Bab 2

Perempuan itu tidak mempedulikan permohonan dari gadis tersebut, Kartika terus berusaha menarik Cantika untuk mendekat kepadanya.

  Karena tubuh gadis itu kecil tentu saja dia kalah dengan tenaga perempuan tersebut, sehingga memilih pasrah apa pun yang akan dilakukan oleh Kartika kepadanya.

  Cantika memejamkan mata dengan jantung yang berdebar kencang, perasaannya menjadi tidak menentu membayangkan apa yang akan perempuan tersebut lakukan.

  Kening perempuan itu mengerut menatap gadis yang berada di depannya, sehingga membuat ia menyentak tangan Cantika dengan kasar.

  "Sudah selesai, cepat kau keluar sekarang kerjakan semua pekerjaanmu! Aku tidak ingin kalau ada sedikit pun debu yang menempel di rumahku ini, camkan itu!" gertak Kartika dengan wajah merah padam.

  Gadis itu berjalan keluar dengan tertatih-tatih, terlihat sulit sekali melangkahkan kakinya. Membuat Kartika menjadi mencebik, lantaran cemburu.

  "Bilangnya tidak suka, tapi setiap tubuhnya penuh dengan tanda merah!" gerutu Kartika dengan bibir terus cemberut.

  Sekarang Cantika sangat kesulitan sekali untuk berjalan turun dari tangga. Setiap beberapa anak tangga, ia memilih berhenti sejenak.

  "Sakit sekali!" ringis Cantika dengan tangan memegang pangkal pahanya.

  Namun, tetap saja memilih melangkahkan kaki. Karena sadar diri akan siapa dirinya, seseorang yang dibeli dengan harga mahal.

  Andika ingin menaiki tangga menjadi terhenti, tatkala mata elangnya menangkap seorang gadis meringis di salah satu anak tangga.

  Lantas lelaki itu segera naik ke tangga, tampak beberapa kerutan di dahi mengingat-ingat tentang siapa gadis tersebut.

  "Siapa kau? Baru pertama kali aku melihatmu di sini," tanya Andika kebingungan.

  Hati gadis itu terasa sangat perih, bak tertusuk sebuah pisau yang amat tajam mendengar suaminya sendiri tidak mengenalinya.

  "Sa-saya adalah pelayan baru," ucap Cantika dengan menggigit bibir bawahnya.

  "Kenapa dengan kakimu itu? Kalau kau sakit, jangan bekerja. Nanti malah akan mengganggu pelayan lain!" tegur Andika dengan wajah dinginnya.

  Cantika menundukkan kepala, tidak berani menatap sang suami. "Saya berusaha tidak akan merepotkan pelayan atau Anda, Tuan," ucapnya dengan terbata-bata.

  Andika menelisik penampilan Cantika sekarang, matanya tampak awas. "Kalau kau berkata seperti itu, aku tak bisa memaksamu. Lagi pula kau sendiri yang akan kesakitan kalau terus memaksa diri." Lelaki itu segera naik ke atas tangga tanpa memandang ke arah belakang lagi.

  Satu tetes bulir bening jatuh dari kedua sudut mata Cantika, ia menatap nanar kepada suaminya tersebut. "Padahal kita sudah melewati malam bersama, tapi kau malah tidak mengenali istrimu ini." Gadis itu meremas ujung roknya dengan kuat.

  Merasa tidak ada gunanya menangisi lelaki yang adalah suaminya tersebut, memilih untuk segera turun ke bawah. Mulut mungil itu, terus meringis kesakitan lantaran Andika melakukan malam pertama mereka dengan kasar. Tak memikirkan bagaimana perasaan gadis itu sama sekali.

  Cantika sekarang mengelap vas besar yang menjadi hiasan di setiap sudut rumah megah tersebut. Tangannya gemetar dengan bibir yang sudah semakin pucat, lantaran tidak kuat untuk terus memaksakan diri.

  Saat Cantika melangkahkan kaki, merasa bumi sedang berputar sehingga kesulitan untuk berpijak. Tangan mungil itu pun menggapai apa pun yang bisa digapai untuk menahan tubuh supaya tidak jatuh.

  Kartika melihat itu membuatnya semakin kesal, lantas mendekati Cantika. "Hei, pelayan baru!" panggilnya.

  Dengan sisa-sisa tenaga Cantika menoleh, menatap istri pertama dari suaminya. "Ada apa?" tanyanya dengan lirih.

  "Cepat buatkan lima gelas kopi hitam dan antarkan ke ruang tamu. Ingat, jangan melakukan kesalahan, karena yang datang adalah tamu penting!" ancam Kartika dengan menunjuk wajah Cantika penuh amarah.

