“Jangan terlalu keras padanya?” saran Andara, tetapi pria yang baru saja menikah itu seolah tidak mendengar apapun. Nathan masih sibuk dengan layar ponselnya. Dia mendengar tanpa minat semua yang Andara katakan padanya.
“Kalau kau memang peduli padanya, kau saja yang mengurusnya.” Putus Nathan dia sudah berdiri dan meninggalkan Andara sendiri.
“Yakin? Kau tidak akan menyesal karena dia akan lebih bergantung padaku?”
Nathan hanya mengibaskan tangannya tanda tidak peduli sama sekali. Dia meninggalkan Andara ke kamarnya karena dia harus bertemu dengan Cindy. Nathan naik ke lantai atas, mengabaikan Violetta yag ternyata mendengar semua yang mereka bicarakan.
“Seharusnya setelah ini kau menyerah Vio. Kita tidak ditakdirkan bersama. Sialnya aku tidak bisa menceraikanmu,” Gumamnya.
Nathan yang sudah menggunakan kemeja berwana navy pekat sudah berlari turun, sudah terlambat beberapa menit dan dia harus segera pergi. Di ruang tamu dia melihat Violetta dengan Andara yang berbicara dengan akrabnya.
Sesekali Vio tampak berbinar karena Andara memberikan semangat yang memang sangat dibutuhkan oleh penderita lumpuh sepertinya.
“Dasar wanita murahan!” kesal sekali Nathan karena meliha Violet yang begitu mudahnya tertawa pada pria asing.
“Andara … kau pulanglah! Besok kau kembali kalau memang berniat membawanya kerumah sakit.”
Keduanya berbalik. Violetta tahu kalau suaminya akan pergi menemui wanita yang tadi datang memeluk dan menciumnya. Hatinya sakit tentu saja, tetapi dia bisa apa? Jika mencegah sama saja akan mengantar nyawa. Selangi mereka tidak melakukan hubungan lebih Vio akan mencoba menerima. Menahan sakit sendiri asalkan suaminya bahagia.
Bodoh!
Dia memang bodoh sampai merelakan dirinya untuk mengganti nyawanya. Setahun yang lalu, dia yang akan kembali pulang dari kampusnya melihat pemuda yang selama ini mengisi hatinya hampir saja mengalami kecelakaan.
Violetta yang melihatnya tentu saja terkejut dan dengan bodohnya dia yang menumbalkan diri, mendorong jauh Nathan dan merelakan kakinya lumpuh. Sudah melakukan terapi tetapi terhenti saat biaya pamannya menipis dan berakhir melakukan kerjasama dengan orang tua Nathan yang katanya kerjasama bisnis.
Entahlah Violetta terlalu senang sampai melupakan bahwa dia tidak pernah di inginkan.
“Vio kau dengar! Masuk kamarmu!”
Violet menekan tombol kursi rodanya, “Dokter terima kasih.” Setelah mengatakan itu Violetta masuk kamar, menunduk karena tidak berani dengan tatapan tajam suaminya.
Andara bangkit dari duduknya dan menatap kasihan Violetta, Nathan menangkap tatapan itu langsung berdecak, “Jaga pandanganmu. Dia sudah bersuami.”
Andara hanya mengedikan bahu, “Kau beruntung mendapatkannya. Dia sangat cantik dan sangat ceria, aku menyuka –,”
“Tutup mulutmu atau kau tidak akan bisa bagun besok pagi.” Andara hanya berdecak. Dia menepuk pelan pundak temannya beberapa kali, “Besok aku akan kembali.”
“Sialah kau!!”
Nathan keluar dari rumah dengan perasaan kesal setengah mati. Kehidupannya berubah saat ayahnya tiba-tiba saja menjodohkanya dengan alasan tidak masuk akal. Sepanjang perjalanan menuju apareman miliki Cindy wajahnya tetap saja muram karena membayangkan kembali bagaimana Andara dan Violetta terlihat sangat menikmati kebersamaan.
“Sayang … kau kenapa?” tanya Cindy yang sudah mengalungkan tangan di leher kekasihnya.
“Tidak ada apa-apa.” Nathan memindahkan tangan Cindy dan duduk di sofa. Cindy yang tidak terima dengan penolakan Nathan langsung saja duduk di pangkuan kekasihnya dan kembali mengelunglan tangannya.
“Aku merindukanmu.” Bisiknya
Dia sudah mencium rahang Nathan dan tangannya sudah membuka satu persatu kancing baju sang kekasih. Nathan membiarkannya saja karena dia sudah sangat merindukan sentuhan.
Cindy mengalihkan ciumannya pada hidung mancung milik Nathan, turun lebih bawah hingga mencapai bibir sang kekasih. Nathan menyambutnya dengan senang hati, tentu saja, mereka saling mencintai tetapi gagal bersama karena pernikahan konyol yang ayahnya lakukan.
Nathan terjebak dengan pernikahan yang membosankan karena wanita yang menjadi istrinya lumpuh.
Semakin lama ciuman mereka semaki panas begitu pula gelombang hasrat keduanya, hingga pada akhirnya Cindy melepaskan pelukannya, baju yang Nathan pakai juga sudah terbuka- entah sejak kapan.
Pakaian tipis yang Cindy kenakan pun sudah tidak berbentuk lagi. “Sayang … aku ingin.” Cindy mengatakannya dengan tatapan sayu, dia malu tetapi juga tidak bisa menahannya.
Nathan adalah pria normal, di sugukan dengan hidangan pembuka yang menggiurkan sudah pasti membuatnya betah dan ingin menghabisi semuanya. Pria tampan dengan bentuk tubuh yang sempurna itu kembali mencium rakus kekasihnya, mengangkatnya dan akan membawanya ke kamar yang biasa mereka tempati.
Jantung Cindy sudah berdegup pencang, dia memikirkan apakah mereka akan melakukannya kali ini, dia merasakan Nathan sudah meletakkanya dengan hati-hati diatas ranjang meski matanya tertutup karena malu.
Sebentar lagi, dia akan merasakan keindahan itu. Mereka akan menyatu dan tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan meskipun pria itu sudah memiliki istri sekalipun.
“Sayang … kenapa berhenti?” tanya Cindy dia sudah melihat Nathan yang berdiri dan mundur selangkah.
“Tidak. Kita tidak bisa melakukannya.” Nathan berbalik dan meninggalkan Cindy. Namun bukan Cindy namanya jika tidak mendapatkan apa yang dia mau. Ini sudah setahun mereka menjalin kekasih tetapi mereka hanya melakukan ciuman tidak lebih.
“Sayang … kenapa kau selalu saja menghindariku?” Cindy sudah memeluk Nathan dari belakang.
Nathan melepas pelukan Cindy dan berbalik, “Aku harus kembali. Kau istirahat saja.” Nathan melewati Cindy. Pria itu memungut kemejanya yang sudah berserakan dilantai, gerakan tangannya terhenti saat Cindy menyebut nama Violet.
Nathan yang sudah kesal sejak awal karena wanita yang sudah menjadi istrinya itu berani tertawa bersama pria lain kini semakin kesal karena Cindy yang tidak tahu apapun menjelekkannya.
“Apa karena istri lumpuhmu itu kau menolakku?”
“Apa maksudmu. Kenapa membawa orang lain?” kata Nathan tidak terima Violetta dikatakan lumpuh walau benar adanya.
“Kenyataannya. Dia memang lumpuh. Aku tidak habis pikir kau mau menikahinya.”
Nathan memejamkan mata, dia tidak menyukai pembahasan ini. Menghela napas pelan dan memeluk Cindy, “Sayang … istirahatlah! Maafkan aku karena tidak bisa melakukannya, heum.”
“Kenapa? Kau tidak mencintaiku?”
Nathan hanya diam membuat Cindy yang sudah kesal mendorong tubuh kekasihnya menjauh.
“Pulanglah! Dia menunggumu.”
Nathan yang tidak bisa membujuk Cindy akhirnya meningalkan apertemen dengan perasaan kacau. Kepalanya di penuhi oleh tawa Violetta yang terlihat bahagia bersama Andara.
“Perempuan lumpuh sialan!!” sepanjang jalan Nathan mengumpat karena sangat kesal.
Sampai di rumah dia yang akan naik ke lantai atas mengurungkan diri kala melihat pintu kamar Violetta yang tidak tertutup.
“Apa dia sengaja memancing pria lain masuk ke kamarnya?"
Nathan melangkah pelan ke kamar istrinya, di dalam kamar dia melihat Violet yang tertidur di sofa lagi, wajah cantik tanpa riasan tidak membuat keindahan itu pudar melainkan semakin terlihat bersinar.
“Kau senang karena merusak kesenanganku?” tanya nya pelan pada wanita yang setia memajamkan mata.
“Jangan berharap kau akan bisa mengambil hatiku.”
Nathan berbalik, namun langkah terhenti saat mendengar gumaman Violetta-istrinya, Nathan berbalik dan melihat mata itu masih tertutup, artinya Violet mengigau.
“Nathan … kau jahat hiks.” Nathan yang namanya disebutkan lantas mematung karena melihat mata tertutup itu mengalirkan air di sudut matanya.
Hampir setengah jam Nathan berdiri disana mendengar semua apa yang Violet katakan untuknya. Nathan mencoba tidak peduli tetapi kenapa rasanya dia enggan beranjak, seolah memang dia ingin mendengar semua yang Violet keluhkan.
“Nathan … aku mencintaimu.” Setelah mengatakan itu Violet kembali memejamkan mata dan tidak terdengar lagi ocehan selain deru napas yang teratur. Nathan tidak bereaksi apapun. Wajahnya tetap datar dan dingin.
Lama berdiri disana, Nathan kembali membalikkan badan dan naik ke lantai atas di kamarnya, semalaman dia berdiri di balkon, niatnya yang ingin tidur rupanya tidak terjadi.
Sepanjang malam dia hanya berdiri memandang pekatnya malam. Ponselnya yang sejak tadi berdering tidak juga di hiraukan.
Dia mengingat kembali kenangan setahun yang lalu dimana dia yang di selamatkan oleh seorang gadis yang entah dimana keberadaannya saat ini. Menghela napas panjang Nathan kembali masuk ke dalam kamarnya karena udara sudah berubah sangat dingin.
“Gadis itu benar-benar membuatku kesal.” Nathan yang tidak bisa memejamkan mata karena mengingat Violet yang tertidur di sofa membuatnya kesal. Dia turun kelantai bawah dimana kamar mereka berada, ingin tidur sendiri nyata dia tidak bisa.
Di hadapan Violet yang sudah tertidur, Nathan mencoba mengangkat tubuh kecil itu dengan perlahan agar tidak membangunkannya, dan meletakkannya di atas kasur.
“Kau tahu. Kau membuat hidupku hancur.”
Nathan berdecak tetapi tetap membaringkan tubuhnya di sebelah Violet. Dan ajaibnya sebelumnya dia yang tidak bisa tertidur kini sudah memejamkan mata dengan mudahnya.
Pagi harinya, Violet yang sudah terbangun lebih dulu merasa ada sesuatu yang menindih perutnya, dia membuka mata dan melihat tangan kekar sudah melingkar disana.
Violet mengakat wajahnya perlahan dengan jantungnya berdetak kencang. Otaknya tidak biasa berpikir dengan baik karena pemandangan yang baru saja di lihatnya. Pria yang telah menguasai seluruh hatinya tengah tertidur dengan lelapnya dengan memeluk pinggangnya.
Violetta yang menantikan pemandangan ini sejak lama, sudah menyimpan dengan baik apa yang tersuguhkan di depan mata. Bibir tebal, hidung mancung dan bulu mata panjang. Bibirnya tersungging karena sosok bak malaikat ini sudah berada tepat di hadapannya.
“Apakah aku bermimpi?” ucapnya dalam hati.
Lama memandang wajah rupawan itu, Violet dengan cepat memejamkan mata kembali saat menyadari bulu mata Nathan bergerak. Dia berdoa semoga Nathan-suaminya tidak menyadari bahwa dia sudah lancang.
Nathan yang sangat terkejut karena mendapati dirinya yang memeluk Violet segera dengan sangat hati-hati menarik tangannya jangan sampai Violetta menyadari perbuatannya.
“Astaga, semoga saja Vio tidak menyadari.” Nathan menarik diri dengan pelan dan menghilang dari kamar sebelum Violetta menyadarinya. Di lantai atas Nathan berulang kali berdoa semoga Vio tidak tahu tindakan memalukan itu.
Setelah membersihkan diri Nathan turun ke lantai bawah karena mendengar suara yang tidak asing baginya, “Hai, selamat pagi Tuan muda Nathan.” Andara membungkuk sedikit dan tersenyum ramah pada tuan rumah.
“Ada apa? Apa aku memangilmu?” Nathan mengancing kancing lengan kemejanya, dia mendekati Andara, dia benar-benar lupa sesuatu.
“Sepertinya anda melupakan sesuatu.” Ucap Andara sudah duduk karena arahan dari Nathan.
Baru saja Andara akan mengingatkan kembali, Violetta muncul dengan penampilan sangat anggun. Dress sepanjang betis dengan warna mocca menamabah cantik penampilan Violetta yang memang memiliki karakter lembut.
“Selamat pagi, Dokter.”
“Selamat pagi, Nyonya, anda siap?” tanya Andara. Mengabaikan tatapan tidak ramah Nathan yang sudah mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Nathan berdehem membuat keduanya menghentikan perbincangan mereka. Violetta menghembuskan napas panjang lalu duduk sesuai arahan suaminya-Nathan. Andara memperhatikan Vioetta yang memakan sarapannya dalam diam, lalu melirik Nathan yang tidak terlihat senang sama sekali.
Selesai sarapan, Andara meminta izin pada Nathan karena harus membawa Violetta untuk melakukan pemeriksaan. Nathan yang suasana hatinya berubah mengabaikan ucapan andara dan berlalu begitu saja membawa mobilnya.
“Jangan hiraukan dia. Nathan pasti memiliki banyak pekerjaan yang menumpuk.” Andara mencoba meyakinkan, dia semakin iba pada Violet karena Nathan benar-benar tidak menghiraukan keberadaan istrinya.
“Apakah dia marah padaku.” Tanya Vio.
“Sudah ku katakan. Jangan hiraukan dia untuk sementara, fokus pada kesembuhanmu dan buktikan kalau kau bisa membahagiakan manusia aneh itu.” Violet mengerucutkan bibir karena suaminya di hina dengan kata aneh.
Andara tergelak, tidak menunggu lama dia membawa Violet ke rumah sakit, sebagai dokter jelas dia ingin pasiennya mendapatkan perawatan yang terbaik. Melihat kesungguhan Violet, dia semakin yakin bahwa kesembuhan akan terjadi dengan mudah atas takdir Tuhan.
Sampai dirumah sakit, Andara membawa Violet ke dokter saraf. Jantung Violet berdegup ini bukan pertama kali tetapi tetap saja rasanya tetap mendebarkan.
“Selamat pagi, Nona.” sapa sang Dokter yang Violet lihat namanya Diana.
“Selamat pagi juga Dokter, saya Violetta, bisa dipanggil Vio.”
Sang dokter menjelaskan apa saja yang harus dilakukan, semalam Dokter Andara sdah memberitahukan semuanya, jadi sekarang hanya pemeriksaan kemudian melanjutkan langkah-langkah apa yang harus Vio lakukan.
Ditempat yang berbeda, Nathan yang sudah sampai di kantor terlihat sangat gelisah, Cindy yang melihat itu lantas memeluk tuan sekaligus kekasihnya dari belakang. Cindy adalah sekertaris pribadi Nathan juga sebagai kekasihnya.
“Kau masih marah karena semalam?” tanya Cindy.
“Bukan karena itu. Bagaimana tidurmu nyenyak?” tanya Nathan basa-basi.
Cindy berdecak karena semalam dia tidak nyenyak sama sekali, “Bagaimana bisa aku tidur nyenyak, kau tidak memelukku seperti biasa.” Murung Cindy
Sebelum menikah Nathan memang sering menginap di apartemen Cindy, tidur bersama walaupun tidak melaukan hal lebih, selama setahun menjalin kasih, mereka hanya melakukan ciuman itupun sangat jarang karena terkadang Nathan menolaknya.
“Belajarlah mulai sekarang karena aku tida –,”
“Jangan katakan kalau kau tidak ingin lagi tidur dengan memelukku? Sebagai sepasang kekasih hanya itu yang bisa ku dapatkan darimu dan sekarang kau mencabutnya.” Protesnya.
“Sayang ….”
“Nathan. Aku kekasihmu. Kita saling mencintai, banyak orang yang sudah tidur bersama tanpa ikatan, dan kenapa kita tidak melakukannya?”
Nathan membeku dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bagaimana mungkin Cindy menginginkan hal tersebut sementara Nathan mencoba menjaganya selama ini.
“Cindy … aku tidak akan melakukan hal tersebut tanpa ikatan.” Kata Nathan. Mendiang Mamanya mengajarinya menjadi pria sejati bagaimana bisa dia menghianati kepercaan sang ibu.
“Kalau begitu nikahi aku.” putus Cindy.
“Kau gila? Bagaimana bisa kita menikah, aku sudah menjadi suami orang lain.”
“Aku tidak peduli. Nikahi aku atau kita berpisah.”
Cindy meninggalkan ruangan Nathan dengan perasaan kesal. Dia hanya ingin bersama Nathan selamanya tetapi kenapa harus ada drama menikah dengan perempuan lumpuh.
“Nathan. Bagaimanapun caranya aku akan memaksamu menikahiku.”