"Kamu sudah siapkan materi 'meeting' besok pagi?" Pria dengan netra cokelat terang yang tertutup kacamata itu bersuara.
Abia mengangguk. "Sudah, Pak. Hanya tinggal dicetak saja."
"Berarti belum. Segera selesaikan hari ini!" titah pria dengan tulisan 'Chief Eksecutive Officer' di meja tersebut tegas.
Abia menghela napas berat. Oh ayolah! Ini sudah sangat sore. Mungkin, hanya tinggal mereka berdua di kantor berlantai sepuluh ini. Dia tahu gajinya cukup besar, tapi dia tidak pernah berpikir akan lembur setiap hari.
"Ini sudah hampir malam, Pak. Filenya bisa saya kirim ke Bapak dulu jika ingin diperiksa. Meeting-nya juga besok sore, jadi masih banyak waktu," jelas Abia hati-hati.
"Lalu? Apa karena masih banyak waktu, kamu boleh lalai? Apa perusahaan ini menggajimu hanya untuk itu?" tanya pria yang kini melepas kacamatanya dengan nada sarkas.
Abia menggeleng cepat. Beberapa saat kemudian membungkuk hormat. "Maaf, saya akan cetak materinya sekarang."
Tanpa berani menoleh pada makhluk menyeramkan itu lagi, Abia segera berbalik dan berlari keluar ruangan. Sambil terus berlari menuju ruangannya, perempuan berambut pirang itu mendumel sebal.
Nama pria tadi adalah Arya. Arya Januar Malik. Arya memang cukup menyeramkan di mata seantero pegawai Star Group. Diam-diam, Abia sering memanggil bahkan menamai kontaknya 'Bos Galak'. Dari panggilannya saja, sudah dipastikan seberapa frustasi Abia selama enam tahun bekerja di sini, kan?
Wah ... Abia bahkan terkejut menyadari dirinya masih waras bekerja selama itu di tempat ini.
"Benar-benar gila! Aku bahkan tidak sempat istirahat makan siang, dan dia juga tidak membiarkanku pulang untuk makan malam?!" keluh Abia takjub sambil berkacak pinggang di depan mesin printer.
"Cih! Pantas saja dia terus menjadi duda, siapa perempuan yang akan tahan menjadi istrinya?" cibir perempuan dengan celana kulot hitam, juga turtle neck warna senada berbalut jas pastel tersebut.
Dehaman dari belakangnya membuat Abia terlonjak.
Begitu berbalik, ternyata Arya tengah berdiri di sana sambil bersandar pada sisi pintu kaca. Pria jangkung itu bersedekap dada, memandang Abia dari atas sampai bawah dengan pandangan yang tidak bisa ia tafsirkan.
"Belikan aku kopi dan makan malam!" perintah duda beranak satu itu tiba-tiba sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna biru.
Abia cemberut. "Tapi, Pak Arya. Ini sudah waktunya saya pulang. Kenapa Bapak tidak membelinya di perjalanan pulang sekalian?" tanya perempuan dengan kuncir satu itu sedikit memelas.
Dia benar-benar ingin tidur. Dia sangat rindu kamar terutama kasurnya. Sungguh. Apa penderitaannya hari ini belum berakhir juga?
"Itu juga bagian dari tugasmu. Untuk itulah gajimu lebih tinggi dari tim humas yang lain," sahut Arya tidak peduli.
Pria dengan jas abu itu menarik tangan Abia kemudian meletakkan lembaran uang juga kunci mobil mewahnya di sana.
"Kutunggu di ruangan. Kembaliannya ambil saja," ucap Arya final sebelum kemudian berlalu.
Abia menyorot punggung tegap sang atasan kosong.
"Kau seharusnya tahu, aku tidak butuh kembalian. Aku butuh istirahat, Bos Sialan!" Abia memaki sepenuh hati.
Abia segera pergi ke parkiran, lalu menjalankan mobil bosnya menuju ke restoran terdekat. Namun, entah karena mengantuk atau kelelahan, Abia jadi tidak fokus dalam berkendara.
Lalu, tiba-tiba saja, dari arah berlawanan ada sepeda motor yang kencang melaju, dan itu membuat Abia terkejut sehingga mobil oleng dan keluar jalur. Mobil hampir saja bertabrakan dengan sepeda motor, namun karena Abia membanting setir, ia malah berakhir menabrak papan iklan besar di pinggir jalan.
"Aku akan mati. Aku pasti mati sebentar lagi." Abia keluar dari mobil, lalu berjongkok sambil memandangi mobil berwarna merah menyala di hadapannya.
Saat Abia sedang meneliti mobil, tiba-tiba ponsel di sakunya berbunyi. Dan Abia semakin melebarkan matanya tatkala mengetahui bosnya itu meneleponnya. Abia meneguk ludah dengan susah payah. Hari memang sudah semakin malam, beberapa kerumunan orang sudah menghampirinya untuk menanyakan kondisinya.
Abia jadi panik karena lalu lintas pun mengalami kemacetan.
Perlu waktu beberapa menit untuk mendapati panggilan itu akhirnya berhasil ia angkat.
"Kau ke mana saja, Abia! Membeli kopi atau bersemedi?!" Tanpa memberi salam pembuka, Arya membentak kesal.
Namun, suara bising kerumunan orang dari telepon sepertinya membuat pria itu penasaran hingga menanyakan lagi keberadaan dirinya.
"P-pak, tolong jangan marah! To-tolong jangan pecat saya! Saya pasti ganti rugi, s-saya bener-bener minta maaf." Abia gelagapan, ia takut mendapatkan semprotan dari atasannya.
"Ada masalah apa?" tanya Arya, kali ini dengan nada melunak.
"Saya kecelakaan. Mobilnya menabrak papan iklan besar di pinggir jalan dekat jembatan," jawab Abia lirih, nyaris 'tak terdengar.
Tak ada jawaban, hingga akhirnya bosnya itu berkata, "Kamu!!! Cepat kirimkan lokasimu sekarang!!!"
Ponselnya langsung mati, dan Abia dengan cepat mengirim lokasinya lewat pesan.
Beberapa bagian dari kendaraan mewah itu tergores parah. Bagian depannya juga sudah nyaris tidak berbentuk.
Bagaimana ini? Tidak mungkin Abia bisa mengganti rugi. Mobil ini adalah kesayangan Arya. Abia juga yakin harganya bahkan tidak sebanding dengan gajinya setahun.
"Nona, ayo kita ke rumah sakit dulu! Luka Anda perlu diobati," bujuk seorang pria paruh baya yang tak jauh dari hadapannya.
"Iya, Nak. Luka di kepalamu cukup parah. Kau harus mengobatinya segera," timpal seorang wanita tua lainnya.
Abia memegang kepalanya, saking terkejutnya tadi, ia tidak menduga bahwa dirinya ikut terleka. Mungkin karena ia sudah ketakutan, jadi ia langsung keluar memerika mobil.
Kini Abia menggeleng dengan mata menerawang jauh. Wajahnya terlihat pasrah dan putus asa.
"Untuk apa berobat? Sebentar lagi aku pasti akan dibunuh dan mati," ratap Abia.
Mendengar cara Arya meneriakinya dari telepon saja sudah membuatnya merinding. Bagaimana jika pria itu tiba di sini?
"Otakmu kau gadaikan ke mana, Abia?!" Makian dari samping membuat Abia terlonjak dan mendongak.
Arya berdiri di sana. Menatap Abia dengan kilat amarah yang menyala di mata.
"Pak Arya, maaf." Begitu melihat duda galak itu, mendadak Abia mulai menangis.
Arya mengerjap panik. Seketika kehilangan kata untuk marah.
"Hei! Kenapa kau menangis?!" tanya pria jangkung dengan kemeja putih polos itu panik. Jasnya sudah ia buang entah di mana tadi.
"Maafkan saya. Tolong jangan bunuh saya. Saya benar-benar tidak sengaja merusak mobil kesayangan Anda," jelas Abia sambil menangis sesenggukan.
Beberapa pasang mata yang sedari tadi mengerumuni perempuan itu sejak insiden tabrakan, kali ini memandang Arya penuh penghakiman. Mungkin mereka berpikir dia tidak punya hati nurani karena memarahi korban kecelakaan sekarang.
"Ya ampun, Abia! Cepat berdiri! Ayo kita pergi!" paksa Arya sambil menarik lengan perempuan itu untuk berdiri.
"Kaki saya sakit. Tadi terjepit mobil," keluh Abia sambil meringis di sela isakannya.
"Dasar pria tidak punya hati! Seharusnya dia membawa perempuan itu ke rumah sakit. Bukan malah mempermasalahkan mobilnya," cerca seorang pria.
Arya mendelik tajam. Makiannya sudah berada di ujung lidah, tapi tertelan begitu melihat darah merembes dari kening Abia.
"Ayo kita pergi!" ucap Arya sambil mengangkat tubuh Abia ke dalam gendongan.
Abia terkejut dengan perlakuan tidak terduga pria itu.
"P-pak?"
"Diamlah! Perhatikan lukamu!" bentak Arya membuat Abia mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang atasan takut.
"Bagaimana dengan mobilnya, Pak?" tanya Abia lagi, masih sempat-sempatnya.
"Menurutmu bagaimana? Tentu saja kau harus mengganti rugi!" jawab Arya tegas.
"Tapi saya tidak punya uang sebanyak itu." Kuncir rambut Abia sudah berantakan, hingga helaian rambutnya menjuntai.
Arya mendecak kesal. "Tidak dengan uang! Aku juga tahu kau miskin," sanggahnya cepat.
"Lalu?" tanya Abia sambil mendongak dengan tatapan penuh harap.
Dilihatnya Arya menunjukkan smirk jahat. "Yang pasti, kau akan menyesal setelah ini."
"Bagaimana keadaannya?" Arya bertanya begitu Dokter sekaligus sepupunya keluar dari ruang rawat.
"Bagaimana menjelaskannya, ya? Luka bekas kecelakaannya tidak terlalu parah. Tapi, tensinya 80. Sepertinya dia juga kelelahan dan sangat kurang tidur. Jika stress sedikit lagi, mungkin dia akan pingsan." Penjelasan perempuan berkaca mata dengan rambut sebahu itu hanya dibalas Arya dengan anggukan.
"Hei, dia pegawaimu, kan? Aku yakin dia sampai seperti ini karena bekerja padamu," tebak Dokter dengan name tag 'Cintya A.' itu dengan senyum jahil.
Arya mendelik tajam. "Pergilah! Tugasmu sudah selesai, kan?" usir Arya pedas sebelum kemudian berjalan masuk ke ruang rawat Abia.
Begitu sampai di dalam, pria jangkung itu menemukan Abia tengah menatap langit-langit ruangan gusar. Sepertinya perempuan itu masih memikirkan bagaimana cara mengganti rugi pada Arya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Arya sambil duduk di kursi samping ranjang.
Abia mengangguk kikuk. Perempuan itu ingin bangkit duduk karena merasa tidak nyaman berbaring di depan sang atasan, tetapi Arya malah menahan bahunya.
"Berbaring saja! Kata Cintya kau perlu banyak istirahat," tegurnya tegas yang tentu saja tidak bisa dibantah Abia.
Terlebih, dia harus bersikap baik sekarang. Supaya Arya berbelas kasihan melepaskannya setelah merusak mobil mewah pria itu.
"B-bagaimana dengan mobilnya, Pak?" tanya Abia hati-hati.
Wajah Arya yang sebelumnya santai, kini kembali terlihat marah. "Aish! Aku sudah melupakan ini sebelumnya, bahkan berniat tidak memaksamu mengganti rugi." Abia mengerjap senang mendengar pernyataan itu.
"Tapi karena kau terus mengungkitnya, kau harus mengganti rugi." Sayangnya, Abia memang merasa senang terlalu cepat.
"Tapi, Pak---"
"Dengan dua pilihan," potong pria dengan kemeja putih polos itu cepat.
"Apa?" tanya Abia tidak sabar.
"Pertama, dengan uang. Dulu aku membelinya seharga 10 milyar, tapi kuberi diskon. Kau cukup memberiku hanya 5 milyar," jawab Arya kelewat enteng.
Abia meneguk ludah kasar. Apa sopan menyebut uang 5 milyar itu dengan kata 'hanya'?
"Pilihan kedua?" tanya Abia lagi tanpa berpikir panjang.
"Kau hanya perlu menikah denganku." Kalimat bernada santai itu sejenak membuat Abia ragu.
Apa telinganya tidak salah dengar?
"Hah? Bapak meminta saya melakukan apa?" tanya Abia mencoba memperjelas pendengarannya.
"Menikah denganku. Tidak banyak yang harus kau lakukan. Hanya tinggal denganku sekaligus mengurus putraku. Aku juga tidak akan melarangmu bekerja seperti biasa," jelas Arya panjang lebar.
Abia melongo. Bingung harus menanggapi kalimat mengejutkan itu dengan cara apa.
"Kenapa Pak Arya mau menikah dengan saya?" tanya Abia lagi semakin bingung.
"Haruskah aku menjawabnya?" tanya Arya sambil menaikkan sebelah alisnya angkuh.
Abia ingin berteriak 'tentu saja!' tapi mendadak kehilangan kata.
"Waktumu 3 hari. Jika kau tidak bisa melakukan salah satu dari keduanya, aku bisa melaporkanmu ke polisi. Sekaligus memecatmu tentu saja," sambung pria itu final.
Siapa saja, tolong bangunkan Abia dari mimpi buruk ini.
***
"Mimpi apa kau pulang ke rumah secepat ini?" Pertanyaan dari ambang pintu utama membuat Abia menghela napas berat.
"Apa aku tidak boleh pulang?" tanya Abia balik.
"Bukan begitu. Hanya saja, biasanya kau pulang hanya saat akhir bulan, saat gajian. Apa sekarang gajianmu dipercepat?" tanya pria tua yang kini berjalan sempoyongan tersebut.
Abia tersenyum getir. "Apa aku hanya pulang untuk itu bagimu?"
"Tentu saja!" jawab pria dengan mata memerah juga bau alkohol tersebut.
Kali ini, Bisma duduk di sofa panjang samping Abia. Pakaiannya terlihat berantakan. Persis seperti hidupnya.
"Apa Ayah tidak bisa hidup dengan lebih baik? Apa menyenangkan menghancurkan hidupmu seperti ini?" tanya Abia tidak habis pikir.
Dia sebenarnya ke sini untuk mencari ketenangan. Sekaligus mencari solusi yang sebenarnya memang tidak mungkin Abia dapat di sini.
"Mengapa kau bertanya begitu? Kau memintaku hidup lebih baik? Apa kau lupa bahwa kau yang menghancurkan hidupku?!" bentak Bisma.
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun!" sanggah Abia dengan mata berkaca-kaca.
"Kau lahir saja sudah salah, sialan!" cerca Bisma yang seketika membuat Abia menangis.
"Dan sekarang aku semakin muak melihatmu. Berhenti menangis seolah kau merasa bersalah! Padahal kau hidup dengan baik hingga sebesar ini," cibir Bisma sambil bangkit berdiri dan menarik paksa putrinya.
"Kau mau apa?" tanya Abia tidak mengerti.
"Memberimu pelajaran karena sudah membunuh istri dan putraku," jawab Bisma sambil terus menyeret Abia dan mendorong perempuan itu masuk ke kamar.
Belum sempat berdiri, Abia sudah mendapati pintunya terkunci. Abia bersandar di pintu kamar sembari meluruhkan tubuh.
Seharusnya dia memang tidak ke sini tadi. Tapi entah kenapa, dia sangat ingin bertemu Ayahnya. Meski Abia tahu Bisma tidak akan memperlakukannya dengan baik, bodohnya ia tetap datang dan berakhir di sini sekarang.
"Mungkin benar, seharusnya aku tidak pernah dilahirkan," gumam Abia sambil terkekeh miris.
Dulu, Ibunya meninggal setelah melahirkannya. Ayahnya masih bisa menerima. Tapi, begitu Kakaknya juga meninggal karena kecelakaan di perjalanan menuju sekolah Abia, Bisma mulai menyebutnya pembawa sial.
Selama duduk di bangku SMA, dia terus mendapat banyak pukulan dan makian. Jadi, karena tidak tahan, Abia kuliah dengan beasiswa dan menyewa kost di dekat kampus dengan uang hasil kerjanya.
Tapi rupanya, mendapat gelar sarjana dan bekerja di perusahaan besar tidak membuatnya merasa lebih baik. Menyadari hidup Ayahnya yang berantakan, Abia semakin dipenuhi perasaan bersalah.
Maka, tinggal di rumah kontrakan dan memberi sebagian besar gajinya kepada Bisma adalah satu-satunya hal yang bisa Abia lakukan. Tapi rupanya, Bisma masih tetap tidak bisa menerimanya, ya?
Apa Abia memang semenjijikkan itu?
***
Sudah tiga hari Abia tidak masuk kerja. Bertanya pada rekan kerjanya pun, mereka tidak tahu. Jarang sekali perempuan itu hilang tanpa kabar begini.
Dan orang yang paling marah tentu saja Arya. Hari dimana perempuan itu di rawat di rumah sakit, malamnya dia sudah kabur dari sana saat Arya menjenguknya.
Arya bahkan sempat mengunjungi kontrakan Abia. Tapi, perempuan itu tidak ada. Tetangganya juga bilang Abia tidak pernah pulang sekitar 3 hari lamanya.
Kali ini, kemarahan Arya lebih tepat disebut khawatir. Nomor Abia juga tidak bisa dihubungi.
BRAK!
Pintu yang terbuka kasar membuat Arya terlonjak kaget. Di sana, berdiri Keanu---salah satu aktor yang sedang 'naik daun' dari agensi Star Group.
"Jika tidak punya otak, setidaknya kau punya sopan santun untuk mengetuk pintu terlebih dahulu!" bentak Arya kesal.
"Mengapa kau marah sekali? Biasanya aku juga melakukan itu setiap datang ke sini," heran pria dengan sepasang lesung pipi itu.
"Kau mau apa ke sini?" tanya Arya balik.
"Aku disuruh mengambil beberapa naskah drama. Ada banyak tawaran, tapi aku harus memilih satu." Arya mengangguk saja.
"Yasudah, kau boleh pergi." Arya mengusir santai.
"Seharusnya kau senang seseorang setampan aku mau menemuimu. Tapi kau malah mengusirku begini," keluh Keanu yang dibalas Arya dengan putaran bola mata malas.
"Pergilah---"
Tuut ... tuut ... tuuut ....
Getaran ponselnya membuat kalimat Arya terpotong. Begitu mendapati nama 'Abia (Kepala Tim Humas)' ada di sana, pria itu segera mengangkatnya.
"Kau kemana saja?! Jangan harap kau bisa melarikan diri, Abia!" tanya sekaligus ancam Arya sebelum Abia sempat bersuara.
Anehnya, hanya terdengar suara deru napas tak teratur dari seberang sana.
"Abia?" panggil Arya sekali lagi, kali ini dengan nada sedikit panik.
"T-tolongin saya, Pak. Saya takut ...."
"Di mana kamu, Abia?!"
Teriakan bernada amarah itu membuat Abia menahan napas. Saat ini, dia sedang bersembunyi di balik pohon besar belakang rumahnya.
Setelah mendengar bahwa Bisma akan menjualnya pada seorang pria tua, perempuan itu mencoba kabur. Sayangnya, tepat setelah berhasil keluar melalui jendela kamar, Bisma juga masuk.
Abia sempat mengambil ponsel dan menelepon Arya---satu-satunya orang yang terlintas di kepala. Sayangnya, benda itu jatuh entah di mana saat Abia tersandung.
"Saya tahu kamu ada di sini. Ponsel kamu ada di saya," ucap pria itu lagi dengan suara yang semakin dekat dari tempat Abia bersembunyi.
Abia membekap mulut. Mencoba meredam suara deru napasnya yang tidak beraturan. Kakinya gemetar ketakutan. Lebih takut ketimbang saat ia menghancurkan mobil Arya.
Abia pikir, waktu itu adalah saat paling mengerikan di hidupnya. Rupanya, menyadari Bisma---Ayahnya sendiri malah berniat menjual tubuhnya jauh lebih menakutkan.
Krek!
Terlalu sibuk mengontrol tangisnya yang hampir meledak karena takut, Abia tidak sadar kakinya malah menginjak ranting. Bunyi itu tentu saja membuat Bisma segera berlari mendekat.
"Di sana ternyata kamu!" teriak Bisma seolah predator yang siap menangkap mangsanya.
Abia kontan berlari sekuat tenaga. Tidak peduli lututnya belum sembuh betul sehabis kecelakaan. Darah yang merembes dari siku juga lututnya sehabis tersandung juga tidak Abia pedulikan.
DUG!
"Apa kau merasa punya hak untuk kabur, huh?! Apa kau pantas melakukan ini?" Tendangan keras dilayangkan Bisma pada punggung Abia.
Perempuan itu tentu saja tersungkur. Belum sempat bangkit duduk, tangannya malah diinjak dengan keras.
"Argh!" jerit Abia kesakitan.
Sungguh, jika tahu dia akan berakhir seperti ini, Abia tidak akan pernah datang ke rumah Ayahnya lagi. Abia tidak tahu Bisma akan berbuat sejauh ini padanya.
"Apa kau kesakitan? Ini bukan seberapa. Kau menyakitiku lebih banyak. Kau merenggut semua yang kupunya. Kau seharusnya mati, Sialan!" geram Bisma sambil terus menendang setiap bagian tubuh Abia yang mampu ia gapai.
Abia terbatuk-batuk. Mulutnya bahkan mengeluarkan darah. Pandangannya sudah memburam tapi Bisma terus memberinya tendangan-tendangan yang lain.
Bisma sudah gila. Ayahnya pasti sudah gila.
"Am-pun, Ayah. Ampuni Biya ...." Abia berucap di sela rintih kesakitannya.
Dengan pandangannya yang sudah hampir menggelap, perempuan itu dapat melihat kaki Bisma berniat menginjak kepalanya. Abia sudah berpikir dia akan mati.
BUGH!
"Beraninya kau melakukan itu, Brengsek!"
Tapi, seseorang menerjang Bisma. Ayahnya jatuh ke tanah dan dipukuli dengan brutal. Menyadari seseorang yang menolongnya, tanpa sadar Abia tersenyum lega.
Arya datang. Pria itu menyelamatkannya.
***
Begitu membuka mata, langit-langit kamar berwarna putih susu menyapa netranya. Abia mengerjap karena silau.
"Kau sudah bangun?" Suara seseorang di sampingnya membuat Abia menoleh.
Arya duduk di sana. Dengan mata mendelik antusias. Ekspresi yang tidak pernah Abia lihat dari wajah kaku CEO Star Group itu.
"Kenapa kau diam saja? Apa tubuhmu sakit? Perlu kupanggilkan dokter lagi?" tanya pria dengan kaos hitam polos lengan pendek itu panik.
Abia menggeleng pelan. Ingatannya kembali terlempar pada kejadian sebelum dia kehilangan kesadaran.
Jadi, Arya benar-benar menolongnya, ya? Pria itu menyelamatkan hidup Abia.
"Terima kasih." Dari sekian banyak hal yang ingin ia ucapkan, hanya kalimat itu yang mampu Abia suarakan.
Arya naik ke sisi ranjang tempat Abia berbaring. Perempuan itu bahkan belum sadar kalau saat ini dia berada di rumah Arya, tepat di kamar pria itu.
Abia segera bangkit duduk meski tubuhnya masih sakit. Tanpa diduga, Arya malah menariknya ke dalam dekapan.
"Syukurlah kau selamat. Seharusnya aku datang tepat waktu tadi." Abia tidak tahu kenapa sikap Arya mendadak sebaik dan semanis ini.
Tapi, perasaan lega juga syukur di hatinya seolah akan meledak. Membuat Abia mulai menangis keras di dada bidang pria itu.
"Saya tahu saya anak pembawa sial. Karena saya lahir, Ibu dan Kakak saya meninggal. Tapi, saya tidak pernah berpikir Ayah saya akan melakukan itu pada saya," adu Abia sambil mencengkeram baju Arya erat.
"Saya juga tidak pernah meminta dilahirkan, Pak. Tapi, apa saya memang tidak sepantas itu untuk hidup?" tanya Abia di sela sesenggukannya.
"Jangan mengatakan itu! Kau jauh lebih pantas dibandingkan pria itu. Seharusnya dia yang mati, seharusnya aku membunuhnya tadi." Mendengar cara pria itu mengatakan hal tersebut saja, Abia sadar ada nada amarah di sana.
"Sekarang istirahatlah!" Arya mengurai pelukan. "Jangan pikirkan apa-apa lagi. Tidurlah yang nyenyak, jika kau butuh sesuatu, segera panggil aku!" sambung pria itu.
"Tapi ... kita ada di mana, Pak?" tanya Abia begitu Arya hendak berjalan keluar kamar.
"Kau di rumahku, dan ini kamarku. Jadi jangan takut, buat dirimu nyaman. Ada banyak penjaga dan pembantu di sini. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa panggil mereka atau aku."
***
Jam menunjukkan pukul 12 malam. Tapi, Arya tidak bisa tidur. Bayangan wajah Abia memenuhi pikirannya. Membuat pria itu akhirnya bangkit dari berbaringnya karena gusar.
"Dad, kenapa kau terus bangun?" tanya Neo---putranya sambil mengucek mata.
"Apa Daddy membangunkanmu? Maaf, tidurlah lagi!" sahut Arya sambil mengusap puncak kepala bocah sipit itu.
"Apa Daddy mengkhawatirkan perempuan yang ada di kamar Daddy?" tanya bocah dengan rambut agak pirang itu tepat sasaran.
Arya mengangguk jujur. "Iya. Daddy ingin melihat keadaannya," jawab pria itu jujur.
"Kalau begitu lihat saja! Aku bisa tidur sendiri. Biasanya juga aku tidur sendiri." Neo menyahut santai.
Arya tersenyum---sesuatu yang pasti mengejutkan Abia jika perempuan itu melihatnya.
"Yasudah, Daddy ke sana dulu. Kau tidurlah!" titah Arya sambil membetulkan letak selimut putranya sekaligus memberikam kecupan singkat di kening.
Beberapa saat kemudian, pria itu sudah melesat menuju kamarnya. Tempat di mana Abia tertidur.
Begitu membuka pintu dengan sangat pelan dan hati-hati, wajah terlelap perempuan itu menyambutnya. Arya duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wajah lelah itu dalam diam.
"Pasti hidupmu begitu berat. Apa aku bisa meringankan bebanmu?" gumam Arya sambil mengusap pipi Abia lembut.
Dulu, Arya pernah berada di titik terendah hidupnya. Tepat setelah putra pertama mereka lahir, istrinya menceraikannya dengan alasan tidak sanggup memiliki anak.
Entah itu alasan untuk pergi, atau memang mantan istrinya yang tidak bisa menerima seberapa miskin Arya di masa lalu. Yang jelas, hari itu pikiran Arya buntu.
Dengan mengenakan hoodie hitam, masker juga topi berwarna senada, Arya nekad berniat membuang Neo kecil. Tapi, seorang perempuan dengan baju putih abu penuh coretan menghentikannya.
Perempuan berambut pirang yang sepertinya baru lulus SMA itu, menendang punggung Arya yang hampir membuang bayinya ke sungai.
"Apa dia bersalah? Apa dia meminta dilahirkan? Apa dia tidak pantas hidup? Kenapa kau tidak bisa menerimanya? Kenapa kau tidak membiarkannya hidup? Dia juga pantas hidup. Dia pasti juga ingin hidup," racau perempuan itu sambil menangis.
Siapa yang tahu, racauannya menyadarkan Arya. Membuat pria itu bangkit dan hidup dengan lebih baik hingga detik ini.
Perempuan itu mungkin tidak mengenalinya. Tapi, Arya ingat betul bagaimana ia menangis keras sambil berjongkok. Dan tanpa ia tahu, Arya sudah menyukainya sejak saat itu.
Perempuan itu adalah Abia.