  "B-baik," jawab Cantika segera berlalu pergi.

  Kartika mendengus kesal menatap Cantika, perasaan cemburu dirasakan setiap kali menatap gadis tersebut membuatnya tak bisa mengendalikan diri untuk tidak mengganggu istri muda sang suami.

  Dengan angkuh berjalan menuju ke arah depan, tanpa mempedulikan madu yang tertatih-tatih berjalan ke arah salah. Lantaran Cantika tidak tahu di mana letak dapur.

  Cantika merasa asing dengan rumah yang sekarang menjadi tempat tinggal ke depannya. Matanya terus melirik kesana-kemari, mencari keberadaan seseorang untuk ditanyai letak dapur ada di mana. Nihil, tak ada satu pun orang lewat di sana. Sehingga memilih untuk berjalan lurus ke depan.

  "Kenapa tidak ada satu pun orang yang terlihat di rumah sebesar ini? Jangan bilang hanya aku yang jadi pelayan di sini?" Cantika merasa frustasi tak menemukan dapur yang sedari tadi dicari.

  Rasa lelah, sekaligus haus dan sakit bercampur aduk. Ingin mengistirahatkan diri, dengan duduk sebentar tetapi khawatir kalau Kartika akan memarahinya.

  "Ayo berjalan sedikit lagi, pasti aku akan menemukan di mana dapurnya!" Cantika mengepalkan tangan di udara, menguatkan dirinya sendiri.

  Perlahan namun, pasti, ia menemukan dapur yang sejak tadi dicari. Mata gadis tersebut langsung berkaca-kaca, merasa sangat senang.

  Tangan pun membuka satu-persatu lemari yang berada di sana, mencari keberadaan gula dan kopi. Saat sudah dapat, dengan cepat langsung membuatkan lima gelas kopi hitam.

  Gadis tersebut segera menaruh semua gelas di atas nampan. "Sekarang aku harus mengantarkannya dengan cepat," ucap Cantika.

  Langkahnya kali ini dipercepat, walau di antara kedua paha terasa semakin sakit. Namun, tak mungkin berlama-lama mengantarkan minuman ini.

  Wajah Cantika terus mengerut lantaran menahan rasa sakit, tetapi dengan cepat mengubahnya kembali. Tidak ingin ada seseorang yang melihat dirinya.

  Saat ingin sampai di ruang tamu, ia mulai memelankan langkah. Di sana Cantika melihat suaminya dirangkul oleh seorang perempuan . Mereka terlihat sangat mesra sekali, sehingga membuat sedikit rasa cemburu di dalam hati.

  Karena rasa cemburu, tanpa sadar gelas menjadi ingin terjatuh, menimbulkan suara dentingan membuat semua orang menatap ke arahnya.

  Kartika tersenyum menyeringai, lalu semakin erat merangkul Andika. Mengatakan kalau lelaki itu adalah miliknya. "Seharusnya kau kemari, bukan malah cuma diam di sana!" panggilnya.

  "Maafkan saya." Cantika menundukkan kepala, menahan bulir bening yang ingin jatuh dari kedua sudut matanya.

  Langkah kakinya semakin cepat sambil beberapa kali menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan suara kalau sedang kesakitan.

  Satu-persatu gelas ditaruh tempat di depan para tamu, sekarang tinggal Kartika dan Andika saja belum mendapatkan minuman mereka.

  Cantika merasa ragu untuk mendekat, tetapi perempuan itu memanggil supaya ia mempercepat pekerjaannya. Gadis tersebut memilih menundukkan kepala, menahan rasa sesak di dada, sehingga tak sadar kalau ada satu kaki mencegat langkahnya.

  Gadis tersebut menjadi tersandung, membuat gelas berisi kopi panas itu menjadi tumpah ke celana Andika. Membuat wajah Cantika menjadi menegang dengan keringat dingin membanjiri kening.

  Tanpa sadar tangan Cantika lekas meraih tisu yang berada di meja untuk membersihkan bekas tumpahan kopi itu. "Maafkan saya! Saya tidak sengaja melakukannya, Tuan!" ucapnya panik.

Bab 3

“Apa kau tidak bisa melakukannya dengan perlahan saja?” Rahang Andika mengeras, matanya terbelalak dan pipinya memerah akibat rasa malu yang menyelimuti dirinya.

  Pakaian mahalnya kini bernoda kopi panas yang tumpah akibat ketidakhati-hatian pelayan baru, Cantika. 

