'Ahh … apa yang terjadi padaku?' gumam Scarlett seraya melepaskan beberapa kancing bagian atas kemeja putihnya.
'Kenapa tubuhku terasa panas …?'
Beberapa saat yang lalu, Scarlett memiliki janji untuk bertemu dengan ibu tirinya di ruang VIP Restoran Timur. Namun, karena wanita itu terlambat, Scarlett pun memutuskan untuk lebih dulu memesan minuman guna menemaninya melewati waktu.
Tetapi, alangkah terkejutnya Scarlett ketika dia merasakan suhu tubuhnya meningkat dan pandangannya membuyar usai meneguk minuman tersebut. Tanpa perlu berpikir panjang, Scarlett pun sadar.
Astaga ternyata dia dijebak!
Merasa lemas, kepala Scarlett pun lunglai ke atas meja namun dia masih tersadarkan diri.
Di waktu yang bersamaan, pintu ruang VIP pun terbuka.
Seorang lelaki tua botak dengan parfum menyengat datang bersama dengan seorang wanita paruh baya.
"Nyonya Piers, sesuai ucapanmu, putrimu sangat cantik!"
Mendengar nama yang disebut sang pria, Scarlett tersentak. Itu adalah nama ibu tirinya!
"Tentu, Tuan Frans. Bagaimana mungkin aku membohongimu?" ucap Lauren Piers, ibu tiri Scarlett dengan nada suara melantun. "Jadi, apakah kesepakatan kita tetap berjalan?"
Tuan Frans mengangguk cepat. "Tentu saja! Aku akan menghapus semua utang perusahaanmu selama si cantik ini bisa menikah denganku walaupun aku seorang duda ber-anak lima." Dia menambahkan, "Aku juga ingin memilikinya malam ini juga!"
"Tidak masalah, Tuan Frans. Jonathan tidak akan keberatan. Kami sudah sepakat untuk menuruti semua keinginanmu selama utang perusahaan bisa dianggap lunas," balas Lauren dengan keji.
Mendengar ucapan pria botak tua itu, Scarlett bergidik. Jadi, bukan hanya sang ibu tiri, tapi ayahnya sendiri juga ingin menjual Scarlett ke pria duda ber-anak lima demi membayar utang perusahaan!?
Keterlaluan!
Mata Scarlett berkaca-kaca, hatinya terasa panas. Dia ingin sekali marah, juga berteriak.
Kenapa? Kenapa orang tuanya tega melakukan hal ini padanya?
Apakah masa depan dan kesuciannya tidak berarti bagi kedua orang tuanya sampai mereka menjualnya demi membayarkan utang?
Saat air mata hampir luruh dari matanya, Scarlett dengan cepat menahannya. Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap tenang guna mencari cara lepas dari situasi ini, bagaimanapun caranya!
Tepat saat memikirkan hal itu, Scarlett mendengar adanya dua orang lain memasuki ruangan.
"Bawa dia ke lantai 20, presidential suite. Sebuah kamar sudah kupesan untuk menikmati malam dengan gadis cantik ini," ujar Tuan Frans seraya mengusap wajah Scarlett, membuat gadis muda itu jijik.
"Baik, Tuan."
Setelah mengatakan hal itu, dua pengawal tersebut membopong tubuh Scarlett dan keluar dari ruangan, meninggalkan Tuan Frans dan Lauren yang Scarlett lihat tampak ingin menyelesaikan kesepakatan mereka dengan menandatangani sebuah kontrak.
Masih berpura-pura tidak sadarkan diri, Scarlette menutup matanya rapat-rapat, tapi telinganya waspada. Dia mendengarkan percakapan mereka.
“Sekali lagi, pria cabul itu mendapatkan korbannya," kata salah satu pria di sebelah kanan Scarlett.
“Kalau bukan karena aku perlu uang, tidak akan aku tega membiarkan gadis seperti ini dirusak masa depannya …," sahut pria yang lain.
"Mau bagaimana lagi? Namanya bawahan. Kita bisa apa? Sudah, jangan berpikir terlalu banyak! Kerjakan saja tugas kita!"
Kedua pria itu pun membawa Scarlett menelusuri lorong hotel, sampai akhirnya mereka berhenti di depan lift. Tidak ada orang yang melewati mereka, membuat pekerjaan dua pria itu menjadi lebih mudah.
Sampai akhirnya, pintu lift itu pun terbuka. Dua pria itu menyeret Scarlett masuk dan menekan tombol lantai 20.
Tepat ketika pintu lift hampir tertutup, Scarlett langsung membuka matanya. Dengan segenap kekuatan yang ada, dia menarik tangannya lepas dan mendorong kedua bawahan sang pria tua mesum sampai menabrak tembok lift.
"Ugh!" Lenguhan kabur dari dua pria itu Ketika merasakan nyeri pada punggung. Ketika membuka mata, salah satu pria itu berseru, "Hei! Jangan kabur!"
Cepat-cepat dua pria itu berdiri dan mengejar, tapi di saat itu, mereka malah menabrak pintu lift yang menutup.
“Sial!” maki salah satu pria seraya langsung menekan tombol lantai terdekat, berniat turun agar bisa langsung mengejar gadis yang kabur itu.
Sementara itu, walau berhasil lepas dari jerat dua pria tadi, Scarlett tidak hanya berdiam diri. Dia langsung berlari melewati lorong gelap untuk meninggalkan hotel dengan sisa-sisa kesadaran yang dia miliki.
Namun, tiba-tiba, Scarlett menabrak suatu hal yang keras.
BRUK!
"Ah!" Teriakan keras keluar dari bibir Scarlett ketika merasakan keseimbangan tubuhnya goyah dan dia mulai terjatuh ke belakang.
Tepat pada saat itu, sebuah tangan kekar melingkari pinggang Scarlett, membuat gadis itu terkesiap lantaran seperti ada listrik yang menyengatnya, bukti efek obat masih belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya.
Mengira yang menangkapnya adalah bawahan lain Tuan Frans, Scarlett meronta keras. "Lepaskan aku! Lepaskan aku!!"
“Jika aku jadi kamu, aku akan berhenti membuat keributan …”
Scarlett membeku.
Suara pria itu sangat mempesona, dalam dan dominan, layaknya seorang raja yang menurunkan perintah yang tak boleh dilawan. Hal tersebut membuat Scarlett segera menuruti kata-katanya.
Di saat itu, aroma segar maskulin menyeruak masuk ke dalam hidung Scarlett. Dia mengenali parfum ini, parfum berkualitas tinggi dengan harga selangit yang sering digunakan kenalannya.
Tak cuma itu, mata Scarlett samar-samar melihat keberadaan jam tangan Patek Philippe melingkar di pergelangan pria tersebut, membuat Scarlett yakin … pria ini bukanlah bodyguard Tuan Frans!
Menyadari hal tersebut, Scarlett langsung menengadah dan waktu pun seakan berhenti untuknya. Sepasang manik sehitam obsidian tampak menatapnya tajam, dengan hidung mancung dan rahang tegas, Scarlett patut mengakui bahwa pria di hadapannya begitu tampan!
Merasakan kelegaan karena menyadari pria di hadapannya bukan bodyguard Tuan Frans, tubuh Scarlett melemas dan dia pun hanya bisa pasrah berada dalam pelukan pria tersebut.
Dengan tenaga yang tersisa, Scarlett berbisik, “T-tolong aku tuan!"
Setelah itu, kegelapan pun menelan kesadarannya.
Melihat gadis dalam pelukannya tidak sadarkan diri, pria berjas abu-abu itu terdiam. Dia pun meletakkan kepala Scarlett ke bahu kanannya dan meraih ponselnya untuk menelepon seseorang.
“Siapkan mobil di pintu belakang. Kita akan pergi ke rumah sakit sekarang juga!….”
Setelah mengakhiri panggilan, pria itu pun menggendong tubuh Scarlett, lalu meninggalkan lantai tersebut.
Di rumah sakit.
Ketidaknyamanan yang luar biasa di tubuhnya membangunkan Scarlett.
Dia perlahan membuka matanya, tapi cahaya terang di langit-langit menyilaukan matanya. Dia menyipitkan matanya, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya.
Namun, menggerakkan tubuhnya sedikit saja sudah membuatnya meringis pelan. Rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya tak tertahankan. Betisnya kencang, kepalanya sakit parah, seperti baru saja dipukul kepalanya menggunakan benda keras.
'Di-Dimana aku?'
Kenangan terakhir di benak Scarlett; dia mencoba melarikan diri dari rencana jahat ibu tirinya. Dan yang paling menyedihkan adalah ayahnya juga terlibat. Ini kedua kalinya dia disakiti oleh ayahnya, sejak ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita sialan itu, Lauren.
Sejak Scarlett remaja, dia menghindari Lauren. Ia memilih meninggalkan pulau ini untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Tapi entah kenapa, wanita sialan itu masih membencinya; sayangnya, ayahnya sepertinya terpengaruh olehnya. Seolah-olah ayahnya tersihir oleh wanita itu. Dan dia selalu setuju dengan apa pun yang dia lakukan pada putrinya sendiri.
Setelah kembali ke negara W ini, Scarlett mengira ibu tirinya akan berubah. Tapi dia salah. Wanita itu menyambutnya dengan rencana besarnya yang tak tahu malu.
Betapa jahatnya!
Sekarang, Scarlett menjadi yakin dengan keputusannya; dia tidak akan kembali ke pulau ini lagi. Akan lebih baik baginya untuk tinggal sendirian di Ibu kota daripada berada di sini dan menerima rencana tak tahu malu mereka untuk memanfaatkannya untuk melunasi hutang perusahaan mereka.
Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Namun, kini dia menghadapi masalah besar. Ia masih ingat ibu tirinya yang tidak tahu malu itu sudah menyiapkan formulir akta nikah. Dia takut wanita itu akan memalsukan tanda tangannya dan memproses dokumen tersebut.
Brengsek!!
Seketika, kepalanya terasa seperti berputar—Dia melihat sekeliling.
Dia terkejut ketika menyadari bahwa dia terbaring di ranjang rumah sakit dengan mesin medis yang tampak asing di dekat tempat tidurnya.
'Mengapa aku berakhir di sini?'
Scarlett mencoba untuk bangun, tetapi selang infus menghentikannya sejenak. Ia kembali berbaring di tempat tidur, namun secara bersamaan, matanya menangkap sosok pria yang berdiri di dekat jendela kaca dengan punggung menghadap ke arahnya.
Setelah mencoba mengingat siapa pria itu, tiba-tiba dia menyadari warna jasnya, sama dengan warna pria yang menutup mulutnya di atap hotel Beachfront.
Apakah Itu dia!?
Tanpa disadari, suara lembut seraknya keluar dari bibirnya yang kering, “H-Halo, permisi…” hatinya bergetar saat melihat pria itu menoleh ke arahnya.
Wajah pria itu tampak gagah dan awet muda. Meski begitu, aura yang terpancar dari mata biru safirnya menandakan bahwa ia memiliki banyak pengalaman hidup.
Dilihat dari pakaiannya, dia yakin pria ini memiliki posisi penting di sebuah perusahaan besar. Dia jelas bukan pegawai biasa. Dia memakai barang-barang mahal.
Scarlett tidak bisa mengabaikan hatinya yang sedikit bergetar saat melihat kaki panjangnya melangkah ke arahnya. Jarak diantara mereka menjadi semakin dekat. Dia bisa dengan jelas melihat rahangnya yang kuat. Ada janggut tipis yang terpangkas rapi yang membuatnya semakin gagah dan misterius. Rambutnya disisir rapi ke belakang, membuatnya tampak seperti CEO muda yang biasa dia lihat di drama. Pria tampan sempurna yang pasti dipuja banyak wanita.
Siapa orang ini? Kenapa dia tidak pernah tahu ada pria tampan di negara W?
“Nona Piers, saya dapat membantu Anda!” Nada ramahnya membuat Scarlett berhenti menatap wajahnya. Dia mengalihkan pandangannya, berusaha menyembunyikan rasa malunya, tetapi kemudian dia menyadari pria ini memanggil namanya.
Dia terkejut.
"Kau tahu namaku?"
