"Maaf Tuan Jacob, anak kami sedang sakit, dia tidak bisa datang untuk menemuimu. Mungkin lain kali jika Niana sudah sembuh, kami akan kembali membawanya untuk bertemu denganmu," ujar Nina penuh rasa hormat pada Jacob yang ada di depannya.
Jacob mengangguk-angguk kecil layaknya orang bodoh. Pria itu sedikit menggaruk kepalanya, mencongkel ketombe yang tak sengaja ikut masuk ke dalam sela-sela kuku tangannya.
"Tidak masalah, kau harus memastikan jika calon istriku baik-baik saja dan sehat selalu," ujar Jacob yang dibalas senyuman penuh hangat oleh Nina.
Tak berselang lama, Nina akhirnya keluar dari rumah mewah itu, kembali menggandeng lengan suaminya untuk masuk ke dalam mobil yang sama. Keduanya kembali dengan perasaan yang sangat berbunga. Sebentar lagi, keduanya akan hidup dengan damai tanpa harus memikirkan harta serta anak satu-satunya. Toh ada Jacob yang mereka percaya untuk menjamin semuanya.
Di dalam rumah mewah itu, Jacob tak henti-hentinya tersenyum senang menatap foto Niana pada ponselnya. Ia sangat senang ketika membayangkan gadis manis itu menjadi istrinya.
"Aku tidak sabar untuk bisa memeluk dan mencium-mu, Niana." Spontan asisten pribadi Jacob bergidik ngeri ketika melihat tuannya mengecup singkat layar ponsel yang masih menyala menampakkan wajah Niana yang cantik.
Namun, sebisa mungkin ia menetralkan raut wajahnya sebelum Jacob menyadari hal itu. Tamatlah riawayatnya jika hal itu terjadi. Dan karena tak ingin menahan rasa mual terlalu lama, ia memilih pergi dan berdalih sakit perut.
Selepas kepergian si asisten, Jacob segera menghubungi salah satu wanita penghangat ranjang miliknya untuk datang ke mansion. Tak pernah sehari pun ia absen menikmati wanita. Dan kali ini, fantasinya hanya tertuju pada wajah cantik Niana, membayangkan jika gadis itu yang ia nikmati saat ini.
'Sial, milik wanita ini sudah terasa longgar. Sabarlah Jony-ku yang malang, sebentar lagi kau akan mendapatkan sarang yang lebih indah dan sempurna, kau bisa menikmatinya kapanpun yang kau mau.' Batin pria itu terus terucap seraya menikmati jasa basah yang ia dapatkan dari salah satu wanita pemuas.
***
"Saya permisi," ucap dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Niana. Gadis itu belum membuka mata sama sekali, mungkin alam bawah sadarnya lebih membahagiakan daripada kenyataan yang terjadi.
Bibi Yur kembali menatap Niana, tersenyum kecut melihat wajah pucat gadis itu.
"Cepat bangkit, nak, Bibi berjanji akan selalu menjaga dan memberikan yang terbaik untukmu," bisik Bibi Yur seraya menyisihkan rambut halus yang ada pada wajah cantik Niana.
***
"Mau sampai kapan kau menahannya? Bukan kah kau sangat mencintainya?" tanya seseorang yang berhasil membuat lamunan pria berjas putih itu kembali tersadar.
"Aku takut dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Aku takut dia tidak akan mempercayaiku lagi," balasnya.
Ryan mengangguk-anggukan kepalanya, ia menepuk pundak sang sahabat lalu melenggang pergi.
Selepas kepergian Ryan, pria itu kembali melamun, memikirkan keadaan gadis yang ia cintai, semakin hari semakin memburuk saja. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri akan membuat gadis pujaan hatinya itu kembali sehat seperti orang pada umumnya.
***
Waktu berlalu begitu cepat, Niana sudah kembali ke rumahnya. Besok, ia akan melakukan pernikahan yang paling ia takuti.
"Kenapa kalian sama sekali tidak punya hati? Apakah doaku tidak tembus langit? Apakah Tuhan sengaja membiarkan hidupku sepenuhnya sengsara?" Niana terus bertanya-tanya sambil menatap figura besar foto ayah dan ibunya yang ada di ruang tamu. Senyum kedua orang itu terlihat sangat manis sambil menggendong anak kecil cantik.
Niana menatap sendu ke arah gadis kecil itu, ia berharap pada Tuhan agar dirinya kembali ke masa-masa kecilnya. Di masa itulah ia merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
"Tidak usah memasang wajah sedih, sebentar lagi kau akan bergelimang harta, kau bisa membeli apapun yang kau mau tanpa harus meminta padaku," ujar seseorang yang tak sengaja melihat Niana tengah menangis menatap figura besar itu.
"Bukan kah aku tidak pernah meminta apapun pada ibu?" tanya Niana, tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok yang masih ada di belakang.
"Cih, tapi aku yang membiayai hidupmu selama 22 tahun. Ingat itu!" sentak Nina lalu pergi meninggalkan Niana.
Niana mendengus kesal, rasanya ia ingin membunuh ibunya sendiri.
Setelah kepergian sang ibu, Niana kembali memasuki kamar, saksi bisu isak tangisnya selama bertahun-tahun.
Mungkin, besok ia tidak akan tidur di kamar ini lagi, melainkan di kamar pengantin bersama orang yang paling ia takuti dan paling ia benci.
"Tuhan, tunjukkan keadilanmu," lirihnya sambil menatap ke arah langit-langit kamar. Beberapa saat setelahnya, alam mimpi membawa Niana pergi.
***
Pagi menyapa, Niana yang sudah terjadi sejak pukul 3 dini hari hanya bisa terdiam lesu. Para pelayan dan orang tuanya sudah heboh, bahkan calon suaminya sangat sering menelpon. Hanya saja, tidak Niana hiraukan dan memilih untuk diam.
"Niana sayang, mandi dulu nak, sebentar lagi perias akan datang," ujar Bibi Yur ketika melihat anak majikannya itu tengah terduduk lesu di atas kasur.
Niana melenggang pergi, memasuki kamar mandi dan segera membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Niana kembali keluar. Di sana, netranya menatap sosok Nina tengah berbicara hangat dengan orang yang akan merias wajahnya.
"Itu dia, kau bisa segera meriasnya. Ingat, buat anakku secantik mungkin," pinta Nina pada seorang wanita muda itu.
Nina kembali keluar, membiarkan perias merias wajah anaknya.
"Ah, aku meninggalkan satu koper alat rias di dalam mobil. Mohon tunggu sebentar ya," ucap perias itu sambil tersenyum tak enak hati pada Niana. Niana hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Kini hanya ada Bibi Yur dan Niana.
Niana melirik ke arah tangannya ketika Bibi Yur memberikan jaket, kacamata, dan topi serba hitam, dahinya mengeryit heran.
"Pergi nak, area belakang kosong, dan waktumu sangat terbatas."
Niana membulatkan kedua matanya tak percaya, ia menatap ke sekeliling. Dengan air mata yang mulai menetes, dikecupnya dahi Bibi Yur penuh sayang. Tak lupa ia membawa uang cash cukup banyak untuk bekalnya.
"Kita akan bertemu suatu saat nanti. Niana sangat menyayangi Bibi," ucap Niana, satu detik setelahnya ia berlari dengan cepat serta menatap sekitar penuh was-was.
Sama halnya dengan Niana, Bibi Yur segera pergi ke dapur, ia akan berpura-pura tidak tahu tentang Niana.
Perias kembali ke dalam kamar Niana, dipanggilnya beberapa kali calon pengantin itu, namun sama sekali tidak ada sahutan. Sesegera mungkin ia melaporkan hal ini pada nyonya besar yang sedang sibuk di ruang tamu.
"Nyonya, nona Niana tidak ada di kamar."
Nina spontan terkejut, ia berlari secepat mungkin menuju kamar anaknya.
"Niana!!! Di mana kau?!!"
Satu rumah sangat heboh, bagaimana bisa calon pengantin kabur di beberapa jam sebelum dinikahkan?
Bibi Yur, ia hanya bisa menangis dan diam sambil membakar roti kesukaan Niana.
"Kau! Di mana gadis kurang ajar itu?! Kau sembunyikan di mana?!!!" tanya Nina penuh kasar ketika melihat Bibi Yur yang asyik sendiri membakar roti.
Bibi Yur kembali berpura-pura, sebisa mungkin ia menutupi semuanya.
"Bukan kah nona Niana ada di kamar? Beliau meminta saya untuk membakar roti, katanya, nona Niana ingin sarapan ini," jawab Bibi Yur membuat Nina kembali naik pitam.
Otaknya buntu sekarang, apa yang harus ia katakan pada calon besan juga suaminya sekarang?
Tepat di detik yang sama, Jendra tiba dengan senyum senang terukir di wajahnya. Ia baru saja tiba setelah melihat persiapan di hotel yang akan menjadi tempat pernikahan anaknya.
Namun, senyum senang itu perlahan musnah ketika melihat seisi rumah kacau mencari Niana.
Mata tajamnya menatap ke arah Nina, tampak wanita itu sedang gelisah sambil memanggil nama Niana. Kakinya melangkah mendekat, menampar sekuat tenaga wanitanya.
"Kau memang tidak becus!" sentak Jendra pada sang istri. Nina hanya diam sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Maafkan aku, Niana kabur tanpa seorang pun ketahui," ujar Nina namun tidak dihiraukan oleh suaminya.
Pria yang tak lagi muda itu segera keluar rumah, memerintahkan beberapa bawahannya untuk mencari Niana sampai ditemukan. Tanpa terkecuali.
***
Niana benar-benar pergi jauh dari lingkungan rumahnya. Bahkan, ia sudah 3 kali naik bus dan keluar dari pulau tempat ia dilahirkan agar dirinya semakin menjauh dari kota kelahirannya itu.
Di dalam bus, Niana hanya bisa menangis meratapi dirinya malang. Entah setelah ini, kakinya akan melangkah ke mana, sama sekali tidak memiliki tujuan.
Niana turun dari bus, ia terus berjalan menyusuri trotoar. Yang ia bawa hanya uang, selebihnya, ia tidak membawa apa-apa lagi.
Saking pusingnya, Niana tidak menyadari jika dirinya semakin memasuki area jalan raya. Tidak lagi di trotoar seperti sebelumnya. Banyak klakson yang berbunyi ketika Niana semakin ke tengah. Namun, gadis itu tetap tidak menyadarinya.
Perlahan, Niana merasakan perutnya sakit. Dipegangnya perut itu sambil berjalan perlahan-lahan.
Niana yang menyadari jika dia berjalan di jalur yang salah pun hendak kembali ke trotoar. Namun sayang, Mercedes-Benz lebih dulu menabrak dirinya sangat kuat.
Niana terpental agak jauh, orang-orang yang ada di sekitar sana reflek berteriak dan mendekati ke arah Niana. Gadis itu tampak sangat kesakitan.
Pengemudi Mercedes-Benz itu segera keluar, wajahnya tampak terkejut melihat seorang gadis berlumuran darah mengaduh kesakitan.
Niana merasakan tubuhnya melayang, ia sempat melihat wajah orang yang menabraknya. Sangat sangat rupawan. Dan dada bidang itu, terasa sangat nyaman dengan detak jantung yang berdegub kencang menjadikan nyanyian indah di ambang kesadaran.
Niana segera dimasukkan ke dalam mobil, beberapa detik setelahnya mobil itu kembali berjalan lebih cepat menuju rumah sakit.
"Kau bertahanlah, aku akan bertanggung jawab," ucap pria itu ketika melihat Niana yang mulai menutup mata. Sungguh, rasa sakitnya sangatlah luar biasa. Niana juga tidak tahu kenapa ia tidak langsung pingsan saja.
***
Dokter dan beberapa tim medis segera melakukan yang terbaik untuk Niana, telat 1 menit saja nyawa gadis itu bisa melayang karena kehabisan darah.
Pria itu terduduk lesu di depan ruang IGD, ia sama sekali tidak mengira kalau hal ini akan terjadi.
Seorang pria tiba, wajahnya tampak sangat panik ketika mendengar kabar bahwa sahabatnya tak sengaja menabrak seorang gadis. Sangat parah.
"Prince, apa yang telah kau lakukan?" tanya pria yang baru saja tiba membuat lamunan Prince buyar. Ditatapnya pria itu lalu ia menggeleng pelan.
"Aku tidak sengaja menabraknya. Aku benar-benar tidak sengaja," ujar Prince—pria yang telah menabrak Niana. Pria pewaris tunggal perusahaan raksasa di bidang teknologi, serta bisnis yang merebak di mancanegara.
"Tidak perlu khawatir, kau hanya perlu bertanggung jawab," balas Jordan—sahabat Prince.
Kedua pria itu duduk di kursi depan IGD. Sampai akhirnya, dokter keluar dengan diikuti beberapa tim medis lainnya untuk memberitahukan kondisi Niana.
"Apakah kalian keluarga pasien?" tanya dokter itu, reflek Jordan dan Prince saling melemparkan pandangan. Jangankan keluarga, namanya saja mereka tidak tahu.
"Saya orang yang telah menabraknya, kami tidak mengetahui siapa dia," jawab Prince sejujurnya.
Dokter menghela napas, sebenarnya, ada hal yang ingin ia sampaikan. Namun, ketika mengetahui jika kedua pria ini bukanlah anggota keluarga pasien, dokter pun mengurungkan niatnya.
"Untuk saat ini kondisi pasien sudah mulai stabil, mungkin memerlukan waktu beberapa hari agar tetap berada di rumah sakit. Kondisinya belum memungkinkan jika ingin dibawa pulang," ujar dokter menjelaskan keadaan Niana sekarang.
Prince dan Jordan mengangguk paham. Salah satu dari mereka memilih pergi untuk melakukan administrasi.
Prince memasuki ruang ICU di mana Niana berada. Ruangan ini sangatlah dingin.
Wajah Niana sudah dibersihkan dari darah yang sebelumnya terus mengucur hebat. Banyak bagian tubuh yang ditutupi perban sekarang.
"Kau kenapa tiba-tiba ada di tengah jalan? Aku tidak sengaja menabrakmu," ujar Prince pada gadis yang belum ia ketahui namanya. Gadis itu hanya diam, wajahnya bahkan terlihat sangat pucat. Dan kepucatan itu sama sekali tidak menutupi wajahnya yang cantik.
Meskipun biasanya ia tak terlalu ambil pusing dengan masalah seperti ini, namun kali ini ia seperti tidak tenang memikirkan gadis yang celaka karenanya.
Jordan baru saja menyelesaikan masalah administrasi, ia kembali pada Prince yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Kau sudah mendapat identitasnya?" tanya Jordan yang dibalas gelengan kepala oleh Prince. Bahkan ketika Prince meminta bantuan tim medis, mereka semua gagal dalam mencari identitas Niana.
Tidak ada kartu atau pun ponsel yang akan digunakan untuk mencari informasi Niana, gadis itu hanya membawa diri dan beberapa lembar uang saja.
"Kita tunggu saja sampai dia sadar, baru kita cari tahu identitasnya," putus Jordan yang tentunya disetujui oleh Prince.
***
Prince dan Jordan akhirnya pulang, hari sudah semakin gelap namun keduanya belum juga sampai ke rumah masing-masing.
Di mansion, Prince segera memasuki rumah megah itu sambil membuka jas serta dasi yang masih menggantung di leher. Beberapa bagian pakaiannya ada yang terkena darah.
Salah satu pelayan yang ada di sana tampak membulatkan mata ketika melihat pakaian tuan mereka terdapat darah.
"Astaga, apa yang telah terjadi, Tuan? Kenapa jas anda banyak darah?" tanya salah satu pelayan.
"Ah, ini, aku baru saja menabrak seorang gadis. Kau tidak perlu khawatir," jawab Prince ketika melihat wajah pelayannya pucat.
Pelayan wanita bernama Tia itu akhirnya merasa lega. Setidaknya, bukan Prince yang terluka. Meskipun dingin dan jarang bercengkerama, namun seisi mansion sangat peduli pada Prince karena pria itu sendiri sangatlah ringan tangan untuk membantu kesulitan para pekerjanya.
Prince kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tempat istirahat. Namun sebelumnya, ia memilih untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Hari ini benar-benar melelahkan, belum lagi pikirannya yang tak tenang memikirkan gadis itu.
"Dia orang mana? Bagaimana kalau keluarganya mencari?" Prince terus bertanya-tanya.
***
4 hari Niana tekurung di ruang ICU, dan di hari ke lima ini gadis cantik itu sudah mulai sadarkan diri dan akan dipindahkan ke ruang rawat.
"Aku di mana?" tanya Niana dengan suara yang sangat lirih.
Jordan yang saat itu tengah menjenguk Niana sontak tersenyum hangat melihat gadis yang ia tunggu akhirnya membuka mata.
"Akhirnya ... perlu aku panggilkan dokter?" tanya Jordan pada Niana yang masih termenung menatap sekitarnya yang asing.
"Aku di mana?" tanya Niana sekali lagi, pertanyaan sebelumnya tidak dijawab oleh pria asing itu.
"Kau masih di rumah sakit, Nona. Tolong maafkan sahabatku, dia yang membuatmu sampai seperti ini," jawab Jordan membuat Niana kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Niana terbatuk-batuk, bahkan sampai mengeluarkan darah. Jordan sangat panik, pria itu segera memencet bel untuk memanggil dokter.
Pria berjas putih dengan diikuti beberapa tim medis dengan cepat memasuki ruangan di mana Niana berada. Jordan pun keluar, membiarkan tim medis untuk kembali memeriksa Niana.
Selagi menunggu dokter memberinya kabar tentang Niana, ia memilih untuk menghubungi sahabatnya. Prince pasti senang mendengar kabar bahwa gadis yang mereka tunggu sudah mulai sadarkan diri.
"Dia sudah sadarkan diri. Sayangnya, dia kembali ditangani oleh dokter setelah muntah darah tadi," ucap Jordan pada seseorang yang tersambung dengan ponselnya.
Tak berapa lama sambungan itu terputus, bersamaan dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan Niana.
"Bagaimana dokter?" tanya Jordan yang sudah berdiri di hadapan dokter.
"Keadaan tubuhnya belum sepenuhnya membaik, kami meminta izin untuk melakukan operasi penyumbatan pembuluh darah di jantungnya," ujar dokter membuat Jordan segera meraih pena yang ada di tangan suster dan segera menandatangani berkas persetujuan operasi.
Tak berapa lama Niana kembali dibawa pergi menuju ruang operasi. Jordan hanya bisa diam menatap gadis cantik itu yang kembali tak sadarkan diri.
Di seberang sana, Prince kembali melanjutkan rapatnya yang tertunda karena mendapat telepon dari Jordan. Namun selama berjalannya rapat, ia benar-benar tidak fokus dan terus terbayang wajah penuh luka gadis yang saat ini menjadi tanggung dirinya. Bagaimana ia melihat sekelebat tatapan lelah serta tubuh ringkih yang masih ia ingat dalam benaknya.
'Tidak seharusnya aku memikirkan dia sampai tidak fokus bekerja seperti ini. Toh aku sudah bertanggung jawab dan akan tetap bertanggung jawab sampai dia sembuh seperti sedia kala. Oh ayolah gadis cantik, keluar dari pikiranku segera agar aku bisa bekerja dengan benar!' batin Prince menggerutu kesal.
***