  “Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja karena ada sesuatu yang membuat saya terjatuh,” ucap Cantika lirih, sambil melirik sekilas ke arah Kartika.

  “Kenapa kau menatapku seperti itu?" ujar Kartika, mendelik penuh amarah. Alisnya menyatu, dan bola matanya memancarkan api kemarahan. "seorang pelayan rendahan beraninya menatap nyonya rumah sepertiku! Apa kau ingin menuduhku melakukan hal hina seperti itu?” Wajahnya merah padam sekaligus merasa bersalah karena di sini, salahnya sendiri yang menyebabkan kesalahan.

  Cantika menundukkan kepala, menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosi yang memuncak, merasa ditekan oleh tatapan tajam suaminya yang membuatnya ingin menangis. “Saya tidak bermaksud menuduh Anda, hanya saja kaki saya memang tersandung sesuatu hingga jatuh.”

  Andika, yang saat itu duduk di kursi ruang tamu, bangkit dengan geram dan menatap gadis itu dengan tatapan merendahkan. Ekspresi wajahnya menyiratkan betapa kecewanya pada Cantika. 

  “Seharusnya kalau kau tidak bisa bekerja hari ini, jangan memaksakan diri!” ucap Andika dengan nada sinis, lalu pergi dari sana tanpa menoleh, meninggalkan Cantika dalam keadaan terpuruk, sambil memperhatikan langkah kakinya yang semakin jauh.

  Kartika yang melihat suaminya pergi tanpa mengatakan apa pun, melirik Cantika dengan sinis. Lalu beralih kepada tamu yang ditinggalkan, sehingga sekarang perempuan tersebut sibuk menenangkan tamunya.

  Cantika melihat ini sebagai kesempatan untuk merapikan kekacauan yang telah ia buat. Dengan perlahan, ia mengelap tumpahan kopi di lantai dan meja. Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, gadis itu bergerak lincah. Sesekali, ia meremas pahanya, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara. Bekas kuku di pahanya tidak mempengaruhi semangatnya. Nampan di tangannya bergoyang saat Cantika berusaha berdiri dari posisi jongkok. Suara dentingan gelas terdengar, membuat Kartika menatapnya dengan tajam.

  "Maafkan saya," kata Cantika sambil membungkukkan tubuh, kemudian pergi menuju dapur.

  Di dapur, Cantika melihat Andika yang berdiri, menatapnya dengan dingin. Namun, gadis itu memutuskan untuk mengabaikan tatapan suaminya dan melanjutkan langkahnya melewati Andika. Rasa kesal akibat sang suami tak mengenali dirinya masih membayangi hati Cantika.

  Andika mencengkram tangan Cantika dengan erat, tubuhnya bergelora kemarahan. "Kenapa kau malah melewatiku?" keluhnya seraya merasakan rasa nyeri di dalam dadanya.

  Disaat pelayan rendahan seperti Cantika tak menatapnya dan malah berpura-pura tidak melihat kehadirannya. 

  "Saya tidak melihat, Tuan. Jadi maafkan saya!" Cantika menjawab pelan sambil menundukkan kepala.

  Namun, Andika merasa kalau Cantika sedang berbohong, sehingga ia semakin kuat mencengkram tangan mungil gadis tersebut. 

  Wajah Andika memerah oleh kemarahan, "Kau berbohong kepadaku? Padahal aku adalah majikanmu, tetapi berani sekali kau!" 

  Cantika meringis, menahan rasa sakit yang dihasilkan dari cengkeraman tangan Andika. "Saya mohon, lepaskan saya, Tuan! Saya di sini hanya bekerja, bukan siapa-siapa!" 

  Ucapan Cantika membuat bibirnya menggigit, karena mengatakan hal yang menyakitkan bagi dirinya sendiri.

  "Maksudmu apa mengatakan kalau kau bukan siapa-siapa?" Kali ini suara Andika terdengar melunak, mata yang tadinya tajam berubah menjadi berkaca-kaca. Tak lagi meninggi seperti tadi.

  Cantika terperangah, matanya berkaca-kaca ketika merasa sang suami mengenalinya. Baru ingin menggumamkan kata-kata, namun Andika menarik lengannya untuk mendekat.

  "Kau ini pelayanku, jangan berani-berani membohongi tuanmu!" bentak Andika sambil menepis tangan Cantika kasar, lalu melangkah pergi dari tempat itu.

  Hatinya tercabik melihat punggung lebar suaminya menjauh, yang berkali-kali melukainya dengan perkataannya. 

