Bab 1

“Tandatangani suratnya dan buat rekamannya sekarang!” perintah seorang pria menggunakan kemeja putih, tuksedo hitam, serta dasi kupu-kupu menambah ketampanannya semakin bertambah berkali-kali lipat. Tapi sayang semua hanya cangkang untuk menutupi kekejaman yang dilakukan.

Di atas sofa putih besar seorang wanita menggunakan dress panjang berwarna senada tengah duduk. Memegang berlembar-lembar surat perjanjian serta pena, jangan lupa kamera yang merekam setiap gerak geriknya. Claudya Stewart menelan saliva yang terasa kelat, berulang kali menutup mata dan mengembuskan napas, begitu berat jemarinya menorehkan tinta pada surat perjanjian pranikah.

Poin-poin tercatat di dalamnya sama sekali tidak menguntungkan bagi Clau, terkesan merugikan. Tapi ia bisa apa selain menerima dengan lapang dada, berharap calon suaminya –Arjuna, kelak memperlakukan dirinya sebaik mungkin.

“Baik Tuan, saya tandatangani. Tapi … bisakah uangnya dikirim hari ini? Ibu saya memerlukan secepatnya.” Claudya mendongak, memberanikan diri menatap wajah sangar Arjuna.

“Tugasmu saja belum selesai, sudah meminta bayaran. Benar-benar wanita tidak tahu diri.” Sindir Arjuna mendekati Clau. Lalu menunjuk kening wanita itu dengan jari telunjuk hingga tubuh Clau terdorong ke belakang.

“Kau masih punya mata untuk membaca? Lembar pertama poin 10.” Tukas Arjuna menggeram marah, sebab calon istrinya sangat membuang-buang waktu.

“Baik Tuan, saya tanda tangan. Kita bisa menikah sekarang juga.” Jawab Clau dengan suara gemetaran.

Pada akhirnya ia pun berhasil membubuhkan tanda tangan di atas kertas berisi banyaknya peraturan selama menjadi istri seorang Arjuna Caldwell. “Sudah Tuan.” Cicit Clau, menundukkan kepala, sungguh ia tidak berani menatap amarah pada kedua mata Bosnya.

Pasalnya Clau mengetahui persis alasan Arjuna menikahinya, semua tidak lain karena Clara –kakaknya. Membuat masalah dengan Presiden Direktur Cwell Group itu, hingga Clau yang harus menanggung semua beban.

“Ok, hapus air matamu! Tidak berguna, jangan harap aku iba. Sekarang keluar dan tunggu di ruang pernikahan!” perintah Arjuna, melempar sebungkus tissue kecil ke atas paha Clau.

Kedua tangan Clau mendadak tremor, untuk menyeka air mata saja memerlukan tenaga ekstra. Sedih dan hancur perasaannya, bagaimana tidak? Pagi ini pihak rumah sakit menghubungi, menagih biaya rumah sakit serta biaya terkait transplantasi jantung ibunya.

Uang dalam rekening Clau sama sekali tidak mencukupi, walaupun bekerja di perusahaan besar sekelas Cwell Group. Tetap saja gajinya tidak mampu membiayai seluruh kebutuhan pengobatan, pembayaran hutang atas rumah yang disita dan keperluan hidup sehari-hari. Pernikahan ini sama sekali bukan keinginan Clau, terpaksa menerima pinangan Arjuna adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang dalam waktu singkat.

Semula Clau berniat meminjam uang kepada bagian koperasi dan keuangan pegawai, siapa sangka laporan akibat menumpuknya hutang terdengar ke telinga Presiden Direktur.

Clau yang melamun tersentak ketika ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk bernada ancaman dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Arjuna Caldwell? Pria arogan, telah menunggunya di ruangan pernikahan.

Ya, Clau dan Arjuna melangsungkan pernikahan di badan kependudukan. Jangan harapkan adanya hamparan bunga berwarna warni, iringan musik syahdu, dekorasi mewah bak negeri dongeng atau tamu undangan. Semua hanya dalam mimpi, Clau mengubur pernikahan impian. Saat ini lebih penting ibunya dibanding diri sendiri.

Sebelum melangkahkan kaki keluar, Clau mengoleskan perona bibir serta memperbaiki riasan tipis agar wajah sembabnya tidak terlihat oleh semua orang. Dia mencoba mengukir senyum pada bibir, menyembunyikan seluruh asa. Menghela napas berulang kali, meneguhkan hati bahwa semua ini akan baik-baik saja.

Clau membuka pintu, berjalan perlahan menemui calon suaminya di ruangan. Wajah pria itu tampak santai, tidak menyeramkan seperti beberapa belas menit yang lalu. Bahkan Arjuna mengulurkan tangan kepada Clau

Sontak kepala Clau terangkat, sebab calon suaminya berdeham cukup keras. Manik abu-abu Arjuna menatap tajam dan mengintimidasi Clau, seolah mengatakan bahwa ia harus menerima uluran tangan itu. Pelan-pelan tangan Clau terangkat menggapai milik Arjuna. Seketika tubuhnya ditarik hingga merapat padu dengan sosok bertubuh tinggi nan atletis.

Keduanya mengucap janji pernikahan kemudian menandatangani sejumlah berkas penting penunjang. Data Arjuna Caldwell dan Claudya Stewart langsung tersimpan rapi serta dirahasiakan atas permintaan mempelai pria.

“Mulai sekarang lakukan tugasmu!” nada dingin Arjuna kian menusuk relung hati Claudya.

Meskipun sudah menjadi istri sah dari Arjuna, tak sekalipun Clau berani bertatap muka secara langsung. Memilih menyadari posisinya sedini mungkin, kemudian Clau menjawab, “Baik Tuan, saya akan melayani anda dengan segenap hati.”

“Bagus. Memang itu yang aku perlukan. Jaga penampilanmu! Aku tidak menyukai perempuan lusuh.” Ekor mata Arjuna melirik ke samping. Memindai penampilan Clau dari ujung kepala hingga kaki. Tentu saja karena wanita itu hanya menggunakan dress seadanya, bukan rancangan designer ternama yang memiliki harga selangit.

“Lalu Tuan, bagaimana dengan uangnya? Aku membutuhkannya.” Berani Clau mempertanyakan mengenai hak yang tertuang dalam perjanjian.

“Kau ingin uangmu kan?” tanya Arjuna sembari menyeringai.

Secepat kilat Clau mengangguk, ia bernapas lega karena sebentar lagi bisa membayar biaya rumah sakit dan hutangnya. Namun senyum itu mendadak berganti rasa perih pada pergelangan tangan, Arjuna meraihnya dan membawa Clau masuk ke dalam mobil.

“Penthouse.” Perintah Arjuna kepada sopir.

“Tuan … tapi bukankah mau mentransfer uang?” bibir merah delima Clau tak henti melontarkan pertanyaan yang sama, membuat suaminya jengah.

“Tuan?” Clau tersentak karena tangan kekar Arjuna menarik pinggulnya, menjadikan tubuh mereka menempel tak memiliki celah sedikitpun.

“Aku membenci wanita berisik seperti mu. Semakin bawel, jangan harap aku kirim uangnya!” ancam Juna membungkam mulut Clau.

Sepanjang perjalanan menuju penthouse tak banyak kata dan suara diantara keduanya, hanya deru napas serta mesin mobil terdengar mengalun menyambangi telinga.

Setibanya di penthouse, Arjuna menghempas tubuh mungil Claudya ke atas sofa. Tak mengindahkan suara kesakitan wanita itu. Clau mengusap sikut dan bahunya, seraya berkata, “Tuan sakit.”

“Ck, sakit? Sekarang laksanakan tugas lembar 1 poin 1.” Arjuna melepas dasi kupu-kupu dan tuksedo, melemparnya ke sembarang arah.

“Hah? Tapi aku sudah menandatangani surat perjanjian, uangnya belum aku terima.” Clau menolak sebab ia pikir Arjuna harus menyelesaikan kesepakatan lebih dulu baru memerintahkan melakukan ini dan itu.

“Masih berani juga! Layani aku malam ini, setelah aku puas, aku kirim uangnya.” Arjuna benar-benar menjerat Claudya ke dalam masalah baru.

Tanpa basa-basi menyambar bibir ranum Clau, tidak ada kelembutan sama sekali. Penuh tuntutan dan gairah. Tidak membiarkan Clau menghirup oksigen. Dominasi Arjuna teramat kuat, membuat Clau melemah. Dengan sisa tenaga yang ada, Claudya berusaha memberontak, namun kedua tangannya diikat menggunakan ikat pinggang.

Malam yang seharusnya istimewa dan hangat berakhir dengan tangis serta rintih kesakitan dari Clau. Akibat perbuatan suaminya yang terus bermain hingga dini hari.

Pagi ini Claudya terbangun dalam keadaan tubuh polos. Ia menyeka air mata yang turun membasahi pipi. Terlalu sakit jiwa dan raganya mendapat perlakuan sewenang-wenang dari Arjuna.

Claudya tersenyum miris, melirik ranjang berantakan. Bayang-bayang kejadian semalam memenuhi isi kepala. Ia meremas selimut yang menutupi diri, marah, kesal, sedih, tak berdaya, bercampur jadi satu. Hatinya tersayat sembilu manakala Arjuna menyebutkan nama wanita lain ketika melakukan dengannya.

Clau terperanjat ketika mendengar suara pintu diketuk dari luar, perlahan terbuka. Dia pikir Arjuna, tetapi dua orang asisten rumah tangga tampak tersenyum membawa satu nampak makanan.

“Nyonya, ini sarapannya. Tolong dihabiskan, perintah dari Tuan.”

“Terima kasih, tapi aku tidak lapar. Silakan dibawa lagi saja.” Clau menolak halus.

“Tapi Nyonya, Tuan bilang, kalau tidak dimakan, maka kami berdua menerima hukuman.” Kedua pelayan itu keluar dari kamar setelah selesai menyimpan sarapan.

Lagi-lagi Clau teringat ibunya yang terbaring di ruang ICU, ia harus kuat dan sehat demi orang tersayang dan tercinta. Lantas meraih ponsel lalu memeriksa M-Banking. Clau menggelengkan kepala, betapa terkejutnya melihat deret angka di akun bank. Nominal fantastis, bahkan ia tidak perlu repot bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Arjuna adalah pria berjuta pesona, statusnya sebagai Presiden Direktur Cwell Group membuatnya dipuja banyak wanita, ya kecuali Claudya.

Secepatnya Clau membersihkan diri dari peluh yang menempel, menggosok tubuhnya dengan banyak sabun hingga kulit kenyal mulus berwarna merah. Di bawah guyuran rintik shower, tubuhnya gemetaran ketika pintu kamar mandi terbuka lebar. Seorang pria berdiri menyandar sembari memerhatikan dirinya.

“Arjuna?” lirih Clau.

“Lama sekali mandinya. Cepat! Jangan sampai kamu sakit dan menyusahkan.” Tangan kekar itu menyambar handuk yang tergantung, melekatkannya kepada Clau.

Arjuna pun menggendong tubuh istrinya, menghirup harum aroma tubuh Clau yang membuatnya candu setelah aktifitas semalam.

Seketika Clau tersentak, lantaran tangan Arjuna merengkuh pinggangnya. Sungguh saat ini Clau tak ingin disentuh secara kasar. Meskipun Arjuna suaminya secara sah, tetap saja Clau bukan budak apalagi hewan diperlakukan tanpa kelembutan sama sekali.

“Mulai hari ini kau harus melayani segala keperluanku!” Arjuna menjepit dagu Clau, menariknya ke atas hingga kedua pasang mata mereka beradu pandang.

“Termasuk kebutuhan biologis.” Bisik Arjuna sembari menyeringai.

Bab 2

Tiga bulan berlalu, kehidupan pernikahan Clau berjalan di tempat. Tak pernah sekalipun Arjuna memerhatikan, menyayangi selayaknya suami kepada istri. Pria itu hanya memerlukan Clau ketika sisi primitifnya datang, saling bersatu berbagi peluh dan lenguhan. Tapi sayang tidak ada perasaan cinta tersemat ketika melakukannya.

Setiap bulan Clau harus merasakan kulitnya yang sakit tertusuk jarum suntik berisi cairan pencegah kehamilan. Tak hanya itu, ia pun menderita alergi khusus usai menerima obat, hingga mengkonsumsi banyak penawar agar dirinya terbebas dari penderitaan.

“Sebaiknya Nyonya diskusi dengan Tuan Caldwell menghentikan suntik KB sementara waktu dan melakukan program kehamilan. Saya bisa bantu menjelaskan,” terang dokter sembari mencatat resep dan memberikannya kepada Clau.

Clau hanya tersenyum miris mendengar saran dokter, “Memiliki anak dariku? Aku tidak mau kelak anakku menderita karena ayahnya tidak menginginkan kehadirannya,” batin Claudya teriris perih mengingat bagaimana Arjuna melarangnya hamil, bahkan hal itu tercatat dalam kontrak perjanjian.

Claudya pelan-pelan melangkah keluar dari ruangan Dokter Spesialis Kandungan. Ia diwajibkan memberi laporan kepada Givano –asisten pribadi Arjuna, sesuai perintah bahwa setiap kegiatan harus dalam pantauan. Menjadikan Clau bagai tawanan kendati suaminya jarang pulang ke griya tawang.

Arjuna lebih sering menghabiskan waktu di mansion utama ketimbang menemani Clau di penjara mewah. Menurut Clau sangat bagus, tanpa susah payah ia bisa menghindari pria kejam itu. Apalagi sudah satu minggu Arjuna tidak terlihat di kantor, menurut sumber terpercaya, Presiden Direktur tengah melakukan perjalanan bisnis selama 10 hari. Artinya selama itu Clau memiliki waktu bebas, tidak harus menjalani tugas menyiksa jiwa dan raga.

Ya, sudah 2 malam ini, Clau menginap di rumah sakit. Menemani ibunda tercinta, berbagi cerita membahagiakan. Bahkan merebahkan raga di sisi tubuh ringkih, bersandar pada bahu untuk memberinya kekuatan menjalani hidup.

“Ibu mau lagi buahnya? Biar aku kupas,” tawar Clau menunjukkan jeruk manis di atas meja.

“Makasih Nak, kamu selalu perhatian.” Mengusap wajah Clau yang tampak kurus namun penampilannya jauh lebih anggun dan menawan.

“Pasti pekerjaan kamu di luar kota banyak, sampai lupa makan begini,” sambung Bu Laras.

Beliau mengetahui betul perjuangan putri bungsunya mencari uang, rela dimutasi lintas daerah demi memiliki penghasilan berlipat ganda agar pengobatan berjalan lancar. Tentu saja semua yang disampaikan kebohongan belaka.

Tepat satu hari sebelum menikah, Claudya berucap dusta kepada ibunya. Beralasan dipindahtugaskan ke Kota lain, hingga jarang memiliki waktu luang menjenguk ke rumah sakit. Padahal tugas yang dimaksud melayani semua kebutuhan Arjuna di sangkar emas.

Clau tertawa sumbang menanggapi perhatian ibunya, menggenggam tangan hangat yang menenteramkan jiwa. “Ibu tidak perlu cemas, di sana banyak makanan enak. Bosnya loyal tapi galak.” Terkekeh pelan sembari memejamkan kedua mata menahan lajur bulir bening yang hampir menetes.

“Harus pintar jaga diri nak. Galak dalam pekerjaan tidak masalah, semua bos seperti itu,” ucap Bu Laras, kini mengalihkan pandangan ke langit-langit ruangan.

“Ibu rindu kakakmu, sudah ada kabar dari Clara?” tanya Bu Laras, khawatir putri sulungnya tertimpa bencana. Sebab sudah lebih dari empat bulan tidak memberi kabar apalagi pulang. Semenjak Clara membawa kabur uang serta mobil pemberian Arjuna Caldwell.

“Belum bu, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang lebih penting kesehatan ibu. Clau senang operasinya berjalan lancar.” Claudya membelai rambut putih wanita yang melahirkannya.

Mendadak suasana kamar berubah sendu. “Terima kasih nak, jasamu tak ternilai. Ibu berhutang budi.”

Clau menggelengkan kepala dengan cepat, menepis semua lalu berujar, “Jasa ibu jauh lebih banyak, terima kasih Bu. Clau mencintai Ibu dan hanya Ibu.”

Tiba-tiba suara dari perut cukup mengganggu percakapan Clau dan Bu Laras. Keduanya tertawa, terlalu larut melepas rindu, Clau melupakan mengisi perut.

“Aku ke kantin dulu ya Bu. Tidak apa ditinggal sendirian di sini?” Clau berdiri merapikan isi tas dan pakaian.

“Kamu makan yang banyak nak, jangan menghiraukan ibu.” Bu Laras tersenyum lebar menatap putrinya membalik badan menuju pintu keluar. Ada rasa kasihan melihat perubahan fisik Claudya, jelas sekali kalau putri bungsunya itu menderita tekanan batin.

Sepanjang selasar rumah sakit, Clau menebar senyum menjawab semua sapaan dari perawat dan petugas. Semenjak ruang rawat Laras dipindah ke presidential suite demi kenyamanan, Clau dan ibunya banyak menerima kebaikan teramat sangat terkait pelayanan.

Ia pun asyik bercengkerama di lobi, tak menghiraukan getar ponsel yang terus menerus bergerak dalam tas. Hingga seseorang menepuk bahunya dari belakang.

“Claudya?” panggil orang itu. Suara bass pria begitu jelas terdengar oleh Clau. Sontak ia menoleh, sedikit menurunkan pandangan dan tersenyum memberi hormat.

“Apa kabar? Lama tidak bertemu ya,” pungkasnya mengulurkan tangan. Tapi Clau tidak menerima.

Bukan karena angkuh, tapi peraturan Arjuna pada lembar 1 poin 5. Claudya dilarang kontak fisik dengan pria lain. Meskipun Arjuna tidak ada di sini, tetapi mata-matanya tersebar mengikuti serta mengamati gerak-gerik Clau. Wanita cantik ini tak ingin menyiram bensin pada bara api. Amarah Arjuna yang berkobar sanggup membakar siapa saja yang mencari masalah dengannya.

“Oh ayolah Claudya, ini bukan di kantor. Kita bisa berteman, tapi kalau di kantor, kamu wajib menghormati aku,” tukas Andreas Lehman, seorang pengusaha terkenal rekan bisnis Arjuna.

Arjuna dan Andreas acap kali sering bertemu membicarakan proyek yang dijalani perusahaan. Pria tampan, mapan, dan diidolakan oleh kaum wanita. Seantero Swiss, terutama Kota Zurich mengenal siapa itu Arjuna Bryatta Kreshnik Eberly Caldwell dan Andreas Lehman.

Pria casanova itu pun lancang meraih tangan Clau, memaksa melakukan berjabat tangan. Disertai kedipan nakal dari sebelah mata Andreas, menyiratkan betapa mengagumi dan menginginkan wanita cantik salah satu pegawai Cwell Grup ini.

“Permisi Tuan.” Pamit Clau hendak mengisi perut ke kantin.

Dirinya memang belum beruntung, karena Andreas mencekalnya, membuat Clau tertahan lebih lama. Jujur kondisi ini sangat tak nyaman, pikirannya hanya satu, takut Arjuna mengetahui dan menghentikan pengiriman uang yang telah disepakati.

“Kamu mau ke mana?” tanya Andreas bersemangat menggoda gadis incaran.

“Saya mau ke kantin Tuan. Maaf tidak bisa menemani anda.” Clau berkelit, berusaha membebaskan diri.

Namun andrenalin Andreas semakin tertantang menaklukan wanita yang selalu menolak. “Kita makan malam bersama, di cafe sekitar sini. Bagaimana?”

Clau membuang muka dan menolaknya dengan berkata, “Tidak bisa, Ibu saya sedang sakit.”

“Wah kalau begitu bagus. Aku bisa mengenal ibumu. Tapi sekarang kita makan dulu. Aku traktir.” Paksa Andreas tak memedulikan raut wajah gelisah Claudya. Terpenting tujuan utama mendekati dan mempersunting Clau berhasil.

“Ah … Tuan jangan, lepas!” sentak Claudya, sebab Andreas lancang menarik pinggulnya.

“Tuan, saya bisa teriak atau memukul anda,” ancamnya tidak gentar, lebih baik mencari masalah dengan Andreas daripada Arjuna.

“Silakan Claudya, aku tidak melakukan apapun. Ini hal wajar bagi seorang pria memikat wanita. Salahnya di mana?” Andreas menyeringai.

Lidah Clau begitu kelu, tidak kuasa mengatakan bahwa dirinya sudah menikah. Merupakan istri dari Arjuna Caldwell, tapi percuma saja sebab semua menjadi rahasia yang terkubur dalam. Sungguh rasanya Clau ingin melayangkan tinju kepada pria petualang cinta ini. Jangan disangka ia mudah tergoda, karena manusia seperti Andreas sangat dihindari olehnya.

“Aku tahu biaya rumah sakit di sini mahal. Kamu cukup menjadi istriku, tidak perlu bekerja lagi di Cwell Group. Mau?” Tawaran berbisa keluar dari bibir manis Andreas.

“Terima kasih, tapi saya tidak tertarik sama sekali. Saya bukan wanita perebut suami orang,” tanggapan Clau memukul mundur Andreas.

Belitan tangan pada pinggulnya pun terlepas karena keberanian Claudya melawan Andreas. Tanpa keduanya sadari sepasang manik abu-abu mengamati dari luar pintu kaca. Orang itu menggeram, rahang tegasnya berkedut, otot-otot pada leher menegang, kedua tangannya mengepal dengan kuku jari menancap kuat pada telapak tangan. Melangkah mantap memasuki rumah sakit, hendak menunjukkan kekuasaan terhadap wanita cantik bermata coklat di dalam sana.

“Claudya?” Intonasi tegas, dingin, menusuk gendang telinga sangat akrab bagi kedua orang itu.

Bab 3

Seketika raga Claudya membeku, sedingin es, tangannya berkeringat dingin. Tidak sanggup merotasi tubuh hanya untuk melihat kedatangan suaminya. Benar saja apa yang ditakutkan, Arjuna mengetahui segala perbuatannya. Lihat sekarang, pria itu sudah berdiri di sisi Claudya, aura membunuh tampak jelas keluar dari dalam diri. Arjuna sedikit mendorong Clau agar menjauh dari Andreas.

“Rupanya Tuan Lehman di sini? Sedang apa? Menggoda pegawaiku?” sinis Arjuna seraya melonggarkan dasi dan membuka jas lalu menyerahkan ke tangan Claudya.

“Ya bisa dibilang begitu. Anda tidak keberatan kan Tuan Caldwell?” fatalnya Andreas sangat jujur sama sekali tidak menolong Claudya.

“Oh ya? Apa wanita itu menerima?” Arjuna melirik Clau yang susah payah menelan saliva.

Tawa Andreas mengundang perhatian pengunjung lain, pria casanova itu benar-benar tidak tahu diri. Berkata lugas, “Tentu saja, mana mungkin dia menolakku. Benarkan Nona Claudya Stewart?” Andreas bagai melempar besi panas kepada Clau.

“Oh tapi sayang, aku membutuhkan pegawaiku sekarang. Senang bertemu dengan anda Tuan Lehman,” tukas Arjuna mengakhiri percakapan menegangkan.

Setelah Andreas melenggang pergi, sikap asli Arjuna mulai terlihat. Tatapan bola mata abu-abu itu kian menusuk dan menguliti Claudya. Tanpa kata, menggenggam pergelangan tangan Clau hingga terasa berdenyut nyeri. Arjuna menyeret Clau ke area parkir, membawa istrinya pulang ke penthouse. Emosi pria itu berada di ujung kepala siap meledak dan menghanguskan tawanannya.

“Tuan, maaf. Kejadiannya tidak seperti yang anda pikir.” Clau mengeluarkan suara, agar Arjuna tahu, bahwa ia bukanlah wanita murahan yang menerima sembarang lelaki.

“Benarkah? Aku lihat kau menikmati sentuhan Andreas? Apa permainanku tidak memuaskanmu?” sindir Arjuna, merendahkan Claudya.

“Seharusnya kau menghindar! Peraturan lembar 1 poin 5. Kau milikku Clau, tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku, paham?” sentak Arjuna.

“Masuk!” perintah Arjuna membuka pintu mobil, mendorong Clau duduk di jok penumpang.

“Iya Tuan, saya salah,” jawab Clau enggan berdebat. Lagi pula hasil akhirnya tetap Arjuna yang menang. Detak jantung Clau tidak beraturan, rasanya bertalu-talu sangat kencang. Napasnya tersengal-sengal akibat menahan sakit. Bulir keringat bermunculan menghiasi kening, tubuhnya pun gemetaran.

Satu jam yang lalu, pria itu pulang ke penthouse tidak mendapati wanitanya. Keinginan yang sudah menggebu terpaksa ditahan, mencari keberadaan Claudya. Akhirnya Arjuna menemukan bahwa wanita cantik yang dirindukan alam bawah sadarnya sedang di rumah sakit.

Pergelangan tangan Clau bertambah sakit karena Arjuna berjalan tergesa-gesa, tak memberinya waktu menyeimbangkan langkah. Clau terseok-seok mengikuti dari belakang, kedua kakinya lecet, sebab heels yang digunakan cukup tinggi.

Suara pintu berdentam kasar, berpadu dengan ketukan sepatu pantofel menggema dalam kamar. Rintihan Clau sama sekali tak meredam rasa cemburu yang bersatu dengan kabut amarah menguasai Arjuna. Suaminya itu tega menghempas raga kurus Claudya ke atas ranjang besar, mencengkeram rahangnya cukup erat.

“Wanita semua sama, menggerogoti harta pria lalu pergi berselingkuh, termasuk dirimu Claudya Stewart,” desis Arjuna langsung melepaskan rahang Claudya.

“Kau harus tahu diri Claudya! Di dunia ini tidak ada yang gratis.” Kalimat Arjuna ini menyadarkan Claudya akan posisinya yang sebatas istri pelampiasan, tertandatangan berdasarkan kontrak, tidak lebih. Maka jangan mengharap belas kasih atau dicintai seorang Arjuna Caldwell.

Arjuna melepas kasar helaian kain pada tubuhnya dan melempar ke sembarang arah. Tanpa hati melakukan penyatuan, memberi pelajaran kecil agar Clau tidak melanggar perjanjian yang tertuang dalam kontrak. Berulang kali pria itu menguasai raganya yang lelah, letih dan tidak berdaya. Bibirnya pun tidak bisa mengeluarkan suara sebab dibungkam oleh Arjuna.

Pada akhirnya Clau meneteskan bulir bening hingga membasahi bantal. Apalagi setelah suaminya selesai menuntaskan kegiatan panas, nama wanita lain keluar dari bibir Arjuna. Bahu Clau berguncang, memejamkan mata rapat-rapat, mengigit bibir bawahnya.

“Maaf Tuan, aku bersumpah tidak akan mengulangnya lagi,” cicit Clau, ya yang diperlukan ketika berhadapan dengan Arjuna menurunkan ego serendah-rendahnya.

Pagi hari Claudya terbangun dalam keadaan tubuh sakit, remuk redam. Perlakuan Arjuna kepadanya cukup menggila hingga ia tak sanggup bangkit dari tidur. Satu tekadnya berjuang demi kesembuhan sang ibu.

Claudya segera membersihkan diri dan bersiap berangkat ke kantor, mengabaikan rasa sakit yang mendera sekujur tubuh. Dalam perjalanan hanya diam membisu sembari bertukar kabar dengan Laras, karena khawatir dirinya menghilang setelah makan malam.

Setibanya di Cwell Grup, kedua kaki Clau bertambah lemah, kepalanya kunang-kunang, mereka yang berlalu lalang seolah berputar dan terbagi menjadi tiga. Namun Clau melanjutkan langkah menuju divisi adminitrasi, duduk menyandar tak berselera mengerjakan semua tugas yang diberikan supervisor.

Lolongan panjang sampai ke telinga, pengawas marah sebab Clau lalai tidak mengerjakan laporan yang ditunggu oleh Presiden Direktur. Ia pun diminta mengantar berkas secara langsung ke ruangan terkutuk di mana suaminya berada.

“Claudya ditunggu Pak Arjuna di dalam, beliau sedang marah, hati-hati kamu.” Peringatan sekretaris Presiden Direktur membuka pintu untuk Clau.

Baru saja ia menginjakkan kaki di ruangan, sinar matahari menyilaukan mata hingga kepalanya berdenyut nyeri. Bayang-bayang aura kemarahan Arjuna tidak jelas, pandangannya berubah gelap.

“Kau tidak –“ Belum sempat Arjuna menyelesaikan kalimat, Claudya sudah tersungkur jatuh, tergelatak di atas karpet.

“Claudya!” pekik Arjuna panik luar biasa, wanita yang dikenal cukup tangguh dan bawel kini terkapar.

Segera pria itu menggendong tubuh mungil istrinya ke ruangan khusus istirahat Presdir. Ditatap wajah pucat seputih kapas milik sang istri, bibirnya mengering tanda jika Clau dehidrasi. Tangan Arjuna iseng mengusap kening, menyapukan anak rambut yang menempel. Seketika melotot karena suhu tubuh sang istri sangat tinggi.

“Claudya, bangun! Clau! Kau sakit, buka matamu!” Arjuna mengguncang kedua bahu, tetapi tak ada respon apapun.

Tanpa buang waktu Arjuna memerintah Givano menghubungi dokter, dengan catatan harus wanita dan menandatangani surat perjanjian agar pernikahan rahasianya tidak terbongkar. Tidak berselang lama seorang wanita setengah baya berjas putih datang, memeriksa keadaan Claudya yang memprihatikan. Dokter pun memberi infus agar tubuh pasien lekas pulih.

Lebih dari 2 jam Clau pingsan, akhirnya membuka mata. Ia tersentak menyadari keberadaannya di kamar pribadi suaminya. Masih terpatri kuat dalam benak Clau, ketika Arjuna memanggilnya beberapa waktu lalu dan bermain di kamar ini.

“Aku harus keluar,” gumam Clau, meraih infus, mencoba berdiri.

“Mau ke mana?” Pertanyaan bernada interogasi menanti jawaban. Arjuna berdiri sembari menyandarkan tubuh pada dinding.

“Saya harus kembali bekerja Tuan. Permisi.” Clau susah payah menggunakan sepatu dan blazer sebab selang infus menghalangi geraknya.

“Tubuhmu lemah, mau tambah sakit? Duduk!” perintah Arjuna sangat dingin dan datar.

Arjuna pun mulai merasa iba kepada Claudya karena menjadikannya pelampiasan. Lantas membuka bungkus makanan, berusaha menyuapi Claudya yang kebingungan atas sikap suaminya. “Kenapa?” tanya Arjuna ketus.

Claudya mencebik, sudut bibirnya berkedut tipis, membalas tatapan tajam Arjuna untuk pertama kali. Mencoba mengatakan tanpa kata bahwa ia menolak semua sikap suaminya yang dianggap semu.

“Kau takut bubur ini beracun, iya?” Arjuna tersulut emosi, menyimpan mangkuk cukup kasar sampai isinya tercecer keluar.

“Kalau iya kenapa Tuan? Tidak ada salahnya kalau saya waspada.” Clau menelan air liur, menetralkan setumpuk perasaan dalam jiwa.

“Jangan memancing aku sayang, makan sekarang atau aku paksa.” Arjuna tetaplah pria arogan yang memaksakan kehendak.

Menjepit rahang Claudya hingga terbuka, menyuapi satu sendok penuh bubur kentang. “Telan!” perintahnya dengan kedua mata menghunus ke dalam iris coklat Claudya.

Di rasa tenaganya pulih, Claudya memaksa keluar dari penjara Arjuna, gerah terus menerus dianggap sebagai tawanan. Diperlakukan layaknya penjahat hina yang tak berhak diampuni. Namun kejutan kembali menyapa, ketika sekretaris Arjuna menyampaikan pesan. Clau langsung meneteskan air mata disusul berlari kecil keluar dari gedung Cwell Group.

“Aku mohon jangan ….”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED