Alexa berjalan di belakang Rey saat masuk kedalam rumahnya. ada rasa bersalah dan tidak enak karena dari kantor polisi tadi sampai di rumahnya, dia hanya di diamkan Daddynya. Alexa sudah berusaha untuk mengajaknya berbicara tapi tetap saja Daddynya itu hanya diam dan mengacuhkannya hingga akhirnya Alexa pasrah dan diam.
" Mommy!" panggil Alexa sambil berlari menghampiri Elena saat melihat mommynya sudah berdiri menunggunya di ruang keluarga.
Elena tersenyum dan mengusap punggung putrinya yang sedang memeluknya." kamu tidak apa apa Sayang?" tanya Elena
Alexa mengangguk sambil melepaskan pelukannya pada mommynya." maafin Alexa Mom, Alexa janji nggak akan mengulanginya lagi."
" selalu saja janji seperti itu tapi tidak akan di tepati. Daddy sudah bosan mendengar janji mu Alexa." sahut Rey dengan kesal
Elena dan Alexa serempak menoleh ke arah Rey." untuk kali ini maafin Alexa Dad. Alexa janji tidak akan ikut balapan liar lagi " jawab Alexa
Rey duduk di sofa sambil menatap Alexa. " duduk Daddy ingin berbicara hal yang penting!"
Alexa dan Elena saling menatap sekilas lalu mengikuti perintah Rey mereka duduk bersebrangan.
" ada apa Dad?" tanya Alexa yang mendadak perasaannya jadi tidak enak
" Daddy sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan mu dengan anaknya teman Daddy. dia pebisnis muda yang sukses. dari keluarga baik baik dan terhormat seperti kita. bahkan keluarganya jauh lebih hebat dari pada keluarga kita. " ujar Rey sambil menatap Alexa
Alexa yang terkejut secara spontan langsung berdiri." nggak Dad. Alexa nggak mau di jodohin kayak gitu. Alexa masih muda dan masih kuliah juga Alexa belum siap untuk menikah." jawab Alexa dengan lantang.
" Alexa sabar Sayang, kita bicarakan ini baik baik." ujar Elena sambil menarik tangan anaknya agar kembali duduk
Alexa menoleh pada mommynya lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar dan kembali duduk di tempatnya semula.
" Mommy Alexa tidak mau di jodohin Mom. Alexa belum siap " rengek Alexa pada Elena berharap Mommynya mau membujuk Daddynya untuk membatalkan rencana perjodohan
Elena tersenyum pada Alexa ." dengarkan dulu maksud dan penjelasan kami sayang."
Alexa menghentikan dahinya menatap Elena." mommy tau kalau Alexa mau di jodohin?"
Elena mengangguk " Mommy dan Daddy sudah membicarakan ini sebelumnya, dan Mommy fikir ini adalah keputusan yang tepat dengan menjodohkan kamu dengan lelaki itu. kamu tenang saja sayang karena lelaki yang akan kami jodohkan itu sudah setuju dan seperti yang Daddy mu katakan kalau dia juga bukan orang sembarangan, dia baik dan soal fisik dia orang yang sangat tampan, kamu pasti bahagia kalau bisa menikah dan hidup bersama dengannya." jawab Elena
Alexa menggelengkan kepala dengan pelan menatap Mommynya." Alexa tidak mau menikah, tidak perduli mau seperti apapun dia. Alexa tidak akan mau. Alexa masih mau mengejar cita cita Alexa dulu. " ujar Alexa
" kamu tidak punya pilihan lain selain menerima perjodohan ini Alexa. keputusan Daddy sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat." sahut Rey
Alexa menoleh ke arah Rey dengan kesal." Daddy fikir Daddy itu hakim yang keputusannya tidak bisa di ganggu gugat. sudah lah pokoknya Alexa tidak mau menikah, Alexa mau ke kamar istirahat. Alexa capek." jawab Alexa lalu berdiri dan meninggalkan orang tuanya begitu saja
" lihat anak mu Mom, benar benar tidak punya sopan santun meninggalkan kita saat kita belum selesai bicara." kesal Rey yang sudah ikut berdiri dan berlalu meninggalkan istrinya sendiri
Elena hanya mendengus jengkel pada suaminya. selalu saja dia yang di salahkan kalau sudah menyangkut Alexa.
di sisi lain seorang pria tampan berwajah dingin dan datar sedang menatap tajam ke arah asistennya yang sedang berdiri di depannya.
" bukan kah aku sudah pernah bilang untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi ku kris!" bentak Bryan Adelois Bagaskara pada asisten pribadinya
kris hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap bosnya." maaf tuan, saya hanya menjalankan perintah dari tuan besar." jawab Kris sambil meraih botol minuman keras yang masih utuh dari meja kerja bosnya.
Kris segera berlari keluar ruangan bosnya sambil membawa botol minuman keras di tangannya. sebelum di amuk oleh bosnya.
Bryan hanya mengumpat kesal pada asisten pribadinya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya dan menatap ke arah langit langit dengan tatapan nanar dan sendu.
" Laura kenapa kamu meninggalkan aku dan pergi bersama dengan pria lain Lau? apa kurangku selama ini? aku begitu mencintai mu, tapi kenapa kamu meninggalkan aku ?" gumam Bryan sambil memejamkan matanya, hatinya masih sakit saat teringat dengan Laura mantan calon istrinya yang meninggalkannya begitu saja bersama dengan pria lain yang lebih kaya darinya dulu.
Bryan Adelois Bagaskara adalah pewaris tunggal kekayaan keluarga Bagaskara. pria berwajah tampan, bertubuh atletis, bertubuh putih, beralis tebal dengan rahang yang tegas yang menyempurnakan ketampanan seorang bryan Bagaskara.
pria tampan itu masih betah duduk sambil memejamkan matanya mengenang kenangan bersama mantan kekasihnya yang dulu sangat dia cintai bahkan dia rela meninggalkan keluarga dan segala kekayaannya hanya untuk bersama wanitanya.
Bryan masih ingat dengan jelas bagaimana perjuangan dan pengorbanannya hanya untuk Laura. saat dia meminta restu menikahi Laura pada kedua orang tuanya.
"flashback onn"
Bryan menggenggam tangan Laura dengan erat sambil menatap ke arah orang tuanya yang menentang hubungannya bersama dengan Laura.
" aku akan tetap menikahi Laura dengan atau tanpa restu dari Daddy " ujar Bryan dengan lantang
Ferdian Bagaskara memicingkan matanya menatap ke arah putranya Bryan." kalau begitu Daddy akan tarik semua fasilitas yang kamu punya Bryan, silahkan kamu keluar dari rumah ini dan hidup di luar sana tanpa kemewahan dan uang lagi dari Daddy." jawab Ferdian
Bryan menganggukan kepalanya Mendengar jawaban Daddynya dengan yakin, sementara Felicia mommynya sedang menangis mendengar suaminya mengusir putranya dari rumah, karena bagaimana pun Bryan adalah putra tunggalnya. tapi dia juga tidak bisa melakukan apa apa selain pasrah melihat putranya meninggalkan rumah.
Bryan menoleh ke arah Laura yang terlihat bingung. " ayo kita pergi dari rumah ini sayang, aku akan tetap menikah dengan mu walaupun tanpa restu dan uang dari orang tua ku " ujar Bryan sambil berdiri dan ingin meninggalkan rumahnya
" tunggu Bryan! " cegah Ferdian
Bryan tersenyum tanpa menoleh ke arah daddynya, " aku tau Daddy nggak mungkin bisa membiarkan aku pergi dari rumah ini." batin Bryan
" berikan dompet mu beserta semua isinya karena itu semua masih milik Daddy, dan juga tinggalkan kunci mobil mu. " sambung ferdian
Bryan mengepalkan tangannya ternyata pikirannya salah, karena Ferdian bukan berubah pikiran. dengan kesal Bryan merogoh kantongnya lalu kembali menghampiri orang tuanya dan menyerahkan dompet dan kunci mobil kesayangannya selama ini.
" suatu saat kamu akan menyesal sudah meninggalkan keluarga mu hanya untuk wanita itu. karena ucapan Daddy itu benar dia bukan wanita yang baik untuk mu." ucap Ferdian sambil menatap ke arah Bryan
Ferdian benar benar kecewa melihat sifat keras kepala anaknya, dia juga kecewa melihat anaknya terlalu membela wanita seperti Laura sampai dia rela meninggalkan semuanya hanya untuk Laura.
setelah Bryan menghilang dari pandangannya, ferdi langsung memeluk istrinya " tenang lah sayang Bryan akan kembali pada kita, dia tidak mungkin bisa bertahan terlalu lama di luar sana, dan mungkin saja hanya dengan cara ini yang bisa membuat Bryan sadar kalau Laura hanya mencintai harta dan bukan dirinya. " ucap ferdi
Felicia mengangguk sambil mengusap air matanya." ya aku juga percaya kalau Bryan pasti kembali Dad, mommy hanya tidak menyangka saja begitu besar rasa cintanya Bryan untuk Laura. sampai tega meninggalkan kita " jawab Felicia
di sisi lain setelah keluar dari gerbang rumahnya Bryan menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Laura yang sedari tadi hanya diam saja." apa yang kamu pikirkan sayang, kamu jangan khawatir kita pasti bisa melewati semuanya berdua." ucap Bryan memeluk Laura
Laura hanya menghela nafasnya dengan kasar sambil membalas pelukan Bryan.
" lalu kamu akan kemana sekarang Bryan? kamu tidak punya uang sepeser pun, bagaimana caranya kamu melanjutkan hidup mu? tanya laura sambil melepaskan pelukan Bryan
Bryan terdiam sebentar, sebenarnya dia juga bingung dengan nasibnya sekarang. " bagaimana kalau aku menginap dulu di apartemen mu Lau, dan setelah aku mendapatkan pekerjaan aku akan mencari tempat tinggal sendiri." jawab Bryan
Laura menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menatap Bryan" maaf Bryan bukannya gak boleh tapi kan gak baik kalau kita satu rumah belom ada ikatan" jawab Laura.
" baiklah kalau begitu aku bakal nginep di rumah temen ku dulu dan Minggu depan kita akan segera menikah saja biar bisa tinggal satu rumah." ucap Bryan
Laura tersenyum mendengar ucapan Bryan. dengan lembut Laura mengusap lengan Bryan." keadaan kamu masih seperti ini Bryan, lebih baik kamu fokus cari kerjaan dulu ajah untuk masa depan kita juga kan, setelah kamu cukup mapan kita baru fikirkan lagi soal pernikahan ya, jangan tersinggung karena ini juga demi kebaikan masa depan kita berdua nanti." jelas Laura.
Bryan mengangguk mengerti dengan ucapan Laura yang ada benarnya. setidaknya dia sekarang harus mencari pekerjaan dulu agar bisa menafkahi Laura dan keluarga kecilnya nanti
Laura tersenyum sambil merogoh dompetnya dan mengambil dua lembar uang untuk di berikan pada Bryan." kamu pakai ini buat naik taksi ke rumah teman mu dulu ya Bryan. maaf aku tidak bisa mengantar mu karena aku ada janji dengan teman ku." ucap Laura
Bryan memandang uang di tangannya sebenarnya dia gengsi juga menerima uang dari Laura tapi dia juga tidak punya pilihan lain selain menurunkan egonya.
---
setahun berlalu Bryan dengan susah payah mengumpulkan uang dan menabung demi menikah dengan Laura. walaupun dia harus sangat berhemat karena dia hanya bisa mendapatkan pekerjaan jadi pelayan restoran. walaupun pendidikannya tinggi tapi Ferdian selalu membuatnya gagal saat melamar pekerjaan di perusahaan entah besar ataupun kecil karena ferdian mengancam akan menghancurkan perusahaan yang berani menerimanya bekerja di perusahaan mereka.
Bryan masuk ke dalam apartemen Laura karena dia memang tau sandinya jadi dia bisa masuk begitu saja tanpa memberi tahu pada Laura dulu,, Bryan membawa seuntai bunga dan juga cincin untuk melamar Laura malam ini. dengan wajah yang bahagia akhirnya dia bisa melamar Laura setelah dia merasa pantas untuk kekasihnya.
Bryan mengernyitkan alisnya saat mendengar suara tidak biasa dari kamar apartemen milik Laura. perasaannya menjadi sangat tidak enak sekarang. dengan langkah pelan dan menajamkan pendengarannya Bryan membuka pintu kamar Laura yang tidak di kunci. dan apa yang dia lihat sekarang benar benar di luar dugaannya. hatinya terasa sakit sekali melihat ada seorang laki laki yang sedang ada di atas tubuh Laura.
" bajingan,, " geram Bryan sambil menghampiri ranjang Laura,
Bryan menarik tubuh lelaki yang sedang menikmati tubuh Laura. dengan membabi buta Bryan memukuli tubuh lelaki yang sudah berani menyentuh tubuh Laura.
lelaki itu terjatuh ke lantai saat Bryan memukulnya dengan sangat keras hingga dia kehilangan ke seimbangannya. belum sempat dia bangun dan membalas serangan Bryan, tiba tiba saja Bryan sudah berada di atasnya dan memukulinya tanpa ampun hingga matanya kabur dan akhirnya tidak sadarkan diri
" BRYAN BERHENTI !" pekik Laura sambil menutupi tubuhnya yang masih polos, lalu menghampiri Bryan yang sudah hilang kendali.
" lepaskan Bryan! dia bisa mati! " pekik Laura sambil menarik tangan Bryan. dan menoleh ke arah pria yang baru saja bercinta dengannya sudah tidak sadarkan diri
Bryan menghentikan pukulannya sambil menatap Laura dengan sorot mata tajam dan juga dingin.
" kamu itu kenapa hah?" geram Laura pada Bryan.
" kamu mengkhianati ku saat aku berjuang untuk bisa menikahi mu Lau?. apa kurang ku selama ini? aku sudah memberikan semua yang kamu mau dan aku juga sudah mengorbankan segalanya hanya untuk bisa bersama mu, tapi kenapa kamu mengkhianati ku!" ujar Bryan sambil mengusap wajahnya dengan kasar
laura tersenyum mengejek Bryan " ya kamu memang baik tapi kamu sekarang adalah pria miskin. aku tidak mau hidup susah bersama mu. dan dia yang sudah kamu hajar habis habisan itu adalah calon suami ku yang punya segalanya dari pada kamu Bryan. " jawab Laura sambil menatap mata Bryan Nyalang dan penuh kemarahan
Bryan mengangguk sekali pun dia merasa sangat sakit hati dengan ucapan Laura tapi dia sekarang sadar kalau omongan orang tuanya memang benar kalau Laura hanya mencintai uangnya dan bukan dirinya. dengan kesal dan marah Bryan keluar dari kamar Laura begitu saja sambil membanting pintu dengan sangat keras.
" flashback off "