  Cantika mengusap mata yang basah, menahan isak sambil menatapnya semakin menjauh. "Kenapa engkau melupakan istrimu, padahal kita pernah menghabiskan malam indah bersama!" gumamnya hampa.

  Dalam kebingungannya, Cantika bergegas menggenggam nampan berisi gelas kotor dan pergi ke dapur. Beruntung gelas itu tidak terjatuh, sebaliknya masih utuh meskipun hatinya hancur.

  Bulir-bulir bening menetes dari kedua sudut mata Cantika, namun dia seakan tak mempedulikannya. Ia terus mencuci gelas dan perabotan yang menumpuk di wastafel, lalu beralih membersihkan bagian lainnya. Cantika acuh saja bila ada yang melihat penampilannya sekarang. Air mata tetap saja menetes tak terbendung. Kemudian, tubuh Cantika seolah kehilangan tenaga, sampai lantai keramik yang dipijak terasa bergetar.

  Cantika pun terduduk lemas di sudut dapur, gemetaran tak terkendali. "Ayah, aku tak yakin bisa bertahan di sini! Suamiku sendiri bahkan tidak mengenali aku, istrinya sendiri," ujarnya hancur, sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.

  Airmata Cantika membasahi wajahnya yang pucat, memperlihatkan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit dari memar dan luka di tubuhnya hampir tak terasa, namun hatinya yang tak terluka justru merasakan penderitaan yang tak terhingga.

  Seorang diri, Cantika terdiam di sudut rumah besar yang semula milik istri pertama suaminya. Suaminya dan istri pertama terang-terangan berlaku tak adil padanya, membuat Cantika semakin merasa dirinya menyedihkan. Tiada seorang pun yang bersimpati kepadanya.

  "Sudahlah, tak ada gunanya terlalu bersedih. Semuanya malah akan membuatku semakin menderita kalau terlalu dipikirkan," gumam Cantika seraya bangkit dari kursi.

  Dalam upaya menenangkan hati, ia memutuskan untuk membasuh wajah dengan air. Menyegarkan, itu yang ia rasakan saat air membasahi wajahnya.

  "Hei, kau harus datang ke ruang tamu tadi! Aksi konyolmu tadi membuat tamuku menjadi marah, jadi kau harus bertanggung jawab menghibur mereka!" Kartika datang dengan tangan bersedekap di dada, menatap rendah kepada Cantika.

  Cantika terperanjat, tak mengerti apa yang harus ia lakukan. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan raut kebingungan. Seumur hidupnya, ia belum pernah mengalami situasi seperti ini, diminta untuk menghibur orang yang tak ia kenal.

  “Ya, kau tinggal lakukan apa yang mereka perintahkan. Itu saja tidak mengerti!” gerutu Kartika sambil menatap tajam wajah Cantika, matanya menerawang kesal.

  “Tidak melakukan yang aneh-aneh, kan?” Cantika menatap ragu kepada Kartika, entah kenapa jantungnya berdebar kencang saat berurusan dengan istri pertama sang suami.

  Kartika menghela napas berat, matanya menatap kosong ke arah jendela. “Kau pikir aku akan melakukan hal rendah seperti itu? Aku hanya menyuruhmu menghibur mereka dengan menuangkan anggur saja, tidak lebih! Kalau mereka melakukan sesuatu kepadamu, kau tinggal pergi saja dari sana!”

  Kartika meraih sebotol anggur di meja dan memberikannya pada Cantika, lalu berlalu pergi meninggalkan gadis muda tersebut dengan senyuman misterius yang membuat Cantika semakin gelisah.

  Cantika merapikan rambutnya yang tergerai, tak ingin membuat tamu sang suami menunggu lebih lama lagi. Senyuman pun diukir semanis mungkin di wajahnya, berharap mereka semua tak mengeluhkan layanan yang dirinya berikan. Dengan langkah anggun, Cantika melangkah menuju ruang tamu. Begitu memasuki ruangan, ia terkejut melihat tak ada satu pun orang di sana.

  Gadis itu mengerutkan keningnya sambil memandang heran ke arah ruang tamu yang kosong. "Loh, kok tamu-tamunya pada kemana, ya?" gumam Cantika bingung.

  Tiba-tiba, sebuah tangan menariknya ke dalam ruangan yang berada bersebelahan dengan ruang tamu. Kedua mata Cantika membulat terkejut. 

  "Di sini, Cantik. Kamu nyari kami di mana sih?" tanya seorang lelaki dengan senyum mesum mengembang di wajahnya, seolah menikmati raut kebingungan Cantika.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED