Aku mencintai suamiku, Yoga, selama sepuluh tahun, tapi lima tahun pernikahan kami hanya diisi dengan sikap dinginnya.
Lalu aku menemukan kebenaran yang menghancurkan hatiku. Aku hanyalah pengganti untuk menenangkan keluarganya, sementara dia diam-diam membiayai dan mencintai adik angkatnya, Meiliana.
Pernikahan kami yang palsu ini terasa seperti tipuan kejam.
Aku memutuskan untuk mengakhiri sandiwara ini. Dengan cerdik, aku menyodorkan surat cerai yang kusebut sebagai dokumen asuransi mendesak.
Yoga, yang perhatiannya teralihkan oleh rengekan manja Meiliana, menandatanganinya tanpa membaca.
Satu tahun kemudian, aku terlahir kembali. Karierku sukses, dan aku bertunangan dengan Luki, pria yang lembut dan penuh kasih.
Namun, Yoga yang penuh penyesalan tiba-tiba muncul, memohon kesempatan kedua. Bahkan Meiliana datang dan membenarkan cinta Yoga untukku, membuat hatiku goyah.
Terjebak di antara cinta masa lalu yang menyakitkan dan kebahagiaan masa kini, aku harus membuat pilihan. Kali ini, aku memilih diriku sendiri.
Bab 1
Kinan POV:
Aku tahu sudah berakhir. Sudah waktunya.
Aku mengambil ponselku, jariku mengetik nomor yang kudapatkan dari seorang teman. Suaraku bergetar saat aku menjelaskan situasiku kepada wanita di seberang sana.
"Saya ingin bercerai," kataku, kata-kata itu terasa asing di lidahku, namun melegakan.
Beberapa hari kemudian, aku duduk di kantor pengacara yang rapi dan modern. Nama di plat meja, "Sarah Wijaya," bersinar di bawah lampu. Sarah adalah wanita berpenampilan cerdas dengan tatapan tajam yang langsung menembus ragu-raguku.
Dia menjelaskan langkah-langkahnya, setiap kata terasa seperti palu yang menghantam kenyataan pahit ini.
"Prosesnya akan memakan waktu," katanya, "Kita butuh tanda tangan suami Anda pada dokumen persetujuan perceraian. Dan masa tenang 30 hari."
Aku mengangguk, hatiku mengeras.
"Saya akan mendapatkan tanda tangannya," jawabku, tekadku jauh lebih kuat dari suaraku yang pelan.
Sarah mengangguk, seolah sudah terbiasa dengan janji-janji putus asa semacam itu.
"Baiklah. Draf dokumen akan siap besok," katanya.
Esoknya, sebuah amplop tebal tergeletak di meja dapurku. Aku membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada berkas-berkas tipis yang akan mengakhiri segalanya.
Aku menatap dokumen itu, pikiranku melayang kembali ke beberapa minggu yang lalu, saat duniaku benar-benar runtuh.
Saat itu, aku menemukan sebuah folder tersembunyi di laptop Yoga. Isinya adalah catatan keuangan lengkap, detail transfer bank, pembayaran sewa apartemen mewah, dan biaya kuliah kedokteran yang fantastis. Semua atas nama Meiliana Tendean. Adik angkat Yoga. Adik angkat yang cantik, polos. Dan yang paling menyakitkan, adik angkat yang diam-diam dicintai Yoga.
Pernikahan kami yang seolah hanya sandiwara demi menenangkan keluarga, kini terasa seperti tipuan yang kejam.
Aku memutuskan, ini saatnya untuk mengakhiri sandiwara ini.
Aku harus melakukannya dengan cerdik.
Pagi itu, aku pergi ke rumah sakit tempat Yoga bekerja. Udara dingin rumah sakit menusuk tulang, sama dinginnya dengan hatiku. Aku melihat Yoga dari jauh, berdiri di lobi. Dia mengenakan jas dokternya, tampak berwibawa, wajahnya tegas seperti biasanya. Dokter bedah jantung Yoga Al-Jufri, sang pujaan hati banyak wanita, dan suamiku.
Dia melihatku, alisnya sedikit terangkat. Tidak ada senyum ramah, hanya sedikit keterkejutan di matanya.
Aku berjalan mendekat, seolah-olah aku hanya kebetulan lewat.
"Halo, Yoga," sapaku, suaraku datar, entah bagaimana aku bisa mengendalikannya.
Dia mengangguk. "Ada apa?"
Aku memegang amplop berisi surat cerai itu dengan erat, kusembunyikan di balik tasku.
"Aku butuh tanda tanganmu untuk sesuatu," kataku, berusaha terdengar sesantai mungkin.
Dia menatapku, tatapannya menyiratkan kebosanan.
"Apa itu?" tanyanya, tidak ada sedikit pun rasa penasaran.
"Ini dokumen asuransi kesehatan keluarga yang mendesak. Ada sedikit perubahan pada polis kita, dan harus segera ditandatangani hari ini," kataku, menekan kata 'mendesak' agar terdengar penting.
Dia mengambil amplop itu dariku, jari-jarinya yang panjang membolak-balik lembaran. Aku melihatnya sedikit mengerutkan kening. Kebiasaannya sebagai dokter bedah, membaca setiap detail. Jantungku berdebar kencang. Apakah dia akan membacanya? Apakah dia akan tahu?
Tiba-tiba, suara manja terdengar dari belakangnya.
"Kak Yoga!"
Meiliana.
Dia muncul di sudut, mengenakan gaun cantik, tangannya menggenggam tas bermerek yang baru. Senyumnya lebar, matanya berbinar saat melihat Yoga.
Yoga mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya, matanya langsung melembut. Senyum tipis yang tak pernah kulihat ditujukan padaku, kini terukir di bibirnya.
"Mei," jawabnya, suaranya lebih hangat dari yang pernah kudengar selama lima tahun pernikahan kami.
Meiliana berjalan mendekat, menyampirkan lengannya ke lengan Yoga. Dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Aku berdiri di sana, seperti hantu.
"Kakak sudah selesai? Aku lapar sekali," rengeknya.
Yoga kembali menatap dokumen di tangannya. Aku melihat tatapan 'bosan' itu lagi.
"Ini dokumen penting?" tanyanya, tapi lebih kepada dirinya sendiri.
Aku tidak menjawab, hanya menatapnya. Dia menatap Meiliana, yang kini merengek lebih keras.
Yoga menghela napas. Dia mengambil pena dari sakunya dan membubuhkan tanda tangannya di lembar terakhir tanpa membaca. Cepat. Acuh tak acuh.
Dia mengembalikannya padaku.
"Sudah. Aku harus pergi sekarang," katanya, tanpa menungguku bicara, dia sudah berbalik, mengikuti Meiliana yang sudah berjalan duluan.
Aku merasa lega sekaligus pahit. Dia bahkan tidak melirikku lagi. Aku tahu dia tidak membaca. Aku tahu dia tidak peduli.
Aku berjalan keluar dari rumah sakit, napas yang kutahan kini terlepas. Kemenangan ini terasa dingin di dadaku.
Saat aku melangkah menjauh, aku mendengar tawa Meiliana yang renyah dan suara Yoga yang lebih lembut dari yang pernah kudengar, "Bagaimana harimu, Mei? Ada yang mengganggumu?"
Meiliana menjawab, suaranya dipenuhi manja, "Kakak tahu kan, mantan suamiku itu terus-terusan menggangguku. Aku takut sekali."
Yoga terdiam sejenak. "Jangan khawatir. Aku akan melindungimu. Selamanya."
Aku tersenyum miris. Selamanya. Kata itu... betapa kosongnya.
Pernikahan kami, yang sudah berjalan lima tahun, adalah rahasia. Hanya orang tua kami yang tahu. Yoga ingin begitu. Aku pikir itu hanya sementara, tapi setelah lima tahun, sikapnya padaku tetap dingin dan acuh tak acuh.
Aku mencintainya sejak kami kuliah. Cinta pertamaku. Aku mengejarnya bertahun-tahun. Dia selalu dingin pada semua orang, jadi aku tidak pernah merasa itu untukku saja. Setelah kami berdua lulus, kami sempat putus kontak. Tapi aku tidak pernah melupakannya.
Tiga tahun lalu, sebuah perjodohan aneh menyatukan kami kembali. Orang tuaku dan orang tuanya adalah teman lama. Mereka ingin menyatukan kami. Aku sangat gembira. Yoga setuju. Aku tidak bertanya alasannya, aku hanya terlalu bahagia.
Aku pikir aku akhirnya bisa memasuki dunianya.
Tapi tidak.
Setelah menikah, perlahan aku mulai menyadari. Dinginnya Yoga bukan karena dia memang seperti itu. Dinginnya Yoga itu untukku. Dia mencintai wanita lain. Cinta sejatinya. Meiliana. Adik angkatnya.
Meiliana adalah adik dari sahabat lamanya. Mereka tumbuh bersama. Meiliana melihat Yoga sebagai kakaknya, pelindungnya. Tapi Yoga, dia mencintainya. Diam-diam. Sampai Meiliana menikah dengan pria lain, Yoga patah hati.
Dan karena patah hati itu, dan desakan keluarga kami, dia menikahiku.
Selama tiga tahun ini, aku berusaha. Aku mencoba menjadi istri yang sempurna. Aku memasak makanan kesukaannya, menemaninya di acara-acara sosial (yang sangat jarang, dan selalu sembunyi-sembunyi), bahkan mencoba menyukai hal-hal yang dia suka. Tapi dia... dia selalu acuh tak acuh.
Perlahan, kepercayaan diriku hancur. Aku bertanya-tanya, apa salahku? Kenapa dia tidak pernah melihatku?
Sampai suatu malam, aku menemukan sebuah album foto di laci mejanya. Album itu penuh dengan foto-foto Meiliana. Dari dia kecil, remaja, hingga dewasa. Dan yang paling menyakitkan, album itu terus diperbarui setelah kami menikah. Setiap senyum Meiliana, setiap detail kehidupannya, terekam di sana. Yoga merawatnya dengan sangat hati-hati.
Aku merasa seperti orang bodoh. Aku merasa sangat terabaikan, bahkan dalam hal yang seharusnya menjadi milikku.
Lalu, sebulan yang lalu, Yoga pulang dalam keadaan mabuk. Dia tak pernah mabuk. Dia tertawa, senyumnya begitu lebar, matanya berbinar-binar. Dia memelukku, memanggil nama Meiliana.
"Mei sudah bercerai," katanya, suaranya dipenuhi kebahagiaan yang meluap-luap.
Jantungku hancur. Aku tahu saat itu juga. Dia bahagia karena Meiliana bercerai. Itu berarti dia punya kesempatan lagi. Dan aku... aku hanya penghalang.
Aku memutuskan. Ini sudah berakhir.
Aku pulang ke apartemen kami yang dulunya terasa seperti surga, kini terasa seperti penjara. Aku menatap foto pernikahan kami di dinding. Aku tersenyum pahit. Cinta pertamaku. Pria yang kutunggu sepuluh tahun. Pria yang kuharap bisa kumasuki hatinya.
"Kau tidak pernah mencintaiku," bisikku pada foto itu. Mataku berair, tapi aku tidak menangis. Aku sudah terlalu lelah untuk menangis.
Aku melepaskan foto itu dari dinding, lalu melemparkannya ke tempat sampah. Kaca pecah berderai. Aku tidak peduli.
Sepanjang malam, aku menyusun rencana. Aku menghubungi pengacara. Aku mengumpulkan semua dokumen. Aku memikirkan pembagian harta. Aku tidak mau apa-apa. Aku hanya ingin bebas.
Yoga pulang larut malam. Dia melihat tempat kosong di dinding.
"Foto pernikahan kita ke mana?" tanyanya, suaranya sedikit terkejut.
"Oh, itu. Aku tidak terlalu suka posisinya. Aku akan mencari tempat baru nanti," jawabku santai.
Dia hanya mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut. Dia tidak peduli.
Dia masuk ke dapur, lalu kembali membawakan semangkuk sup pedas, meletakkannya di meja kerjaku.
Sup. Pedas.
Aku menatap sup itu, lalu menatapnya. Dia sudah masuk ke ruang kerjanya.
Aku menghentikan tulisanku. Aku melihat sup pedas itu.
Aku menderita maag kronis. Aku tidak bisa makan pedas. Selama tiga tahun ini, tidak sekali pun dia tahu. Dulu, aku akan memaksakan diri memakan makanan pedas agar kami punya kesamaan. Agar dia melihatku. Tapi sekarang...
Aku mengambil mangkuk itu dan tanpa ragu, membuangnya ke tempat sampah. Aku tidak mau lagi menipu diri sendiri. Tidak mau lagi berpura-pura.
Aku akan meninggalkan semua rasa sakit, semua kesedihan. Aku akan meninggalkan diriku yang lama.
Kinan POV:
Saya tidak bisa tidur malam itu. Pikiran saya berputar-putar, seperti baling-baling tanpa tujuan di tengah badai.
Tiba-tiba, saya merasakan tangan Yoga menyentuh pinggang saya. Dia beringsut lebih dekat, berusaha memeluk.
Secara refleks, tubuh saya menegang. Saya menarik diri sedikit, menciptakan jarak antara kami.
Dia berhenti, tangannya menggantung di udara.
"Ada apa?" tanyanya, suaranya terdengar bingung. "Kau tidak enak badan?"
Dulu, saya akan melompat ke pelukannya, merindukan sentuhan itu. Sekarang, sentuhannya terasa menjijikkan.
Saya memejamkan mata. "Aku sedikit lelah. Dan... perutku sedikit sakit."
"Oh," dia bergumam, dan saya bisa merasakan dia menarik tangannya sepenuhnya. "Maaf."
Dia berbalik, membelakangi saya. Beberapa detik kemudian, saya merasakan selimut menutupi bahu saya. Dia bahkan tidak melihat ke arah saya.
Sentuhannya yang sebelumnya saya dambakan, kini terasa seperti bara api yang membakar kulit. Saya hanya ingin dia menjauh. Hanya ingin dia pergi.
Saya membenci diri saya sendiri karena pernah begitu putus asa akan kedekatannya. Sekarang, yang saya inginkan hanyalah melarikan diri dari sentuhannya.
Saya bangun dari tempat tidur. Saya merasa lelah. Lelang.
Saya teringat kontrak pembagian harta yang masih dipegang Yoga. Itu adalah salah satu alasan kenapa saya belum pergi. Saya butuh dokumen itu.
"Yoga," panggil saya pelan.
Ada keheningan sesaat, lalu dia menjawab dengan gumaman.
"Bisakah aku melihat kontrak pembagian harta kita?" tanya saya. Saya tahu ini berisiko.
Jantung saya berdetak kencang, memukul-mukul rusuk. Saya menatap punggungnya, menunggu reaksinya.
Dia berbalik, menatap saya dengan mata yang masih mengantuk. Saya merasa seluruh tubuh saya kaku, cemas. Apakah dia akan curiga? Apakah dia akan menyadari?
Saya mencoba terlihat tenang, tapi di dalam, kepanikan bergejolak.
"Kenapa tiba-tiba?" tanyanya, suaranya terdengar tidak tertarik.
"Hanya... ingin memeriksanya," jawab saya, berusaha agar suara saya tidak bergetar.
Dia sedikit memicingkan mata, seolah mencoba membaca ekspresi saya. Saya menahan napas.
"Ini kan harta kita bersama. Tidak akan ada yang hilang. Kenapa kau begitu cemas?" tanyanya, ada nada mencurigakan dalam suaranya.
Saya merasakan kata-katanya menusuk, seperti ancaman yang tak terucap.
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin tahu saja," saya bersikeras.
Dia menghela napas, lalu bangkit dari tempat tidur. Dia pergi ke ruang kerjanya, saya mengikutinya.
Dia mengeluarkan sebuah map dari brankas kecil. Tangan saya sedikit gemetar saat mengambilnya. Ini adalah pertaruhan terakhir saya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nada deringnya nyaring di kesunyian malam. Yoga meraihnya.
Sebuah suara wanita yang panik terdengar dari seberang. "Kak Yoga! Tolong... Mantan suamiku mengancamku. Dia ada di depan apartemen!"
Yoga langsung berubah ekspresi. Wajahnya yang tadi terlihat bosan, kini dipenuhi kekhawatiran yang mendalam.
"Mei? Tenanglah! Aku akan segera ke sana!" katanya, lalu dengan cepat mematikan telepon.
Dia meraih jaketnya, bergerak cepat, seperti ada api di bawah kakinya.
"Ada apa?" tanya saya, meskipun saya tahu jawabannya.
Dia menatap saya, matanya berkedip. "Meiliana. Mantan suaminya mengganggunya lagi. Dia bilang, dia akan masuk secara paksa. Aku harus segera ke sana."
"Sepenting itu?" tanya saya.
"Sangat penting! Aku harus menyelamatkannya!" jawabnya, lalu berbalik menuju pintu.
Saya hanya menatapnya. Apa yang bisa saya katakan? Apa yang bisa saya lakukan?
"Hati-hati," hanya itu yang keluar dari mulut saya.
Dia mengangguk tanpa menoleh ke belakang, lalu menghilang di balik pintu.
Saya berdiri di sana, memegang map kontrak di tangan saya. Jantung saya terasa seperti diremas. Saya merasa sedih, tapi anehnya, ada sedikit rasa lega yang dingin. Setidaknya untuk malam ini, saya aman.
Malam itu, saya tidak tidur sama sekali. Apartemen terasa begitu kosong dan sunyi. Keheningan itu memekakkan telinga, mengisi setiap sudut dengan kelegaan yang dingin, tapi juga hampa.
Saya berdiri di dekat jendela, memandangi langit yang mulai memerah di ufuk timur. Saya merasa seperti terperangkap dalam penantian yang tak berujung.
Saya memeriksa ponsel. Ada notifikasi baru di media sosial. Sebuah cerita dari akun Meiliana.
Saya membukanya. Itu adalah video matahari terbit yang indah, diambil dari balkon sebuah apartemen mewah. Lalu kamera sedikit berputar, dan di sana, terlihat Yoga berdiri di samping Meiliana, memandangi matahari terbit. Senyum tipis terukir di bibirnya.
Hati saya terasa nyeri. Pemandangan itu begitu menyakitkan. Video itu diberi keterangan: "Awal yang baru. Terima kasih untuk selalu ada, Kak Yoga."
Air mata mulai menggenang di mata saya, tapi saya buru-buru menyekanya. Rasanya sesak sekali. Meiliana sudah resmi bercerai. Dan Yoga... dia ada di sana bersamanya.
Saya tahu, sebentar lagi, Yoga pasti akan meminta cerai dari saya.
Saya tersenyum miris. Tidak ada gunanya menunggu. Saya harus mempercepat ini. Saya harus menyelamatkan sedikit kehormatan yang tersisa.
Saya meletakkan ponsel. Saya mulai mengumpulkan semua barang-barang kami yang berpasangan. Foto-foto, cangkir kopi, bahkan sikat gigi. Saya memasukkan semuanya ke dalam beberapa kardus.
Saya membawa kardus-kardus itu ke bawah, ke tempat sampah. Setiap barang yang saya masukkan, terasa seperti luka yang terbuka. Saya mengubur masa lalu saya.
Saat saya kembali, Yoga baru saja pulang. Dia melihat kardus-kardus di dekat tempat sampah.
"Apa ini?" tanyanya, wajahnya tampak lelah.
Saya menghindari tatapannya. Saya tidak ingin dia melihat kerapuhan di mata saya. Saya takut dia akan melihat hancurnya saya.
"Oh, itu barang-barang tidak terpakai. Aku buang saja," jawab saya.
Dia hanya mengangguk. "Biar kubantu."
Dia mengangkat salah satu kardus. Saya menatap punggungnya yang tegap. Mata saya kosong, tapi hati saya berteriak.
Saya tahu, jika dia membuka kardus itu, dia akan mengerti. Dia akan melihat semua barang berpasangan itu, semua kenangan yang saya buang. Ini adalah ujian terakhir saya. Kesempatan terakhir baginya untuk melihat bahwa saya akan pergi.
Saya berharap dia akan melihatnya. Saya berharap dia akan bertanya. Saya berharap dia akan mencoba mengubah sesuatu.
Tapi dia tidak melakukan apa-apa.
Saya mendengar suara gedebuk. Dia melemparkan kardus itu ke dalam tempat sampah besar. Dia bahkan tidak melirik isinya.
Jantung saya terasa hancur berkeping-keping. Udara dingin malam itu terasa menusuk, tapi hati saya jauh lebih dingin.
Saya tidak lagi menangis. Tidak lagi berharap. Hanya ada kepastian yang dingin. Semuanya benar-benar berakhir.
Tiba-tiba, laptop saya mati total.
Kinan POV:
Laptop saya tiba-tiba mati total. Saya mendesah frustrasi. Saya sedang mengerjakan presentasi penting untuk kelas saya besok.
Saya harus meminjam laptop Yoga. Saya tahu itu adalah tindakan yang berisiko, tapi saya tidak punya pilihan.
Waktu berlalu lambat saat saya menunggu file saya ditransfer. Tiba-tiba, ada notifikasi pesan masuk di sudut layar. Sebuah pesan dari aplikasi chat yang tidak saya kenal, tampaknya milik Yoga.
Secara tidak sengaja, saya mengklik pesan itu. Itu adalah pesan dari "Kantor Hukum Wijaya & Rekan". Sebuah nama yang sangat familiar bagiku.
Pesan itu berisi: "Bapak Yoga, apakah Anda akan membawa Nona Meiliana ke acara makan malam para mitra besok malam? Kami perlu konfirmasi untuk daftar tamu."
Tangan saya mulai gemetar. Pernikahan kami adalah rahasia. Di mata publik, Yoga adalah seorang lajang terhormat. Bahkan saat saya datang ke kantor pengacara saya, tidak ada satu pun yang tahu saya adalah istri Yoga Al-Jufri. Mereka tidak bisa mengenali saya.
Saya bertanya-tanya, apakah dia pernah berniat mengajak saya? Apakah dia akan pernah mengakuiku di depan umum?
Saya tidak berani berharap. Harapan itu hanya akan menghancurkan saya lagi.
Jantung saya berdetak kencang, perpaduan antara kemarahan dan kesedihan. Di satu sisi, saya tahu ini adalah bagian dari sandiwara. Tapi di sisi lain, jauh di lubuk hati, ada sedikit diri saya yang masih merindukan pengakuan.
Yoga masuk ke kamar, melihat saya duduk di depan laptopnya. Matanya tertuju pada layar, lalu pada saya.
Saya tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan badai di dalam diri saya.
"Kantor hukummu bertanya apakah kau akan mengajak Meiliana ke acara makan malam besok?" saya bertanya, suaraku terdengar lebih tenang dari yang saya duga.
Yoga terdiam. Matanya tampak bimbang. Dia tidak menjawab.
Keheningan itu menyesakkan. Setiap detik terasa seperti pisau yang mengoyak hati saya. Keheningan itu adalah jawaban paling jelas.
Keraguan di matanya itu, jauh lebih menyakitkan daripada penolakan langsung. Saya melihatnya. Dia sedang memikirkan cara paling halus untuk menolak saya.
Saya menekan rasa sakit di dada saya, memaksakan senyum di wajah saya.
"Oh, jangan khawatir. Aku tidak bisa datang besok. Aku ada janji dengan teman lama," kata saya, berbohong.
Yoga menghela napas lega yang tak kentara. Wajahnya langsung kembali normal, lega.
"Begitu? Maafkan aku, aku terlalu sibuk dengan kasus Meiliana," katanya. "Lain kali, aku akan mengajakmu."
Saya tidak menjawab. Saya hanya memejamkan mata. 'Lain kali' itu tidak akan pernah ada.
Malam itu, Yoga pergi sendirian ke acara makan malam itu. Saya membayangkan dia masuk ke ruangan yang ramai, para koleganya menyambutnya, lalu seseorang bertanya, "Yoga, mana pasanganmu?"
Dia mungkin akan tersenyum. Membuka ponselnya. Lalu, dia akan bimbang antara dua foto. Fotonya dengan saya, atau fotonya dengan Meiliana.
Dan dia akan memilih Meiliana.
Meiliana akan muncul di sana, cantik dan menawan. Dia akan tersenyum manja padanya. Kemudian dia akan bercerita bagaimana Yoga menemaninya sepanjang hari, bagaimana dia melindunginya dari mantan suaminya yang jahat. Yoga akan merasa bangga, dipuja.