Scarlett bertanya sambil mencoba untuk duduk agar dia bisa berbicara dengannya dengan nyaman. Namun, sebelum dia bisa duduk dengan benar, pria itu mendekatinya, membuat Scarlett terkejut.
Tubuh mereka begitu dekat sehingga dia bisa mencium aroma khasnya. Dia tetap tidak bergerak karena takut wajah mereka akan menyentuh satu sama lain. Setelah pria itu selesai menyiapkan tempat tidurnya dan meletakkan bantal di belakangnya, dia tersenyum.
“Terima kasih…” kata Scarlett dengan nada yang lembut.
Kesan pertamanya melihat pria ini; dia tampak pendiam dan sulit didekati. Tapi, rupanya, apa yang baru saja dia lakukan, membuatnya sedikit mengubah pandangannya tentang dia; pria ini adalah seorang pria sejati.
Pria itu tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengangguk.
Scarlett terkekeh dalam hati melihat pria ini kembali menjadi pria pendiam dan dingin lagi.
“Bagaimana kamu bisa tau namaku?”
“Dari KTP-mu. Soalnya aku membutuhkannya untuk menerimamu berada di rumah sakit ini.”
"Jadi kamu membuka tasku, begitu?”
"Ya. Aku tidak ada pilihan lain. Aku minta maaf jika itu lancang.”
"Tidak masalah. Aku bisa mengerti. Dan terima kasih telah membawaku ke sini.” Scarlett tersenyum sebelum melanjutkan, “Sebelumnya, saya ingat dengan jelas bahwa Anda mengatakan Anda dapat membantu saya. Jika saya boleh bertanya, bantuan apa yang ingin Anda tawarkan?” Dia bingung tentang hal itu.
“Tentang rencana pernikahanmu…”
Seketika wajah pucat Scarlett perlahan menghitam mendengar perkataannya. Apa yang terjadi di Beachfront Hotel kembali terlintas di benaknya dan menyiksanya.
Masalahnya dengan orang tuanya belum terselesaikan. Dia harus menyelesaikan ini secepatnya, jangan sampai ibu tirinya yang tidak tahu malu itu mendaftarkan pernikahannya tanpa persetujuannya – dia tahu wanita sialan itu cukup pintar untuk melakukan hal seperti itu.
Dia melihat jam tangannya dan terkejut karena saat itu sudah jam 1 pagi. Dia sudah tertidur cukup lama di rumah sakit, dan pria tampan ini masih bersamanya.
Dia benar-benar sangat baik!
“Kamu berbicara terlalu keras, jadi aku mendengar semua yang kamu katakan!” Nada suaranya tenang.
Scarlett benar-benar terdiam. Dia bisa menafsirkan kata-katanya; 'jangan salahkan aku karena menguping masalahmu….'
Astaga, orang ini! Dia pria yang baik, tapi sikapnya agak aneh.
“Bagaimana kamu bisa membantuku keluar dari masalah tak tahu malu ini?” Scarlett tak lagi malu membicarakan masalah keluarganya dengannya.
"Menikahlah denganku!"
"Apa!? M-Menikah denganmu?”
Scarlet tidak bisa menahan keterkejutannya. Matanya tajam padanya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Apakah pria tampan ini ingin menikahinya?
Dia sudah lama tidak kembali ke negara ini, jadi dia merasa bingung.
Apakah terjadi pergeseran budaya di negeri ini?
Saat ini sangat mudah untuk meminta seseorang menikah. Tidak perlu lagi saling mengenal, apalagi berkencan. Minta saja orang secara acak untuk menikah, sama seperti pria ini.
Astaga!
Dia tidak bisa berkata-kata.
"Bagaimana?!"
"Tunggu! Tuan… tuan… ”
“Xander. Panggil aku Xander.”
Scarlett menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlalu bingung dengan apa yang terjadi padanya.
"Tn. Xander…”
“Tidak perlu menggunakan Tuan, cukup Xander.”
Baiklah, terserah!
“Xander, maaf saya ingin bertanya. Apakah kamu mabuk? Bagaimana kamu bisa meminta wanita sembarangan untuk menikah denganmu?”
Pria ini sangat tampan dan sepertinya juga cukup kaya. Memang banyak wanita yang rela melemparkan celana dalamnya ke arahnya. Tapi kenapa dia begitu putus asa untuk mengajaknya menikah dengannya? Padahal mereka baru saja bertemu.
Scarlett hanya tahu namanya. Dia tidak tahu di mana dia bekerja. Dimana dia tinggal dan dari keluarga mana dia berasal?
Hanya orang gila yang mau menerima tawarannya. Dan saat ini, dia tidak termasuk dalam kategori itu. Pikirannya masih waras.
“Tolong jangan salah paham. Aku hanya berusaha membantu diriku sendiri. Dan pada saat yang sama membantumu.”
Scarlett semakin bingung.
“Saya tahu masalah saya rumit. Tapi, menurutku menikah dengan pria yang baru kutemui, tanpa cinta, terasa aneh…” ujarnya.
“Ini bukan pernikahan sungguhan, melainkan pernikahan kontrak yang bisa Anda atur demi keuntungan Anda. Dan juga milikku.”
Scarlett mendengarkan dalam diam; di dalam, dia terkejut dan sedikit bingung.
Xander menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap mata Scarlett. Dia melanjutkan, “Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya akan membantu Anda, dan pada saat yang sama, Anda akan membantu saya. Saya tidak perlu menjelaskan apa masalah saya. Tapi, saya jamin, jika Anda setuju untuk menikah kontrak dengan saya, maka masalah Anda akan teratasi. Jadi apa yang Anda pikirkan!?"
Scarlett tidak terburu-buru untuk berbicara. Dia perlahan mengangkat kepalanya dan berkata, “Jadi saya bisa memasukkan klausul apa pun yang saya inginkan ke dalam kontrak?”
Pria itu mengangguk dan berkata, “Selama itu tidak menyakitiku.”
Scarlett menawarkan jabat tangan kepada Xander, “Oke. Anda mendapat kesepakatan!”
'Kamu mungkin mengira aku gila, tapi tidak apa-apa. Saat ini, saya benar-benar kehilangan akal. Lebih baik aku menikah selama satu tahun dengan pria yang tidak kukenal daripada menjadi istri selamanya dari orang tua mesum seperti Pak Frans! Dan syukurlah laki-laki itu juga tampan.'
Pernikahan kontrak satu tahun? Oke aku akan jalani!!
Scarlett memutuskan untuk menerima tawaran Xander. Itu hanya pernikahan kontrak, dan dia bisa mengaturnya, jadi tidak ada hubungan cinta dan pernikahan yang terlibat. Hanya pernikahan di atas kertas. Tidak merugikan dirinya sendiri atau orang lain.
Meski kini sudah hampir subuh, Scarlet dan Xander masih terlihat segar. Sekarang, keduanya duduk di area tempat duduk membicarakan tentang kontrak pernikahan – syarat dan ketentuan.
“Sekarang, biarkan aku mendengar syarat dan ketentuanmu!” Scarlett berkata sambil tersenyum pada Xander, yang duduk di seberangnya.
Pria ini menjadi semakin menawan setelah melepas jasnya. Dia hanya mengenakan kemeja slim-fit berwarna putih—dia menggulung lengannya hingga siku.
Mata Scarlett tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat melihat lengan kuat pria itu. Dia diam-diam menelan sambil mencoba menenangkan pikirannya yang berisik.
'Tenanglah, Scarlett! Pria ini tidak menarik… Pria ini jelek!' Dia sibuk mengeja pikirannya agar tidak tersihir. 'Brengsek! Sulit untuk tidak jatuh cinta pada pria seperti dewa seperti Xander!'
Scarlett sedikit gemetar dan mengalihkan pandangannya ke langit gelap di luar.
Xander tak sadar kalau gadis di seberangnya sedang mengintip ketampanannya.
Sebentar....
Scarlett mendengar suara menawan Xander, membuatnya menoleh ke arahnya lagi.
“Saya punya tiga syarat. Pertama, akad nikah ini hanya berlaku selama satu tahun. Setelah satu tahun, kami akan bercerai, dan Anda bebas melakukan apa pun yang Anda inginkan. Jangan khawatir, kamu akan mendapatkan sejumlah uang dan harta benda setelah kita bercerai.”
Scarlett “…”, dia tidak membutuhkan uangnya. Tetapi jika dia bersikeras untuk memberikannya, dia akan dengan senang hati menerimanya.
“Kedua, tidak akan ada romansa di antara kita, artinya kita akan tidur di kamar yang berbeda meskipun kita tinggal serumah. Tapi, di depan umum, kami harus terlihat seperti suami-istri.”
Scarlet mengangguk. Dia tidak mempermasalahkan hal itu.
“Dan yang terakhir, kamu tidak bisa memiliki kekasih selama satu tahun kita menikah. Apa kamu setuju?"
"Setuju!" Dia terlalu malas untuk memulai suatu hubungan; pekerjaan seperti itu menyita terlalu banyak waktunya.
"Sempurna!" Xander tidak menyangka gadis ini begitu mudah diajak bicara.
"Bagaimana denganmu? Apa saja yang ingin Anda masukkan ke dalam kontrak?” Matanya menatap tajam pada Scarlett, mengantisipasi permintaannya. Gadis ini pasti punya banyak permintaan kan?
"Hanya satu hal. Selama kita menikah, saya ingin tetap bekerja….” Dia akan sibuk dalam beberapa bulan ke depan. Dia memiliki banyak proyek baru yang siap diselesaikan. Dan seperti yang terjadi sebelumnya, dia bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di kantornya.
Xander kaget mendengar gadis ini hanya punya satu permintaan. Dia terlihat berbeda dari kebanyakan gadis yang pernah dikenalnya.
"Tentu saja silahkan, hm, apakah ada tambahan?"
“Hmm tidak… itu saja!” Melihat Xander tampak terkejut dengan persyaratannya, Scarlett ragu-ragu.
Apakah dia salah bicara? Haruskah dia meminta banyak uang padanya atau apa?
“Kenapa kamu terlihat terkejut?” Scarlett bertanya.
"Tidak ada apa-apa! Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya. Lalu, mengenai masalah keluargamu, aku akan menyelesaikannya. Anda hanya perlu pindah bersama saya ke ibu kota.
Ouhh, jadi Xander dari Cloudfort!?
Scarlett tidak bisa menyembunyikan betapa bahagianya dia, mengetahui bahwa Xander juga menetap di ibu kota. Secara kebetulan, dia memutuskan untuk tinggal di Cloudfrot setelah menyelesaikan studinya di Massachusetts Institute of Technology.
Dia telah mendirikan kantor barunya sejak awal tahun, dan beberapa hari yang lalu, dia mendapat kabar bahwa kantor tersebut sudah siap. Dia tidak sabar untuk berangkat kerja. Setelah sebulan libur di pulau ini, jari-jarinya terasa kaku.
“Kamu tidak keberatan pindah ke sana, kan?”
Scarlett menggelengkan kepalanya, “Kebetulan, saya mendirikan kantor saya di sana jauh sebelum kejadian tak tahu malu ini. Jadi kebetulan kamu juga ternyata berasal dari sana.” Dia tertawa kecil.
Xander mengangguk. Jadi semuanya sudah beres sekarang. Dia hanya perlu menelepon seseorang untuk mengatur segalanya.
“Apakah ada hal lain yang ingin kamu tanyakan?”
Scarlett enggan bertanya, tapi pertanyaan ini mengganggunya sejak saat itu. Dia harus mengklarifikasi hal ini sebelum mereka benar-benar menikah.
“Hmm… adaa.”
"Apa itu?"
“Apakah kamu…” Scarlett meremas tangannya, khawatir pertanyaannya akan menyinggung perasaannya. “Apakah kamu…semacam….penguasa organisasi kriminal bawah tanah?”
“A-Apa!?” Xanders hampir tersedak. Bagaimana mungkin gadis ini mengira dia adalah raja mafia?
Baru kali ini ia bertemu dengan wanita yang tak dikenalnya, padahal wajahnya kerap menghiasi majalah-majalah televisi dan bisnis Tanah Air.
Apakah dia benar-benar tidak pernah membaca berita di negeri ini? Dia meragukannya.
Sepertinya dia harus menerima lebih banyak tawaran wawancara eksklusif.
Xander membuat catatan di benaknya, untuk mengingatkan asistennya agar menelepon media besok—Sepertinya media perlu bekerja keras.
Mendengar perkataan gadis kecil ini, agak menyakiti hatinya.
Xander berdehem sebelum memuaskan keingintahuan gadis ini, “Aku bukan penguasa bawah tanah. Saya hanya seorang pengusaha, pengusaha yang sah. Anda dapat mencari nama saya di Google jika Anda ingin tahu tentang saya.”
'Gadis bodoh!! Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri di depannya!' Scarlett hanya bisa memarahi dirinya sendiri dalam pikirannya. Dia melontarkan senyum menawan terbaiknya untuk menunjukkan betapa menyesalnya dia karena menuduhnya sebagai Tuan Mafia.
“Maaf…” katanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Bibir Xander sedikit melengkung membentuk setengah senyuman. Matanya masih tertuju padanya, "Nona Scarlett, ini sudah larut malam, kamu harus tidur lebih banyak." Dia berhenti ketika dia melihat gadis itu mengangkat tangannya seolah menyuruhnya berhenti bicara. Dia mengerutkan kening.
“Xander, aku memanggilmu dengan namamu, tapi kamu masih memanggilku seperti itu?” Senyum tipis muncul di wajah Scarlett. “Aku yakin usia kita hanya terpaut satu tahun, kan? Jadi, tidak perlu menggunakan 'nona' sebelum namaku….”
Xander berdehem sebelum berkata, “Yah, aku lebih tua darimu. Hanya saja Tuhan memberkati saya dengan wajah yang terlihat awet muda.”
Scarlett, “…”
“B-Berapa umurmu? Haruskah aku memanggilmu kakak?” Seketika itu juga dia merasa tidak sopan memanggilnya dengan menggunakan namanya. Selama ini, dia mengira usia mereka hanya terpaut satu tahun.
“Bulan depan, umurku 28.”
'Astaga! Terpisah 5 tahun. Tapi pria ini masih terlihat sangat tampan! Ya Tuhan, kamu terlalu menyayanginya!!'
“Scarlett, besok aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu. Dia akan mengantarmu pulang. Kamu bisa berkemas dan menyelesaikan dendammu dengan ayahmu. Sedangkan untuk urusan perusahaan ayahmu, kamu tidak perlu ikut campur. Saya akan mengurusnya."
Xander menjelaskan semua rencananya.
Scarlett terkejut mendengar perkataan itu.
Pria ini efisien. Meski baru sepakat melakukan nikah kontrak, namun rencananya sudah tersusun rapi. Sepertinya dia sudah merencanakan ini sejak lama.
"Ya sudah kalau begitu, Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok." Dia berdiri dari sofa dan berjalan menuju pintu.
Scarlett juga berdiri dan berjalan untuk mengantarnya ke pintu.
“Xander, kapan kita akan mendaftarkan pernikahannya?” Scarlett bertanya sebelum Xander meninggalkan ruangan.
Dia berhenti dan menatapnya, “Saat kita sudah sampai di ibu kota. Kita akan langsung ke kantor pencatatan pernikahan.” Dia kemudian berjalan pergi, meninggalkan Scarlett yang membeku di tempatnya.
'Secepat itu! Lusa, dia akan menjadi istrinya!?'
“Xander…” Scarlett memanggilnya namun dia langsung terdiam karena pria dingin itu telah memasuki lift. Astaga!
Dia menggelengkan kepalanya dan menutup pintu di belakangnya.
Sendirian di bangsal ini entah kenapa membuat hatinya kembali sakit. Scarlett merasa lelah dan sedih secara bersamaan saat mengingat apa yang baru saja terjadi padanya selama dua puluh empat jam terakhir.
'Ini adalah keputusan terbaik!' Dia diam-diam berteriak di dalam pikirannya.
Scarlett menarik napas dalam-dalam saat dia berjalan menuju tempat tidur. Dia memang membutuhkan tidur malam yang nyenyak untuk mempersiapkan pertarungan di masa depan dengan wanita keji dan tak tahu malu yang dia sebut 'ibu' dalam beberapa tahun terakhir.