Bab 1

 "Kau harus memberikan aku keturunan dalam kurun waktu satu tahun. Kalau kau tidak bisa, maka akan dipastikan ayahmu tak akan mendapatkan perawatan lagi!" Lelaki tampan itu mencengkram rahang seorang gadis muda.

  Gadis itu meringis kesakitan dengan apa yang lelaki tersebut lakukan. "Kalau Anda menghentikan perawatan kepada ayah saya, maka ayah saya tidak akan bertahan!"

  "Ya, memang benar ayahmu tidak akan bertahan. Untuk itu, kau harus secepat mungkin memberikan aku keturunan atau ayahmu akan mati." Lelaki itu mendorong gadis muda tersebut sehingga jatuh ke lantai. Lantas keluar dari kamar pengantin yang sudah dipersiapkan. 

  Seharusnya ini malam membahagiakan, tetapi justru menjadi sebuah neraka bagi gadis muda yang bernama Cantika Putri Sari.

  “Ya, Tuhan ….” Lirih gadis itu meringis ketika merasakan perih pada telapak tangannya. 

  Belum lagi gaun pengantin yang dirancang oleh desainer ternama itu harus robek oleh perbuatan sang suami, yang baru saja menikahinya dalam hitungan jam.

  Rahangnya pun terasa sakit, bahkan tubuhnya sangat nyeri. Namun, Cantika harus menahan semua itu demi kesembuhan sang ayah, yang sekarang terbaring di rumah sakit akibat orang tak bertanggung jawab.

  "Aku harus bertahan bagaimana pun caranya! Ayah mungkin tidak akan selamat jika aku menyerah di dalam pernikahan ini." Cantika meringkuk di sudut ruangan, meremas kedua tangan. Seolah memberi kekuatan pada diri sendiri. 

  Bahkan riasan di wajahnya pun belum dibersihkan, lantaran tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar beranjak ke kamar mandi. 

  "Kenapa kau masih meringkuk di bawah sana? Apa kau tidak ingin membersihkan tubuhmu yang kotor?” tanya Andika penuh penekanan. 

  Cantika tergugu, menggigit bibir bawah kuat-kuat tatkala melihat sosok yang mendekat ke arahnya. Aura dingin lelaki itu mampu membuatnya menggigil ketakutan.

  "Sa–saya pikir Anda tidak kembali lagi ke sini," jawab Cantika gugup. 

  "Cepat bersihkan dirimu, lalu layani aku. Dalam 10 menit kau harus selesai, dan jangan lupa kenakan ini,” titah Andika seraya melempar kasar gaun tidur itu tepat di wajah Cantika. 

  Gadis itu tersentak, lalu dengan cepat mengangguk kuat. 

  “Satu lagi, panggil aku, Tuan. Karena seorang sepertimu tak pantas menyebut nama aku,” perintah lelaki itu dingin. 

  "Baik, saya akan mengingatnya, Tuan." Cantika memeluk gaun tidur itu dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

  Setelah selesai membersihkan diri, dia mematut kembali penampilannya. Mata cantik itu terlihat berkaca-kaca melihat gaun yang dikenakan. 

  Dia malu, sangat malu. Walau akan mengenakannya di depan suami sendiri. 

  "Mengapa lama sekali di dalam sana? Aku tak suka menunggu!" Andika berkata lantang, sehingga membuat Cantika yang berada di dalam sana gelagapan.

  Cantika gelisah, lantaran sangat malu dengan gaun tidur yang dikenakan.

  “Baik, jika kau tak mau keluar. Maka jangan salahkan aku jika hukumanmu akan berlipat-lipat nantinya.” 

  Terdengar pintu ditutup dengan kasar, sehingga Cantika tahu kalau sang suami sudah keluar dari kamar pengantin mereka.

  Tepatnya bukan suami, tetapi seseorang yang sudah membeli dirinya dengan harga tinggi.

  Setelah 20 menit berada di dalam kamar mandi, Cantika memilih masuk ke dalam kamar karena tidak mendengar tanda-tanda Andika kembali. Gadis itu merasa sangat kedinginan berada di dalam sana. Jadi, memilih masuk ke dalam selimut. Lantas memejamkan mata setelah mematikan lampu. 

  Akan tetapi, sekitar satu jam setelah Cantika memejamkan mata. Dia merasa ada seseorang yang menindihnya sehingga gadis itu terbangun dan tersentak. 

  "Ka–kau siapa? Jangan mendekat!" teriak Cantika ketakutan. Kamar yang gelap gulita itu semakin membuatnya panik. 

  “Diam, kau sendiri yang memilih seperti ini!” Lelaki itu tertawa serak. “Kartika, kau sangat cantik, Sayang.” 

  Cantika menangis keras, ternyata lelaki yang berada di atas tubuhnya adalah Andika—suaminya sendiri. ”Tuan Andika! Saya bukan Kartika!” Dia memalingkan wajah dengan air mata mengalir deras, bau anggur menyeruak dari mulut Andika. Entah berapa botol yang lelaki itu teguk. 

  Tubuh Andika menegang, rahangnya mengetat dengan mata menyorot tajam. “Berani-beraninya kau menyebut nama wanita yang aku cintai, sekarang rasakan hukumanmu gadis nakal!” 

  Cantika menggeleng panik, dia memberontak sekuat tenaga. Andika mengumpat keras ketika kaki gadis itu menendang dadanya. 

  Cantika yang melihat kesempatan untuk kabur langsung saja bangkit dari kasur. Namun, langkahnya terhenti ketika Andika sudah membanting kembali tubuhnya ke kasur. 

  Tubuh tegap berotot itu menjulang, menunjukkan jika dirinya begitu berkuasa. “Sudah cukup main-mainnya.” Lelaki itu berbisik serak, mengabaikan tangis Cantika yang menyayat hati. “Jadi, mari habiskan malam ini, dan lahirkan keturunan untukku.”

Tubuh Cantika menggigil, tak sanggup menahan rasa sakit yang menyayat bagian bawahnya.

  "Ugh, Tuan! Pe-pelan-pelan, sakit!" jerit gadis muda itu. Namun lelaki bertubuh besar itu,

  Andika, seakan tak peduli pada gadis kecil yang terus menderita. Mata Andika terpancar keganasan saat ia terus memacu kekuatannya, tak peduli bahwa Cantika merasa kesakitan. Ia menemui puncak kepuasan seorang diri, sementara Cantika hanya bisa menangis, air mata tak henti-hentinya mengalir. Tampak jelas perbedaan kekuatan di antara keduanya.

  Setelah selesai, Andika menatap noda merah yang membasahi seprai putih dengan tatapan puas, seringai muncul di sudut bibirnya. "Ternyata kau masih perawan. Baguslah, aku jadi tidak terlalu rugi mengeluarkan banyak uang!"

  Tubuh mungil Cantika tak sanggup bertahan atas perlakuan kasar dari Andika, kesakitan dan ketakutannya semakin nyata. Di dalam hati Cantika merasa hancur, memar kebiruan menghiasi tubuhnya akibat cengkraman tangan besar sang suami. Namun, kekuatan untuk melawan sudah tidak ada lagi di sisi Cantika.

  Lelaki itu acuh tak acuh terhadap keberadaan gadis kecil di dekatnya, terlebih malah memutuskan untuk berbaring dan segera tidur. Cantika menahan isak tangis, namun tampaknya Andika tidak peduli, tetap saja memejamkan mata dan tak lama kemudian terdengar dengkuran.

  Cantika kemudian berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi, merasa sangat kotor. Dalam hatinya merasa sangat hancur, tangisnya semakin keras. Ia menyalakan shower dengan air dingin dan terus menangis tersedu-sedu di sana.

  "Aku kotor, jijik!" keluh Cantika seraya memukul-mukul tubuhnya, tak peduli rasa sakit yang semakin menjadi.

  Di bawah derasnya guyuran air, gadis itu tak mampu menyembunyikan tangisannya, bahkan tak mempedulikan apakah ada seseorang yang akan terganggu. Hanya ingin mengungkapkan segala emosi yang dirasakan.