Mungkin dia akan merasa sedikit bersalah kepadaku. Hanya sedikit. Tapi itu tidak akan pernah cukup untuk mengubah apapun.
Tiba-tiba, ponsel saya berdering. Sebuah pesan dari Sarah.
"Kinan, kamu harus cepat. Yoga mulai curiga."
Saya membaca pesan itu, hati saya kembali menegang. Sarah tahu harus cepat.
Saya harus segera pergi.
Beberapa hari kemudian, saya sedang mengemasi barang-barang terakhir di apartemen. Tangan saya gemetar. Semua sudah siap. Saya akan pergi keesokan harinya.
Ponsel saya berdering lagi. Kali ini dari seorang teman lama, Clara.
"Kinan, bagaimana kabarmu? Aku dengar Yoga bertingkah aneh akhir-akhir ini," kata Clara.
Saya mencoba terdengar santai. "Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit masalah pekerjaan."
"Oh, begitu," kata Clara, yang terdengar tidak yakin. "Ngomong-ngomong, aku dengar Meiliana sekarang sudah resmi bercerai. Dia terlihat sangat bahagia."
Jantung saya mencelos. Saya menutup mata, hatiku teriris.
"Ya, aku sudah dengar," jawab saya, suaraku datar.
"Dan katanya, Yoga... dia sangat peduli padanya. Dia bahkan membelikannya apartemen mewah. Membayar semua biaya kuliah kedokterannya," lanjut Clara.
Saya tidak bisa berkata-kata. Semua yang kurasa selama ini, kini terkonfirmasi. Aku bukanlah siapa-siapa di matanya.
"Kinan? Kau baik-baik saja?" tanya Clara.
"Ya, aku baik-baik saja," jawabku. "Aku harus pergi sekarang. Sampai nanti."
Saya menutup telepon. Air mata saya menetes, tapi kali ini, tidak ada lagi rasa sakit yang menyayat. Hanya mati rasa yang dalam.
Saya melihat sekeliling apartemen. Ini adalah tempat kami berbagi selama lima tahun. Tapi sekarang, semuanya terasa asing.
Saya mengambil sebuah foto kecil dari meja samping tempat tidur. Foto kami berdua, saat baru menikah. Kami tersenyum. Senyum palsu.
Saya merobek foto itu menjadi dua, lalu melemparkannya ke tempat sampah.
Saya tidak akan pernah kembali.
Saya tahu, saya harus kuat. Saya harus pergi.
Saya mengirim pesan kepada Sarah. "Semuanya siap. Saya akan pergi besok pagi."
Sarah membalas, "Hati-hati. Semoga sukses untuk awal yang baru."
Awal yang baru. Kata-kata itu terdengar manis, tapi juga menakutkan.
Saya berbaring di tempat tidur, mencoba tidur. Tapi pikiran saya terus berputar.
Tiba-tiba, saya mendengar suara Yoga masuk ke apartemen. Langkahnya terdengar berat.
Saya memejamkan mata, berpura-pura tidur. Hati saya berdebar kencang. Apakah dia akan menyadari sesuatu? Apakah dia akan tahu?
Saya mendengar dia mondar-mandir di ruang tamu. Lalu, dia masuk ke kamar mandi.
Saya tahu, ini adalah malam terakhir kami di bawah satu atap. Besok, semuanya akan berubah.
Saya tidak merasa sedih. Saya merasa kosong. Mati rasa.
Saya hanya ingin semua ini segera berakhir.
Pagi harinya, saya bangun lebih awal. Saya mengenakan pakaian terbaik saya, pakaian yang saya beli khusus untuk hari ini. Hari kemerdekaan saya.
Saya menatap cermin. Wajah saya terlihat tenang, tanpa emosi. Saya sudah siap.
Saya meninggalkan catatan kecil di meja samping tempat tidur. Hanya beberapa kata.
"Aku pergi. Jangan mencariku."
Lalu, saya meletakkan surat cerai yang sudah ditandatangani Yoga di atasnya, dengan sengaja.
Saya mengambil tas saya, berisi semua dokumen penting dan beberapa pakaian. Saya berjalan keluar dari kamar, lalu dari apartemen.
Saya tidak menoleh ke belakang.