Di sebuah gereja yang megah, pernikahan antara keluarga Cameron dan keluarga Brantley sedang dipersiapkan dengan sempurna. Dekorasi megah menghiasi setiap sudut ruangan, dengan rangkaian bunga putih, menciptakan suasana yang elegan dan romantis. Para tamu undangan yang datang dari berbagai penjuru tampak antusias, mengenakan pakaian terbaik mereka dan bersiap untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
"Anna, apa kamu dengar rumor soal putra keluarga Cameron?" tanya seorang wanita bernama Kathy.
Wanita dengan rambut pirang itu menganggukkan kepalanya. "Ya, aku sudah mendengarnya. Bahkan ini sudah menjadi rahasia umum jika putra keluarga Cameron terlihat tua dan buruk rupa."
"Aku heran bagaimana bisa keluarga Brantley mau saja memberikan putri sulungnya untuk menikah dengan pria seperti itu." Kathy berkomentar kembali.
Anna mendengus sinis. "Aku yakin pasti karena uang. Karena keluarga Cameron sangatlah kaya. Sehingga mereka tidak peduli harus menjual putrinya."
Kedua wanita itu hanya tertawa sinis karena menggosipkan kedua keluarga yang menjadi tuan rumah dalam acara itu.
Di sudut aula, para pekerja sibuk menyelesaikan sentuhan terakhir. Beberapa di antaranya menata kursi, sementara yang lain memastikan bunga-bunga tetap segar. Suara musik lembut terdengar dari arah panggung, menambah keanggunan suasana. Namun keadaan ini berbanding terbalik dengan keadaan di kamar pengantin wanita.
"Evangeline hilang!" Teriakan itu datang dari Penelope, ibu dari mempelai wanita, yang keluar dengan wajah pucat.
Dua orang yang bertugas sebagai penata rias pun tampak ketakutan tapi kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Bahkan salah satu wanita menyerahkan selembar kertas kecil yang merupakan surat yang sengaja ditinggalkan oleh Evangeline.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Untuk Dad dan Mom
Maafkan aku! Karena aku tidak bisa menikah dengan pria yang kabarnya sudah tua dan sangat buruk rupa.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Seketika tubuh Penelope lemas karena mengenali tulisan putrinya. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Tampak George Branley melangkah masuk.
"Penelope, Apa maksudmu dia hilang?" tanya George.
Penelope, dengan napas tersengal, menjawab, "Evangeline benar-benar kabur. Dia hanya meninggalkan surat kecil ini. Aku sedang menyuruh orang untuk mencarinya. Kamu lihat sendiri, Suamiku. Gaun pengantinnya masih ada di sana, tapi dia tidak ada di kamarnya."
George mengusap rambutnya dengan gusar. "Sial! Apa yang harus kita lakukan? Kita harus segera menemukan Evangeline. Pernikahan ini harus tetap berjalan. Kalau tidak kita akan tamat, Penelope."
Penelope, menghampiri suaminya yang tampak sangat tertekan. Dia menyentuh bahu George dengan lembut membuat pria itu menoleh ke arah istrinya.
"George, ada apa?" tanya Penelope dengan suara lembut tapi penuh kekhawatiran.
George menatap istrinya dengan mata yang penuh kecemasan. Terlihat jelas ketakutan membayangi mata pria itu.
"Penelope, ini buruk sekali. Putri kita menghilang. Jika kita tidak menemukannya, kehidupan kita akan hancur," katanya dengan suara yang bergetar.
Penelope terkejut mendengar kabar itu. "Apa maksudmu? Apa hubungannya Evangeline menghilang dengan kehidupan kita yang hancur? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku, George? Katakan padaku!"
George menelan ludah, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya. "Orang yang akan menikah dengan Evangeline adalah orang yang sangat berkuasa, Penelope. Meskipun dia tidak seperti yang kita harapkan secara fisik, tapi dia memegang kendali atas kekayaan dan kekuasaan yang sangat besar."
Penelope mengernyit. "Tapi apa hubungannya dengan kita? Kenapa kau begitu panik, George?"
George menggenggam tangan Penelope erat-erat. "Penelope, pernikahan ini bukan hanya tentang cinta atau kehormatan keluarga. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara kita untuk melunasi utang bisnis sebesar 100 juta dolar. Tanpa pernikahan ini, kita akan kehilangan segalanya. Kita akan bangkrut."
Mata Penelope melebar saat mendengar jumlah utang yang fantastis itu. "100 juta dolar? George, mengapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya?"
George menggelengkan kepala dengan putus asa. "Aku tidak ingin kau khawatir. Aku berpikir aku bisa mengatasi ini sendiri. Namun sekarang, Evangeline hilang, dan semua rencana kita bisa hancur berantakan."
Penelope menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan suaminya. "Kita harus menemukannya, George. Kita harus mengerahkan semua orang untuk mencarinya. Jangan panik, kita masih punya waktu."
George mengangguk, meski hatinya masih diliputi ketakutan. "Kau benar. Kita harus tetap tenang dan fokus. Aku akan meminta semua orang untuk membantu mencari Evangeline. Kita tidak boleh gagal."
Dengan semangat baru, George dan Penelope mulai bergerak, mengorganisir pencarian besar-besaran untuk menemukan Evangeline. Mereka tahu bahwa nasib mereka bergantung pada keberhasilan pernikahan ini.
Di tengah kekacauan, Hailey Brantley baru saja masuk ke kamar pengantin. Ia belum sempat menyapa orang tuanya tapi tiba-tiba saja Penelope menghampirinya dengan ekspresi tegang.
"Hailey, kamu harus membantu kami!" panggil Penelope dengan suara penuh kecemasan.
Hailey bingung melihat ibunya. "Ada apa, Mom? Kenapa kamu tampak panik? Dan aku harus membantu apa?"
Penelope menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum menjelaskan. "Tadi Evangeline menghilang. Kami tidak bisa menemukannya di mana pun. Karena acara pernikahan ini sangat penting dan harus tetap berjalan, karena itu kau harus segera memakai gaun pengantinnya dan bersiap untuk menggantikan kakakmu menikah."
Hailey terkejut. "Apa? Aku menikah? Namun, Mom, aku tidak tahu apa-apa tentang ini! Kenapa aku harus menggantikannya?"
Penelope meremas tangan Hailey dengan kuat. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya sekarang. Kau harus melakukannya, Hailey. Jika tidak, kita semua akan hancur. Kau harus menggantikannya dan menikah dengan Mathias Cameron."
Hailey merasa kepanikan mulai menjalar di tubuhnya. "Tapi, Mom, ini gila! Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai, yang bahkan bukan tunanganku!"
Penelope menatap putrinya dengan mata yang penuh desakan. "Hailey, ini bukan tentang cinta atau keinginan pribadi. Ini tentang menyelamatkan keluarga kita. Sekarang, cepat! Pergi dan ganti pakaianmu. Ini adalah perintah! Tidak ada waktu lagi untuk membantahnya."
Merasa tak berdaya dan bingung, Hailey akhirnya mengikuti perintah ibunya. Ia berlari menuju ruang ganti dan menemukan gaun pengantin yang seharusnya dikenakan oleh Evangeline. Dengan bantuan beberapa asisten, Hailey cepat-cepat mengganti pakaiannya dan didandani sebagai pengantin wanita. Hailey tampak cantik mengenakan gaun putih panjang yang tampak sederhana tapi mampu membuat wanita itu terlihat berkilau. Penata rias juga menggelung rambut blonde Hailey ke belakang kepalanya.
Setelah selesai, Penelope masuk ke dalam ruangan, melihat Hailey yang sudah siap. Penelope tampak mengagumi penampilan putrinya yang tampak begitu cantik. Wajah Penelope melembut sejenak, dan dia mendekati putrinya. Kedua penata rias tadi pun beranjak pergi membiarkan sang ibu bersama dengan mempelai wanta.
"Hailey, Mom minta maaf," kata Penelope dengan suara yang nyaris berbisik. "Meskipun kau bukan putri yang aku lahirkan, tapi aku menyayangimu. Jadi, sudah sepantasnya kau melakukan ini untuk balas budi, kan?"
Tubuh Hailey membeku mendengar ucapannya. Terutama setelah dia mengetahui fakta jika dirinya bukanlah anak kandung keluarga Brantley.
Hailey terhenyak mendengar ucapan tersebut. Rasa terjebak dan bingung semakin menguat di hatinya. "Apa maksudmu, Mom? Aku tidak mengerti."
Penelope menatap Hailey dengan penuh kesedihan. "Aku tahu ini mungkin terasa tidak adil bagimu. Namun keluarga Brantley telah banyak membantumu, dan kami berharap kau bisa membalas budi dengan menikah dengan anggota keluarga Cameron menggantikan Evangeline. Aku tahu ini bukanlah jalan yang kau inginkan, tapi ini adalah pengorbanan yang harus kau lakukan untuk membayar utang budi."
Hailey menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata. "Tapi Mom, bukankah ini tidak adil? Kenapa harus aku yang berkorban? Aku merasa dijebak."
Penelope menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Aku tahu, Hailey. Namun, pernikahan ini sangat penting untuk kelangsungan keluarga Brantley."
Hailey merasa amarah dan kesedihan bercampur menjadi satu. "Aku mungkin bisa menerima jika aku sudah diangkat anak oleh keluarga Brantley dan aku pasti membalas budi pada keluarga Brantley yang telah mengadopsiku. Namun aku tidak pernah membayangkan harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri seperti ini."
Penelope mengelus tangan Hailey dengan lembut. "Kamu harus terima kenyataannya, Hailey."
Hailey merasakan hatinya terasa hancur, dia bertekad untuk menghadapi tantangan ini dengan keberanian dan harapan, mencoba menemukan jalan untuk meraih kebahagiaan meskipun semuanya terasa begitu menekan.
***
Hailey merasakan detak jantungnya semakin cepat ketika dia berdiri di depan pintu gereja. Dengan tangan gemetar, dia menggandeng lengan George, sang ayah yang tampak tegas tetapi penuh perhatian. Pemikiran tentang pernikahan yang segera terjadi membuat Hailey semakin cemas.
George, yang sepertinya merasakan kegelisahan Hailey, menundukkan kepalanya sedikit dan berbicara pelan, "Kau akan baik-baik saja, Hailey. Ingat, ini semua untuk keluarga."
Hailey tersenyum sinis. "Keluarga? Apa kamu yakin semua ini untuk keluarga, Dad?"
"Hailey!" George memanggil dengan nada egas.
"Aku hanya ingin bertanya padamu, Dad. Apakah selama ini kebaikan yang kudapatkan darimu hanyalah untuk hal ini? Agar aku mau menjadi tumbal bagi keluarga ini?" Hailey ingin sekali mengetahuinya,
"Hailey, baik aku atau ibumu tidak pernah merencanakan ini. Bahkan jika kami merencanakan ini semua, kami sudah mengajukanmu sejak awal. Namun aku dan ibumu tetap mengajukan Evangeline. Sayangnya Evangeline memilih kabur." George berusaha membuat Hailey mengerti.
Wanita itu terdiam. Dia membenarkan ucapan ayahnya. Jika memang keluarga Brantley sengaja menumbalkan dirinya sejak awal, pasti sejak awal pernikahan ini akan dirancang atas nama dirinya. Namun Hailey menghalau pikiran tersebut. Dia tidak mau mudah percaya begitu saja dengan ayahnya ataupun anggota keluarga Brantley lainnya.
"Hailey, selama ini aku selalu memberikanmu kehidupan yang layak dan barang-barang yang kamu inginkan. Namun kali ini tidak bisakah kamu membantuku Daddy dan Mommy? Kami tidak punya pilihan lain dan hanya kamu satu-satunya harapan kami. Karena itu, kamu mau 'kan menggantikan Evangeline untuk menikah?" George kembali berusaha meyakinkan Hailey.
Hailey mengangguk lemah. "Baiklah, Dad. Anggap saja apa yang aku lakukan ini untuk menebus semua yang keluarga Brantley lakukan untukku."
Hailey tahu bahwa menikah dengan anggota keluarga Cameron adalah satu-satunya cara untuk membalas budi pada keluarga Brantley yang telah mengadopsinya. Namun, dia tidak bisa menghilangkan rasa terjebak yang semakin kuat.
Kegelisahan masih menyelimuti Hailey. Ia sudah mendengar desas-desus tentang calon suaminya-jelek dan tua. Pikiran itu terus menghantuinya, membuatnya semakin cemas menjelang pernikahan ini.
Aku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu menjalani semua ini. Gumam Hailey menyemangati diri sendiri.
Ketika pintu gereja perlahan terbuka, Hailey menarik napas dalam-dalam, berharap bisa menenangkan dirinya.
Saat pintu terbuka sepenuhnya, Hailey tertegun. Di atas altar berdiri seorang pria tampan, jauh berbeda dari gambaran jelek dan tua yang dia bayangkan. Dengan rambut cokolat itu memiliki mata abu-abu yang menawan. Pria dengan tinggi 192 sentimeter itu memiliki tatapan yang tajam dan wajah yang tegas tetapi menawan. Matanya yang dalam dan penuh keyakinan membuat Hailey terpesona sejenak.
Pendeta memulai upacara dengan suara khidmat, tetapi Hailey hampir tidak bisa fokus. Pikirannya masih berputar tentang betapa berbeda dan menariknya Mathias dibandingkan dengan apa yang dia dengar sebelumnya.
Ketika tiba saatnya mengucapkan janji pernikahan, Hailey merasa jantungnya berdetak kencang. Hailey merasakan beban di dadanya semakin berat. Ia menatap Mathias, yang balas menatapnya dengan tatapan penuh pengertian.
"Apakah kau, Evangeline Brantley, bersedia menikah dengan Mathias Cameron, untuk mencintai dan menghormatinya sepanjang hidupmu?" tanya pendeta.
Hailey menelan ludah karena bukan namanya yang disebut karena hanya keluarga Brantley saja yang tahu jika Evangelin digantikan olehnya. Kemudian dia mengangguk. "Aku bersedia,"
Mathias tersenyum, lalu mengucapkan janji pernikahan dengan suara lembut tapi tegas. "Dan apakah kau, Mathias Cameron, bersedia menikah dengan Evangeline Brantley, untuk mencintai dan menghormatinya sepanjang hidupmu?"
Mathias menatap Hailey dengan penuh keyakinan. "Aku bersedia."
Pendeta mengumumkan mereka sebagai suami istri, dan Hailey merasa ada harapan baru di tengah kebingungan dan kegelisahannya. Meskipun awalnya terasa seperti sebuah jebakan, kini ada kemungkinan kecil bahwa pernikahan ini bisa menjadi sesuatu yang indah.
Setelah pemberkatan pernikahan selesai, Hailey merasa kebingungan saat Mathias segera membawanya keluar dari gereja. Tidak ada pesta pernikahan, tidak ada resepsi. Hailey mengikuti langkah suaminya yang baru dengan perasaan campur aduk. Mathias memang tampan, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Hailey merasa takut.
Di dalam mobil, Hailey mencoba untuk tetap tenang. "Apa kita akan langsung ke rumahmu?" tanyanya, mencoba memecah kesunyian yang menegangkan.
Mathias hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ketegangan semakin terasa. Hailey merasakan kecemasan merambat dalam dirinya, tapi dia berusaha menyembunyikannya di balik senyuman tenangnya.
Sesampainya di mansion besar milik Mathias, Hailey terpesona oleh kemegahan bangunan itu. Namun perasaan kagum itu segera tergantikan oleh rasa takut ketika Mathias membawanya masuk dengan langkah cepat dan tegas. Mereka berjalan melalui lorong panjang yang sepi, lalu berhenti di depan sebuah kamar.
Mathias membuka pintu kamar dan hampir mendorong Hailey masuk. Ia mengunci pintu di belakang mereka, dan seketika suasana menjadi semakin menakutkan. Mathias mendekati Hailey dengan langkah perlahan, menyudutkannya ke dinding.
Hailey menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. "Mathias, ada apa?" tanyanya dengan suara gemetar, meskipun dia berusaha keras untuk terdengar tenang.
Mathias menatapnya tajam, dengan suara yang penuh intimidasi, dia berkata, "Kau bukanlah putri pertama keluarga Brantley. Berani sekali kau menikah denganku!"
Hailey terkejut. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara bergetar. "Aku memang bukan Evangeline, tapi aku tidak pernah bermaksud menipu siapa pun."
Mathias mendekatkan wajahnya, membuat Hailey semakin merasakan ketegangannya. "Keluarga Brantley berhutang banyak padaku, dan mereka berpikir bisa menggantikan putri pertama mereka denganmu. Namun jangan pernah berpikir aku tidak tahu siapa kau sebenarnya."
Hailey menggigit bibirnya, matanya berlari ke seluruh ruangan mencari jalan keluar. Namun, tak ada jalan lain selain menghadapi kenyataan yang tak terhindarkan. Ia memilih diam, membiarkan keheningan merasuk di antara mereka. Tangannya terkulai lemas, tak mampu melawan cengkraman Mathias yang semakin keras.
"Katakan sejujurnya padaku siapa kau?" tanya Mathias kembali.
Mathias melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Hailey menghela napas lega. Wanita dengan tinggi 170 sentimeter itu berjalan melewati Mathias dan perlahan menuju ranjang. Dia duduk di pinggir ranjang, punggungnya tertunduk, dan suara lembut tapi penuh kesedihan mulai terdengar.
"Kau memang benar." Hailey akhirnya berbicara, suaranya bergetar. "Aku memang bukan putri sulung keluarga Brantley. Aku bukan Evangeline. Aku adalah Hailey."
"Ha! Kau menipuku rupanya." Mathias berdiri terpaku, matanya terbelalak tidak percaya. "Apa keluarga Brantley membayarmu mahal untuk menggantikan putra sulungnya?"
"Ti- tidak begitu .... a- aku ...." Hailey menggelengkan kepalanya, bingung bagaimana harus menjawab. "Tapi ... ya- ya, mungkin hampir mirip begitu."
Mathias memicingkan matanya. "Apa maksudmu? Katakan yang jelas!"
"Aku hanya anak angkat mereka. Orang tuaku, mereka memaksaku menikah denganmu demi membalas budi kepada keluarga Brantley. Mereka bilang ini satu-satunya cara untuk membayar hutang kami." Suara Hailey terdengar bergetar.
Di dalam kamar yang remang-remang itu, suasana menjadi tegang dan terasa mencekam. Mathias berdiri diam, tubuhnya tegang, mengenakan tuxedo pengantin putih yang seharusnya melambangkan kebahagiaan, tapi kini tampak seperti ironi yang menyakitkan. Mathias terdiam, matanya menyempit seolah mencoba menembus kebenaran dibalik kata-kata Hailey. Pada awalnya, dia berpikir bahwa Hailey hanya menginginkan uang, bahwa dia rela menjadi pengganti Evangeline demi menikah dengannya dan mendapatkan harta keluarga Brantley. Namun, apa yang didengarnya jauh berbeda dari dugaannya.
"Kau hanya anak angkat mereka? Apa kau berpikir aku akan percaya dengan ucapanmu begitu saja?" Mathias berusaha memahami situasi ini.
"Kalau kau tidak percaya ... aku harus bilang apa lagi?" Hailey mencicit dengan putus asa, "tidak mungkin, kan, aku tiba-tiba mengaku bahwa aku adalah Evangeline?"
"Lalu kenapa kau melakukannya? Kenapa kau menggantikan Evangeline? Apakah karena kau menginginkan sesuatu?"
Hailey menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku tidak peduli kau percaya pada ucapanku atau tidak. Namun yang pasti aku mengatakan hal yang sebenarnya. Orang tua angkatku yang telah memaksaku. Mereka bilang ini satu-satunya cara untuk membayar hutang kami. Mereka berkata jika aku menikah denganmu, itu akan menyelamatkan keluarga kami. Mereka memaksaku dengan mengatakan semua yang kulakukan adalah untuk menebus kebaikan mereka atas hidup yang selama ini aku terima."
Mathias menatap Hailey dengan mata penuh kebingungan. "Jadi kau melakukan ini semua karena terpaksa?"
"Ya, Tuan Mathias Cameron," jawab Hailey dengan suara pelan, dia takut jawabannya akan membuat Mathias lebih marah. "Aku tidak pernah bermaksud menipumu. Aku hanya tidak punya pilihan lain."
Mathias terdiam sejenak, masih sulit untuk mempercayai semuanya begitu saja. "Tapi bagaimana aku bisa yakin bahwa ini bukan bagian dari rencana lain? Bagaimana aku bisa percaya padamu sekarang?"
Hailey menggigit bibirnya, menatap Mathias dengan tekad yang baru ditemukan. "Aku mengerti jika kau tidak bisa langsung mempercayai aku. Itu sebabnya aku ingin membuat kesepakatan denganmu."
Mathias mengangkat alisnya, penasaran. "Kesepakatan denganku? Kesepakatan apa yang kau maksud?"
Hailey menghela napas, mencoba untuk tetap tegar. "Kau boleh menceraikan aku kalau tidak puas dengan penjelasanku. Lalu, kau bisa menuntut keluarga Brantley sesukamu. Aku tidak ingin terlibat sama sekali."
Mathias tertegun, menatap Hailey dengan campuran perasaan yang sulit diuraikan. "Kau serius? Kau benar-benar siap untuk meninggalkan semua ini?"
Hailey mengangguk pelan, air mata mengalir di pipinya. "Ya, Tuan Mathias Cameron. Aku tidak ingin hidup dalam kebohongan lagi. Jika itu yang kau inginkan, aku akan pergi dan kau bisa melakukan apa pun yang kau anggap benar."
Mathias menatap Hailey lama, mencoba mencari kebohongan di mata jernihnya, tetapi yang dilihatnya hanyalah kejujuran dan kepasrahan. Mathias menatap Hailey dengan tajam. Hailey duduk dengan tenang di tepi ranjang, wajahnya tampak dalam ketenangan yang kontras dengan ketegangan yang menyelimuti Mathias. Kalau boleh jujur, Hailey jelas takut. Namun, itu tidak sebanding dengan tatapan tajam Mathias, semakin Hailey takut, pria itu semakin menyeramkan.
"Jadi," Mathias memulai, suara berat dan penuh tekanan, "kau benar-benar yakin dengan kesepakatan ini? Apakah kau tidak memikirkannya lebih dahulu? Jika aku menuntut keluarga Brantley seperti yang kau katakan, apakah kau akan baik-baik saja?"
Hailey melirik Mathias dengan tatapan ragu, tetapi matanya sebisa mungkin tidak menunjukkan kegelisahan.
"Aku tidak akan merasa sedih sama sekali. Pada kenyataannya, mereka hanya memanfaatkan aku," jawabnya, suaranya tegas dan tanpa ragu, tapi jelas ada kebohongan di sana. Faktanya, Hailey sakit hati. "Keluarga Brantley tidak pernah memperlakukan aku seperti bagian dari keluarga mereka. Mereka hanya menggunakan aku untuk kepentingan mereka sendiri. Jadi, jika kau ingin menuntut mereka, itu bukan masalah bagiku."
Mathias mengerutkan dahi, merasa konyol oleh keputusan Hailey. "Kau bodoh dan naif, pantas saja dimanfaatkan."
"Bodoh? Mungkin memang begitu." Hailey menyeringai sinis. "Aku juga tidak tahu apa yang kulakukan di sana selama ini. Namun, aku juga tidak punya tempat untuk lari. Menurutmu, ke mana aku harus pergi, Tuan Mathias?"
Mathias menyandarkan punggungnya ke kursi, masih merasa kalau ucapan Hailey terlalu bodoh dan dangkal. "Bukankah kau sudah melarikan diri ke sini?"
Hailey menatap Mathias, senyumnya kecil tetapi penuh makna. "Secara tidak langsung, iya. Namun rasanya seperti keluar dari mulur singa dan masuk ke sarang ular."
Mathias merasa ada sesuatu yang mendalam dalam setiap kata Hailey, dia tersenyum miring. "Jadi kau menganggapku seperti ular?"
Hailey terperanjat, dia berusaha meluruskan. "ti-tidak ... itu ...."
Tuk! Mathias menoyor kening Hailey. "Dasar wanita bodoh."
Mathias memperhatikan setiap detail dari wajah Hailey dengan seksama. Bentuk wajahnya yang tegas, bibir tipisnya yang terkatup rapat, dan mata almond yang bersinar cerah, seakan-akan memiliki aura yang menenangkan tapi menawan. Rambut blonde-nya berkilau seperti matahari pagi, menambah keindahan yang tak tertandingi. Kesimpulannya Hailey cantik. Mathias merasa ada sesuatu yang sangat istimewa tentang wanita ini, hingga dia hampir lupa jika wanita di hadapannya seharusnya bukan istrinya.
Mathias, yang kini semakin terpesona oleh ketenangan dan kecantikan Hailey, memandangnya dengan ekspresi rumit. Mathias berpikir, haruskah dia mengetes wanita itu?
"Tapi, karena kau sudah disini," Mathias mulai dengan nada sudara rendah yang terkesan dingin, "sebaiknya kita pikirkan masalah ini nanti. Bagaimana kalau kita melakukan hal yang lain, Hailey?"
Hailey memicingkan matanya. "Melakukan apa?"
"Aku baru saja memikirkan sesuatu. Kau tahu, sekarang kita sudah menikah." Mathias mengikis jarak, mendekati Hailey secara perlahan.
Namun, bukannya merasa berdebar saat pria tampan itu semakin mendekat padanya, Hailey justru takut. Tatapan mata Mathias seolah seperti harimau yang mengincar mangsa. Rasanya seolah ada udara dingin yang enyelimuti Hailey sekarang. Sumpah, Mathias terlalu menakutkan untuknya!
"Tu- tunggu, Tuan Mathias ...." Hailey menatap Mathias, sedikit bingung dan terkejut oleh nada suara dan kata-kata Mathias. "A- apa ... apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
"Kau takut padaku?" Mathias menyeringai, wajah tampannya sungguh tidak ramah.
Hailey diam saja. Dia harus menjawab apa? Takut? Kalau Mathias semakin marah, bagaimana? Pikirnya kemudian.
Mathias tersenyum, matanya bersinar dengan ide nakal. "Hailey, kau istriku, kan?"
Hailey mengangguk.
"Kalau begitu, haruskah kita lanjutkan malam pengantin kita, Sayang?"
Saat itu, ekspresi Hailey berubah drastis. Wajahnya menjadi pucat dan matanya membulat, terkejut setengah mati. Bulu kuduknya merinding. Dia tidak siap untuk pernyataan Mathias yang begitu tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang, tetapi dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketakutannya.
"A- apa?"