Bab 2

Malam kian larut, mereka masih saling berbicara untuk sebuah kesepakatan.

"Ayo, duduklah!"

Mereka duduk, pria itu sedang menyiapkan sebuah surat. Entah untuk apa surat itu. Lalu datang beberapa orang dan duduk bergabung bersama mereka.

"Tu-tuan, kenapa jadi begini?"

Gadis yang bersamanya bingung, pria itu duduk dengan cukup tenang. Merasakan sesuatu yang sedang direncanakannya.

Pria itu mengerutkan keningnya, "Begini gimana? Duduklah!" sahutnya lagi.

Orang yang berdatangan itu saling beradu pandang dan berbisik. Gadis itu mulai gelisah dan dia protes. 

Dia protes karena tak sesuai dengan perjanjian sebelumnya, tidak ada orang lain melainkan hanya mereka berdua. 

"Ini ada apa, Tuan, kenapa banyak orang disini? Maaf tapi aku ..."

Gadis itu mencoba berdiri tapi sang pria menahan lengannya memberi kode agar tidak keluar dari tempat ini.

"Duduklah dengan tenang, aku akan katakan nanti kalau kamu sudah duduk,"

Ia masih berdiri, belum mau menuruti perintah pria yang membawanya kesini. "Tuan, bukankah hanya Tuan saja yang memesan, bukan bersama orang lain, aku tidak bisa seperti itu, Tuan," ucapnya lirih.

"Kamu ngomong apa, sih? Lihat dulu baik-baik aku mau ngapain, jangan banyak protes dulu!"

"Tidak! Ini tidak mungkin, aku lebih baik membatalkan rencana kita. Maaf Tuan, satu orang sudah cukup tapi ini ..."

Pria itu tersenyum, lalu menyuruh beberapa orang untuk duduk berkeliling dan bersiap melakukan sesuatu untuk nya.

"Tak usah membantah, duduk dulu dan jangan banyak bertanya!"

"Aku ... aku akan menuruti keinginanmu kalau aku tahu apa yang akan mereka lakukan,"

"Kamu mau tahu?"

Gadis itu mengangguk, lalu langsung duduk dan menunggu pria itu melanjutkan ucapannya, tapi pria itu masih diam sambil terus menatap bola matanya yang indah.

Ruangan yang cukup luas itu dipenuhi beberapa orang yang mungkin berjumlah sekitar sepuluh orang. Pria itu sedang berdiskusi dengan dua orang yang entah siapa mereka.

"Ikut aku ke kamar, akan aku beritahukan apa yang akan kita lakukan malam ini," 

Gadis yng bersamanya mendengarkan dengan penuh seksama. Ia fokus hingga tak menyadari jika tangannya berada di atas paha pria itu.

Pria itu tersenyum saat melihat tangannya bergelayut pada bagian tubuhnya.

"Aku akan melunasi hutangmu, berapapun besarnya, jika saat nanti aku tahu kamu masih perawan, aku berani kamu kasih lebih banyak lagi,"

Gadis itu terdiam. "Aku benar-benar masih perawan. Belum pernah menikah atau memiliki kekasih," ucapnya jujur.

"Buktikan saja nanti saat kita melakukannya,"

Gadis itu menunduk malu. Ia butuh uang dan butuh kebebasan hidup agar terhindar dari jeratan hutang yang membuat hidupnya tidak tenang.

"Aku beri kamu beberapa nominal uang jika sesuai dengan kesepakatan. Rumah dan kebutuhan lainnya juga akan aku penuhi,"

"Be-benar, Tuan?" tanya gadis itu.

Matanya membulat karena ucapan pria kaya itu. Ia akan terbebas dari kejaran debt kolektor yang menjerat dirinya. 

Mereka selalu datang menagih dan memintanya segera melunasi hutang kedua orang tuanya.

Bayangan kehidupan tenang tanpa dikejar hutang pun terbesit dalam benaknya. Ia berharap bisa tenang jika memang pria ini sungguh-sungguh akan membantunya.

"Apa kamu melihat aku berbohong?" tanyanya.

"Ehm, bukan seperti itu, tapi ..."

"Aku akan menikahimu terlebih dahulu,"

"Ki-kita menikah?" tanyanya tak percaya.

"Ya, menikah. Aku ingin kita menikah lebih dulu tapi dengan sebuah perjanjian, tanda tangani dulu surat ini!"

"Ta-tapi, untuk apa Tuan menikahi ku,"

"Jangan banyak tanya, aku ingin kita menikah itu saja," ucapnya cuek.

"Tapi ..."

Selembar surat yang cukup panjang tulisannya, disodorkan ke arahnya.

"Apa maksud dan tujuan Tuan menikahiku? Kita baru kenal, aku bukan gadis baik-baik,"

"Jadi ... kamu ingin tahu kenapa aku mau menikahimu?"

Gadis itu mengangguk, dress yang dikenakannya membuatnya tampak sangat ramping. Berkali-kali pria itu sampai menelan ludahnya karena memandang lekuk tubuhnya yang benar-benar membuatnya berhasrat.

"Agar aku bisa menggauli mu dengan halal, kamu ku nikahi dan aku ingin kamu melahirkan anakku nantinya,"

"Melahirkan? Tapi, a-aku masih muda,"

"Huh, masih muda? Kamu bilang 20 tahun, itu sudah sangat cukup umur, Gadis Bodoh!"

Gadis itu menunduk malu dan terdiam. "Mengaku masih muda, tapi mau menjual keperawanan mu, jangan munafik!" tukasnya.

"Tuan, dalam perjanjian sebelumnya, tidak ada pernikahan, atau semacamnya. Tuan memesan untuk malam ini saja, mendapatkan yang Tuan inginkan. Dan kenapa Tuan memiliki niatan berbeda setelah kita disini?"

"Aku mau kamu menjadi istriku, agar tak perlu lagi ada niatan buruk dari pikiran yang buntu untuk menjual diri, ingat kita akan menikah bukan berzina," ucapnya sekali lagi menekankan.

Gadis itu ragu tapi ia ingin bertanya sekali lagi. Ia minta ijin pada sang pria kalau ingin menanyakan sesuatu hal agar tidak membuatnya terus bertanya-tanya.

"Apa lagi?"

"Tuan, apa tidak salah pilih istri, ehm ... maksudku kita baru bertemu, dan aku juga belum begitu mengenalmu,"

Pria itu masih diam, ia masih merokok dan menghembuskan asapnya, jendela sengaja dibuka untuk sirkulasi udara saat merokok.

"Berdamai lah dengan dirimu, anggap ini takdirmu menikah denganku, aku yakin tak salah pilih," ucapnya.

"Tuan ... Anda harus berpikir tenang," kilahnya.

Ia masih sangat muda, terlalu dini untuk menikah. Ia mengakui umurnya 20 tahun supaya pria itu tak membatalkan transaksi mereka. Ia tak mau kehilangan uangnya. Hutangnya harus segera dibayarkan.

"Ayo kita keluar tapi ingat satu hal, kamu aku nikahi malam ini dan hanya kita yang tahu. Selebihnya tidak ada yang tahu siapa kamu," ucapnya.

Gadis itu tercengang dan terdiam tapi pria itu mengajaknya keluar dengan cepat, lalu menyuruh beberapa orang untuk memimpin acara pernikahan. Sehelai kertas disodorkan lagi padanya. 

"Baca dulu surat ini, baru kamu tanda tangani!"

Gadis itu menerimanya dengan perlahan. Rasa takut menyelimutinya. Menikah adalah sesuatu yang cukup sakral tapi pria itu dengan mudahnya mengajaknya menikah malam ini juga.

Dengan cepat dia membacanya, satu demi satu, ternyata surat itu berisi sebuah perjanjian yang harus diikutinya selama menikah.

Pria itu berkata lagi untuk segera menandatanganinya. "Tanda tangani cepat! Ini sudah cukup malam, aku tak mau kalau sampai kemalaman!"

"Tapi aku masih membacanya," jawabnya sambil memandang wajah pria yang akan membayarnya itu. Pria itu mendengus kesal dan menyuruhnya cepat membacanya kemudian menandatanganinya.

Isi dari surat itu ternyata cukup mencengangkan. Poin pertama ia dilarang keluar kecuali pria itu mengijinkannya, kedua dia dilarang mengatakan pada orang-orang kalau dia adalah istri dari pria itu.

Ketiga ia tidak boleh memperlihatkan kemesraan dan merasa cemburu jika ada wanita yang dekat dengan pria itu.

"Bagaimana, setuju kan?" desaknya.

Gadis itu merasa keberatan, tapi apa daya ia butuh secepatnya uang dari pria itu. Tangannya disentuh dengan cukup kasar.

"Aku butuh keputusan cepat, jadi jangan perlambat gerakanmu!"

Bab 3

Suasana malam yang cukup sunyi di luaran sana. Tapi di hati dan pikirannya bergejolak membuat ramai dan berisik sendiri.

Gadis itu masih terdiam. Masih belum ada bayangan untuknya kalau akan diminta menikah lalu ada sebuah perjanjian seperti yang diinginkan pria ini.

Ia belum menandatanganinya, masih ragu dan takut. Menikah .... Belum pernah ada bayangan untuknya jika harus menikah di usianya yang masih terbilang belia.

"Tanda tangani segera, aku tidak ada waktu lagi!" sahutnya.

Gadis itu bergetar tangannya, seharusnya tidak seperti ini. Pria yang memesannya kenapa minta lebih. Tidak sesuai perjanjian. Yang diinginkan hanya melakukan sesuatu yang akan diselesaikan malam ini juga dan dia dibayar sesuai kesepakatan.

Pria itu memicingkan matanya, menyuruhnya melakukan yang menjadi perintahnya.

"Poinnya masih banyak, Tuan, aku perlu membacanya tapi ..."

"Tidak ada yang merugikan mu, kamu justru akan nyaman berada di sisiku jika kita menikah," ucapnya dengan percaya diri.

"Tapi aku ... aku belum ingin menikah, tolong jangan memaksa!"

"Bayaranmu aku naikkan! Jangan terlalu lama berpikir, kita memburu waktu," ujar pria itu.

Pikirannya belum bisa terbayang bagaimana dia akan menjadi seorang istri nantinya. Tidak ada bayangan menjalin kasih dan menikah.

Pria itu menyentuh jemarinya, seperti menuntunnya untuk segera tanda tangan. Tidak ada waktu lagi katanya.

"Ayo, tanda tangani, kita menikah lalu melakukan malam pertama kita dan bayaranmu baru kamu terima," ujarnya.

"Semudah itu, Tuan? Tapi a-aku belum siap,"

"Siap atau tidak siap kamu harus siap, uang yang jadi tujuanmu, aku tahu betapa berat hidupmu membayar hutang. Jangan terlalu lama mengulur waktu, ayo!"

Gadis itu berpikir sejenak, hingga kemudian ia benar-benar menandatanganinya. Meski janji pria itu akan langsung membayarnya, tapi untuk menikah tidak ada dalam tujuannya untuk membayar hutang.

Akhirnya pernikahan tertutup dan rahasia pun dilakukan, pria itu dengan tegas dan tampak gagah mengucapkan ikrar dalam ijab kabul. Gadis yang dinikahinya meneteskan air matanya.

Pernikahan ini, adalah awal kehidupan barunya, seharusnya ia bergembira dan juga berbahagia. Tapi tiba-tiba, rasa sedih menghampiri. Hatinya seolah tersayat sembilu.

Bagaimana tidak? Seharusnya dia bisa hidup tenang tanpa memikirkan ada beban layaknya hutang yang ditinggalkan orang tuanya.

Ibunya pernah bilang padanya, 'Dea, ibu dan Ayah tidak punya apa-apa yang akan kami tinggalkan. Mungkin hanya rumah ini yang bisa kamu jadikan pegangan di kemudian hari. Apalagi banyak tanggungan yang dimiliki, semoga kami bisa menyelesaikan semuanya dan kamu akan tumbuh jadi anak yang paling beruntung,'

Dan kini .... ia tak merasakannya. Ibunya telah pergi bersama Ayahnya dengan membawa sejuta harapan padanya. Sekolahnya untungnya sudah selesai, tinggal menunggu waktu mengambil ijazahnya.

FLASHBACK ON

Waktu itu, ketika sedang duduk sambil beristirahat. Beberapa saat setelah pulang dari sekolah untuk cap tiga jari, tetangganya datang dengan tergopoh-gopoh.

"Dea! Dea! Ayo, Nak. Kamu ikut ibu!"

"Ada apa, Bu?" tanyanya waktu itu dengan hati yang cemas.

"Kita ke rumah sakit, ya? Kamu ikut ke mobil ibu!" ajak tetangganya.

"Memangnya ada apa, Bu?"

Wanita yang baik itu matanya berkaca-kaca, menyuruhnya untuk ikut saja dan akan tahu sendiri saat nanti tiba di rumah sakit.

"Baik, Bu. Aku ganti pakaian dulu. Seragamnya besok mau dipakai lagi," ucapnya.

Tangan tetangganya tampak gemetaran. Sementara dia belum tahu apa yang terjadi.

Setelah berganti pakaian dan mengunci pintu rumah, mereka langsung pergi menuju ke sebuah rumah sakit yang paling besar yang ada di kota ini.

Ternyata mereka tidak hanya berdua saja melainkan ada beberapa tetangganya yang ikut.

"Sebenarnya, di rumah sakit kenapa, Bu? Apa ada musibah?" tanyanya dengan penuh rasa penasaran.

"Dea ... kita sudah hampir sampai. Ibu akan beritahu kalau ayah sama ibu kamu kecelakaan,"

"A-apa, Bu. Ayah .... Ibu?" tentu saja ia kaget luar biasa.

Jantungnya mulai berdegup kencang, merasa cemas yang cukup besar. Pikirannya bertanya-tanya kenapa kalau kecelakaan, tetangganya ini wajahnya pucat pasi dan cemas berlebihan?

Mereka bilang kalau ayah dan ibunya hanya mengalami kecelakaan saja. Tidak ada yang memberitahu dari rumah kalau kedua orang tuanya telah meninggal dunia di tempat kejadian.

"Bu, sebenarnya ada apa? Kenapa bisa cemas begitu. Ayah dan ibu Dea nggak apa-apa, kan?" tanyanya penasaran.

Ia bertanya tanpa ada jawaban, tetangga yang lain mengusap air mata dan menunduk. Ketika mobil tiba di depan rumah sakit, ia diminta berjalan cepat tapi bukan ke ruangan dimana ayah dan ibunya dirawat karena kecelakaan.

Mereka diarahkan ke sebuah ruangan yang cukup sunyi dan terletak di bagian belakang, bahkan paling ujung. Dea mulai merasa takut, tempatnya begitu gelap.

Tiba-tiba, ia menjerit keras, saat masuk ke sebuah ruangan yang cukup sunyi dan banyak brankar kosong disana. Teriakannya sangat keras sehingga banyak pengunjung yang menutup pintu ruangan rawat inap.

Jeritan nya menyayat hati saat melihat tubuh kedua orang tuanya yang terbujur kaku. Kedua wajah orang tuanya tampak dingin, berada di atas tempat tidur ruangan jenazah.

"Ayah, ibu!"

Sekali lagi ia berteriak keras dan menangis. Keduanya ternyata meninggal dunia di tempat kejadian. Beberapa tetangga menangis mendengar jeritannya. Semua yang ada disana memeluknya.

"Yang sabar, Dea. Kami bersamamu, mereka memang sudah meninggal, maafkan ya kamu harus tahu ketika sampai disini,"

Beberapa tetangganya memeluk dengan rasa iba. Rasanya sangat pilu, melihat dirinya yang merupakan anak satu-satunya harus hidup sendirian ditinggal orang tuanya.

Dia terdiam, tangisnya berhenti namun terisak berubah menjadi sebuah kepiluan yang luar biasa. Pandangannya nanar seolah tak memiliki harapan.

Tak ada lagi harapan untuknya dalam menjalani hidup. Ia kehilangan semuanya. Mereka yang ia tunggu kepulangannya tadi saat pulang dari sekolah.

Tangisnya pecah lagi, teringat Ayahnya yang telah berjanji akan membawanya pergi menemani melamar pekerjaan di sebuah kantor.

Ayahnya memiliki harapan yang cukup tinggi padanya. Karena dia satu-satunya anak yang mereka miliki. Ayahnya menginginkan dia bekerja di kantor dan harus memiliki pendidikan yang cukup tinggi.

"Yah, aku padahal kan cuma lulusan SMK, apa bisa aku kerja di kantor?" tanyanya waktu itu.

Waktu itu ia bertanya tentang pekerjaan kantor, dan Ayahnya dengan sangat percaya diri menjawab kalau dia bisa masuk kantor meski hanya lulusan SMK saja.

Semua harapan telah sirna. Tidak ada lagi semangat menjalani hidup tapi para tetangganya yang baik memberikan support untuknya.

Pengalaman yang pahit itu tiba-tiba terngiang di pelupuk mata.

FLASHBACK OFF 

Ia tersadar dari lamunannya. Lalu pandangannya beralih ke seseorang yang saat ini akan membuatnya menjadi seorang wanita yang sesungguhnya.

Pria itu merasa dia seperti sedih katanya.

"Apa kamu keberatan jika kita menikah?"

Gadis itu terdiam. Tangannya berkeringat dan ia merasa takut setelah ini mereka pasti akan melakukannya.

"Kita sudah selesai. Semua sudah pergi. Aku lihat kamu menangis seperti menyesali yang kita lakukan tadi,"

"Ti-tidak!"

Pria itu menelisik wajahnya. "Kamu yakin tidak terjadi sesuatu yang membuatmu melamun seperti tadi?"

Ia menggelengkan kepala, "A-aku ... ehm ... ingat ayah dan ibu," jawabnya lirih.

Pria itu tersenyum. "Aku lupa kalau kamu anak yatim piatu, tenang saja semua hutangmu akan aku bayar. Jangan melamun lagi, kalau kamu begini terus aku bingung harus melakukan apa malam ini," gerutunya.

Gadis itu menunduk lesu. Ia bukan saja bingung tapi takut. Apalagi saat tangan pria itu mulai menyentuhnya.

Panas dingin rasanya seperti tidak karu-karuan. "Kita jadikan malam ini menjadi malam yang penuh kenangan manis, persiapkan dirimu!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED