lalu mendapatkan laporan insiden tentang kejadian di hotel tadi. Kenyataan bahwa Alicia berada di hotel bersama beberapa pria semakin membuat kesan buruk kepada wanita itu.
“Apa perlu menyelidiki lebih jauh?” tanya asisten Lee yang mengetahui jika pada saat ini Alicia adalah satu-satunya penyumbang Tunggal untuk sum-sum tulang belakang Anna Hwang.
“Tidak perlu!” jawab Anthony acuh tidak acuh.
Di pagi harinya. Di rumah Edna. Alicia terbangun karena mencium aroma wangi masakan yang sangat menggugah selera. Dia pun berdiri dan langsung keluar dari kamar. “Masak apa?” tanya Alicia.
“Nasi goreng,” jawab Edna.
“Wah kesukaanku!” ujar senang Alicia langsung menarik kursinya dan bersiap makan.
“Ei, sikat dulu gigimu dan cuci muka,” ujar Edna seperti sedang mendisplinkan murid Taman-taman kanaknya.
“Ah siap bu guru,” ujar Alicia sambil sedikit tertawa, mengedipkan mata.
Ketika makan mereka sambil berdiskusi, “Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Edna.
“Aku tidak akan kembali ke rumah!” Jawab Alicia sambil mengunyah nasi gorengnya, lalu terdiam sesaat.
“Kau akan meninggalkan rumah ibumu?” tanya Edna dengan nada tidak percaya dan, sangat menyayangkan.
“Ibu sudah tidak ada di sana, yang tersisa hanyalah para Iblis, lalu untuk apa aku berada di sana!” jawab getir Alicia.
Alicia pun menyesap susu segar dari gelasnya lalu berkata, “Setidaknya aku masih memiliki malaikat sepertimu, yang akan selalu memberiku susu segar.”
“Hish, kau ini!” ujar Edna sambil sedikit mencubit tangan Alicia.
“Oh ya, hari ini apa kau akan mulai bekerja di sekolah baru?” tanya Alicia.
“Iya, eum … tapi bagaimana ini aku merasa sangat cemas!” ujar Edna.
“Mengapa kau harus merasa cemas, kau ini guru taman kanak-kanak terbaik yang pernah aku lihat,” hibur Alicia.
“Oh ayolah semangat,” hibur Alicia lagi.
“Apa kau akan pergi ke Huang Grup?” tanya Edna sambil mengangguk.
“Eum sepertinya … tapi bagaimana ini, aku tidak memiliki baju yang pantas untuk dipakai!” jawab Alicia.
“Sana cepat, pakai bajuku saja!” ujar Edna seraya berkata lagi, “Nanti aku akan mengantarmu!”
Alicia pun pergi ke halte bus bersama Edna. Tapi tiba-tiba saja Alicia menghentikan taksi seraya berkata, “Jangan sampai terlambat, sebaiknya kau naik taksi saja.”
“Hei! Lalu kau bagaimana?” tanya Edna.
“Aku ingin naik mobil yang banyak jendelanya!” jawab Alicia seraya menunjuk ke bis yang baru saja datang.
Gerimis di pagi hari masih menyapa, Alicia menatapi titik-titik hujan yang berbekas di kaca jendela. Dia menggigit bibir bawahnya seraya menguatkan hati agar tidak menangis. Kisah status nona mudanya telah berganti menjadi kisah nona miskin.
Hari ini Alicia tidak akan pergi ke perusahaan keluarganya, tapi pergi ke Grup Smith. Dia berdiri di depan pintu lobi Gedung Smith, menghela napas melihat pakaian Edna yang menjadi pendek jika dia pakai, karena ukuran tubuh mereka berbeda, masih pas muat di tubuh, hanya saja mereka memiliki ukuran tubuh yang berbeda. Rok sepan yang saat ini Alicia pakai benar-benar hanya sampai batas lutut, baju kemeja berwarna coklat susu yang dia pakai juga sedikit ketat.
Pagi tadi ponsel Alicia baru saja menerima pesan dari asisten Anthony yang mengatakan jika Tuannya ingin bertemu lagi dengannya. Dia pun pada akhirnya tiba dan masuk ke gedung Grup Smith.
Dia pergi ke resepsionis dan berkata, “Aku ada janji bertemu dengan Tuan Lee.”
“Apa sudah ada janji?” tanya resepsionis itu.
Alicia mengangguk lalu resepsionis itu berkata lagi, “Tunggu sebentar!”
Tidak menunggu waktu lama, salah satu resepsionis pun pergi mengantarkan Alicia ke ruangan Direkturnya, lalu asisten Lee datang dengan membawa sebuah berkas, “Semua sudah disiapakn secara detail di sini!”
“Berikan kepadanya!” ujar Anthony dengan nada suara sarkas bercampur benci.
“Nona silakan dibaca dulu!” ujar asisten Lee seraya memberikan berkas yang ada ditangannya kepada Alicia.
“Oh …” jawab Alicia sambil membuka segel amplop coklat itu dan mengeluarkan isinya.
“Perjanjian pra nikah!” gumam pelannya.
Alicia membaca tiga point yang menurut dia paling penting“Tidak mengumumkan status pernikahan, tidak akan ada pembagian saham keluarga Smith, tidak boleh berdekatan dengan pria lain!”
Dia pun menutup berkas itu seraya berkata, "Tuan Smith, Aku akan menandatangani ini, selama kau berjanji, akan memberi sesuatu!"
"Apa kau pikir memiliki hak untuk bernegosiasi denganku!" ujar Anthony sedikit marah.
"Tentu saja, aku adalah calon istrimu," jawab Alicia sambil bersandar di kursinya.
"Apa yang kau inginkan!?" tanya Anthony semakin marah.
"Aku masih memikirkannya," Jawab Alicia.
"Ciiih?" Gumam pelan Anthony.
Akan ada saatnya Alicia memerlukan nama besar Smith. Dan jika itu terjadi dia berharap Anthony akan membantunya. Anthony nampak berpikir sejenak, lalu menjawab, "Selama kau tidak mengatakan statusmu, tidak membuat skandal, maka aku akan mempertimbangkan tentang permintaanmu itu" janji Anthony.
"Ok, sepakat," jawab Alice seraya membubuhkan tanda tangannya di perjanjian itu.
"Senang berbisnis denganmu Tuan Smith, sampai jumpa di altar pernikahan," ujar Alicia seraya mengedipkan matanya lalu berjalan pergi dari ruangan Anthony, lalu berjalan dan berdiri di depan lift.
Pintu lift terbuka, Anna Hwang berdiri dengan elegannya di dalam sana, Wanita itu membuka kaca mata hitamnya dan berkata, “Alicia, lama tidak bertemu!”
Mendengar sapaan lembut dari Anna, tidak membuat Alicia mau membalas sapaan wanita itu. Anna pun berjalan mendekatinya dan berbisik di daun telinganya, “Lama menghilang, apa ingin mengejar Anthony lagi?”
Alicia masih tidak menjawab perkataan Anna Hwang, Dia lebih memilih masuk ke dalam Lift tanpa barkata-kata, menekan tombol dan pintu lift pun tertutup. Melihat sikap Alicia membuat jengkel hati Anna, pintu Lift yang sebentar lagi tertutup pun ditahan olehnya, dengan menggertakan giginya Anna berkata, “Dia tidak akan pernah menjadi milikmu!”