“Bu … darimana kita mendapatkan uang sebanyak ini? Dan … uangnya Ibu pakai untuk beli apa? Perabotan rumah Ibu biasa aja. Semua Elang yang belikan. Emas juga Ibu hanya pakai satu cincin dan itu pun Elang yang beli saat lebaran dua tahun lalu. Terus ini? Lima puluh lima juta uangnya Ibu pakai untuk apa?” lelaki berusia tiga puluh tahun itu terduduk pasrah di kursi ruang tamu ibunya. Secarik kertas tagihan berada di tangannya. Tagihan yang dia tidak tahu kapan ibunya meminjam dan ke mana larinya uang itu.
“Lang, Ibu’kan kreditin barang-barang sama tetangga kanan kiri. Awal-awal bayarnya pada benar. Jadi, Ibu pinjam ke Bu Rima, karena cepat cairnya. Kalau pinjam ke bank, Ibu harus pakai jaminan. Eh, malah orang yang kredit ke Ibu bayarnya pada susah. Ada yang kabur, ada yang ngeles mulu. Gak bisa ditagih pokoknya. Jadi, Ibu juga kredit macet bayarnya ke Bu Rima” jawab Bu Latifah tanpa berani menatap wajah anak lelaki satu-satunya.
Elang meremas rambutnya kasar. Kopi buatan ibunya yang selalu menjadi kopi terbaik di mulutnya, menjadi tidak menarik. Asap sudah tidak mengepul di atasnya, menandakan minuman itu telah dingin untuk beberapa jam lamanya. Bu Latifah mencuri pandang menatap anaknya. Ada perasaan bersalah menyelimuti hatinya, tapi wanita itu tidak punya pilihan. Elang yang selalu menghormati dan tidak pernah sekalipun membantah ucapannya. Pasti kali ini pun sama.
“Bu, Ibu tahu’kan kerjaan Elang hanya tukang servis AC, TV, dan kulkas? Semua masih menjadi tanggungan Elang, Bu. Darimana Elang bisa membayar utang Ibu lima puluh lima juta dalam waktu satu minggu. Jikalau mati pun, uang takziah dari tetangga belum bisa membayar utang Ibu yang sebanyak ini.” Elang merengek pada ibunya. Belum lama dia harus membayar sewa toko servisnya sebesar dua juta sebulan. Kontrakan ibu dan juga kontrakannya bersama istrinya. Biaya hidup lainnya, semua dia yang harus usaha. Lalu, apa yang harus dia lakukan? Merampok? Begal?
Bu Latifah menggigit bibirnya. Wanita itu juga nampak gelisah dengan memilin ujung baju batik yang dia kenakan. Untuk beberapa saat, tak ada satu pun dari keduanya yang bersuara. Wajah Elang pucat dengan bahu yang melemah. Kepalanya ia sandarkan di punggung kursi, seraya memejamkan mata.
“Begini, Lang. Bu Rima menawarkan solusi.” Seketika Elang duduk tegak. Memandang ibunya dengan tatapan penasaran.
“Apa itu, Bu?” tanya Elang. Lelaki itu menggeser duduknya agar lebih dekat dengan ibunya.
“Kamu menikahi Huri. Putri bungsu Bu Rima.” Suasana hening seketika.
“Ha ha ha … Saya jual diri untuk bayar utang Ibu? Astagfirulloh, Bu. Saya anak Ibu satu-satunya dan udah punya istri. Ada Kiya istri saya, Bu. Duh, Ibu … jangan aneh-aneh deh!” Elang masih tergelak sambil menggelengkan kepalanya. Tenggorokannya mendadak kering karena ucapan orang tua yang tidak masuk akal. Diraihnya cangkir kopi yang telah dingin, lalu diteguknya hingga tersisa ampasnya saja.
“Hiks … jika tidak bisa membayarnya dalam waktu sepekan, Ibu kamu dipenjara, Lang. Ya sudah, mungkin memang ini semua salah Ibu. Biar Ibu tanggung jawab. Kamu tidak perlu memikirkan keadaan Ibu.” Bu Latifah menangis ketakutan. Bukanlah hanya acting semata, tetapi benar-benar takut. Wanita itu tidak pernah memikirkan dampak dari perbuatannya yang lupa diri saat diberikan pinjaman dalam jumlah besar. Ketika dia tidak bisa membayar, pasti harus ada yang dikorbankan. Mungkin kebebasannya menghirup udara harus dia kalahkan.
“Ya sudah, kamu pasti capek. Pulanglah! Ibu besok biar ke kantor polisi menyerahkan diri. Tak perlu menunggu minggu depan. Toh, Ibu gak bisa bayar juga.” Bu Latifah bangun dari duduknya masih dengan isakan. Hati Elang patah. Tidak mungkin ia membiarkan ibunya yang single parent puluhan tahun mengurusnya seorang diri, harus berakhir di penjara.
“Bu ….” Elang bangun dari duduknya, menyingkap kain pembatas antar ruang tengah dan ruang depan kontrakan. Dilihatnya sang ibu masih terisak, duduk di atas kasur busa single yang tidak terlalu tebal.
“Pulanglah!” suara Bu Latifah semakin bergetar.
Elang mendekat dan memeluk Ibunya dari samping. Ia pun turut meneteskan air mata kesedihan.
“Bu … jika dengan menikahi anak Bu Rima adalah jalan terbaik, maka Elang bersedia, Bu. Elang gak mau Ibu masuk penjara.” Tangis lelaki itu pecah di pundak wanita yang telah melahirkannya.
Bersambung
Elang pulang ke rumah dengan pikiran kalut. Diparkirkannya motor di depan kontrakan, tanpa bertegur sapa dengan tetangga lainnya. Biasanya, sebelum masuk ke rumah, Elang pasti berbincang sejenak atau bertegur sapa dengan tetangga kanan dan kiri yang kebetulan berada di depan rumah mereka. Kiya melihat wajah suaminya yang muram begitu menginjakkan kaki di dalam rumah, langsung menyambut suaminya dengan senyuman hangat.
“Ada apa, Sayang? Kenapa wajahnya cemberut? Capek ya?” sapa Kiya sembari mencium punggung tangan suaminya. Wanita itu menerima tas ransel dari tangan suaminya, lalu menggantungnya di tempat biasa. Lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa bicara apapun. Kiya resah, hingga menghela napas berat beberapa kali. Sigap siapkannya minuman dan juga makan sore untuk suaminya. Suara keran air berhenti, begitu juga bilasan di dalam sana. Elang keluar hanya mengenakan handuk saja yang menutupi sebagian tubuhnya hingga pinggang.
Kiya masih setia menunggu suaminya sampai selesai berpakaian. Makanan dan minuman sudah dia hidangkan di ruang depan kontrakan. Tumis kangkung dan ayam goreng serundeng adalah menu favorit suaminya. Elang keluar dari kamar dan mendekat pada hidangan yang telah disiapkan Kiya. Biasanya, lelaki itu akan berbinar melihat menu kesukaannya, tetapi sore ini tidak.
Kiya kembali menghela napas berat dan semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi dengan suaminya. “kamu sakit, Bang? Kenapa dari tadi aku tanya, kamu diam saja? apa karena lagi-lagi aku datang bulan, sehingga harapanmu untuk punya anak dariku pupus?” cecar Kiya dengan suara bergetar. Saat tengah kedatangan tamu bulanan, emosinya memang tidak stabil dan mudah sekali marah. Ditambah suami yang bungkam saja begitu pulang dari bekerja, bertambah buruklah yang ada dalam pikirannya. Ini sudah tahun keempat mereka menikah dan belum juga dikaruniai buah hati. Kiya merasa sangat tidak nyaman jika suaminya berwajah masam, ia mengira itu semua karena dirinya.
Mendengar Kiya mencecarnya dengan kalimat penasaran dan juga seakan menuduh, Elang menghentikan kunyahannya, lalu menatap istrinya dengan perasaan amat bersalah. Bukannya di marah, hanya saja dia tidak tahu harus mulai darimana membicarakan kesulitan ibunya.
“Aku akan menikah lagi Kiya,” lirih Elang dengan suara tertahan. Bukannya kaget atau marah, Kiya malah terbahak mendengar ucapan konyol sang suami.
“Mana ada yang mau nikah sama kamu, Bang. Pasti wanita itu gak waras. Kita saja masih kekurangan. Pakai mau nambah istri. Jangan ngaco!”
“Ibu berutang pada Bu Rima lima puluh lima juta dan aku harus menikahi Huri, agar Ibu tidak dipenjara.”
“Apa? M-menikah lagi untuk membayar utang Ibu kamu? Ya Allah, Bang. Pokoknya aku tidak sudi dimadu. Aku tidak mau kamu menikah lagi. Tunggu, ini bukan akal-akalan kamu’kan, Bang? Bukan karena kamu menyukai Huri’kan?”
“Astaghfirulloh, Kiya! Aku lagi pusing, malah kamu fitnah tidak jelas. Aku juga bingung mau bayar utang Ibu bagaimana dalam waktu satu minggu. Aku juga tidak mungkin membiarkan Ibu dipenjara karena tidak mampu membayar utangnya.” Elang tidak jadi makan. Lelaki itu menunduk dengan berjuta beban pikiran di kepalanya.
“Bang, dengar! Ibu kamu sudah sering berutang dengan orang dan kamu kebagian bayar utangnya. Ibu kamu selalu menggampang semua, karena memiliki kamu anak yang penurut dan pasti membantunya dengan senang hati. Walaupun kamu sendiri masih kekurangan. Jadi, menurutku biarkan Ibu menerima efek jera dari perbuatannya.”
“Kiya! Jaga bicaramu! Aku akan tetap membela Ibu dan aku akan menikahi Huri. Terserah kamu mau setuju atau tidak!”
_Bersambung_
Hari sabtu ditentukan oleh Bu Rima, sebagai hari bahagia putri semata wayangnya. Huri, gadis cantik berusia dua puluh tahun itu sudah siap dinikahkan dengan Elang Herlambang;pria yang sudah beristri. Bukan hanya sebagian, tetapi semua tamu yang hadir pada acara akad pernikahan itu tentu bertanya-tanya, kenapa gadis cantik, muda, kaya, dan pintar, lebih memilih suami orang sebagai pendamping hidupnya. Bukan Bu Rima namanya, jika dia harus cepak-caoek menjelaskan sebuah alasan yang menyangkut kebahagiaan sang putri.
Kebaya putih sudah dikenakan Huri Hamasah dengan sangat anggun. Make up flawless sudah menyulap wajahnya yang memang sudah cantik, menjadi semakin cantik. Di depan cermin yang kanan kirinya dihiasi lampu besar, Huri memhat dirinya dengan takjub dan juga sedikit ragu. Bu Rima masuk ke dalam kamar anak gadisnya, lalu tersenyum begitu hangat.
“Calon suamimu sudah tiba. Pak Penghulu juga sudah siap untuk menikahkan. Ayo, kamu turun bersama Mama,” ujar Bu Rima lembut. Dibantu oleh dua orang sepupunya, Huri berjalan pelan menuju lantai dasar rumahnya. Semua mata memandangnya dengan takjub dan berdecak kagum. Huri bagaikan Tuan Putri yang baru turun dari kayangan. Sangat sempurna. Banyak tamu wanita yang iri, termasuk Kiya;istri pertama Elang. Wanita itu meremas gamisnya dengan erat. Dia benar-benar terbakar api cemburu. Madunya sangat cantik dan hampir sempurna. Dia menjadi ketakutan, bahwa Elang akan berpaling darinya. “Madu kamu cantik sekali ya. Elang begitu beruntung,” celetuk salah seorang tamu yang juga mengenal Kiya sebagai istri pertama Elang.
“Bagaimanapun cantiknya istri muda, tetap saja Elang itu nanti lebih cenderung ke saya,” balas Kiya dengan memberengut.
“Itu sudah pasti, tetapi bagi lelaki yang disuguhi madu murni yang halal, tentu dia takkan menolak untuk mencicipi, bukan? Saingan kamu sangat berat, Kiya. Bersiaplah!” ocehan ibu yang duduk di sebelahnya membuat Kiya jengah, sekaligus harus bersikap waspada. Namun dia yakin, Elang akan tetap hanya mencintainya sepenuh nhati dan takkan berpaling pada Huri, karena pernikahan ini didasari karena utang.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Huri Hamasah binti Ahmad Mursyid dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin emas lima gram dibayar tunai!”
“Sah.”
Dengan satu kali tarikan napas, Elang melafadzkan akad dengan sangat sempurna. Semua tamu mengnagkat tangan—memohon doa pada Sang Pencipta agar memberikan keberkahan pada pasangan pengantin yang baru saja sah di mata agama juga negara. Tangan Elang gemetar, saat menyingkap pelan selendang renda tile berwarna putih yang menutupi wajah Huri. Meskipun ia beberapa kali pernah melihat gadis ini, tetapi ia tidak begitu tegas dengan wajahnya. Baru hari ini, dengan mata terbelalak kaget dan ludah yang sulit tertelan, Elang mengakui di dalam hati, Huri istrinya, sangatlah cantik. Gadis itu masih menunduk malu, apalagi saat MC acara meminta Huri untuk mencium punggung tangan suaminya.
“Silakan dicium kening istrinya, Mas Elang,” seru MC lagi, hingga semua orang yang ada di sana tertawa. Jika hampir semua orang dapat bergembira dengan pernikahan ini, termasuk Bu Latifah, tetapi tidak dengan Kiya. Air matanya tidak berhenti mengalir saat suaminya dengan terang-terangan mencium kening Huri. Hati Kiya panas. Jika saja dia tidak memiliki mertua yang suka berutang, tentu sekarang ia tidak bernasib sial seperti ini.
Ciuman yang diberikan Elang di kening Huri memang sangat kaku dan terpaksa, tetapi sukses membuat lelaki itu hampir hilang keseimbangan. Dia belum bisa menelan nasi selama dua hari menjelang pernikahan. Masih gamang antara lanjut dan tidak. Tubuhnya memang sedikit lemas, tetapi ia harus bertahan karena acara sukuran masih berlangsung tiga jam lagi.
Keduanya duduk di pelaminan sederhana untuk menerima doa selamat dan ucapan suka cita dari para tamu undangan. Bu Rima dan Bu Latifah pun tersenyum amat lebar menyambut tamu-tamu mereka yang didominasi oleh kaum ibu-ibu. Hanya segelintir orang saja tamu laki-laki. Itu pun teman kuliah Huri dan juga sebagian kecil teman Elang.
“Abang pucat, apa Abang sakit?” Huri mengeluarkan suara merdunya. Elang tersentak dan menoleh dengan perasaan canggung. Lelaki itu menggeleng. Tanpa ekspresi atau senyuman sama sekali. Sesekali ekor mata Elang masih menangkap sosok Kiya yang duduk bersembunyi di balik tubuh tamu undangan yang kain, sambil sesekali menyeka air mata. Elang benar-benar merasa kasihan dan tidak tega dengan Kiya.
“Huri ambilkan minum ya?” tanpa menunggu persetujuan Elang, gadis itu mengambilkan gelas air mineral yang berada tidak jauh di meja kecil di belakang pelaminan. Menusukkan sedotan di permukaan gelas, lalu memberikannya pada Elang. Dengan canggung, Elang menerima air mineral dari tangan Huri. Tanpa sengaja, kulit tangan mereka bersentuhan dan itu membuat Elang sedikit tersentak. Bagaikan sengatan listrik saat dia tengah asik membetulkan televisi pelanggannnya. Elang tidak yakin, hatinya akan baik-baik saja kalau sudah begini.
Kamar pengantin sudah dihias dengan sangat cantik dan romantis. Aroma aneka bunga menyeruak menusuk hidung. Siapapun yang membaui aromanya pastilah merasakan sensasi akan keindahan malam pengantin. Huri sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, tetapi hingga setengah jam menunggu, suaminya belum juga masuk ke dalam kamar. Gadis itu duduk diam di atas ranjang yang bertabur kelopak bunga. Dengan telapak tangannya, ia mengusap kain selimut tebal itu dengan lembut. Lalu mengambil beberapa kelopak yang berserakan untuk dibawanya kepada hidungnya. “Ehm … harumnya,” gumam Huri sambil tersenyum tipis.
Cklek!
Huri terlonjak kaget dan reflex berdiri dengan kaku, saat melihat suaminyalah yang berdiri di depan pintu kamarnya. Huri tersenyum saat mata mereka saling pandang. Elang lagi-lagi hanya bisa menelan ludahnya. Lelaki itu berbalik badan untuk menutup pintu, sambil mengatur napas dan detak jantungnya yang sangat kacau saat ini.
“Bang, air hangatnya sudah saya siapkan. Mandi dulu ya, sebelum ….” Huri tamapka malu-malu melanjutkan ucapannya.
“Sebelum tidur,” sambungnya dengan menahan napas.
“I-iya, terima kasih,” ujar Elang dengan suara sangat pelan. Mungkin hanya dia saja dan bayangannya yang mampu mendengar ucapan itu. Elang berjalan cepat menuju kamar mandi, tanpa menoleh pada Huri.
“Bang … kalau saya ikutan boleh gak?” Elang terdiam di depan pintu. Wajahnya pucat pasi dan kakinya tiba-tiba seperti tak bertulang.
Bersambung