Javier Orlando, pria berumur 28 tahun itu kini sedang duduk dengan wibawanya. Ketampanan dan senyuman manis dari wajahnya bisa menghipnotis para kaum hawa. Namun siapa sangka, dibalik keindahan itu tersimpan sisi iblis yang tak terlihat.
Javier adalah sosok pria berdarah dingin yang akan melakukan apa saja sebagai bentuk kesenangannya.
Kini pria itu sedang duduk dengan bosannya mendengar prospek yang menurutnya tidak berkelas.
Matanya tidak sengaja bertumpu pada sosok wanita anggun yang sedang duduk melamun sembari menatap lautan. Wanita itu mengenakan gaun putih dan rambut panjang yang tergerai indah.
Bahkan dari atas gedung yang hanya berlapis kaca tebal itu, Jafier bisa menatap dengan jelas bahwa wanita tersebut begitu cantik. Tentu saja dia langsung terpesona akan kecantikannya. Dan berniat ingin sedikit bermain-main dengan wanita itu. Lalu membuangnya seperti sampah, seperti biasa dia menyetubuhi wanita cantik lainnya.
Namun raut murung dari wanita itu membuatnya yakin bahwa wanita itu tidak sedang baik-baik saja. Dan ini adalah kesempatan baginya untuk mendekati wanita itu. Barangkali dia bisa menghibur wanita itu terlebih dulu sebelum tidur dengannya.
"Maaf Pak, bagaimana menurut Anda?" perhatian Jafier langsung teralihkan saat mendengar suara dari Asistennya.
"Regan, aku ingin kau mencari tahu tentang wanita yang ada ditepi pantai itu!" Javier menunjuk wanita yang tadi sempat dia lihat. Namun Regan merasa bingung, seharusnya Bosnya ini fokus pada pekerjaanya. Kenapa jadi memperhatikan seorang wanita?
"Tapi Tuan, bagaimana dengan... "
"Ck, jangan membantah! Ayo antar aku menemui wanita itu... " Javier kembali menunjuknya. Namun kali ini dia tidak menemukan lagi sosok wanita itu.
Matanya menatap nanar keseluruh arah. Namun tetap saja hasilnya nihil. Wanita itu tiba-tiba saja menghilang.
Dan Javier menatap jengkel pada Regan yang malah terlihat seperti orang bodoh.
"Ini semua gara-gara kamu! Wanita itu jadi hilang. Sial!" umpatnya.
"Bagaimana dengan kerja samanya, Pak?"
"Batalkan saja.
Menyebalkan!"
***
Ayana Chaundry, sosok wanita cantik dan anggun. Mata safirnya menatap lautan. Namun pikirannya kosong. Terlihat jelas bahwa dia sedang frustasi. Memikirkan perjodohan yang akan segera dilaksanakan esok hari.
Ayana tidak menyangka akan dijodohkan dengan pria yang tidak dia kenal sama sekali. Hanya karena sebuah balas budi, karena Sang kakek telah merawatnya sejak kecil. Ayana tidak bisa menolak perjodohan itu.
"Nona Ayana? Ayo pulang, Kakek pasti akan khawatir jika Nona terlalu lama diluar." Salah seorang pelayan mencoba menegurnya. Pasalnya sudah beberapa jam, Ayana menghabiskan waktu berada ditepi pantai tersebut. Tanpa melakukan hal apapun.
Ayana tidak menolak. Namun dari gerakannya sendiri terasa enggan untuk beranjak dari sana.
"Em oke."
Ayana akhirnya beranjak dari sana. Kembali ke tempat dimana dia dibesarkan sejak kecil. Ayah dan Ibunya telah lama pergi meninggalkannya. Untungnya kebaikan dan kasih sayang Sang kakek selalu membuatnya lupa bahwa dia membutuhkan sosok orang tua.
"Cucuku sayang. Kau dari mana saja, Nak? Kakek mencarimu kemana-mana."
"Aya kepantai, Kek. Siapa tahu nanti setelah menikah, Aya tidak bisa melihat pantai lagi."
Sontak hal itu membuat Seno Chaundry terkikik geli. Lalu membelai rambut cucu kesayangannya yang tampak menyedihkan itu.
"Kau akan menikah, Ayana. Hanya statusmu yang berubah, tidak dengan hidupmu. Calon suamimu bukan pria jahat. Percayalah....
Kakek mengenal ayahnya dengan baik. Mereka keluarga baik-baik. Jika kau tidak suka dengan perjodohan ini, maka kau masih punya kesempatan untuk membatalkannya."
"Benarkah?"
Ada binar indah dimata safir Ayana mendengarnya. Namun seketika itu pula, binar itu hilang saat sang kakek kembali menjelaskan.
"Benar. Lagi pula, tidak penting bagi Kakek melihat pernikahanmu. Hanya saja yang Kakek sedihkan. Kakek tidak akan bisa mati dengan tenang, saat meninggalkanmu sendirian didunia ini.
Jika kau menikah dengan Dev. Maka Kakek merasa tanggung jawab Kakek yang terakhir telah terpenuhi.
Yaitu menyerahkanmu dengan keluarga baik. Bersama orang yang benar-benar bisa melindungimu, Ayana."
Ayana menghela nafasnya. Sejak awal memang dia tidak punya pilihan. Mana mungkin Ayana tega melihat sang Kakek murung seperti ini.
Seulas senyuman terbit diwajah Ayana. Berharap Seno Chaundry tidak murung lagi. "Aya mau menikah dengan Dev, Kek. Katakan pada Aya, apa pria itu tampan?"
"Devaro Sung Chares, sangatlah tampan. Kau tidak akan bosan menatapnya."
"Bagaimana jika dia tidak mau ditatap olehku?"
"Kau tinggal adukan pada ayahnya, maka dia akan dihukum. Lagi pula, siapa yang tidak mau ditatap oleh gadis cantik sepertimu, Ayana. Siapapun akan terhipnotis akan kecantikanmu. Kakek sangat yakin, Dev akan langsung jatuh cinta padamu."
"Kakek mengatakan Aya cantik, itu karena Aya cucu Kakek. Belum tentu dimata orang lain, Aya ini cantik. Tapi meski begitu, Aya akan berusaha membuat Dev mencintai Aya.
Berhubung Dev itu tampan. Aya jadi tidak sabar ingin menikah dengannya. Sudah ya Kek, Aya kekamar dulu. Mau siap-siap untuk pernikahan Aya besok."
Ayana bergegas kekamarnya dengan senyuman ceria. Meninggalkan sang Kakek yang tersenyum haru menatapnya.
Sesampainya dikamar. Ayana kembali mengubah ekspresi wajahnya. Gadis itu kembali murung. Bukan karena ingin menikah. Tapi karena sang Kakek akan segera meninggalkannya. Mengingat bahwa umur Seno tidak akan lama lagi. Dan Ayana akan memulai kembali semuanya dengan orang asing yang tidak pernah dia kenal.
Akan sulit bagi Ayana melupakan kediamannya bersamaan dengan kenangan manis bersama Seno. Setelah kepergian Seno nanti. Ayana pasti hanya bertumpu pada suaminya.
"Apa hidupku akan berakhir seperti ini? Aku bahkan tidak bisa memilih."
***
Pernikahan Ayana dan Devaro pun digelar dengan meriah.
Ayana menatap kearah pantulan cermin yang memperlihatkan dirinya.
"Apa ini aku?"
"Ya, Nona. Anda selalu cantik mengenakan apa saja. Tuan Dev, pasti sangat beruntung memiliki istri seperti Anda." sayangnya pujian dari pelayan pribadi Ayana tidak membuat wanita itu senang sama sekali.
"Cucuku sudah siap rupanya."
"Aya belum siap meninggalkan Kakek sendirian."
"Angkat dagumu Ayana. Jangan biarkan air mata merusak kecantikanmu. Ini hari bahagiamu. Tidak boleh ada kesedihan dan air mata. Kakek sangat bahagia melihatmu menikahi pria yang tepat, Ayana." Seno memeluk erat cucu kesayangannya dengan penuh haru.
"Saat janji pernikahan sudah diucapkan. Tanggung jawabku menjagamu sudah teralihkan pada suamimu sepenuhnya. Maka, hormati dia Ayana. Perlakukan dia dengan baik. Patuhi semua perintahnya. Kakek yakin, rumah tangga kalian akan bahagia."
"Lalu bagaimana dengan Kakek?"
"Kakek baik-baik saja. Jangan pernah merisaukan pria tua ini. Pikirkan saja kebahagiaanmu, Ayana."
"Bagaimana bisa Aya memikirkan kebahagiaan Aya sendiri?"
"Tentu saja bisa. Dengan memikirkan kebahagiaanmu, itu sudah membuat Kakek sangat bahagia. Dalam artian, berbahagialah jika ingin melihat Kakekmu bahagia, Ayana."
Ayana mengangguk patuh. Tidak ada sela'an yang keluar dari mulutnya. Bagaimana pun juga dia sadar, Seno melakukan ini semua demi kebaikannya. Agar Ayana tidak merasa kesepian saat dia meninggalkannya.
Devaro Sung Chares. Adalah pria yang kini telah resmi menjadi suami Ayana. Mata kelabu pria itu nampak tajam. Tidak sedikitpun dia menatap Ayana yang kini telah resmi menjadi istrinya.
Devaro terlalu sibuk meladeni tamu undangan, tanpa memperdulikan Ayana yang sendirian. Pria itu nampak ramah dikhalayak ramai. Tapi tidak dengan dirinya.
Saat pestanya selesai. Ayana merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Bahkan Ayana belum sempat melepas gaun pengantin yang masih melekat ditubuhnya. Matanya menatap nanar ke sekeliling kamar yang nampak asing baginya.
Kini dia berada dikamar pengantin yang telah dihias begitu indah.
Saat Ayana ingin melepas gaunnya, tiba-tiba pintu terbuka. Menampilan Devaro yang masuk begitu saja.
Ayana menoleh kearahnya. Ada sedikit kegugupan menyelimuti hatinya. Dia pikir kedatangan Devaro untuk meminta haknya sebagai suami Ayana. Namun ternyata Ayana salah.
"Maaf aku tidak bisa menolak pernikahan ini. Aku tidak berdaya jika berhadapan dengan ayahku. Sebaiknya kau jangan terlalu banyak berharap padaku, karena itu akan membuatmu kecewa."
Deg
Ayana hanya mematung ditempatnya. Sampai akhrinya Devaro masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Pernyataan dari Dev, membuat Ayana sadar akan posisinya. Begitu sakit, meski dia juga belum mencintai pria itu. Namun pernyataan Dev, begitu menyakitkan.
"Heh, siapa juga yang ingin berharap!"
***
Mengingat perlakuan Dev, yang begitu dingin dan bersikap acuh padanya. Membuat Ayana merasa sedih dan kesepian. Tidak ada yang bisa dia lakukan disana. Hanya menyendiri sembari menatap taman disekelilingnya.
Sesekali Ayana ingat tentang Kakeknya. Memikirkannya saja sudah membuat Ayana sedih. Dia sangat merindukan pria tua itu.
"Nyonya Ayana, Tuan meminta Anda untuk makan bersama."
"Katakan Saya tidak lapar. Saya bisa makan sendiri jika merasa lapar," saut Ayana dengan acuh.
"Tapi, Nyonya. Tuan tidak suka dibantah. Jika Anda menolak, maka saya lah yang akan menerima hukumannya."
Sontak hal itu membuat Ayana merasa kesal. "Ck, iya-iya."
Ayana beranjak dari tempat itu dengan perasaan kesal. Matanya langsung menatap Dev, yang sedang sibuk dengan hidangannya.
Jangankan untuk menyapa. Bahkan menatap Ayana saja, Dev tidak ingin.
Ayana mengambil tempat duduk dan mulai menyantap hidangannya dengan tenang dan seanggun mungkin. Dia berusaha sebisa mungkin menguasai dirinya agar terbiasa dengan pria dihadapannya ini.
Baru saja satu suapan masuk kedalam mulut Ayana, tiba-tiba saja Dev beranjak dan ingin pergi meninggalkannya makan sendirian.
"Saya sudah selesai."
Sontak hal itu membuat Ayana menatapnya jengkel. Bukankah dia yang meminta Ayana untuk makan bersama. Tapi kenapa malah meninggalkannya begitu saja, bahkan Ayana belum selesai dengan makanannya.
Tanpa menunggu tanggapan Ayana, Dev berlalu begitu saja.
Ayana langsung mendengus. Selera makannya tiba-tiba hilang seketika. Ayana memilih kekamarnya dan meninggalkan makanannya begitu saja.
Saat berjalan disepanjang koridor, Ayana berhenti didepan ruangan kerja suaminya. Ayana yakin, Dev pasti ada didalam. Sebab itulah dia memberanikan diri masuk, dan mengutarakan niatnya.
Ayana mengetuk pintu dengan pelan sebelum masuk kesana. Matanya bersibobrok dengan wajah Dev, yang nampak kelelahan.
"Maaf mengganggumu. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
"Katakan."
"Apa boleh saya bekerja? Saya merasa bosan disini. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Saya dulunya seorang jurnalis, dan...... " Belum sempat Ayana menyelesaikan ucapannya, Dev telah menyelanya duluan.
"Tidak boleh."
"Ap-apa?" Ayana menatapnya bingung.
"Saya tidak suka mengulangi ucapan saya. Jika tidak ada urusan lagi, keluarlah. Saya sibuk!"
Bukannya pergi, Ayana malah bergeming ditempatnya. Menatap Dev penuh arti.
"Kenapa masih disana? Jika kau bosan, minta pelayan mengantarmu belanja atau apalah. Asal jangan bekerja."
Mendengar hal itu, membuat Ayana semakin kecewa.
"Saya tidak mengerti dengan pernikahan ini... Anda bahkan tidak sekalipun memperlakukan saya layaknya seorang istri."
"Sudah saya katakan, jangan terlalu berharap. Itu akan membuatmu kecewa. Tolong mengertilah, ini juga tidak mudah bagiku... "
"Kalau begitu kenapa Anda tidak menceraikan saya saja! Bukankah itu lebih baik. Hidupku juga bisa lebih jelas, setidaknya," ucap Ayana sedikit tegas. Matanya menunjukkan perlawanan pada pria itu. Namun tidak sedikitpun Dev tersinggung dengan ucapannya.
"Meski saya tidak mencintaimu, tapi saya tidak akan pernah menceraikanmu! Kita akan terikat dalam pernikahan ini selamanya."
"Persetan dengan pernikahan. Saya tidak peduli. Ceraikan saya sekarang juga, berikan saya kebebasan itu!"
"Sebaiknya kau istirahat. Wajahmu nampak lelah." Dev mencoba mengalihkan pembicaraannya.
Ayana diam sejenak, sebelum memilih pergi dengan perasaan kesal, kecewa dan amarah karena Dev telah memperlakukannya seenaknya.
******
Dinginnya angin malam, tidak membuat Ayana merasa kedinginan. Pikirannya begitu kacaw, ketika sadar bahwa dia telah terperangkap dalam pernikahan ini. Ayana tidak mengerti apa yang membuat Dev seperti itu. Jika pria itu tidak mencintainya, setidaknya jangan membuatnya merasa terkekang.
Tentu saja Ayana merasa tertekan harus menjalani hidup seperti ini setiap harinya.
Kini matanya menatap kosong. Ayana sudah tidak sanggup lagi harus berada dibawah kendali orang lain. Dia ingin bebas. Dan salah satu kebebasan yang ada dipikirannya adalah dengan cara mengakhiri hidupnya.
Kini Ayana sudah berada diatas balkon kamarnya. Tidak sedikitpun dia takut saat menatap kebawah. Dia sudah sangat lelah karena terus tertekan. Akhirnya wanita itu memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Namun saat Ayana hendak melompat. Tiba-tiba saja sebuah tangan kekar menahannya.
Ayana terkejut saat aksinya tiba-tiba gagal. Dan menatap si pemilik tangan yang telah menahannya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku mati. Untuk apa aku hidup dalam kendali orang lain," Ayana mencoba memberontak sekuat tenaganya. Namun Dev, langsung menggendongnya dan membawanya masuk.
"Bodoh! Apa kau pikir dengan cara mengakhiri hidup semua masalahmu akan terselesaikan? Apa kau tidak memikirkan kakekmu yang pastinya akan sangat terpuruk dengan kepergianmu! Jika ingin mati, kenapa tidak disaat sebelum menikah denganku! Setidaknya aku tidak mendapat masalah karena ulahmu."
Ayana terdiam. Air matanya mengalir semakin deras. Tidak bisa dipungkiri bahwa ucapan Dev benar adanya. Kakeknya pasti akan sedih dengan kepergiannya.
"Kau jahat, Dev. Kakek berbohong! Dia bilang kau pria baik. Tapi rupanya kau sama saja. Kau pria terjahat yang pernah aku kenal," ucap Ayana disela isak tangisnya.
Dev sendiri mengusap kasar wajahnya saat melihat Ayana menangis seperti ini. Ada rasa iba didalam dirinya untuk membuat wanita itu sedikit tenang.
"Baiklah. Jika kau memang ingin bekerja, maka lakukanlah. Aku tidak akan melarangmu. Tapi ingat! Jangan pernah melakukan tindakan bodoh seperti tadi lagi. Kau hanya membuatku semakin pusing!"
Ayana mengangkat wajahnya. Ada binar bahagia dimatanya saat mendengar keputusan Dev. Lalu pria itu meninggalkannya sendirian dikamar dengan perasaan jengkel. Namun Ayana tidak memperdulikan hal itu. Yang terpenting sekarang dia bisa menyibukkan diri dengan melanjutkan cita-citanya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Dev. Ayana akhirnya melamar di sebuah perusahaan koran terbesar sebagai jurnalis disana.
Langkahnya begitu tegas, serta raut wajah penuh semangat saat pertama kali memasuki perusahaan itu.
Saat bertemu dengan si pemilik perusahaan, Ayana langsung memperkenalkan diri serta keahliannya dalam bidang itu. Namun herannya, pemimpin perusahaan itu malah menatapnya begitu dalam. Membuat Ayana sedikit risih dan tidak nyaman.
"Maaf Pak, apa Anda mendengar yang saya katakan tadi?"
"Ah, ya... Anda diterima bekerja disini. Kami sangat menunggu berita menarik dari Anda."
"Benarkah? Terimakasih banyak kalau begitu," Ada binar bahagia dimata Ayana. Akhirnya dia bisa melanjutkan kembali cita-citanya yang sempat tertunda.
"Nama saya Javier," Ayana menatap tangan besar yang terulur kearahnya. Dengan segera dia menyambut tangan itu.
"Baiklah Pak Javier."
Setelah kepergian Ayana, Javier tidak hentinya tersenyum. Bahkan sejak kedatangan wanita itu, Keterkejutannya langsung digantikan dengan perasaan senang. Dia tidak menyangka, bahwa wanita yang pernah dia lihat waktu itu, kini datang dengan sendirinya. Tanpa dia harus bersusah payah untuk mencarinya.
Rasa penasaran kini menyelimuti hati Javier. Pria itu kini sedang sibuk mencari informasi data pribadi Ayana. Ingin mengetahui latar belakang wanita yang menurutnya cukup menarik itu.
Seketika saja ekspresi wajah Javier berubah, saat mengetahui Ayana sudah menikah. Rasa kecewa terlihat jelas diwajahnya.
Sial. Aku kalah cepat rupanya...
"Kau sedang apa?" suara tegas seorang wanita membuat Javier mengalihkan perhatiannya.
Vara, Sosok wanita yang menjadi teman baiknya kini berada dihadapannya.
Javier tidak menjawab. Namun pria itu menunjukkan padanya tentang biodata Ayana di laptopnya. Seulas senyuman mengejek terlihat jelas diwajah Vara.
"Hahah... Kasihan sekali temanku yang tampan ini, rupanya menyukai istri orang!"
"Berhenti mengejekku! Sialan... " Javier mendegus sebal.
"Tapi bukankah ada yang bilang, kalau istri orang jauh lebih menantang! Ini akan seru... Ayolah Javier jangan menyerah," Vara memberikan semangat pada Javier, pria itu juga nampak menimbang-nimbang ucapan sahabatnya itu.
Karena memang selama ini Javier selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Seringai iblis muncul diwajahnya.
Melihat hal itu, membuat Vara berhenti menggodanya. Tidak dia sangka, bahwa lelucon yang dia buat, dianggap serius oleh Javier.
"Oh no. Aku hanya bercanda Javier. Jangan kau anggap serius ucapanku! Dan berhentilah tersenyum sinting seperti itu. Itu mengerikan," Vara bergidik negeri melihatnya.
"Bantu aku Vara... "
"Bantu mendekati istri orang? Hah! Jangan gila Javier. Masih banyak wanita lain diluar sana," Vara menatap sinis pada Javier yang menatapnya penuh arti.
"Tapi aku penasaran dengan Ayana. Aku tidak akan berlama-lama. Hanya sedikit bermain-main saja, setelahnya selesai."
"Ck, enteng sekali mulut sialanmu itu saat bicara! Kau pikir aku tidak tahu siapa kau ini Javier? Kau adalah sosok iblis yang menjadikan ketampanan sebagai topeng. Dan akulah orang menyedihkan yang akan mendapatkan getah atas perbuatanmu."
Seperti biasa, Javier malah terkekeh setiap kali mendengar makian dari Vara. Pria itu menatap geli pada sosok wanita menyedihkan dihadapannya ini. Karena setiap kali Javier selesai dengan mangsanya. Vara lah yang akan membujuk para wanita agar berhenti mengejar Javier dengan segala cara. Termasuk berpura-pura menjadi istri sah nya.
"Come on, Vara. Help me... "
"No."
"Liburan ke florida?" Javier mencoba membujuknya.
"Aku tidak tertarik!"
"Kau yakin? Bukankah kau suka pantai florida. Kau tidak akan sendirian kali ini. Aku akan ikut. Kita akan bersenang-senang disana."
Vara menyipitkan matanya. Menatap Javier penuh selidik. "Kau mencoba menipuku?"
"Mana ada tampang penipu dari seorang Javier,"
"Cih, buktinya kau selalu menipu wanita!"
"Tapi tidak denganmu. Aku serius! Aku juga butuh refresing. Kita akan pergi kesana."
"Wajahmu meragukan, Javier... Tapi baiklah. Aku akan membantumu sekali lagi."
"Good girl," Javier mencubit pipinya dengan gemas. Namun Vara malah mendengus.
"Kau yang terbaik Vara.. "
"Dan kau yang selalu membuatku sial!"
Lagi-lagi Javier terkekeh karenanya.
*****
Rumah besar itu nampak sepi, saat para penghuninya disibukkan dengan aktifitas mereka masing-masing. Bahkan saat dirumah seperti ini, mereka hanya berlalu lalang tanpa menatap satu sama lain. Seolah saling tak mengenal.
Dev bahkan tidak perduli Ayana mau bekerja dimana dan bersama siapa. Sikap dingin pria itu membuat Ayana merasa hanya sebagai pajangan disana. Rumah besar itu bagaikan penjara baginya. Satu-satunya cara untuk mengalihkan semua pikirannya ialah bekerja.
Ayana memutuskan untuk pergi ke St. Petersburg. Mencoba mencari berita menarik disana. Sayangnya sampai saat ini, dia belum menemukan ide apapun sebagai bahan risetnya. Namun yang membuatnya sedikit tertarik adalah sebuah lukisan yang berjejer disana.
Lukisan yang dibuat di atas kayu. Itulah souvenir bernama palekh. Tradisi melukis di atas kayu sendiri sudah ada di Rusia sejak abad 12, yakni di Desa Palekh, Kholuy, Mstyora dan Fedoskino.
Kini, lukisan Palekh sudah bisa ditemukan dengan mudah di sepanjang jalan-jalan di kota St. Petersburg.
"Ayana..."
Ayana menoleh kesumber suara yang baru saja memanggil namanya. "Pak Javier?"
"Sedang apa kau disini? Meriset?"
"Aku sedang mencari pemilik lukisan-lukisan indah ini," Ayana menunjuk beberapa lukisan disana.
"Aku tahu pemiliknya. Ikutlah denganku, kau bisa bertemu dengan pelukisnya langsung."
Ayana masih mematung ditempatnya. Ada sedikit keraguan didalam dirinya saat mendengar tawaran Javier.
"Tenanglah, aku tidak akan menculikmu."
Ayana tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Javier. Saat itu pula, senyuman mengembang diwajah Javier. Kali ini dia berhasil menggenggam tangan Ayana. Mungkin lain kali akan lebih dari ini.
Sebuah awalan yang bagus untuknya.
Javier juga memerintahkan asistennya Regan, untuk mencari tahu tentang suami dan kehidupan Ayana. Barangkali dia bisa menemukan hal menarik yang bisa membuat Ayana berpaling dari suaminya.
Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai ketempat tujuan. Ayana tidak menyangka bahwa dia benar-benar akan bertemu langsung dengan si pembuat lukisan.
"Halo paman Thom... "
"Oh haii, Orlando. Aku senang kau datang lagi kemari."
"Ayana, kenalkan ini paman Tom," Javier mencoba memperkenalkan Ayana dengan pria tua yang sedang sibuk dengan lukisannya.
"Ayana, Tuan... "
"Panggil saja paman Thom, seperti Javier."
"Baiklah paman Thom."
"Ayana, kau boleh mewawancarinya langsung. Aku akan menunggu disana," Javier menunjuk sebuah tempat yang memperlihatkan lukisan-lukisan besar.
"Baiklah Pak Javier."
"Sepertinya kalian sangat dekat," Thom mencoba membuka suara saat melihat cara Ayana memandang Javier. Padahal itu bukanlah apa-apa. Tapi entah apa maksud dari perkataan Thom tadi.
"Sepertinya tidak. Aku baru kemarin bekerja padanya."
"Dan dia memperlakukanmu dengan baik," tuduh Thom dengan pandangan anehnya.
"Aku rasa semua orang memang seperti itu. Kecuali suamiku,"
"Dia memang pria baik. Tidak salah jika kau memilihnya... "
"Oh maaf, sepertinya Anda keliru paman. Aku sudah menikah," Ayana menunjukkan jari manisnya yang sudah tersemat sebuah berlian indah.
Thom menatap heran.
Untuk apa Javier menyuruhku membantunya mendekati wanita yang sudah bersuami. Si brengsek itu memang aneh!