  Setelah menghembuskan nafas panjang, meluapkan emosi yang menggebu-gebu, gadis itu lantas memutuskan untuk mengenakan jubah mandi. Langkahnya yang lesu dan tatapan kosong membawanya menuju kasur besar yang terasa sepi. Meski ada seseorang terlelap di atasnya, Cantika merasa seolah-olah ia sendiri di sana.

  Kasur yang sejatinya empuk dan luas, kini terasa begitu keras dan sempit. Sungguh menjengkelkan, membayangkan dirinya menghabiskan hari-hari dalam rumah ini untuk waktu yang tak bisa diperkirakan. Mungkin beberapa hari, bulan, atau bahkan tahun. Cantika menghela nafas, menguatkan tekadnya.

  "Aku harus segera memiliki anak, supaya cepat bebas dari tempat ini," gumam Cantika seraya meremas selimut yang menutupi tubuhnya dengan penuh kegelisahan.

  **

  "Heh, bangun!" Seorang perempuan tiba-tiba menyentak kasar selimut yang melindungi tubuh Cantika.

  Gadis itu sontak terkejut, sehingga terjatuh dari ranjang tinggi yang ia tiduri. "Ugh, kenapa harus kasar begini sih?" keluh Cantika kesakitan sambil memegangi bokong yang terasa nyeri akibat jatuh.

  Perempuan itu berdecak, menyeringai sinis sambil menatap Cantika dengan penuh keangkuhan.

  "Memang kau kira kau siapa di sini? Kau hanya boneka yang dibeli dengan uang banyak, jadi kau harus membuat dirimu berguna dengan tidak bermalas-malasan!" teriak perempuan itu, melampiaskan amarahnya tanpa memedulikan perasaan Cantika yang sedang terluka.

  Gadis itu mendongak, mencoba menatap wajah perempuan yang berdiri di hadapannya dengan penuh ketidakpercayaan. 

  "Kartika?" ucap Cantika dengan seraut wajah bingung, merasa tidak mengenal sosok yang begitu kejam di depannya.

  "Jangan berani-berani menyebut namaku, karena aku adalah orang yang telah menyelamatkan ayahmu yang renta itu dari tekanan hidup!" bentak Kartika, kemarahan makin meluap. Ia menarik rambut Cantika dengan kuat, menyiksa gadis itu

  "Lepas, sakit!" erang Cantika, mencoba melepaskan rambutnya dari cengkraman tangan perempuan tersebut.

  Dengan kasar, Kartika melepaskan tangannya, menyebabkan beberapa helai rambut Cantika tertarik hingga rasa sakit di kulit kepalanya pun tak tertahankan.

  Gadis itu meringis sambil menggenggam kepalanya, sedangkan Kartika bangga berdiri di hadapannya, matanya menatap sinis ke arah Cantika. 

  "Cepat pergi ke bawah! Kerjakan semua yang pelayan lain kerjakan, dan jangan berharap bisa menjadi nyonya di rumah ini. Akulah yang nyonya, sedangkan kau hanya seseorang yang dibeli!" ucap Kartika beringas, sebelum melongos pergi dan melemparkan seragam pelayan ke arah Cantika.

  Dengan rasa perih dan sakit yang menyelimuti tubuhnya, Cantika mengumpulkan kekuatan untuk mengambil seragam pelayan yang tergeletak di lantai. Setelah itu, ia melangkah gontai menuju kamar mandi, berharap membersihkan diri dapat membuatnya merasa sedikit lebih baik.

  Gadis itu meringis kesakitan saat tangannya menggosok bagian tubuh yang terluka. Ia mencoba menahan rasa sakit, namun detik itu juga gedoran di pintu terdengar semakin kuat. 

  "Jangan terlalu lama mandi! Kalau kau lama, banyak air yang terbuang dari sana semakin banyak uang yang habis karenamu!" gerutu Kartika dari luar. 

  Dengan terkejut, gadis itu mendengar suara pintu dibanting keras yang terdengar nyaring. Ia merasa terintimidasi, membuatnya memutuskan untuk segera menyudahi acara mandinya.

  Langkahnya tertatih-tatih, berjalan pelan mengambil pakaian pelayan yang teronggok di atas kasur. Wajah gadis tersebut menjadi sangat pucat sekali melihat pakaian pelayan yang diberikan Kartika.

  "Apa-apaan pakaian ini?" tanya Cantika dengan suara meninggi, seakan menantang keputusan Kartika.

  Tangannya gemetar saat menggenggam pakaian tersebut, mencoba menahan amarah yang menyala dalam hatinya.

  Brak!

  Kartika berjalan masuk kembali ke dalam kamar dengan wajah dingin, matanya mendelik penuh kesal.

  "Sangat lama sekali, sehingga membuatku menjadi sangat lelah menunggumu!" gerutu Kartika sambil melemparkan pandangan tajam ke arah Cantika.

  Gadis tersebut menunjukkan pakaian pelayan yang diberikan kepadanya, wajahnya murung dan pipinya memerah. Tangannya gemetar dan bibirnya bergetar saat berkata, "Pakaiannya terlalu seksi, saya tidak bisa mengenakannya," tolak Cantika lirih.

  Perempuan itu mengusap wajahnya kasar, terlihat sangat tidak suka sekali kepada gadis tersebut.

  "Terus kau mau mengenakan pakaian apa?" tanya Kartika ketus, menggertakkan giginya.

  Cantika meneguk ludahnya beberapa kali, sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan keinginannya. 

  "Saya tidak ingin pakaian terlalu seksi seperti ini. Apakah tidak ada pakaian yang lain?" tanya Cantika dengan pelan, memalingkan wajahnya karena takut akan reaksi Kartika.

  Kartika tak bisa menahan rasa kesal saat mendengar pertanyaan Cantika. "Kau pikir kau bisa meminta apa pun dariku?" katanya, penuh sinisme. "padahal kau hanyalah seorang yang dibeli. Bersyukurlah dengan apa yang diberikan, jangan mengeluh!"

  Perempuan itu kemudian melepaskan jubah mandi yang dikenakan Cantika, meninggalkan tubuh gadis itu hanya tertutup oleh pakaian dalam. Cantika merasa panik, mundur beberapa langkah, wajahnya memucat dan kebingungan akan sikap perempuan di depannya.

  Tak mampu menahan perasaan malu, Cantika menggunakan kedua tangannya untuk menutupi bagian tubuh yang terlihat. Rasa malu menyeruak, membuatnya ingin segera menghilang dari situ, tapi sadar bahwa tidak mungkin ia bisa melakukannya.

  "Tolong, jangan lakukan ini!" rayu Cantika, dengan tangannya masih mencoba menutupi tubuhnya yang terbuka.

Bab 2

Perempuan itu tidak mempedulikan permohonan dari gadis tersebut, Kartika terus berusaha menarik Cantika untuk mendekat kepadanya.

  Karena tubuh gadis itu kecil tentu saja dia kalah dengan tenaga perempuan tersebut, sehingga memilih pasrah apa pun yang akan dilakukan oleh Kartika kepadanya.

  Cantika memejamkan mata dengan jantung yang berdebar kencang, perasaannya menjadi tidak menentu membayangkan apa yang akan perempuan tersebut lakukan.

  Kening perempuan itu mengerut menatap gadis yang berada di depannya, sehingga membuat ia menyentak tangan Cantika dengan kasar.

  "Sudah selesai, cepat kau keluar sekarang kerjakan semua pekerjaanmu! Aku tidak ingin kalau ada sedikit pun debu yang menempel di rumahku ini, camkan itu!" gertak Kartika dengan wajah merah padam.

  Gadis itu berjalan keluar dengan tertatih-tatih, terlihat sulit sekali melangkahkan kakinya. Membuat Kartika menjadi mencebik, lantaran cemburu.

  "Bilangnya tidak suka, tapi setiap tubuhnya penuh dengan tanda merah!" gerutu Kartika dengan bibir terus cemberut.

  Sekarang Cantika sangat kesulitan sekali untuk berjalan turun dari tangga. Setiap beberapa anak tangga, ia memilih berhenti sejenak.

  "Sakit sekali!" ringis Cantika dengan tangan memegang pangkal pahanya.

  Namun, tetap saja memilih melangkahkan kaki. Karena sadar diri akan siapa dirinya, seseorang yang dibeli dengan harga mahal.

  Andika ingin menaiki tangga menjadi terhenti, tatkala mata elangnya menangkap seorang gadis meringis di salah satu anak tangga.

  Lantas lelaki itu segera naik ke tangga, tampak beberapa kerutan di dahi mengingat-ingat tentang siapa gadis tersebut.

  "Siapa kau? Baru pertama kali aku melihatmu di sini," tanya Andika kebingungan.

  Hati gadis itu terasa sangat perih, bak tertusuk sebuah pisau yang amat tajam mendengar suaminya sendiri tidak mengenalinya.

  "Sa-saya adalah pelayan baru," ucap Cantika dengan menggigit bibir bawahnya.

  "Kenapa dengan kakimu itu? Kalau kau sakit, jangan bekerja. Nanti malah akan mengganggu pelayan lain!" tegur Andika dengan wajah dinginnya.

  Cantika menundukkan kepala, tidak berani menatap sang suami. "Saya berusaha tidak akan merepotkan pelayan atau Anda, Tuan," ucapnya dengan terbata-bata.

  Andika menelisik penampilan Cantika sekarang, matanya tampak awas. "Kalau kau berkata seperti itu, aku tak bisa memaksamu. Lagi pula kau sendiri yang akan kesakitan kalau terus memaksa diri." Lelaki itu segera naik ke atas tangga tanpa memandang ke arah belakang lagi.

  Satu tetes bulir bening jatuh dari kedua sudut mata Cantika, ia menatap nanar kepada suaminya tersebut. "Padahal kita sudah melewati malam bersama, tapi kau malah tidak mengenali istrimu ini." Gadis itu meremas ujung roknya dengan kuat.

  Merasa tidak ada gunanya menangisi lelaki yang adalah suaminya tersebut, memilih untuk segera turun ke bawah. Mulut mungil itu, terus meringis kesakitan lantaran Andika melakukan malam pertama mereka dengan kasar. Tak memikirkan bagaimana perasaan gadis itu sama sekali.

  Cantika sekarang mengelap vas besar yang menjadi hiasan di setiap sudut rumah megah tersebut. Tangannya gemetar dengan bibir yang sudah semakin pucat, lantaran tidak kuat untuk terus memaksakan diri.

  Saat Cantika melangkahkan kaki, merasa bumi sedang berputar sehingga kesulitan untuk berpijak. Tangan mungil itu pun menggapai apa pun yang bisa digapai untuk menahan tubuh supaya tidak jatuh.

  Kartika melihat itu membuatnya semakin kesal, lantas mendekati Cantika. "Hei, pelayan baru!" panggilnya.

  Dengan sisa-sisa tenaga Cantika menoleh, menatap istri pertama dari suaminya. "Ada apa?" tanyanya dengan lirih.

  "Cepat buatkan lima gelas kopi hitam dan antarkan ke ruang tamu. Ingat, jangan melakukan kesalahan, karena yang datang adalah tamu penting!" ancam Kartika dengan menunjuk wajah Cantika penuh amarah.

  "B-baik," jawab Cantika segera berlalu pergi.

  Kartika mendengus kesal menatap Cantika, perasaan cemburu dirasakan setiap kali menatap gadis tersebut membuatnya tak bisa mengendalikan diri untuk tidak mengganggu istri muda sang suami.

  Dengan angkuh berjalan menuju ke arah depan, tanpa mempedulikan madu yang tertatih-tatih berjalan ke arah salah. Lantaran Cantika tidak tahu di mana letak dapur.

  Cantika merasa asing dengan rumah yang sekarang menjadi tempat tinggal ke depannya. Matanya terus melirik kesana-kemari, mencari keberadaan seseorang untuk ditanyai letak dapur ada di mana. Nihil, tak ada satu pun orang lewat di sana. Sehingga memilih untuk berjalan lurus ke depan.

  "Kenapa tidak ada satu pun orang yang terlihat di rumah sebesar ini? Jangan bilang hanya aku yang jadi pelayan di sini?" Cantika merasa frustasi tak menemukan dapur yang sedari tadi dicari.

