Rehan melemparkan tubuh Merry yang tak lain adalah pengantin wanita yang dinikah baru saja. ia langsung mencumbunya dengan kasar. Walaupun Merry berteriak untuk tidak disentuh Rehan tidak mempedulikannya dan terus bergerilnya menjamah tubuh indah Merry.
"Tolong lepaskan aku," desah Merry.
"Diam saja dan nikmatilah apa yang aku berikan untukmu, ini kan yang kau inginkan menikahiku demi mendapatkan anak dan uang," ucap Rehan.
Rehan terus memberikan kecupan dan meninggalkan bekas kepemilikan pada tubuh Merry. Bagaikan binatang buas yang kelaparan Rehan terus menggerakkan badannya maju mundur ke inti tubuh Merry. Beberapa kali gadis itu mengeluarkan rintihan kenikmatan akibat perbuatan Rehan. Rehan tersenyum puas melihat wajah penuh pesona Merry, "Wanita jalang mau menikah denganku hanya demi uang,"
***
Keesokan paginya Merry membuka mata dan memandang jijik tubuhnya yang penuh tanda kepemilikan dari Rehan. Tidak disangka kesuciannya akan hilang di tangan seorang suami yang tidak ia cintai. Pria berwajah tampan namun dingin itu membuatnya merasa benci. Semalam suntuk menidurinya tanpa ampun, membuat Merry merasa kesal.
"Kau sudah bangun rupanya, apa kau menikmati permainanku semalam?" tanya Rehan sambil meminum kopinya di sofa dekat tempat tidur mereka.
"Aku sama sekali tidak menikmatinya, kau yang sudah gila melakukan itu padaku, asal kau tahu aku juga sama seperti mu, tidak ingin ada pernikahan ini!" gertak Merry.
Rehan sangat kesal mendengar pernyatan Merry bukankah gadis cantik itu mau menikah dengannya karena mau harta keluarganya yang kaya raya itu. Semua wanita yang ingin menikah dengannya hanyalah wanita yang gila harta.
Rehan mendekati Merry dan mencengkaram dagunya dengan kuat, "Kau wanita yang munafik,"
Kecupan kasar mendarat di bibir Merry. Rehan kembali melucuti pakaian yang dikenakan oleh gadis itu dan menjamah seluruh tubuhnya lagi. Kali ini lebih ganas daripada semalam. Ia memelintir ujung gundukan besar milik Mery dengan kasar sehingga tak sadar desahan kecil keluar dari mulutnya. Rehan memainkan gundukan kembar Merry dengan kedua tangan sangat aktif. Tubuh Merry seakan tersengat listrik dan gemetar menerima rangsangan yang diberikan oleh Rehan.
"Apa yang kau lakukan dengan tubuhku dasar mesum." Merry mendorong tubuh Rehan.
"Menurutmu aku ingin melakukan apa padamu?!" tegas Rehan sambil tersenyum licik.
Rehan meraih lagi tubuh Merry sehingga lebih dekat dengan pelukannya, layaknya seorang bayi ia menenggelamkan gundukan besar ke mulutnya. Merry meronta ingin melepaskan diri tapi Rehan sangat kuat mencengkaramnya. i ahanay bisa pasrah di permainkan oleh Rehan di atas kasur pagi ini.
"Kau sungguh munafik, di mulut bilang tidak tapi tubuhmu tidak bisa membohongiku," ucap Rehan sinis.
"Kau benar-benar iblis, apa kau pikir aku ini menyukaimu?!" gertak Merry.
Rehan semakin memompa keras tubuh Merry karena kesal dengan ucapan gadis itu. Gadis malang itu semakin mendesah keenakan. Lagi-lagi Rehan mempermainkan Merry dengan kasar sehingga membuatnya kualahan melayani Rehan yang kuat di atas ranjang itu.
"Wanita munafik, bagaimana permainanku diatas ranjang, apkah sudah membuatmu puas?" tanya Rehan saat selesai dengan permainannya.
"Kau sungguh lelaki iblis," jawab Merry kesal.
"Terserah apa katamu, kau sudah menjadi istriku jadi sudah sepantasnya melayaniku di atas ranjang seperti ini," balas Rehan sambil berlalu untuk mandi.
Merry sangat kesal dan mengutuk dirinya sendiri. Pernikahan ini bukanlah pilihannya melainkan perjodohan dari orang tuanya. Kedua orang tua Merry dan Rehan adalah seorang pengusaha dan mereka di nikahkan atas politik keluarga kaya. Menyesal juga tidak ada gunanya. Merry berinisiatif mengusulkan perceraian setelah ini. Anggap saja mereka sudah menjadi anak yang barbakti karena sudah menerima pernikahan yang tak diharapkan ini.
"Apa kau akan terus menangis seperti itu, dasar kampungan!" gertak Rehan.
"Kampungan katamu, aku tidak menginginkan pernikahan ini, dan kau telah merebut kesucian yang telah aku jaga untuk pria yang aku cintai!" seru Merry.
Mendengar ucapan Merry Rehan menjadi kesal. DIa merasa tidak pantas meniduri Merry untuk pertam akali. Sikapnya yang arogan dan ingin selalu menang sendiri itu ingin sekali memukul Merry. Ia mendekati Merry dan membisikkan sesuatu di telinganya, "Terima kasih telah memberi kesempatan menjadi pria pertama untukmu, jarang sekali mendapatkan hal yang istimewa seperti ini,"
Usai mengucapkan kata itu. Rehan pergi meninggalkan Merry sendirian untuk bekerja. Ia tak peduli dengan apa yang akan di lakukan oleh Merry setelah ini.
"Pria sombong dan arogan!" keluh Merry.
Merry tak ingin meratapi nasibnya yang sial ini. Percuma menikah dengan keluarga kaya jika tidak bahagia. Ia tak ingin mengorbankan hidupnya seperti ini. Ia akan terus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri.
***
"Pagi pengantin baru, bagaimana rasanya melewati malam pengantin bersama suamimu?" tanya Lani sahabat Merry.
"Jangan tanyakan itu apdaku, tubuhku sekarang seperti remuk," jawab Merry
Merry selalu kesal mengingat apa yang dilakukan pria sombong itu menidurinya dengan kasar dan melakukan itu sangat lama. Ukurannya yang besar membuatnya sangat tidak bisa melepas desahan kenikmatan yang ia rasakan. Tapi tetap saja bukan dia pria yang ia inginkan.
"Wah apakah dia ganas di ranjang?" tanya Lani lagi.
"Diam kau Lani, lebih baik kita segera menyelesaikan pekerjaan hari ini," jawab Merry marah.
Bayang-bayang romansa di atas ranjang bersama dengan Rehan terus membayang di pikiran Merry. Lelaki yang kasar dan arogan itu telah memenuhi pikirannya seharian ini saat bekerja. Padahal ia tidak mencintainya kenapa selalu terbayang wajahnya seperti ini. Ia memikirkan cara agar terlepas dari pria yang menyebalkan itu.
"Akhirnya pekerjaanku selesai juga," ucap Merry sambil meregangkan tubuhnya.
"Merry aku pergi dulu ya, kita tidak bida hangout bareng sekarang karena suamimu telah menunggu di lantai bawah, aku sudah melihatnya dari dekat dia sungguh tampan sekali!" seru Lani dengan semangat dan melambaikan tangan ke arah Merry tanda ia akan segera pergi.
Merry tak percaya pria menyebalkan itu menjemputnya pulang kerja, ia melihat dari jendela kaca kantornya, ternyata benar ada mobil Rehan terparkir disana, berarti memang dia menjemput Merry pulang kerja. Walaupun Merry tak ingin bertemu dengan pria itu, sepertinya dia harus berakting menjadi istri yang baik di depan publik.
"Istriku tercinta aku sengaja datang menjemputmu," ucap Rehan di depan umum.
"Kenapa kau menjemputku sendiri bukankah kau sangat sibuk?" tanya Merry.
"Aku ingin menjadi suami yang baik untukmu, ayo kita pulang," ajak Rehan sambil menggandeng Merry.
Merry merasa ada yang tidak beres dengan pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya, tapi apa ya Merry tidak bisa menebaknya. Semoga bukan sesuatu yang membuatnya kesal. Rehan membuka mobil untuk istrinya.
"Silahkan masuk istriku," ucap Rehan dengan senyuman liciknya.
"Ah ada nyonya maafkan aku, aku tidak bermaksud mengusik rumah tanggamu tapi tuan sendiri yang memaksaku, permainan tuan sangat hebat sehingga aku tidak dapat berdiri," ucap seorang gadis yang ada di dalam mobil.
Awalnya Merry kaget dengan seorang model terkenal di dalam mobil suaminya. Bajunya berantakan dan pose yang tidak seharusnya dilakukan di dalam mobil suami orang. Merry masuk dengan santai ke dalam mobil. Rehan yang melihat ekpresi istrinya biasa saja membuatnya kesal.
"Siapa yang memintamu duduk di sana? kau yang menyetir!" ucap Rehan sambil melemparkan kunci mobil kepada Merry.
"Baiklah aku akan menyetir mobil ini," balas Merry.
Merry membuka pintu mobil dan meyetir dengan kecepatan sedang. Dari kaca depan mobil itu terlihat suami dan model itu bercumbu ria tanpa rasa risih sedikitpun.
"Tuan aku takut nyonya akan menyiksaku," ucap model cantik yang tidak punya malu itu.
"Kau tenang saja, asal ada aku dia tidak akan berani menyakitimu," balas Rehan sambil mencecap bibir model cantik itu.
Pasangan tak tahu malu itu kembali bercumbu mesra di jok belakang mobil. Tanpa rasa risih sediktipun. Desahan dan rintihan wanita itu tedenagr memekakkan telinga. Sesekali ia melirik Merry yang sedang menyetir mobil seakan mengejeknya dan sengaja mengeluarkan desahan manja nan nikmat itu.
"Tuan kau sungguh kuat aku sampai kualahan melayanimu," ucap model itu manja.
"Aku akan membuatmu sampai tak bisa jalan setelah ini," balas Rehan sambil memeluk wanita dipangkuannya itu.
Mereka sudah sampai rumah, Rehan membawa perempuan penggoda itu ke rumahnya mereka melanjutkan itu di ruang tamu. Merry tidak menggubrisnya sama sekali, hal ini membuat Rehan marah wanita macam apa Merry sehingga tidak marah melihat suaminya membawa wanita pulang dan mencubunya sepanjang perjalanan pulang.
"Tuan apa nyonay marah?" tanya model yang penampilannya sudah berantakan.
"Jangan hiraukan wanita itu, membuatku kesal saja," cetus Rehan.
Rehan semakin tidak napsu karena mengingat Merry yang acuh tak acuh terhadapnya. Sepertinya ia harus memberinay pelajaran malam ini. Rehan mendorong tubuh model itu sehingga terjatuh kelantai. Ia naik ke lantai dua menuju kamar Merry.
"Buka pintunya, aku ingin bicara denganmu," Rehan menggedor pintu kamar Merry dengan kencang.
"Tidak usah mengegdor pintuku dengan kencang, pintu ini terbuka lebar untuk tuan muda Rehan," ucap Merry.
Rehan marah dengan tingkah Merry yang arogan dan terkesan acuh tak acuh itu. Dia memaki Merry yang tidak cemburu sama sekali karena di otaknya hanya ada harta dan mencari uang saja. Dia tidak mempedulikan perasaan Rehan sedikitpun.
"Dasar wanita tidak berperasaan, kau memang hanya memang mengharapkan uang keluargaku saja!" gertak Rehan.
"Kau pikir keluargaku itu kekurangan uang, jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku akan memasak untuk makan malam, sialhkan lanjut bercumbu dengan wanita murahan yang kau bawa pulang itu," ucap Merry.
Merry turun dari lantai dua menuju dapur dan memasak untuk makan malam. Para pelayan menghampirinya untuk membantu.
"Nyonya saya tidak menyangka kalau nyonya pandai memasak," puji pelayan di rumah itu.
"Aku terbiasa memasak saat kuliah di luar negeri dulu," jawab Merry sambil tersenyum.
Rehan mendatangi dapur dan mencicipi masakan Merry tentu saja di layani oleh wanita yang ia bawa pulang itu. Merry tidak mengambil hati hal ini. Karena memang pernikahan mereka tidak dilandasi rasa saling mencintai. Merry meninggalkan meja makan dan pergi ke ruang kerjanya. Sebagai seorang direktur kerjaannya banyak dan dia harus belajar tentang apa saja yang berkaitan dengan bisnis.
"Merry kau sungguh berani mengacuhkanku ya!" seru Rehan yang menghampiri Merry di ruang kerjanya.
"Aku sibuk bekerja, bukankah kau membawa seorang wanita malam ini, dan dia sudah melayanimu sejak sore tadi?" jawab Merry memandang Rehan sebentar dan melanjutkan pekerjaannya.
Rehan beradu debat dengan Merry, tak lama kemudian model sexy yang sudah mengenakan lingeri sexy itu mendatangi Rehan di ruang kerja merry dengan tingkah manja dan menggodanya. Mereka kembali bercumbu di ruang kerja Merry. lalu Rehan meninggalkannya setelah puas.
"Nyonya lebih baik kau memperhatikan suamimu dengan benar, jika seperti ini terus, kau akan kehilangan suamimu, adan aku akan menggantikan posisimu," ucap model itu sambil meledek Merry.
"Ambil saja jika kau mau, aku sudah kaya sejak lahir sedangkan kau harus membuka lebar-lebar kedua kakimu barulah bisa menikmati kekayaan, kasihan sekali hidupmu," balas Merry sambil memotret gadis yang sedang berpenampilan setengah telanjang itu.
Wanita penggoda itu menggertakkan giginya. Ia mengadu kepada Rehan atas apa yang diperbuat oleh Merry. "Tuan, Nyonya memotretku dalam keadaan setengah telanjang, aku takut kalau nyonya memosting fotoku di sosial media,"
Rehan mendatangi kamar Merry ia meminta ponsel Merry yang dipakai memoto model sekaligus gundiknya itu. Merry menyeringai tipis segitu cintanya Rehan dengan wanita penggoda murahan seperti itu.
"Rehan ayo kita membuat kesepakatan!" seru Merry.
"Maksudmu apa?" tanya Rehan.
Merry memberikan sebauh kesepakatan alias surat kontrak pernikahan untuk Rehan, Mereka akan menjalani pernikahan sandiwara ini selama satu tahun saja. Setelah itu akan mengajukan perceraian di penagdilan secara resmi karena tidak ada kecocokan diantara mereka.
"Kau baca saja surat kontrak ini, satu lagi selama menjalani pernikahan kontrak ini aku kita tidak akan mengganggu urusan pribadi masing-masing," pinta Merry.
"Aku setuju, mana penamu aku akan segera tanda tangan," ucap Rehan dengan ketus.
Kontrak pernikahan itu sudah di tanda tangani Rehan. Pria tampan itu segera meninggalkan kamar Merry setelah menandatangi kontrak perjanjian nikah mereka. Merry menyimpan surat berharga itu, saat ini tinggal menjalani pernikahan dengan baik setelah itu akan dia akan bebas meraih mimpinya juga menikah dengan orang yang tepat.
"Tuan apakah kau sudah menghapus foto itu?" tanya perempuan penggoda itu.
"Ya ampun aku lupa menghapusnya, kau tenang saja temani saja aku malam ini, besok pagi akan aku bereskan masalah itu," tegas Rehan.
Wanita penggoda itu merasa sudah menang dan melayani Rehan lagi di atas ranjang. semalaman mereka mendesah keenakan. Rehan memang kejam, tidak ada perasaan sama sekali mungkin suatu hari nanti dia akan menyesal karena menelantarkan istri kontraknya.
"Di mana nyonya, apakah sudah turun untuk sarapan?" tanya Rehan.
"Nyonya sudah berangkat sejak tadi tuan, seorang lelaki menjemputnya tadi pagi," jawab pelayan yang menyiapkan sarapan.
Rehan kaget dengan jawaban pelayan itu. Jadi karena ini dia membuat kontrak pernikahan dengan Rehan. Timbul ketidaksukaan dihati Rehan. Lelaki mana yang berani menjemput Istrinya pagi ini, "Tuan apa yang kau pikirkan, tidak ada nyonya aku bisa melayanimu kan?"
Rehan mendorong wanita yang di bawanya kemarin itu. Raut wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya,"Kau jangan besar kepala, aku membawamu kesini untuk membuat hati Merry cemburu saja!"
"tuan aku hanya ingin membuatmu senang saja," jawab model itu.
Rehan meninggalkan wanita penggoda yang ia bawa itu. Ia berangkat kerja dengan perasaan cemburu yang besar.
"Tolong cari tahu siapa yang menjemput nyonya kerja pagi ini?" perintah Rehan kepada asistennya.
Pengawal Rehan yang di perintahkan untuk mencari informasi tentang siapa yang menjemput Merry hari ini sudah memberikan data siapa pemuda yang bersama Merry pagi ini. Rehan kesal sekali karena ternyata pria itu adalah orang di masa lalu Merry.
"Kurang ajar sekali orang bernama Marcel itu, berani sekali dia menghinaku seperti ini!" seru Rehan dengan wajah yang garang.
"tuan muda bukankah ini bagus, anda bisa mengajukan perceraian karena Merry selingkuh di depan anda," balas sang asisten.
Rehan tersentak dengan apa yang dikatakan oleh asistennya memang benar dia tidak mencintai Merry dengan alasan apapun dan pernikahan mereka adalah akibat perjodohan dari orang tua masing-masing. Tapi kenapa hatinya sesak mendengar kabar dan melihat foto Merry bersama pria lain hari ini.
"Apa aku memintamu untuk banyak bicara, aku bisa memecatmu jika sembarangan bicara!" seru Rehan dengan tegas.
"Maafkan aku tuan muda, aku tidak berani lagi sembarangan bicara," ucap asisten Rehan.
Rehan masih saja tidak mengerti apa yang ada di hatinya. yang jelas ia tidak terima Merry berkencan dengan pria lain padahal mereka sudah sepakat menandatangi kontrak pernikahan diantara mereka.
"Kenapa dengan hatiku, kenapa menjadi tak karuan seperti ini," gumam Rehan.
"Tuan muda apa anda sakit, jika iya lebih baik anda istirahat dulu saja," tegur asistennya.
Rehan memegangi kepalanya, wajahnya terlihat tidak senang dengan teguran itu. Ia memilih untuk segera meninggalkan ruangan kerjanya dan menuju perusahaan dimana Merry bekerja. Ia segera naik ke lantai dimana ruangan Merry berada tapi menurut sahabatnya Lani ia tidak ada di sana.
"Tuan kau sedang mencari siapa?" tanya Lani yang belum pernah melihat Rehan sama sekali.
"Aku suami Merry, apa kau bisa memanggilkan Merry untukku," pinta Rehan.
Lani sangat terpukau oleh ketampanan dan pesona yang di tunjukkan Rehan. Tapi Merry sedang berada di laur kantor sekarang ia sedang membahas bisnis dengan kliennya.
"Maaf tuan, Merry sedang ada rapat kecil dengan klien, jadi tidak ada dikantor," jawab Merry.
"Apa kau bisa memberitahuku dimana mereka melakukan janji?" tanya Rehan.
Lani memberitahu Rehan dimana Merry berada. Di sebuah kafe di jalan Melati mereka membuat janji dan membahas bisnis yang akan mereka jalani. Rehan segera menuju ke tempat itu. Firasatnya mengatakan bahwa Merry sedang bersama seorang pria bernama Marcel itu. Hatinya menjadi tak tenang memikirkan itu semua.
"Merry apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Marcel.
"Seperti yang kau lihat Marcel, aku sepertinya baik-baik saja!" jawab Merry menegaskan.
Marcel pernah mencintai Merry sayang sekali saat dia masih di luar negeri dan belum kembali ke tanah air Merry sudha terlanjur menikah dengan orang lain. Marcel mengatakan jika suatu hari Merry memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya, Marcel dengan senang hati akan menunggu hari itu datang.
"Merry aku harap kau benar-benar bahagia, jika suatu hari kau sudah tidak merasa bahagia kau boleh bercerai dan aku orang pertama yang akan melindungimu," ucap Marcel.
"Marcel aku sudah pernah menjadi istri orang, aku yakin orang tuamu tidak akan mengijinkan jika kita bersama," jawab Merry.
Menengar hal itu hati Rehan semakin berkecamuk kesal, kenapa bisa mereka secara terang-terangan mengatakan hal yang tidak berguna seperti ini. Rehan mengepalkan tangannya dan mendekati Merry ia meminta istrinya untuk pulang.
"Jadi kau tidak bekerja tapi malah asyik berkencan di belakang suamimu ini?" tanya Rehan dengan kasar.
"Tuan muda Rehan sepertinya salah sangka kami sedang membicarakan proyek baru," jawab Marcel tenang.
Rehan melirik Marcel ia kesal dan siap melemparkan bogem ke wajah Marcel tapi berhasil di halau oleh Marcel, "Tuan kau ini sungguh tak sabaran, kami benar-benar membicarakan masalah proyek baru,"
Rehan menarik lagi tangannya dan membersihkannya dengan tisu yang ada di atas meja. Apa Marcel pikir Rehan tidak mendengar semua yang ia ucapkan pada Merry barusan. Sebuah proyek adalah alasannya saja untuk bisa bertemu dan mengutarakan perasaannya pada Merry.
"Anda sebaiknya berhari-hati agar tidak membuatku marah, kau mengajak istriku kencan hari ini tentu saja aku sangat marah sebagai seorang suami," ucap Rehan.
"Ternyata anda ini seorang yang pencemburu ya tuan muda Rehan," ucap Marcel sambil tertawa sinis.
Rehan menarik tangan Merry hendak membawanya pulang tapi Marcel menahannya. Rehan sangat arogan sehingga membuat Marcel tidak ingin melepaskan Merry. Ia ingin menjaga Merry dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
"Tuan Marcel tolong lepaskan tangan istriku, apa kau ingin di cap sebagai pebinor?" tanya Rehan kesal.
"Aku hanya ingin memastikan pada nona Merry apakah pertemuan kita membahas proyek kerja hari ini masih bisa dilanjut atau bisa di diskusikan lain waktu," jawab Mrcel.
Merry mengatakan bahwa hari ini cukup sampai disini pertemuan mereka karena tidak enak juga membuat kegaduhan di siang hari seperti ini. Merry memutuskan untuk mengakhiri sesi perbincangan mereka karena Rehan sudah seperti orang kesetanan di depan umum seperti ini.
"Kau dengarkan ucapan istriku tuan Marcel, jadi aku akan membawanya pulang sekarang dan kau aku tidak mengijinkan kalian untuk bertemu lagi," ucap Rehan.
"Kalau begitu hati-hati di jalan tuan Rehan," balas Marcel dengan senyuman tampannya.
Rehan membanting tubuh Merry di atas kursi jok mobilnya. Ia meluapkan amarah dengan mencumbui tubuh Merry. Berani-beraninya dia masih berstatus sebagai istri seorang Rehan yang mempunyai segalanya tapi berkencan dengan pria lain.
"Tunggu apa yang kau lakukan?" Merry mencoba mendorong tubuh Rehan.
"Kenapa kau tidak mau melayani suamimu sendiri, dan ingin bercinta dengan pria itu hah?" tanya Rehan dengan wajah merah penuh amarah.
Merry mencoba menjelaskan sebenarnya yang terjadi barusan. Rehan tidak ingin mendengarnya dan merobek pakaian yang dipakai oleh Merry. Dia mencumbunya dengan kasar diatas mobil. Merry yang tidak berdaya hanya bisa melayani hasrat Rehan yang buas itu.
"Kau apa tidak bisa bersikap lembut padaku?" tanya Merry.
"Tidak bisa, kau seharusnya menjaga nama baikku, kau masih berstatus sebagai istriku tapi berani bertemu pria lain di muka umum apa kau ingin mencoreng nama baikku?!" gertak Rehan sambil memakai celananya.
Merry menyeringai tipis, ia mengambil kemeja Rehan untuk menutup tubuhnya karena bajunya sudah rusak oleh suami ganasnya itu. Ia berkata pada Rehan jika Marcel lebih tulus dan cocok di jadikan suami.
"Terserah kau mau mengatakan apa toh pernikahan ini hanya pernikahan kontrak, saat semuanya selesai, aku akan menikahi pria yang lembut seperti Marcel," ucap Merry.
Rehan menatap Merry dengan tatapan ingin membunuh saja. Ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh sampai rumah. Ia melempar tubuh Merry diatas kasur kamarnya. mereka memang tinggal di kamar terpisah setelah menikah, Rehan mencecap bibir Merry dengan kasar lalu melepaskannya.
"Kau tidak boleh keluar dari kamar ini kecuali atas ijinku!" gertak Rehan.
"Dasar Pria gila, kau tidak bisa melakukan ini padaku, aku bukan tawanan cintamu," ucap Merry.
Rehan tidak mendengarkan kata Merry yang jelas ia tidak suka di bandingkan dengan lelaki lain. Merry sungguh berani memprovikasinya. Rehan meninggalkan kamar itu dan mengunci pintunya dari luar, "Kau mungkin akan menganggapku gila, tapi aku tak bisa melihatmu dengan pria lain,"
"Tuan muda, saran saya lebih baik anda tidak mengurung nona muda seperti ini, jujurlah apa adanya," saran kepala pelayan dirumah ini.