  Rasa lelah, sekaligus haus dan sakit bercampur aduk. Ingin mengistirahatkan diri, dengan duduk sebentar tetapi khawatir kalau Kartika akan memarahinya.

  "Ayo berjalan sedikit lagi, pasti aku akan menemukan di mana dapurnya!" Cantika mengepalkan tangan di udara, menguatkan dirinya sendiri.

  Perlahan namun, pasti, ia menemukan dapur yang sejak tadi dicari. Mata gadis tersebut langsung berkaca-kaca, merasa sangat senang.

  Tangan pun membuka satu-persatu lemari yang berada di sana, mencari keberadaan gula dan kopi. Saat sudah dapat, dengan cepat langsung membuatkan lima gelas kopi hitam.

  Gadis tersebut segera menaruh semua gelas di atas nampan. "Sekarang aku harus mengantarkannya dengan cepat," ucap Cantika.

  Langkahnya kali ini dipercepat, walau di antara kedua paha terasa semakin sakit. Namun, tak mungkin berlama-lama mengantarkan minuman ini.

  Wajah Cantika terus mengerut lantaran menahan rasa sakit, tetapi dengan cepat mengubahnya kembali. Tidak ingin ada seseorang yang melihat dirinya.

  Saat ingin sampai di ruang tamu, ia mulai memelankan langkah. Di sana Cantika melihat suaminya dirangkul oleh seorang perempuan . Mereka terlihat sangat mesra sekali, sehingga membuat sedikit rasa cemburu di dalam hati.

  Karena rasa cemburu, tanpa sadar gelas menjadi ingin terjatuh, menimbulkan suara dentingan membuat semua orang menatap ke arahnya.

  Kartika tersenyum menyeringai, lalu semakin erat merangkul Andika. Mengatakan kalau lelaki itu adalah miliknya. "Seharusnya kau kemari, bukan malah cuma diam di sana!" panggilnya.

  "Maafkan saya." Cantika menundukkan kepala, menahan bulir bening yang ingin jatuh dari kedua sudut matanya.

  Langkah kakinya semakin cepat sambil beberapa kali menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan suara kalau sedang kesakitan.

  Satu-persatu gelas ditaruh tempat di depan para tamu, sekarang tinggal Kartika dan Andika saja belum mendapatkan minuman mereka.

  Cantika merasa ragu untuk mendekat, tetapi perempuan itu memanggil supaya ia mempercepat pekerjaannya. Gadis tersebut memilih menundukkan kepala, menahan rasa sesak di dada, sehingga tak sadar kalau ada satu kaki mencegat langkahnya.

  Gadis tersebut menjadi tersandung, membuat gelas berisi kopi panas itu menjadi tumpah ke celana Andika. Membuat wajah Cantika menjadi menegang dengan keringat dingin membanjiri kening.

  Tanpa sadar tangan Cantika lekas meraih tisu yang berada di meja untuk membersihkan bekas tumpahan kopi itu. "Maafkan saya! Saya tidak sengaja melakukannya, Tuan!" ucapnya panik.

Bab 3

“Apa kau tidak bisa melakukannya dengan perlahan saja?” Rahang Andika mengeras, matanya terbelalak dan pipinya memerah akibat rasa malu yang menyelimuti dirinya.

  Pakaian mahalnya kini bernoda kopi panas yang tumpah akibat ketidakhati-hatian pelayan baru, Cantika. 

  “Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja karena ada sesuatu yang membuat saya terjatuh,” ucap Cantika lirih, sambil melirik sekilas ke arah Kartika.

  “Kenapa kau menatapku seperti itu?" ujar Kartika, mendelik penuh amarah. Alisnya menyatu, dan bola matanya memancarkan api kemarahan. "seorang pelayan rendahan beraninya menatap nyonya rumah sepertiku! Apa kau ingin menuduhku melakukan hal hina seperti itu?” Wajahnya merah padam sekaligus merasa bersalah karena di sini, salahnya sendiri yang menyebabkan kesalahan.

  Cantika menundukkan kepala, menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosi yang memuncak, merasa ditekan oleh tatapan tajam suaminya yang membuatnya ingin menangis. “Saya tidak bermaksud menuduh Anda, hanya saja kaki saya memang tersandung sesuatu hingga jatuh.”

  Andika, yang saat itu duduk di kursi ruang tamu, bangkit dengan geram dan menatap gadis itu dengan tatapan merendahkan. Ekspresi wajahnya menyiratkan betapa kecewanya pada Cantika. 

  “Seharusnya kalau kau tidak bisa bekerja hari ini, jangan memaksakan diri!” ucap Andika dengan nada sinis, lalu pergi dari sana tanpa menoleh, meninggalkan Cantika dalam keadaan terpuruk, sambil memperhatikan langkah kakinya yang semakin jauh.

  Kartika yang melihat suaminya pergi tanpa mengatakan apa pun, melirik Cantika dengan sinis. Lalu beralih kepada tamu yang ditinggalkan, sehingga sekarang perempuan tersebut sibuk menenangkan tamunya.

  Cantika melihat ini sebagai kesempatan untuk merapikan kekacauan yang telah ia buat. Dengan perlahan, ia mengelap tumpahan kopi di lantai dan meja. Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, gadis itu bergerak lincah. Sesekali, ia meremas pahanya, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara. Bekas kuku di pahanya tidak mempengaruhi semangatnya. Nampan di tangannya bergoyang saat Cantika berusaha berdiri dari posisi jongkok. Suara dentingan gelas terdengar, membuat Kartika menatapnya dengan tajam.

  "Maafkan saya," kata Cantika sambil membungkukkan tubuh, kemudian pergi menuju dapur.

  Di dapur, Cantika melihat Andika yang berdiri, menatapnya dengan dingin. Namun, gadis itu memutuskan untuk mengabaikan tatapan suaminya dan melanjutkan langkahnya melewati Andika. Rasa kesal akibat sang suami tak mengenali dirinya masih membayangi hati Cantika.

  Andika mencengkram tangan Cantika dengan erat, tubuhnya bergelora kemarahan. "Kenapa kau malah melewatiku?" keluhnya seraya merasakan rasa nyeri di dalam dadanya.

  Disaat pelayan rendahan seperti Cantika tak menatapnya dan malah berpura-pura tidak melihat kehadirannya. 

  "Saya tidak melihat, Tuan. Jadi maafkan saya!" Cantika menjawab pelan sambil menundukkan kepala.

  Namun, Andika merasa kalau Cantika sedang berbohong, sehingga ia semakin kuat mencengkram tangan mungil gadis tersebut. 

  Wajah Andika memerah oleh kemarahan, "Kau berbohong kepadaku? Padahal aku adalah majikanmu, tetapi berani sekali kau!" 

  Cantika meringis, menahan rasa sakit yang dihasilkan dari cengkeraman tangan Andika. "Saya mohon, lepaskan saya, Tuan! Saya di sini hanya bekerja, bukan siapa-siapa!" 

  Ucapan Cantika membuat bibirnya menggigit, karena mengatakan hal yang menyakitkan bagi dirinya sendiri.

  "Maksudmu apa mengatakan kalau kau bukan siapa-siapa?" Kali ini suara Andika terdengar melunak, mata yang tadinya tajam berubah menjadi berkaca-kaca. Tak lagi meninggi seperti tadi.

  Cantika terperangah, matanya berkaca-kaca ketika merasa sang suami mengenalinya. Baru ingin menggumamkan kata-kata, namun Andika menarik lengannya untuk mendekat.

  "Kau ini pelayanku, jangan berani-berani membohongi tuanmu!" bentak Andika sambil menepis tangan Cantika kasar, lalu melangkah pergi dari tempat itu.

  Hatinya tercabik melihat punggung lebar suaminya menjauh, yang berkali-kali melukainya dengan perkataannya. 

  Cantika mengusap mata yang basah, menahan isak sambil menatapnya semakin menjauh. "Kenapa engkau melupakan istrimu, padahal kita pernah menghabiskan malam indah bersama!" gumamnya hampa.

  Dalam kebingungannya, Cantika bergegas menggenggam nampan berisi gelas kotor dan pergi ke dapur. Beruntung gelas itu tidak terjatuh, sebaliknya masih utuh meskipun hatinya hancur.

  Bulir-bulir bening menetes dari kedua sudut mata Cantika, namun dia seakan tak mempedulikannya. Ia terus mencuci gelas dan perabotan yang menumpuk di wastafel, lalu beralih membersihkan bagian lainnya. Cantika acuh saja bila ada yang melihat penampilannya sekarang. Air mata tetap saja menetes tak terbendung. Kemudian, tubuh Cantika seolah kehilangan tenaga, sampai lantai keramik yang dipijak terasa bergetar.

  Cantika pun terduduk lemas di sudut dapur, gemetaran tak terkendali. "Ayah, aku tak yakin bisa bertahan di sini! Suamiku sendiri bahkan tidak mengenali aku, istrinya sendiri," ujarnya hancur, sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.

  Airmata Cantika membasahi wajahnya yang pucat, memperlihatkan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit dari memar dan luka di tubuhnya hampir tak terasa, namun hatinya yang tak terluka justru merasakan penderitaan yang tak terhingga.

  Seorang diri, Cantika terdiam di sudut rumah besar yang semula milik istri pertama suaminya. Suaminya dan istri pertama terang-terangan berlaku tak adil padanya, membuat Cantika semakin merasa dirinya menyedihkan. Tiada seorang pun yang bersimpati kepadanya.

  "Sudahlah, tak ada gunanya terlalu bersedih. Semuanya malah akan membuatku semakin menderita kalau terlalu dipikirkan," gumam Cantika seraya bangkit dari kursi.

  Dalam upaya menenangkan hati, ia memutuskan untuk membasuh wajah dengan air. Menyegarkan, itu yang ia rasakan saat air membasahi wajahnya.

  "Hei, kau harus datang ke ruang tamu tadi! Aksi konyolmu tadi membuat tamuku menjadi marah, jadi kau harus bertanggung jawab menghibur mereka!" Kartika datang dengan tangan bersedekap di dada, menatap rendah kepada Cantika.

  Cantika terperanjat, tak mengerti apa yang harus ia lakukan. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan raut kebingungan. Seumur hidupnya, ia belum pernah mengalami situasi seperti ini, diminta untuk menghibur orang yang tak ia kenal.

  “Ya, kau tinggal lakukan apa yang mereka perintahkan. Itu saja tidak mengerti!” gerutu Kartika sambil menatap tajam wajah Cantika, matanya menerawang kesal.

  “Tidak melakukan yang aneh-aneh, kan?” Cantika menatap ragu kepada Kartika, entah kenapa jantungnya berdebar kencang saat berurusan dengan istri pertama sang suami.

  Kartika menghela napas berat, matanya menatap kosong ke arah jendela. “Kau pikir aku akan melakukan hal rendah seperti itu? Aku hanya menyuruhmu menghibur mereka dengan menuangkan anggur saja, tidak lebih! Kalau mereka melakukan sesuatu kepadamu, kau tinggal pergi saja dari sana!”

  Kartika meraih sebotol anggur di meja dan memberikannya pada Cantika, lalu berlalu pergi meninggalkan gadis muda tersebut dengan senyuman misterius yang membuat Cantika semakin gelisah.

  Cantika merapikan rambutnya yang tergerai, tak ingin membuat tamu sang suami menunggu lebih lama lagi. Senyuman pun diukir semanis mungkin di wajahnya, berharap mereka semua tak mengeluhkan layanan yang dirinya berikan. Dengan langkah anggun, Cantika melangkah menuju ruang tamu. Begitu memasuki ruangan, ia terkejut melihat tak ada satu pun orang di sana.

  Gadis itu mengerutkan keningnya sambil memandang heran ke arah ruang tamu yang kosong. "Loh, kok tamu-tamunya pada kemana, ya?" gumam Cantika bingung.

  Tiba-tiba, sebuah tangan menariknya ke dalam ruangan yang berada bersebelahan dengan ruang tamu. Kedua mata Cantika membulat terkejut. 

  "Di sini, Cantik. Kamu nyari kami di mana sih?" tanya seorang lelaki dengan senyum mesum mengembang di wajahnya, seolah menikmati raut kebingungan Cantika.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED